Tag Archives: masjid bersejarah

Kisah Masjid Kuno di Klaten yang Tetap Setia Memakai Jam Matahari



Klaten

Ada sebuah masjid kuno di Klaten, Jawa Tengah yang masih setia memakai jam matahari, meski zaman sudah modern. Bagaimana kisahnya?

Di Dusun Kadirejo, Desa Kadirejo, Kecamatan Karanganom, Klaten ada sebuah masjid yang bersejarah. Masjid Al-Mujahidin namanya.

Masjid yang didirikan sejak abad 18 itu masih mempertahankan penggunaan jam matahari atau jam bencet sampai sekarang.


Jam matahari bentuknya tidak seperti jam modern yang menggunakan mesin. Benda yang disebut jam matahari hanya berupa sebuah tugu tembok di sisi selatan halaman masjid yang luas.

Tugu dengan tinggi sekitar satu meter itu di atasnya ditancapkan sebatang besi. Di lantai di bawah besi diberi garis simetris dengan beberapa goresan penanda kemiringan matahari.

Meskipun jam matahari itu masih berdiri, di teras masjid juga terdapat dua jam kotak kayu dengan lonceng. Di dalam masjid juga tersedia jam digital modern.

Masjid Al Mujahidin dan jam mataharinya di Desa Kadirejo, Kecamatan Karanganom, Klaten, Kamis (13/3/2025).Masjid Al Mujahidin dan jam mataharinya di Desa Kadirejo, Kecamatan Karanganom, Klaten Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Lantai Masjid Al-Mujahidin tingginya sekitar 1,5 meter dari tanah. Ruang utama masjid ditopang empat tiang kayu jati utuh berbentuk silinder. Di kanan dan kirinya digunakan untuk ruang pawestren (tempat salat wanita).

Juga terdapat sebuah bedug kulit sapi berdiameter sekitar satu meter berangka tahun 1954 dan papan kayu jam waktu salat yang bertuliskan tahun 1952.

“Untuk beduk saat ini sudah tidak dipakai, panggilan azan dengan pengeras suara. Untuk jam bencet atau jam matahari masih dipakai tapi cuma waktu zuhur saja,” kata jamaah masjid, Muti’ulabi (64), Kamis (13/3/2025).

Menurut Muti’ul, dulu di sisi selatan, depan, dan utara masjid itu terdapat kolam untuk bersuci.

“Dulu ada sendang mubeng (melingkar) tapi sak niki pun diurug (sekarang sudah ditimbun). Jerone telung meter (kedalaman 3 meter),” tutur Muti’ul.

BACAJUGA:

Sugeng (70) jamaah lain mengatakan dirinya tidak mengetahui kapan masjid didirikan. Tapi sejak kakek-neneknya masjid itu sudah ada.

“Dari dulu zaman Mbah saya sudah ada. Ini pernah direhab dua kali, karena pernah dibakar sekitar tahun 1950-an, tapi direhab lagi,” ungkap Sugeng.

Menurut Sugeng, dari beberapa peninggalan, hanya jam matahari yang masih dipakai. Bedug sudah tidak pernah digunakan.

Bedug mboten dingge, jam bencet tasih (bedug tidak dipakai tapi jam matahari masih digunakan) ya hanya untuk duhur,” katanya.

“Sini masih sering digunakan untuk ziarah, dari Gresik, Jombang, Pantura. Di makam barat masjid ada makam Kiai Ahmad, Kiai Muda dan lainnya,” imbuh Sugeng.

Sesepuh Dusun Kadirejo Hasyim Fatah (85) menceritakan masjid aslinya didirikan Kiai Ahmad yang merupakan ulama pondok. Didirikan sekitar tahun 1850 Masehi.

“Di sini dulu kan pondok pesantren ngaji kitab kuning, pimpinannya Kiai Ahmad. Didirikan masjid sekitar tahun 1800-an, kalau tidak salah 1850 Masehi,” tutur Hasyim kepada detikJateng di rumah tepat di samping halaman masjid.

Kiai Ahmad, sebut Hasyim, merupakan pengembara dan menjadi keluarga cucu mantu Mbah Kiai Reso Pawiro atau R Ng Reso Pawiro Karanganom. Kiai Ahmad merupakan tokoh thoriqoh Syadziliyah.

“Mbah Kiai Ahmad itu Kiai thoriqoh, thoriqoh Syadziliyah. Jadi masih sering untuk ziarah jika bulan Syawal, dari Jombang dan Jawa Timuran banyak,” ungkap Hasyim yang masih memiliki garis keluarga dengan Kiai Ahmad.

Masjid lama, kata Hasyim, bangunannya tidak sebesar sekarang dan atapnya dulu masih sirap (kayu). Masjid aslinya kemudian dibakar saat konflik 1949.

“Ini masjid kedua, yang asli dibakar tahun 1949 saat konflik politik militer (pejuang Islam dan komunis) setelah kemerdekaan. Saya lihat dengan mata kepala sendiri dibakar karena sudah umur sekitar 8 tahun, pondok yang dibakar dua, dulu dituduh bedug untuk menyimpan senjata,” lanjut Hasyim.

Menurut Hasyim, setelah dibakar kemudian masjid direhab tahun 1952-1953. Yang tersisa sejak dulu hanya jam bencet atau jam matahari di halamannya.

“Jam bencet itu lama, ya sebelum dibakar sudah ada, saya kecil sudah ada karena ada kiai pondok sini dulu ada ahli falaq. Masih digunakan untuk menentukan waktu zuhur,” jelas Hasyim.

———

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Syekh Maulana Malik Ibrahim Diyakini Sebagai yang Tertua di Jawa



Gresik

Masjid Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur diyakini sebagai masjid tertua di Pulau Jawa.

Meski usianya sudah tua, masjid yang berlokasi di Dusun Pesucinan, Desa Leran, Manyar, Gresik ini masih mempertahankan orisinalitas dan keunikan bangunannya.

Salah satunya adalah kolam yang sudah ada sejak zaman Sunan Maulana Malik Ibrahim yang masih ada sampai hari ini.


Masjid yang juga biasa disebut Masjid Pesucinan ini masih menyimpan sejumlah bentuk bangunan sejak zaman Sunan Giri. Masih ada bekas langgar kecil di dalam masjid yang masih dilestarikan. Lengkap dengan kolam untuk berwudu.

Kolam berukuran 3×3 meter ini punya kedalaman kurang lebih 2,5 meter. Kolam itu berada di dalam area masjid karena adanya pemugaran.

“Syekh Maulana Malik Ibrahim sekitar awal abad 14 atau akhir abad 13, beliau membawa kapal dagang bersama para santri bersama para pengawal, bersama para sahabatnya bersandar di pelabuhan Leran. Dulu ada pelabuhan kecil, baratnya masjid ini,” jelas Ketua Takmir Masjid Syekh Maulana Malik Ibrahim, Mushollin, Jumat (14/3).

Saat itu Syekh Maulana Malik Ibrahim melakukan salat istikarah lalu mendirikan masjid untuk tempat ibadah dan mendirikan asrama pondok sebelah barat masjid.

Oleh sebab itu, masjid ini dinamakan masjid Syekh Maulana Malik Ibrahim di Pesucinan berasal dari kata Pesucinan. Pesucinan merupakan tempat kolam untuk wudhu di sini. Bisanya disebut Cinan, tempat wudunya Syekh Maulana Malik Ibrahim.

Mushollin menambahkan saat pertama melihat masjid ini, kolam wudu pesucinan ada di luar masjid. Namun setelah ada renovasi beberapa kali, ada perluasan juga.

“Akhir tahun 2023 dirombak tetapi tidak mengubah bentuk orisinilnya,” tukasnya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Melihat Masjid Berusia 1 Abad di Lumajang, Melambangkan Wali Songo



Lumajang

Di Lumajang, ada sebuah masjid kuno yang usianya sudah 1 Abad. Masjid Baitur Rohman ini dibangun tahun 1911 oleh kiai Usman.

Masjid kuno di Lumajang ini berada di Dusun Munder, Desa Tukum, Kecamatan Tekung. Awalnya masjid ini masih berbentuk surau atau mushala. Lalu pada tahun 1933 direnovasi oleh Kiai Suhaemi dan desain masjidnya dipertahankan hingga sekarang.

Masjid ini menjadi sejarah penyebaran agama Islam di Lumajang dan kini Kiai Usman dan Suhaemi diabadikan sebagai nama jalan di desa setempat.


“Masjid Baitur Rohman ini dibangun tahun 1911 oleh Kiai Usman kemudian dilakukan renovasi oleh Kiai Suhaemi pada tahun 1933 dan desainnya dipertahankan hingga sampai sekarang,” ujar Imam Masjid Baitur Rohman Yoyon Sudarmanto, Minggu (16/3/2025).

Bangunan masjid ini dipenuhi keunikan dan berbagai makna filosofi dari kubah masjid yang berjumlah 9. Yang melambangkan jumlah para wali penyebar agama Islam di nusantara yang dikenal dengan sebutan Wali Songo.

Tangga tingkat masuk ke teras masjid berjumlah 5 tingkat, mengingatkan pada jumlah rukun islam ada 5. Pintu masuk masjid yang berjumlah 3, dengan pintu imam yang sama berjumlah 3 menunjukkan jumlah rukun iman yang berjumlah 6.

Jumlah jendela masjid sebanyak 20 mengingatkan pada sifat wajib Allah SWT yang berjumlah 20. Selain itu, ruangan masjid dipenuhi bangunan kusen pintu memiliki makna kehidupan, yang harus terbuka melihat kekurangan kanan dan kiri atau guyub rukun dan saling membantu antar sesama manusia.

“Masjid ini tidak hanya unik tapi memiliki makna filosofi dalam desain pembangunannya mulai dari kubah, jandela, pintu dan lainnya,” terang Yoyon.

Selain itu, saat pembangunan Masjid Baitur Rohman ini para pekerja yang sedang membangun masjid tidak boleh memiliki hadas besar maupun kecil.

Sehingga saat pekerja memiliki hadas kecil, harus berwudhu terlebih dahulu kemudian melanjutkan pekerjaan membangun masjid.

“Pekerja yang membangun masjid ini juga harus menjaga dari hadas kecil maupun besar,” tandas Yoyon.

——–

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Tak Ada yang Tahu Siapa Pendirinya



Lombok Timur

Ada sebuah masjid tua di Lombok Timur yang punya misteri. Tidak ada orang yang tahu siapa pendiri masjid tersebut. Kok bisa?

Masjid Songak merupakan situs budaya di Desa Songak, Kecamatan Sakra, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Warga menyebutkan sebagai masjid bengan (tua).

Sebutan itu bukan tanpa alasan. Sebab, Masjid Tua Songak telah berdiri sejak lama. Bahkan, masjid itu telah ada sebelum masyarakat di Desa Songak bermukim.


Walhasil, tidak satu pun masyarakat desa setempat yang mengetahui waktu pendirian masjid tersebut.

“Pada dasarnya semua orang di Desa Songak ini tidak tahu persis kapan didirikan masjid ini,” ungkap Murdiyah, salah satu tokoh lembaga adat di Desa Songak, ketika ditemui di pelataran Masjid Tua Songak, Minggu (23/3/2023).

Sampai saat ini, belum ada bukti maupun catatan sejarah mengenai waktu dan tokoh yang mendirikan Masjid Tua Songak. Maka dari itu, waktu pendirian dan sosok yang membangun masjid itu belum terungkap.

Saat ditemukan, di dalam masjid hanya terdapat beberapa benda, seperti tombak dan juga gulungan berisi teks khotbah. Berbagai benda yang dianggap bersejarah itu hingga kini masih disimpan di Masjid Tua Songak.

Namun, menurut Murdiyah, beberapa sumber dari hasil penelitian para akademisi mengungkapkan keberadaan masjid tersebut telah ditemukan 30 tahun sebelum Gunung Samalas meletus. Menurut catatan sejarah, Gunung Samalas meletus pada tahun 1.258 Masehi.

Murdiyah juga menuturkan asal muasal keberadaan Desa Songak. Salah satu desa di Pulau Lombok ini pertama kali ditempati seorang tokoh bernama Guru Kodan yang berasal dari Jurang Koak.

“Konon Guru Kodan ini asalnya dari Desa Leaq atau dikenal dengan Desa Pamatan, beliau dan pengikutnya awalnya dahulu mengungsi ke Jurang Koak karena letusan Gunung Samalas,” tutur Murdiyah.

Guru Kodan dan pengikutnya mendatangi Desa Songak dan menemukan Masjid Kuno Songak. Sejak saat itulah Guru Kodan dan pengikutnya menetap di desa tersebut.

Masjid Sudah Direnov Berulang Kali

Masjid Tua Songak sudah dilakukan beberapa kali direnovasi. Tujuannya supaya bisa dimanfaatkan untuk beribadah oleh masyarakat desa setempat.

Pantauan detikBali, beberapa struktur bangunan sudah dilakukan perbaikan, seperti lantai masjid yang dipasangi keramik dan bagian atap dari ilalang sudah dilakukan peremajaan. Bangunan masjid juga mengalami perluasan di area teras agar bisa menampung jemaah lebih banyak.

“Ada sebuah kaidah Nahdlatul Ulama yang mengatakan peliharalah apa adanya dan manfaatkanlah sebagaimana fungsinya, jadi ini yang kami pegang selama ini,” terang Murdiyah.

Situs Budaya Masjid Tua Songak di Desa Songak, Kecamatan Sakra, Lombok Timur, NTB, tampak dari halaman depan, Minggu (23/3/2025). (Sanusi Ardi W/detikBali)Situs Budaya Masjid Tua Songak di Desa Songak, Kecamatan Sakra, Lombok Timur, NTB (Sanusi Ardi W/detikBali)

Berdasarkan kaidah itu, tutur Murdiyah, masyarakat Desa Songak melakukan pemeliharaan bangunan masjid dan menggunakan sebagaimana fungsinya, yakni sebagai fasilitas untuk beribadah. “Jadi ini tujuan kami merehabnya supaya bisa digunakan untuk beribadah,” ungkapnya.

Meski berulang kali direhabilitasi, beberapa keaslian bentuk bangunan masih dipertahankan. Salah satunya empat tiang yang menjadi penyangga di dalam areal masjid. Luas masjid juga masih dipertahankan sampai sekarang, yakni 9×9 meter persegi.

“Itu kami tidak boleh ubah. Sampai sekarang ukurannya tetap sama, yaitu 9×9 meter. Kalau di bagian atap itu sudah diperbaiki 15 tahun sekali. Begitu juga dengan lantainya, kami pasang keramik supaya masyarakat nyaman beribadah,” ungkap Murdiyah.

3 Ritual Adat di Masjid Tua Songak

Terdapat tiga ritual khusus di Masjid Tua Songak, yaitu Ritual Bubur Beaq yang dilaksanakan pada Muharram, Bubur Puteq pada Safar, dan Maulid Adat pada Rabiul Awal. Bubur Puteq dilaksanakan seperti ritual batiniah, yaitu zikir dan doa.

Sementara Bubur Beaq adalah ritual khusus bagi orang-orang yang lahir pada Safar. “Mereka ke sini biasanya mengambil air untuk diminum setelah zikir dan doa supaya sifat-sifat buruk pada dirinya bisa hilang,” jelas Murdiyah.

Kemudian, Mulud Adat dilakukan pada 12 Rabiul Awal, tepat saat kelahiran Rasulullah SAW. Sesuai keyakinan masyarakat setempat, orang-orang beramai-ramai untuk membuat Minyak Songak, obat yang terkenal manjur di Lombok.

Proses pembuatannya dilakukan secara tradisional dan dikerjakan selama satu malam suntuk sebelum matahari terbit.

“Setelah Minyak Songak ini selesai dibuat oleh masyarakat di tempatnya masing-masing, barulah keesokan harinya mereka membawanya ke masjid untuk dibacakan doa dan zikir oleh para tokoh adat dan tokoh agama,” tutur Murdiyah.

Tak hanya minyak, masyarakat Desa Songak yang memiliki senjata pusaka juga dibawa ke masjid untuk dimandikan air kembang atau yang disebut ‘wukuf’.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com