Tag Archives: kota tua

5 Kota Tua di Indonesia yang Cantik untuk City Walk Murah



Jakarta

Berwisata di kawasan kota tua jadi pilihan wisatawan yang suka berjalan kaki sambil melihat-lihat pemandangan. Berikut lima pilihan yang bisa dicoba:

Kawasan kota tua tak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga pemandangan indah yang menarik untuk diabadikan. Traveler bisa foto-foto Instagramable di lima kawasan kota tua berikut ini:

1. Kota Tua Jakarta

Yang pertama ada Kota Tua Jakarta. Di sini, traveler bisa menjelajahi aneka gedung bersejarah peninggalan zaman kolonial Belanda. Dari Museum Fatahillah hingga Museum Wayang semuanya menarik untuk dikunjungi.


Kunjungi juga Museum Bank Indonesia (BI) dan Museum Bank Mandiri yang menyimpan sejarah perbankan Indonesia. Di sini, traveler bisa melihat mata uang dari zaman Nusantara sampai sekarang. Museum ini sering dijadikan tempat wisata edukatif oleh para pelajar.

2. Kota Lama Semarang

Wisata sejarah menjadi salah satu magnet di kawasan Kota Lama Semarang. Kota ini juga sering disebut Outstadt atau Little Netherland, karena bangunan-bangunan berusia 200-300 tahun sejak zaman kolonial Belanda.

Bahkan, bangunannya banyak yang masih berdiri megah. Selain estetik, Kota Lama Semarang merupakan wisata edukatif. Traveler bisa sambil jalan-jalan di kawasan memiliki luas total sebesar 31 hektar.

Gereja BlendukKota Lama Semarang Foto: (Gandung Adi Wibowo/d’Traveler)

Di sekitar kawasan Kota Lama Semarang juga banyak tersedia kafe, resto, dan bar yang menawarkan banyak menu kuliner. Bahkan sampai malam kota ini tetap hidup dan ramai dengan adanya tempat hiburan malam seperti Taman Srigunting, Museum Kota Lama, Gedung Marabunta, dan Gedung Marba.

3. Kota Tua Ampenan

Arsitektur bangunan ala kolonial masih berdiri kokoh di sepanjang jalan Kota Tua Ampenan. Bangunan-bangunan bergaya Belanda nampaknya meninggalkan banyak kenangan bagi warga yang bermukim di Kelurahan Ampenan Tengah, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kota Tua Ampenan pernah menjadi satu-satunya pintu masuk ke pulau Lombok sejak abad 18 hingga abad 19. Pada masa itu, bangunan-bangunan ala Belanda itu sudah berdiri kokoh di sepanjang jalan menuju pantai Ampenan. Kota Ampenan pernah menjadi kota pelabuhan dan pusat perdagangan pada sekitar tahun 1924 hingga sekitar tahun 1960.

4. Kayutangan Heritage

Di Malang, Jawa Timur ada Kayutangan Heritage, kawasan kota tua dengan bangunan-bangunan bergaya klasik yang bisa dijelajahi traveler. Di sini juga ada banyak kafe-kafe estetik yang bisa disinggahi.

Salah satunya adalah Cafe Kios Mera untuk merasakan sensasi nongkrong yang berbeda dari cafe lainnya. Dilengkapi dengan mini library dan barang-barang antik, membuat kafe tersebut terasa lebih vintage dan instagrammable untuk dijadikan spot foto.

5. Kawasan Jalan Braga

Terakhir ada kawasan Jalan Braga di Bandung yang asyik buat jalan-jalan. Jalanan ini dipenuhi dengan bangunan klasik yang Instagramable.

Selain berbagai hotel, restoran, kafe, dan mal, bangunan bergaya bergaya arsitektur Art Deco, kolonial Belanda, dan Indische, seperti Gedung Landmark dan Gedung Merdeka, yang masih berdiri kokoh menjadi daya pikat di jalan Braga.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kenangan Masa Kolonial hingga Merdeka


Jakarta

Kompleks Kota Tua Jakarta adalah kawasan wisata sejarah dan budaya yang sangat populer sekaligus ikonik. Main ke Jakarta sangat sayang jika sampai melewatkan wisata ke Kota Tua Jakarta yang Instagramable dan selalu berbenah. Foto Kota Tua Jakarta cocok banget buat update status dan feed di medsos.

5. Hidden Gem Kota Tua Jakarta

Sejarah Kota Tua Jakarta berawal di tahun 1619 saat Jayakarta direbut Belanda dan diubah namanya menjadi Batavia. Kota Tua Jakarta adalah pusat pemerintahan dan kantor pusat perusahaan perdagangan Belanda VOC. Seiring waktu, Kota Tua Jakarta menjelma menjadi destinasi sejarah dan budaya populer.

Beberapa spot di Kota Tua dikenal sebagai hidden gem, meski bukan sepenuhnya tersembunyi. Spot ini cocok untuk dieksplor lebih jauh untuk memperoleh konten medsos atau bahan obrolan baru.


1. Lighting Art Kota Tua Jakarta

Pengunjung berpose saat foto di Lighting Art Kota Tua, Jakarta, Kamis (3/4/2025).Lighting Art Kota Tua, Jakarta (dok. Grandyos Zafna)
  • Jam buka: setiap hari 10.00-21.00
  • Harga tiket: anak Rp 40 ribu, dewasa Rp 45 ribu hanya bisa dibeli on the spot alias offline
  • Lokasi: Gedung Dharma Niaga lantai 3 Jl. Kali Besar Timur 4, RT 7/RW 7, Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat

Wahana yang tersedia mulai Jumat (28/3/2025) ini menyediakan lebih dari 20 ruangan penuh cahaya, yang bikin foto makin estetik. Waktu kunjungan tak terbatas, sehingga kita bisa berlama-lama ambil foto super estetik di tiap spotnya. Kita sebaiknya datang lebih pagi supaya bisa mencoba lebih banyak ruang penuh cahaya.

“Super aesthetic dan murah banget untuk destinasi sebagus ini. Antreannya saat weekend cukup panjang dan ada beberapa spot foto yang harus antri dengan durasi waktu. Kita bisa membawa tripod untuk pengambilan foto atau video. Ada staf juga yang bisa bantu,” tulis akun Bellia Magdhalena dalam google review.

2. Magic Art 3D Museum

Magic Art 3D MuseumMagic Art 3D Museum (dok. Tiara Rosana/detikcom)
  • Jam buka: Senin-Jumat: 10.00-18.00, Sabtu-Minggu: 10.00-19.00
  • Harga tiket: anak (0-16 tahun) Rp 60 ribu, dewasa Rp 80 ribu bisa diperoleh online dan offline
  • Lokasi: Gedung Kerta Niaga 1 Unit GF, Jl. Kali Besar Timur Nomor 9, Pinangsia, Kota Tua, Jakarta Barat

Destinasi wisata ini punya 100 lukisan mural dengan ilusi optik tiga dimensi, yang sangat seru buat jadi spot foto. Lukisan 3D perlu treatment khusus selama pembuatan hingga perawatan agar dimensi panjang, lebar, tingginya terjaga dan bisa disaksikan pengunjung. Karena itu, pengunjung yang mau masuk zona lukisan 3D wajib lepas sepatu lebih dulu.

“Tempat ini worth it buat cari hiburan seru dan spot foto kece. Masuk ke sini agak tersembunyi juga dan harus tanya-tanya security. Usahakan kali mau ke sini minimal ada teman untuk bantu foto-foto dan biar bisa ikut seru-seruan,” tulis akun Mutia Triana dalam akun google review.

3. Kedai Seni Djakarte

kedai seni djakarteKedai Seni Djakarte (dok. Devi S. Lestari/detikFood)
  • Jam buka: Senin tutup. Selasa 10.00-19.00 Rabu-Minggu 10.00-20.00
  • Tarif per orang: Rp 25-50 ribu bergantung jumlah dan harga pesanan
  • Lokasi: Pintu Besar Utara Jl. Taman Sari Raya Nomor 17 RT 4/RW 6, Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat

Kedai ini sebetulnya mudah terlihat saat masuk kompleks Kota Tua Jakarta, meski baru dikunjungi setelah lelah muter-muter. Di sini ada beragam menu Nusantara dan fusion plus art performance di sekitar resto dan di dalam. Kita bisa ngopi, ngemil, atau makan hidangan berat di sini.

“Tempatnya estetik banyak ornamen antik dan suasananya nyeni banget, bener-bener pas dengan vibe Kota Tua. Harga makanan terjangkau untuk kafe di destinasi wisata. Staff ramah menyambut tamu. Ada ruang berAC juga cocok buat yang pengen ngadem,” tulis akun google Yanti Mandasari.

4. Museum Wayang

Museum Wayang dengan wajah baruMuseum Wayang dengan wajah baru (dok. Syanti Mustika/detikcom)
  • Jam buka: Senin tutup, Selasa-Minggu 09.00-15.00
  • Harga tiket: anak weekdays Rp 5 ribu dan weekend Rp 5 ribu, dewasa weekdays Rp 10 ribu dan weekend Rp 15 ribu
  • Lokasi: Kawasan Kota Tua Jl. Pintu Besar Utara Nomor 27, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat

Museum wayang menyimpan 6.800 koleksi dari seluruh Indonesia dari berbagai bahan. Koleksi ini terdiri dari wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka, wayang beber, dan gamelan. Di sini juga ada ruang immersif tempat kita bisa menikmati game interaktif, foto, menikmati permainan bersama AI.

“Baru sekali ke Museum Wayang, jujur bagus banget loh. Awalnya agak underestimate karena dari luas kaya bapuk, tapi pas masuk ternyata bagus dan wayangnya tersimpan dengan baik. Ruangannya bagus, bersih, adem, sama sekali nggak horor. Highly recommended, apalagi tiketnya murah dan bikin main pinter,” tulis akun google Caroline.

5. Rumah Akar

Rumah Akar BataviaRumah Akar Batavia (dok. Instagram akarbatavia)
  • Lokasi: Jl. Kali Besar Timur Nomor 19, Jakarta Barat

Spot hidden gem ini tidak terbuka untuk umum, artinya hanya tersedia untuk yang reservasi lebih dulu. Biasanya, pemesan hendak melakukan sesi foto untuk pernikahan atau keperluan lain dan ingin latar yang dramatis. Seperti namanya, rumah akar berisi akar-akar tumbuhan yang menjuntai berukuran besar yang mungkin berusia ribuan tahun.

(row/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Ngopi di Toko Merah, Ngopi di Kafe dengan Nuansa Batavia



Jakarta

Toko Merah nan bersejarah di Kota Tua itu kini disulap menjadi kafe Rode Winkel Coffee & Savoury. Sebuah tempat ngopi bernuansa Batavia tempo dulu.

Bangunan ikonik Toko Merah itu berada di kawasan Kota Tua, tepatnya di Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Toko Merah itu mencolok dengan dinding betul-betul berwarna merah, bukan sekadar namanya.

Toko Merah yang sudah ada sejak 1730 itu hidup kembali melalui kafe Rode Winkel. detikTravel singgah di kafe itu akhir pekan lalu, Sabtu (25/10/2025).


Saat melangkah masuk, suasana klasik langsung terasa. Alunan lagu keroncong menyambut pengunjung yang datang, menciptakan nuansa nostalgia di tengah bangunan kolonial. Namun, kesan orisinal bangunan tetap dipertahankan, tangga berkarpet yang tampak kotor dengan debu, dinding putih yang catnya mulai mengelupas, serta ornamen tua yang dibiarkan apa adanya untuk menjaga nilai historis.

Bagian dalam Toko Merah tidak merah. Bagian dalam Toko Merah berwarna putih yang mulai pudar dimakan waktu. Kontras warna merah di bagian luar dan putih di bagian dalam itu justru menjadi daya tarik tersendiri. Kedua warna itu seolah memperlihatkan lapisan sejarah yang masih hidup di setiap sudutnya.

Hampir seluruh interiornya unik, mulai dari lantai kayu tua, tangga melingkar, meja, hingga jendela besar bergaya Belanda. Setiap sudut membawa pengunjung kembali ke masa Batavia lama, saat kawasan Kali Besar menjadi pusat perdagangan penting di Asia.

Toko Merah dibangun oleh Meneer Belanda Gustaaf Willem Baron van Imhoff, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, di atas lahan seluas 2.471 meter persegi. Sejak berdiri, Toko Merah telah melalui berbagai perubahan fungsi, mulai dari rumah pejabat kolonial, asrama maritim, toko milik warga Tionghoa, hingga kantor bank dan gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang.

Toko Merah di Kota Tua, Jakarta BaratToko Merah di Kota Tua, Jakarta Barat (Qonita Hamidah/detikTravel)

Kini, bangunan cagar budaya golongan A yang dimiliki PT Dharma Niaga ini dikelola oleh pemerintah dan disewa sebagian oleh Rode Winkel Café. Area yang difungsikan sebagai kafe berada di lantai 1 bawah dan sebagian lantai 2 bagian depan, sementara area lainnya masih dikosongkan dan belum difungsikan.

Rode Winkel juga membagi dua jenis ruangan yang berbeda di kafenya, ada ruangan yang non AC dan ber-AC untuk para pengunjung.

“Awalnya ke sini buat foto-foto, ternyata nggak semua ruangan dibuka, hanya lantai 1 bagian depan dan lantai 2 depan sebagai kafe,” kata Dila, pengunjung asal Bekasi saat ditemui detikTravel.

Salah satu staf kafe bernama Resti ramah menyambut detikTravel. “Memang gedung ini disewakan untuk kafe kami (Rode Winkel). Kita yang nyewa ke pemerintah, nyewa satu gedung tapi nggak semua ruang dibuka,” ujar Resti.

Saat itu juga Resti menyodorkan lembaran menu. Di sana terpampang menu minuman dan makanan. Di bagian minuman di antaranya Espresso Based, Baby Sugar, Tea (Blended, manual Brew), Signature (Coffee & Non-Coffee), Juice, smoothies, Lite bites & Main Course. Adapun di bagian makanan ada nasi goreng, sop buntut, sop iga dll.

Makanan dan minuman itu memiliki kisaran harga Rp 25 ribu hingga Rp 60 ribu.

Merujuk sejumlah sumber, Toko Merah mengalami revitalisasi adaptif agar tetap hidup tanpa kehilangan nilai sejarahnya. Nah, Rode Winkel menjadi bagian kecil dari upaya menghidupkan kembali Toko Merah sebagai ikon heritage di jantung Kota Tua Jakarta.

Meski beberapa bagian bangunan masih menunjukkan usia dan belum dipugar sempurna, justru di situlah daya tariknya. Setiap detail di dalam kafe ini seolah mengisahkan perjalanan panjang Toko Merah yang dulu menjadi saksi kejayaan Batavia sebagai kota perdagangan Asia.

Kini, sambil menyeruput kopi dan mendengarkan alunan keroncong, detikers bisa menikmati nostalgia sejarah di antara dinding-dinding tua yang penuh cerita.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com