Tag Archives: lawang sewu

Mengenal Bangunan Bersejarah Lawang Sewu di Semarang, Apa Benar Punya 1.000 Pintu?


Jakarta

Lawang Sewu merupakan salah satu gedung bersejarah yang cukup terkenal di Indonesia. Berdiri di Kota Semarang, Jawa Tengah, Lawang Sewu merupakan bangunan sejarah yang dibangun pada masa kolonial Belanda.

Dalam bahasa Jawa, kata ‘lawang’ artinya pintu. Sementara itu, kata ‘sewu’ bermakna seribu. Namun, apakah benar Lawang Sewu memiliki seribu pintu?

Jumlah Pintu di Lawang Sewu Ternyata Kurang dari Seribu

Melansir situs resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Senin (12/2/2024), Lawang Sewu ternyata tidak memiliki seribu pintu. Jumlah asli pintu yang dimiliki oleh bangunan ini adalah 928 pintu. Artinya, bangunan ini kurang memiliki 72 pintu jika harus disesuaikan dengan namanya.


Namun, pada dasarnya, ‘sewu’ ternyata juga merupakan kata yang mewakili angka yang banyak pada zaman dahulu. Selain itu, dilansir dari situs Center of Excellence Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (12/2/2024), Lawang Sewu juga memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar sehingga masyarakat setempat sering menganggapnya sebagai pintu.

Sejarah Lawang Sewu

Berdiri di atas lahan seluas 18.232 meter persegi, Lawang Sewu mulanya merupakan kantor administrasi kereta api Belanda yang bernama Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Bangunan ini berlokasi di jantung kota, tepatnya di Jalan Pemuda No. 160, Sekayu, Semarang, Jawa Tengah.

Lawang Sewu dibangun pada masa kolonial Belanda tahun 1900-an. Setelah masa kolonial Belanda berakhir, Lawang Sewu diambil alih oleh Jepang sebagai markas tentara dan kantor transportasi bernama Riyuku Sokyoku tahun 1942.

Bangunan ini menjadi saksi bisu peristiwa pertempuran lima hari pada tanggal 15-19 Oktober 1945. Pertempuran ini terjadi antara Angkatan Pemuda Kereta Api (AMKA) dan tentara Jepang.

Saat itu, Lawang Sewu menjadi markas tentara Jepang. Sementara itu, AMKA berada di Wilhelminaplein atau Kawasan Taman Tugu Muda yang berdiri tepat di seberang Lawang Sewu.

Dirancang oleh Arsitek yang Berbeda

Lawang Sewu terdiri dari lima bangunan dan dirancang oleh arsitek yang berbeda-beda. Awalnya, Lawang Sewu dirancang Ir. P. de Rieu, seorang arsitek asal Belanda. Gedung C merupakan bangunan yang pertama kali dibuat dan difungsikan sebagai kantor percetakan karcis kereta api pada tahun 1900.

Rancangan pembangunan kemudian dilanjutkan oleh Prof. J. Klinkhamer dan B. J. Oundag setelah Ir. P. de Rieu meninggal dunia. Kedua arsitek ini membangun gedung A sebagai kantor utama NIS. Pembangunan dimulai pada Februari 1904 dan rampung pada Juli 1907.

Selanjutnya, Lawang Sewu diperluas dengan dibangunnya gedung B, D, dan E seiring berkembangnya kantor kereta api Belanda. Gedung B masih dibangun oleh Prof. J. Klinkhamer dan B. J. Oundag. Sementara itu, gedung D dan E dirancang oleh Thomas Karsten yang merupakan arsitek termuda.

Dibangun dari Bata sebagai Simbol Kemakmuran

Lawang Sewu dibangun menggunakan batu bata keramik berwarna oranye. Batu bata sendiri saat itu merupakan simbol kekayaan, kemakmuran, dan kasta tertinggi. Batu bata merupakan material bangunan yang langka dan tergolong mahal pada saat itu.

“Zaman dulu satu batu bata ini ditaksir mencapai 300 ribu harganya. Dan yang unik, cetakannya ada yang melengkung,” kata Aris, salah seorang pemandu wisata, dilansir dari situs resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Senin (12/2/2024).

Kasta yang tinggi ini juga ditampakkan pada jumlah pintu yang banyak. Selain untuk membuat sirkulasi udara menjadi bagus, pintu yang banyak ini menggambarkan citra orang Belanda yang sangat mereka jaga.

Lawang Sewu Saat Ini

Lawang Sewu kini difungsikan menjadi sebuah museum setelah dilakukan berbagai pemugaran dan renovasi. Museum Lawang Sewu menampilkan beragam koleksi benda yang berhubungan dengan kereta api, mulai dari seragam masinis, alat komunikasi, lemari karcis, hingga mesin cetak tanggal untuk karcis kereta.

Lawang Sewu kini menjadi salah satu destinasi wisata yang kaya akan sejarah. Lawang Sewu dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Harga tiket masuk ke Lawang Sewu pun terbilang mewah, yaitu Rp 10.000 untuk dewasa dan Rp 5.000 untuk anak-anak.

(dna/dna)



Sumber : www.detik.com

8 Lokasi Terbaik di Indonesia Mengabadikan Momen Kemerdekaan



Jakarta

Merayakan momen HUT ke-80 Republik Indonesia bisa nih dengan memilih latar destinasi yang epik, mulai dari bangunan bersejarah hingga landscape alam yang memukau. Mana nih favoritmu?

detikcom telah merangkum, Rabu (13/8/2025) tempat-tempat terbaik untuk mengabadikan momen HUT RI dengan latar merah putih di postingan sosial media mu.

1. Monumen Nasional

Pengunjung menaiki kereta wisata di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Sabtu (12/7/2025).Pengunjung di Monumen Nasional (Monas) Foto: Ari Saputra

Monas yang selalu jadi destinasi favorit warga Jabodetabek bisa nih jadi latar foto untuk momen kemerdekaan nanti. Menara dengan emas raksasa di puncaknya ini diresmikan pada tanggal 17 Agustus 1961 oleh Presiden Soekarno (dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975).


Monas juga sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari penjajahan. Setiap elemen Monas memiliki filosofi kebangsaan, contohnya. puncaknya yang berbentuk lidah api berlapis emas memiliki ketinggian 17 meter yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala abadi.

2. Tugu Proklamasi

Tugu Proklamasi berada di Jl. Proklamasi No.10, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat. Tepat di area Taman Proklamasi.

Tugu ini dibangun untuk memperingati momen pembacaan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945, yang dilakukan di rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 (kini: Jl. Proklamasi No. 10).

Jadi di sini kamu bisa menemukan patung perunggu seukuran asli dari Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta saat membacakan proklamasi.

3. Gunung Bromo

Wisata Gunung Bromo.Wisata Gunung Bromo. Foto: Dok. Esti Widiyana/detikJatim)

Gunung Bromo berada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Menyambut momen HUT RI ke-80 kamu bisa nih melihat pengibaran bendera merah putih dengan latar yang ciamik. Coba deh cari tahu jadwal pengibaran bendera atau kamu juga bisa membawa bendera sendiri lalu berfoto dengan latar indahnya Gunung Bromo.

4. Danau Toba

Keindahan Danau Toba bisa juga tempat untuk mengabadikan foto dengan latar Sang Saka Merah Putih.

5. Lawang Sewu

Lawang Sewu.Lawang Sewu. Foto: pariwisata.semarangkota.go.id

Bangunan 1.000 pintu yang jadi daya tarik Semarang ini dibangun pada tahun 1904 – 1907 yang awalnya berfungsi sebagai Kantor pusat Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), perusahaan kereta api Hindia Belanda.

Fakta menarik nih, saat perjuangan kemerdekaan, bangunan ini menjadi lokasi pertempuran sengit antara pemuda Indonesia dan tentara Jepang (peristiwa “Pertempuran 5 Hari di Semarang”). Jadi kamu menjadikan Lawang Sewu latar berfoto karena ada sejarah kemerdekaannya di sini.


6. Kota Tua

Kota Tua adalah kawasan pusat pemerintahan, perdagangan, dan militer pada masa kolonial Belanda, dikenal dengan nama Batavia. Sekarang Kota Tua jadi destinasi favorit dan ikonnya Jakarta.

Kamu bisa nih mengabadikan momen Kemerdekaan RI dengan latar arsitektur Kota Tua atau berkunjung ke museum-museumnya.

7. Ragam museum atau bangunan yang menceritakan kemerdekaan dan proklamasi

Gedung Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol No 1, Rabu (16/8/2023)Gedung Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol No 1, Rabu (16/8/2023) Foto: Museum Proklamasi/Sudrajat-detikcom

Merayakan momen HUT RI ke-80, kamu bisa datang ke berbagai museum yang menceritakan tentang perjuangan kemerdekaan EI. Seperti Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Tugu Proklamasi, Rumah Rengasdengklok, Gedung Joang ’45 hingga Benteng Rotterdam.

8. Istana Merdeka Jakarta

Istana Merdeka Jakarta selalu menjadi lokasi upacara kenegaraan, termasuk Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Kamu bisa nih berfoto-foto setelah pelaksanaan upacara kemerdekaan.

(sym/ddn)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
image : unsplash.com / Thomas Tucker