Tag Archives: lapak

Surga Kuliner Murah dan Pesta UMKM



Depok

Lebaran Depok bukan cuma soal tradisi tetapi juga surga kuliner murah meriah yang ditunggu warga tiap tahun. Ratusan UMKM tumpah ruah di Alun-alun Timur GDC, jadi motor penggerak ekonomi lokal dalam satu festival rakyat yang penuh cita rasa.

Berbagai macam UMKM ditawarkan, mulai dari jajanan, makanan berat, minuman sampai fesyen. Yang paling menonjol adalah yang Betawi banget, di antaranya dodol dan kerak telor.

Ya, Lebaran Depok memang menjadi arena untuk melestarikan kekhasan Betawi Depok.


Wali Kota Supian Suri di Lebaran Depok 2025Wali Kota Supian Suri di Lebaran Depok 2025 (Rifkianto Nugroho)

Wali Kota Supian Suri mengatakan bahwa pemkot telah melakukan pendataan pada perajin atau orang-orang yang masih melestarikan makanan khas Depok, termasuk dodol Betawi. Ia mengaku telah memberikan support kepada mereka dalam sisi pemasaran.

“Juga, kita akan men-support orang-orang yang selama ini belum perhatian terhadap ini untuk juga perhatian terhadap makanan-makanan yang memang menjadi kekhasan kita,” kata Supian pada Kamis (15/5).

Dodol adalah produk yang memiliki biaya produksi mahal tapi tidak mudah dipasarkan, katanya.

“Makanya kita pemerintah harus hadir di sana dan insya Allah mudah-mudahan dengan kehadiran kita pemerintah mendorong UMKM bisa tumbuh sehingga kita bisa dua hal kita dapatkan,” ujar dia.

Menyinggung programnya, UMKM Naik Kelas, Supian akan memberikan support sesuai kebutuhan UMKM, seperti pemasarann, packaging, atau di perizinannya.

“Ini yang kita coba dorong untuk kita bisa, prinsipnya event-event seperti ini menjadi ajang mereka menunjukkan produksi-produksinya,” kata dia.

Sebagai putra Betawi Depok, Supian menunjukkan kebolehannya untuk mengaduk dodol dalam wajan kayu besar di dalam booth UMKM Haji Satibi. Dia mengatakan bahwa pekerjaan itu memang butuh keahlian khusus.

Wali Kota Depok Supian Suri di Lebaran Depok 2025Wali Kota Depok Supian Suri di Lebaran Depok 2025 (Rifkianto Nugroho)

Haji Satibi mengaku sangat senang dengan kunjungan wali kota. Ia tak pernah ketinggalan untuk muncul tiap tahun di Lebaran Depok.

“Omzetnya terbilang bagus, ngangkat budaya lokal,” kata pria berusia 53 tahun itu.

Dodol yang paling laris adalah rasa original dan wijen. Yang kecil dibandrol dengan harga Rp 20 ribu, dan besar Rp 35 ribu. Biasanya, dagangannya laku keras di hari terakhir. Digelar Sabtu, pengunjung ramai dari pagi hingga malam.

“Tahun kemarin tembus 35 juta di satu titik,” kata dia.

Haji Satibi menambahkan informasi bahwa dia membuka lebih dari satu booth di Lebaran Depok itu.

Yang suka ngemil, mungkin bisa mampir ke Dimsun Kuy milik Ibu Deva (25). Meski dalam keadaan mengandung, ia tetap melayani pembeli dengan sumringah.

Lebaran Depok 2025Lebaran Depok 2025 (Rifkianto Nugroho)

“Tiap tahun ikut, sama kaya tahun kemarin ramenya di weekend,” kata dia.

Dimsum seharga Rp 20 ribu itu ramai peminat saat cuaca bersahabat. Tapi di kala hujan, Deva mengaku sangat sedih karena sepi.

“Kalau weekend biasanya sampai tembuh di atas Rp 1 juta,” katanya.

Jajanan seperti bakso goreng, crab, yakitori, pizza, tumpah ruah di sana. Tak perlu takut kehabisan, ada sekitar 250 UMKM yang berjualan di sana dengan harga yang dijamin murah meriah. Apalagi makanan-makanan berkuah panas seperti soto, bakso, dan mie kocok.

Lebaran Depok 2025Lebaran Depok 2025 (Rifkianto Nugroho)

Mie Kocok Geulis berada di booth bagian depan, dekat jembatan. Ibu Fitri, yang menjaga lapak, mengaku bahwa pagi adalah waktu yang paling ramai selain weekend.

“Kalau ramai tembuslah Rp 2 juta,” jawabnya sambil menyiapkan semangkuk mie kocok khas Sukabumi yang menggugah selera di saat hujan.

Dengan harga Rp 25 ribu, pengunjung sudah bisa menikmati kuah panas gurih dengan campuran mie, tulang rangu, bakso dan sayuran. Meja makannya pun disediakan di dalam booth, jadi jangan khawatir soal panas atau hujan.

Ibu Fitri datang dengan anak dan cucu-cucunya. Cucunya yang bernama Aril (2), tampak gembira memegang balon dengan lampu LED. Meski belum lancar berbicara, ia menggut-manggut senang saat ditanya tentang perasaanya bermain di sana.

“Sering ke sini bawa cucu kalo weekend, senang dengan acara ini,” kata dia.

(bnl/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Panduan ke Pasar Lama Tangerang, Surganya Jajanan dan Kuliner Malam


Jakarta

Pencinta kuliner mungkin sudah tidak asing lagi dengan Pasar Lama Tangerang, bukan? Ya, kawasan satu ini sangat terkenal dengan deretan kios dan gerobak makanan serta minumannya yang beragam.

Kawasan kuliner malam ini juga sampai viral dan ramai dikunjungi wisatawan dari mana saja. Mereka berbondong-bondong datang karena penasaran ingin mencicipi berbagai makanan yang ditawarkan di sini.

Kalau traveler juga salah satu yang penasaran dengan Pasar Lama Tangerang, simak panduan di bawah ini sebelum kamu pergi ke sana.


Macam-macam Kuliner Pasar Lama Tangerang

Pasar Lama Tangerang populer karena bermacam-macam kuliner nikmat bisa kamu temukan di sana. Mulai dari makanan tradisional hingga kekinian, juga hidangan lokal sampai internasional semuanya ada.

Sejumlah makanan viral yang dapat kamu cicipi di sana seperti jagung goreng, gohyong ayam, potato twist, Korean fish cake, som tam, mango sticky rice, Japanese fluffy cake, dan dakkochi.

Makanan manis yang bisa dijajal meliputi churros, mochi daifuku, sampai mille crepes. Jajanan pentol jumbo, sate gurita, cumi bakar, telur gulung, lumpia basah, zuppa soup, dimsum mentai, takoyaki, hingga sushi juga dapat dicoba di sini.

Kawasan Pasar Lama merupakan salah satu alternatif wisata kuliner yang bisa detikers kunjungi setiap harinya.Kuliner di Pasar Lama Tangerang. (Grandyos Zafna/detikcom)

Hidangan tradisional yang dapat ditemukan meliputi kerak telor, serabi, kinca durian, pempek dan tekwan, jamu herbal. Selain jajanan, ada pula makanan berat yang dapat disantap untuk mengenyangkan perut seperti rawon sawi, mi ayam jamur, ayam goreng cabai hijau, ayam taliwang, hingga pizza.

Menariknya, bisa ditemukan juga hidangan ekstrem dari daging ular, biawak, dan kelelawar lho. Daging hewan-hewan tersebut ditawarkan menjadi menu sate, sop, abon, maupun dagingnya yang digoreng.

Untuk harga aneka kuliner di Pasar Lama Tangerang bervariasi dan yang jelas cukup terjangkau. Sejumlah tenant makanan di sana sudah menyiapkan QR code untuk metode pembayaran QRIS. Akan tetapi, sebaiknya tetap siapkan sejumlah uang tunai ya.

Kalau belum menarik uang, tenang saja karena terdapat ATM di sekitar kawasan kuliner ini.

Pasar Lama Tangerang terletak di Jalan Kisamaun, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang. Lokasinya dekat dengan Stasiun Tangerang dan Masjid Agung Al-Ittihad.

Kawasan kuliner ini dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun umum seperti KRL dan transportasi online. Mengutip catatan detikcom, pengguna KRL bisa turun di Stasiun Tangerang dan berjalan kaki ke lokasi sekitar 5-10 menit. Keluar stasiun bisa ambil arah timur sampai Masjid Agung dan belok kiri lalu lanjut jalan lagi sebentar.

Kalau menggunakan kendaraan pribadi harap memperhatikan tempat parkirnya. Jika salah pilih area parkir, mobil atau motormu dapat terjebak sehingga tidak bisa keluar lantaran tertutup deretan lapak pedagang. Ada baiknya tidak parkir kendaraan tepat di Pasar Lama Tangerang, melainkan di sekitarnya seperti di Jl. Bakti Saham, Jl. Saham, atau area Masjid Agung.

Waktu Operasional Pasar Lama Tangerang

Karena tempatnya kuliner malam, traveler dapat mengunjungi Pasar Lama Tangerang mulai jam 16.00 WIB hingga larut malam. Sebaiknya datang ke sana sejak sore hari lantaran kawasan ini semakin malam kian dipadati pengunjung.

Selain itu, kamu yang berniat mencoba berbagai jajanan lezat perlu datang duluan agar tidak kehabisan maupun mengantre terlalu panjang.

Sejumlah warga mencari hidangan untuk berbuka puasa di kawasan Pasar Lama, Kota Tangerang, Selasa (12/3/2024). Kawasan Pasar Lama bisa menjadi alternatif bagi masyarakat untuk mencari hidangan berbuka puasa.Kuliner di Pasar Lama Tangerang. (Grandyos Zafna/detikcom)

Tips Berkunjung ke Pasar Lama Tangerang

Sebelum datang ke kawasan kuliner Pasar Lama Tangerang, kamu dapat menyimak sederet tips berikut:

  • Siapkan uang tunai untuk membeli jajanan di kios yang tidak menyediakan pembayaran online
  • Naik KRL sebagai opsi transportasi umum untuk berkunjung ke Pasar Lama Tangerang
  • Parkirkan kendaraan di sekitar Pasar Lama Tangerang agar tidak terjebak saat keluar
  • Datang di sore hari agar tidak antre panjang dan kehabisan kuliner yang ingin dicicipi
  • Kenakan pakaian yang nyaman
  • Perhatikan barang berharga yang dibawa dikarenakan ramainya pengunjung
  • Bawa payung agar dapat berlindung saat hujan tiba-tiba datang.

Nah, itu tadi panduan mendatangi Pasar Lama Tangerang untuk kulineran malam. Jadi, kamu pencinta kuliner tertarik nggak mengunjungi kawasan satu ini?

(azn/row)



Sumber : travel.detik.com

Panduan ke Pasar Barang Bekas Jatinegara, Cari Apa Aja Ada


Jakarta

Pasar barang bekas Jatinegara lebih dikenal dengan sebutan Pasar Jembatan Item. Pasar loak ini adalah surga bagi para pencari barang lawas, mulai dari barang kebutuhan hingga sekadar koleksi.

Jika belum pernah ke sana, simak dulu panduannya sebelum datang ke sana, mulai dari barang apa saja yang dijual, lokasi, cara menuju ke sana, dan jam bukanya. Berikut ulasannya yang dirangkum dari catatan detikcom dan berbagai sumber.

Barang yang Dijual di Pasar Barang Bekas Jatinegara?

Barang bekas tak selalu identik dengan sesuatu yang tak terpakai. Di Jakarta ada beberapa pasar loak yang cukup populer. Berikut dua diantaranya.Di Pasar Jembatan Item Jatinegara dan Kebayoran Lama inilah lumayan sudah tersohor dan sellau jadi pilihan warga Ibu Kota berbelanja. Nggak semua barang bekas itu tak terpakai, ada juga kok barang bekas yang masih memiliki nilai ekonomi.Pasar barang bekas. (Agung Pambudhy/detikcom)

Pasar barang bekas Jatinegara atau Pasar Jembatan Item menyediakan berbagai jenis barang. Sebetulnya tidak hanya barang bekas, banyak barang baru yang dijual di sana.


Berikut ini beberapa macam barang yang bisa ditemukan di pasar barang bekas Jatinegara:

  • Barang elektronik: HP, speaker, earphone, vacuum cleaner
  • Peralatan rumah tangga: kompor gas, ember, alat memasak, jebakan tikus
  • Fashion: sepatu, pakaian, jam tangan, cincin akik
  • Pernak-pernik rumah: lukisan, lampu hias, guci, patung, jam dinding, barang antik
  • Barang koleksi: kaset, buku, uang kuno
  • Otomotif: spare part, jok, ban, aksesoris kendaraan
  • Mainan anak dan sebagainya.

Lokasi dan Jam Buka Pasar Barang Bekas Jatinegara

Barang bekas tak selalu identik dengan sesuatu yang tak terpakai. Di Jakarta ada beberapa pasar loak yang cukup populer. Berikut dua diantaranya.Di Pasar Jembatan Item Jatinegara dan Kebayoran Lama inilah lumayan sudah tersohor dan sellau jadi pilihan warga Ibu Kota berbelanja. Nggak semua barang bekas itu tak terpakai, ada juga kok barang bekas yang masih memiliki nilai ekonomi.Barang-barang unik di Pasar Jatinegara (Agung Pambudhy/detikcom)

Lokasi Pasar barang bekas Jatinegara atau Pasar Jembatan Item adalah di Jalan Bekasi Barat III, Rawa Bunga, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Ada pedagang yang memiliki kios, tetapi ada juga pedagang yang membuka lapak di pinggir jalan.

Jam buka Pasar barang bekas Jatinegara umumnya adalah mulai waktu subuh hingga pukul 17.00 WIB. Namun ada juga pedagang yang membuka lapak 24 jam. Pasar loak ini paling ramai dikunjungi di akhir pekan.

Untuk menuju ke pasar barang bekas Jatinegara, kalian bisa naik kendaraan pribadi maupun transportasi umum seperti kereta rel listrik (KRL) atau TransJakarta.

Naik Kendaraan Pribadi

Jika naik kendaraan pribadi dari arah selatan, traveler bisa melintasi Jalan Condet kemudian Jalan Dewi Sartika, dan Jalan Otto Iskandar Dinata. Kemudian berlanjut ke Jalan Jatinegara Barat, Jalan Jatinegara Barat 2, Jalan Jatinegara Timur, dan Jalan Jatinegara Timur III ke utara hingga ke Jalan Bekasi Barat III.

Jika dari utara, kamu bisa melalui Jalan Gunung Sahari, Jalan Pasar Senen, Jalan Kramat Raya, Jalan Salemba Raya, Jalan Matraman Raya, Jalan Jatinegara Timur, baru kemudian masuk ke Jalan Bekasi Barat III.

Naik Transportasi Umum

Jika naik KRL, traveler bisa turun di Stasiun Jatinegara. Keluar dari stasiun, kamu bisa menyeberang dan berjalan kaki ke arah selatan hingga sekitar 300 meter. Sampai di GOR Guna Bangsa, kamu bisa belok ke barat, ke Jalan Bekasi Barat III.

Jika naik bus TransJakarta dari arah utara, traveler bisa naik Koridor 5D jurusan Ancol-PGC1. Turunlah di Halte Jatinegara RS Premier, kemudian berjalan kaki ke utara sekitar 500 meter atau sekitar 10 menit.

Jika dari arah selatan, traveler bisa naik angkutan umum M06A dan turun di halte Stasiun Jatinegara 4. Atau kamu bisa naik Trans Jakarta Koridor 7 ke arah Kampung Melayu kemudian pindah angkutan umum JAK 42 dan turun di Halte Jatinegara Timur. Selanjutnya, kamu tinggal jalan kaki sekitar 350 meter atau sekitar 7 menit.

Nah, itulah tadi panduan ke pasar barang bekas Jatinegara atau Pasar Jembatan Item, mulai dari barang apa saja yang dijual, lokasi, jam buka, dan cara menuju ke sana.

(bai/row)



Sumber : travel.detik.com

Mitos yang Menyelimuti Jalan Karanggetas, Sentra Pedagang Emas di Cirebon



Cirebon

Jalan Karanggetas dikenal sebagai sentra perdagangan emas di Cirebon. Kawasan ini tenyata diselimuti mitos tersendiri. Bagaimana ceritanya?

Di Kota Cirebon, terdapat sebuah jalan yang penuh dengan cerita dan kepercayaan turun-temurun. Jalan Karanggetas diambil dari dua kata, ‘karang’ yang berarti hutan dan ‘getas’ berarti tumpul atau patah.

Sejak dahulu, jalan ini menjadi penghubung antara Keraton Cirebon dan makam Sunan Gunung Jati. Namun, yang membuatnya istimewa bukan hanya sejarahnya, melainkan mitos yang masih diyakini oleh sebagian masyarakat hingga kini.


Jalan Karanggetas memang memiliki mitosnya tersendiri. Konon, barang siapa yang memiliki kesaktian dan berniat jahat lalu lewat jalan Karanggetas maka kesaktiannya akan mendadak hilang.

Hingga hari ini, mitos tersebut masih dipercaya oleh sebagian masyarakat Cirebon. Bahkan karena mitos tersebut, banyak orang yang mencoba membuka usaha di Jalan Karanggetas karena dianggap tempat aman dari orang yang memiliki niat buruk.

Salah satu usaha yang paling banyak ditemui di Jalan Karanggetas adalah pedagang emas. Salah satu pedagang yang membuka lapak jual beli emas di Jalan Karanggetas adalah Maerah, yang kini berusia 50 tahun.

Sudah puluhan tahun Maerah membuka lapak jual beli emas di depan emperan toko Jalan Karanggetas.

“Saya sudah jualan ada dua puluh tahun jualan emas di sini, dari tahun 2004 sudah buka usaha jual beli emas,” tutur Maerah, belum lama ini.

Bagi, Maerah dipilihnya Jalan Karanggetas sebagai tempat ia melapak bukan tanpa alasan. Selain karena dianggap aman untuk berjualan, menurut Maerah, Jalan Karanggetas juga sudah dikenal sebagai tempat untuk berjualan emas.

“Orang sewilayah tiga Cirebon, memang sudah banyak yang tahu tentang penjual emas di sini memang banyak, baik penjual maupun pembelinya juga kebanyakan orang bener,” tutur Maerah.

Disinggung mengenai mitos tentang Jalan Karanggetas. Maerah sendiri mempercayai mitos tersebut. Tetapi, Maerah mengembalikan kepercayaan mitos tersebut ke setiap orang masing-masing.

“Kalau saya yang orang Cirebon percaya, cuman balik lagi ke setiap orang masing-masing, mau percaya atau tidak. Tapi cerita tentang mitos Jalan Karanggetas memang ada,” tutur Maerah.

Maerah menceritakan, sebelum memberanikan diri membuka lapak jual beli emas, Maerah mempelajari terlebih dahulu tentang seluk beluk dunia emas selama satu tahun penuh. “Belajar dahulu lama sekitar setahun sama temen, ikut dulu sama temen sampai paham terus teliti, kalau emas tuh nggak bisa sembarangan jual-jual saja,” tutur Maerah.

Asal-usul Mitos Jalan Karanggetas

Menurut pegiat sejarah Cirebon, Putra Lingga Pamungkas, mitos Jalan Karanggetas berasal dari kisah Syekh Magelung Sakti, tokoh yang memiliki kesaktian yang tinggi dan rambut yang panjang. Konon, saking saktinya, rambut panjang Syekh Magelung Sakti sampai tidak bisa dipotong.

Hingga suatu hari, Syekh Magelung Sakti membuka sayembara berisi barangsiapa yang berani menandingi kesaktian nya, maka akan ia angkat sebagai gurunya. Tantangan tersebut didengar oleh Sunan Gunung Jati yang kala sedang menyebarkan agama Islam di Cirebon.

Akhirnya, bertemulah Sunan Gunung Jati dan Syekh Magelung Sakti di Jalan yang sekarang bernama Jalan Karanggetas. Di jalan tersebut, oleh Sunan Gunung Jati, rambut Syekh Magelung Sakti dipotong hanya dengan menggunakan dua jari. Oleh Sunan Gunung Jati, rambut tersebut dimakamkan di Karanggetas.

Menurut Lingga, pesan moral yang dapat diambil dari mitos Jalan Karanggetas adalah jangan menjadi orang yang sombong, angkuh dan memiliki niat yang buruk. Karena mitos tersebut berasal dari tokoh antagonis.

“Kisah ini berawal dari tokoh antagonis bernama Syekh Magelung Sakti, tokoh sakti yang angkuh dan sombong ketika itu. Namun, kedigdayaannya berhasil dikalahkan oleh Sunan Gunung Jati,” tutur Lingga.

Banyaknya toko emas di Jalan Karanggetas, menurut Lingga, tidak lepas dari konteks mitos Jalan Karanggetas itu sendiri.

“Kenapa banyak toko emas, karena konteksnya pengusaha yang berjualan di situ berpikir tidak ada penjahat. Ketika ada penjahat yang ingin berbuat jahat maka kejahatannya akan runtuh,” pungkas Lingga.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Jajan Surabi dan Es Goyobod Pake Koin Bambu


Bandung

Pasar tradisional Sunda Jadul menyimpan pesonanya sendiri sebagai pilihan libur akhir pekan bersama keluarga. Pasar tradisional jadul merujuk pada sarana jual beli dengan tata letak, desain lapak, pakaian penjual, dan barang yang diperdagangkan ramah lingkungan serta di area terbuka dekat dengan alam seperti zaman dahulu.

Lokasi Pasar Tradisional Sunda Jadul

Buat detikers yang berada di Jawa Barat atau Jabodetabek area, pasar tradisional Sunda jadul berikut bisa jadi opsi niis (nongrong bahasa Sunda) sambil healing tipis, plus jajan aneka snack di tempat yang adem dan sejuk.

1. Pasar Awi Campernik di Cimahi

Warga membeli makanan di Pasar Awi Campernik, kawasan Eco Wisata Cimenteng, Kota Cimahi, Jawa Barat, Minggu (29/9/2024). Pemda Kota Cimahi menggelar Pasar Awi Campernik yang merupakan pasar tradisional dengan nuansa kebun bambu dalam rangka mengembangkan serta mempromosikan produk UMKM khususnya kuliner dan menciptakan destinasi wisata baru di Kota Cimahi. ANTARA FOTO/Abdan Syakura/agr/aww.Pasar Awi Campernik di Cimahi, Jawa Barat (ANTARA FOTO/Abdan Syakura/agr/aww) Foto: ANTARA FOTO/Abdan Syakura

Jam buka

  • Minggu, 07.00-13.30
  • Pasar hanya buka dua kali dalam satu bulan pada minggu ke-1 dan ke-3

Alamat

  • Jl. Terobosan, Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Jawa Barat.

Pasar ini berada di hutan bambu yang rindang dan teduh dalam kawasan ekowisata Cimahi. Di sini ada aneka jajanan tradisional yang tidak menggunakan bahan pengawet, pewarna kimia berbahaya, dan penguat rasa berlebihan. Misalnya surabi oncom yang gurih dan es goyobod dengan rasa manis kenyal dari agar-agar tepung aci.


Pengunjung bisa masuk area pasar tanpa dipungut biaya alias gratis. Tapi untuk jajan, pengunjung harus menukar uang dengan koin bambu yang disediakan pengelola. Paling kecil adalah 5 pernik (koin bambu) sama dengan Rp 5.000, lalu ada 10 pernik setara Rp 10 ribu dan 20 pernik senilai Rp 20 ribu. Setelah jajan, pengunjung bisa menikmati kuliner sambil duduk santai di hutan bambu.

“Cocok buat healing sambil kulineran. Tempatnya unik banget di tengah hutan bambu yang sejuk dan adem. Nuansa tradisional Sunda-nya kerasa dari mulai tatanan pasar sampe kulinernya. Jangan lupa cek jadwal sebelum ke sini untuk memastikan pasanya buka,” tulis akun google Raditya Fadilah.

2. Pasar Padaringan di Bandung

Pasar Padaringan Sunda di Hutan Bambu Cibiru Bandung.Pasar Padaringan Sunda di Hutan Bambu Cibiru Bandung (Wisma Putra/detikJabar)

Jam buka

  • Minggu, 07.00-12.00
  • Pasar hanya buka dua kali dalam satu bulan pada minggu ke-1 dan ke-3

Alamat

  • Bukit Mbah Garut, Jl. Cilengkrang 1, Cisurupan, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat.

Hutan bambu yang jadi lokasi pasar Sunda jadul Padaringan, bikin pengunjung betah karena rindang dan sejuk. Selain cuci mata dan relaksasi, pengunjung bisa jajan aneka kuliner tradisional yang bebas bahan berbahaya. Kemasan kuliner menggunakan bahan ramah lingkungan dan tentunya disediakan tempat sampah bagi pengunjung.

Detikers yang datang ke sini nggak perlu bayar tiket masuk. Namun wajib menukarkan uang menjadi koin yang digunakan untuk jajan kuliner. Koin 5 senilai Rp 5 ribu, 10 adalah Rp 10 ribu, dan 20 setara Rp 20 ribu. Beberapa jenis kuliner yang tersedia adalah surabi, awug, leupuet, es goyobod, dan bandrek. Harga jajanan bergantung dari kebijakan pengelola dan pedagang yang berasal dari UMKM setempat.

Pasar Sunda jadul Padaringan tak hanya jadi pilihan liburan, tapi juga membawa perbaikan ekonomi masyarakat. Menurut Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Cisurupan Ari Irawan, perputaran uang di pasar tradisional ini bisa mencapai Rp 20 juta.

“Ke depannya, efek pasar ini sangat luar biasa untuk meningkatkan perekonomian dan pengenalan seni budaya. Saya harap seluruh masyarakat Kota Bandung bisa berpartisipasi,” kata Ari.

Dikutip dari medsos dan situs pasar tradisional Sunda jadul Campernik dan Padaringan, jam buka akan ditambah sesuai permintaan pengunjung. Karena itu, detikers yang ingin ke destinasi wisata ini wajib update info lebih dulu ya. Selain itu, pastikan selalu menjaga kebersihan dan tidak membawa pulang koin.

(row/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Pasar Malam Pertamina, Pondok Ranji, Pusat Kuliner Berawal dari Protes Warga


Jakarta

Pasar malam Pertamina di Pondok Ranji menjadi alternatif wisata kuliner yang terjangkau bagi warga sekitar dan mudah diakses. Disebut pasar malam karena hanya tersedia ketika matahari sudah terbenam dan makin ramai seiring gelap yang kian pekat.

Berbeda dengan pasar malam yang menyediakan banyak wahana dan permainan ketangkasan, Pasar Malam Pertamina hanya menyediakan aneka kuliner dengan harga terjangkau. Spot wisata ini tersedia tepat di gerbang Komplek Pertamina Pondok Ranji, sehingga pengunjung yang baru datang bisa mudah menemukannya.

Pasar Malam Pondok Ranji juga berada di pinggir jalan besar, sehingga lalu lintas masih berjalan dengan lancar meski sangat ramai karena banyak pedagang. Detikers yang mau icip-icip kuliner di Pasar Malam Pondok ranji bisa datang mulai sore hari, meski belum banyak tenan yang buka.


Berawal dari Protes Warga

Pasar malam Pertamina di Pondok RanjiPasar malam Pertamina di Pondok Ranji (dok. Qonita Hamidah/detik travel)

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun detik travel, area pasar malam awalnya adalah bazar. Namun bazar bubar karena mendapat penolakan dari wara yang tinggal di dalam kompleks. Beberapa pedagang ada yang berinisiatif membuka kembali dagangannya, namun kembali ditolak warga.

Kendati begitu, pada pedagang perlahan kembali dan mulai kembali berjualan. Para pedagang akhirnya makin banyak hingga menjadi yang kini ditemui. Lokasi ini pun berkembang menjadi pusat kuliner malam yang ramai pengunjung. Mulai dari protes warga kompleks hingga sekarang, Pasar Malam Pondok Ranji telah berusia sekitar 10 tahun.

Variasi Jajanan Lengkap dan Murah

Di sini pengunjung bisa menemukan berbagai jenis kuliner mulai dari camilan hingga makanan berat. Contoh jajanan ringan yang tersedia antara lain dimsum, kebab, telur gulung, papeda, hingga sempol. Sedangkan untuk makanan berat adalah mie ayam, sate, nasi goreng, dan aneka soto.

Umumnya, pedagang di sini mulai membuka lapak sejak pukul 16.00 WIB hingga 24.00 WIB. Pembeli di pasar malam terdiri dari berbagai lapisan masyarakat karena lokasinya yang dekat pemukiman warga dan perkantoran. Tak heran lokasi ini tak pernah sepi pembeli, dengan aneka jajanan baru yang menarik untuk dicoba.

(row/row)



Sumber : travel.detik.com

Nostalgia di Pasar Loak Jatinegara, Panas tapi Seru dan Padat


Jakarta

Setiap barang punya cerita dan valuenya sendiri sehingga tak pernah kehilangan peminat, meski tak lagi bisa memenuhi kebutuhan zaman. Keberadaan barang menjadi nostalgia pada suatu era yang bertahan seiring waktu. Kesan ini terpancar saat menatap barang di Pasar Loak Jatinegara.

Barang-barang lama tertata rapi, seolah membawa detikers kembali ke masa lalu. Ada sepatu kulit tua, kamera analog klasik, mesin ketik dengan salah satu tombol lepas dari keyboard, dan telepon putar yang hanya bisa ditemukan di tempat ini.

Pasar Loak Jatinegara, Jakarta Timur atau Pasar Jembatan ItemPasar Loak Jatinegara, Jakarta Timur atau Pasar Jembatan Item (dok. Qonita Hamidah/detik travel)

Terik matahari langsung menyengat kulit saat memasuki pasar di Jalan Jatinegara Timur ini. Namun saat melihat koleksi tiap lapak di atas meja, terpal, kardus, rasa penasaran memancing detik travel untuk datang mendekat. Pasar ini memang sederhana, namun itulah yang membuatnya istimewa.


Detik travel berkesempatan mengunjungi area yang kerap disebut Pasar Jembatan Item ini pada Jumat (3/10/2025). Pasar ini terlihat sepi di hari kerja, namun sangat berbeda di akhir minggu atau saat liburan. Bahkan, jalan ditutup sementara karena banyaknya pengunjung pasar.

“Biasanya ramai di akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Kadang-kadang Sabtu malam sudah penuh,” kata Fikri, seorang penjual mesin ketik di Pasar Loak.

Barang-barang di pasar ini memang berstatus loak atau bekas, tapi kondisinya masih layak. Secara umum, tampilan barang terlihat bagus meski mungkin tak lagi punya kinerja baik. Barang-barang di Pasar Loak Jatinegara dapat menjadi koleksi atau tambahan properti.

Harga-harga di pasar ini tentunya sangat terjangkau. Detikers bisa mendapatkan koleksi uang jadul seharga Rp 5 ribu, hingga Rp 350 ribu untuk barang antik yang lebih besar. Menurut para pedagang, tiap jenis barang memiliki penggemarnya masing-masing.

“Orang-orang tertarik pada segala macam hal, semuanya dicari,” kata Ade, seorang penjual jam tangan di Pasar Loak.

Ketertarikan inilah yang menjadikan Pasar Loak Jatinegara tak pernah sepi pembeli. Asal bisa sabar mencari, tak segan bertanya pada pedagang, dan melakukan tawar menawar, detikers bisa memperoleh berbagai barang yang diperlukan dengan harga sangat terjangkau.

Jam Buka Pasar Loak Jatinegara

Menurut Fikri, tiap lapak punya jam operasional masing-masing. Fikri biasa buka lapak pada pagi hari, namun ada juga yang memilih mulai beroperasi di waktu sore. Kios tersebut umumnya masih tutup di pagi hari.

Pasar Loak Jatinegara, Jakarta Timur atau Pasar Jembatan ItemPasar Loak Jatinegara, Jakarta Timur atau Pasar Jembatan Item (dok. Qonita Hamidah/detik travel)

Pasar ini sebetulnya bukan 24 jam setiap hari. Namun bagi yang mau menjelajah pasar atau mencari barang tertentu, Fikri menyarankan datang di pagi hari. Jangan lupa bawa payung, topi, masker, dan sunscreen atau sunblock.

Area Pasar Loak Jatinegara tak sekadar jual beli berbagai bentuk barang bekas. Tapi juga memori tertinggal pada barang tertentu. Buat detikers yang ingin datang, selamat menjelajah dan berpetualang.

(row/row)



Sumber : travel.detik.com