Tag Archives: masjid di jakarta

Inilah Masjid Tertinggi di Jakarta



Jakarta

Melihat keindahan Jakarta dari rooftop gedung sudah biasa. Di sini, dari masjid traveler bisa memandang Jakarta hingga jauh.

Masjid itu bernama Masjid Ar-Rahim. Masjid itu terbuka untuk umum.

Masjid ini bukan sembarang masjid. Masjid ini berada di lantai 27 Menara 165, Jl TB Simatupang, Cilandak, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Menara dengan lafadz “Allah” di bagian atas gedung ini ternyata penanda adanya masjid. Dan, masjid ini dinobatkan sebagai masjid tertinggi di Jakarta.


Masjid ini memiliki bangunan yang sebagian besar bertembok kaca sehingga memungkinkan bagi jemaah untuk memandang gedung-gedung dan jalan tol di seantero ibu kota.

Masjid Ar-Rahim, masjid di Menara 165, merupakan masjid tertinggi di JakartaMasjid Ar-Rahim, masjid di Menara 165, merupakan masjid tertinggi di Jakarta (Natasha Kayla Ananta/detikcom)

Tak hanya sekadar tempat ibadah, Masjid Ar-Rahim juga memiliki jadwal kajian interaktif setiap hari Rabu dan Pengajian di hari Minggu, tentunya menjadi lokasi wisata religi yang pas didatangi ketika bulan puasa.

Bukan cuma nama biasa, Gedung 165 ternyata memiliki 2 makna. Di balik terpilihnya angka 165 dalam nama gedung tersebut bukan berdasarkan urutan lokasi gedung di jalan tersebut, tetapi berikut maknanya.

Pertama, secara agamis, 1 bermakna Ikhsan, 6 merujuk pada Rukun Iman, dan 5 merujuk pada Rukun Islam.

Kemudian, makna kedua adalah makna nasionalis, yakni menggambarkan kelahiran Pancasila yaitu tangga 1, bulan 6 , dan tahun 45 (dalam Tahun Jepang menjadi tahun 05). Sehingga, 165 diartikan sebagai bersatunya cinta agama dan Tanah Air.

Masjid Ar-Rahim, masjid di Menara 165, merupakan masjid tertinggi di JakartaView Jakarta dari Masjid Ar-Rahim, masjid di Menara 165, merupakan masjid tertinggi di Jakarta (Natasha Kayla Ananta/detikcom)

Untuk mengakses masjid ini, traveller harus mendatangi resepsionis terlebih dahulu untuk melakukan registrasi dan menukarkan KTP dengan kartu akses. Setelah itu, traveler akan diarahkan untuk menggunakan lift dengan kode L6 untuk mencapai lantai M1 atau lantai 25 yang menjadi lokasi Masjid Ar-Rahim.

Setibanya di lantai 25, traveller bisa mengambil wudu terlebih dahulu jika akan melakukan ibadah, setelah itu dapat menaiki tangga/lift yang disediakan untuk mencapai lantai 27 yang menjadi lokasi salat. Pada lantai tersebut terpampang Masjid yang dikelilingi tembok kaca dan pemandangan jelas Kota Jakarta dari ketinggian.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Tidak Sekadar Megah, Ini Makna di Setiap Arsitektur Istiqlal



Jakarta

Arsitek Frederich Silaban mendesain Masjid Istiqlal di Jakarta dengan sangat matang. Ada makna tersembunyi di setiap detail bangunan megah itu.

Berasal dari bahasa Arab yang bermakna kemerdekaan, Istiqlal memiliki sejarah yang kental akan Islam dan kebangsaan. Dari kegiatan City Tour Disparekraf pada Minggu (24/4/24), berikut detikTravel rangkum makna-makna tersembunyi dari bangunan yang ada di Masjid Istiqlal,

1. Kubah dengan diameter 45 meter

Sebuah masjid tentu identik dengan kubah. Sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara, Masjid Istiqlal memiliki kubah yang sangat besar dengan diameter sepanjang 45 meter. Pemilihan angka 45 ini bukan tanpa maksud.


Angka 45 pada diameter kubah Masjid Istiqlal mengisyaratkan tahun kemerdekaan Indonesia yaitu tahun 1945. Bagian dalam Kubah tertulis kaligrafi Surah Al Fatihah, Surah Thaha ayat 14, Ayat Kursi, dan Surah Al Ikhlas.

2. 12 tiang penyangga melingkar

Selain kubah, pada bagian dalam masjid, traveler akan melihat 12 tiang penyangga berbahan dasar stainless steel yang melingkar. Jumlah tiang penyangga itu melambangkan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yakni 12 Rabiul Awal.

3. Punya 5 Lantai

Jika melihat ke atas atau bagian samping, traveler akan melihat tingkatan lantai yang ada di Masjid Istiqlal. Masjid Istiqlal memiliki lima lantai yang menggambarkan lima dasar Islam yang menjadi syarat kesempurnaan umat muslim atau Rukun Islam sekaligus jumlah waktu salat dalam sehari dan jumlah sila dalam Pancasila.

4. Memiliki 1 Menara

Jika biasanya suatu bangunan memiliki dua menara, tidak dengan Masjid Istiqlal. Masjid Istiqlal hanya memiliki satu menara yang melambangkan keesaaan Allah SWT. Tingginya tidak main-main, mencapai 66,66 meter atau 6.666 cm yang melambangkan jumlah ayat yang ada dalam kitab suci Al Quran.

Mulanya menara itu berfungsi sebagai tempat mengumandangkan Azan, namun saat ini menara tersebut difungsikan sebagai tempat pengeras suara Azan.

5. Memiliki 7 Pintu

Tujuh pintu yang dimiliki Masjid Istiqlal melambangkan delapan jumlah surga dengan tujug lapisan surga seperti yang tercantum di dalam Al Quran. Pintu-pintu tersebut memiliki nama yang diambil dari Asmaul Husna diantaranya As-Salam, Al-Fattah, Ar-Razzaq, Al-Quddus, Al-Ghaffar, Al-Malik, dan Ar-Rahman.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

5 Bangunan Saksi Sejarah Penyebaran Islam di Jakbar



Jakarta

Jejak penyebaran Islam di Jakarta Barat terekam melalui deretan masjid ini. Apa saja?

Bersama Sudin Parekraf Jakbar (30/3/24) detikTravel berkesempatan mengunjungi sejumlah masjid untuk menelusuri sejarah penyebaran agama islam di Jakbar.

1. Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari

Banyak orang mengira bahwa Masjid Istiqlal merupakan masjid raya pertama di Jakarta, namun nyatanya Masjid Istiqlal merupakan milik negara. Adalah Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari yang menjadi masjid raya pertama di Jakarta.


Masjid itu berada di Duri Kosambi, Kecamatan Cengkareng, Kota Jakarta Barat. Dibangun pada lahan seluar 2,4 hektar, masjid yang dibangun pada masa pemerintahan Ahok itu memiliki daya tampung hingga 12.500 jamaah.

Diresmikan pada 15 April 2017, Adhi Moersid selaku arsitek merancang masjid itu dengan nuansa budaya budaya Betawi yang kental, terlihat bangunan atap limas runcing tanpa kubah, ornamen gigi balang pada bangunan, dan pagar langkan juga menghiasi masjid ini.

Berada di lokasi yang luas membuat masjid ini juga kerap digunakan untuk berbagai kegiatan ekonomi dan menjadi salah satu tempat isolasi para pasien Covid pada masa pandemi.

2. Masjid Jami An-Nawier

Masjid ini menjadi bukti bahwa komunitas Arab pernah berjaya di Batavia. Meskipun berada di kawasan Pekojan, masjid itu tak hanya berarsitektur Arab, namun juga memiliki perpaduan gaya Timur Tengah, Tionghoa, Eropa, dan Jawa pada bangunannya.

Didirikan pada tahun 1760 Masehi, masjid itu mulanya memiliki luas 500 meter persegi. Kini, masjid itu diperluas hingga hampir 2000 meter persegi.

Menurut Ketua Pengurus Masjid Jami An-Nawier Ustaz Dikky di masjid itu juga masih menjaga tempat wudu yang orisinil berbentuk kolam dengan sebagai saksi sejarah umat muslim zaman dahulu.

“Ada juga tempat wudu yang menjadi satu saksi sejarah peninggalan yang sudah langka di berbagai wilayah,” kata dia.

Tak hanya sebagai masjid, terdapat bangunan 400 meter persegi yang digunakan sebagai rumah wakaf untuk berdagang yang hasilnya digunakan untuk kesejahteraan masjid.

3. Masjid Langgar Tinggi

Masjid itu merupakan bangunan musala tua yang masih terlestarikan sebagai cagar budaya hingga saat ini. Populer dengan nama Langgar Tinggi karena memiliki 2 lantai yang dijadikan tempat untuk beribadah.

Masjid itu dibangun oleh Syekh Said bin Naum selaku Kapiten Arab pertama di Batavia pada tahun 1829. Masjid itu menjadi asal-usul kampung sekitarnya diberi nama Pekojan. Masjid itu lama-lama dikepung permukiman warga setelah didatangi oleh orang-orang India saat itu.

Bangunan masjid itu juga menyerap berbagai nilai kebudayaan dari berbagai suku dan etnis. Pilar-pilar pada masjid ini mencerminkan kebudayaan Eropa, penyangga bagian luar diserap dari kebudayaan China, dan penggunaan balok-balok rangka payung yang mencerminkan kebudayaan Jawa.

4. Masjid Jami Angke

Berada di Kampung Angke sebagai pusat transit para pedagang dan pendakwah dari mancanegara membuat bangunan masjid ini juga memiliki arsitektur yang unik.

Dibangun pada tahun 1761 Masehi, pada masa pemerintahan Pangeran Jayakarta II, itu menunjukkan perpaduan budaya Bali, Belanda, Maroko, China, dan Jawa. Itu menunjukkan filosofi masjid itu, yakni pada masa lampau hidup berdampingan berbagai suku dan etnis di Kampung Angke.

Muhammad Abyan, Ketua Sarpras dan Sejarah Masjid Jami Angke, mengatakan bahwa toleransi keberagaman yang ada di lingkungan sekitar masjid pun terlihat sangat erat hingga saat ini.

“Dari dulu sudah ditanamkan nilai kerukunan dan kesatuan, yang tionghoa tidak merasa minoritas kami yang muslim juga tidak merasa mayoritas,” kata dia.

Pada bagian barat dan timur masjid terdapat beberapa makam tokoh-tokoh terkait sejarah Kampung Angke. Di antaranya, Syekh Jafar, Syekh Syarif Hamid Al-Qadri dari Kesultanan Pontianak.

5. Makam Pangeran Wijaya Kusuma

Makam ini menjadi cikal bakal terbentuknya nama Wijaya Kusuma sebagai salah satu nama kelurahan di Grogol, Jakarta Barat.

Pangeran Wijaya Kusuma adalah seorang penasehat sekaligus panglima perang pada masa kejayaan Pangeran Jayakarta. Pangeran Jayakarta berasal dari Banten dan sangat menentang Belanda pada abad ke-17.

Hingga kini makam Pangeran Wijaya Kusumarutin dikunjungi oleh para peziarah untuk melakukan tahlilan atau pengajian yang biasanya dilaksanakan pada malam Jumat.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Di Masjid Ini, Khatib Berkhotbah Sambil Pegang Tombak



Jakarta

Biasa masjid memiliki mimbar untuk berkhotbah. Berbeda dengan masjid yang satu ini, selain mimbar sang khatib diwajibkan untuk memegang tombak saat berkhotbah.

Tradisi unik itu ada di Masjid Jami Angke Al-Anwar, Tambora, Jakarta Barat, masjid tertua di Jakarta. Masjid yang juga mempunyai pembeda dengan sentuhan arsitektur Bali, Belanda, Jawa, dan China yang menunjukkan keberagaman.

Bukan mimbar kayu layaknya masjid masa kini, mimbar Masjid Jami Angke dibangun dengan beton bergaya Eropa dan dibuat lebih tinggi daripada mihrab.


Selain microphone dan kursi kayu, di mimbar Masjid Jami Angke Al-Anwar terdapat benda unik yang jarang sekali ditemukan di mimbar masjid lainnya yakni, satu buah tombak yang akan di genggam oleh sang khatib ketika menyampaikan khotbahnya.

Menurut Muhammad Abyan Ketua Sarpras dan Sejarah Masjid Jami Angke, tradisi tersebut dilakukan secara turun temurun sejak zaman dahulu. Berdirinya tombak kayu yang ada di mimbar ini bukan tanpa maksud. Itu menggambarkan ketegasan dan seorang khatib dan menyimbolkan semangat para pejuang kemerdekaan di Kampung Angke.

“Memang sudah tradisi dari dulu, menyimbolkan ketegasan,” kata Abyan.

Tombak kayu tersebut memiliki tinggi sekitar 150 cm dengan mata tombak berbahan kayu berwarna kuning emas. Sangat disayangkan, mata tombak asli dari tombak tersebut telah dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Kemudian, mata tombak tersebut digantikan dengan mata tombak baru yang dibuat semirip mungkin dengan aslinya.

Tradisi unik ini berkaitan dengan Kampung Angke yang pada abad ke-17 menjadi pusat pertahanan Batavia saat itu. Hal ini karena Belanda tidak mencium adanya pergerakan pemberontakan di Kampung ini dan hanya dianggap sebagai lokasi ibadah saja. Sehingga, kawasan Kampung Angke menjadi lokasi yang aman untuk menyusun strategi pemberontakan para pejuang Tanah Air.

“Kenapa di Angke ini menjadi sentral karena Belanda tidak mencium adanya pergerakan disini, padahal masyarakat di sini selain beribadah, syiar, dan berdagang juga melatih strategi peperangan di sini untuk melawan VOC,” kata Abyan saat Kunjungan Wisata Religi Jakarta Barat pada Minggu (30/3/24).

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com