Tag Archives: kudus

Susur Gua di Pegunungan Kendeng Pati, Cukup Ekstrem tapi Tiket Murah



Jakarta

Kegiatan yang cukup ekstrem ditawarkan oleh Kabupaten Pati. Di kawasan kapur Pegunungan Kendeng, terdapat gua berair yang terlihat ekstrem untuk disusuri.

Pantauan detikJateng di lokasi objek wisata di lereng Pegunungan Kendeng ramai wisatawan, Minggu (11/8/2024). Wisatawan datang dari beberapa daerah seperti Pati, Kudus dan Rembang.

Gua yang pertama kali ditemukan pada tahun 1932 ini menyajikan pemandangan keindahan alam. Dari depan gua terlihat keindahan batu di dalam gua. Wisatawan bisa berjalan-jalan di dalam kolam yang memiliki dasar mirip kolam itu.


Saat masuk ke dalam, mata wisatawan akan dimanjakan dengan bebatuan dinding gua yang berbentuk eksotis. Wisatawan tidak perlu khawatir meski harus menyusuri air karena mereka mendapat pinjaman jaket pelampung, helm, dan sepatu boot.

Pengelola Gua Pancur Abdul Salam mengatakan di dalam Gua Pancur memiliki panjang 826 meter. Di dalam gua terdapat bermacam-macam batuan stalakmit dan stalaktit dan stalakmit. Uniknya bebatuan itu menyerupai ornamen-ornamen tertentu.

“Kalau masuk ke dalam lagi ada batu menyerupai batu Buddha, menyerupai gentong besar kayak kendi,” terangnya ditemui di lokasi.

Suasana di objek wisata Gua Pancur, Pati, Senin (23/1/2023).Suasana di objek wisata Gua Pancur, Pati (Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng)

Abdul mengatakan untuk menikmati wisata gua pancur wisatawan tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Untuk tarif per orang mulai dari Rp 15 ribu sampai dengan Rp 20 ribu. Wisatawan dilengkapi dengan alat berupa jaket pelampung, helm, dan sepatu boot.

Abdul menambahkan selain susur gua juga terdapat wisata kolam, bumi perkemahan dan permainan lainnya. Untuk tiket masuknya per orang Rp 5 ribu.

Abdul melanjutkan, gua itu ditemukan oleh salah satu warga bernama Sarto. Pada waktu itu Sarto mendengar adanya percikan air keras seperti mancur. Lantas dari situ gua tersebut dinamai dengan Gua Pancur.

Gua Pancur tidak hanya dikenal dengan keindahan di bagian dalamnya. Lingkungan sekitarnya yang adem juga menjadikan kawasan itu menjadi tempat yang asyik untuk kemping.

Lokasi kemping tidak jauh letak gua. Wisatawan agak naik ke lokasi lereng Pegunungan Kendeng. Suasana sejuk dan adem menjadi daya tarik wisatawan yang tengah berlibur.

Baca artikel selengkapnya di detikJateng

(msl/msl)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Dibangun Zaman Belanda, Bendungan Pengendali Banjir Ini Masih Kokoh



Kudus

Di Kudus, Jawa Tengah terdapat bendungan yang dibangun pada zaman kolonial Belanda. Bendungan pengendali banjir itu masih kokoh sampai sekarang.

Bendung Pengendali Banjir Wilalung, begitulah nama bangunan ini. Bendungan itu berada di Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Kondisi Bendung Wilalung saat ini masih berdiri dengan kokoh dan kuat. Padahal bendungan itu konon dibangun pada masa penjajahan Belanda. Fungsinya untuk mengendalikan banjir juga sudah tidak perlu diragukan lagi, meski usianya terbilang tua.


Sejarah Bendung Wilalung

Berdasarkan papan informasi di kantor operasional Bendung Wilalung, bendungan ini dibangun pada tahun 1918 oleh Belanda.

Tujuan pembangunan bendungan ini konon untuk oncoran sedimentasi, khususnya rawa-rawa yang ada di Kudus dan Pati.

Ini bertujuan agar Belanda bisa menanami daerah rawa dengan tanaman tebu untuk memasok bahan baku ke Pabrik Gula Rendeng Kudus dan Trangkil Pati.

Bendung Wilalung memiliki 11 pintu, terdiri dari sembilan pintu ke arah Sungai Juwana dan dua pintu ke arah Sungai Wulan atau ke arah Demak dan Jepara.

Bendungan ini juga berfungsi untuk mengelola atau mengatur pembagian banjir dari Sungai Serang dan Lusi ke arah Lembah Juwana dan Sungai Wulan.

OP Bendung Wilalung Kudus, Karno mengakui, jika bendungan pengendali banjir tersebut usianya sudah tua. Sehingga ada beberapa pintu yang sudah tidak simetris lagi.

Meskipun demikian, bendungan yang dibuat pada masa penjajahan Belanda itu masih terbilang kuat.

“Sudah tidak simetris tapi masih kuat,” jelas Karno ditemui di lokasi, Selasa (6/2/2024) lalu.

Karno mengatakan, dari 11 pintu pengendali banjir hanya tinggal beberapa saja yang masih aktif. Lainnya sudah termakan usia, sehingga tidak bisa dioperasikan lagi.

“Semua pintu total ada 11 pintu, yang masih aktif tiga pintu nomor 6, 7, dan 8 itu arah Sungai Juana semua, yang lain sudah netral,” jelas Karno.

Meskipun demikian, pihaknya berharap adanya perhatian pemerintah daerah atau pusat agar melakukan peremajaan bendungan pengendali banjir tersebut.

“Ini karena sudah dimakan usia, karena sudah tua. Kita gunakan yang bisa-bisa saja. Kita sudah usulkan ke dinas terkait tapi hingga sekarang belum ada tindak lanjut,” terang Karno.

Selain menjadi pengendali banjir, bendungan ini juga jadi jalan akses warga, khususnya pengguna motor atau pejalan kaki, terutama warga dari Demak ke Kudus atau sebaliknya.

——

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Di Balik Makam Keramat Kudus, Ada Kisah Cinta Tak Direstui Putri Sunan Muria



Kudus

Sebuah makam keramat di Desa Kandangmas, Kudus menyimpan kisah cinta sedih dari Putri Sunan Muria yang tak direstui oleh orang tuanya. Seperti apa kisahnya?

Makam di Dusun Masin, Kecamatan Dawe yang dikeramatkan oleh warga setempat itu, dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir Raden Ayu Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku.

Raden Ayu Nawangsih adalah putri dari Sunan Muria. Sementara Raden Bagus Rinangku adalah seorang santri keturunan dari Kerajaan Mataram. Keduanya saling jatuh cinta, namun tak mendapatkan restu kedua orang tua mereka.


Ketua Pengurus Makam Keramat Punden Masin, Sumartono pun menceritakan awal mula sepasang kekasih itu bisa jatuh cinta.

Menurut cerita Sumartono, Raden Bagus ditugaskan oleh Sunan Muria untuk mengawasi padi di sawah. Sedangkan, Raden Ayu sering mengirim makanan kepada Raden Bagus saat menjaga padi di sawah. Dari situlah keduanya jatuh cinta.

“Raden Bagus diberikan pekerjaan oleh Sunan Muria untuk jaga padi di wilayah Muria Selatan atau sekarang Masin. Raden Ayu sering datang untuk mengirim makanan, witing tresno jalaran saka kulino, keduanya jadi tertarik,” kisah Sumartono.

Namun sayang di balik hubungan asmara keduanya, ternyata ada santri dari Pati bernama Cibolek yang naksir Raden Ayu. Tapi sayang, Raden Ayu tidak suka dengan Cibolek karena dia jelek. Raden Ayu pun lebih memilih Raden Bagus.

“Cibolek itu jelek, cebol (kecil) memiliki keinginan untuk mempersunting Raden Ayu. Raden Ayu tidak memperhatikan Cibolek, tetapi yang diperhatikan adalah Raden Bagus,” imbuhnya.

Hubungan antara keduanya diawasi oleh Cibolek. Cibolek diam-diam mengawasi keduanya yang sedang menjalin asmara di sawah. Cibolek lalu melapor ke Sunan Muria bahwa keduanya berpacaran di sawah.

“Mereka dilaporkan Cibolek kepada Sunan Muria, ‘Anak panjengan Raden Ayu tidak sopan, di sawah dia pacaran dengan Raden Bagus’. Akhirnya dibuktikan oleh Sunan Muria. Kenyataannya, mereka pacaran. Akhirnya di rumah diberikan arahan oleh Sunan Muria. Namun mereka tetap menjalin hubungan,” lanjut Sumartono yang sudah belasan tahun menjadi Ketua Pengurus Makam Keramat Masin itu.

Setelah peristiwa itu, Cibolek melihat lagi mereka pacaran di sawah. Cibolek melapor lagi ke Sunan Muria. Dia bilang kepada Sunan Muria, bahwa padinya di sawah dirusak, habis dimakan burung.

Tapi saat Sunan Muria datang melihat padinya, ternyata tidak ada yang rusak. Semuanya masih utuh. Sunan Muria malah murka melihat anaknya yang masih menjalin hubungan dengan Raden Bagus.

Sunan Muria bahkan mengancam akan memanah putrinya sendiri. Nahas, ancamannya itu justru menjadi kenyataan dan dia melepaskan anak panah ke putrinya.

Raden Bagus yang melihatnya dan langsung menghadang anak panah itu. Anak panah itu lalu mengenai Raden Bagus hingga ia meninggal dunia.

“Raden Ayu didatangi oleh Sunan Muria, karena anaknya sudah senang dengan Raden Bagus, ‘Saya tidak mau pulang kalau tidak bersama dengan Raden Bagus’. ‘Kalau tidak mau pulang saya jemparing (anak panah)’. Karena berniat jemparing, ada setan, akhirnya lepas. Raden Bagus tahu kalau Raden Ayu mau kena Jemparing, terus dihalangi oleh Raden Bagus, dan akhirnya meninggal. Akhirnya dimakamkan di sini,” terang dia.

Raden Bagus dan Raden Ayu akhirnya dimakamkan di Masin yang sekarang dikenal Desa Kandangmas. Warga pun berdatangan untuk ziarah di makam tersebut, terutama saat hari Rabu, Kamis, dan Jumat.

Makam Itu Dikeramatkan Warga Setempat

Makam Raden Ayu Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku kini dikeramatkan oleh warga setempat. Camat Dawe Fammy Dwi Arfana membenarkan hal tersebut.

Para peziarah datang untuk sekadar berdoa, hingga berharap mendapatkan jodoh. Dengan berdoa di makam keramat tersebut, warga berharap mendapatkan berkah dan ridho berkat menggelar sedekah kubur tersebut.

“Kami dari Kecamatan hanya bisa berdoa, semoga mendapatkan keberkahan kita semua. Tujuan untuk bersedekah berharap ridho allah,” katanya ditemui di lokasi.

Kompleks Raden Ayu Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku yang berada di Dukuh Masin Desa Kandangmas Kecamatan Dawe, Kamis (7/3/2024).Para peziarah di Kompleks Raden Ayu Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Makam tersebut berada di atas sebuah bukit. Untuk sampai di makam, warga harus berjalan kaki sejauh 300 meter menaiki jalan setapak.

Suasana makam terlihat asri. Di sekitar makam terdapat banyak pepohonan jati yang masih rindang dan lebat. Warga tidak berani mengambil kayu jati itu karena dikeramatkan oleh warga setempat.

“Terus banyak yang datang ke sini. Sudah sore sampai subuh tidak pulang-pulang maka disabda menjadi kayu jati. Jati ini adalah sabda dari orang-orang yang takziah yang tidak mau pulang,” pungkasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Menjadi ‘Jeng Yah’ di Museum Kretek Kudus



Kudus

Museum Kretek di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memiliki koleksi baru, yaitu seperangkat alat linting tembakau. Pengunjung bisa belajar melinting seperti ‘Jeng Yah’ di film Gadis Kretek.

“Satu set itu sebenarnya ada delapan orang yang bekerja, tetapi di sini ada empat alat giling di sebelahnya ada lokasi untuk batil, jadi satu set digabung, jika ditambah lagi menjadi seperti diorama yang sudah ada Museum Kretek menjadi panjang,” kata Manajer Nojorono Kudus, Arif Gunadi ditemui di Museum Kretek Kudus, Selasa (26/3/2024).

Dia menambahkan, bahwa koleksi terbaru ini diperkirakan berusia 91 tahun. Alat produksi itu sebagai saksi Nojorono, salah satu perusahaan terbesar di Kudus ini memproduksi rokok jenis kretek.


“Alat produksi ini menjadi bagian dari Nojorono Kudus, sudah 91 tahun, ini model lama yang awal-awal dulu kami memproduksi rokok kretek sehingga itu sebuah pembelajaran, jangan disalahartikan ini menjadi tempat produksi kecil bukan, karena ini bukan tempat produksi kecil ini tempat bagian sejarah kami dulu yang kami hibahkan untuk menjadi edukasi buat masyarakat,” kata dia.

Koleksi seperangkat alat linting kretek di Museum Kretek Kudus, Selasa (26/3/2024).Koleksi seperangkat alat linting kretek di Museum Kretek Kudus. Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Lebih lanjut, alat produksi tersebut sebagai saksi hidup wanita di Kudus yang bekerja sebagai buruh rokok kretek. Menurutnya ada ribuan wanita di Kudus yang bekerja menjadi buruh rokok. Hal itu pun menjadi penopang ekonomi warga di Kota Kretek.

“Bagaimana ibu-ibu di Kudus itu hidup dari rokok itu. Sehingga mereka tergantung pada itu, ada ribuan pekerja di Kudus ini yang tergantung pada industri hasil tembakau seperti ini, dan ini sebuah sejarah yang harus diapresiasi, terutama Kudus bagian dari sejarah kretek yang namanya juga menjadi Kota Kretek,” ungkap Arif.

“Sehingga lebih mengenal sejarah Kota Kretek. Harapannya menjadi Jeng Yah-Jeng Yah ke depannya,” lanjut dia.

Sementara itu, Pj Bupati Kudus Muhammad Hasan Chabibie mengatakan bersyukur dengan koleksi baru di Museum Kretek Kudus. Menurutnya adanya koleksi baru ini menjadi tambahan ilmu bagi pengunjung yang berwisata edukasi ke Museum Kretek Kudus.

“Saya kira ini mewakili sebuah perjalanan panjang industri rokok kretek yang ada di Kudus. Salah satunya divisualisasikan dengan alat yang hibahkan, tentunya harapannya hibah alat ini ada pengalaman pengguna bisa langsung dipakai saat itu, untuk membuat rokok kretek ini menjadi pelajaran berharga buat pengunjung,” kata Hasan.

Artikel ini telah tayang di detikJateng

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Patung Yesus Tertinggi di Dunia Ada di Indonesia, Tingginya 61 Meter



Jakarta

Ada banyak patung Yesus di sejumlah negara, salah satunya di Indonesia. Menjulang begitu tinggi, patung-patung Yesus tidak hanya menjadi tempat ziarah bagi umat Kristiani, tapi juga menjadi daya tarik wisata global.

Berbagai patung bahkan dikelilingi bentang alam yang begitu indah. Indonesia sendiri memiliki beberapa patung Yesus yang tersebar di beberapa daerah. Lantas di manakah letak patung Yesus tertinggi di dunia?

Patung Yesus Tertinggi di Dunia

Predikat Patung Yesus Tertinggi di dunia dimiliki oleh Patung Yesus Penyelamat di Sibea-bea, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Mengutip laman Indonesia Travel dari Kemenparekraf, patung ini memiliki ketinggian 61 meter.


Patung Yesus Penyelamat dibangun menghadap ke Danau Toba. Bentuknya mirip dengan patung Christ the Redeemer di Rio de Janeiro, Brasil yang memiliki ketinggian 38 meter.

Pose patung Yesus ini membuka kedua tangannya seolah ingin merangkul area sekitarnya. Cat putih yang melapisinya membuat cahaya matahari memantul, seolah patung ini bersinar terang. Setelah pembangunan selama 4 tahun, Patung Yesus Penyelamat yang mulai dibangun di awal tahun 2020 diresmikan pada bulan September 2024.

Patung Yesus Lainnya di Indonesia

Selain di Sibea-bea, Samosir, ada beberapa patung Yesus lainnya di Indonesia. Berikut di antaranya:

1. Patung Yesus Memberkati, Tana Toraja

Buntu Burake, Tana Toraja, Sulsel memiliki objek wisata religi yang megah. Di lokasi ini terdapat Patung Yesus Buntu Burake, patung Yesus tertinggi di dunia!Buntu Burake, Tana Toraja, Sulsel memiliki objek wisata religi yang megah. Di lokasi ini terdapat Patung Yesus Buntu Burake, patung Yesus tertinggi di dunia! Foto: Kemenparekraf

Patung Yesus yang berada di Buntu Burake, Kota Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan ini memiliki ketinggian 45 meter. Mengutip laman STAIN Sultan Abdurrahman, Patung Yesus Memberkati berada atas ketinggian 1.700 mdpl, tepatnya di atas puncak Bukit Buntu Burake.

Dibuka sejak tahun 2015, Patung Yesus Memberkati menjadi destinasi wisata religi yang banyak dikunjungi, khususnya umat Kristiani. Pengunjung bisa menikmati pemandangan dari ketinggian jembatan kaca di dasar patung Yesus.

2. Patung Yesus Memberkati, Manado

patung yesus memberkati di manadoPatung Yesus Memberkati di Manado Foto: (Syanti Mustika/detikcom)

Patung Yesus memberkati berdiri setinggi 30 meter di Manado, Sulawesi Utara. Dibangun pada tahun 2007, patung ini menjadi destinasi bagi wisatawan yang datang ke Manado.

Patung Yesus Memberkati terbuat dari 25 ton serat logam dan 35 ton baja dengan ketinggian 30 meter. Dengan kemiringan 35 derajat, patung ini terlihat seperti melayang di udara. Kedua tangannya seperti sedang memberkati area sekitarnya.

3. Monumen Kristus Raja, Maluku

Di Desa Olilit Timur, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, terdapat wisata religius yaitu momumen Kristus Raja. Yuk kita lihat.Di Desa Olilit Timur, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, terdapat wisata religius yaitu momumen Kristus Raja. Yuk kita lihat. Foto: Agung Pambudhy

berdiri di atas bangunan tiga lantai yang dihiasi bentuk-bentuk salib di dindingnya. Ketinggian dari patung Yesus yang berlokasi di Desa Oilut Timur, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Tanimbar, Maluku ini yaitu 25 meter.

Monumen ini dibangun pada tahun 2004 dan diresmikan pada tahun 2006. Monumen Kristus Raja menghadap ke Laut Arafuru. Di kawasan ini, terdapat pula patung Yesus disalib dengan ketinggian 10 meter

4. Patung Yesus Kristus, Papua Barat

Patung Yesus selanjutnya ada di Pulau Mansinam, Manokwari, Papua Barat. Menghadap ke barat, patung ini berdiri tegak sambil membentangkan tangan. Tinggi patungnya mencapai 14,5 meter, sementara pilar penyangganya mencapai 15 meter.

Patung ini terbuat dari lempengan baja, tembaga, kuningan, dan timah. Dari kota Manokwari, patung Yesus ini terlihat jelas berdiri tegak di antara pepohonan. Pada sisi kiri patung, terdapat patung perempuan memegang guci air setinggi 3 meter.

5. Patung Yesus, Merauke

Patung Yesus di Taman Doa Gerbang Hati Kudus Yesus, Merauke, Papua Selatan, ini memiliki tinggi 12 meter. Spot ikonik ini diresmikan pada 14 Agustus 2011, sesuai dengan periode masuknya Gereja Katolik di Merauke ratusan tahun lalu.

Itulah informasi mengenai patung Yesus tertinggi di dunia dan yang ada di Indonesia. Semoga informasi ini membantumu ya.

(elk/row)



Sumber : travel.detik.com

Penampakan Gua Terawang di Blora yang Punya Wajah Baru



Blora

Blora di Jawa Tengah punya destinasi wisata alam gua Terawang yang kini tampil dengan wajah baru. Pastinya wisatawan akan dibuat betah.

Gua Terawang merupakan salah satu ikon wisata yang berada di wilayah Kabupaten Blora. Gua ini enawarkan keindahan pemandangan alam yang patut diperhitungkan sebagai opsi untuk berakhir pekan bareng keluarga, pacar, atau teman.

Gua Terawang berada di Desa Kedungwungu, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Baru-baru ini, gua itu menarik perhatian wisatawan karena memiliki wajah baru.


Tak hanya punya bebatuan yang berlumuran air serapan, gua itu kini disulap menjadi eco park yang sangat memanjakan mata.

Gua Terawang sekarang sudah dihiasi dengan lampu-lampu yang mempercantik suasana, tempat duduk dan kafe yang menyediakan kopi lokal blora, sehingga diharapkan membuat pengunjung menjadi nyaman dan betah di sini.

Gua ini berada dalam kawasan Perum Perhutani Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Blora. Disebut sebagai gua Terawang karena di dalam gua kita bisa melihat cahaya matahari yang tembus dari luar.

Cahaya matahari yang menembus gua ini menambah keindahan dan cocok untuk berswafoto. Salah satu pengunjung dari Kabupaten Grobogan, Nikmatul Khoiriyah, sengaja menyempatkan diri berkunjung ke gua ini.

Dia mengaku baru pertama kali mengunjungi gua Terawang yang dia tahu dari sosial media. Menurut dia, gua Terawang mempertahankan keaslian dari goa. Sehingga tampak asri.

“Di sini jalan-jalan aja sih, mas mumpung lagi liburan. Emm, tempatnya bagus, tahu informasi di sini dari FYP TikTok,” ucapnya di sela menikmati keindahan dari dalam gua pada Minggu (19/1/2025).

Pengunjung menikmati suasana di dalam Goa Terawang, Blora, Minggu (19/1/2025).Pengunjung menikmati suasana di dalam Goa Terawang, Blora Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng

“Gua Terawang bagus sih. Dari Purwodadi (Grobogan, red) ke sini kan lumayan dekat, worth it kalau mau jalan-jalan biasa,” ungkap wanita yang kerap disapa Nikmah.

Oh iya, pengunjung mesti hati-hati ya, karena di sekitar gua banyak monyet-monyet liar yang terkadang meminta makan pengunjung. Namun, satwa monyet akan ramah ketika tidak diganggu.

Keberadaan monyet-monyet itu juga dinilai menjadi salah satu daya tarik objek wisata tersebut. Kebanyakan monyet itu memang hanya berada di area pohon-pohon jati, kadang juga turun ke bawah.

Nikmah mengaku sempat kaget dengan keberadaan monyet yang berkeliaran di sekitar goa. Menurutnya banyak tempat bagus yang cocok digunakan untuk berfoto.

“Dapat foto-foto, ada kafenya juga. Nyaman sih. Ada lumayan banyak monyet, tapi monyetnya baik-baik,” terangnya.

Sementara itu, Administratur Perhutani KPH Blora Yeni Ernaningsih menjelaskan gua Terawang telah dikembangkan menjadi Gua Terawang Eco Park yang dikerjasamakan dengan mitra.

“Ini adalah wana wisata yang dimiliki oleh Perum Perhutani KPH Blora berupa gua dengan buffer zone (zona penyangga) yang ada di sekelilingnya berupa tegakan tanamam jati. Saat ini kita lakukan pengembangan baru menjadi Gua Terawang Eco Park namanya. Untuk di dalam goa sendiri insyaallah masih asri,” jelasnya.

Keseruan di dalam Goa Terawang Eco Park yang telah disulap menjadi ramah bagi pengunjung, Minggu (19/1/2025).Goa Terawang Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng

Pihaknya akan terus mengembangkan destinasi wisata ini. Nantinya pihaknya akan menggaet pelaku UMKM untuk mendisplay produk UMKM di sekitar area.

“Memang di bawah (dalam gua) kita perkeras, tapi itu hanya untuk jalan, untuk pengunjung sehingga lebih aman dan tidak licin. Sedangkan untuk yang di sekitarnya kita nanti ada playground, kemudian resto, dan nanti ada lapak lapak yang dipakai untuk UMKM,” jelasnya.

Yeni menjelaskan kondisi gua yang sebelumnya belum ada pengembangan. Hanya mengelola dan memanfaatkan kondisi yang ada. Sebelumnya juga terkendala masalah anggaran. Dia berharap Goa Terawang tetap menjadi icon destinasi wisata alam Blora.

“Jadi dengan nama eco park ini adalah kayak wajah baru dari Goa Terawang yang menjadi icon wisata di Kabupaten Blora ini,” jelasnya.

Cara Menuju ke Gua Terawang

Lokasi Gua Terawang berada di tepi jalan. Jaraknya sekitar 33 kilometer dari jantung kota Blora atau sekitar 107 dari Kota Semarang. Menuju lokasi jalannya cukup mulus, dalam perjalanan menuju goa ini mata kita diperlihatkan pemandangan hamparan hutan jati.

Jika dari arah Semarang, pengunjung di pertigaan Gagakan depan Puskesmas Kunduran ambil arah kanan, terus sejauh 12 kilometer.

Ketika dari arah Blora, bisa juga melewati jalan Ngawen-Japah-Todanan sejauh kurang lebih 25 kilometer. Pengunjung kalau dari Kudus dan sekitarnya bisa melewati Jalan Pucakwangi, Kabupaten Pati.

Tiket Masuk dan Jam Buka

Pengunjung bisa menikmati pemandangan di dalam gua Terawang dengan membeli harga tiket Rp 10 ribu per orang. Wisata alam tersebut buka setiap hari pukul 08.00 sampai 17.00 WIB.

Gua Terawang belum dibuka untuk kunjungan di malam hari. Meski demikian, pihaknya telah merencanakan untuk buka di malam hari.

“Untuk jam buka pengunjung mulai jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Untuk malam hari tidak kami perkenankan untuk di dalam gua. Tetapi nanti apabila pengembangan sudah jadi, kemungkinan yang di luar akan kami buka, terutama untuk restonya sehingga bisa menikmati makan malam di dalam gua di malam hari,” imbuh dia.

Besar harapannya gua Terawang yang berada di Blora bagian barat ini dapat berkontribusi positif bagi sektor pariwisata Blora.

“Di mana menjadikan Blora barat sekarang menjadi ramai dengan adanya kunjungan wisata di Gua Terawang. Dan berharap Gua Terawang masih tetap menjadi ikon Kabupaten Blora dengan suasana eksotik dalam gua yang masih terjaga kondisinya,” pungkas Yeni.

——-

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Memetik dan Menyeduh Kopi Langsung dari Kebunnya di Pegunungan Muria



Kudus

Traveler pecinta kopi mesti mencoba pengalaman wisata satu ini, memetik dan menyeduh kopi langsung dari kebunnya di pegunungan Muria. Syahdu!

Di lereng Pegunungan Muria, tepatnya di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, terdapat kebun kopi yang luas dengan pemandangan yang indah. Wisatawan yang liburan ke sini bisa merasakan kopi khas pegunungan Muria dengan pemandangan yang tiada duanya.

Salah satu penyedia paket wisata kopi di Lereng Muria adalah M Ridlo (35), warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus. Pemilik kopi Zayna ini menyediakan jasa trip perjalanan ke puncak Muria sambil menyeduh kopi langsung dari kebunnya.


Lokasinya berada di Puncak Gunung Muria. Perjalanan dari Desa Colo ditempuh dengan menggunakan sepeda motor. Jalan yang ekstrem dan terjal di Lereng Pegunungan Muria menjadi tantangan tersendiri bagi wisatawan. Perjalanan itu jaraknya sejauh 4 kilometer.

Sesampainya di puncak, wisatawan harus berjalan kaki lagi sekitar 500 meter. Pengunjung harus berhati-hati karena medan jalan cukup licin dan terjal.

Sesampainya di atas puncak gunung, rasa lelah bakal terbayar lunas. Sebab di atas terdapat gardu pandang yang siap digunakan untuk ngopi bersama dengan melihat keindahan alam.

Wisatawan asal Semarang, Winda, mengaku sengaja datang bersama temannya untuk menikmati kopi dan perjalanan muncak Gunung Muria. Dia mengakui harus melalui jalan yang ekstrem dan terjal. Namun hal itu terbayarkan setelah sampai puncak Muria.

“Perjalanan luar biasa bikin capek karena kita ramai-ramai juga pas perjalanan pakai motor. Untuk jalan kaki sedikit (terjal) tapi seru banget,” ungkap Winda di lokasi beberapa waktu lalu.

Menurutnya pemandangan dari puncak Muria begitu indah. Banyak Pegunungan terlihat. Pemandangan indah kota Kudus juga terlihat dari atas. Di lokasi juga terdapat hamparan kebun kopi yang luas.

Menikmati kopi langsung dari kebunnya di Lereng Gunung Muria Kudus, Sabtu (12/4/2025).Menikmati kopi langsung dari kebunnya di Lereng Gunung Muria Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Wisatawan bisa menikmati kopi di atas gardu pandang. Tak ayal berasa ngopi di atas awan dengan pemandangan alam yang sejuk dan indah.

“Pemandangan luar biasa banget. Bisa melihat pegunungan, terus suasananya sejuk banget. Kita diajak seduh kopi langsung dan di sini kita masak mi juga. Suara burung terdengar merdu sekali,” ungkap dia.

Pengelola wisata kebun kopi khas Muria, M Ridlo, menjelaskan potensi wisata ngopi di tengah kebun kopi Puncak Muria amat menarik. Sebab lokasi ini menawarkan panorama keindahan alam yang indah dan sejuk.

“Kita lagi ngopi di kebun kopi. Kita bisa sambil ngopi nyeduh kopi langsung di perkebunan kopi. Jadi kita ada edukasi wisata trip perjalanan ke kebun kopi. Petik kopi hingga nyeduh kopi langsung dari kebun,” ujar dia.

Ridlo menyediakan fasilitas jasa ojek hingga kopi. Wisatawan akan diantarkan sampai atas Muria. Setelah itu bisa menikmati kopi langsung dari tengah kebun di Puncak Muria.

“Perjalanan menyusuri Lereng Muria sampai di atas sini. Di sini ada beberapa fasilitas ada gardu pandang, masak, ngopi dan lainnya,” ujarnya.

Tarif untuk merasakan pengalaman ini dibanderol per orang antara Rp 60 ribu sampai Rp 120 ribu. Tergantung dengan spot puncak yang diinginkan. Semakin berat medannya, maka biayanya semakin bertambah.

“Untuk ngopi free semua. Tarif itu jasa ojek ke atas,” jelasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com