Tag Archives: lapangan bola

Percaya Tidak, Lapangan Keren di Garut Ini Dulu Kuburan Belanda



Garut

Di Garut, ada sebuah lapangan bola yang keren dan menawan. Tapi percaya tidak, di zaman dulu, lapangan ini adalah sebuah kuburan Belanda.

Lapangan Kerkhof di Kabupaten Garut, jawa Barat lebih menawan usai diberi sentuhan rumput sintetis impor. Sebelum dikenal sebagai tempat untuk warga olahraga, lapangan ini mempunyai sejarah panjang.

Lapangan Kerkhof rupanya kuburan orang-orang Belanda dan Eropa hingga tahun 1981. Di tahun tersebut, Pemerintah Kabupaten Garut kemudian memindahkan makam-makam tersebut ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Santiong, yang berada di Kecamatan Karangpawitan.


Kemudian, pada masa kepemimpinan Bupati Taufik Hidayat (1983-1988), Pemkab Garut mengubah fungsi Kerkhof dari kuburan Belanda menjadi arena pacuan kuda.

Setelah puluhan tahun berlalu, barulah pada tahun 2003, Bupati Dede Satibi mengubah fungsi lapangan Kerkhof menjadi sarana olahraga, dan mengubah namanya menjadi SOR Merdeka.

Sarana olahraga seluas dua hektar ini berada di Jalan Merdeka, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut. Lokasinya berada dekat dengan SMAN 1 Garut yang ada di sebelah timur, dan bundaran Leuwidaun yang ada di barat.

Meski sudah berubah fungsi dari kuburan menjadi tempat olahraga, tapi lapangan Kerkhof tak pernah kehilangan nilai sejarahnya. Kerkhof masih menjadi saksi bisu, beragam peristiwa sejarah yang terjadi di masa lalu.

Kisah Heroik Yang Chil Sung

Salah satu momen yang terjadi di Lapangan Kerkhof di masa lalu, adalah eksekusi mati terhadap Yang Chil Sung. Pria asal Korea Selatan, yang saat masa setelah kemerdekaan ikut membela rakyat Garut mengusir penjajah Belanda.

Sejarah ini, bermula ketika Yang Chil Sung, alias Yanagawa Shichisei, alias Komarudin, tertangkap oleh Belanda di Gunung Dora, perbatasan Garut-Tasikmalaya pada 25 Oktober 1948.

Saat itu, selain Yang Chil Sung, ada 4 orang lainnya yang tertangkap. Yakni Masahiro Aoki alias Abubakar, Katsuo Hasegawa alias Usman/Oetman, Guk Jae Man alias Soebardjo, dan seorang pribumi bernama Letnan Djoehana.

Guk Jae Man dieksekusi Belanda lebih dulu, karena konon kabarnya mencoba melarikan diri. Tinggallah 4 orang ini, yang diadili oleh Belanda. Letnan Djoehana yang pandai berbahasa Belanda melakukan pembelaan dan akhirnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan militer.

Sedangkan Yang Chil Sung, Aoki dan Hasegawa dijatuhi vonis mati. Vonis mati itu, kemudian dilaksanakan pada bulan Mei 1949.

Media Belanda, de Vrije Pers dalam sebuah artikel yang terbit di tanggal 25 Mei 1949 mengabarkan Yang Chil Sung dkk, dieksekusi mati pada tanggal 22 Mei 1949.

“Dini hari tanggal 22 Mei, hukuman mati dilaksanakan di Garut terhadap Aoki Jepang alias Abubakar, Hasegawa alias Uetman, dan Yanagawa alias Komaroedin. Yang pada saat itu, telah dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Militer Khusus,” bunyi laporan berbahasa Belanda tersebut.

Perdebatan Soal Waktu Eksekusi

Terkait waktu eksekusi mati ini, masih menjadi perdebatan. Sebab, di batu nisan Yang Chil Sung, Aoki dan Hasegawa sendiri, tertera jika mereka meninggal dunia pada 10 Agustus 1949.

Ada juga beberapa laporan media Belanda jadul, yang menyebutkan jika mereka mati pada tanggal 21 Mei 1949. Salah satunya, seperti laporan yang dirilis Indische Courant voor Nederland yang tayang pada 1 Juni 1949.

“Hukuman mati dilakukan di Garut pada 21 Mei. Warga Jepang, Aoki alias Abubakar, Hasegawa alias Oetman, dan Janagawa alias Komaroedin yang pada saat itu divonis mati oleh pengadilan militer khusus di Garut,” ungkap laporan tersebut.

Terlepas dari misteri tanggal dieksekusi mati ketiga pahlawan tersebut, yang jelas, konon kabarnya, eksekusi mati itu dilakukan di lapangan Kerkhof yang sekarang menjadi SOR Merdeka.

Ada beragam kisah menarik, yang mengiringi gugurnya ketiga pahlawan tersebut. Pertama, mereka diketahui menyampaikan ingin dimakamkan secara Islam, setelah dieksekusi mati. Kemudian, mereka juga konon kabarnya minta agar dipakaikan kemeja putih dan sarung merah, saat ditembak mati.

Lapangan rumput sintetis SOR Merdeka Garut yang punya standar FIFALapangan Kerkhof di Garut Foto: Hakim Ghani/detikJabar

Kisah mengenai Yang Chil Sung ini, belakangan banyak diperbincangkan di Garut. Setelah pemerintah mengungkap rencana pembuatan film berjudul Tanah Air Kedua yang akan mengisahkan perjuangan Yang Chil Sung dan kawan-kawan.

Kabarnya, film tersebut sekarang sedang berproses, dan akan dibintangi Maudy Ayunda dan aktor kenamaan Korea Selatan, Kim Bum.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ada Apa di Taman Lapangan Banteng? Ini 6 Aktivitas Seru dan Cara Ke Sana


Jakarta

Jakarta memiliki banyak area terbuka cantik yang cocok untuk tempat rekreasi di akhir pekan, salah satunya Lapangan Banteng. Kawasan ini terkenal dengan Monumen Pembebasan Irian Barat yang menjulang tinggi di tengah dan sangat ikonik.

Taman Lapangan Banteng termasuk landmark strategis di Jakarta. Lokasinya berada tidak jauh dari Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta. Menariknya, berbagai acara kerap digelar di sini sehingga banyak orang yang datang berkunjung.

Selain itu, area Lapangan Banteng menjadi tempat yang pas untuk berolahraga. Terdapat lapangan bola dan jalur lari di sana. Makin penasaran dengan kawasan taman satu ini? Temukan informasi lebih lengkapnya di bawah.


Ada Apa Saja di Taman Lapangan Banteng?

Ada sejumlah spot dan aktivitas seru yang dapat kamu lakukan di Lapangan Banteng, yakni sebagai berikut:

1. Pertunjukan Air Mancur

Jadwal Air Mancur Lapangan BantengWarga menyaksikan pertunjukan air mancur menari di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (18/6/2022). Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kembali menghadirkan pertunjukan air mancur menari setiap akhir pekan dan terbagi dalam tiga sesi, yakni pukul 18.30 WIB, 19.30 WIB dan 20.15 WIB, setelah dua tahun ditiadakan akibat pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.Pertunjukan air mancur di Lapangan Banteng. (Muhammad Adimaja/Antara)

Ini adalah salah satu daya tarik utama dari Taman Lapangan Banteng. Show air mancurnya digelar hari Sabtu dan Minggu saja pada jam 18.30 dan 19.30. Pertunjukannya semakin meriah dengan berhiaskan lampu warna-warni yang menyala indah di malam hari.

2. Berbagai Event Seru

Lapangan Banteng jadi spot langganan berbagai hajatan event. Mulai dari festival makanan, bazar pernak-pernik, pameran tanaman dan satwa, hingga konser. Berbagai acara ini juga yang menarik warga berdatangan ke sana.

Acara di Taman Lapangan Banteng selanjutnya yang akan diadakan yaitu Festival Raya Indonesia yang berlangsung selama 30 Agustus-1 September 2024. Pengunjung akan menemukan bazar makanan, mini zoo & pet show, sampai konser gratis.

3. Area Bermain

Menghabiskan akhir pekan di Lapangan Banteng, Jakarta PusatLapangan Banteng di Jakarta Pusat. (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

Kamu akan menemukan area bermain anak di Taman Lapangan Banteng. Di sini anak-anak bisa bermain papan seluncur, ayunan, hingga jungkat-jungkit. Orang tua pastikan tetap memperhatikan anak-anaknya yang sedang bermain di sana ya.

4. Tempat Olahraga

Taman Lapangan Banteng menjadi spot yang pas untuk berolahraga. Biasanya pengunjung akan jogging, jalan santai, atau berlari dengan mengitari area taman. Tak sedikit juga bermain sepak bola maupun bermain basket di lapangan khusus yang tersedia.

5. Spot Foto

Semenjak revitalisasinya selesai pada 2018 silam, Taman Lapangan Banteng semakin cantik. Hamparan rumput hijaunya dan deretan pepohonannya terlihat asri. Sejumlah tempat duduk juga disebar di beberapa titiknya.

Di satu area terdapat spot payung warna-warni bergantungan yang sekelilingnya ditanam pohon palem. Tempat-tempat tersebut sering kali dijadikan spot foto andalan oleh para pengunjung.

Lapangan Banteng beralamatkan di Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Letaknya dekat dengan Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta. Lokasinya pun tidak terlalu jauh dari Monumen Nasional (Monas), sekitar 2 km saja.

Lapangan Banteng dapat dijangkau menggunakan kendaraan pribadi maupun umum seperti KRL, Transjakarta, MRT, dan transportasi online. Kalau tertarik ke tempat rekreasi ini, simak cara ke Taman Lapangan Banteng dengan berbagai transportasi yang dikutip dari catatan detikcom berikut:

– Cara ke Lapangan Banteng Naik KRL

Untuk menuju Taman Lapangan Banteng menggunakan KRL, traveler dapat turun di Stasiun Juanda. Setelahnya, kamu bisa lanjut berjalan kaki berjarak kurang lebih 750 m dengan waktu tempuh sekitar 10 menit. Bisa juga memesan transportasi online menuju ke sana jika lelah berjalan.

– Cara ke Lapangan Banteng Naik Transjakarta

Pengguna Transjakarta dapat menaiki bus koridor 6H (Senen-Lebak Bulus) atau 1P (Blok M-Senen) untuk menuju ke sini. Nantinya kamu bisa turun di halte Lapangan Banteng 1, 2, 3, atau halte Kantor Pos Lapangan Banteng 3. Lanjut berjalan sebentar sampai ke area Taman Lapangan Banteng.

– Cara ke Lapangan Banteng Naik MRT

Lapangan Banteng juga dapat dijangkau dengan MRT. Nantinya traveler bisa turun di Stasiun Bundaran HI. Lanjut menaiki transportasi online berjarak sekitar 5 km dengan waktu tempuh kisaran 13 menit saja.

Menghabiskan akhir pekan di Lapangan Banteng, Jakarta PusatLapangan Banteng di Jakarta Pusat. (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

Fasilitas Taman Lapangan Banteng

Fasilitas umum yang tersedia di Lapangan Banteng sudah cukup lengkap. Terdapat mushola, toilet, pos keamanan, sentra UMKM, amfiteater, serta area bermain anak. Hamparan rumput hijau di bawah pohonnya cocok juga jadi spot piknik.

Kamu juga tidak perlu khawatir kelaparan karena di sekeliling kawasan taman ini berjejer banyak pilihan kuliner yang siap mengganjal perut keroncongan.

Nah, itu tadi informasi seputar Taman Lapangan Banteng di Jakarta Pusat. Jadi, traveler tertarik berekreasi di sana nggak nih?

(azn/row)



Sumber : travel.detik.com