Tag Archives: letkol

Sejarah Gedung Juang Majalengka, Pernah Jadi Tempat Orang Dihukum Gantung


Jakarta

Gedung Juang Majalengka adalah bukti sejarah masyarakat setempat sejak era penjajahan hingga sekarang. Sekaligus menjadi destinasi wisata saat liburan.

Gedung itu menjadi saksi bisu kejamnya penjajah di masa pendudukan Belanda, Jepang. Hingga kemudian, Indonesia merdeka.

Masyarakat Majalengka dan sekitar masih bisa menyaksikan Gedung Juang tanpa perlu membayar tiket masuk. Gedung Juang juga terletak di pusat kota sehingga tidak terlalu jauh diakses masyarakat atau pengunjung dari lain daerah.


Lokasi Gedung Juang Majalengka

Destinasi wisata sejarah ini berada di Jl. Letkol Abdul Gani Nomor 5, Majalengka Kulon, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Bangunan ini berada di areal DPRD Kabupaten Majalengka dan tidak jauh dari kantor Dinas Pendidikan.

Sejarah Gedung Majalengka

Pemerhati sejarah sekaligus Ketua Yayasan Galur Rumpaka Majalengka Baheula (Grumala), Nana Rohmana yang akrab disapa Naro, menjelaskan perjalanan Gedung Majalengka dalam wawancaranya dengan detik jabar.

1. Era Belanda

Situs sejarah ini awalnya adalah kantor sekaligus rumah dinas Asisten Redaksi sehingga disebut Gedung AR. Asisten Redaksi adalah wakil dari karesidenan Cirebon yang ditempatkan di Majalengka. Pada 1860, Asisten Residen Majalengka pertama adalah JJ Meider.

Gedung AR kala itu digunakan juga sebagai lokasi ekskusi hukuman mati. Warga Indonesia yang ditetapkan menerima sanki mati akan digantung di Gedung AR disaksikan publik. Pelaksanaan hukuman gantung menjadi peringatan bagi masyarakat umum.

“Kata orang tua, Gedung AR itu dulunya landraad atau tempat melakukan eksekusi. Pengeksekusian itu hukum digantung. Orang-orang pribumi yang bersalah digantung di situ,” ujar Naro.

2. Era Jepang

Ketika Jepang masuk Indonesia di tahun 1942, Gedung AR menjadi lokasi penahanan para pejuang Indonesia. Pejuang yang tertangkap mengalami siksaan berat hingga meninggal di Gedung AR. Jasad dan kuburan para pejuang tersebut tidak diketahui hingga kini.

Menurut Naro, Gedung AR hampir dihancurkan dengan bom di masa pendudukan Jepang. Namun bomnya dikabarkan mati sehingga rencana tersebut gagal. Sebagai hasilnya, Gedung AQ masih berdiri tegak hingga kini.

3. Era kedatangan Belanda kembali

Belanda kembali datang ke Indonesia pada 29 September 1945. Kedatangan Belanda dalam topeng Netherlands Indies Civil Administration (NICA) dan sekutu bertujuan melucuti senjata Jepang.

Belanda bermaksud merebut kembali Indonesia yang saat itu sudah menyatakan kemerdekaannya. Saat itu, Belanda merebut kembali Gedung AR yang sudah diduduki pejuang Indonesia.

4. Era merebut kemerdekaan pada 1945

Selama perang kemerdekaan, Gedung AR menjadi saksi perjuangan masyarakat Majalengka. Pada 1945, Gedung AR menjadi Kantor Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) yang berfungsi layaknya Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

KNID dulunya dikenal sebagai Regenscaftraad dan College van Gecomitterden. Lembaga ini dibentuk Bupati Majalengka RMAA Suriatanudibrata, yang menjabat dari tahun 1922-1944.

5. Selepas meraih kemerdekaan

Gedung AR menjadi basis penting pasukan gerilya yang kembali dari perang di pegunungan pada 1949. Kemudian, Gedung AR menjadi markas Komando Militer Distrik (KMD) yang dipimpin Lettu M. Challil. Gedung ini juga sempat menjadi kantor Pos Distrik Militer (PDM).

Seiring waktu, Gedung AR menjadi Gedung Juang yang menjadi pengingat perjalanan dan keberanian masyarakat Majalengka. Gedung Juang sempat menjadi kantor PEPABRI, FKPPI, PP Polri, PPAD, PPM dan Grumala. Jika detikers jalan-jalan ke Majalengka, jangan lupa untuk mengungjungi Gedung Juang Majalengka.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

dari Bawah Laut Hingga Puncak Gunung



Jakarta

Hari Kemerdekaan RI ke-80 akan segera tiba. Upacara bendera untuk merayakannya tak selalu di lapangan, banyak juga tempat unik untuk melakukannya.

Masyarakat Indonesia memiliki beberapa tradisi upacara bendera yang unik. Entah siapa dalangnya, tapi upacara kemerdekaan HUT RI pernah dilakukan di tempat-tempat yang tidak biasa, bahkan ekstrem.

Tak hanya darat, di dalam laut pun pernah dilakukan. Berikut lima upacara bendera paling untuk di Indonesia.


Upacara Unik HUT RI

1. Upacara di Puncak Gunung

Bendera Merah Putih 1.000 Meter Hiasi Puncak Gunung PenanggunganBendera Merah Putih 1.000 Meter Hiasi Puncak Gunung Penanggungan (Istimewa)

Upacara di puncak gunung sering dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat. Kebanyakan gunung di Indonesia biasanya juga dipenuhi pendaki saat HUT RI. Mereka biasa naik pada 16 Agustus dan menjalankan upacara pada 17 Agustus pagi.

Gunung-gunung yang biasanya menjadi tujuan adalah Gunung Prau, Gunung Batur, Gunung Sindoro, Gunung Merbabu, hingga Gunung Papandayan.

2. Upacara di bawah laut

Upacara di KRI Siwar dan penanaman terumbu karang (Bahtiar/detikcom) dan pengibaran bendera di bawah laut (istimewa).Upacara di KRI Siwar dan penanaman terumbu karang (Bahtiar/detikcom) dan pengibaran bendera di bawah laut (istimewa).

Upacara di bawah laut juga sering diberitakan. Salah satunya di Pulau Sangiang, Banten yang diikuti oleh ratusan penyelam. Upacara pada HUT ke-74 Kemerdekaan RI itu dipimpin oleh Komandan Pangkalan TNI AL (Lanal) Banten Letkol Laut (P) Golkariansyah.

Upacara seperti ini sangat menarik dilakukan di berbagai daerah yang memiliki keindahan bawah laut, misalnya Pulau Derawan, Bunaken, Raja Ampat, dan Karimunjawa.

3. Upacara di Sungai

Puluhan personel Satuan Tugas (Satgas) Kali Ngrowo Tulungagung gelar upacara bendera peringatan HUT RI. Upacara berlangsung di tengah sungai.Puluhan personel Satuan Tugas (Satgas) Kali Ngrowo Tulungagung gelar upacara bendera peringatan HUT RI. Upacara berlangsung di tengah sungai. (Adhar Muttaqin)

Puluhan personel Satuan Tugas (Satgas) Kali Ngrowo Tulungagung menggelar upacara bendera peringatan HUT RI ke-76 pada 17 Agustus 2021. Upacara ini berlangsung di tengah sungai yang berlokasi di Kelurahan Tertek, Tulungagung ini.

Baik petugas maupun peserta upacara menceburkan diri dan rela berbasah-basahan demi mengikuti upacara ini. Meskipun setengah bagian tubuhnya terendam air, tetapi upacara tetap berjalan lancar dan khidmat.

4. Upacara di dalam Goa

PurbalinggaGoa Lawa, Purbalingga (Vandi Romadhon/detikcom)

Tak habis-habis kekayaan alam Indonesia untuk dijadikan sebagai tempat upacara. Memperingati HUT RI ke-76, objek wisata Goa Lava di Purbalingga mengadakan acara upacara bendera anti mainstream. Di dalam goa dilakukan pengibaran bendera merah putih pada tiang yang sebelumnya sudah disiapkan.

Layaknya upacara pada umumnya, dalam kegiatan ini juga ada petugas dan peserta upacara yang terdiri dari karyawan dan pengelola Goa Lava. Sebanyak 30 orang mengikuti upacara di dalam goa ini. Penerangan berupa lampu juga ikut dipasang di dalam goa.

5. Upacara di Sawah/Kebun

Petani juga bisa ikut merayakan upacara di kebun atau sawah mereka. Seperti yang dilakukan anggota Kelompok Tani Sumber Rejeki di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Kegiatan upacara kemerdekaan ini dilakukan rutin setiap tahun.

Mereka mengibarkan bendera dengan memakai pakaian kerja mereka sehari-hari. Selain Tani Sumber Rejeki, ada pula Tani Lewu Taheta yang juga melakukan upacara kemerdekaan setiap tahunnya.

(bnl/fem)



Sumber : travel.detik.com

Viral Bule Ditolak Masuk Museum Dirgantara Mandala di Yogya, Kok Bisa?



Jakarta

Curhatan seorang turis asing bernama Nathan Britt ramai ditanggapi warganet karena ditolak masuk Museum Dirgantara Mandala di Yogyakarta. Dia mempertanyakan alasan dan ketiadaan solusi bagi dirinya yang sangat menyukai pesawat terbang.

“Ditolak masuk di museum Angkatan Udara Yogyakarta, Indonesia,” tulis Nathan di laman di laman Facebook The International Aviation Museum Guide, sebuah grup yang berisi pengalaman pecinta aviasi dari seluruh dunia.


Nathan mengatakan ingin melihat koleksi 51 pesawat Jepang dari era Perang Dunia II. Menurutnya, koleksi tersebut hanya ada di Museum Dirgantara Mandala. Dia mencoba memperoleh izin masuk museum namun usahanya tidak membuahkan hasil.

Kendati begitu, Nathan tetap merasa bersyukur karena istrinya yang orang Indonesia bisa masuk museum. Nathan melijat koleksi pesawat Jepang lewat foto yang diambil istrinya. Secara umum, Warga Negara Asing (WNA) ternyata dilarang masuk museum di kawasan pangkalan TNI AU ini.

Menanggapi curhatan tersebut, TNI AU atas nama Letkol Pnb Kamto Adi melalui media sosial X (dulu Twitter) menjelaskan kondisi Nathan. TNI AU memahami kekecewaan Nathan karena tidak bisa mengunjungi koleksi bersejarah, sekaligus berterima kasih atas pengalaman yang dibagikan.

Dalam penjelasannya, TNI AU mengatakan museum berada di kompleks Angkatan Udara yang masih aktif. Akses bagi WNA tidak bisa diberikan sembarangan sesuai aturan keamanan militer yang berlaku. Penerapan izin akses tidak bertujuan menerapkan diskriminasi bagi WNA. Langkah tersebut semata untuk menjaga keamanan fasilitas.

TNI AU berharap, selanjutnya Nathan bisa menghubungi administrasi museum atau Kantor Informasi Publik Angkatan Udara Indonesia untuk memastikan prosedur yang sesuai. Sayangnya, TNI AU tidak menyertakan prosedur yang dimaksud sehingga masih jadi hal yang membingungkan bagi turis asing.

Dalam ulasan google review, Museum Dirgantara Mandala banjir bintang satu akibat perlakuannya pada turis asing. Mereka kecewa karena tidak bisa masuk dan tak ada solusi bagi yang benar-benar ingin mengakses koleksi pesawat di Museum Dirgantara Mandala.

(row/row)



Sumber : travel.detik.com