Tag Archives: makam

Asal Usul Kaca, Pernah Jadi Aksesoris Makam Raja Mesir



Jakarta

Kaca saat ini merupakan barang biasa yang kamu temukan di mana saja, seperti gelas, jendela, pintu, dan lain sebagainya. Kaca adalah bahan padat organik yang biasanya transparan atau tembus cahaya namun keras.

Kaca dibuat dengan mendinginkan bahan-bahan cair seperti pasir silika dengan kecepatan yang cukup untuk mencegah pembentukan kristal yang terlihat. Pada awalnya, kaca merupakan barang yang sangat berharga bagi para raja.

Dilansir dari Smithsonian Magazine, Senin (21/10/2024), ribuan tahun lalu firaun Mesir Kuno mengelilingi diri mereka dengan berbagai benda, termasuk yang berbahan kaca, bahkan saat meninggal. Makam Raja Tutankhamen menyimpan palet tulis dekoratif dan dua sandaran terbuat dari kaca padat.


Nah, berikut ini adalah informasi lebih lanjut terkait asal usul kaca.

Sejarah Kaca

Melansir Britannica, sejarah kaca sebagai seni kreatif yang ditentukan oleh kemajuan teknis dalam pembuatanya. Kaca pertama kali dibuat sejak zaman dahulu kala, tetapi asalnya masih belum jelas.

Manik-manik kaca Mesir merupakan benda kaca paling awal yang diketahui yaitui sekitar 2500 SM. Kemudian dalam peradaban Mesir, jenis kaca yang ditandai dengan pola benang berwarna seperti bulu atau zig-zag pada permukaan wadah kaca dibuat.

Asal muasal kaca modern adalah di Alexandria pada masa Ptolemaik dan di Roma Kuno. Para pengrajin Alexandria menyempurnakan teknik yang dikenal sebagai kaca mosaik yang terdiri dari potongan-potongan kaca dengan warna berbeda yang dipotong melintang.

Kaca millefiori yang potongan-potongan kacanya dipotong sedemikian rupa sehingga menghasilkan desain yang menyerupai bentuk bunga, merupakan salah satu jenis kaca mosaik.

Kaca cetak juga dikembangkan lebih awal. Pembuatannya, kaca ditekan ke dalam cetakan untuk membentuk bentuk tertentu. Berbagai jenis dekorasi yang melibatkan ukiran dan warna juga dimungkinkan.

Perkembangan besar berikutnya dalam sejarah kaca terjadi pada abad ke-15 di Venesia. Sejak abad ke-13, pulau Murano di Venesia menjadi pusat pembuatan kaca.

Pada awalnya, para pembuat kaca Venesia memanfaatkan banyak teknik dekoratif kuno dan abad pertengahan untuk menghasilkan karya-karya berwarna dan ornamen yang kaya dengan motif khas Renaisans Italia.

Akhir abad ke-17 hingga ke-20, Bohemia menjadi daerah penghasil kaca yang penting. Pada abad ke-17, Inggris membuat kaca dalam tradisi Venesia yang terkenal karena kesederhanaannya.

Sekitar tahun 1675, pembuat kaca George Ravenscroft menemukan bahwa penambahan timbal oksida ke kaca jenis Venesia menghasilkan kaca yang lebih pada dan berat.

Pada periode Art Nouveau, terjadi beberapa perubahan penting. Louis Comfort Tiffany menciptakan kaca favrile dengan bentuk mengalir yang berasal dari bentuk-bentuk alami dan permukaan yang berkilau.

Hingga saat ini, perkembangan pada kaca tidak hanya digunakan untuk seni atau aksesoris saja. Barang-barang rumah tangga banyak dijumpai yang dibuat dari bahan dasar kaca, seperti gelas, pintu, dan lain sebagainya.

Ketahanan dan fungsi yang dimiliki juga memiliki perkembangan, seperti kaca untuk aquarium yang memiliki ketahanan dan ketebalan yang sangat tinggi.

(abr/abr)



Sumber : www.detik.com

8 Ciri Rumah yang Sebaiknya Tidak Dibeli, Jangan Sampai Nyesal!


Jakarta

Sebelum membeli rumah sebaiknya kamu memerhatikan beberapa hal dulu, seperti lokasinya, bangunannya, dan lainnya. Hal itu karena membeli rumah merupakan sebuah hal yang besar karena merupakan aset dengan nilai tinggi.

Maka dari itu, kamu harus hati-hati sebelum membelinya agar tidak menyesal kemudian hari. Jangan sampai sudah susah-susah beli rumah malah merugikan.

Lalu, seperti apa ciri-ciri rumah yang sebaiknya tidak dibeli? Yuk, simak penjelasan berikut ini.


Ciri-ciri Rumah yang Tidak Cocok Dibeli

1. Rumah Butuh Banyak Renovasi

Pengamat Properti sekaligus Direktur PT. Global Asset Management, Steve Sudijanto mengatakan hal pertama yang harus diperhatikan saat membeli rumah adalah kondisi fisik rumah yang akan dibeli. Spesifikasi bangunan harus layak dan dapat memenuhi kebutuhan calon pembeli.

“Pertama yang perlu dianalisa itu faktor kondisi fisik dari kavling rumah tersebut, nanti dibangunnya akan seperti apa, dan spesifikasi seperti apa. Kalau beli rumah bekas, dari fisik yang dilihat struktur bangunan, apakah masih bagus nggak,” ujar Steve kepada detikProperti beberapa waktu lalu.

Calon pembeli harus menilai kondisi fisik rumah mulai dari plafon genteng, septic tank, struktur bangunan, adanya rayap, sirkulasi udara, hingga pencahayaan alami. Kamu bisa mengajak mandor, arsitek, atau ahli lainnya untuk membantu menilai rumah.

Selain itu, kamu juga perlu menentukan estetika rumah sudah sesuai seleramu. Kondisi rumah tidak harus sempurna, tetapi kamu harus menganggarkan biaya perbaikan kalau jadi beli. Steve menyarankan agar tidak membeli rumah yang biaya renovasinya akan lebih dari 30% harga beli rumah.

2. Aksesibilitas dan Sarana Transportasi Sulit

Selanjutnya, calon pembeli perlu survei lingkungan untuk melihat aksesibilitas dan ketersediaan transportasi umum di sekitar perumahan. Misalnya akses masuk dari titik jalan tol, stasiun KRL, hingga stasiun bus. Ia tidak menyarankan membeli rumah yang tidak strategis, yakni lokasinya jauh dari tempat umum.

3. Lokasi Rawan Banjir

Lalu, Steve tidak merekomendasikan rumah yang lokasinya rawan banjir. Sebab, banjir merupakan masalah yang bisa membebani biaya perawatan rumah.

“Banjir itu memang momok, kalau kita beli rumah yang kebanjiran setiap tahun atau tiga tahun sekali atau apapun frekuensinya itu juga akan membebani kita dari segi biaya harus membersihkan, mengecat ulang, dan memperbaiki,” jelasnya.

4. Kawasan Rawan Kriminalitas dan Kerusuhan

Calon pembeli harus riset keamanan dan ketertiban masyarakat di kawasan itu. Jangan beli rumah yang sering ada perampokan, pencurian, hingga begal. Selain itu, sebaiknya menghindari daerah yang kerap terjadi demonstrasi karena mengganggu perjalanan.

“Karena kalau bikin macet kita mau ke domisili rumah kita kan juga menghambat, biasanya di daerah-daerah industri kadang-kadang ada terjadi demo nggak bisa dihindari atau di daerah-daerah yang harus melewati kantor pemerintahan itu biasanya juga bisa terjadi hal itu,” jelasnya.

5. Utilitas Belum Lengkap

Jangan beli rumah yang utilitasnya belum lengkap, seperti belum ada aliran air bersih dan pasokan listrik. Lalu, hindari rumah yang pengelolaan lingkungannya belum memadai, seperti pengelolaan limbah sampah hingga irigasi pembuangan air.

6. Kepemilikan Rumah Tidak Jelas

Faktor yang tidak kalah penting adalah kejelasan kepemilikan rumah yang dibuktikan melalui surat-surat penting. Jangan beli rumah dari developer atau penjual yang tidak menyerahkan akta jual beli (AJB), persetujuan bangunan gedung (PBG), dan dokumen penting lainnya.

Kamu juga perlu mengecek keaslian dokumen dan kebenaran akan kepemilikan properti. Jangan sampai hak guna bangunan (HGB) belum dipecah atau properti ternyata masih sengketa.

“Kalau udah sengketa itu penyelesaian hukumnya panjang. Kalau tanah itu diklaim oleh penduduk atau pihak lain, kalau menurut saya kalau sudah sengketa itu tanah yang cacat,” tuturnya.

7. Lokasi Tidak Sehat

Jangan membeli rumah yang lingkungannya tidak sehat untuk ditinggali. Misalkan rumah berada terlalu dekat melewati garis aman dengan saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET). Steve mengatakan SUTET menimbulkan induksi yang bisa berdampak buruk terhadap orang sekitar.

8. Sulit Dijual Kembali

Rumah tak sekadar tempat tinggal, tetapi juga aset investasi. Oleh karena itu, kamu harus mempertimbangkan nilai jual kembali rumah. Jangan beli rumah yang nilainya tidak bertambah dengan signifikan serta susah dijual kembali.

Misalkan membeli rumah yang berada dekat kuburan. Pasar properti biasanya kurang berminat dengan rumah dekat makam, sehingga harga jual kembalinya kurang menguntungkan.

Itulah ciri-ciri rumah yang sebaiknya tidak dibeli. Semoga bermanfaat!

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(abr/das)



Sumber : www.detik.com

10 Tempat Staycation di Jakarta Kurang dari Rp 500 Ribuan


Jakarta

Staycation jadi salah satu alternatif liburan bagi mereka yang ingin menikmati waktu santai di tengah kota. Jakarta punya berbagai tempat menginap yang nyaman, strategis, dan fasilitas yang cukup lengkap.

Jangan khawatir, staycation di Jakarta tak melulu harus mahal kok. Dengan budget kurang dari Rp 500 ribu per malam, ada berbagai pilihan tempat menginap yang cocok untuk melepas penat sejenak.

Rekomendasi Hotel Staycation Murah di Jakarta

Dirangkum detikTravel dari website resminya dan beberapa situs agen travel online (13/11/2024), berikut adalah beberapa pilihan tempat staycation di Jakarta kurang dari Rp 500 ribu per malam:


1. Ampera Avenue Residence

  • Harga kamar: Mulai dari Rp 350 ribuan.
  • Alamat: Jl. Ampera I No.1, RT.2/RW.9, Ragunan, Jakarta Selatan.

Ampera Avenue Residence lokasinya ada di kawasan komersial Jakarta Selatan. Kamu bisa staycation di sini sambil menikmati kolam renang outdoor hingga lounge bersama.

Selain dapat akses wifi gratis, setiap kamar di sini juga usah dilengkapi dengan AC. Pembuat kopi dan teh, TV layar datar, kulkas mini., kamar mandi shower, handuk bersih dan peralatan mandi gratis juga termasuk fasilitas yang akan tamu dapatkan jika menginap di sini.

2. 101 URBAN Jakarta Thamrin

  • Harga kamar: Rata-rata mulai dari Rp 358 ribu.
  • Alamat: Jl. Taman kebon Sirih I No.3, RT.10, RW. 10, Kp. Bali, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

1O1 URBAN Jakarta Thamrin menawarkan pemandangan kota Jakarta yang menawan. Selain itu, ada kolam renang atap, bar, restoran,kamar berAC, hingga wifi gratis.

Ada berbagai destinasi terdekat untuk dieksplorasi dari sini. Mulai dari pusat perbelanjaan seperti Grand Indonesia, Monumen Nasional hingga Pasar Tanah Abang.

3. Ghurfati Hotel Mangga Besar

  • Harga kamar: Mulai dari Rp 111 ribu.
  • Alamat: Jalan Mangga Besar IV H No.29, Taman Sari, Jakarta Barat.

Di sini, kamu akan mendapatkan wifi gratis di dalam kamar dan pemandangan kota yang menakjubkan dari teras. Dengan lokasi yang strategis untuk menjelajahi harta budaya Jakarta, ini adalah tempat peristirahatan yang sempurna untuk dua wisatawan.

4. Sentral Cawang Hotel

  • Harga kamar: Mulai dari Rp 300 ribuan.
  • Alamat: Jl. Letjen MT Haryono 9, Jakarta Selatan.

Para tamu yang menginap di Sentral Cawang Hotel akan akses layanan concierge dan layanan kamar selama menginap. Kamar hotel ini juga menawarkan kulkas dan AC di setiap ruangannya.

Akses wifi gratis, kolam renang, dan sarapan juga bisa kamu dapatkan di hotel ini. Lokasinya pun cukup strategis. Beberapa lokasi terkenal terdekat dari hotel ini ada Masjid Perahu (3,9 km) dan Makam Perang Jakarta (4,6 km).

5. Hotel Falatehan Jakarta

  • Harga kamar: Mulai dari Rp 286 ribu.
  • Alamat: Jl. Falatehan I No.26, Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Jenis kamar yang tersedia di hotel ini ada suite, superior, dan deluxe. Fasilitas yang bisa kamu gunakan di hotel ini di antaranya, wifi, parkiran, lift , resepsionis 24 jam.

Menariknya, dari sini kita bisa ke pusat perbelanjaan Pasaraya Blok M dengan 5 menit berjalan kaki. Di jalan Mahakam yang berselang 10 menit jalan kaki dari hotel, kalian juga bisa menemukan berbagai pilihan restoran untuk berkuliner.

6. MK Hotel Jakarta

  • Harga kamar: Mulai dari Rp 317 ribu.
  • Alamat: Jl. Ciledug Raya No.1, RT.9/RW.5, Cipulir, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

MK Hotel Jakarta (sebelumnya bernama Kyriad Metro Kebayoran) memiliki resepsionis dan restoran yang buka 24 jam. Setiap kamar di sini juga sudah dilengkapi dengan AC, TV layar datar, meja kerja dan brankas.

Berbagai fasilitas seperti wifi gratis, mini bar, kolam renang infinity juga bisa kamu nikmati. Selain itu, hotel ini juga menyediakan layanan penitipan bagasi dan layanan concierge.

7. Monolog Hotel Pasar Baru

  • Harga kamar: Mulai dari Rp 305 ribu.
  • Alamat: Jalan KH Samanhudi No.25, Jakarta Pusat.

Kamar di hotel bintang 3 ini berlantai kayu dan dilengkapi dengan AC. Fasilitas kamar termasuk meja kerja, TV layar datar, brankas, kamar mandi dengan pengering rambut, shower air panas dan peralatan mandi gratis.

Selain bisa bersantap di hotel, traveler juga bisa eksplor kuliner, di kedai makanan pinggir jalan dan restoran masakan China yang ada di area sekitar hotel.

Bagi yang ingin berwisata, dari sini kamu bisa 15 menit berkendara ke Kota Tua Jakarta. Menuju Stasiun Kereta Api Gambir dan Monumen Nasional bisa ditempuh sekitar 9 menit dengan berkendara.

8. Leaf Hotel

  • Harga kamar: Rp 179-217 ribu.
  • Alamat: Jl. Mangga Besar IV I No.29, RT.3/RW.5, RT.3/RW.1, Taman Sari, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.

Hotel ini bisa jadi pilihan cocok untuk menginap dengan harga terjangkau tapi tetap nyaman. Meskipun terjangkau, resepsionis 24 jam, wifi, parkir, AC, hingga lift masih bisa kamu dapatkan di sini.

9. Asyana Kemayoran Jakarta

  • Harga kamar: Mulai dari Rp 138 ribu.
  • Alamat: Jl. Bungur Besar Raya No.79-81, Kemayoran, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat.

Asyana Kemayoran Jakarta berlokasi di jantung kota Jakarta. Hotel ini menawarkan 131 kamar modern dan nyaman. Setiap kamarnya sudah dilengkapi dengan area tempat duduk, smart TV, AC, dan meja.

Sekitar 1,3 km kamu bisa mengunjungi Masjid Istiqlal. Monumen Nasional berjarak 2 km dari Asyana Kemayoran Jakarta, sedangkan Museum Nasional Indonesia berjarak sekitar 2,5 km.

10. Hotel Alia Matraman Jakarta

  • Harga kamar: Mulai dari Rp 271 ribu.
  • Alamat: Jl. Matraman Raya No.224, RT.4/RW.6, Bali Mester, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.

Lokasi hotel ini berjarak sejauh 550 meter dari Stasiun Jatinegara. Setiap kamarnya sudah dilengkapi dengan televisi, AC, shower dan peralatan mandi gratis.

Di sini, kamu juga bisa menikmati restoran, kolam renang dan WiFi. Jika jenuh di dalam hotel, kamu bisa berkunjung ke City Plaza Jatinegara (350 meter) atau ke Pasaraya Manggarai (2,3 km).

Harga yang disebutkan bisa berubah sewaktu-waktu. Sebagai catatan, harga yang diiklankan di situs agen travel juga mungkin belum termasuk semua pajak dan biaya lainnya. Namun, kamu juga bisa mendapatkan harga lebih murah jika mendapatkan promo.

Itu tadi berbagai pilihan tempat staycation murah di Jakarta dengan fasilitas yang cukup lengkap. Jadi, apakah traveler udah siap menghabiskan waktu liburan untuk healing sambil staycation?

(khq/row)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Di Balik Makam Keramat Kudus, Ada Kisah Cinta Tak Direstui Putri Sunan Muria



Kudus

Sebuah makam keramat di Desa Kandangmas, Kudus menyimpan kisah cinta sedih dari Putri Sunan Muria yang tak direstui oleh orang tuanya. Seperti apa kisahnya?

Makam di Dusun Masin, Kecamatan Dawe yang dikeramatkan oleh warga setempat itu, dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir Raden Ayu Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku.

Raden Ayu Nawangsih adalah putri dari Sunan Muria. Sementara Raden Bagus Rinangku adalah seorang santri keturunan dari Kerajaan Mataram. Keduanya saling jatuh cinta, namun tak mendapatkan restu kedua orang tua mereka.


Ketua Pengurus Makam Keramat Punden Masin, Sumartono pun menceritakan awal mula sepasang kekasih itu bisa jatuh cinta.

Menurut cerita Sumartono, Raden Bagus ditugaskan oleh Sunan Muria untuk mengawasi padi di sawah. Sedangkan, Raden Ayu sering mengirim makanan kepada Raden Bagus saat menjaga padi di sawah. Dari situlah keduanya jatuh cinta.

“Raden Bagus diberikan pekerjaan oleh Sunan Muria untuk jaga padi di wilayah Muria Selatan atau sekarang Masin. Raden Ayu sering datang untuk mengirim makanan, witing tresno jalaran saka kulino, keduanya jadi tertarik,” kisah Sumartono.

Namun sayang di balik hubungan asmara keduanya, ternyata ada santri dari Pati bernama Cibolek yang naksir Raden Ayu. Tapi sayang, Raden Ayu tidak suka dengan Cibolek karena dia jelek. Raden Ayu pun lebih memilih Raden Bagus.

“Cibolek itu jelek, cebol (kecil) memiliki keinginan untuk mempersunting Raden Ayu. Raden Ayu tidak memperhatikan Cibolek, tetapi yang diperhatikan adalah Raden Bagus,” imbuhnya.

Hubungan antara keduanya diawasi oleh Cibolek. Cibolek diam-diam mengawasi keduanya yang sedang menjalin asmara di sawah. Cibolek lalu melapor ke Sunan Muria bahwa keduanya berpacaran di sawah.

“Mereka dilaporkan Cibolek kepada Sunan Muria, ‘Anak panjengan Raden Ayu tidak sopan, di sawah dia pacaran dengan Raden Bagus’. Akhirnya dibuktikan oleh Sunan Muria. Kenyataannya, mereka pacaran. Akhirnya di rumah diberikan arahan oleh Sunan Muria. Namun mereka tetap menjalin hubungan,” lanjut Sumartono yang sudah belasan tahun menjadi Ketua Pengurus Makam Keramat Masin itu.

Setelah peristiwa itu, Cibolek melihat lagi mereka pacaran di sawah. Cibolek melapor lagi ke Sunan Muria. Dia bilang kepada Sunan Muria, bahwa padinya di sawah dirusak, habis dimakan burung.

Tapi saat Sunan Muria datang melihat padinya, ternyata tidak ada yang rusak. Semuanya masih utuh. Sunan Muria malah murka melihat anaknya yang masih menjalin hubungan dengan Raden Bagus.

Sunan Muria bahkan mengancam akan memanah putrinya sendiri. Nahas, ancamannya itu justru menjadi kenyataan dan dia melepaskan anak panah ke putrinya.

Raden Bagus yang melihatnya dan langsung menghadang anak panah itu. Anak panah itu lalu mengenai Raden Bagus hingga ia meninggal dunia.

“Raden Ayu didatangi oleh Sunan Muria, karena anaknya sudah senang dengan Raden Bagus, ‘Saya tidak mau pulang kalau tidak bersama dengan Raden Bagus’. ‘Kalau tidak mau pulang saya jemparing (anak panah)’. Karena berniat jemparing, ada setan, akhirnya lepas. Raden Bagus tahu kalau Raden Ayu mau kena Jemparing, terus dihalangi oleh Raden Bagus, dan akhirnya meninggal. Akhirnya dimakamkan di sini,” terang dia.

Raden Bagus dan Raden Ayu akhirnya dimakamkan di Masin yang sekarang dikenal Desa Kandangmas. Warga pun berdatangan untuk ziarah di makam tersebut, terutama saat hari Rabu, Kamis, dan Jumat.

Makam Itu Dikeramatkan Warga Setempat

Makam Raden Ayu Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku kini dikeramatkan oleh warga setempat. Camat Dawe Fammy Dwi Arfana membenarkan hal tersebut.

Para peziarah datang untuk sekadar berdoa, hingga berharap mendapatkan jodoh. Dengan berdoa di makam keramat tersebut, warga berharap mendapatkan berkah dan ridho berkat menggelar sedekah kubur tersebut.

“Kami dari Kecamatan hanya bisa berdoa, semoga mendapatkan keberkahan kita semua. Tujuan untuk bersedekah berharap ridho allah,” katanya ditemui di lokasi.

Kompleks Raden Ayu Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku yang berada di Dukuh Masin Desa Kandangmas Kecamatan Dawe, Kamis (7/3/2024).Para peziarah di Kompleks Raden Ayu Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Makam tersebut berada di atas sebuah bukit. Untuk sampai di makam, warga harus berjalan kaki sejauh 300 meter menaiki jalan setapak.

Suasana makam terlihat asri. Di sekitar makam terdapat banyak pepohonan jati yang masih rindang dan lebat. Warga tidak berani mengambil kayu jati itu karena dikeramatkan oleh warga setempat.

“Terus banyak yang datang ke sini. Sudah sore sampai subuh tidak pulang-pulang maka disabda menjadi kayu jati. Jati ini adalah sabda dari orang-orang yang takziah yang tidak mau pulang,” pungkasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Pesarean Raden Ayu Pandan Sari yang Diselimuti Cerita-cerita Tak Masuk Akal



Surabaya

Di Surabaya, ada destinasi wisata religi yang diselimuti cerita-cerita tak masuk akal. Destinasi itu adalah Pesarean Raden Ayu Pandan Sari. Bagaimana kisahnya?

Raden Ayu Pandan Sari merupakan orang yang babat alas alias membuka kawasan Kalibutuh, Surabaya. Makam atau pesareannya kini dikunjungi banyak peziarah untuk berdoa dan wisata religi.

Di balik wisata religi itu, ada banyak cerita yang kurang masuk akal dan sulit dicerna dengan logika terjadi di tempat tersebut. Cerita itu telah dituturkan dari masa ke masa oleh warga yang tinggal di sekitar pesarean.


Seperti cerita maling yang tiba-tiba tak terlihat setelah bersembunyi di komplek makam atau pesarean Raden Ayu Pandan Sari yang terjadi pada era tahun 1980-an.

Tau ono sing diuber polisi limo, siang-siang turu nang mburine mbah (Pernah ada yang dikejar lima polisi, siang-siang tidur di belakang Makam Raden Ayu Pandan Sari) gak ketok,” kisah Samad, Pembina Pesarean Raden Ayu Pandan Sari.

Samad mengatakan, dahulu kala, siapapun yang datang ke pesarean tapi tidak mengucap salam, akan mendapat malapetaka. Samad menuturkan, orang-orang yang seperti itu, diyakini akan sekonyong-konyong lumpuh ketika menginjakkan kaki di area makam.

Samad juga menjelaskan mengapa tidak ada dokumentasi pesarean tersebut di masa lampau. Selain karena di zaman dulu hanya sedikit orang yang memiliki kamera, ia meyakini makam ini tidak bisa didokumentasikan.

“Dulu ceritanya kalau difoto, nggak bisa keliatan makamnya. Jadi seperti hilang di kamera,” ucapnya.

Samad menjelaskan, ada tradisi sedekah bumi untuk memeringati Haul Raden Ayu Pandan Sari yang rutin dilakukan oleh masyarakat Kalibutuh Timur, Tembok Dukuh, Bubutan, Surabaya.

Menurut Samad, tradisi ini sudah ada sejak zaman nenek moyang. Tradisi sedekah bumi pada zaman dahulu itu lebih mengedepankan kesenian daerah. Pertunjukan ludruk dan ketoprak sering ditampilkan di malam sedekah bumi kala itu.

Namun yang cukup disayangkan, Haul Raden Ayu Pandan Sari di waktu lampau malah jauh dari nilai-nilai keislaman. Menurut Samad, hal seperti ini terjadi hingga akhir 1990-an.

“(Sedekah bumi sudah ada) mulai (zaman) nenek moyang. Cuma dulu itu kan orang-orang tua bikin tayub, minum-minum,” kata Samad.

“Semenjak RW Pak Budiono sebelum (tahun) 2000, itu mulai diubah. Jadi minum-minum, ndak ada. Diganti istigasah, yasin tahlil, sama ritual,” sambungnya.

Sedekah bumi yang dilakukan setiap tahun pada bulan Selo (Dzulqodah) ini, sekarang lebih mengedepankan nilai religius dan gotong royong warga. Biasanya, acara ini diselenggarakan selama dua hari dengan berbagai kegiatan.

“Hari pertama pagi khataman, terus malamnya istigasah, yasin, tahlil, dilanjut menghias becak per RT. Besok paginya, ritual keliling arak-arakan becak dan tumpeng,” terang pria yang juga menjabat sebagai Ketua RW 7 Kalibutuh Timur itu.

Arak-arakan digelar dengan berkeliling wilayah Kalibutuh. Rute yang biasa dilalui adalah Jalan Tidar – Jalan Patua – Jalan Tembok Dukuh – Jalan Kalibutuh – Jalan Tembok Sayuran – Jalan Tidar.

“Setelah ritual keliling yang dimeriahkan oleh reog, lalu (konser) campursari,” tandas Samad.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Penampakan Makam Han Siong Kong di Lasem yang Bikin Marga Han Dikutuk



Lasem

Orang-orang bermarga Han dikutuk di Lasem. Semua itu gara-gara Han Siong Kong yang makamnya masih ada sampai sekarang dan bisa dikunjungi wisatawan.

Kutukan untuk orang-orang bermarga Han itu adalah mereka dilarang untuk menginjakkan kaki di Lasem. Jika melanggar, mereka dipercaya akan hidup sengsara dan jatuh miskin.

Kutukan itu diberikan oleh Han Siong Kong kepada anak-anaknya dan keturunan mereka. Cerita bermula ketika keluarga Han Siong Kong datang dan tinggal di Lasem dari Tian Bao (Fujian), China pada era tahun 1700-an.


Atas usaha dagangnya yang sukses besar, Han Siong Kong pun berhasil mengumpulkan pundi-pundi kekayaan. Namun, kesuksesan itu malah dimanfaatkan oleh anak-anaknya.

Mereka disebut suka menghambur-hamburkan harta milik sang ayah. Mereka hobi berfoya-foya dan doyan bermain judi.

Jenazah Sang Ayah Ditelantarkan Anaknya

Ketika Han Siong Kong meninggal, anak-anaknya pun ikut menandu jenazah sang ayah untuk dibawa menuju ke tempat peristirahatan terakhir di Desa Babagan, Lasem.

Setibanya di area makam, tiba-tiba hujan lebat datang mengguyur. Anak-anak Han Siong Kong yang semula menandu jenazah bapaknya, malah pergi meninggalkan begitu saja jenazah itu.

Setelah hujan reda, anak-anak Han Siong Kong kembali ke lokasi dimana mereka meninggalkan jenazah sang ayah. Betapa kagetnya mereka ketika mengetahui jenazah sang ayah sudah menghilang dan berganti jadi gundukan makam.

“Tiba-tiba petir muncul dan terdengarlah kutukan, bahwa keturunan Han tidak boleh tinggal di Lasem. Apabila melanggar akan jatuh miskin,” ujar Agni Malagina, peneliti Sejarah Cina di Lasem.

Makam Han Siong Kong Masih Ada dan Bisa Dikunjungi

Makam Han Siong Kong hingga kini ternyata masih dapat dijumpai wisatawan. Lokasinya berada di Desa Babagan, Kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Makam itu terletak berdekatan dengan permukiman warga dan area tegalan. Jarak antara lokasi pohon tempat jenazah Han Siong Kong ditelantarkan anaknya, dengan lokasi makamnya terbilang cukup jauh, sekitar 300-an meter.

Makam Han Wee Sing atau Han Siong Kong di Desa Babagan, Lasem, Rembang, Rabu (29/5/2024).Makam Han Wee Sing atau Han Siong Kong di Desa Babagan, Lasem, Rembang. Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng

Ada papan nama penunjuk lokasi makam. Di papan penunjuk lokasi tertulis ‘Makam Keramat Han Wee Sing (Nama lain Han Siong Kong) di Desa Babagan’.

Di lokasi makam Han Siong Kong, suasana sepi begitu terasa. Makam itu dikelilingi tanaman semak-semak sebagai pagar pembatas.

Di lokasi itu hanya ada dua makam. Dua-duanya berciri khas makam Tionghoa. Material bangunannya memakai tembok, dicat berwarna putih.

Satu makam ukurannya cenderung lebih besar dan makam yang satunya lagi berukuran lebih kecil. Kedua makam itu ada bongpainya atau batu nisan China. Masing-masing bongpai itu memakai tulisan aksara China.

Ketua Pokdarwis Desa Babagan, yang sekaligus Pemerhati Budaya dan Sejarah di Lasem mengatakan, makam keramat Han Wee Sing di desanya itu adalah makamnya Han Siong Kong.

“Ya makamnya di situ (Desa Babagan). Ada papan petunjuk, ‘Makam Keramat Han Wee Sing di Desa Babagan’. Itu Makamnya Han Siong Kong. Dia dikenal juga dengan nama Han Wee Sing atau Han Siong Kong. Yang besar itu makamnya Han Siong Kong, kalau kecil itu Dewa Bumi. Orang Tionghoa kalau mau nyekar harus nyembayangi dulu Dewa Bumi. Ibarat orang Jawa kalau mau kirim doa orang tuanya, harus nyebut Nabi Muhammad dulu,” tutur Agik.

——

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Misteri Makam di Gunungkidul Diselimuti Kain Putih, Begini Alasannya


Jakarta

Gunungkidul merupakan wilayah yang terkenal dengan keindahan alamnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu fenomena yang mencuri perhatian yaitu kebiasaan masyarakat yang menyelimuti makam-makam dengan kain putih.

Mungkin orang yang datang dari luar Gunungkidul belum mengetahui mengapa makam makam tersebut ditutupi kain putih. Lantas, apa alasannya?

Alasan Makam-makam Gunungkidul Diselimuti Kain Putih

Jika sedang berjalan-jalan ke daerah Gunungkidul, traveler mungkin akan menemukan sejumlah makam yang penutup kain putih. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan.


1. Tradisi Warga Setempat

Salah satu kawasan yang banyak memiliki makam berselimut kain putih adalah di Kecamatan Paliyan. Kain putih menyelimuti seluruh bagian nisan mayoritas makam.

Menurut wawancara detikJogja sebelumnya, pemakaian kain putih untuk menutupi makam merupakan tradisi warga setempat. Salah seorang warga Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Watinah mengatakan bahwa selimut putih di makam biasanya diganti ketika bulan Ruwah.

“Kalau tradisi sini harus pakai kain putih, termasuk udah adatnya begitu. Orang Jawa, maklum, harus pakai begitu-begitu. Apalagi kalau bulan Ruwah itu pada nyekar, itu harus ganti selimut putih itu. Putihan orang bilang, harus warna putih, selain itu nggak dipakai,” ucapnya.

Meski begitu, tidak semua warga menganut kepercayaan tersebut. Warga yang berbeda keyakinan tidak memasang kain putih di makam. Hal itu pun tidak menjadi masalah.

2. Sudah Dilakukan Sejak Nenek Moyang

Menurut warga lainnya, Ani, tradisi menyelimuti makam dengan kain putih sudah dilakukan sejak dahulu kala. Sehingga menjadi kebiasaan yang turun temurun.

“Sudah dari dulu, sejak nenek moyang. Jadi ini turun-temurun. Warga Gunungkidul masih gini, diselimuti putih-putih,” kata Ani.

Ada keyakinan warga setempat yang dipercayai jika makam tidak diselimuti kain. Sosoknya akan datang ke mimpi keluarga yang ditinggalkan.

“Kalau nggak dikasih selimut, katanya bakal ke bawa mimpi. Jadi kayak ingetin keluarga buat dikasih kain,” ucap Ani.

Budaya Jawa sendiri memang masih kental dengan memberikan penghormatan kepada orang yang sudah meninggal. Menurut Dosen Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga, S.S., M.M., penghormatan tersebut mencerminkan keyakinan antara dunia orang yang hidup dan dunia roh. Hal ini dilakukan agar terjadi keseimbangan dan keharmonian.

“Leluhur atau nenek moyang memiliki peran penting dalam budaya Jawa. Orang Jawa menghormati dan memuja leluhur mereka sebagai penjaga keluarga dan penjaga tradisi. Mereka percaya bahwa leluhur memiliki pengaruh besar dalam kehidupan mereka dan dapat memberikan nasihat serta perlindungan,” ujar Riswinarno

3. Bentuk Penghormatan kepada Orang yang Sudah Meninggal

Menurut Riswono, pemakaian kain putih di pemakaman Gunungkidul merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada keluarga yang sudah meninggal. Hal ini diyakini bisa memperkuat ikatan dengan arwah dan melestarikan tradisi.

“Pemakaian kain putih untuk membungkus nisan/kijing makam, sebagai wujud dari adanya upaya menghormati, mensucikan, meninggikan si tokoh yang dimakamkan tadi. Mengapa kain putih? Karena dianggap sebagai simbol kebersihan, kesucian, kesederhanaan,” tuturnya.

4. Bentuk Kearifan Lokal

Di sisi lain, menutupi makam dengan kain putih juga diyakini merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat setempat. Praktik ini juga dilakukan di makam-makam ulama atau tokoh-tokoh Islam.

“Kayaknya local wisdom dari masyarakat setempat. Yang jelas kalau perspektif Islam, tidak ada anjuran atau keharusan memberi kain putih di atas makam. Selama ini yang saya tahu, biasanya makam-makam ulama atau publik figur yang disepuhkan diberi penutup, dan biasanya terpisah dengan makam warga lainnya,” ujar Dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia, Willi Ashadi S.H.I., M.A.

Itulah beberapa alasan mengapa makam-makam di gunungkidul diselimuti dengan kain putih. Semoga informasi ini menambah wawasanmu.

(elk/row)



Sumber : travel.detik.com

Tenang dan Syahdu, Melawat ke Pemakaman Orang Belanda di Bandung



Bandung

Bagi pendamba ketenangan, berkunjung ke pemakaman orang Belanda alias Ereveld Pandu di Bandung sangat disarankan. Syahdu dan khidmat, itulah yang dirasakan.

Ereveld dalam bahasa Belanda berarti ‘ladang kehormatan’. Ereveld merujuk kepada kompleks pemakaman Belanda yang ada di Indonesia, umumnya menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi para tentara Belanda yang gugur selama perang, terutama Perang Kemerdekaan di Indonesia.

Salah satu Ereveld di Indonesia adalah Makam Kehormatan Belanda Pandu di Bandung. Tempat ini menjadi saksi bisu bagi jasa para militer yang berdinas di Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) dan Angkatan Darat Kerajaan Belanda.


Di Makam Kehormatan Belanda Pandu, terdapat beberapa monumen yang mencerminkan hubungan antara Bandung dan KNIL. Selain militer, di sini juga dimakamkan warga sipil yang meninggal di kamp-kamp konsentrasi Jepang di Bandung dan sekitarnya, serta korban yang gugur pada masa revolusi.

Ereveld Pandu merupakan salah satu dari dua Ereveld di Jawa Barat, selain Ereveld Leuwigajah di Cimahi. Kompleks ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi lebih dari 4.000 tentara Belanda yang gugur selama Perang Dunia II dan Perang Kemerdekaan Indonesia.

Selain tentara, terdapat juga beberapa warga sipil Belanda yang menjadi korban perang dan dimakamkan di sini.

“Sudah ada 4.000 ribuan yang dimakamkan di sini, dari berbagai kalangan dan agama. Namun, ada beberapa yang belum diberi nama karena masih menunggu hasil dari Pemerintah Belanda, soalnya di sini data-data yang dimakamkan benar-benar datanya jelas,” ucap penjaga makam Ereveld Pandu, Dedi, belum lama ini.

Dibangun pada tahun 1946, Ereveld Pandu memiliki luas sekitar 10 hektare dan terbagi menjadi beberapa blok berdasarkan agama dan kewarganegaraan.

Ereveld Pandu, komplek pemakaman Belanda di Bandung.Ereveld Pandu, komplek pemakaman Belanda di Bandung. Foto: Wisga Putra Julian/detikJabar

Kompleks ini ditata dengan sangat asri, dengan deretan batu nisan putih yang tertata rapi. Di bagian tengah terdapat sebuah monumen yang menjulang tinggi sebagai simbol penghormatan bagi para korban perang.

“Yang berkunjung ke sini biasanya anak SMA atau mahasiswa yang sedang mencari sejarah, banyak monumen juga di dalam sini yang dibangun untuk tugas mereka. Kalau keluarga, biasanya mengirim bunga pada waktu-waktu tertentu lewat web, jadi bisa request mau seperti apa,” lanjutnya.

Makam Ereveld Pandu buka setiap hari dari jam 07.00-17.00 WIB dan tidak memungut biaya masuk. Di setiap makam kehormatan Belanda terdapat pendopo, di mana para pengunjung bisa dengan tenang melihat daftar nama para korban dan informasi lainnya yang tersedia.

Seluruh karyawan di sini selalu siap membantu untuk menemukan makam yang dicari oleh traveler.

“Untuk mengunjungi Ereveld Pandu tinggal tekan bel saja, nanti saya atau penjaga lain akan membuka gerbang. Biasanya ada yang izin dulu ke kedutaan untuk masuk ke sini,” ujarnya.

Ereveld Pandu tidak hanya menjadi tempat peristirahatan bagi para korban perang, tetapi juga menjadi pengingat sejarah kelam masa penjajahan Belanda di Indonesia. Kompleks ini terbuka untuk umum dan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Bandung.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ini Makam Dadong Guliang, Pengabdi Ilmu Hitam Abad 18 di Bali



Klungkung

Desa Akah di Klungkung, Bali menyimpan kisah Dadong Guliang, pengabdi ilmu hitam yang hidup di abad 18. Makamnya konon ada di desa ini. Bagaimana kisahnya?

Desa Akah konon terbentuk karena wabah yang dibuat oleh seorang wanita sakti di desa itu yang bernama Dadong (nenek) Guliang.

Tokoh Budayawan desa Akah, Jero Mangku Made Kasta, mengatakan Dadong Guliang tidak sekadar cerita rakyat, tapi benar adanya. Buktinya berupa sebuah kuburan hingga keberadaan desa Akah yang dipindah atas titah Raja Klungkung kala itu.


“Dadong Guliang itu adalah sosok perempuan sakti yang berkelana dari Guliang Bangli, hingga akhirnya tiba di wilayah kami,” kisah Mangku Kasta beberapa waktu lalu.

Kuburan yang diyakini sebagai tempat peristirahatan Dadong Guliang itu berada di atas lahan pekarangan warga setempat.

Terdapat palinggih (tempat suci) dibalut kain poleng yang berdiri di samping sebuah pohon ancak besar. Pohon itu sebagai penanda kuburan Dadong Guliang.

Palingging di Desa Akah yang dikaitkan dengan Dadong Guliang, Klungkung, Bali, Minggu (19/5/2024). (Putu Krista/detikBali)Palingging di Desa Akah yang dikaitkan dengan Dadong Guliang, Klungkung. (Putu Krista/detikBali)

Kasta menuturkan, zaman dulu jarang ada nama jelas. Biasanya orang-orang hanya menyebut asal. Salah satunya Dadong Guliang ini.

“Kedatangannya ini ternyata membawa musibah karena Dadong Guliang memiliki kesaktian atau black magic yang tidak tertandingi. Bahkan, dengan kesaktiannya mampu menaklukkan tokoh-tokoh di desa Akah kala itu,” imbuhnya.

Karena dadong menebar magic di kawasan itu, warga resah hingga akhirnya melapor kepada Raja Klungkung.

Raja Klungkung kala itu menitahkan warga untuk mengungsi dari wilayah Tempek Pekarangan Uma Dalem (saat ini menjadi Dusun Hyang Api) ke sisi timur sungai (Tukad Kunyit) untuk menghindari sihir Dadong Guliang. Tempat pengungsian tersebut yang kemudian diberi nama Desa Akah.

“Dulu setelah ditinggal tempat itu sepi dan hanya tinggal dadong saja. Hingga saat ini masih ada bukti pohon-pohon besar di sisi barat sungai,” jelas mantan wakil bupati Klungkung ini.

Bukan hanya mengungsi, warga setempat juga sampai memindahkan Pura Dalem ke Banjar Pekandelan, Desa Pakraman Akah. Sedangkan bekas lokasi Pura Dalem yang lama kini sudah berubah menjadi carik (sawah) yang disebut Carik Dalem.

Demikian pula bekas pemukiman warga sebelum ditinggal mengungsi kini sudah berubah menjadi sawah. Tempat itu dinamai Carik Paumahan karena sempat ada rumah di sana.

Karena usia, ajal pun menjemput Dadong Guliang. Jenazah Dadong Guliang langsung dikuburkan di tegalan kawasan Dusun Hyangapi, tepatnya di tegalan milik keluarga Ketut Konten.

“Hingga saat ini keluarga ini yang masih rutin menghaturkan sesajen, termasuk warga dusun setempat,” sebut Mangku Kasta.

Kesaktian Dadong Guliang

Dadong Guliang dikenal memiliki kesaktian tinggi terutama dalam ilmu hitam (Penestian). Kesaktian itu ia gunakan untuk menyakiti warga setempat, bukan untuk membantu. Hingga pada masa itu, banyak warga desa adat yang meninggal akibat ulah sosok ini.

Menurut Mangku Kasta, Hyang Api adalah tempat itu dulunya sangat angker dan panas, tidak layak ditempati, serta merupakan kekuatan yang dahsyat.

“Hingga saat ini juga masih dipercaya jika ada anak menangis bisa memohon (agar anak tenang) di palinggih tersebut. Selain itu juga ada yang percaya di tempat itu bisa mohon keturunan,” terang Mangku Kasta.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Tua Al Mubarok, Berumur Ratusan Tahun, Tempat Sejuk buat Karyawan Jaksel



Jakarta

Di Jakarta Selatan terdapat salah satu masjid yang berumur ratusan tahun dan menjadi sebuah saksi perkembangan wilayah Kuningan. Masjid Tua Al Mubarok.

Masjid itu berdiri tegak di pinggir Jalan Gatot Subroto yang tak jauh dari Museum Satriamandala. Dari sejarahnya, masjid tersebut merupakan peninggalan dari Syekh Arkanuddin atau Pangeran Adipati Awangga yang memiliki gelar Pangeran Kuningan yang berasal dari Cirebon.

Di masjid itu terdapat sebuah prasasti yang memastikan usia bangunan tersebut. Di sana tertulis masjid tersebut dibangun pada 1527.


Tahun tersebut bukan merujuk kepada bangunan mushola yang didirikan oleh Pangeran Kuningan bersama pasukannya, yang saat itu menempati kawasan tersebut. Tetapi, tahun itu merupakan pembangunan Masjid Tua Al Mubarok oleh warga di sekitar masjid. Lokasinya pas di mushala Pangeran Kuningan.

Musala yang dibangun Pangeran Kuningan dan pasukannya itu

Bendahara Masjid Tua Al Mubarok, Budi Raharjo, menceritakan kepada detikTravel, Jumat (19/7/2024) ada hal menarik dari pembangunan awal masjid tersebut, yakni berasal dari sebuah mimpi.

Konon, masjid yang dibangun oleh Pangeran Kuningan itu hanya terbuat dari kayu dan begitu sederhana.

“Nyi Imeh itu mimpi, dulu masjid ini terkenal dengan nama Masjid Rusak karena ya udah nggak terurus gitu. Di Masjid Rusak itu banyak orang datang pake jubah, pake pakaian putih ini dalam mimpinya, dia ngeliat banyak yang sembahyang di sini, itu akhirnya ngomong sama keluarga atau masyarakat di sini akhirnya dibangun lah masjid lagi,” kata Budi.

Masjid itu dibangun pada 1850 oleh Guru Simin dan Guru Jabir. Seiring berjalannya waktu, masjid itu kembali dimakan oleh zaman, sekiranya tahun 1915. Masjid Rusak kembali mengalami renovasi karena kala itu bangunannya masih terbuat dari kayu.

“Akhirnya di tahun 1925 itu digunakan sholat berjamaah rame-rame, kalau dulu kan mungkin hanya terbatas. Nah di tahun itu bangun untuk orang-orang banyak lah,” sambungnya.

Budi juga menerangkan kala pembangunan masjid pada 1925, bangunan masih kayu meskipun jamaah sudah banyak. Dan, secara terus menerus bangunan ini selalu diperbaiki oleh masyarakat.

Masjid Tua Al Mubarok berdiri tegak di pinggir Jalan Gatot Subroto yang tak jauh dari Museum Satriamandala. Masjid ini telah berumur ratusan tahun dan menjadi sebuah saksi perkembangan wilayah Kuningan.Masjid Tua Al Mubarok berdiri tegak di pinggir Jalan Gatot Subroto yang tak jauh dari Museum Satriamandala. Masjid ini telah berumur ratusan tahun dan menjadi sebuah saksi perkembangan wilayah Kuningan. (Muhammad Lugas Pribady)

Barulah di tahun 1996 bangunan masjid diperbaiki dan menggunakan beton hingga bisa berdiri hingga saat ini. Pembangunan tersebut dikatakan oleh Budi atas inisiasi pengurus masjid kala itu di antaranya adalah Haji Wardi.

“1925 yang dibangun sama guru itu ya masjid dari kayu aja tapi besar, nah dari kayu pun itu udah berubah-ubah kan mulai dari zamannya siapa diperbaiki. Jadilah pengurus terakhir itu zamannya Haji Wardi dibangunlah masjid ini, ya sampai sekarang,” kata dia.

“Dari zaman dulu posisinya di sini zaman dulu nggak berubah titiknya di sini,” ujar Budi.

Kini, peninggalan lawas masjid itu tidak banyak lagi. Budi mengatakan satu barang yang tersisa hanya jam yang berada di dekat mimbar. namun ia juga tak yakin jam tersebut berada di dalam masjid sejak tahun berapa.

Makam Pangeran Kuningan

Selain membahas tentang perjalanan Masjid Tua Al Mubarok, Budi juga menjelaskan kenapa nama wilayah ini Kuningan adalah untuk mengenang Pangeran Kuningan yang berada di kawasan ini dari 1527 hingga meninggal pada 1579. Budi juga menjelaskan letak makam yang letaknya bukan di area masjid.

“Meninggalnya itu 1579 kalau dia datang 1527, dia meninggal dan sekarang makamnya ada di (area perkantoran) Telkom,” sebut dirinya.

detikTravel pun penasaran dengan keberadaan makam sang pangeran yang berada di tengah perkantoran. Merujuk cerita dari Budi dan informasi dar penjaga, Makam Pangeran Kuninganberada di dekat lobi gedung dan dekat dengan sebuah mini market.

Dengan sejarah yang membersamai masjid ini jadi cerita sendiri bagi para jemaah. Selain sebagai tempat beribadah, tempat ini juga kerap dipakai untuk tempat istirahat para karyawan-karyawan di sela pekerjaan mereka.

Suasana yang rindang dan sejuk menjadi idaman di tengah-tengah panas matahari dan bisingnya jalanan Ibu Kota. Masjid Tua Al Mubarok dan makam Pangeran Kuningan oleh pemerintah daerah telah ditetapkan sebagai Monumen Ordonansi No 238 tahun 1931 melalui Lembaran Daerah No 60 tahun 1972 dan juga menjadi situs sejarah.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com