Tag Archives: kph

Penampakan Gua Terawang di Blora yang Punya Wajah Baru



Blora

Blora di Jawa Tengah punya destinasi wisata alam gua Terawang yang kini tampil dengan wajah baru. Pastinya wisatawan akan dibuat betah.

Gua Terawang merupakan salah satu ikon wisata yang berada di wilayah Kabupaten Blora. Gua ini enawarkan keindahan pemandangan alam yang patut diperhitungkan sebagai opsi untuk berakhir pekan bareng keluarga, pacar, atau teman.

Gua Terawang berada di Desa Kedungwungu, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Baru-baru ini, gua itu menarik perhatian wisatawan karena memiliki wajah baru.


Tak hanya punya bebatuan yang berlumuran air serapan, gua itu kini disulap menjadi eco park yang sangat memanjakan mata.

Gua Terawang sekarang sudah dihiasi dengan lampu-lampu yang mempercantik suasana, tempat duduk dan kafe yang menyediakan kopi lokal blora, sehingga diharapkan membuat pengunjung menjadi nyaman dan betah di sini.

Gua ini berada dalam kawasan Perum Perhutani Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Blora. Disebut sebagai gua Terawang karena di dalam gua kita bisa melihat cahaya matahari yang tembus dari luar.

Cahaya matahari yang menembus gua ini menambah keindahan dan cocok untuk berswafoto. Salah satu pengunjung dari Kabupaten Grobogan, Nikmatul Khoiriyah, sengaja menyempatkan diri berkunjung ke gua ini.

Dia mengaku baru pertama kali mengunjungi gua Terawang yang dia tahu dari sosial media. Menurut dia, gua Terawang mempertahankan keaslian dari goa. Sehingga tampak asri.

“Di sini jalan-jalan aja sih, mas mumpung lagi liburan. Emm, tempatnya bagus, tahu informasi di sini dari FYP TikTok,” ucapnya di sela menikmati keindahan dari dalam gua pada Minggu (19/1/2025).

Pengunjung menikmati suasana di dalam Goa Terawang, Blora, Minggu (19/1/2025).Pengunjung menikmati suasana di dalam Goa Terawang, Blora Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng

“Gua Terawang bagus sih. Dari Purwodadi (Grobogan, red) ke sini kan lumayan dekat, worth it kalau mau jalan-jalan biasa,” ungkap wanita yang kerap disapa Nikmah.

Oh iya, pengunjung mesti hati-hati ya, karena di sekitar gua banyak monyet-monyet liar yang terkadang meminta makan pengunjung. Namun, satwa monyet akan ramah ketika tidak diganggu.

Keberadaan monyet-monyet itu juga dinilai menjadi salah satu daya tarik objek wisata tersebut. Kebanyakan monyet itu memang hanya berada di area pohon-pohon jati, kadang juga turun ke bawah.

Nikmah mengaku sempat kaget dengan keberadaan monyet yang berkeliaran di sekitar goa. Menurutnya banyak tempat bagus yang cocok digunakan untuk berfoto.

“Dapat foto-foto, ada kafenya juga. Nyaman sih. Ada lumayan banyak monyet, tapi monyetnya baik-baik,” terangnya.

Sementara itu, Administratur Perhutani KPH Blora Yeni Ernaningsih menjelaskan gua Terawang telah dikembangkan menjadi Gua Terawang Eco Park yang dikerjasamakan dengan mitra.

“Ini adalah wana wisata yang dimiliki oleh Perum Perhutani KPH Blora berupa gua dengan buffer zone (zona penyangga) yang ada di sekelilingnya berupa tegakan tanamam jati. Saat ini kita lakukan pengembangan baru menjadi Gua Terawang Eco Park namanya. Untuk di dalam goa sendiri insyaallah masih asri,” jelasnya.

Keseruan di dalam Goa Terawang Eco Park yang telah disulap menjadi ramah bagi pengunjung, Minggu (19/1/2025).Goa Terawang Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng

Pihaknya akan terus mengembangkan destinasi wisata ini. Nantinya pihaknya akan menggaet pelaku UMKM untuk mendisplay produk UMKM di sekitar area.

“Memang di bawah (dalam gua) kita perkeras, tapi itu hanya untuk jalan, untuk pengunjung sehingga lebih aman dan tidak licin. Sedangkan untuk yang di sekitarnya kita nanti ada playground, kemudian resto, dan nanti ada lapak lapak yang dipakai untuk UMKM,” jelasnya.

Yeni menjelaskan kondisi gua yang sebelumnya belum ada pengembangan. Hanya mengelola dan memanfaatkan kondisi yang ada. Sebelumnya juga terkendala masalah anggaran. Dia berharap Goa Terawang tetap menjadi icon destinasi wisata alam Blora.

“Jadi dengan nama eco park ini adalah kayak wajah baru dari Goa Terawang yang menjadi icon wisata di Kabupaten Blora ini,” jelasnya.

Cara Menuju ke Gua Terawang

Lokasi Gua Terawang berada di tepi jalan. Jaraknya sekitar 33 kilometer dari jantung kota Blora atau sekitar 107 dari Kota Semarang. Menuju lokasi jalannya cukup mulus, dalam perjalanan menuju goa ini mata kita diperlihatkan pemandangan hamparan hutan jati.

Jika dari arah Semarang, pengunjung di pertigaan Gagakan depan Puskesmas Kunduran ambil arah kanan, terus sejauh 12 kilometer.

Ketika dari arah Blora, bisa juga melewati jalan Ngawen-Japah-Todanan sejauh kurang lebih 25 kilometer. Pengunjung kalau dari Kudus dan sekitarnya bisa melewati Jalan Pucakwangi, Kabupaten Pati.

Tiket Masuk dan Jam Buka

Pengunjung bisa menikmati pemandangan di dalam gua Terawang dengan membeli harga tiket Rp 10 ribu per orang. Wisata alam tersebut buka setiap hari pukul 08.00 sampai 17.00 WIB.

Gua Terawang belum dibuka untuk kunjungan di malam hari. Meski demikian, pihaknya telah merencanakan untuk buka di malam hari.

“Untuk jam buka pengunjung mulai jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Untuk malam hari tidak kami perkenankan untuk di dalam gua. Tetapi nanti apabila pengembangan sudah jadi, kemungkinan yang di luar akan kami buka, terutama untuk restonya sehingga bisa menikmati makan malam di dalam gua di malam hari,” imbuh dia.

Besar harapannya gua Terawang yang berada di Blora bagian barat ini dapat berkontribusi positif bagi sektor pariwisata Blora.

“Di mana menjadikan Blora barat sekarang menjadi ramai dengan adanya kunjungan wisata di Gua Terawang. Dan berharap Gua Terawang masih tetap menjadi ikon Kabupaten Blora dengan suasana eksotik dalam gua yang masih terjaga kondisinya,” pungkas Yeni.

——-

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Jati Denok Blora, Persembunyian Putri Kediri yang Dijaga Harimau


Jakarta

Jati denok bukan sekadar pohon berukuran raksasa yang jadi saksi pergantian zaman, perkembangan masyarakat, dan berbagai siklus kehidupan. Saking bersejarahnya, pohon jati ini berusia ratusan tahun ini punya legenda yang jadi cerita umum di masyarakat.

Kisah ini berasal dari zaman Kerajaan Kediri yang berdiri pada tahun 1042-1222 Masehi. Kerajaan bercorak Hindu-Buddha ini adalah salah satu yang terbesar di Indonesia dengan wilayah kekuasaan meliputi seluruh Jawa termasuk Blora, sebagian Sumatra, hingga Kalimantan.

Jati denok yang berada di wilayah hutan Desa Jatisari, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora.Jati denok Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng

Jati denok di Desa Jatisari, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora dikisahkan menjadi tempat persembunyian Candra Kirana seorang putri dari Kerajaan Kediri. Legenda ini dikenal luas di wilayah Banyuurip sebuah dukuh di Kecamatan Banjarjero, tempat jati denok tumbuh.


“Legenda di wilayah Banyuurip menceritakan ada seorang bernama Candra Kirana. Dia adalah putri Kediri yang lari dari kerajaan. Banyak tokoh mencari sang putri, salah satunya Raden Inu Kertapati yang datang untuk menjadikannya istri,” ujar Pemerhati sejarah asal Blora Totok Supriyanto dikutip dari detik Jateng.

Selama dalam pelarian, sang putri dijaga seekor harimau yang sangat setia. Tiap orang yang datang mencari harus berhadapan dengan harimau tersebut. Menurut Totok, legenda tersebut tidak bisa dibuktikan kebenarannya namun tetap lestari sebagai bagian dari budaya masyarakat.

Selain kisah Candra Kirana, asal nama jati denok yang merupakan tanaman endemik Blora punya cerita yang lain. Kata denok dalam bahasa Jawa adalah sebutan bagi anak perempuan. Menurut Totok, tidak jelas penyebab jati yang meraih rekor MURI tahun 2008 tersebut diberi nama denok.

“Arti denok adalah anak perempuan, karena mungkin pohonnya terlihat ndemblek (ada bagian yang membesar) sehingga disebut denok. Padahal pohonnya besar gitu, masak disebut anak kecil. Tapi ini kan perumpamaan,” kata Totok.

Lokasi jati denok kini dikenal sebagai petak 62, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Temetes, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Temanjang, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Randublatung. Jati denok terletak di atas Bukit Kendeng, Blora, dikelilingi hutan hijau dan rimbun pepohonan.

Untuk melihat jati denok yang kini jadi situs budaya dibutuhkan butuh waktu sekitar 45 menit dari pusat kota, dengan jarak tempuh 16 kilometer. Pengunjung bisa melalui Jalan Blora Randublatung sejauh 12 kilometer, lalu memasuki wilayah hutan dengan jalan berbatu berjarak 4 kilometer.

Jati denok dikelilingi pembatas beton untuk melindungi pohon yang mulai keropos ini. Berbeda dengan pohon jati di sekitarnya yang tak diberi pembatas antara satu pohon dengan lainnya. Selain itu, di sekitar pohon jati terdapat pendopo yang tak begitu luas cocok untuk duduk santai menikmati teduhnya hutan.

Jati Denok Tumbuh Sebelum Belanda Datang

Pohon jati denok tumbuh menjulang setinggi 30 meter dan keliling batangnya mencapai 6,5 meter. Batangnya tidak bulat dengan banyak cekungan di bagian pangkal dan total keliling mencapai 9 meter. Pangkal pohon bisa direngkuh tujuh rentangan tangan manusia dewasa.

Jati denok diperkirakan tubuh sebelum kedatangan Belanda ke Indonesia. Perkiraan ini berdasarkan dokumen penelitian tahun 1930 oleh Herman Ernst Wolff von Wulfing (1891-1945) dengan judul De Wildhoutbosschen op Java (hutan rimba di Jawa), yang sudah menyebutkan jati Blora termasuk jati denok di dalamnya.

Jati denok di wilayah hutan Desa Jatisari, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jumat (29/3/2024).Jati denok Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng

Saat ini, batang pohon jati denok mulai keropos dan lapuk dengan bagian tengah yang bolong. Tidak ada batang yang besar akibat tersambar petir, sehingga yang terlihat hanyalah cabang-cabang kecil di pucuk pohon tanpa daun. Perawatan dilakukan hati-hati dengan memotong bagian yang tersambar petir untuk mencegah kebakaran.

(row/row)



Sumber : travel.detik.com