Tag Archives: kutukan

Bukit Kaba, Gunung Berapi yang Punya Mitos Kutukan di Bengkulu



Bengkulu

Di Bengkulu, ada sebuah gunung berapi yang menyimpan mitos kutukan. Bukit Kaba namanya. Seperti apa kutukan yang berlaku di gunung ini?

Bukit Kaba atau yang juga dikenal sebagai Gunung Kaba adalah salah satu gunung api aktif yang berada di Provinsi Bengkulu.

Menurut Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu, puncak Bukit Kaba terdiri dari dua kawah yang masing-masing berwarna hijau dan putih kecoklatan.


Gunung dengan ketinggian 1925 mdpl ini menyuguhkan hutan lebat yang dipenuhi semak belukar dan jurang sepanjang jalan menuju ke puncaknya.

Bukit Kaba dulunya adalah cagar alam yang jadi rumah bagi spesies Bunga Padma Raksasa atau yang dikenal sebagai Rafflesia arnoldi. Namun, kini Bukit Kaba berubah dari taman lindung menjadi tempat wisata alam.

Gunung Kaba ini terletak di Kabupaten Rejang Lebong dan Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Dari Kota Curup, lokasinya berada di sebelah tenggara dengan jarak sekitar 15 kilometer.

Bukit Kaba dapat ditempuh dengan kurang lebih 3-4 jam dari Ibukota Provinsi Bengkulu. Menurut buku Sejarah dan Budaya Tanah Serawai karya Ismaoen, nama kaba berasal dari bahasa Minangkabau yang artinya kamu.

Mitos Bukit Kaba

Menurut laman resmi Desa Kesambe Lama Bengkulu, bukit ini dipandang sebagai lokasi yang angker karena mitos bernama Muning Raib. Hal itu karena bukit tersebut dipercaya menjadi tempat tinggal Malim Bagus, seorang muning (paman) yang raib atau hilang dibawa oleh Bidadari.

Akibatnya, terdapat mitos kutukan yang cukup populer. Kutukan tersebut yakni bagi masyarakat asli yang lahir di Desa Curup dan belum menikah, dilarang untuk berkunjung atau mendaki ke Bukit Kaba. Jika melanggar, maka khawatir akan hilang diculik makhluk halus seperti Malim Bagus.

Bukit Kaba adalah salah satu dari 76 gunung aktif bertipe A di Indonesia. Gunung tipe A adalah gunung yang memiliki sejarah letusan sejak tahun 1600.

Saat ini, Bukit Kaba berada di level normal. Hal ini berarti tidak ada indikasi peningkatan aktivitas vulkanik, baik secara visual maupun kegempaan.

——

Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ini Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang Berisi Kutukan



Palembang

Tahukah kamu, ada prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berisi kutukan. Prasasti Telaga Batu namanya. Bagaimana isi prasasti ini?

Prasasti Telaga Batu adalah salah satu peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang cukup terkenal. Prasasti ini disimpan di Museum Nasional dengan nomor koleksi D.155.

Prasasti Telaga Batu ditemukan pada tahun 1934 di sekitar kolam Telaga Biru, Kelurahan 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang.


Setelah diteliti, isi dari prasasti ini ternyata sumpah atau kutukan terhadap siapa pun yang melakukan kejahatan atau tidak taat kepada raja.

Dikutip dari buku Ensiklopedia: Seni, Budaya, dan Pariwisata Kota Palembang milik Syarifuddin dkk, prasasti Telaga Batu ini ditemukan oleh R.M. Akib pada tahun 1934.

Prasasti ini berbentuk telapak kaki yang pinggiran atasnya terpahat 7 kepala ekor ular sendok (kobra) lengkap dengan permata kemalanya.

Prasasti ini berasal dari abad ke-10 Masehi, akan tetapi menurut J.F. de Casparis (1956), prasasti ini berasal dari abad ke-7 Masehi. Pada situs Telaga Batu, ditemukan arkeologi berupa struktur bangunan yang dikelilingi oleh parit yang salah satu salurannya bermuara di Sungai Musi.

Prasasti Telaga Batu banyak bermuatan persumpahan. Prasasti ini merupakan tanda bahwa di Kota Sriwijaya tinggal para pejabat kerajaan, panglima tentara, para penegak hukum, para saudagar, para tukang/perajin sampai dengan para tukang cuci kerajaan yang disumpah oleh Datu Sriwijaya.

Isi Prasasti Telaga Batu

Berdasarkan Jurnal Figur Ular Pada Prasasti Telaga Batu: Upaya Pemaknaan Berdasarkan Pendekatan Semiotika Peirce karya Muhammad Alnoza, prasasti yang dikeluarkan oleh Kedatuan Sriwijaya ini berisi tentang kutukan kepada siapa saja yang melawan kuasa sang raja. Dan sering disebut para peneliti sebagai prasasti persumpahan.

Raja Sriwijaya dalam prasasti tersebut bersumpah di depan para dewa (termasuk dewa lokal bernama Tandrun Luah), agar siapa saja yang melawan raja maka akan mati seketika karena kena kutuk. Berikut beberapa poin yang terdapat di dalam isi Prasasti Telaga Batu:

1. Kutukan terhadap pejabat kerajaan yang durhaka dan tidak taat kepada perintah raja, adapun salah satu penggalan kalimat yang terdapat pada prasasti tersebut berbunyi sebagai berikut :

(…kalian semuanya, berapa pun kalian, anak-anak raja, pemimpin, panglima tentara, nayaka, pratatya, orang kepercayaan raja, hakim, pengawas sekelompok pekerja, pengawas kasta rendah, pemotong), kumaramatya, catabatha, adhikarana, juru tulis, pematung, nakhoda kapal, pedagang, komandan, tukang cuci dan budak raja. kalian semua akan dibunuh dengan kutukan, apabila kamu tidak tunduk kepadaku…)

2. Kutukan terhadap orang yang melakukan kejahatan, berikut ini merupakan penggalan kalimat yang ada pada prasasti tersebut yang bertuliskan:

(…Selain itu, apabila kamu berencana untuk menghancurkan prasasti ini atau mencurinya, siapa pun kamu dari kelas rendah menengah atau tinggi, atas dasar itu, atau kamu berencana untuk menyerang keratonku, kamu akan dibunuh dengan cara di kutuk…)

Makna Ular Berkepala Tujuh

Makna figur ular pada Prasasti Telaga Batu adalah sebagai mucalinda yang melindungi Datu Sriwijaya beserta hukum yang ia buat. Mucalinda dalam prasasti Telaga Batu didasari konsep Buddharaja yang berkembang di Asia Tenggara saat itu.

Berdasarkan perbandingan yang dilakukan antara mucalinda di Kerajaan Sriwijaya dan Asia Tenggara daratan, keduanya menggunakan mucalinda untuk melindungi sang raja, akan tetapi keduanya memiliki cara yang berbeda untuk menunjukkan perwujudan keterkaitan mucalinda pada sosok raja.

Mucalinda menandakan wibawa sang datu sebagai Buddha yang hidup di dunia. Mucalinda di Sriwijaya juga memiliki peran yang signifikan karena berkaitan dengan perwujudan langsung sang datu, dan menjadi penanda bahwa datu memiliki kuasa penuh dan memberi berkah bagi hajat hidup masyarakat Sriwijaya.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Penampakan Makam Han Siong Kong di Lasem yang Bikin Marga Han Dikutuk



Lasem

Orang-orang bermarga Han dikutuk di Lasem. Semua itu gara-gara Han Siong Kong yang makamnya masih ada sampai sekarang dan bisa dikunjungi wisatawan.

Kutukan untuk orang-orang bermarga Han itu adalah mereka dilarang untuk menginjakkan kaki di Lasem. Jika melanggar, mereka dipercaya akan hidup sengsara dan jatuh miskin.

Kutukan itu diberikan oleh Han Siong Kong kepada anak-anaknya dan keturunan mereka. Cerita bermula ketika keluarga Han Siong Kong datang dan tinggal di Lasem dari Tian Bao (Fujian), China pada era tahun 1700-an.


Atas usaha dagangnya yang sukses besar, Han Siong Kong pun berhasil mengumpulkan pundi-pundi kekayaan. Namun, kesuksesan itu malah dimanfaatkan oleh anak-anaknya.

Mereka disebut suka menghambur-hamburkan harta milik sang ayah. Mereka hobi berfoya-foya dan doyan bermain judi.

Jenazah Sang Ayah Ditelantarkan Anaknya

Ketika Han Siong Kong meninggal, anak-anaknya pun ikut menandu jenazah sang ayah untuk dibawa menuju ke tempat peristirahatan terakhir di Desa Babagan, Lasem.

Setibanya di area makam, tiba-tiba hujan lebat datang mengguyur. Anak-anak Han Siong Kong yang semula menandu jenazah bapaknya, malah pergi meninggalkan begitu saja jenazah itu.

Setelah hujan reda, anak-anak Han Siong Kong kembali ke lokasi dimana mereka meninggalkan jenazah sang ayah. Betapa kagetnya mereka ketika mengetahui jenazah sang ayah sudah menghilang dan berganti jadi gundukan makam.

“Tiba-tiba petir muncul dan terdengarlah kutukan, bahwa keturunan Han tidak boleh tinggal di Lasem. Apabila melanggar akan jatuh miskin,” ujar Agni Malagina, peneliti Sejarah Cina di Lasem.

Makam Han Siong Kong Masih Ada dan Bisa Dikunjungi

Makam Han Siong Kong hingga kini ternyata masih dapat dijumpai wisatawan. Lokasinya berada di Desa Babagan, Kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Makam itu terletak berdekatan dengan permukiman warga dan area tegalan. Jarak antara lokasi pohon tempat jenazah Han Siong Kong ditelantarkan anaknya, dengan lokasi makamnya terbilang cukup jauh, sekitar 300-an meter.

Makam Han Wee Sing atau Han Siong Kong di Desa Babagan, Lasem, Rembang, Rabu (29/5/2024).Makam Han Wee Sing atau Han Siong Kong di Desa Babagan, Lasem, Rembang. Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng

Ada papan nama penunjuk lokasi makam. Di papan penunjuk lokasi tertulis ‘Makam Keramat Han Wee Sing (Nama lain Han Siong Kong) di Desa Babagan’.

Di lokasi makam Han Siong Kong, suasana sepi begitu terasa. Makam itu dikelilingi tanaman semak-semak sebagai pagar pembatas.

Di lokasi itu hanya ada dua makam. Dua-duanya berciri khas makam Tionghoa. Material bangunannya memakai tembok, dicat berwarna putih.

Satu makam ukurannya cenderung lebih besar dan makam yang satunya lagi berukuran lebih kecil. Kedua makam itu ada bongpainya atau batu nisan China. Masing-masing bongpai itu memakai tulisan aksara China.

Ketua Pokdarwis Desa Babagan, yang sekaligus Pemerhati Budaya dan Sejarah di Lasem mengatakan, makam keramat Han Wee Sing di desanya itu adalah makamnya Han Siong Kong.

“Ya makamnya di situ (Desa Babagan). Ada papan petunjuk, ‘Makam Keramat Han Wee Sing di Desa Babagan’. Itu Makamnya Han Siong Kong. Dia dikenal juga dengan nama Han Wee Sing atau Han Siong Kong. Yang besar itu makamnya Han Siong Kong, kalau kecil itu Dewa Bumi. Orang Tionghoa kalau mau nyekar harus nyembayangi dulu Dewa Bumi. Ibarat orang Jawa kalau mau kirim doa orang tuanya, harus nyebut Nabi Muhammad dulu,” tutur Agik.

——

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com