Tag Archives: kotagede

Yuk! Nikmati Ngabuburit Komplet di Pasar Pasan Kotagede



Yogyakarta

Saat menunggu berbuka puasa tahun ini, akan seru jika ngabuburit di Kotagede. detikers bisa menikmati paket komplet di Pasar Pasan yang digelar sebulan penuh selama Ramadan.

Disebut paket komplet, karena tak hanya deretan pedagang makanan kekunoan hingga kekinian yang bisa dinikmati detikers saat ngabuburit. Namun juga pengajian dan Sadar Susur, yakni jalan-jalan lebih mengenal Kotagede dengan beragam khasanah sosial budaya di dalamnya. Karena bagi traveler, Kotagede adalah candu untuk kembali dikunjungi. Lanskap rangkuman kawasan cagar budaya bernilai tinggi.

Pasar Pasan memang lebih dari sekadar pasar tiban selama Ramadan. Dengan tajuk Kulonuwun Kotagede ini Pasar Pasan yang digelar mulai pukul 15.00 WIB ini mengusung konsep mendekatkan dinamika sosial di pasar dengan masjid.


Keistimewaan Pasar Pasan bukan saja terletak pada nilai yang mendasari terbentuknya pengelolaan secara profesional pasar tiban. Namun juga melihat konteks Kotagede dan apa yang hidup di dalamnya selama Ramadan.

Mulai dari rekam jejak sejarah Mataram Islam, deretan bangunan heritage rumah Kalang, perajin perak, sampai jajanan khas Kipo, kue kembang waru dan Carang Gesingnya.

Saat menunggu berbuka puasa tahun ini, akan seru jika ngabuburit di Kotagede. detikers bisa menikmati paket komplet di Pasar Pasan yang digelar sebulan penuh selama Ramadan.Ngabuburit di Kotagede Foto: Erliana Riady

Acara ini diinisiasi oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PCM Kotagede bersama dengan Pemuda Muhammadiyah, Angkatan Muda Muhammadiyah Kotagede dan berbagai kolaborator lainnya yang memangku, Kelurahan Prenggan, Kecamatan Kotagede, Yogyakarta dan Kelurahan Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Bantul.

“Event ini membuka ruang dialog baru dalam memahami muamalah di halaman Masjid Gede Mataram di Sayangan, Jagalan, Banguntapan, Bantul hingga sepanjang Jalan Mondorakan,” jelas Ketua Panitia, Primasjati, Jumat (15/3/2024).

Begitu tiba di lokasi Pasar Pasan, detikers bisa memilih beragam jajanan dan penganan jadoel hingga kekinian yang dijual di sepanjang Jalan Mondorakan. Aktivitas menunggu berbuka yang tak kalah asiknya adalah jalan kaki menyusuri Kotagede atau yang akrab disebut sasar susur
Sasar susur akan dilaksanakan empat kali.

“Sasar Susur Pasar Pasan menggandeng Bawahskor, Alon Mlampah, Writing Passion YK dan Ganggangan dengan kegiatan jalan-jalan tematik merespon irisan-irisan yang ada di sepanjang jalan. Mulai dari peristiwa sejarah Islam dan tokoh-tokoh Muhammadiyah hingga bagaimana berkembangnya sepakbola di Kota Yogyakarta,” paparnya.

Diantaranya panitia akan mengajak jalan-jalan menyusuri spot sejarah sepak bola ke wilayah Prenggan. Kemudian pekan berikutnya, berkolaborasi dengan komunitas Alon Mlampah akan diajak menyusuri labirin diantara lorong pergerakan Muhammadiyah mulai dari daerah Kauman-Karangkajen hingga Kotagede.

Sasar Susur juga juga mengajak detikers menyusuri arsip pergeseran urban di Kotagede bersama komunitas Gang-gangan. Serta jalan-jalan sketsa menyusuri kawasan cagar budaya Kotagede bersama komunitas seniman.

Menjelang Magrib, ngabuburit dilanjutkan dengan pengajian. Mencoba pendekatan selayaknya konser dengan guest star, pengajian yang ada di Masjid Mataram Kotagede bulan puasa ini cukup unik dengan perpaduan antara kepakaran masing-masing asatidz. Mendatangkan Ustadz Awan Abdullah Sp.J., M. Pd, Dr. Agus Taufiqurrahman, Sp.S., M.Kes, Dr. Fahruddin Faiz, M.Ag, Irfan Afifi, Dr. Okrisal Eka Putra, Lg., M.Ag. Dan Ridwan Hamidi, Lc, Mpi., MA. Pengajian menuju buka puasa ini dibuka untuk umum di Serambi Masjid Mataram.

Saat menunggu berbuka puasa tahun ini, akan seru jika ngabuburit di Kotagede. detikers bisa menikmati paket komplet di Pasar Pasan yang digelar sebulan penuh selama Ramadan.Pengajian menunggu buka puasa Foto: Erliana Riady

“Tiap hari ramai. Pengunjung warga lokal dan luar kota juga banyak. Tenant variatif dari kekunoan sampai kekinian ada semua. Harganya juga murah. Kalau mahal nggak bakal laku di Kotagede,” terang Upik warga Kotagede.

Para pengunjung tampak antusias merapat walaupun mendung bergelayut gelap. Deretan pedagang makanan lawas menjadi magnet traveler luar kota. Mereka yang selama ini hanya mendengar nama jajanan kuno, saat ini bisa membeli langsung dengan harga yang tak menguras kantong.

“Keren aja event ini. Seru abis kalau ngabuburit disini. Makanannya zaman dulu lucu-lucu, murah. Ada jalan-jalan menyusuri Kotagede, terus berakhir ikut pengajian di masjid Mataram. Komplet banget. Ada makanan, pengalaman baru dan ilmu agama,” pungkas Lia, traveler asal Malang, Jatim.

(ddn/ddn)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Bangunan Megah bak Kastil di Gang Sempit Kotagede



Yogyakarta

Membayangkan bagaimana indahnya jika arsitektur budaya Jawa, Thailand, Eropa, dan Yunani dipadukan maka Rumah Pesik-lah jawabannya. Lokasinya di Kotagede, Yogyakarta.

Berdiri kokoh masuk ke dalam gang sempit kawasan tua Kotagede, traveler tidak akan menyangka jika ada sebuah bangunan kuno dengan sentuhan arsitektur eksotis yang magical. Namanya adalah Rumah Pesik. Saat ini difungsikan sebagai kafe, hotel, dan mini museum.

“Awalnya buat keluarga aja sih, untuk ayah saya, lebih ke untuk pribadi, keluarga, kawan-kawan. Kadang kadang ada pejabat atau teman dari luar negeri datang, kita ajak ke sini,” kata Roky, anak dari Rudy J Pesik yang sekarang mengelola Rumah Pesik.


Ya, bangunan itu adalah rumah milik pengusaha ternama Rudy J Pesik. Dia pemimpin perusahaan jasa logistik DHL Indonesia.

Atas kecintaannya pada seni budaya, Rudy yang juga dikenal sebagai kolektor menyulap Rumah Pesik menjadi bangunan yang tiap sudutnya dihiasi ornamen bernilai seni tinggi.

Rumah Pesik dikelola menjadi sebuah hotel sejak sebelum pandemi covid-19. Namun, terhenti akibat Covid dan baru dibuka kembali sekitar 1 tahun.

Dituturkan oleh Roky, dari awal bangunan ini memang tidak didesain sebagai hotel, sehingga jumlah kamar yang banyak bukanlah suatu kesengajaan.

Rumah Pesik di Kotagede, YogyakartaRumah Pesik di Kotagede, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Setelah tutup bertahun-tahun, kini Rumah Pesik dibuka untuk umum. Jika hanya ingin berfoto-foto dan melihat saja, maka pengunjung dikenai biaya masuk Rp 25.000, namun jika menghabiskan waktu di kafenya dan membeli makan atau minuman maka biaya masuknya gratis.

Masuk ke Gang Soka, Kotagede, Rumah Pesik tidak akan sulit ditemukan. Jika dilihat dari luar bangunan ini mencolok dengan cat warna tembok hijaunya. Kemudian, masuk melewati salah satu dari ketiga pintu yang terbuka, traveler akan disambut bak terlempar ke dalam lorong waktu masa kerajaan.

Di salah satu pintu terdapat prasasti yang berisi daftar nama-nama tokoh penting dunia yang pernah menginap di sana, termasuk Lech Walesa, mantan Presiden Polandia pada tahun 1990-1995 dan penerima Nobel Perdamaian tahun 1993.

Sekilas jika dilihat dari luar, Traveler tak akan sangka jika di balik benteng hijau itu menyembunyikan bangunan-bangunan tinggi megah dengan arsitektur kental akan budaya. Terlihat bangunan dengan gaya arsitektur Thailand di dalamnya traveler bahkan akan menemukan patung arca buddha. Dari lantai duanya, pemandangan saat sunset begitu menakjubkan.

Bergeser ke sebelahnya, berdiri bangunan dua lantai dengan dominasi warna putih dengan gaya da vinci. Di pintu masuknya dijaga oleh dua patung ksatria Romawi yang membawa tombak. Untuk naik ke lantai duanya, traveler harus meniti tangga yang disekeliling temboknya dipenuhi foto keluarga besar Rudy J Persik.

Rumah Pesik di Kotagede, YogyakartaRumah Pesik di Kotagede, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Beralih ke bangunan ketiga, tepat berdiri di belakang kolam air mancur, bangunan dengan arsitektur Jawa penuh pahatan kayu. Lalu di seberangnya terdapat kafe dan resto.

Terdapat rumah kalang, yang diketahui ternyata menjadi bangunan utama yang bentuknya masih dipertahankan sejak awal berdirinya Rumah Pesik. Rumah itu menjadi mini museum dan memuat koleksi koleksi Rudy mulai dari keris, patung, arca, hingga barang-barang antik peninggalan dari berbagai negara. Museum hanya dibuka by request pengunjung dan harus membayar tiket masuk Rp 25.000

Setiap sudutnya begitu menawan dengan konsep yang unik dan artistik. Traveler bebas bisa berswaphoto di setiap sudutnya, karena tidak ada pembatasan area bagi pengunjung kecuali masuk ke dalam kamar hotelnya.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Rumah Pesik Jogja, Milik Kolektor Barang Antik, Libatkan 44 Pemahat



Yogyakarta

Rumah Pesik langsung membetot mata karena begitu megah, tetapi berada di antara bangunan tua dalam gang sempit di Kotagede, Yogyakarta. Bagaimana bangunan semewah itu berada di sana?

Keberadaannya tidak sulit ditemukan dengan tembok luarnya yang berwarna hijau menyala. Bangunannya unik dengan penggabungan antara arsitektur Jawa, Thailand, Eropa, dan Yunani dengan wajah sebagai kafe, hotel, dan mini museum.

Rumah Pesik itu kini menjadi salah satu rujukan destinasi wisata terlebih jika mengunjungi Kotagede. Kini, rumah itu juga dijadikan penginapan.


Selain bangunannya yang megah, rumah atau penginapan itu mencolok karena beragam tanaman dan patung-patung berukuran besar di halaman.

Wisatawan bergantian keluar masuk Rumah Pesik. Untuk sekadar foto-foto atau nongkrong atau ada pula yang menginap di sana.

Dulu bangunan itu sama sekali tidak diniatkan untuk dipergunakan sebagai hotel, apalagi destinasi wisata.

Ternyata ada cerita panjang rumah megah itu dibangun di sana. Berikut kisahnya.

Rumah Persik awalnya adalah rumah tinggal milik pengusaha DHL Indonesia, Rudy J. Pesik. Dia juga pernah menjabat sebagai dirjen di Kementerian Industri Kemaritiman saat periode Presiden Sukarno. Dia sosok penting dalam pengembangan IT di Pertamina.

Menurut Roky, putra Rudy, dalam catatan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Geomansi Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang berbincang langsung dengannya alasan rumah itu dibangun di sana terkuak. Ternyata, rumah Pesik termasuk dari bagian rumah kalang.

“Termasuk dari bagian rumah kalang, kalau orang di daerah sini disebutnya rumah kalang, orang yang pandai dagang. Jadi bangunan aslinya rumah kalang sudah lebih dari 100 tahun,” kata Roky dalam perbincangan dengan detikTravel.

Rumah Pesik itu kini difungsikan sebagai mini museum yang menyimpan koleksi barang-barang antik Rudy mulai dari keris hingga arca. Bentuknya masih dipertahankan seperti pertama kali rumah itu di beli.

Roky mengungkapkan sebelum dibeli oleh ayahnya, rumah itu adalah milik sepasang suami istri Amerika-Indonesia. Sang suami adalah orang Amerika sekaligus teman Rudy.

Singkat cerita, rumah itu harus dijual dan jatuhlah kepemilikannya kepada Rudy J. Persik. Akhirnya, rumah tersebut diberi nama Rumah Pesik yang diambil dari nama belakang Rudy.

Di awal pembangunannya, rumah itu hanya difungsikan sebagai rumah tinggal keluarga besar Rudy dan rekan-rekannya jika berkunjung ke Jogja.

“Secara arsitektur agak berantakan, kami aslinya hanya beli bangunan utamanya saja. Kalau yang bagian lain itu baru 20-25 tahun lah. Bertahap, karena kan kami belinya juga tidak sekaligus semua tanahnya,” kata Roky.

Bangunan selain rumah kalang yang kini menjadi mini museum adalah bangunan tambahan yang didirikan langsung oleh keluarga Rudy.

Bersama dengan 44 pemahat, pengerjaan dimulai dengan ide dasar rumah Joglo. Perpaduan Eropa dan Thailand memiliki makna personal. Rudy telah lama tinggal di Eropa sedangkan Thailand bak rumah kedua bagi keluarga Rudy.

Berbicara tentang Thailand, Rudy adalah salah satu tokoh yang pernah mendapat penghargaan dari Kerajaan Thailand atas kontribusinya di bidang IT.

“Dulu awalnya kami bisnis IT. Perusahaan IT yang pertama kali menterjemahkan komputer ke aksara Thailand. Dari situ Rudy mendapat penghargaan dari Kerajaan Thailand,” kata Roky.

Pembangunan Rumah Pesik mengikuti hobi Rudy sebagai kolektor barang antik. Keseluruhan ornamen adalah milik Rudy yang sudah ia kumpulkan sejak awal tahun 1980-an. Keris dan kayu menjadi seni yang paling menonjol karena dinilai sebagai barang antik yang paling berharga.

“Kalau ditanya barang antik apa yang paling berharga dari Indonesia, itu pertama keris, kedua kayu besar. Karena keris itu dibuat pada ratusan tahun lalu, kalaupun baru, akan berbeda dari aslinya. Kalau kayu karena suatu saat nanti pohon-pohon akan dilarang ditebang, yang sudah jadi suatu produk kayu besar. Jadi, itu sebabnya rumah ini banyak keris dan kayu,” kata Roky.

Kesukaan Rudy terhadap barang antik dimulai ketika dirinya tinggal di Belanda setelah lulus kuliah di tahun 1964. Di sana ia diberi hadiah tempat garam antik oleh orang yang dianggap bak “ayah angkat”.

Ya, garam merupakan penyedap utama dan satu-satunya di Eropa kala itu, sehingga kepemilikan tempat garam, apalagi antik sangatlah berharga. Namun, reaksi Rudy terlihat biasa saja hingga sang ayah angkat menyebutnya sebagai bangsa yang tidak menghargai budaya.

Kesan atas ucapan tersebut membekas di hati Rudy hingga memantapkan hatinya untuk menjadi kolektor barang antik hingga sekarang.

“Dulu ada pertanyaan, kenapa orang indonesia tidak menghargai antik? karena Indonesia tidak makmur, nanti ketika Indonesia sudah makmur, tidak hanya mikirin perut, rumah, pakaian, baru bangsa kamu akan menghargai barang antik,” kata Roky.

Roky kembali menuturkan bahwa Rumah Pesik akhirnya dikomersilkan menjadi kafe dan hotel diperuntukkan sebagai upaya mengenalkan budaya bangsa.

“Karena memang marketnya memang kalangan atas. Karena, kalau dilepas murah, orang-orang yang datang takutnya orang yang tidak menghargai seni, peninggalan sejarah, jual mahal nggak ramai. Pelan-pelan saja,” kata Roky.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Hidden Gems untuk Foto Kasual sampai Pre-wedding di Rumah Pesik



Yogyakarta

Traveler tau nggak sih ada spot menarik tersembunyi di Jogja yang biasa dipakai untuk foto pre-wedding bahkan yearbook, nih. Rumah Pesik jadi andalan photo hunter, baik untuk keperluan formal atau pun kasual, karena lokasinya yang unik.

Rumah Pesik sejatinya adalah rumah tinggal milik Rudy J. Persik yang kini dikomersilkan sebagai kafe, hotel, dan mini museum. Alasan tempat itu diburu banyak traveler sebagai spot foto karena gaya arsitekturnya yang unik.

Rumah di tengah permukiman Kotagede, Yogyakarta itu memiliki perpaduan antara ornamen Jawa dan Eropa, dihiasi arca patung bak era Yunani serta Romawi. Ada pula nuansa Thailand yang mencolok.


“Iya di sini hampir setiap hari ada yang sewa untuk Pre-wedding atau yearbook, jadi walaupun tidak ada tamu hotel tetap selalu ada pengunjung, apalagi akhir-akhir ini lumayan rame yang datang untuk sekadar foto-foto,” kata Slamet, staff Rumah Pesik Art and Heritage Hotel.

Biaya masuk ke Rumah Pesik cukup murah. Pengunjung cukup merogoh kocek Rp 25.000 atau membeli produk minuman atau makanan di kafe dan restonya. Tetapi jika ingin melihat koleksi keris dan arca lainnya milik Rudy di museum Rumah Kalang, pengunjung perlu menyiapkan Rp 25.000 lagi.

Meski dari luar terlihat seperti rumah biasa, namun ketika masuk pengunjung serasa dibawa melintasi berbagai benua di abad pertengahan. Dimulai dari atap bangunan Thailand yang mencolok hingga ornamen patung Buddha di dalamnya yang menawan.

Di area outdoor, traveler dapat langsung melihat kolam air mancur yang dikelilingi patung-patung Yunani bak masuk ke museum di Athena. Uniknya, di belakangnya persis berdiri pintu kayu Jawa gebyok dengan pahatan kayunya yang eksotis.

Rumah Pesik menyediakan beberapa pilihan paket social event package untuk traveler yang menginginkannya. Mulai dari Pre-wedding package, family photo package, graduation package, yearbook package, gathering package, dan weddings & engagement package. Seluruh paket itu dapat Traveler pesan melalui akun Instagram resmi @rumahpesik

Tidak hanya untuk formal occasion, casual pun boleh sangat di tempat ini. Pelayanan staffnya bintang 5, ditambah tempatnya yang mendukung untuk berfoto ria. Poin plusnya lagi, Rumah Pesik memiliki spot yang luas sehingga tidak usah khawatir mengantri jika ingin berfoto.

Jika lelah berkeliling dan berfoto, ada kafe dan restoran dengan berbagai menu yang tidak menguras kantong. Tersedia pula karaoke untuk pengunjung yang ingin bernyanyi melepas penat di situ.

Tempat ini untuk staycation bersama orang-orang tersayang cocok sekali. Namun, jangan kaget jika harga dibandrol cukup di atas rata-rata.

Dituturkan oleh Roky melalui catatan penelitian mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta, anak Rudy J Persik, Hotel Rumah Persik memang ditargetkan untuk golongan menengah ke atas agar setiap detail ornamen barang antik di Rumah Persik tetap terjaga.

Jadi tunggu apalagi? Datang dan kunjungi Rumah Pesik sekarang.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

7 Kota di Pulau Jawa yang Bisa Dijelajahi Tanpa Menginap


Jakarta

Buat detikers yang butuh me time satu hari penuh tanpa diganggu berbagai urusan, beberapa kota berikut bisa jadi pertimbangan. Kota ini menyediakan banyak pilihan wisata misal kuliner, belanja, budaya, alam, dan sejarah.

Selain itu, kota ini menyediakan kemudahan transportasi sehingga detikers tidak menghabiskan banyak waktu di perjalanan. Akses jalan juga memungkinkan detikers menikmati berbagai wisata dalam satu hari dan segera pulang.

7 Kota di Jawa yang Bisa Dijelajahi Tanpa Menginap

Berikut adalah beberapa kota yang direkomendasikan untuk quick gate away dikutip dari arsip tulisan detiktravel dan situs traveling


1. Bogor

Kota dan Kabupaten Bogor yang dekat Jakarta adalah pilihan pertama warga Jabodetabek yang butuh healing tipis-tipis. Detikers bisa memilih liburan sejenak di tengah hawa sejuk, dekat dengan alam, dan makan kuliner enak.

Trasportasi

  • KRL Jabodetabek
  • transportasi online

Wisata

  • Kawasan Puncak
  • Kawasan Sentul
  • Area pusat Kota Bogor.

2. Bandung

Dikenal sebagai Paris van Java, Bandung sejak dulu punya pesona indah yang cocok sebagai tempat relaksasi. Hal ini ditunjang dengan kemudahan mengakses Bandung dan berbagai transportasi di dalam wilayah, sehingga wisatawan bisa berkunjung ke berbagai spot wisata di Bandung tanpa harus menginap

Transportasi

  • KA Cikuray Rp 45 ribu
  • KA Papandayan Rp 87 ribu

Wisata

  • Kawasan Braga
  • Kawasan Kawah Putih Ciwidey
  • Kawasan Lembang.

3. Cirebon

Kota pesisir di jalur Pantai Utara Jawa (Pantura) ini memiliki sejarah kebudayaan yang sangat panjang. Bukti sejarah masih dipertahankan hingga kini dan bisa dikunjungi masyarakat umum. Cirebon yang berjuluk kota udang ini juga dikenal punya hidangan dengan rasa gurih nikmat

Transportasi

  • Ka Airlangga Rp 49 ribu
  • KA Bengawan Rp 70 ribu

Wisata

  • Keraton Kasepuhan
  • Tman Sari Gua Sunyaragi
  • Taman Air Ade Irma Suryani.

4. Purwokerto

Wilayah di Kabupaten Banyumas ini belakangan naik daun sebagai lokasi healing-healing tipis. Purwokerto dikenal mirip Jogja namun lebih sunyi, sejuk, dan harga akomodasi sangat terjangkau. Transportasi Purwokerto juga dikenal mudah dam mudah diakses.

Transportasi

  • KA Bengawan Rp 70 ribu
  • KA Serayu Rp 67 ribu

Wisata

  • Kawasan Batu Raden
  • Hutan Pinus Limpakuwus
  • Curug Telu.

5. Jogja

Wilayah Jogja sudah lama dikenal sebagai quick gate away bagi siapa saja yang butuh liburan. Selain menyediakan banyak tempat healing dengan akomodasi sangat terjangkau. Jogja juga mudah diakses dengan kereta serta kendaraan umum untuk transportasi dalam kota.

Transportasi

  • KA Bengawan Rp 74 ribu
  • KA Progo Rp 189 ribu

Wisata

  • Kawasan Malioboro
  • Kawasan Kaliurang
  • Kawasan Kotagede.

6. Solo

Kota Solo dengan pesona budaya, kuliner, dan alam adalah pilihan yang pas untuk healing super cepat serta efektif. Pengunjung bisa secepatnya liburan, relaksasi, dan kembali tanpa perlu menginap. Tentunya, wisata Solo tersedia dalam kisaran anggaran murah.

Transportasi

  • KA Bengawan Rp 74 ribu
  • KA Matarmaja Rp 189 ribu

Wisata

  • Kemuning Sky Hills
  • Keraton Surakarta Hadiningrat
  • Pura Mangkunegaran.

7. Malang

Kota Malang identik dengan hawa sejuk sehingga pas sebagai tempat healing tipis di tengah hustle hour kehidupan setiap hari. Selain itu, Malang juga punya pilihan kuliner yang pastinya enak dan sedap.

Transportasi

  • KA Matarmaja Rp 189 ribu
  • KA Majapahit Rp 245 ribu

Wisata

  • Jatim Park 1 dan 2
  • Air Terjun Tumpak Sewu
  • Kebun Teh Wonosari.

Tips Liburan Tanpa Nginep

Buat detikers yang ingin merancang itinerary liburan tanpa harus nginep, berikut beberapa tipsnya:

  • Pilih kota dengan akses transportasi mudah dan murah
  • Pilih spot wisata yang mudah dijangkau
  • Sebaiknya sewa kendaraan agar waktu tidak habis di jalan
  • Tentukan rute pulang pergi dan selama liburan
  • Bawa cukup bekal dan uang cash agar tetap ekonomis.

Tips ini juga bisa diterapkan jika ingin liburan tanpa nginep dengan tujuan kota selain di Jawa.

(row/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
image : unsplash.com / Thomas Tucker