Tag Archives: lasem

Lokasi Kota Batik di Indonesia, Salah Satunya Pekalongan


Jakarta

Batik merupakan salah satu warisan budaya yang sangat berharga bagi Indonesia. Pada tahun 2009, batik diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO.

Ada beberapa kota di Indonesia yang dijuluki sebagai “Kota Batik”, bahkan salah satunya dinobatkan sebagai Kota Batik Dunia oleh Dewan Kerajinan Dunia. Kota apakah itu?

Kota Batik Indonesia

Kota-kota yang dijuluki sebagai “Kota Batik” di antaranya Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta. Berikut informasi lengkapnya.


1. Pekalongan

Kota pertama yang dijuluki kota Batik adalah Pekalongan. Mengutip laman Pemkot Pekalongan, hal ini tak terlepas dari sejarah bahwa dari puluhan dan ratusan tahun lampau sampai sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah.

Hal ini membuat batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat setempat. Menariknya Pekalongan mempunyai sejumlah kampung batik yang eksis dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah Kampung Batik Kauman yang legendaris.

Kampung Batik Kauman disinyalir menjadi kampung pertama yang ada di kawasan Pekalongan. Di sini masih ada rumah-rumah kuno dan masjid jami yang didirikan pada tahun 1952.

Mengutip laman resminya, Kampung Batik Kauman dikenal sebagai industri batik yang menghasilkan batik tulis, batik cap, dan kombinasi keduanya. Ada belasan pranggok (tempat memproduksi batik) ini yang menghasilkan corak, model, dan motif beragam.

2. Solo

Batik juga menjadi salah satu sektor industri penting dari hasil manifestasi seni dan budaya di kota Solo. Menurut laman Pemkot Surakarta, dilihat dari perkembangannya, batik Solo dan Yogyakara merupakan cikal bakal lahir dan berkembangnya batik di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya.

Sama seperti Pekalongan, Solo memiliki berbagai kawasan yang menjadi tempat produksi kain khas Indonesia ini. Berikut di antaranya:

Kampung Batik Kauman yang ada di Solo ini ditetapkan sebagai Kampung Wisata Batik dan sentra batik tertua di Kota Solo. Tak hanya sebagai sentra industri batik, namun Kampung Batik Kauman juga menjadi destinasi wisata edukasi.

Kampung batik ini menjadi tempat pelatihan, pembuatan, penelitian, dan pengembangan batik. Jadi, wisatawan dapat melihat proses pembuatan batik dari nol hingga menjadi produk jual.

Kampung batik tertua kedua di Solo adalah Kampung Batik Laweyan. Berdiri selama 500 tahun, Kampung Batik Laweyan memiliki 250 macam motif khas Laweyan.

Sama seperti Kampung Batik Kauman, Kampung Batik Laweyan menjadi destinasi wisata. Ada fasilitas untuk wisatawan mulai dari penginapan, restoran, pusat pelatihan budaya Jawa, Laweyan Batik Training Center, masjid, dan kuliner khas Solo.

3. Yogyakarta

Dewan Kerajinan Dunia (World Craft Council) menetapkan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia pada 18 Oktober 2014. Menurut laman Universitas Gadjah Mada, sebelum penetapan tersebut, tim penilai dari Dewan Kerajinan Dunia datang ke Yogyakarta untuk melihat dan menilai perkembangan batik yang ada.

Hasilnya, Yogyakarta memenuhi tujuh kriteria untuk ditetapkan sebagai kota batik dunia, yaitu nilai sejarah, nilai keaslian, nilai pelestarian, nilai ekonomi, nilai ramah lingkungan, nilai global, nilai keberlanjutan. Wisatawan juga bisa menemukan kampung batik di Yogyakarta. Salah satunya adalah Kampung Batik Giriloyo.

Giriloyo merupakan sentra dari pengrajin batik di Yogyakarta. Mengutip laman Batik Giriloyo, di desa ini, wisatawan bisa berburu batik atau belajar tentang proses membuat batik langsung dari pengrajinnya.

Tak hanya itu, wisatawan juga bisa memanjakan lidah dengan menikmati kuliner khas daerah ini. Mulai dari pecel kembang turi hingga rempeyek super gede.

Selain tiga kota yang dijuluki “Kota Batik” tersebut, ada juga beberapa daerah yang juga terkenal dengan produksi batiknya. Mulai dari CIrebon yang memiliki Sentra Batik Trusmi, Semarang yang mempunyai Kampung Batik Semarang, Sragen dengan Kampung Batik Girli Kliwonannya, hingga daerah Lasem, Rembang yang punya Sentra Batik Lasem.

Itulah sejumlah kota batik di Indonesia di mana kamu bisa membeli batik dan melihat bagaimana proses pembuatannya. Tertarik untuk mengunjungi salah satu kota batik ini?

(elk/row)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Penampakan Makam Han Siong Kong di Lasem yang Bikin Marga Han Dikutuk



Lasem

Orang-orang bermarga Han dikutuk di Lasem. Semua itu gara-gara Han Siong Kong yang makamnya masih ada sampai sekarang dan bisa dikunjungi wisatawan.

Kutukan untuk orang-orang bermarga Han itu adalah mereka dilarang untuk menginjakkan kaki di Lasem. Jika melanggar, mereka dipercaya akan hidup sengsara dan jatuh miskin.

Kutukan itu diberikan oleh Han Siong Kong kepada anak-anaknya dan keturunan mereka. Cerita bermula ketika keluarga Han Siong Kong datang dan tinggal di Lasem dari Tian Bao (Fujian), China pada era tahun 1700-an.


Atas usaha dagangnya yang sukses besar, Han Siong Kong pun berhasil mengumpulkan pundi-pundi kekayaan. Namun, kesuksesan itu malah dimanfaatkan oleh anak-anaknya.

Mereka disebut suka menghambur-hamburkan harta milik sang ayah. Mereka hobi berfoya-foya dan doyan bermain judi.

Jenazah Sang Ayah Ditelantarkan Anaknya

Ketika Han Siong Kong meninggal, anak-anaknya pun ikut menandu jenazah sang ayah untuk dibawa menuju ke tempat peristirahatan terakhir di Desa Babagan, Lasem.

Setibanya di area makam, tiba-tiba hujan lebat datang mengguyur. Anak-anak Han Siong Kong yang semula menandu jenazah bapaknya, malah pergi meninggalkan begitu saja jenazah itu.

Setelah hujan reda, anak-anak Han Siong Kong kembali ke lokasi dimana mereka meninggalkan jenazah sang ayah. Betapa kagetnya mereka ketika mengetahui jenazah sang ayah sudah menghilang dan berganti jadi gundukan makam.

“Tiba-tiba petir muncul dan terdengarlah kutukan, bahwa keturunan Han tidak boleh tinggal di Lasem. Apabila melanggar akan jatuh miskin,” ujar Agni Malagina, peneliti Sejarah Cina di Lasem.

Makam Han Siong Kong Masih Ada dan Bisa Dikunjungi

Makam Han Siong Kong hingga kini ternyata masih dapat dijumpai wisatawan. Lokasinya berada di Desa Babagan, Kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Makam itu terletak berdekatan dengan permukiman warga dan area tegalan. Jarak antara lokasi pohon tempat jenazah Han Siong Kong ditelantarkan anaknya, dengan lokasi makamnya terbilang cukup jauh, sekitar 300-an meter.

Makam Han Wee Sing atau Han Siong Kong di Desa Babagan, Lasem, Rembang, Rabu (29/5/2024).Makam Han Wee Sing atau Han Siong Kong di Desa Babagan, Lasem, Rembang. Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng

Ada papan nama penunjuk lokasi makam. Di papan penunjuk lokasi tertulis ‘Makam Keramat Han Wee Sing (Nama lain Han Siong Kong) di Desa Babagan’.

Di lokasi makam Han Siong Kong, suasana sepi begitu terasa. Makam itu dikelilingi tanaman semak-semak sebagai pagar pembatas.

Di lokasi itu hanya ada dua makam. Dua-duanya berciri khas makam Tionghoa. Material bangunannya memakai tembok, dicat berwarna putih.

Satu makam ukurannya cenderung lebih besar dan makam yang satunya lagi berukuran lebih kecil. Kedua makam itu ada bongpainya atau batu nisan China. Masing-masing bongpai itu memakai tulisan aksara China.

Ketua Pokdarwis Desa Babagan, yang sekaligus Pemerhati Budaya dan Sejarah di Lasem mengatakan, makam keramat Han Wee Sing di desanya itu adalah makamnya Han Siong Kong.

“Ya makamnya di situ (Desa Babagan). Ada papan petunjuk, ‘Makam Keramat Han Wee Sing di Desa Babagan’. Itu Makamnya Han Siong Kong. Dia dikenal juga dengan nama Han Wee Sing atau Han Siong Kong. Yang besar itu makamnya Han Siong Kong, kalau kecil itu Dewa Bumi. Orang Tionghoa kalau mau nyekar harus nyembayangi dulu Dewa Bumi. Ibarat orang Jawa kalau mau kirim doa orang tuanya, harus nyebut Nabi Muhammad dulu,” tutur Agik.

——

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Makam Misterius di Jalur Pantura Lasem, Konon Milik Intel Zaman VOC



Lasem

Jalur Pantai Utara (Pantura) Lasem menyimpan makam yang sederhana namun misterius. Konon, makam itu milik ‘agen rahasia’ pada zaman VOC.

Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Jalur Pantura yang membelah wilayah Lasem di kabupaten Rembang, Jawa Tengah tersembunyi sebuah makam sederhana penuh misteri.

Terletak tidak jauh dari badan jalan. Tepat di sebelah utara Jalur Pantura masuk Dukuh Caruban, Desa Gedongmulyo, Lasem. Tak jauh dengan lokasi Sungai Kiringan atau Kairingan, atau sebelah timurnya, makam ini dikenal masyarakat sebagai makam Mbah Galio atau Mbah Sedandang.


Tidak sedikit yang percaya, ia bukan orang biasa, melainkan seorang inteligen sekaligus pengawal setia Raden Panji Margono, tokoh perlawanan terhadap VOC Belanda dalam Perang Kuning di Lasem.

Sepintas melihat, makam ini nyaris tidak mencolok. Diteduhi pohon tua dan dilindungi cungkup kayu yang sangat sederhana. Keberadaannya seolah terlupakan oleh modernitas. Namun, bagi sebagian masyarakat Lasem, makam ini adalah saksi bisu perjuangan heroik di masa lampau.

“Nama Mbah Galio memang tidak muncul dalam buku-buku sejarah resmi, tapi dalam penuturan masyarakat tua, beliau adalah orang kepercayaan Raden Panji Margono. Perannya cukup penting dalam Perang Kuning melawan VOC yang terjadi sekitar abad ke-18,” ujar Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Forkmas) Lasem, Ernantoro, Minggu (4/5/2025).

Menurut Ernantoro, Mbah Galio bukan sekadar pengawal. Ia disebut-sebut sebagai mata-mata ulung, sebagai seorang intelijen pemberi informasi dalam mengatur strategi perang.

Makam misterius di Pantura Lasem, Rembang, Minggu (4/5/2025). Konon makamnya Mbah Galio (Mbah Sedandang) pengawal Raden Panji Margono, tokoh pemimpin Perang Kuning.Makam misterius di Jalur Pantura Lasem Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng

Ia mampu menyamar dengan sangat baik, bahkan hingga dianggap orang biasa oleh masyarakat umum. Karena kesederhanaan dan kemisteriusannya, ia dijuluki Mbah Sedandang, sosok yang selalu membawa dandang (panci tradisional untuk mengukus) dan berpakaian seperti rakyat jelata.

“Konon, beliau sering muncul tiba-tiba di tempat berbeda. Ini yang membuatnya dijuluki sebagai intelijen. Dia suka nyamar dengan memikuk dandang tiap ke mana-mana. Namun, hingga kini, keberadaan dan identitas aslinya tetap menjadi teka-teki,” tambah Ernantoro.

Perang Kuning sendiri merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah perlawanan lokal Lasem terhadap kolonialisme Belanda.

Dipimpin oleh Raden Panji Margono, perang ini melibatkan jaringan perlawanan rakyat yang tersebar hingga ke pelosok desa. Banyak tokoh penting yang gugur, dan sebagian jejaknya terkubur oleh waktu, salah satunya adalah Mbah Galio.

Meski tidak tercatat dalam arsip resmi kolonial, makam Mbah Galio tetap dihormati oleh warga sekitar. “Tempat ini sering dianggap angker, tapi sebenarnya tidak,” ungkap Ernantoro.

Forkmas Lasem kini tengah mengusulkan agar situs makam Mbah Galio dijadikan cagar budaya lokal, sebagai upaya pelestarian sejarah lisan yang masih hidup di tengah masyarakat.

“Sejarah tidak selalu harus tertulis. Selama masih hidup dalam ingatan kolektif, ia layak dihormati dan dilestarikan,” pungkasnya.

Di tengah lalu lintas kendaraan berat dan debu jalanan Pantura, makam Mbah Galio berdiri diam, menyimpan cerita tentang keberanian, pengabdian, dan misteri yang belum terpecahkan.

——-

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com