Tag Archives: magelang

Jangan Sampai Terlewat, Cari Tahu Sejarah Candi Borobudur di Museum Ini



Jakarta

Traveler yang ingin melihat kemegahan Candi Borobudur, bisa datang ke museum yang ada di Kampung Seni Borobudur (KSB). Museum ini baru saja dibuka untuk umum.

Museum Kampung Seni Borobudur baru dibuka awal Mei 2025. Kendati usianya baru dua minggu, namun wisatawan yang datang ke sini cukup ramai, lho.

Dayat, petugas Museum KSB, mengatakan bahwa antusias pengunjung saat dibuka lumayan bagus. Dengan tiket terjangkau, hanya Rp 10.000, traveler diajak mendalami lika-liku keberadaan Borobudur.


“Kalau hari biasa bisa sampai 100 orang, namun saat hari libur bisa lebih 200 orang,” kata Dayat kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Museum Kampung Seni BorobudurMuseum Kampung Seni Borobudur (Syanti Mustika/detikcom)

Museum KSB tidak terlalu luas, namun di dalam museum itu terdapat beberapa penjelasan mengenai Candi Borobudur, ragam stupa dan ada fasilitas VR. Melalui VR traveler bisa menonton penjelasan mengenai candi.

“Bila ingin menonton VR tentang penjelasan Candi Borobudur, kamu cukup membayar tiket tambahan Rp 10 ribu saja,” kata dia.

detikcom berkesempatan berkeliling Musem KSB. Walau museum ini tidak besar, namun ‘cukup padat’ merangkum dan menampilkan sejarah tentang Candi Borobudur.

Di sini juga ditampilkan beberapa stupa yang ada di candi beserta penjelasan. Ada juga contoh relief yang bisa kamu pelajari.

Museum Kampung Seni BorobudurMuseum Kampung Seni Borobudur (Syanti Mustika/detikcom)
Museum Kampung Seni BorobudurMuseum Kampung Seni Borobudur (Syanti Mustika/detikcom)

Museum ini bisa dikatakan sederhana. Namun bisa menarik perhatian generasi muda yang suka akan sejarah. Seperti Alfin dan Desi, kaula muda asal Jakarta.

Mereka mengaku menikmati museum date di KSB karena mereka menjadi tahu sejarah Candi Borobudur.

“Museumnya sangat bagus dan informatif ya karena di sini semuanya dijelasin bagaimana sejarahnya. Dan sangat membantu sih, karena kalau langsung ke Candi Borobudur kita nggak ngerti dan tahu kan bagaimana sejarahnya. Makanya kita datang langsung ke sini untuk cari tahu sejarahnya dulu,” kata Alfin.

Museum Kampung Seni BorobudurMuseum Kampung Seni Borobudur (Syanti Mustika/detikcom)

Selain menampilkan sejarah Candi Borobudur, di sini juga dipajang beberapa lukisan terkait candi. Traveler yang membutuhkan tur guide untuk lebih paham tentang museum, juga bisa request kok tanpa dikenakan biaya.

“Kita buka setiap hari pukul 09.00-15.00 WIB,” ujar Dayat.

Nah, Museum KSB bisa jadi pilihan bagi traveler yang ingin mengetahui sejarah keberadaan Candi Borobudur. Lokasi museum ini juga tidak jauh kok dari salah satu loket ke Candi Boroburur. Jadi sekalian aja deh habis dari museum langsung beli tiket ke Candi Borobudur.

(sym/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Ada Bunker Peninggalan Belanda di Magelang, Kini Jadi Sarang Kelelawar



Magelang

Bangunan bunker peninggalan Belanda ternyata ada di Magelang. Bangunan bersejarah itu kondisinya tak terawat dan kini jadi sarang kelelawar.

Di kota Magelang, Jawa Tengah ada beragam bangunan peninggalan pemerintah kolonial Belanda. Salah satu bangunan itu adalah bunker yang lokasinya persis berada di belakang Kantor Kecamatan Magelang Tengah atau dikenal sebagai kawasan Kwarasan.

Tak banyak warga Kota Magelang yang mengetahui keberadaan bunker tersebut. Padahal bunker tersebut lokasinya berada di dekat perkampungan.


Untuk masuk ke dalam bunker ini, traveler harus melalui pintu masuk dengan lebar sekitar 1,5 meter. Ketinggian bangunan bunker itu sendiri 3,5 meter.

Jalan masuk menuju bunker tersebut mirip lorong dan nantinya bakal menemukan pintu lagi. Kondisi di dalam bunker tersebut gelap karena hanya ada satu lubang ventilasi udara.

Bangunan bunker peninggalan Belanda yang berada di Kota Magelang.Bangunan bunker peninggalan Belanda yang berada di Kota Magelang. Foto: Eko Susanto/detikcom

Di dalam bunker ada 6 ruangan. 4 ruangan berukuran sekitar 3,5 x 3,5 meter. Kemudian ruang lainnya memiliki luas yang relatif lebih kecil.

Di dalam bunker tersebut juga ada pintu keluar. Hanya saja kondisinya sudah tertutup tanah. Saat ini, bunker tersebut sudah menjadi sarang kelelawar.

Bahkan saat berada di dalam bunker, traveler akan mencium bau tidak sedap yang berasal dari tumpukan kotoran kelelawar.

“Kondisi bunker ini tidak terawat dan memprihatinkan. Sebenarnya, kalau terawat bisa menjadi destinasi wisata di Kota Magelang,” kata Tari (30), salah satu warga setempat.

Kondisi bunker, kata Tari, di dalamnya ada beberapa ruangan. Hanya saja di dalamnya gelap dan menjadi sarang kelelawar.

“Ada beberapa ruangan dan ruangan itu jadi sarang kelelawar,” ujarnya.

Ditemui terpisah, pegiat Komunitas Kota Toea Magelang, Bagus Priyana mengatakan, bunker di Magelang masih bisa telisik keberadaannya. Salah satunya yang berada di belakang kantor Kecamatan Magelang Tengah atau kawasan Kwarasan.

“Yang paling kelihatan di Kwarasan. Ada kamar-kamarnya, jadi kapasitas ruangnya menyesuaikan seberapa banyak orang yang tinggal di kawasan tersebut,” kata Bagus.

“Itu untuk perlindungan dari perang. Ada 6 ruangan. Ada juga lubang ventilasi. Pemkot Magelang harus mengonservasi bangunan bunker untuk diperbaiki, bisa juga dijadikan daya tarik wisata. Itu (bunker) kan tidak setiap kota ada bunker yang bisa diakses oleh publik,” tegas Bagus.

Terkait bangunan heritage peninggalan kolonial, Wali Kota Magelang Damar Prasetyono mengatakan, bangunan heritage nantinya akan diinventarisasi dan dilakukan revitalisasi.

“Pokoknya nanti akan kita inventaris dan pasti akan kita revitalisasi untuk wisata Kota Magelang. Itu potensi namanya. Ini kita programkan, nanti program kedepan seperti itu,” kata Damar.

——–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Legendaris! Toko Nyonya Pang Muntilan, Surga Jajanan Tradisional dan Oleh-oleh



Muntilan

Di Muntilan ada satu toko oleh-oleh legendaris yang sudah ada sejak 1912. Toko ini semakin ramai setelah serial Gadis Kretek tayang di Netflix.

Ya, toko Nyonya Pang selalu ramai dikunjungi orang-orang yang berkunjung ke kawasan Magelang dan Yogyakarta. Toko ini menjadi jujugan wisatawan yang berlibur ke sana.

Toko ini semakin ramai karena disebut sebagai salah satu kunci lokasi kota M dalam serial Gadis Kretek yang dibintangi Dian Sastro Wardoyo, Ario Bayu, Putri Marino, dan Arya Saloka. nama toko ini muncul dalam novel Gadis Kretek.


Faktanya, toko itu benar-benar ada. Toko itu benar-benar bernama Toko Nyonya Pang.

Awalnya, pada 1912, Nyonya Pang hanya berjualan jenang dodol. Karena banyak digemari, akhirnya Nyonya Pang resmi membuka toko pada tahun 1950. Toko ini kini telah dijalankan oleh generasi ke enam.

Toko Nyonya Pang ini sangat mudah ditemui di Muntilan karena lokasinya yang strategis dekat dengan jalan raya. Tepatnya berlokasi di Jalan Pemuda No.71, Growong, Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Namun sebaiknya pengunjung datang menggunakan motor atau kendaraan umum saja karena tokonya berada di deretan pertokoan lain yang menjadikan area parkirnya terbatas.

Saat memasuki toko ini pengunjung akan dibuat bingung karena banyak sekali pilihan oleh-oleh yang tersedia di sini. Ada wajik, pie susu, dodol, bakpia, krasikan, miku, moho, aneka keripik, dan masih banyak lagi. Namun tenang saja, karena staf-staf toko di sini akan membantu menemukan jajanan yang dicari.

“Yang paling sering dicari di sini sih biasanya miku, dodol, atau gak wajik, itu best seller banget karena emang udah lama ada di sini,” kata salah satu staf Toko Nyonya Pang.

Ada satu yang unik di sini adalah jajanan pasarnya yang ada di dekat meja kasir, di sini pembeli bisa membeli beragam jajanan dengan harga mulai dari Rp 2.500. Jajanan yang dihadirkan pun unik-unik, ada putri mandi, moho, piyangko, rondo kemul, sengkolon, dan gorengan-gorengan.

Beberapa orang mungkin merasa asing dengan nama jajanan ini, namun visual dari jajanan ini sangat menggugah selera dengan warna-warni yang menawan. Pembeli juga bisa mencoba beberapa tester yang tersedia di toko ini, jadi kamu bisa merasakannya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membeli yang mana.

Makanan-makanan ini sebagian besar merupakan makanan yang diproduksi sendiri oleh pemilik, namun tidak sedikit pula yang berasal dari produksi UMKM lokal. Itu dilakukan agar Toko Nyonya Pang bisa turut membantu UMKM-UMKM lain di sekitarnya.

Toko Nyonya Pang melayani pemesanan online melalui Whatsapp dan online marketplace. Info lengkapnya bisa dilihat di akun Instagram @nypang71. Di sini juga kamu bisa memesan tampah jajanan tradisional dengan jajanan dan ukuran sesuai selera, tampah ini merupakan tumpukan jajanan tradisional yang ditumpuk menyerupai tumpeng.

Toko Nyonya Pang telah menjadi salah satu ikon Muntilan yang melestarikan jajanan tradisional, tidak heran banyak wisatawan luar daerah yang singgah ke sini untuk mencoba jajanan unik yang jarang dijual di tempat lain ini.

“Udah beberapa kali ke sini gak pernah bosan soalnya suka sama jajanan pasarnya, jarang nemu di tempat lain, sebelum ini aja saya gak tau ada jajanan kayak gini,” kata Ainun, salah satu pembeli Toko Nyonya Pang.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

10 Destinasi Wisata Gadis Kretek


Jakarta

Kepopuleran serial Netflix Gadis Kretek menjadi daya tarik dan potensi ekonomi yang bisa membangkitkan sektor pariwisata di daerah. Setidaknya, ada sepuluh objek wisata dari serial itu.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno, bahkan sampai berencana membuat paket wisata yang diadaptasi dari serial yang dibintangi Dian Sastro tersebut. Sandi mengatakan Kemenparekraf akan bekerja sama dengan Dinas Pariwisata (Dinkes) Jawa Tengah dan Yogyakarta untuk menyusun paket wisata yang bisa dikunjungi para wisatawan.

“Kota M, tempatnya ini sudah banyak perdebatan apakah Muntilan atau Magelang. Ini sama-sama di wilayah Kabupaten dan Kota Magelang, tapi juga ada daya tarik wisata, seperti Borobudur, Kudus, dan daya tarik wisata lainnya,” ujar Sandi dalam temu media di Kantor Kemenparekraf, Senin (20/11/2023).


“Museum Kretek dan Museum Perang Diponegoro, juga Candi Abang di Sleman ini yang terbengkalai bisa kita arahkan paket-paket wisata untuk bisa dikunjungi,” Sandi menambahkan.

Merujuk Instagram Pesona Indonesia, yang merupakan salah satu media sosial promosi wisata Kemenparekraf, menyebut ada enam destinasi wisata dari serial Gadis Kretek itu. Selain itu, berdasarkan riket dan wawancara dengan narasumber, diketahui ada destinasi wisata lain dari tempat syuting Gadis Kretek atau pun berdasarkan novel dengan judul serupa.

Berikut 6 destinasi wisata Gadis Kretek:

1. Museum Kretek

Dikutip dari visitjawatengah, Museum Kretek didirikan di atas lahan seluas 2,5 ha pada tahun 1986 atas prakarsa Soepardjo Rustam, Gubernur Jawa Tengah, ketika berkunjung ke Kudus. Dia melihat potensi besar perusahaan kretek yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat di kota tersebut.

Museum ini menyimpan 1.195 koleksi tentang sejarah kretek, misalnya kiprah Nitisemito yang mendirikan Pabrik Rokok Bal Tiga, dokumen-dokumen perusahaan pada waktu itu, alat-alat tradisional pembuatan rokok hingga yang menggunakan teknologi modern, diorama jenis-jenis tembakau cengkeh, diorama pembuatan rokok di pabrik, dan lain sebagainya.

Di sekitar kompleks museum juga terdapat beberapa miniatur bangunan cagar budaya, seperti Oemah Kembar Nitisemito yang banyak dianggap menjadi saksi bisu kejayaan Sang Raja Kretek Nitisemito, Masjid Wali loram Kulon dengan gapura padureksan yang sungguh ikonik, serta Rumah Adat Kudus “Joglo Pencu” dengan arsitektur perpaduan budaya Jawa (Hindu), Persia (Islam), Cina (Tionghoa) dan Eropa (Belanda).

Lokasi Museum Kudus: Jalan Getas Pejaten No 155, Kecamatan Jati – Kudus, Jawa Tengah

Jam operasional: Senin sampai Minggu pukul 08.00 hingga 15.00 WIB.

Harga tiket: Rp 4.000 (Senin-Sabtu) Rp 5.000 (Minggu dan tanggal merah)

2. Stasiun Tuntang

Dikutip dari situs KAI, Stasiun Tuntang merupakan stasiun kereta api yang terletak di kecamatan Tuntang dan berada di daerah perbatasan antara Salatiga dan kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Stasiun itu terletak pada ketinggian ±464 m ini terletak di Daerah Operasi IV Semarang. Kini, stasiun tuntang berada dalam kawasan Museum Ambarawa.

Stasiun Tuntang dibangun pada 1871 dan pada 21 Mei 1873 dioperasikan. Stasiun Tuntang merupakan stasiun kelas III di jalur ini. Namun sejak jalur yang menghubungkan Yogyakararta dan Kedungjati pada tanggal 1 Juni 1970 ditutup, stasiun itu dijadikan museum.

Stasiun itu sempat melayani kereta wisata Ambarawa-Tuntang, namun itu tak berlangsung lama karena faktor rel yang rusak. Sebelumnya jalur sempat mangkrak ketika layanan kereta wisata ke Tuntang dihentikan, tapi jalur kembali dibuka 2002 setelah direnovasi.

Mulanya, stasiun ini hanya dapat melayani lori Ambarawa-Tuntang. Namun mulai 2009 dilakukan renovasi dan stasiun ini melayani kereta uap wisata lagi.

3. Rumah Residen Kedu

Dikutip dari kemdikbud, Rumah Residen Kedu, di Jalan Diponegoro No. 1 saat ini digunakan sebagai Museum Perang Diponegoro. Dulu, itu merupakan rumah dinas Residen Kedu dan dibangun oleh pemerintah Kolonial Belanda. Perancangnya J.C. Schule sedangkan pembangunannya dikerjakan oleh penduduk pribumi di Magelang.

Seperti halnya bangunan-bangunan Kolonial lain di Hindia-Belanda, arsitektur bangunannya menggunakan arsitektur indische yaitu perpaduan gaya bangunan Eropa disesuaikan dengan lingkungan di Hindia-Belanda.

Bangunan rumah Residen Kedu, bergaya Indische Empire Style. Rumah itu berbentuk limas dengan ventilasi yang besar sesuai dengan iklim tropis. Terdapat beranda d ibagian rumah depan dan belakang, pintu rumah memiliki dua rangkap (pintu jalusi dan pintu yang menggantung dan dapat diayun berbentuk lebar dan tinggi).

Bangunan itu memiliki halaman depan dan belakang yang sangat luas, disertai dengan pohon-pohon tropis. Pembuatan jendela yang besar sebagai ventilasi, dilengkapi dengan penggunaan kanopi untuk menahan percikan hujan. Rumah dinas tersebut menghadap ke barat disebabkan oleh kegemaran orang Belanda melihat pemadangan Gunung Sumbing, Perbukitan Giyanti, dan Sungai Progo, serta persawahan.

4. Los Mbako Menden

Los Mbako Meden merupakan bangunan yang digunakan oleh para petani untuk mengeringkan daun tembakau setelah dipetik dan sebelum dicacah untuk menjadi bahan baku cerutu dan rokok. Di Klaten, ada ratusan Los Mbako di areal persawahan.

Bangunannya tinggi dengan ukuran besar, memanjang dan lantai dasarnya model panggung. Hampir seluruh bangunan terbuat dari bambu, kecuali atap yang biasanya berupa daun alang-alang atau daun tebu kering.

Los Mbako tersebar di banyak kawasan pedesaan atau areal persawahan. Misalnya, di Kecamatan Kebonarum, Polanharjo, Jatinom, Ngawen, atau bahkan di kawasan pinggiran kawasan Kota Klaten.

5. Pabrik Gula Tasikmadu

Dikutip dari kemendikbud, Pabrik Gula (PG) Tasikmadu merupakan satu dari sejumlah pabrik gula yang didirikan pada masa kolonial Hindia Belanda dan masih bertahan sampai saat ini. Sekarang, PG Tasikmadu berada dalam pengelolaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX.

PG Tasikmadu dibangun pada 1871 oleh junjungan Praja Mangkunegaran saat itu yakni K.G.P.A.A. Mangkunegara IV (1811­-1881). Ini merupakan pabrik gula kedua di wilayah kekuasaan Praja Mangkunegaran, setelah PG Colomadu pada 1861. Seperti halnya Tasik­madu, PG Colomadu juga didirikan atas kehendak Mangkunegara IV.

Kini, Pabrik Gula Tasikmadu juga dikembangkan sebagai destinasi wisata dengan taman bermain keluarga. Selain itu ada restoran di area tersebut.

6. Candi Abang Sleman

Dikutip dari situs kemendikbud, Candi Abang Sleman berada di Padukuhan Blambangan, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Situs Candi Abang merupakan Bangunan Cagar Budaya yang telah di tetapkan oleh Bupati Kabupaten Sleman dengan nomor: 14.7/Kep.KDH/A/2017 pada tanggal 6 Februari 2017.

Berdasarkan Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie 1915 disebutkan bahwa di Candi Abang pernah ditemukan sebuah lingga dan arca Buddha. Di Candi Abang pernah ditemukan prasasti pendek pada 1932. Prasasti tersebut memuat pertanggalan dengan angka tahun 794 S atau 872 M. Candi Abang telah masuk dalam Rapporten van den Oudheidkundigen Dients in Nederlandsch-Indie tahun 1915, dengan nomor 1303. (Verbeek no. 330). Candi abang pertama kali ditulis oleh Brumund dalam Indiana II tahun 1854.

Berdasarkan tespit diketahui di dalamnya terdapat sisa-sisa struktur bangunan candi yang dibuat dari bata merah. Terungkap juga Candi Abang terdiri dari satu bangunan dengan satu halaman, yaitu halaman pertama yang diperkirakan sebagai halaman utama mempunyai panjang 65 meter dan lebar 64 meter.

Kemudian, terdapat sisa-sisa struktur bangunan candi yang dibuat dari bata sehingga disebut Candi Abang.

Kata abang berarti merah, karena candi ini terbuat dari batu merah atau bata. Dari hasil testpit behasil diungkap bahwa Candi Abang terdiri dari satu bangunan. Belum banyak hal yang diketahui karena belum adanya penelitian yang seksama. Pada bagian tengah runtuhan candi sudah dilakukan penggalian namun tidak didapat data tentang hal ini.

7. Toko Nyonya Pang

Toko Nyonya Pang bukan tempat syuting Gadis Kretek. Namanya muncul dalam novel Gadis Kretek yang kemudian diadaptasi menjadi serial yang dibintangi Dian Sastro. Toko ini menjadi petunjuk bawah setting serial itu ada di Muntilan, Jawa Tengah.

Awalnya, pada 1912, Nyonya Pang hanya berjualan jenang dodol. Karena banyak digemari, akhirnya Nyonya Pang resmi membuka toko pada tahun 1950. Toko ini kini telah dijalankan oleh generasi ke enam.

Toko Nyonya Pang ini sangat mudah ditemui di Muntilan karena lokasinya yang strategis dekat dengan jalan raya. Tepatnya berlokasi di Jalan Pemuda No.71, Growong, Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Namun sebaiknya pengunjung datang menggunakan motor atau kendaraan umum saja karena tokonya berada di deretan pertokoan lain yang menjadikan area parkirnya terbatas.

Saat memasuki toko ini pengunjung akan dibuat bingung karena banyak sekali pilihan oleh-oleh yang tersedia di sini. Ada wajik, pie susu, dodol, bakpia, krasikan, miku, moho, aneka keripik, dan masih banyak lagi. Namun tenang saja, karena staf-staf toko di sini akan membantu menemukan jajanan yang dicari.

8. Pasar Kayu Muntilan

Pasar Kayu Muntilan bukanlah destinasi wisata, namun setelah penayangan Gadis Kretek pasar ini ramai dikunjungi wisatawan. Banyak yang penasaran dan ingin berfoto spot-spot syuting ini.

Saat syuting berlangsung Pasar Kayu ini dikosongkan, para penjual kayu pun tidak bisa berjualan seperti biasa, namun sebagai gantinya mereka diberikan kompensasi. Lapak-lapak penjual kayu ini disulap menjadi pasar zaman dulu, sesuai setting serial Gadis Kretek, tahun 1960-an.

Beberapa kios dijebol untuk diubah menjadi pasar sayur-sayur, kafe, percetakan, warung jadul, hingga gudang rokok kretek. Proses pengosongan berlangsung kurang lebih lima hari dan pengembaliannya juga sekitar lima hari, sementara itu proses syuting berlangsung selama 1 minggu.

9. Pabrik cerutu Taru Martani 1918

Pabrik ini berada di Baciro, Yogyakarta dan telah beroperasi sejak 1918. Pabrik ini disebut-sebut sebagai pabrik ceritu tertua di Asia Tenggara.

Pabrikceritu Taru Martani 1918 mulanya berada di JalanMagelang dan dimiliki oleh warga berkebangsaan Belanda. Dalam prosesnya, salah satunya karena peristiwa bom atom di Nagasaki dan Hiroshima pada 1945, pabrik itu diambil alih oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan diberi nama Taru Martani.

10. Muntilan

Dalam serial Gedis Kretek disebutkan Kota M. Yang oleh penulis novel kemudian diakui adalah Muntilan. Ternyata kota ini sudah menjadi kota favorit Belanda.

Muntilan dalam peta tahun 1922, diapit oleh empat deretan Pegunungan; di wilayah Utara Pegunungan Lemah, di Timur Gunung Merapi dan Pegunungan Merbabu, di Selatan Pegunungan Gendol dan pegunungan Ukir serta Pegunungan Sipodang di bagian Barat.

Dikelilingi oleh deretan pegunungan membuat Muntilan dikelilingi banyak sungai, antara lain; Sungai Blongkeng, Sungai Pabelan, Sungai Poetih dan juga Sungai Droedjo yang bermuara pada Sungai Progo. Dengan banyaknya jumlah sungai di Muntilan, menjadilan Muntilan sebagai kawasan pertanian dan perkebunan yang subur.

Muntilan masuk dalam wilayah gouvernement yang menjadi kawasan perkebunan tembakau serta pertanian padi yang subur. Kini, Muntilan masih memiliki pesawahan luas, juga menjadi salah satu jujugan wisata kuliner bagi traveler yang melancong ke Magelang atau Yogyakarta. Kawasan ini memiliki makanan khas tape ketan dan wajik Nyonya Pang.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Di Kelenteng Muntilan Ini, Ada Altar dengan Foto Gus Dur



Magelang

Saat berkunjung ke kelenteng Hok An Kiong, Muntilan, kamu bisa melihat foto Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terpasang di salah satu altarnya. Ternyata, sejak dulu banyak juga yang berdoa di altar Gus Dur yang dijuluki Bapak Tionghoa ini.

“Ada altar Gus Dur karena kita sejak dulu, kelenteng ini ada hubungan sama NU Muntilan (Wakil Majelis Cabang Nahdlatul Ulama). Nah pas ulang tahunnya NU ke-96. Dia (MWC NU) mau minta di sini upacara penyerahan fotonya Gus Dur, di sini ya kurang lebih ada 300 sampai 400 orang upacara,” kata Ketua Umum TITD Hok An Kiong Budi Raharjo kepada wartawan di sela-sela pembersihan rupang atau patung di Kelenteng Hok An Kiong Muntilan, Minggu (4/2/2024).

Foto yang diserahkan oleh MWC NU Muntilan untuk kelenteng tersebut terus ditempatkan di salah satu ruangan. Ruangan tempat foto Gus Dur juga dijadikan tempat berdoa. Kemudian juga diberikan sesajen.


“Apalagi kan Gus Dur termasuk Bapak Tionghoa di Indonesia. Kita menghormati, kita ngasih altar untuk kalau mau berdoa di situ boleh, cuma itu aja tujuannya,” sambung Budi.

Budi menambahkan, bahwa yang berdoa di sini tak hanya orang Tionghoa, namun masyarakat umum juga berdoa di sini.

Kelenteng Hok An KiongKelenteng Hok An Kiong Foto: Website Bapeddalitbang Surabaya

Kemudian sesaji yang berada di meja altar bawah foto Gus Dur berupa buah-buahan. Buah-buahan yang untuk sesaji terdiri lima unsur.

“Kalau kita kan di sini kan upacara, kita ambil pakai buah. Lima macam buah, yaitu ya apel, jeruk, pisang, ya segala boleh asal lima unsur. Nggak tiap hari (diganti), tiap tanggal 1 sama tanggal 15 purnama (diganti). Pas bulan-bulan itu kita mempersembahkan ganti, semua diganti semua,” kata dia.

Selanjutnya, menjelang datangnya Imlek sudah menjadi tradisi di kelenteng tiap tahun ada pembersihan, jeng dun atau bersih-bersih altar. Bersih-bersih altar dilakukan dalam kepercayaan mereka setelah para dewa naik menuju surga.

“Jadi kemarin, kita mengadakan upacara kenaikan patung-patung ke naik surga. Hari ini kosong. Jadi kita masih bisa membersihkan patung-patung yang kita sembah. Nanti kira-kira 5 hari lagi, kita juga upacara sembahyang, turunnya dewa-dewa lagi,” ujar Budi.

“Kita juga memohon nanti kalau sudah turunnya dewa-dewa itu, memohon pada sang dewa supaya nanti kebetulan pas mau pemilihan umum supaya aman, tentram, tidak ada masalah. Kita juga bisa milih pemimpin yang bijak, yang baik untuk negara kita. Ya tujuannya cuma itu aja,” katanya.

Ada 63 patung untuk ritual tolak bala, kata Budi. Adapun tuan rumah di kelenteng Hok An Kiong adalah Dewa Bumi.

“Di sini banyak rupang-rupang seperti Dai Shui, Dai Shui, itu mungkin di lain tempat nggak ada, yang ada di Indonesia cuma kita. Dai Shui itu yang banyak sekali. Itu 63, itu kan satu untuk ritual ciswak, ciswak tolak bala,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di detikjateng

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Keindahan Candi Borobudur Tak Cuma buat Wisata, tapi Juga Pernikahan



Magelang

Keindahan kompleks Candi Borobudur tak hanya bisa buat berwisata, traveler juga bisa memanfaatkannya jadi venue pernikahan.

Pernikahan Shah Sema Amukti dan Najla Adjani Mahendra baru-baru ini berlatar belakang indahnya candi Borobudur. Acara pernikahan itu pun jadi perhatian wisatawan lokal dan mancanegara

Pernikahan yang sarat dengan adat Jawa itu dimulai dengan kirab pasukan bregodo berbusana merah. Prosesi dilanjutkan dengan kirab tiga kereta kencana yang membawa mempelai putri dan orangtua kedua mempelai.


Mempelai pria, Shah Sema Amukti, tampil gagah menunggang kuda menuju lokasi ijab kabul di Taman Lumbini. Prosesi ini tak hanya menampilkan kemegahan adat Jawa, tetapi juga berhasil memikat hati para wisatawan yang hadir.

Dani Mukti adalah sosok di balik kesuksesan acara pernikaahn tersebut. Ia adalah seorang pengusaha, selebgram, dan aktris yang membintangi film ‘Gadis Kretek’.

Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun, Dani Mukti dan tim Pengantin Production berhasil menggarap berbagai pernikahan mewah, termasuk pernikahan keluarga kraton kesultanan Yogyakarta dan putra bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, dengan Erina Gudono.

“Menggelar acara di tempat terbuka memang menantang. Kami harus memastikan setiap tamu merasa nyaman dan seluruh prosesi berjalan lancar,” ujar Dani Mukti, Selasa (25/6/2024).

Menikah di Candi BorobudurMenikah di Candi Borobudur Foto: (dok. Istimewa)

Tantangan utama bagi dia adalah membangun fasilitas yang memadai untuk kenyamanan tamu, tanpa mengurangi keindahan dan keagungan Candi Borobudur sebagai latar belakangnya.

Namun pesta pernikahan Shah Sema Amukti dan Najla Adjani Mahendra menjadi bukti, bahwa dengan perencanaan matang dan eksekusi sempurna, acara besar di lokasi ikonik seperti Candi Borobudur dapat terlaksana dengan sukses.

Candi Borobudur memang sudah sering menjadi venue pernikahan. Penyanyi Vicky Shu dan suaminya Ade Imam, menikah di candi ini pada tahun 2017 silam.

Dilansir dari Wolipop, biaya sewa lahan dan event untuk pernikahan di Candi Borobudur bervariasi. Untuk sewa lahan di Taman Lumbini saat Vicky Shu menikah dikenakan biaya Rp 50 juta per hari.

Sedangkan untuk pernikahan yang dilaksanakan di Marga Utama akan dikenakan biaya Rp 40 juta. Apabila acara pernikahan dilaksanakan pada siang hari, maka para tamu akan dikenakan biaya tiket masuk ke Candi Borobudur.

Sedangkan jika pernikahan dilangsungkan di malam hari, maka akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 2,5 juta per jam untuk biaya lampu.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Cerita Air Terjun di Magelang, Konon Jadi Lokasi Legenda Jaka Tarub



Magelang

Di Magelang, Jawa Tengah ada satu air terjun yang dipercaya sebagai lokasi legenda Jaka Tarub bermula. Penasaran dengan ceritanya?

Dikutip dari laman resmi Desa Tlogorejo Magelang, air terjun itu diketahui bernama air terjun Sekar Langit. Nama itu berasal dari bahasa Jawa.

Kata ‘sekar’ berarti bunga dan ‘langit’ yang juga berarti langit dalam bahasa Indonesia. Jika diterjemahkan, sekar langit berarti bunga yang turun dari langit.


Legenda Jaka Tarub di Air Terjun Sekar Langit

Dikutip dari laman resmi Badan Otorita Borobudur, di balik keindahan Air Terjun Sekar Langit yang asri dan sejuk, tersimpan sebuah legenda yang menarik perhatian banyak orang. Legenda ini dikenal sebagai legenda Jaka Tarub.

Konon, di telaga dekat air terjun tersebut, hiduplah seorang lelaki bernama Jaka Tarub. Ia terkenal karena memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Suatu hari, Jaka Tarub melihat para bidadari yang sedang mandi di telaga. Terpesona oleh kecantikan mereka, ia diam-diam mengintip dan mencuri selendang milik salah satu bidadari.

Bidadari tersebut adalah Nawang Wulan. Selendang yang dicuri Jaka Tarub sangatlah penting, karena itulah satu-satunya alat yang memungkinkan para bidadari untuk terbang kembali ke kahyangan.

Tanpa selendangnya, Nawang Wulan terpaksa tinggal di Bumi dan tidak bisa kembali. Dalam pencarian untuk mendapatkan kembali selendangnya, Nawang Wulan bertemu dengan Jaka Tarub.

Alih-alih marah, keduanya akhirnya jatuh cinta dan membangun rumah tangga bersama, melahirkan seorang anak perempuan yang bernama Nawangsih.

Air Terjun Sekar Langit kini menjadi saksi bisu dari kisah cinta Jakatarub dan Nawang Wulan. Banyak wisatawan datang bukan hanya untuk menikmati panorama alamnya yang menawan, tetapi juga untuk mendengarkan kisah yang melegenda ini.

Mitos Awet Muda dan Enteng Jodoh

Masyarakat setempat percaya bahwa air dari Sekar Langit memiliki khasiat khusus, terutama bagi para wanita. Konon, mandi di air terjun ini bisa membuat seseorang awet muda dan enteng jodoh.

Mitos ini menarik wisatawan yang ingin mencoba peruntungan atau sekadar merasakan kesegaran air yang bersumber dari pegunungan di sana.

Lokasi dan Cara Menuju ke Air Terjun Sekar Langit

Air Terjun Sekar Langit terletak di RT 03 RW 01, Desa Tlogorejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Lokasinya kurang lebih 25 kilometer dari pusat Kota Magelang dan bisa ditempuh dengan perjalanan selama 45 menit.

Untuk menuju ke sini, traveler bisa memulai perjalanan dari Alun-Alun Magelang. Ikutilah Jalan Alun-Alun Utara ke arah timur menuju Jalan Ahmad Yani.

Setelah itu, lanjutkan perjalanan dengan mengikuti Jalan Pahlawan dan Jalan Raya Grabag-Magelang hingga mencapai Jalan Sunan Geseng di wilayah Grabag.

Belok kanan ke Jalan Sunan Geseng, dan ikuti jalan tersebut sekitar 3,9 km. Air Terjun Sekar Langit akan berada di sebelah kiri jalan di kawasan Tlogorejo, Grabag, Magelang.

——-

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Wisata Murah di Selo Boyolali dengan View Alam Epik Terbaik



Boyolali

Banyak wisata di Selo, Boyolali yang bisa traveler kunjungi untuk liburan akhir pekan. Sejumlah spot wisatanya menyuguhkan panorama alam asri nan memukau.

Selo terletak di antara Gunung Merapi dan Merbabu. Lokasinya inilah yang membuat kecamatan tersebut dikenal memiliki pemandangan alam mempesona. Temukan sederet objek wisata Selo, Boyolali yang indah dan cantik di bawah ini.

Berikut daftar wisata Selo, Boyolali yang patut dikunjungi

1. New Selo


  • Lokasi: Desa Samiran, Selo, Boyolali.
  • Jam buka: 08.00-19.00.
  • Harga tiket masuk: Rp 10.000 per orang.
  • Tarif parkir: Rp 2.000 (motor) dan Rp 5.000 (mobil).

New Selo menawarkan pemandangan Gunung Merbabu menawan dari kejauhan ditambah udara yang menyejukkan. Saat cuaca cerah, kamu dapat melihat puncak gunung beserta hutan lerengnya yang asri cukup jelas. Pas banget dijadikan spot foto Instagramable.

Menikmati panorama indah paling pas ditemani secangkir minuman dan makanan hangat. Traveler bisa kok memesannya di beberapa warung New Selo sambil nongkrong dan ngobrol bareng teman atau keluarga yang datang bersama.

2. Embung Manajar

  • Lokasi: Dusun III, Desa Samiran, Selo, Boyolali.
  • Jam buka: 24 jam.
  • Harga tiket masuk: Rp 5.000 per orang.
  • Tarif parkir: Rp 3.000 (motor).

Embung Manajar adalah objek wisata waduk di Selo Boyolali. Tempat ini ramai dikunjungi lantaran menyuguhkan panorama pedesaan asri serta beberapa gunung seperti Gunung Merapi dan Merbabu.

Lokasi Embung Manajar berada di dataran cukup tinggi, sekitar 1.700 mdpl. Menjadikannya spot terbaik untuk menyaksikan pemandangan sekeliling yang mempesona.

Tempat wisata ini hanya bisa diakses menggunakan kendaraan roda dua lantaran jalan yang sempit. Pastikan kondisi kendaraan fit untuk dibawa ke Embung Manajar. Atau traveler juga bisa menyewa ojek lokal untuk sampai ke lokasi.

3. Bukit Sanjaya

Bukit Sanjaya BoyolaliBukit Sanjaya Boyolali Foto: Dhianna Puspitasari/d’Traveler
  • Lokasi: Dusun IV, Desa Samiran, Selo, Boyolali.
  • Jam buka: 07.30-17.30.
  • Harga tiket masuk: Rp 10.000 per orang.
  • Tarif parkir: Rp 5.000 (motor) dan Rp 10.000 (mobil).

Di Selo, Boyolali juga ada lho wisata yang mirip Pura Lempuyangan Bali, yaitu Bukit Sanjaya. Traveler dapat berfoto di spot gapura dengan background Gunung Merapi yang cantik. Banyak pula titik foto lainnya yang bagus seperti patung-patung unik lho.

Kalau berminat ke sini, kondisi fisik traveler harus prima karena akses ke atasnya perlu menaiki banyak anak tangga terlebih dahulu. Terdapat sejumlah gazebo untuk duduk-duduk atau istirahat. Kamu bisa juga makan atau jajan di resto dan warungnya. Ada pula homestay jika ingin menginap di Bukit Sanjaya.

4. Merapi Garden Selo

Merapi Garden Selo, BoyolaliMerapi Garden Selo, Boyolali Foto: dok. Instagram @merapigardenselo
  • Lokasi: Dusun IV, Desa Samiran, Selo, Boyolali.
  • Jam buka: 09.00-18.00.
  • Harga tiket masuk: Rp 5.000 per orang.
  • Tarif parkir: Rp 3.000 (motor) dan Rp 5.000 (mobil).

Merapi Garden Selo menyuguhkan hamparan beragam jenis bunga cantik berwarna-warni dengan latar belakang Gunung Merapi. Di sini bisa ditemukan juga ornamen kincir angin, gazebo, dan ayunan. Taman bunga ini cocok banget dijadikan spot foto aesthetic.

Bisa singgah ke D’Garden Cafe kalau ingin menikmati panorama alam lebih lama sambil menyeruput kopi dan makan hidangan lezat lainnya. Aktivitas seperti paralayang, outbond, dan jeep wisata dapat pula direservasi di kafe tersebut.

5. Bukit Gancik

  • Lokasi: Dukuh Selo Nduwur, Dusun I, Selo, Boyolali
  • Jam buka: 24 jam.
  • Harga tiket masuk: Rp 5.000 per orang.
  • Tarif parkir: Rp 3.000 (motor) dan Rp 5.000 (mobil).

Bukit Gancik terletak di kaki Gunung Merbabu. Objek wisata ini menawarkan panorama alam yang asri sekitar dari ketinggian. Traveler bisa berfoto di sejumlah spot yang tersedia. Di sini juga bisa jadi spot bagus menyaksikan matahari terbit lho.

Akses jalan ke lokasi ini menanjak curam. Jika naik motor harus sangat berhati-hati ya. Di samping itu, para pendaki yang akan mendaki Gunung Merbabu bisa melalui jalur Bukit Gancik ini.

6. Wisata Gunung Nganten Desa Lencoh

  • Lokasi: Jl. Magelang-Boyolali, Dusun I, Desa Lencoh, Selo, Boyolali.
  • Jam buka: 24 jam.
  • Harga tiket masuk: Rp 5.000 per orang.
  • Tarif parkir: Rp 3.000 (motor) dan Rp 5.000 (mobil).

Kalau ingin camping low budget di Selo, Boyolali, dapat mengunjungi Wisata Gunung Nganten Desa Lencoh. Area yang cukup luas ditambah view Gunung Merapi memukau benar-benar daya tarik camping ground satu ini.

Kamu bisa menyewa tenda yang sudah dipasang sekitar Rp 100.000 saja. Traveler dapat mengajak keluarga atau teman untuk camping di sini.

7. Bukit Kinasih

  • Lokasi: Dusun I, Desa Senden, Selo, Boyolali
  • Jam buka: 24 jam.
  • Harga tiket masuk: Rp 5.000 per orang.
  • Tarif parkir: Rp 3.000 (motor) dan Rp 5.000 (mobil).

Lagi-lagi spot foto epic di Selo, Boyolali, yaitu Bukit Kinasih. Dari bukit, kamu dapat melihat panorama alam asri yang terhampar di sekelilingnya. Kalau ingin naik ke atas bisa trekking tipis-tipis, menaiki sepeda, atau mengendarai motor. Namun, pastikan tubuh serta kendaraan dalam kondisi prima untuk menanjaknya.

8. Desa Wisata Samiran

  • Lokasi: Dusun IV, Desa Samiran, Selo, Boyolali
  • Jam buka: 24 jam atau bergantung paket wisata yang diambil.
  • Harga tiket masuk: gratis.
  • Tarif parkir: Rp 3.000 (motor) dan Rp 5.000 (mobil) atau bergantung homestay atau penginapan yang dipilih.

Desa Wisata Samiran atau yang terkenal dengan sebutan Dewi Sambi bisa jadi tujuan wisata di Selo, Boyolali. Pengelola desa menawarkan paket wisata unik, mulai dari soft tracking dan hard tracking ke Gunung Merapi serta Merbabu, tour wisata ke seluruh area Selo, berburu sunrise, hingga aktivitas outbond maupun edukasi.

Kalau ingin bermalam di desa wisata ini mudah kok. Terdapat deretan homestay di sepanjang jalannya dengan harga sewa terjangkau. Desa Wisata Samiran sangat cocok menjadi tempat healing dengan suasana rileks dan udara sejuk.

9. Simpang Paku Buwono VI

  • Simpang PB VI di Selo, Boyolali. (Jarmaji/detikJateng)
  • Lokasi: Jl. Blabak-Boyolali, Desa Samiran, Boyolali
  • Jam buka: 09.00-22.00.
  • Harga tiket masuk: gratis.
  • Tarif parkir: gratis.

Simpang Paku Buwono VI disebut juga dengan Alun-Alun Selo. Lokasi ini tak kalah indah dari spot wisata lainnya nih, karena traveler dapat menyaksikan view Gunung Merapi yang jelas dari sana jika cuacanya cerah.

Di sekitar lokasi kamu dapat menyewa sepeda listrik untuk berkeliling, menunggang kuda, maupun menaiki delman. Kalau perut keroncongan, banyak pedagang makanan yang menjajakan berbagai menu enak-enak lho.

10. Omah Kita Selo

Omah Kita SeloOmah Kita Selo Foto: dok. Instagram @omahkitaselo
  • Lokasi: Citakan, Desa Samiran, Selo, Boyolali
  • Jam buka: Setiap hari, 10.00-19.00
  • Harga tiket masuk: gratis.

Omah Kita menyediakan penginapan dan kafe untuk nongkrong. Ada sejumlah kamar yang dapat direservasi kalau minat bermalam di sini. Tarif sewanya pun terjangkau, sekitar Rp 400.000-600.000 per malamnya. Dari sini traveler bisa menikmati view Gunung Merapi beserta pedesaan dan hutan di lerengnya.

Di kafenya terdapat banyak menu lezat yang siap mengganjal perut keroncongan. Tersedia ramen katsu, nasi cumi goreng, hingga makanan ringan seperti otak-otak. Kalau datang rombongan, bisa pesan paket sukiyaki steambot untuk menghangatkan tubuh di suhu Selo yang sejuk.

(sym/wsw)



Sumber : travel.detik.com

7 Wisata Populer di Muntilan Magelang, Tempat Syuting Gadis Kretek



Muntilan

Muntilan merupakan kecamatan kecil di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Punya banyak destinasi, Muntilan bisa jadi rekomendasi liburan di akhir pekan.

Muntilan memiliki keindahan alam yang beragam, berada di lereng Gunung Merapi membuat tanahnya subur akibat hujan abu vulkanik. Tak cuma alam, budaya dan kultur dari zaman raja-raja pun mengakar di sini.

Peninggalan demi peninggalan ditemukan di Muntilan, jejak leluhur membuat namanya kuat sebagai salah satu kota budaya. Bergulirnya waktu semua itu menjadi atraksi wisata edukasi yang populer.


Baru-baru ini Muntilan menjadi pencarian liburan teratas di berbagai platform setelah muncul sebagai latar dalam serial Netflix yang berjudul ‘Gadis Kretek’. Tempat syutingnya pun diburu sebagai destinasi wisata.

Ini 7 Rekomendasi wisata populer di Muntilan:

1. Pasar Kayu Muntilan

Pasar Kayu Muntilan Kini Jadi Destinasi Wisata Karena Gadis KretekPasar Kayu Muntilan Kini Jadi Destinasi Wisata Karena Gadis Kretek Foto: Lintia Elsi

Destinasi yang satu ini viral baru-baru ini setelah serial Gadis Kretek tayang. Diketahui bahwa Pasar Kayu Muntilan merupakan salah satu tempat syuting dari Gadis Kretek yang mana dijadikan sebagai pasar jadul.

Di sini masih bisa dilihat beberapa properti syuting yang belum dilepas para penjual kayu, diantaranya adalah papan nama warung dan poster Kretek Merah. Sekarang banyak pengunjung yang datang untuk berfoto di spot-spot ini.

Pasar Kayu Muntilan terletak di komplek pasar kayu, Jumleng, Tamanagung, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

2. Candi Ngawen

Bangunan candi peninggalan wangsa Syailendra di wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, bukan hanya Candi Borobudur. Ada juga Candi Ngawen, yang patut untuk dikunjungi pula.Bangunan candi peninggalan wangsa Syailendra di wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, bukan hanya Candi Borobudur. Ada juga Candi Ngawen, yang patut untuk dikunjungi pula. Foto: Eko Susanto/detikJateng

Candi Ngawen merupakan candi Buddha peninggalan Dinasti Syailendra yang terletak di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Candi ini ditemukan pada masa kolonial Belanda sekitar tahun 1927.

Candi Ngawen terdiri dari lima candi yang berjejer sama rata dan menghadap arah timur, namun dari kelima candi tersebut hanya candi II yang masih berdiri utuh, empat lainnya hanya berupa sisa kaki-kaki candi.

Uniknya di Candi Ngawen ini terdapat empat patung singa yang terletak di sudut-sudut kaki candi.

Candi Ngawen bisa dikunjungi setiap hari jam 08.00 – 16.00 WIB dengan tiket masuk seharga Rp 3.000 saja.

3. Klenteng Hok An Kiong

Perayaan Imlek tahun ini digelar di masa pandemi COVID-19. Guna cegah Corona, warga keturunan Tionghoa berdoa di klenteng dengan terapkan protokol kesehatan.Perayaan Imlek tahun ini digelar di masa pandemi COVID-19. Guna cegah Corona, warga keturunan Tionghoa berdoa di klenteng dengan terapkan protokol kesehatan. Foto: Pius Erlangga/Detikcom

Satu lagi wisata religi yang ada di Muntilan adalah Klenteng Hok An Kiong, klenteng ini merupakan klenteng tua yang sudah ada sejak tahun 1878. Lokasinya ada di pusat kota Muntilan, tepatnya di Jalan Pemuda No. 100, Balerejo, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.

Komplek klenteng ini memiliki bangunan utama yang berfungsi sebagai tempat peribadatan yang terdiri dari dua ruang doa. Selain bangunan utama, di sini juga ada kantor dan ruang pertemuan.

Klenteng Hok An Kiong memiliki hio lo terbesar di Asia Tenggara yang dibuat pada tahun 2002. Hio lo ini terbuat dari perunggu dengan panjang 158 cm, diameter 188 cm, dan berat 3,8 ton.

4. Museum Misi Muntilan

Muntilan dikenal dengan julukan Betlehem van Java. Hal ini karena besarnya pengaruh dari Romo van Lith, pastor dari Belanda yang menyebarkan agama Katolik di Jawa. Ia menjadi tokoh penting atas berdirinya Gereja Santo Antonius dan Sekolah Pangudi Luhur Van Lith. Gereja dan Sekolah ini berada dalam satu kompleks, yaitu Kompleks Misi Muntilan. Di sini juga berdiri Museum Misi Muntilan yang menyimpan kisah perjalanan dan peninggalan jejak penyebaran agama Katolik, khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta.Muntilan dikenal dengan julukan Betlehem van Java. Hal ini karena besarnya pengaruh dari Romo van Lith, pastor dari Belanda yang menyebarkan agama Katolik di Jawa. Ia menjadi tokoh penting atas berdirinya Gereja Santo Antonius dan Sekolah Pangudi Luhur Van Lith. Gereja dan Sekolah ini berada dalam satu kompleks, yaitu Kompleks Misi Muntilan. Di sini juga berdiri Museum Misi Muntilan yang menyimpan kisah perjalanan dan peninggalan jejak penyebaran agama Katolik, khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Foto: Lintia Elsi

Berbeda dari museum biasanya, Museum Misi Muntilan ini berdiri khusus di bawah kepemilikan Keuskupan Agung Semarang untuk menyimpan sejarah dan peninggalan penyebaran agama Katolik di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Museum ini berada dalam Komplek Misi Muntilan yang di dalamnya juga ada Gereja Santo Antonius dan Sekolah Pangudi Luhur Van Lith. Romo van Lith menjadi tokoh penting dari adanya komplek ini, sehingga patungnya dibangun di depan museum ini.

Museum Misi Muntilan berlokasi di Jalan Kartini No.3, Balemulyo, Muntilan, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Pengunjung bisa masuk secara gratis dan nantinya akan ditemani staf museum yang akan memberikan tur singkat.

5. Makam Gunungpring

Jika kamu menyukai wisata religi, maka tempat yang satu ini bisa kamu kunjungi saat di Muntilan. Namanya Makam Gunungpring, komplek pemakaman tokoh-tokoh ulama Jawa Tengah seperti Kyai Raden Santri, KH. Abdurrohman, KH. Dalhar, Kyai Krapyak Kamaludin, dan yang lainnya.

Komplek pemakaman ini terletak di atas bukit dengan ketinggian 400 mdpl, sehingga untuk mencapai makam, pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga terlebih dahulu. Di sepanjang sisi tangga terdapat toko-toko yang menjual makanan, pernak-pernik, pakaian, dan oleh-oleh.

Komplek pemakaman ini juga sudah dilengkapi dengan fasilitas toilet, mushola, warung makan, dan tempat beristirahat. Makam Gunungpring ini bisa dikunjungi kapan saja tanpa dipungut biaya, letaknya di Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

6. Taman Seribu Cinta

Taman Seribu Cinta, MagelangTaman Seribu Cinta, Magelang Foto: Eko Susanto/detikcom

Taman Seribu Cinta ini terletak di perbatasan antara Kecamatan Muntilan dan Kecamatan Salam, di tepi aliran Kali Blongkeng. Dulunya di sini merupakan tempat pembuangan sampah yang kumuh.

Di satu sisinya terdapat tebing yang bertuliskan “Welcome to Muntilan Adipura”. di sisi lainnya ada taman bertingkat penuh bunga warna-warni dan spot-spot berbentuk love. Di sini juga disediakan tempat duduk untuk menikmati aliran kali yang jernih dan tenang.

Taman Seribu Cinta ini bisa diakses secara gratis, pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir saja.

7. Javanica Park

Javanica Park merupakan tempat wisata yang menggabungkan suasana alam dengan nuansa Bali. Terletak di Jalan Javanica Nomor 8 Sabrangs, Muntilan, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Javanica Park menawarkan konsep kedai dengan beragam spot selfie.

Ada beberapa aktivitas yag bisa dinikmati oleh pengunjung yaitu kolam renang, gazebo dan wisata kuliner. Pengunjung bisa masuk ke tempat wisata ini dengan membayar biaya sukarela. Jika ingin berenang akan dikenakan biaya Rp 3.000 per orang.

(bnl/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Sukses Ngargogondo Bersama Pegadaian



Jakarta

Desa Ngargogondo di lereng Gunung Menoreh, Magelang, Jawa Tengah, tidak hanya menyublim menjadi desa wisata, namun menjadi penanda lahirnya perubahan. Desa binaan Pegadaian itu melengkapi dengan pertanian organik, UMKM hijau, dan tata kelola yang berpihak pada warga.

Pemandangan mewah sebuah desa disuguhkan Desa Ngargogondo. Sebuah amfiteater dan pendopo yang cukup luas menjadi sajian Balkondes Ngargogondo The Gade Village. Juga, lapangan bola komplet dengan jogging trek di sekelilingnya menjadi poin plus desa yang berjarak sekitar 2,5km dari Candi Borobudur itu.

Area itu semakin menyenangkan dengan pohon kelengkeng. “Kalau pas panen, wisatawan bisa menikmati kelengkeng. Warga akan membuka warung kelengkeng di sekitar balkondes atau balai ekonomi desa,” kata Aryan Subekti, 42, pengelola Balkondes Ngargogondo, dalam perbincangan dengan detiktravel, Selasa (30/9/2025).


Musim kelengkeng itu datang pada periode ini. Nah, akhir pekan lalu, Desa Ngargogondo The Gade Village mereka yang mengikuti Borobudur Jemparingan Festival atau festival panah tradisional bisa menikmati kelengkeng berkilo-kilo di sana.

Andalan lain dari kebun warga di Desa Ngargogondo adalah singkong, pepaya, dan cabai. “Yang istimewa cabai. Cabai yang kami hasilkan ini cabai organik. Pupuknya organik, pengolahan tanahnya kami upayakan tanpa bahan kimia,” kata Aryan.

Balkondes Ngargogondo The Gade VillageBalkondes Ngargogondo The Gade Village (dok. Balkondes Ngargogondo The Gade Village)

Aryan menceritakan bahwa pertanian organik cabai ini merupakan hasil pendampingan dari Pegadaian. Bukan hanya penanaman cabai, namun mulai dari pembuatan pupuk organik.

“Dari Pegadaian mendampingi kelompok tani di desa Ngargogondo dengan pembuatan pupuk organik. Itu dimulai sejak 2022. Semua proses, mulai dari pembuatan pupuk, praktik menanam, kemudian disewakan lahan oleh Pegadaian untuk menanam cabai. Kami jamin, cabai dari Desa Ngargogondo adalah produk cabai organik,” kata Aryan.

Untuk menjadikan Desa Ngargogondo memiliki pembeda sebagai penghasil pertanian organik itu, Aryan mengatakan, Pegadaian menggandeng asosiasi atau komunitas yang menghimpun petani, nelayan, pelaku UMKM, akademisi, dan swasta Intani, juga bekerja sama dengan perguruan tinggi Universitas Jenderal Soedirman.

“Kerja sama itu termasuk untuk membangun demplot, uji pupuk, sertifikasi untuk kelompok petani untuk pembuatan pupuk. Harapannya kampung kami bisa jadi desa produsen tanaman pangan organik dan jangka panjangnya mendukung program untuk ketahanan pangan. Program ini juga sekaligus cara Pegadaian mengEMASkan Indonesia. Buat kami program ini menjadi cara mengurangi pembelian pupuk kimia,” kata Aryan.

Bagi Aryan dan warga Desa Ngargogondo, pertanian organik dulu terasa mustahil. Mereka hanya melihat kisah sukses petani organik lewat televisi, berita, atau media sosial. Sebelum 2018, desa yang terletak di kaki Bukit Menoreh itu mayoritas dihuni petani sawah tadah hujan, dengan keterbatasan sumber air karena sedikitnya mata air di sekitar perbukitan.

“Dulu tiap musim kemarau kami terkendala air. Dulu, 80-90 persen penduduk berprofesi sebagai petani, petani sawah tadah hujan,” kata Aryan.

Balkondes Ngargogondo The Gade VillageBalkondes Ngargogondo The Gade Village (dok. Balkondes Ngargogondo The Gade Village)

Aryan menjelaskan bahwa pendapatan Desa Ngargogondo terus meningkat setelah mendapat pembinaan dari Pegadaian. Seiring berjalannya waktu, jumlah tamu dan acara di Balkondes Ngargogondo terus bertambah. Jika semula pada 2020 cuma ada 32 event dan 5.747 orang serta menjadi 70 event dan 8.026 orang pada 2024. Pada 2020, desa itu hanya memperoleh sekitar Rp 26 juta, namun dalam beberapa tahun naik pesat hingga mencapai Rp 229 juta.

Dia pun menyadari, sebagai pengelola Balkondes, laporan keuangan harus disajikan secara transparan. Transparansi inilah yang menjadi salah satu pilar penting dalam penerapan ESG (Environmental, Social, and Governance).

“Dengan pendapatan ini, kas desa otomatis meningkat. Warga juga jadi memiliki pendapatan lain,” ujar Aryan.

Bermula dari Tanah Bengkok

Dalam tujuh tahun terakhir ini, mata pencaharian warga Desa Ngargogondo masih sama. 80-90 persen petani, petani tadah hujan. Namun, kini mereka tidak lagi hanya mengandalkan pemasukan dari bertani tadah hujan itu.

“Ada pendapatan lain. Selain dari cabai organik itu, kami lebih dulu dibukakan pintu melalui balkondes. Balkondes Ngargogondo The Gade Village ini,” kata Aryan.

Aryan menjelaskan semua itu bermula pada 2018. Saat itu, BUMN untuk memberikan bantuan balkondes untuk 20 desa di Borobudur, program satu desa satu balkondes. Nah, Desa Ngargogondo salah satunya. Oleh BUMN, adalah Pegadaian yang ditugaskan untuk mendampingi desa Ngargogondo. Peresmian dilakukan oleh Menteri BUMN Rini Soemarno dan Direktur Utama PT Pegadaian Sunarso.

“Dulu, ini tanah bengkok desa. Dulu ilalang, enggak menghasilkan. Luasnya 3.500 meter persegi. Kemudian, dialihkan menjadi balkondes. Istimewanya, ada lapangan di sebelah balkondes ini,” kata Aryan.

Balkondes Ngargogondo The Gade VillageMushola di Balkondes Ngargogondo The Gade Village (dok. Balkondes Ngargogondo The Gade Village)

Sementara itu, Reggy Nouvan, ESG Spesialis PT Pegadaian, mengatakan bahwa Pegadaian menempatkan pembangunan desa wisata sebagai bagian dari tanggung jawab sosial korporasi (CSR) dan strategi pemberdayaan ekonomi lokal.

“Pilihan lokasi Ngargogondo didasarkan pada potensi kultural, lingkungan, dan peluang ekonomi masyarakat setempat untuk dikembangkan menjadi destinasi pariwisata yang inklusif. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesejahteraan warga, menciptakan mata pencaharian alternatif (ekonomi pariwisata), serta memperkuat reputasi Pegadaian sebagai BUMN yang berkontribusi pada pembangunan daerah berkelanjutan,” kata Reggy.

Reggy sekaligus menyampaikan bahwa Desa Ngargogondo disiapkan sebagai desa yang ramah lingkungan. Strategi yang disiapkan untuk mewujudkannya antara lain dengan desain dan pembangunan berkelanjutan, yakni memprioritaskan material lokal, arsitektur yang sesuai kearifan lokal, dan minim dampak lingkungan.

Kemudian, pengelolaan jejak lingkungan dengan mengadopsi praktik pengelolaan air, energi, dan limbah yang efisien. Lantas, menggandeng komunitas dan menggelar pelatihan untuk pengelola dan masyarakat agar menjalankan operasional yang berwawasan lingkungan.

“Kami juga menggandeng pihak ketiga, mulai dari akademisi, NGO, dan mitra teknis untuk menerapkan praktik ramah lingkungan,” kata dia.

Reggy juga mengatakan Desa Ngargogondo mengedepankan tata kelola yang melibatkan BUMDes dan kolaborasi dengan Pegadaian, pemerintah daerah, dan masyarakat lokal.

“Penciptaan lapangan pekerjaan untuk warga lokal juga oke sejauh ini. Ada warga yang mengelola secara penuh dan warga yang direkrut secara kasual tiap ada event besar berjalan dengan baik,” kata Reggy.

Aryan mengatakan saat ini ada lima orang yang mengelola Balkondes Ngargogondo. “Tetapi, kami juga menggunakan sistem kasual warga sesuai kebutuhan. Kalau sedang banyak tamu, kami rekrut warga, baik itu ibu-ibu, bapak-bapak, pemuda desa, sampai Gen Z, kami ajak bergabung,” kata dia.

Fasilitas di Balkondes Ngargogondo The Gade Village

Balkondes Desa Ngargogondo The Gade Village memiliki berbagai fasilitas untuk menunjang kenyamanan pengunjung. Selain dua pendopo besar dengan kapasitas 300 orang, balkondes ini juga memiliki amfiteater dengan kapasitas 80 penonton, homestay, toilet, musala, serta lapangan dengan lintasan jogging.

“Di sini juga langganan buat festival, event running, wedding. Sudah ada yang booking untuk wedding sampai Januari,” kata Aryan.

Selain itu, balkondes ini memiliki restoran dan 17 kamar, yang terdiri dari 5 kamar dengan double bed, 3 kamar dengan twin bed, serta 3 family room yang masing-masing memiliki tiga kamar.

Balkondes Ngargogondo The Gade VillageAmfiteater Balkondes Ngargogondo The Gade Village (dok. Balkondes Ngargogondo The Gade Village)

Tarif penginapan per malamnya adalah Rp 500 ribu untuk kamar double dan twin, serta Rp 1,5 juta untuk kamar family. Setiap kamar telah dilengkapi dengan AC, TV, air panas, dan sarapan.

“Semoga Balkondes Ngargogondo The Gade Village ini menjadi satellite destination yang memperkaya pengalaman pengunjung Borobudur dengan atraksi budaya dan ekowisata lokal,” ujar Reggy.

“Selain itu, juga menyediakan rute wisata terpadu yang memperpanjang durasi tinggal wisatawan di wilayah, sehingga mendatangkan manfaat ekonomi lebih besar ke komunitas setempat, serta meningkatkan kapasitas pemasaran regional dan kerja sama lintas-stakeholder untuk memaksimalkan nilai tambah pariwisata berkelanjutan,” kata Reggy.

Reggy menambahkan Pegadaian juga mengintegrasikan literasi keuangan dengan pengembangan desa wisata, di antaranya mengenalkan produk-produk seperti Pegadaian tabungan emas, khususnya bagi pelaku UMKM dan pekerja sektor pariwisata.

Dengan cara itu, masyarakat desa wisata tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan wisata, tetapi juga memiliki sarana finansial yang berkelanjutan untuk menghadapi risiko di masa depan untuk mewujudkan misi PT Pegadaian #mengEMASkan Indonesia.

(fem/ddn)



Sumber : travel.detik.com