Tag Archives: masjid

Ini Masjid Tertua di Padangsidimpuan, Konon Dibangun dalam 24 Jam



Padangsidimpuan

Kota Padangsidimpuan di Sumatera Utara punya masjid tertua. Konon Masjid Syech Zainal Abidin ini dibangun hanya dalam waktu sehari semalam atau 24 jam.

Berdasarkan keterangan di laman cagar budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov Sumut, masjid ini dibangun pada tahun 1880. Masjid ini menjadi paling tua di Kota Padangsidimpuan.

“Masjid Syech Zainal Abidin dibangun tahun 1880 dan merupakan masjid tertua di Kota Padangsidimpuan,” seperti dikutip pada Jumat (16/2/2024).


Syech Zainal Abidin merupakan ulama dan sufi terkemuka di wilayah Tapanuli bagian Selatan. Dia lahir pada tahun 1810 dan meninggal dunia pada tahun 1903.

Jenazahnya dimakamkan tidak jauh dari lokasi masjid tersebut. Masjid Syech Zainal Abidin sendiri terletak di Desa Pudun Jae, Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua, Kota Padangsidimpuan.

Masjid ini dibangun tanpa menggunakan semen seperti umumnya bangunan zaman sekarang. Bangunan Masjid Syech Zainal Abidin ini dibuat dari tanah liat, telur ayam, batu dan tanah kapur.

Masjid ini dibangun dalam waktu sehari semalam atau 24 jam. Sebanyak 50 orang bergotongroyong untuk membangun masjid ini.

“Bangunan ini dahulunya dibangun hanya dalam tempo waktu 24 jam dengan pekerja lebih dari 50 orang,” terang laman tersebut.

Masjid Syech Zainal Abidin memiliki warna hijau di bagian atap dan dinding berwarna putih. Dinding masjid tersebut dibuat dengan ketebalan 60 centimeter.

Gaya Arab-Jawa melekat dalam ornamen masjid yang memiliki kapasitas 100 jemaah ini. Masjid tersebut memiliki satu pilar besar di bagian tengah. Sedangkan di bagian luar terdapat 8 pilar untuk menopang masjid.

Konon banyak keberkahan terjadi selama proses pembangunan masjid ini. Seperti adanya pekerja yang sembuh dari penyakit kelumpuhan setelah ikut gotong royong membangun masjid ini.

Pemkot Padangsidimpuan kemudian menetapkan Masjid Syech Zainal Abidin ini sebagai cagar budaya pada 2014. Penetapan tersebut berdasarkan Peraturan Daerah nomor 04 tahun 2014.

——

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah 2 Kepala Harimau di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon



Cirebon

Di Cirebon, ada masjid kuno berusia ratusan tahun, yaitu Masjid Sang Cipta Rasa. Di bagian mimbarnya, ada 2 kepala harimau bermakna filosofis. Seperti apa?

Imam Besar Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon, KH Muhammad menuturkan, Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang hingga kini masih berdiri tegak dibangun oleh para Wali Songo dengan tempo sehari semalam pada tahun 1480.

“Masjid ini sudah berusia ratusan tahun yang dibangun oleh para wali dibantu 500 orang dari kerajaan Demak, Majapahit dan Cirebon,” terangnya, Rabu (13/3/2024).


Secara arsitektur, ia menjelaskan, bila bangunan masjid ini sudah berkonstruksi anti gempa. Hal itu ditandai dengan tidak ada cabang pada pondasi masjid.

“Kalau melihat dari pondasi yang tidak memiliki cabang bangunan masjid ini anti gempa,” ucapnya.

Selain itu, terdapat banyak juga ornamen dari berbagai etnis di masjid ini sebagai tanda pluralisme mulai dari negara Arab, Cina, dan Portugis.

“Masjid ini punya beberapa ornamen mulai dari negara Arab, Cina, sama Portugis. Sudah sejak lama Cirebon dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi ditandai dengan sejumlah ornamen yang ada di rumah ibadah,” terangnya.

Alasan penamaan masjid tidak menggunakan bahasa Arab, Jumhur menyampaikan karena sebagai simbol nilai pluralisme yang dijunjung tinggi oleh para wali.

“Penamaan masjid pun tidak menggunakan bahasa Arab karena mengikuti zamannya karena sebagai bukti pluralisme,” ujarnya.

Sedangkan di sudut lain, tepatnya pada bagian mimbar, terdapat dua kepala harimau yang memiliki makna filosofi tersendiri.

“Mimbar Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki keunikan dimana terdapat dua kepala harimau yang terletak di bawah mimbar. Hal ini sebagai bila sudah berbicara harus berani untuk mempertanggungjawabkan,” tegasnya.

Inilah sepenggal bukti akan penyebaran agama islam di kota Udang dan romantisme Sunan Gunung Jati terhadap sang istrinya. Masjid Agung Sang Cipta Rasa.Masjid Agung Sang Cipta Rasa Foto: Sudirman Wamad

Uniknya lagi, jumlah pintu di masjid ini tidak hanya satu. Melainkan terdapat sembilan pintu dengan desain sederhana namun mempunyai makna yang cukup dalam.

“Kenapa ada 9, karena setiap wali memiliki pintu masuk masing-masing,” paparnya.

Masjid yang didesain langsung oleh Sunan Kalijaga ini banyak memiliki keunikan lainnya. Seperti rendahnya ukuran pintu masjid, ia menuturkan karena memiliki pesan untuk merendahkan diri sebelum menghadap sang kuasa.

“Makna pintu rendah itu jangan sombong kepada sang kuasa apalagi kalau mau menghadap-Nya,” bebernya.

Aktivitas di Masjid Sang Cipta Rasa Selama Bulan Ramadan

Selama bulan Ramadan, biasanya masjid ini selalu dipadati oleh jamaah yang melaksanakan ibadah wajib maupun sunnah.

Tidak sedikit juga jamaah yang melakukan tadarus Al Qur’an selama bulan suci Ramadan. Biasanya pada sore hari dan setelah menjalankan ibadah shalat tarawih.

Bilamana sudah masuk pada malam Lailatul Qodar biasanya masjid ini lebih padat lagi dibandingkan sebelumnya. Pasalnya banyak dari jamaah yang melakukan itikaf di masjid yang satu ini.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Siapa Sangka, Masjid Megah Bergaya Timur Tengah Ini Ada di SPBU Tasikmalaya



Tasikmalaya

Siapa sangka, masjid megah dengan gaya Timur Tengah ini berada di sebuah SPBU di Tasikmalaya. Seperti apa penampakannya?

Tempat ibadah menjadi salah satu fasilitas dasar SPBU di samping toilet, isi angin ban dan lainnya. Di Kota Tasikmalaya, ada salah satu masjid SPBU yang mencuri perhatian, karena bangunan masjidnya megah dan tampak estetik.

Masjid tersebut bernama Masjid Jami Al Hidayah yang berada di kompleks SPBU 34.46128 Cikurubuk yang terletak di Jalan EZ Muttaqin Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya.


Banyak masyarakat pengguna jalan di Tasikmalaya dan sekitarnya yang terkesan dengan keindahan arsitektur masjid berkelir putih ini, hingga menjadi magnet bagi warga untuk singgah dan beribadah.

Kesan megah langsung muncul ketika pertama kali masuk ke area SPBU yang tak jauh dari Pasar Cikurubuk ini. Masjid dua lantai tersebut langsung mencuri perhatian.

Masjid SPBU di Kota Tasikmalaya bergaya Timur Tengah.Masjid SPBU di Kota Tasikmalaya bergaya Timur Tengah. Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar

Konstruksi bangunan masjid dua lantai ini terlihat kokoh, gaya arsitekturnya mirip masjid di Timur Tengah. Ornamen-ornamen hiasan bangunan terlihat cantik dengan dominasi warna putih.

Satu kubah besar dengan lafaz Allah SWT menyembul di bagian atas bangunan, seakan menegaskan bahwa bangunan megah ini adalah rumah Allah SWT.

Beberapa batang pohon kurma terlihat menghiasi pelataran masjid, semakin menambah keindahan lanskap juga memperkuat suasana Timur Tengah.

Hawa sejuk dan adem langsung terasa ketika memasuki masjid ini. Sistem ventilasi bangunan ditata dengan baik, ditambah lantai marmer mengkilap boleh jadi turut membuat bagian dalam masjid terasa adem.

Pembangunan masjid ini rupanya belum 100 persen selesai, masih ada beberapa pekerja yang terlihat mengerjakan bagian-bagian detail bangunan. Meski demikian masjid ini sudah dapat digunakan.

“Sudah dipakai, salat Jumat, salat tarawih sudah ramai,” kata salah seorang jamaah.

Masjid SPBU di Kota Tasikmalaya bergaya Timur Tengah.Masjid SPBU di Kota Tasikmalaya bergaya Timur Tengah. Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar

Selain masjid yang megah, pihak pengelola juga sedang membangun toilet masjid yang desainnya tak kalah menarik. Desain toilet masjid yang dibangun terpisah itu juga mengusung konsep arsitektur Timur Tengah, sehingga tampak senada dengan bangunan masjid.

Rizal petugas pengawas SPBU Cikurubuk mengatakan pembangunan atau renovasi masjid ini sengaja dilakukan oleh majikannya pemilik SPBU.

“Iya dibangun oleh Bu Haji Tiktik, majikan kami yang punya SPBU ini,” kata Rizal.

Dia menjelaskan renovasi masjid dilakukan mulai tahun 2023 lalu.

“Asalnya memang masjid, kemudian direnovasi. Pembangunannya terbilang cepat. Hanya setahun sudah jadi semegah ini, waktu di awal-awal pembangunan pekerjanya banyak sekali,” kata Rizal.

Rizal menambahkan majikannya sengaja membangun masjid megah untuk melaksanakan wasiat atau pesan mendiang suaminya.

“Jadi katanya renovasi masjid ini untuk melaksanakan pesan almarhum Pak Haji Wawan, suaminya. Lebih dari itu ya sebagai fasilitas ibadah bagi pelanggan SPBU dan masyarakat,” kata Rizal.

Rizal mengakui banyak masyarakat yang terpikat oleh kemegahan masjid ini. Banyak yang menjadikan masjid ini sebagai spot foto atau dijadikan konten media sosial.

“Ya memang jadi ramai, banyak yang singgah. Banyak yang foto-foto, apalagi kalau malam kan indah sekali. Tapi ada satu larangan yaitu bagi mereka yang mau foto prewedding, itu tidak boleh,” kata Rizal.

Larangan dijadikan lokasi pemotretan pasangan pranikah itu, menurut Rizal karena dianggap melanggar etika kesopanan di dalam masjid.

“Masalahnya sering kali pasangan foto prewedding itu berfoto mesra, padahal mereka kan belum suami istri. Makanya kami melarang masjid ini digunakan untuk prewedding,” kata Rizal.

—–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Unik di Probolinggo, Berbentuk Kubah tapi Tanpa Tembok



Probolinggo

Di Probolinggo, ada sebuah masjid unik. Masjid ini berbentuk kubah, tapi tidak memiliki tembok. Inilah Masjid Al-Ikhlas alias Masjid Kurung.

Bagi pengguna jalan yang melintas di jalur pantura Probolinggo-Situbondo, tepatnya di Kecamatan Pajarakan, pasti sudah tidak asing lagi dengan masjid ini.

Masjid ini unik, berbeda dengan masjid lainnya. Masjid itu bernama Masjid Al-Ikhlas atau orang-orang mengenalnya sebagai Masjid Kurung.


Itu lantaran bentuknya menyerupai kurungan atau kubah sangkar tanpa adanya dinding di pinggirannya. Masjid kurung ini dibangun tahun 1979 oleh Pabrik Gula (PG) Pajarakan.

Saat itu, masjid ini dijadikan tempat ibadah untuk para pekerjanya. Sebelum dibangun masjid, mulanya tempat tersebut musala lalu dikembangkan dan dibangun menjadi masjid.

“Sebelum dibangun jadi masjid, awalnya hanya musala kecil dan memang digunakan untuk ibadah bagi warga yang bekerja di PG Pajarakan. Karena itu kurang lebih pada tahun 1979 oleh pihak pabrik dibangun menjadi masjid,” kata Takmir Masjid Kurung, Suyono, Sabtu (16/3) akhir pekan lalu.

Masjid Kurung Prajarakan ProbolinggoMasjid Kurung Prajarakan Probolinggo Foto: M Rofiq

Pembuatan masjid kurung tanpa dinding ini, lanjut Suyono, diinisiasi pimpinan PG Pajarakan kala itu bernama Ir Djoko Suandono. Seluruh konstruksi bangunannya mengadopsi dari bangunan Masjid Agung Kabupaten Jember.

“Hanya saja perbedaannya kalau Masjid Agung di Jember itu menyerupai kura-kura, kalau Masjid Al-Ikhlas di sini atau Masjid Kurung ini menyerupai batok atau kurungan,” jelas Suyono.

Sejak awal dibangun, hingga saat ini, bentuk konstruksi masjid berkapasitas 400 orang ini tidak pernah diubah sedikitpun.

Hanya saja, pengurus atau pengelola masjid biasanya sebatas mengganti atau memperbarui cat hingga melakukan penambahan pagar di sekeliling masjid.

“Perlengkapan yang ada di dalam masjid juga tidak berubah mulai dulu. Seperti mimbar, lampu gantung di tengah-tengah dan lain-lainnya. Jadi mulai awal dibangun sampai sekarang, perawatannya lebih fokus perbaruan cat atau pergantiannya saja,” ungkapnya.

Sementara itu, selama bulan Ramadan, masjid tersebut tetap beroperasi seperti biasa. Salah satu aktivitasnya yaitu membagikan takjil, tarawih dan tadarus.

“Untuk kegiatan keagamaan sama seperti masjid yang lain, untuk bulan Ramadan kali ini selain untuk berjamaah ada agenda buka puasa bersama, bagi-bagi takjil, salat tarawih dan tadarus,” tandasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Pohon Angsana di Kulon Progo, Dipercaya Tongkatnya Sunan Kalijaga



Kulon Progo

Sebuah pohon angsana raksasa di Kulon Progo dipercaya warga sebagai jelmaan tongkat Sunan Kalijaga. Bagaimana kisahnya?

Pohon angsana yang juga punya nama lain Sonokembang ini bisa dijumpai traveler di Dusun Semaken 1, Kalurahan Banjararum, Kapanewon Kalibawang, Kulon Progo.

Lokasi persisnya berada di dalam area pemakaman umum yang terletak tepat di belakang masjid peninggalan Sunan Kalijaga, yakni Masjid Jami’ Sunan Kalijaga Kedondong atau biasa disebut Masjid Kedondong.


Wujud pohon angsana ini terlihat mencolok jika dibandingkan dengan tumbuhan lain yang ada di area pemakaman itu. Selain karena menjadi satu-satunya pohon angsana yang tumbuh di sana, ukuran pohon yang raksasa juga jadi alasannya.

Ketinggian pohon ini nyaris seukuran menara sutet dan lebar batangnya mencapai lebih dari 1,5 meter. Sementara daunnya tumbuh rimbun hingga hampir menutupi sekujur pohon. Namun sayang, belum ada penelitian tentang berapa usia pohon ini.

Pohon raksasa ini mempunyai cerita tak biasa. Sebab, tanaman itu diyakini merupakan peninggalan Wali Songo, tepatnya berasal dari tongkat yang ditancapkan oleh Raden Said atau dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Imam Masjid Kedondong, Solihudin bercerita, kisah pohon angsana ini bermula ketika Sunan Kalijaga bersama muridnya, Adipati Teroeng atau Panembahan Bodho, sedang dalam perjalanan menuju wilayah Demak, Jawa Tengah.

Di tengah perjalanan, Sunan Kalijaga mengajak Adipati Teroeng untuk rehat. Lokasi peristirahatan berada di tepi Sungai Tinalah, Semaken.

Saat sedang rehat, Sunan Kalijaga berpikiran untuk membangun sebuah masjid. Ide ini muncul karena dia ingin agar agama Islam bisa lebih dikenal masyarakat.

“Sewaktu beristirahat di dekat Sungai Tinalah ini, kemudian Sunan Kalijaga berinisiatif membangun suatu tempat ibadah agar bisa digunakan warga desa, sehingga Sunan Kalijaga memerintahkan Adipati Teroeng untuk membangun masjid,” ujar Solihin saat ditemui di lokasi, Selasa (19/3).

Kondisi Pohon Angsana yang tumbuh di sekitar Masjid Jami' Sunan Kalijaga Kedondong, Dusun Semaken 1, Kalurahan Banjararum, Kapanewon Kalibawang, Kulon Progo, Selasa (19/3).Pohon Angsana yang tumbuh di sekitar Masjid Jami’ Sunan Kalijaga Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikJogja

Sunan Kalijaga lalu menancapkan sebuah kayu sebagai patok awal lokasi masjid yang akan dibangun oleh Adipati Teroeng. Selanjutnya Sunan Kalijaga meninggalkan muridnya untuk melanjutkan perjalanan menuju Demak.

“Kemudian Sunan Kalijaga melanjutkan perjalanan ke Demak. Namun, sebelum berangkat itu Sunan Kalijaga memberi tanda berupa tongkat yang jadi patokan lokasi berdirinya masjid,” ujarnya.

Karena dapat mandat dari gurunya, maka Adipati Teroeng lantas memulai proses pembangunan masjid. Namun sebelum itu Adipati Teroeng mengecek dulu apakah lokasinya sudah pas.

Setelah diteliti ternyata patok lokasi yang dipilih Sunan Kalijaga terlalu dekat dengan sungai. Menurut Adipati Teroeng, lokasi ini dinilai tidak aman karena berpotensi abrasi sehingga titiknya digeser menjauhi sungai.

“Jika tetap dibangun sesuai patok, ada potensi lokasi terkikis aliran sungai. Sehingga Adipati Teroeng berinisiatif menggeser titik lokasi agak ke timur sejauh 100 meter dari titik awal tadi,” terang Solihudin.

Masjid Ini Sudah Ada Sejak Abad 15

Singkat cerita Masjid Kedondong akhirnya berdiri. Dalam catatan sejarah, masjid ini sudah ada sejak abad 15 atau tepatnya tahun 1477 Masehi.

Bersamaan dengan perkembangan Masjid Kedondong, muncul sebuah pohon angsana yang tumbuh di sisi barat atau belakang masjid. Pohon ini berdiri di sekitar patok awal tempat di mana masjid Kedondong seharusnya didirikan.

Oleh karena itu, warga meyakini jika pohon angsana tersebut merupakan tongkat kayu milik Sunan Kalijaga. Keyakinan warga kian menguat setelah mengetahui hanya ada satu pohon angsana di lokasi itu.

“Jadi kemudian tongkat yang ditancapkan Sunan Kalijaga, ternyata tumbuh jadi pohon angsana. Anehnya pohon ini tidak bisa berkembang biak, di sini cuma ada satu pohon tersebut yang letaknya ada di belakang masjid,” pungkas Solihudin.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Lebih Tua dari RI, Masjid Tiban di Pasuruan yang Sudah Berusia 216 Tahun



Pasuruan

Di Pasuruan, ada masjid tua bernama Masjid Jamik Baitul Atiq. Masjid ini sering disebut masjid tiban karena saking tuanya. Usianya konon sudah 216 tahun.

Masjid yang berada di Dusun Serambi, Desa Winongan Kidul, Winongan, Pasuruan ini dibangun pada tahun 1216 Hijriah, atau 216 tahun silam. Usia itu mengacu pada tulisan kaligrafi yang tertera di atas tempat imam.

Takmir masjid Biatul Atiq, Abdul Rochim (68) mengatakan, masjid dengan ornamen mayoritas berwarna hijau tersebut saat ini sudah direnovasi total.


Namun, sejumlah bukti menunjukkan bahwa masjid itu sudah eksis ratusan tahun. Bukti itu masih disimpan dan dirawat dengan baik.

“Ada kendi atau gentong, mimbar tempat khotib khotbah dan ukiran kaligrafi dari kayu,” ujar Rochim.

Di areal masjid ini terdapat makam Habib Sholeh Semendi. Keberadaan makam ulama penyebar Islam ini tidak bisa dipisahkan dengan masjid. Adanya makam aulia ini semakin mengukuhkan tuanya usia masjid.

“Kenapa seperti itu, karena Mbah Semendi ini kan ulama penyebar Islam, maka otomatis membangun masjid. Bangunnya di mana ya di masjid ini, karena di Winongan masjid pertama itu ya Masjid Jamik ini,” jelas Rochim.

Masjid tiban di PasuruanMasjid tiban di Pasuruan Foto: Muhajir Arifin/detikJatim

Menurut Rochim, berdasarkan sumber turun-temurun, awalnya masjid dibangun dengan ukuran 18 X 25 meter. Namun saat ini ukuran luasnya telah mencapai 25 X 25 meter karena mengalami renovasi beberapa kali.

“Bayangkan saja, seluruh warga di desa yang berasal di Kecamatan Winongan dulu kalau Jumatan semuanya ke sini,” tutur Rochim.

Terkait gentong atau kendi yang ada di masjid ini disebutkan Rochim merupakan kubah pertama di masjid tersebut. Saat renovasi, gentong tersebut berada bagian paling atas masjid.

“Dulu kendi ini dipasang di atas kubah masjid,” tandas Rochim.

Di gentong tersebut terdapat tulisan berhuruf China. Tulisan di gentong itu diyakini warga peninggalan zaman Dinasti Qing yang berkuasa di China pada tahun 1636 hingga 1911.

“Berdasarkan penelusuran anak-anak Remas (remaja masjid) yang bertanya ke orang-orang China serta beberapa sumber, gentong dari dinasti Qing,” tandas Rochim.

——

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Wonosobo Memang Kota Dingin, tapi Air di Masjid Ini Hangat Alami



Wonosobo

Salah satunya adalah Masjid Jawahirul Akbar yang berada di Kelurahan Kalianget, Kecamatan Wonosobo punya fasilitas air wudu yang hangat dan alami 24 jam nonstop. Tentu ini jadi daya tarik di Kota Dingin Wonosobo.

Masjid yang berada di jalur utama Wonosobo-Dieng ini pun selalu ramai dikunjungi wisatawan terutama saat akhir pekan.

“Banyak orang yang salat di sini apalagi masjid ini di jalur wisata Dieng. Utamanya Jumat sampai Minggu. Tetapi ada juga yang sebenarnya tidak satu arah tetapi menyempatkan. Seperti kalau ke Semarang dan Jogja itu kan tidak searah tapi banyak yang mampir ke masjid sini,” ujar Takmir Masjid Jawahirul Akbar, Ahmad Ridho saat ditemui di lokasi, Rabu (20/3/2024).


Selain terdapat fasilitas air wudu hangat alami, juga ada kamar mandi dan bak air hangat yang bisa digunakan untuk berendam. Biasanya bak air hangat ini dimanfaatkan orang untuk menghilangkan rasa lelah dari perjalanan.

“Selain ada keran air wudu yang hangat juga ada kamar mandi dan juga bak untuk berendam. Semua airnya juga hangat. Jadi kalau orang yang lagi perjalanan biasa istirahat di sini berendam untuk melepas lelah,” sambungnya.

Masjid Jawahirul Akbar WonosoboMasjid Jawahirul Akbar Wonosobo Foto: Uje Hartono/detikJateng

Masjid dua lantai dengan kapasitas sekitar 800 jemaah ini sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka. Pada tahun 2010 lalu, masjid ini dipugar dan dibangun kembali dengan arsitektur yang lebih modern.

“Masjid ini sudah ada sejak zaman Belanda. Dibangun oleh salah satu tokoh ulama yang ada di Kelurahan Kalianget. Kemudian tahun 2010 ada pemugaran,” terangnya.

Sedangkan untuk fasilitas air hangat, baru tersedia mulai tahun 2014. Air hangat alami ini muncul dari sumber mata air hangat yang jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari masjid. Ridho menjelaskan jika di Kelurahan Kalianget banyak terdapat sumber mata air hangat di area persawahan.

“Di sini memang banyak dijumpai mata air hangat dengan skala kecil di area persawahan warga. Kemudian ada pengeboran dari pihak swasta untuk mencari sumber air, tapi ternyata muncul air panas. Kemudian warga meminta untuk dialirkan ke masjid,” jelasnya.

Ia mengatakan air hangat yang ada di Masjid Jawahirul Akbar ini aman untuk digunakan. Suhunya sudah turun jika dibandingkan pada titik mata airnya langsung.

“Kalau di sumbernya bisa mencapai 70 derajat, tapi di sini hanya 30 derajat. Jadi aman digunakan selama tidak dikonsumsi,” kata dia.

Ridho menambahkan, layaknya masjid pada umumnya, tidak ada biaya untuk beribadah atau beristirahat di Masjid Jawahirul Akbar. Termasuk jika mandi atau berendam air hangat.

“Kalau biaya tidak ada, ini gratis. Hanya memang ada infak itu pun sifatnya seikhlasnya,” ujarnya.

Artikel ini telah tayang di detikjateng

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Inilah Masjid Tertinggi di Jakarta



Jakarta

Melihat keindahan Jakarta dari rooftop gedung sudah biasa. Di sini, dari masjid traveler bisa memandang Jakarta hingga jauh.

Masjid itu bernama Masjid Ar-Rahim. Masjid itu terbuka untuk umum.

Masjid ini bukan sembarang masjid. Masjid ini berada di lantai 27 Menara 165, Jl TB Simatupang, Cilandak, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Menara dengan lafadz “Allah” di bagian atas gedung ini ternyata penanda adanya masjid. Dan, masjid ini dinobatkan sebagai masjid tertinggi di Jakarta.


Masjid ini memiliki bangunan yang sebagian besar bertembok kaca sehingga memungkinkan bagi jemaah untuk memandang gedung-gedung dan jalan tol di seantero ibu kota.

Masjid Ar-Rahim, masjid di Menara 165, merupakan masjid tertinggi di JakartaMasjid Ar-Rahim, masjid di Menara 165, merupakan masjid tertinggi di Jakarta (Natasha Kayla Ananta/detikcom)

Tak hanya sekadar tempat ibadah, Masjid Ar-Rahim juga memiliki jadwal kajian interaktif setiap hari Rabu dan Pengajian di hari Minggu, tentunya menjadi lokasi wisata religi yang pas didatangi ketika bulan puasa.

Bukan cuma nama biasa, Gedung 165 ternyata memiliki 2 makna. Di balik terpilihnya angka 165 dalam nama gedung tersebut bukan berdasarkan urutan lokasi gedung di jalan tersebut, tetapi berikut maknanya.

Pertama, secara agamis, 1 bermakna Ikhsan, 6 merujuk pada Rukun Iman, dan 5 merujuk pada Rukun Islam.

Kemudian, makna kedua adalah makna nasionalis, yakni menggambarkan kelahiran Pancasila yaitu tangga 1, bulan 6 , dan tahun 45 (dalam Tahun Jepang menjadi tahun 05). Sehingga, 165 diartikan sebagai bersatunya cinta agama dan Tanah Air.

Masjid Ar-Rahim, masjid di Menara 165, merupakan masjid tertinggi di JakartaView Jakarta dari Masjid Ar-Rahim, masjid di Menara 165, merupakan masjid tertinggi di Jakarta (Natasha Kayla Ananta/detikcom)

Untuk mengakses masjid ini, traveller harus mendatangi resepsionis terlebih dahulu untuk melakukan registrasi dan menukarkan KTP dengan kartu akses. Setelah itu, traveler akan diarahkan untuk menggunakan lift dengan kode L6 untuk mencapai lantai M1 atau lantai 25 yang menjadi lokasi Masjid Ar-Rahim.

Setibanya di lantai 25, traveller bisa mengambil wudu terlebih dahulu jika akan melakukan ibadah, setelah itu dapat menaiki tangga/lift yang disediakan untuk mencapai lantai 27 yang menjadi lokasi salat. Pada lantai tersebut terpampang Masjid yang dikelilingi tembok kaca dan pemandangan jelas Kota Jakarta dari ketinggian.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Usianya 250 Tahun-Pernah Dipindah 5 Km



Blora

Di Blora, ada sebuah masjid kuno yang usianya sudah 250 tahun. Masjid itu juga konon pernah dipindah sejauh 5 kilometer. Inilah kisah Masjid Baiturrohman:

Masjid tersebut terletak di Desa Ngadipurwo, tepatnya berada di dalam Komplek Makam Keluarga Tirtonatan. Lokasinya tak kurang dari 7 kilometer ke utara dari jantung kota Blora.

Pemerhati sejarah asal Blora, Dalhar Muhammadun menyebut cikal bakal masjid itu berupa surau atau langgar yang didirikan pada 1774. Pendirinya adalah Bupati kedua Blora, Raden Tumenggung (RT) Djajeng Tirtonoto.


Djajeng Tirtonoto menjabat sebagai bupati selama 14 tahun dari 1768-1782. Setelah Djajeng wafat pada tahun 1785, keberadaan langgar dilanjutkan anaknya, yaitu R.T. Prawirojoedo yang juga menjabat Bupati Blora (1812-1823).

Bangunan langgar lambat laun mengalami kerusakan. Kemudian, langgar tersebut direhabilitasi oleh R.T. Prawirojoedo pada tahun 1814.

“Awalnya bentuknya kayu semua. Semakin lama kan juga rapuh, terus dibetulin sama Bupati Prawirojoedo,” terang Madun, sapaan akrabnya, Kamis (21/3) lalu.

Beberapa puluh tahun kemudian, langgar pun dirubah menjadi masjid tepatnya pada tanggal 19 Agustus 1894 Masehi atau 17 Safar 1312 Hijriah oleh Raden Mas Adipati Arya (R.M.A.A.) Tjokronegoro III. R.M.A.A. Tjokronegoro III merupakan Bupati Blora tahun 1857-1886.

Masjid ini pun dipercaya sebagai salah satu masjid tertua yang ada di Blora. Usia masjid ini kini sudah mencapai 250 tahun.

Masjid Baiturrohman yang berada di Komplek Makam Keluarga Tirtonatan Desa Ngadipurwo, Kecamatan Blora. Foto diunggah Kamis (21/3/2024).Masjid Baiturrohman di Blora Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng

Meskipun mengalami beberapa kali pembenahan, keaslian kayu masjid ini masih tetap terjaga. Beberapa ornamen tampak lawas. Di antaranya pilar berbahan kayu jati, tembok yang cukup tebal, serta bedug diletakkan di serambi.

Selain itu mimbar khatib dan Mustaka Masjid yang berbentuk mirip seperti mahkota raja jawa. Termasuk, prasasti berbentuk ukiran kaligrafi terdapat di sebelah kanan pintu masuk masjid.

Sampai saat ini, masjid ini terlihat kokoh dan asri. Masjid itu digunakan untuk aktivitas keagamaan oleh masyarakat. Pada bulan puasa ini juga digunakan untuk tadarusan membaca Al Qur’an.

Konon, Masjid Ini Pernah Dipindah Sejauh 5 Kilometer

Ada versi lain dari sejarah masjid tertua di Blora itu. Konon, masjid itu pernah dipindah dari Desa Purwosari ke Desa Ngadipurwo yang jaraknya sekitar 5 kilometer.

Adapun pemindahan itu dilakukan saat bangunan itu masih berupa langgar. Menurut Madun, pemindahan dilakukan oleh seorang ulama bernama Kyai Amiruddin.

“Kyai Amiruddin, cucu Kyai Abdul Qohar Ngampel, tokoh penyebar Islam di Blora di periode yang lebih awal,” ucap Madun.

Kondisi masjid saat dipindah masih berbahan kayu. Hingga kini masih ada sebuah tanah kosong di Purwosari yang diyakini merupakan tempat awal masjid itu berdiri.

“Ada tanah kosong katanya bekas masjid di Purwosari. Masyarakat Purwosari masih menokohkan Kyai Amirudin, masih dihauli. Sementara Kyai Amiruddin makamnya belum ada yang mengetahui keberadaannya,” ucap Madun.

Versi sejarah masjid yang dipindah ini juga diakui oleh Ketua Ta’mir Masjid Abdurrahman, Azizi Malik. Dia mengatakan, berdasarkan cerita masyarakat sekitar, masjid ini berasal dari Desa Purwosari yang kemudian dipindah ke Desa Ngadipurwo.

“Masjid ini dulu ceritanya dari Purwosari dipindahkan oleh Kiai Amirudin, dan kemudian didirikan di Desa Ngadipurwo pada tahun 1894 oleh Bupati Blora R.T. Tjokronegoro III,” ucapnya.

Masjid dipindahkan ke Ngadipurwo di sebidang tanah yang dahulunya berdiri langgar yang dibangun Raden Djajeng. Azizi menyebut, Tjokronegoro mendirikan masjid itu pada tanggal 19 Agustus 1894. Dari waktu tersebut masyarakat meyakini bangunan masjid masih terjaga keutuhannya.

“Mimbar masih asli, pilar dan tembok asli, bedug juga. Selain itu yang asli sebagian sudah pada rusak misalnya lampu zaman dulu tapi sudah banyak yang rusak,” jelas Azizi.

—–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Ini Dulu Khusus untuk Bangsawan Jogja, Kini buat Rakyat Jelata



Jogja

Di zaman dahulu, Masjid Sela di Kraton Jogja dikhususkan untuk para bangsawan. Namun sekarang, rakyat jelata pun bisa menggunakannya.

Masjid yang berada di Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton ini merupakan salah satu masjid tertua di Jogja. Berstatus ‘kagungan ndalem’, masjid ini dibangun pada era Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pertama yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Jika diamati, arsitektur bangunan masjid menyerupai bangunan Tamansari dan Keraton Jogja. Tercermin dari atap dan juga tembok tebal yang masih asli sejak pertama kali dibangun. Bahkan ketebalan tembok masjid mencapai 75 centimeter.


“Masjid Sela aslinya namanya Masjid Watu, kalau di kromo inggil jadi Sela, tapi ada juga sebut Masjid Batu kalau bahasa Indonesia. Dibangun zaman Sri Sultan Hamengku Buwono I dilanjutkan Sri Sultan Hamengku Buwono II. Bersamaan dengan pembangunan Keraton Jogjakarta,” jelas marbot Masjid Selo, Sunarwiyadi ditemui di Masjid Sela Jogja, Senin (18/3) lalu.

Sejarah Masjid Sela, lanjutnya, berada di dalam kompleks Ndalem atau kediaman Pangeran. Tepatnya Pangeran yang kemudian akan bertakhta sebagai raja di Keraton Jogja. Kala itu, Masjid Sela digunakan sebagai tempat ibadah salat para pangeran dan bangsawan.

“Itulah mengapa masjid ini istilahnya panepen atau masjid khusus karena memang untuk keluarga bangsawan. Kalau jemaah umum ada sendiri di utara masjid, sekitar 200 meter,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, masjid ini sempat tak digunakan oleh para pangeran. Sunarwiyadi menuturkan, Masjid Sela sempat tidak digunakan dalam kurun waktu antara puluhan hingga ratusan tahun.

Penyebab masjid itu tidak digunakan adalah para pangeran hijrah ke bangunan utama keraton yang saat ini berada.

Masjid Sela Yogyakarta, Sabtu (3/6/2017).Masjid Sela Foto: Edzan Raharjo

Pada saat tak digunakan, fungsi masjid juga berubah menjadi tempat menyimpan keranda jenazah. Pada akhirnya, warga memberanikan diri bersurat ke keraton untuk meminta izin menggunakan Masjid Selo sebagai tempat ibadah.

“Tahun 1965 beberapa tokoh masyarakat melihat ada masjid kecil tidak digunakan, lalu kirim surat ke Keraton mohon izin gunakan, lalu diizinkan. Kena dinggo, tapi ora kena diowah-owah (boleh dipakai tapi tidak boleh diubah), balasannya sederhana,” kisahnya.

Oleh masyarakat, masjid lalu dibersihkan dan keranda jenazah dipindahkan. Selang waktu, akhirnya Masjid Selo kembali difungsikan menjadi tempat ibadah salat. Bangunan inti masjid bisa menampung hingga sekitar 30 jemaah.

Sunarwiyadi memastikan bangunan Masjid Sela masih asli. Renovasi hanya dilakukan di bagian lantai yang awalnya memakai semen batu merah dengan alas kepang dan tikar.

“Lalu sekarang sudah direnovasi dan menggunakan keramik,” ujarnya.

Terkait desain masjid, Sunarwiyadi mengaku sempat mendapat cerita ada campur tangan arsitek asal Portugis. Sosok ini pula yang turut mendesain bangunan Keraton Jogja dan Tamansari. Terbukti dari sejumlah kesamaan detail bangunan.

Walau dikerjakan arsitek Portugis, namun Masjid Selo tetap mengusung kearifan lokal. Ditunjukkan dengan pintu masuk bangunan yang pendek sehingga jamaah harus menunduk saat akan masuk ke masjid.

“Bangunan inti masih asli yang tengah. Kalau kiri kanan bangunan tambahan. Dulu kolam itu sumber airnya dari sungai Winongo. Sekarang sudah tidak ada, tapi salurannya masih ada cuma tidak dipakai lagi,” katanya.

Untuk bangunan inti memiliki luas 6 meter X 8 meter. Dalam kondisi normal bisa menampung hingga 30 jamaah. Sementara dengan bangunan tambahan bisa mencapai 150 jamaah.

Terkait agenda Ramadan 2024, diisi dengan beragam agenda. Mulai dari berbagi takjil, TPA anak hingga tadarus. Penyelenggaraan salat tarawih juga menggunakan bangunan inti. Selain itu juga ada dua bangunan tambahan di sisi kanan dan kiri masjid.

“Agenda Ramadan itu habis Isya, tarawih lalu tadarus dua kelompok. Ada ibu-ibu dan bapak-bapak di tengah sini, terpisah. Lalu untuk iktikaf itu di 10 hari terakhir,” ujarnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com