Tag Archives: libur long weekend

Masih Ada Pasar Tradisional ala Sunda Jadul di Bandung



Bandung

Pasar tradisional Sunda ala zaman dulu ternyata masih ada di pelosok Bandung. Pasar ini cocok dikunjungi untuk libur long weekend.

Konsep wisata di pasar tradisional jadul itu dibuat oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kelurahan Cisurupan, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. Pasar Padaringan, begitu namanya.

Padaringan di nama pasar ini merupakan singkatan dari Pakarangan Dapur Seni Budaya Sareng Ibing Cisurupan. Pasar Padaringan digelar di kawasan hutan bambu, tepatnya di Leweung Awi Mbah Garut.


Sejumlah kios yang terbuat dari bambu berdiri di tempat itu, kios-kios tersebut menjajakan makanan dan minuman khas Sunda. Ada surabi, bandrek, awug, gorengan, leupeut, bandros, dan masih banyak macam-macam kue tradisional lainnya.

Bagi pengunjung yang datang dan ingin membeli makanan dan minuman tradisional di Pasar Padaringan harus menukarkan uang tunainya dahulu dengan koin senilai Rp5 ribu, Rp10 ribu dan Rp20 ribu yang sudah disediakan di loket penukaran uang.

Pasar Padaringan digelar setiap dua kali dalam sebulan dan sudah mendapatkan dukungan dari Pemkot Bandung. Kegiatan ini juga bertujuan untuk menggeliatkan perekonomian masyarakat karena yang menjajakan makanan tradisional di Pasar Padaringan ini merupakan UMKM-UMKM yang ada di Kecamatan Cibiru.

Selain itu, di Pasar Padaringan ini selalu digelar atraksi seni dan budaya yang berasal dari Kecamatan Cibiru dan sekitarnya. Atraksi seni dan budaya ini ditampilkan untuk menghibur pengunjung yang datang ke tempat tersebut.

Pertunjukan seni dan budaya tradisional yang ditampilkan di antaranya jaipongan, benjang, rajawali, reak dan lainnya. Pengunjung yang sudah selesai membeli makanan bisa duduk di kursi bambu yang tersedia, sekaligus menyaksikan penampilan akurasi seni budaya. Salah satunya penampilan Reak dan Rajawali.

Pasar Padaringan Sunda di Hutan Bambu Cibiru Bandung.Pertunjukan seni di Pasar Padaringan Sunda di Hutan Bambu Cibiru Bandung. Foto: Wisma Putra/detikJabar

“Pasar Padaringan merupakan sebuah pasar tradisional, konsep pasar zaman dulu, makanan tradisional tanpa bahan pengawet dan plastik. Acaranya dua kali dalam sebulan,” kata Ketua Pokdarwis Cisurupan Ari Irawan, Minggu (12/1).

Ari mengungkapkan, pada saat awal-awal digelar kunjungan wisatawan bisa capai 1.000 orang, namun sekarang berkurang dikarenakan faktor cuaca. Namun dalam beberapa kegiatan terakhir, angka kunjungan menunjukan angka normal.

“Sekali event perputaran uang Rp20 jutaan, si sini sistem koin, barter, ada koin khusus tidak bisa pakai uang tunai langsung kalau mau jajan, koinnya ada besaran Rp5 ribu, Rp10 ribu dan Rp20 ribu,” jelasnya.

Ari menilai, Pasar Padaringan sangat berpengaruh dalam meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar dan dia berharap warga Kota Bandung yang ada di luar Cibiru dapat berkunjung.

“Ke depan luar biasa sangat meningkatkan perekonomian dan seni budaya di kewilayahan saya harap seluruh masyarakat Kota Bandung terus berpartisipasi,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu pengunjung yang merupakan warga Cilengkrang, Sujana mengaku terpukau dengan suasana Pasar Padaringan.

“Baru kali ini ke sini, suasananya bagus, asli, tempat wisata di tengah hutan (bambu). saya baru tahu dari anak tempat ini,” ujarnya.

Sujana menyebut konsep Pasar Padaringan sudah bagus, namun akses jalan yang cukup terjal dikeluhkan olehnya.

“Konsepnya lebih ke original Sunda, bagus, budaya Bandung timur, harus terus dilestarikan, akses ke sini harus lebih ditata jalannya cukup terjal, suasananya bagus,” pungkasnya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Libur Long Weekend ke Pulau Peucang TN Ujung Kulon, Begitu Memikat



Pandeglang

Pulau Peucang bisa menjadi pilihan untuk mengisi hari libur atau akhir pekan. Pasalnya, di Pulau Peucang menyajikan keindahan alam yang sangat alami.

Pulau Peucang terletak di ujung barat pulau Jawa atau di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Kawasan ini sudah ditetapkan sebagai Geopark Nasional Ujung Kulon.

Hal itu tertuang dalam SK Menteri ESDM RI Nomor: 393.K/GL.01/MEM.G/2023 tentang Penetapan Taman Bumi (Geopark) Nasional Ujung Kulon pada 10 November 2023. Di kawasan itu terdapat 14 situs warisan geologi (geosite), enam situs keanekaragaman hayati atau biodiversity, dan dua situs keragaman budaya (cultural sites).


Untuk menuju ke pulau, membutuhkan waktu perjalanan laut sekitar dua sampai tiga jam, dari Pelabuhan Sumur, Pandeglang. Begitu tiba di lokasi, kita akan disambut pasir putih, air laut biru dan tenang.

Di sana, kita bisa melihat ragam penghuni air dengan melakukan snorkeling atau diving. Ombak yang tenang, cocok untuk bermain air. Gerombolan ikan akan ikuti menemani saat bermain.

Pulau Peucang TN Ujung KulonPulau Peucang TN Ujung Kulon (Foto: Aris Rivaldo/detikcom)

Tak hanya itu, di kawasan Pulau Peucang bisa ditemukan satwa darat yang hidup bebas, seperti rusa, monyet, banteng, burung merak. Hewan-hewan itu tak akan mengganggu waktu liburan kita.

Pemandangan sunset atau mata hari tenggelam juga bisa dinikmati saat senja. Keindahan langit itu, bisa membuat kita ingin bertahan lebih lama.

Wajar saja jika Pulau Peucang dikunjungi wisatawan setiap liburan, atau pada saat akhir pekan. Mereka sengaja datang untuk menikmati semua jejak keindahan yang ditawarkan.

Untuk menuju Pulau Peucang, kita bisa mengikuti open trip yang dibuka oleh warga lokal. Jika mengikuti open trip ongkos perjalanan akan lebih murah. Untuk harga, sekitar Rp 600 sampai 750 ribu. Tarif tersebut sudah dapat makan, dan penginapan selama kegiatan.

Sudah saatnya luangkan waktu liburan ke Pulau Peucang. Ajak keluarga atau teman dekat untuk diajak berlibur.

(msl/msl)



Sumber : travel.detik.com