Tag Archives: lantai

Haruskah Mengepel Lantai Setiap Selesai Menyapu? Begini Anjurannya



Jakarta

Mengepel lantai biasa dilakukan setelah menyapu lantai. Namun, jika dilihat secara kasat mata, sebenarnya lantai sudah terlihat bersih hanya dengan disapu. Lantas, apakah mengepel lantai harus dilakukan setiap hari, terutama setelah menyapu?

Dilansir Angi, ternyata penentuan waktu untuk mengepel lantai bisa disesuaikan dengan banyaknya aktivitas yang dilakukan di rumah. Apabila seharian berada di rumah, lantai harus dipel setiap hari bahkan setiap setelah melakukan kegiatan lho. Bahkan mengepel tidak hanya dilakukan satu kali saja, melainkan dua kali yakni pada pagi dan sore hari.

Untuk area dapur, mengepel lantai juga dianjurkan dilakukan ketika selesai makan, termasuk di area ruang makan. Tumpahan, remah-remah, dan minyak dari masakan dapat mengotori lantai selama memasak dan makan.


Menyapu dan mengepel setelah makan malam juga dianjurkan. Dengan begitu, saat penghuni rumah ingin memasak keesokan paginya, dapur tidak berantakan bak kapal pecah.

Lalu, untuk area di dekat pintu masuk dan ruangan yang sering jadi tempat lalu lalang bisa dipel setiap dua minggu sekali. Namun, jika sedang musim hujan, mengepel lantai sebaiknya dilakukan setiap selesai hujan.

Ruang tempat keluarga berkumpul atau menerima tamu seperti ruang keluarga, ruang tamu, dan ruang TV harus sering dipel terutama setelah selesai digunakan. Sebab, kotoran bisa terbawa dari luar. Di ruangan ini bisa saja ada tumpahan remah makanan dan lainnya.

Apa yang Terjadi Jika Jarang Mengepel Lantai?

Lantai yang jarang dipel pasti terasa lengket, berpasir, dan kasar. Terutama bagi penghuni yang jarang memakai alas kaki selama di dalam rumah.

Selain itu, lantai yang kotor dan jarang dipel menjadi tempat berkumpulnya serbuk sari, kotoran, debu, dan kotoran lainnya menyebabkan penumpukan alergen, bakteri, dan bahkan jamur, yang mencemari rumah dan menciptakan lingkungan yang tidak higienis. Seiring waktu, muncul bau tak sedap di rumah karena pertumbuhan jamur dan bakteri.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(aqi/abr)

Sumber : www.detik.com

Alhamdulillah  Allohumma Sholli Ala Rosulillah Muhammad wa ahlihi wa ash habihi. ilustrasi gambar properti : unsplash.com / kenny eliason
ilustrasi gambar : unsplash.com / kenny eliason

7 Tips Mengepel Lantai Agar Bersih Kinclong dan Tidak Bau Amis


Jakarta

Agar rumah tetap bersih dan nyaman maka lantai perlu dipel secara rutin. Langkah ini dapat membersihkan lantai dari kotoran, debu, hingga minyak menempel.

Namun, lantai yang sudah dipel terkadang justru tetap kotor dan bahkan tercium aroma amis yang bikin enek. Hal ini tentu dapat mengganggu kenyamanan dan bikin lelah karena harus kembali mengepel lantai.

Sebenarnya, ada beberapa tips saat mengepel lantai agar bersih, kinclong, dan tidak mengeluarkan bau amis. Penasaran? Simak tipsnya di bawah ini.


Tips Mengepel Lantai Agar Bersih dan Wangi

Ada sejumlah tips dalam mengepel lantai agar tetap bersih dan wangi. Dikutip dari situs Martha Stewart dan The Spruce, berikut cara mengepel lantai agar bersih dan wangi:

1. Sapu Lantai dengan Bersih

Tips yang pertama adalah menyapu lantai hingga bersih sebelum dipel. Jika tidak disapu, maka debu, kotoran, hingga sisa makanan yang jatuh ke lantai akan tetap berserakan meski sudah dipel.

Bahkan, kotoran dan debu justru bisa menyebar ke area lain karena ikut terbawa oleh kain pel. Maka tak heran setelah lantai dipel tapi tetap terasa kotor dan lengket.

2. Pakai Air Bersih

Saat mengepel lantai, pastikan kamu menggunakan air bersih dan cairan pembersih khusus lantai. Jika menggunakan air kotor, maka kotoran di dalam air akan menempel di kain pel dan terbawa saat mengepel. Hal ini yang membuat lantai malah tambah kotor dan menjadi bau amis.

Jika mencuci dan membilas kain pel langsung di ember, pastikan memakai dua ember yang berbeda. Jadi, satu ember berisi air cairan pembersih lantai sedangkan ember satunya lagi untuk membilas kotoran.

3. Pel dengan Teknik yang Tepat

Ternyata, teknik mengepel yang salah juga bisa membuat kotoran justru menyebar ke seluruh lantai. Lakukan mengepel dengan cara bergerak mundur sehingga tidak menginjak lantai yang basah.

Selain itu, mulai mengepel dari sudut terjauh dari pintu dan pel di sepanjang tepi dinding terlebih dahulu. Ayunkan kain pel maju dan mundur dengan membentuk angka ‘8’ di seluruh ruangan.

Setelah beberapa kali mengepel maka kain pel akan menjadi kotor dan berwarna hitam. Kemudian balikkan pel ke sisi lainnya yang masih bersih. Jika kedua sisi kain pel sudah kotor maka segera dicuci hingga bersih.

4. Jangan Terlalu Banyak Sabun

Mengepel lantai memang membutuhkan sabun lantai, tapi hindari menggunakannya terlalu banyak karena membuat lantai lengket dan cepat kotor. Maka dari itu, sebaiknya gunakan sabun lantai sesuai petunjuk kemasan dan sesuai dengan jenis lantai. Hindari memakan sabun cuci piring karena berisiko merusak keramik lantai.

5. Cuci Bersih Kain Pel

Setelah digunakan, segera cuci bersih kain pel dan keringkan. Cara ini dilakukan agar kain pel tetap bersih dan mencegah bau apek, sehingga tidak memicu pertumbuhan jamur dan bakteri. Perlu diingat, menggunakan kain kotor untuk mengepel dapat membuat lantai menjadi bau amis.

Untuk membersihkan kain pel juga gampang, cukup bilas kain pel secara menyeluruh dalam ember yang berisi air panas, kemudian peras kain sampai kering hingga tidak ada air tersisa.

6. Keringkan Kain Pel

Agar kain pel bisa digunakan kembali, sebaiknya keringkan kain di tempat yang terkena sinar matahari. Semakin cepat kering kain pel juga meminimalisir kemungkinan untuk menjadi bau.

Cara mengeringkan kain pel juga tidak bisa sembarangan. Letakkan kepala pel secara terbalik di area yang berventilasi baik hingga kering secara menyeluruh. Hindari meletakkan kain pel di lantai atau menyimpannya di lemari saat basah.

7. Ganti Kain Pel Secara Berkala

Kain pel yang sudah sangat kotor tentu akan tetap mengeluarkan bau tak sedap meski sudah dicuci berkali-kali. Itu tandanya kain pel harus diganti dengan yang baru. Disarankan memilih kain pel berbahan mikrofiber agar dapat mengangkat kotoran membandel dengan mudah.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu kasih jawaban. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(ilf/ilf)

Sumber : www.detik.com

Alhamdulillah  Allohumma Sholli Ala Rosulillah Muhammad wa ahlihi wa ash habihi. ilustrasi gambar properti : unsplash.com / kenny eliason
ilustrasi gambar : unsplash.com / kenny eliason

Seberapa Sering Mengepel Lantai Dalam Seminggu? Begini Anjurannya



Jakarta

Mengepel lantai merupakan salah satu cara membersihkan rumah yang sering dipraktekkan. Umumnya mengepel lantai dilakukan setelah selesai menyapu.

Lantai yang sudah bersih dari debu dan kotoran halus akan tambah bersih setelah dipel. Selain itu, larutan pembersih yang biasa dipakai saat mengepel juga mengandung anti bakterial dan bisa membuat lantai lebih wangi. Kondisi lantai setelah dipel akan jauh lebih bersih, kesat, tidak lengket apalagi licin, dan lebih nyaman untuk beraktivitas.

Meskipun manfaat mengepel lantai benar-benar dapat membuat rumah bersih, beberapa orang terkadang melewatkan bagian ini dan merasa cukup dengan menyapu saja. Sebenarnya apakah mengepel itu kewajiban setiap selesai menyapu atau bisa dilakukan pada periode tertentu?


Seberapa Sering Mengepel Lantai?

Dilansir situs Angi, mengepel lantai boleh dilakukan kapan saja terutama saat dibutuhkan. Jadi tidak ada ketentuan khusus dan mengikat untuk melakukannya. Apabila lantai terlihat kotor dan tidak enak diinjak, itu merupakan sinyal jelas jika perlu dipel.

Sinyal lainnya apabila rumah sedang kedatangan banyak tamu. Orang yang berasal dari luar biasanya membawa kotoran juga ke dalam rumah. Jejak kaki mereka yang sudah berapa jam di dalam sepatu dan sendal juga bisa membawa kotoran, bau, hingga jejak di lantai. Sebaiknya setelah tamu pergi langsung sapu dan pel lantai agar nyaman beraktivitas di dalam rumah.

Apakah saat sendirian di rumah dan tidak melakukan banyak aktivitas, lantai boleh tidak dipel? Hal ini kembali lagi pada kebutuhan. Apakah penghuninya nyaman dengan kondisi lantai atau tidak. Namun, untuk memastikan rumah selalu bersih, ada baiknya mengepel lantai minimal sehari sekali. Terutama area yang sering kotor seperti dapur, halaman, dan kamar tidur.

Meskipun lantai terlihat bersih, tidak ada bekas makanan, noda membandel, atau bau, lantai bisa jadi sangat kotor dari debu, kotoran hewan, atau jejak kaki.

Itulah penjelasan mengenai seberapa sering harus mengepel lantai, semoga membantu.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu kasih jawaban. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(aqi/das)

Sumber : www.detik.com

Alhamdulillah  Allohumma Sholli Ala Rosulillah Muhammad wa ahlihi wa ash habihi. ilustrasi gambar properti : unsplash.com / kenny eliason
ilustrasi gambar : unsplash.com / kenny eliason

6 Pilihan Material Lantai yang Bikin Rumah Terasa Sejuk dan Dingin


Jakarta

Lantai adalah salah satu bagian yang paling penting di rumah. Selain membuat rumah lengkap dan indah, lantai juga bisa menentukan suhu pada suatu ruangan di rumah.

Tak jarang, ada beberapa lantai yang membuat suhu ruangan sejuk meski pada cuaca panas. Selain itu, lantai juga bisa memberikan kesan mewah dan bersih di rumah.

Terkait hal itu, ada beberapa jenis pilihan material lantai yang bisa menentukan kenyamanan di rumah. Apa saja? Dikutip dari centro, ini daftarnya:


Keramik

Keramik adalah pilihan favorit kebanyakan orang untuk menjadi penutup lantai. Keramik terbuat dari tanah liat yang dipanaskan. Bahannya mempuyai struktur yang rumit dengan sedikit elektron-elektron bebas. Kurangnya beban elektron bebas pada keramik membuat keramik menjadi konduktor panas yang buruk. Dengan kata lain, bahan keramik tidak meneruskan panas yang diterimanya. Ini tentu membuat rumah menjadi sejuk. Mencari keramik? gampang saja, silahkan untuk kunjungi web kami di www.centroceramic.com.

Marmer

Marmer banyak disukai karena lebih memiliki karakter khas dan berkelas. Marmer adalah jenis batu kristalin kasar yang berasal dari batu gamping atau disebut dolomit. Material marmer membuatnya kuat, juga terasa dingin. Marmer memiliki corak dan warna yang berbeda-beda.

Granit

Granit memiliki pori-pori yang lebih rapat sehingga memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk dimasuki air atau kotoran. Granit yang kokoh juga memiliki sifat dingin. Saat ini telah tersedia granit buatan dengan motif yang beraneka ragam dengan harga yang lebih murah.

Tegel

Tegel adalah jenis lantai yang terbuat dari campuran pasir dan semen yang dihias dengan perwarnaan. Lantai dengan bahan tegel lebih dingin daripada keramik. Lantai tegel banyak digunakan di daerah pedesaan atau pada bangunan lama sehingga mampu menimbulkan kesan tradisional dan antik. Motifnya yang klasik juga membuat tampilan ruang menjadi unik.

Teraso

Hampir sama dengan tegel, lantai teraso terbuat dari semen dan pasir yang bagian atasnya dilapisi campuran pecahan batuan. Teraso memiliki corak dan tekstur sesuai dengan bahan campuran yang digunakan. Warnanya biasanya putih bercorak karena pecahan-pecahan marmer di dalamnya.

Kayu

Pelapis kayu membuat tampilan rumah lebih natural dan hangat. Namun, ini bukan berarti lantai kayu mengeluarkan panas. Kelebihan dari lantai kayu adalah adanya efek isolasi. Maksudnya, jika udara dingin, lantai kayu tetap dingin, dan bila cuaca panas, lantai ini tetap sejuk.

(zlf/zlf)



Sumber : www.detik.com

Kapan Keramik Bisa Diinjak Setelah Dipasang? Begini Cara Mengetahuinya


Jakarta

Rumah kamu baru saja dipasang keramik baru? Selesai dipasang, kamu ingin melewatinya tetapi ragu apakah sudah bisa diinjak atau belum.

Keramik yang baru dipasang membutuhkan waktu untuk mengering. Sama seperti jalan aspal atau semen, pemasangan keramik lantai pun demikian. Sebaiknya pilih jalan lain apabila keramik baru saja selesai dipasang.

Meski permukaan keramik keras dan solid, apabila bahan perekat di bawahnya belum siap untuk diberi tekanan, rawan terjadi retak hingga bergeser.
Selain itu, tampilan nat yang mengisi celah ubin juga bisa cepat berubah warnanya dan berpotensi menjadi sarang bakteri dan lumut karena masih basah.


Lalu sebenarnya butuh berapa lama untuk memastikan keramik yang terpasang sudah bisa diinjak? Menurut homelyfixes.com, keramik sebaiknya dibiarkan mengering selama 24 jam. Tetapi waktu pengeringan ubin ini tergantung dengan jenis, ketebalan, dan suhu ruangan tempat dari keramik tersebut terpasang.

Misalnya keramik akan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengering dibandingkan porselen. Lalu keramik yang lebih tebal akan lebih lama mengeras dibandingkan ubin yang tipis. Begitu pula dengan suhu udara, jika tempat keramik dipasang terlalu lembap seperti kamar mandi maka perekat membutuhkan waktu lebih lama untuk mengeras.

Cara Mengetahui Keramik Siap Diinjak

Melansir dari homelyfixes.com pada Rabu (7/2/2024) ada beberapa cara untuk mengetahui keramik siap untuk diinjak.

  1. Ketuk Permukaan Keramik

    Setelah 24 jam dipasang, kamu bisa mengetuk bagian tengah keramik untuk mengetahui ketahanannya. Bagian pinggir keramik biasanya akan lebih cepat kering karena terkena udara.

    Apabila saat diketuk terdengar seperti kosong atau berongga tidak seperti bagian pinggir yang keras. Lalu permukaan ubin tersebut melengkung dan tidak rata. Hal itu menandakan bagian bawahnya masih lembap dan apabila dipaksakan diinjak ada potensi permukaannya retak.

  2. Tekan Nat

    Sentuh bagian celah ubin untuk mengetahui kondisinya. Nat yang sudah keras berarti sudah keras dan bisa diinjak.

(aqi/zlf)



Sumber : www.detik.com

Keramik atau Marmer? Ketahui Perbedaannya Sebelum Memilih Ubin


Jakarta

Terdapat beragam jenis bahan untuk lantai dan dinding bangunan yang beredar di pasaran. Beberapa yang sering kita dengar adalah keramik dan marmer.

Apa perbedaan bahan keramik atau marmer? Faktor-faktor apa yang harus diperhatikan sebelum memilih antara bahan keramik atau marmer untuk rumah atau kantor detikers? Simak pembahasannya di artikel berikut.

Perbedaan Bahan Keramik dan Marmer

Mengutip situs RK Marbles India, keramik terbuat dari campuran tanah liat dan berbagai mineral yang dibakar dalam suhu tinggi. Proses ini membuat ubin keramik memiliki tekstur mulus. Keramik memiliki tingkat penyerapan air yang rendah dan cukup awet. Ubin keramik memiliki pilihan warna dan motif yang beragam, sehingga bahan ini populer digunakan di dalam maupun luar ruangan.


Sementara itu, marmer tercipta dari batu-batuan alam. Bahan ini berpori, padat, dan memiliki tingkat penyerapan air yang tinggi. Corak-corak marmer terbentuk secara alami dan menimbulkan kesan mewah. Ubin marmer biasanya berwarna natural seperti hijau, hitam, cokelat, abu-abu, dan putih.

Faktor yang Perlu Dipertimbangkan ketika Memilih Keramik atau Marmer

Sebelum memilih antara keramik atau marmer, ada baiknya detikers mempertimbangkan faktor-faktor berikut.

1. Proses Pemasangan

Proses pemasangan keramik lebih cepat dan tidak membutuhkan pelitur lagi karena keramik dipasang dalam keadaan sudah dipelitur. Ubin keramik bisa dipotong secara manual sehingga detikers bisa memasang ubin dengan berbagai kombinasi pola dan warna.

Sementara, marmer membutuhkan waktu pemasangan yang lebih lama. Selain itu, ubin marmer masih harus melalui tahap pelitur dan finishing sehingga ruangan tidak bisa segera digunakan.

2. Pemeliharaan dan Perawatan

Ubin keramik mudah dibersihkan dan dirawat. Karena tingkat penyerapan airnya rendah, keramik memiliki sifat anti noda.

Ubin marmer mudah kotor karena sifat alamiahnya bereaksi dengan berbagai jenis zat. Cairan asam yang sering ditemukan di rumah seperti cuka, mustard, dan air jeruk mampu menodai marmer. Noda harus segera dibersihkan agar tidak membekas secara permanen. Marmer harus rutin dipoles menggunakan lapisan sealant untuk mencegah masuknya cairan yang bisa mengotori permukaan marmer.

3. Daya Tahan

Keramik cukup awet dan tidak mudah berubah warna. Akan tetapi, ubin keramik mudah pecah.

Sementara itu, ubin marmer lebih kuat dibandingkan berbagai jenis ubin lainnya, tetapi warnanya bisa berubah kekuningan setelah beberapa waktu.

4. Harga

Harga ubin keramik variatif, tergantung produsen dan desainnya. Tetapi, harga keramik umumnya lebih murah dibandingkan marmer. Marmer relatif mahal karena merupakan bahan alami.

5. Estetika

Keramik digemari orang karena pilihan warna dan motifnya yang beragam, tetapi penampilannya tidak memberikan kesan alamiah seperti lantai yang terbuat dari kayu atau batu. Meski keramik bisa dipoles sehingga menimbulkan efek yang mirip marmer, garis-garis ubinnya lebih kentara dibandingkan menggunakan marmer.

Marmer sering menjadi simbol kemewahan dan memiliki nilai estetika yang tinggi. Pola pada permukaan marmer timbul secara alami sehingga setiap marmer memiliki pola yang unik.

Di Mana Sebaiknya Menggunakan Keramik dan Marmer?

Ubin keramik bisa digunakan untuk permukaan di dalam dan luar ruangan. Keramik bisa diberi finishing anti selip sehingga cocok digunakan sebagai lantai dapur dan kamar mandi.

Marmer memiliki permukaan licin sehingga tidak cocok digunakan di kamar mandi. Selain itu, karena mudah kotor, sebaiknya marmer juga tidak digunakan untuk lantai dapur atau dinding di luar ruangan. Marmer cocok digunakan di dalam ruangan, seperti ruang tamu, ruang keluarga, dan kamar tidur.

Itu dia perbedaan antara keramik dan marmer serta hal-hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memilih antara keramik atau marmer. Semoga artikel ini bermanfaat bagi detikers yang sedang mencari bahan untuk lantai dan dinding ruangan.

(fds/fds)



Sumber : www.detik.com

Ini Dia Penyebab Lantai Dapur Berminyak Serta Cara Membersihkannya


Jakarta

Menjaga kebersihan lantai dapur sangat penting untuk mendapat lingkungan memasak yang higienis dan nyaman. Namun, pernahkah kamu mendapati lantai dapur terasa lengket dan berminyak?

Sangat mengganggu, bukan? Selain kotor, lantai dapur yang berminyak juga bisa berbahaya lho. Penghuni sewaktu-waktu dapat terpeleset dan jatuh karena lantai licin.

Pastinya lantai dapur menjadi berminyak karena aktivitas memasak, namun kenapa minyak bisa sampai berakhir di sekujur lantai? Simak penjelasan berikut ini yang dilansir dari Mr Handyman, Selasa (7/5/2024).


Penyebab Lantai Dapur Berminyak

Aktivitas memasak tentunya identik dengan menggoreng dan menumis makanan. Nah, ternyata proses memasak seperti ini membuat partikel minyak menguap ke udara. Lama-lama partikel minyak akan jatuh dan menumpuk di berbagai permukaan dapur, termasuk lantai.

2. Cipratan dan Tumpahan Minyak

Wajar saja kalau sering ada cipratan dan tumpahan minyak di sekitar dapur. Hal ini bisa tentu membuat lantai menjadi kotor, apalagi kalau sedang banyak aktivitas memasak di dapur.

3. Kurang Ventilasi

Sistem ventilasi yang kurang memadai membuat uap berminyak dari memasak terperangkap di dapur. Padahal, dengan ventilasi yang cukup, uap tersebut dapat dikeluarkan dari dapur, sehingga mengurangi tumpukan minyak.

4. Tidak Rajin Membersihkan Dapur

Tidak membersihkan lantai dapur secara rutin akan membuat lemak dan minyak lama-lama menumpuk. Lalu, metode yang kurang tepat juga membuat proses pembersihan kurang efektif, sehingga lantai selalu berminyak.

Cara Bersihkan Lantai Dapur Berminyak

1. Larutan Cuka Putih

Larutkan cuka putih dengan air menggunakan perbandingan 1:1 di dalam baskom atau botol semprot. Lalu, aplikasikan cairan tersebut pada area berminyak.

Kamu bisa menggunakan sikat untuk menggosok lantai dengan perlahan, terutama pada noda minyak membandel. Setelah itu, kamu bisa bilas lantai dengan air bersih dan keringkan.

2. Pasta Soda Kue

Campurkan soda kue dengan sedikit air untuk membuat bentuk pasta. Oleskan pasta soda kue pada lantai berminyak dan biarkan selama 10-15 menit.

Selanjutnya, gosok permukaan tersebut dengan sikat atau spons secara perlahan. Barulah membilas dan mengeringkan lantai.

3. Larutan Sabun Cuci Piring

Campurkan air hangat dan beberapa tetes sabun cuci piring di dalam baskom. Kamu bisa menyikat atau mengelap noda minyak membandel, kemudian bilas dengan air bersih dan keringkan.

4. Larutan Jus Lemon

Peras jus lemon segar dan campurkan dengan air hangat. Selanjutnya, aplikasikan larutan menggunakan kain pel atau spons. Gunakan kain pel atau spons untuk mengaplikasikan minyak pada pantai.

Lalu, biarkan larutan bekerja untuk menghancurkan minyak. Barulah menyikat atau mengelap lantai dengan air bersih.

Itulah cara membersihkan lantai dapur dari minyak yang lengket, kotor, dan licin. Semoga membantu!

(dhw/zlf)



Sumber : www.detik.com

Ini Kelebihan dan Kekurangan Punya Rumah Tingkat


Jakarta

Kebanyakan rumah mempunyai satu atau dua lantai, tergantung pada luas tanah dan kebutuhan pemilik. Rumah tingkat sering kali menjadi pilihan untuk menampung lebih banyak orang, ruang, maupun barang-barang.

Kalau kamu ingin membeli atau membangun rumah tingkat, sebaiknya ketahui dulu apa saja kelebihan dan kekurangannya agar lebih yakin. Berikut ini penjelasan plus minus mempunyai rumah bertingkat, dilansir dari Lofty Building Group, Sabtu (11/5/2024).

Pertimbangan Beli Rumah Tingkat

Kelebihan

1. Maksimalkan Ruang

Rumah tingkat memungkinkan penghuni memaksimalkan ruang yang ada. Jika memiliki lahan yang kecil, kamu bisa menambah ruang secara vertikal, dengan begitu luas hunianmu bisa dua kali lebih besar dari semestinya.


Selain itu, cara ini dapat menyisakan lahan untuk pekarangan, kebun, kolam renang, carport, dan elemen eksterior rumah lainnya.

2. Privasi & Mengurangi Bising

Memiliki rumah tingkat berarti penghuni rumah mendapat lebih banyak privasi. Sebab, ruang di rumah satu lantai yang lebih kecil, sehingga ruang gerak penghuni terbatas.

Area komunal dengan area kamar tidur bisa dipisah berdasarkan lantai. Misalkan lantai satu untuk ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dan dapur. Sementara lantai dua dikhususkan untuk kamar tidur.

Lebih lanjut, rumah tingkat memungkinkan ruang hidup bisa lebih tersebar, sehingga memberikan lebih banyak privasi. Ruang hidup yang tersebar di beberapa lantai dapat membantu mengurangi kebisingan.

3. Pemandangan

Tentunya rumah tingkat menghadirkan pemandangan yang lebih luas di lantai atas. Kamu bisa menikmati pemandangan indah tanpa terhalang rumah atau pohon.

Tambahkan balkon dan jendela untuk menikmati pemandangan yang luas dan jauh di lantai atas. Kamu bisa mendapat cahaya lebih dengan menambahkan jendela, sehingga membantu hemat listrik.

Kekurangan

1. Risiko Keamanan

Meski rumah tingkat tampak estetik dan menawan, ada risiko keamanan yang bisa mengancam penghuni rumah, terutama anak-anak dan lansia. Penghuni rumah bisa tak sengaja terjatuh dari jendela, balkon, dan tangga.

Oleh karena itu, penghuni harus lebih berhati-hati ketika bergerak, mengawasi satu sama lain, serta memasang pengaman untuk jaga-jaga.

2. Fleksibilitas Desain

Jika membangun rumah tingkat, kamu perlu memikirkan keselarasan desain lantai atas dan bawah. Kemudian, memastikan menyisikan ruang yang cukup buat area tangga. Dengan pertimbangan itu, fleksibilitas desain menjadi terbatas.

3. Perawatan

Memiliki lebih banyak ruang di rumah tingkat berarti menambah beban pekerjaan dan biaya untuk merawat rumah. Kalau kamu punya rumah dua lantai, berarti kamu harus membersihkan dua kali lebih banyak lantai, jendela, dan kamar.

Belum lagi ada tambahan area tangga pula. Nah, kalau tidak ingin capek bersih-bersih rumah besar, mungkin rumah satu lantai lebih cocok buat kamu.

Itulah plus minus punya rumah tingkat yang perlu kamu pertimbangkan. Semoga bermanfaat!

(dhw/abr)



Sumber : www.detik.com

Catat! Ini 4 Alasan Lantai Marmer Lebih Mahal dari Ubin Biasa


Jakarta

Lantai marmer adalah salah satu jenis ubin yang harganya cukup mahal. Namun, di balik itu, lantai marmer menawarkan nilai tersendiri pada rumah yaituisa membuat tampilan rumah menarik, menaikkan harga rumah, hingga mudah dipasang.

Melansir dari The Spruce, marmer adalah batu alam yang sering diolah menjadi bahan bangunan di rumah seperti lantai, alas meja, dinding, hingga hiasan furniture lainnya. Marmer berasal dari batuan metamorf yang terbentuk ketika batu sedimen, seperti batu kapur, diubah di bawah panas dan tekanan menjadi batu yang lebih keras dengan warna yang indah dan pola berurat.

Marmer kerap disamakan dengan granit, padahal keduanya berbeda. Granit adalah batuan beku yang berasal dari magma vulkanik, bukan batuan sedimen berlapis. Granit biasanya memiliki pola warna berkerikil atau berbintik, sedangkan marmer biasanya memiliki pola urat bergelombang.


Sebagai bahan yang terbuat dari bahan alami, tidak heran jika harganya lebih mahal dari jenis penutup lantai lainnya. Berikut beberapa alasan lantai marmer lebih mahal dari ubin biasa menurut The Spruce yang dikutip pada Rabu (12/6/2024).

1. Desain yang Berbeda Tiap Produk

Marmer adalah salah satu bahan yang terbuat dari batuan alam. Memakai bahan yang alami membuat desainnya tidak ada yang sama dari satu produk dengan lainnya. Oleh karena itu, penggunaan lantai marmer bisa membuat harga rumah lebih tinggi dibanding rumah dengan keramik biasa.

2. Membuat Rumah Sejuk

Marmer adalah konduktor panas yang baik. Jenis penutup lantai satu ini bisa menyerap panas dengan baik sehingga saat diinjak tidak akan terasa panas meskipun diletakkan di luar ruangan. Namun, saat udara dingin, marmer bisa terasa lebih dingin dari biasanya.

3. Menaikkan Harga Rumah

Modal untuk memakai lantai marmer yang mahal secara tidak langsung mempengaruhi harga rumah saat dijual kembali. Namun, ini tergantung pada lokasi rumah dan syarat lainnya saat hunian hendak dijual.

4. Memberikan Efek Kaca

Kebanyakan lantai di Indonesia tampilannya berkilau seperti memasang kaca. Efek kaca pada lantai juga bisa membuat tampilan rumah elegan dan terkesan bersih. Lantai marmer bisa memberikan efek tersebut, bahkan yang warnanya gelap sekalipun.

(aqi/zlf)



Sumber : www.detik.com

Penyebab Lantai Keramik Terangkat dan Pecah serta Cara Cegahnya


Jakarta

Lantai keramik sewaktu-waktu bisa terangkat atau bahkan meledak karena berbagai pemicu. Jangan biarkan hal ini terjadi karena bisa berbahaya kalau penghuni rumah terkena bagian tajam keramik.

Tak hanya berbahaya, lantai keramik yang rusak seperti ini perlu segera diperbaiki. Jadi menambah pekerjaan rumah, bukan?

Keramik yang terangkat atau meledak ini ternyata disebut popping, lho. Lalu, apa yang bikin lantai keramik bisa terangkat, bahkan meledak hingga pecah?


Mengutip dari Instagram resmi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) @kemenpupr, Kamis (13/6/2024), berikut ini penyebab lantai keramik dan meledak serta cara mengatasinya.

Penyebab Lantai Terangkat & Pecah

1. Ada Udara yang Masuk

Salah satu penyebab lantai keramik terangkat atau meledak adalah adanya udara yang masuk ke bagian bawah keramik. Udara yang panas bisa membuat nat keramik memuai, sehingga nat keramik mengalami keretakan yang menimbulkan celah atau rongga yang menjadi jalur masuknya udara ke bawah keramik.

2. Banjir

Banjir bisa membuat nat keramik terkikis, sehingga menimbulkan celah untuk udara masuk.

Cara Cegah Lantai Terangkat & Pecah

1. Pasang Keramik dengan Baik dan Benar

Ya, memasang keramik dengan baik dan benar menggunakan adukan mortar yang tepat bisa meminimalisir lantai terangkat. Selain itu, gunakan perekat khusus keramik yang sifatnya lebih kuat dibandingkan semen biasa.

2. Cek Nat Keramik secara Berkala

Mengecek nat keramik secara berkala perlu dilakukan. Lalu, jika ditemukan celah atau rongga segera tutup nat keramik dengan baik dan benar.

3. Perkirakan Potensi Banjir

Jangan lupa untuk memperkirakan potensi banjir pada hunian. Jika hunian rawan banjir, segera tinggikan lantai rumah.

Itulah penyebab sekaligus tips untuk mencegah keramik lantai terangkat hingga meledak. Semoga bermanfaat!

(dhw/dhw)



Sumber : www.detik.com