Tag Archives: masjid

Sunan Sendangduwur dan Masjid Ajaibnya di Lamongan



Lamongan

Sunan Sendangduwur atau Raden Noer Rahmat adalah penyebar agama Islam di Lamongan. Ia mendirikan masjid dengan kisah ‘ajaib’ di kota itu. Seperti apa kisahnya?

Raden Noer Rahmat merupakan keturunan Syekh Abdul Qohar dari Baghdad yang merantau ke pulau Jawa dan menikah dengan putri dari Tumenggung Sedayu bernama Dewi Sukarsih.

Hal ini diungkapkan oleh Irfan Masyhuri yang mengaku sebagai keturunan ke-13, sekaligus juru kunci makam Sunan Sendangduwur. Hingga kini, makamnya yang terletak di kawasan dataran tinggi Desa Sendangduwur, Kecamatan Paciran masih banyak dikunjungi para peziarah.


“Raden Noer Rohmat lahir pada tahun 1520 masehi dan saat remaja kemudian berpindah dari Sedayulawas, lalu babat alas di tempat yang bernama Dukuh Tunon ini,” ujar Irfan.

Sejumlah peninggalannya masih terawat dan digunakan hingga kini. Salah satunya yakni masjid yang berada di area pemakaman Sunan Sendangduwur. Ada cerita menarik terkait pembangunan masjid ini.

Menurut cerita, terang Navis, masjid yang berada di makam Sendangduwur ini dibangun tidak secara bertahap. Namun ada beberapa versi cerita yang melingkupi pembangunan masjid ini.

Cerita pertama, masjid tersebut ‘diboyong’ oleh Sunan Sendangduwur dalam waktu kurang dari semalam dari wilayah Mantingan, Jepara, tempat Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono yang saat itu mempunyai masjid.

“Setelah mendapat gelar sunan, Raden Noer Rahmat berharap bisa mendirikan masjid di Desa Sendangduwur. Karena tidak mempunyai kayu, Sunan Drajad menyampaikan masalah ini kepada Sunan Kalijogo yang mengarahkannya pada Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono di Mantingan, Jepara, yang saat itu mempunyai masjid,” ungkap Navis.

Cerita lain terkait masjid ini, ungkap Navis, masjid tersebut dibawa rombongan melalui laut dari Mantingan Jepara menuju KE Lamongan hanya dalam waktu satu malam.

Ketika mendarat di Lamongan, rombongan pengantar masjid ini diterima langsung oleh Sunan Sendangduwur dan Sunan Drajat beserta pengikutnya.

“Saat istirahat inilah sunan menjamu rombongan dari Mantingan itu dengan kupat atau ketupat dan lepet serta legen, minuman khas daerah setempat,” papar Navis.

Pendirian masjid sendiri ditandai dengan surya sengkala yang berbunyi ‘gunaning seliro tirti hayu’ yang berarti menunjukkan angka tahun baru 1483 Saka atau Tahun 1561 Masehi.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Pohon Kantil Ini Jadi Saksi Bisu Masjid Berusia 4 Abad di Klaten



Klaten

Di Klaten, ada sebuah masjid yang konon usianya sudah 4 abad. Saksi bisunya adalah sebuah pohon kantil yang tumbuh di depannya. Begini kisahnya:

Masjid Roudlotuzzahidin yang berada di Dusun Tegalarum, Desa Kunden, Kecamatan Karanganom, merupakan salah satu masjid tua yang tersisa di Klaten. Masjid tersebut konon didirikan sekitar tahun 1000 H atau 1581 Masehi pada masa kesultanan Pajang, Solo, 443 tahun silam.

Jejak masjid tua itu terlihat dari arsitektur di dalamnya. Ada empat tiang kayu jati utuh yang menjadi penopang utama bangunan masjid meski temboknya kini tampak keramik.


Pada bagian atapnya, bangunan masjid ini menggunakan kayu. Bangunan Masjid Roudlotuzzahidin ini mirip Masjid Golo dan Masjid Kajoran di sekitar kompleks makam Sunan Pandanaran, Desa Paseban, Kecamatan Bayat.

Lalu di sisi utara masjid masih terdapat kolam air sebagaimana masjid kuno umumnya. Kolam air tersebut masih dipertahankan meskipun tidak lagi digunakan untuk bersuci.

Arsitektur Masjid Roudlotuzzahidin di Tegalarum, Klaten. Banguna masjid ini diperkirakan berusia 443 tahun. Foto diambil Sabtu (30/3/2024).Kolam air di Masjid Roudlotuzzahidin Klaten Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Tak hanya kolam air, model bangunan masjid kuno juga terlihat dari pohon kantil tua di depan masjid. Pohon kantil berdiameter sekitar 80 sentimeter itu menyisakan kulit kayunya yang mengelupas karena usia.

Pohon yang memiliki berbagai mitos bagi masyarakat Jawa itu juga masih berdiri kokoh di badan jalan kampung. Pengurus masjid pun tak berencana menebang pohon kantil itu karena menjadi saksi bisu sejarah masjid berusia lebih dari 400 tahun ini.

“Usia masjid ini sudah 400-an tahun. Ini (pohon kantil) termasuk peninggalan karena ditanam bersamaan pendirian masjid,” kata Penasihat Takmir Masjid, Muhammad Asrori (80) dalam bahasa Jawa, Sabtu (30/3) akhir pekan lalu.

Sejarah Berdirinya Masjid

Asrori yang juga sesepuh masjid, Dusun Tegalarum dulunya berupa tegalan tanpa penduduk. Pada masa itu, tahun 1581 masa Kasultanan Pajang, Solo, ada seorang bangsawan yang meminta lokasi itu dijadikan tempat penyebaran agama Islam.

“Bangsawan itu minta diajari ngaji, kemudian meminta kepada Kiai Syarifuddin di Gading Santren (Desa Belang wetan, Kecamatan Klaten Utara) mengirim guru ngaji. Lalu dikirim Mbah Kiai Ahmad Mahrom ke sini,” tutur Asrori.

Asrori menerangkan Kiai Ahmad Mahrom lalu membersihkan tegalan yang ditumbuhi ilalang untuk didirikan masjid. Semakin lama pengajian semakin ramai sehingga santri membangun rumah di sekitar masjid.

“Terus santri buat rumah sekitar sini terus sampai sekarang pada bisa ngaji, ada sekolah ada pesantren. Makam Mbah Kiai Ahmad Mahrom di belakang masjid,” lanjut Asrori.

Asrori menuturkan masjid ini kini sudah dipugar dari bangunan aslinya. Dulunya ada tangga yang terbuat dari kayu papan dan mimbar yang kini sudah tidak ada. Namun, pohon kantil tua itu masih dipertahankan sebagai pengingat sejarah.

“Tidak ditebang karena untuk sejarah, karena bunga kantil banyak dan harum baunya, di sini dinamakan Tegalarum,” imbuhnya.

Arsitektur Masjid Roudlotuzzahidin di Tegalarum, Klaten. Banguna masjid ini diperkirakan berusia 443 tahun. Foto diambil Sabtu (30/3/2024).Masjid Roudlotuzzahidin di Tegalarum, Klaten. Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Penasihat masjid lainnya, Muhammad Busairi (79) menambahkan, dulunya mimbar masjid berasal dari kerajaan. Ada ukiran dan ada tongkatnya untuk khotbah.

“Ada tongkatnya, ukiran karena dari kerajaan tapi sudah rusak dan tidak ada lagi. Kalau bunga kantil dulu banyak yang cari ke sini,” kata Busairi.

Peninggalan lain, sebut Busairi, adalah kolam air untuk bersuci. Dia mengenang ada banyak orang yang mengambil air dari kolam itu untuk berbagai keperluan.

“Orang sakit dimandikan di sini, orang mau cari jabatan mandi ke sini. Tapi itu zaman dulu, ya hanya sebagai sarana, tapi sekarang sudah tidak ada,” terang Busairi.

——

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Megahnya Masjid Tiban Malang yang Konon Dibangun dalam Sehari


Jakarta

Malang tak hanya terkenal dengan wisata alamnya, tapi juga terdapat wisata religi yang menarik untuk dikunjungi, salah satunya Masjid Tiban. Menurut isu yang beredar di masyarakat, konon masjid ini dibangun hanya dalam waktu sehari.

Hal itu yang membuat banyak wisatawan penasaran ingin berkunjung ke Masjid Tuban. Tapi tak hanya kisah itu saja, bangunan masjidnya pun juga menarik perhatian karena begitu megah dan luas.

Penasaran, seperti apa sejarah dan pendiri Masjid Tiban Malang? Simak pembahasannya secara lengkap dalam artikel ini.


Mengenal Masjid Tiban Malang

Sebenarnya, Masjid Tiban Malang merupakan sebuah pondok pesantren bernama Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah. Pondok pesantren ini juga sering disebut Pondok Bi Ba’a Fadlrah yang artinya lautan-lautannya madunya.

Tak hanya sekadar nama, sebab di balik penamaan tersebut menyimpan harapan bahwa setiap pengunjung mendapat berkah dari Allah SWT.

Kabar yang beredar di masyarakat, konon Masjid Tiban Malang dibangun berkat bantuan jin. Sebab, proses pembangunan masjid tersebut tak terlihat warga sekitar dan berlangsung cepat.

Dalam bahasa Jawa, kata Tiban artinya tiba-tiba. Hal tersebut berkaitan dengan proses pembangunan masjid yang berlangsung cepat. Namun, pihak pondok pesantren membantah cerita tersebut.

Faktanya, kabar tersebut hanya isapan jempol belaka. Sebab, pembangunan Masjid Tiban telah berlangsung sejak lama.

Masjid Tiban Malang mitosnya dibangun oleh jin dalam semalamFoto: Muhammad Aminudin

Mengutip e-jurnal berjudul Pengembangan Wisata Religi dan Budaya Multikultural di Masjid Tiban Malang Jawa Timur yang disusun Ahmad Beady Busyrol Basyar, peletakan batu pertama Masjid Tiban berlangsung pada 1987. Awalnya, masjid itu masih semi permanen hingga 1992.

Pembangunan Masjid Tiban berdasarkan hasil istikharah K.H Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh. Beliau merupakan pengasuh pondok pesantren.

Pembangunan Masjid Tiban dilakukan pada masa kepemimpinan K.H Ahmad Bahru. Uniknya, pengerjaan proyek Masjid Tiban dilakukan oleh para santri dan penduduk yang tinggal di kawasan tersebut. Material yang digunakan yakni tanah merah yang dicampur dengan tanah liat dan lumpur.

Keunikan Masjid Tiban

Arsitektur dari masjid ini sangat megah dan juga unik. Sebab, Masjid Tiban memadukan ornamen khas Turki, India, Rusia, dan Mesir. Meski terkesan campur aduk, tapi desainnya memiliki ciri khas tersendiri.

Masjid Tiban dibangun di atas tanah seluas 8 hektare. Sementara bangunan utama masjid luasnya sekitar 1,5 hektare.

Masjid Tiban Malang mitosnya dibangun oleh jin dalam semalamFoto: Muhammad Aminudin

Menara tinggi milik Masjid Tiban yang berada di tengah-tengah pemukiman masyarakat berhasil mencuri perhatian. Selain itu, masjid ini didominasi warna biru dan putih, sehingga tampak mentereng di antara bangunan sekitar.

Melihat ke bagian interiornya, Masjid Tiban dihiasi dengan keramik warna-warni. Lalu, ada juga berbagai ukiran semen yang bentuknya menyerupai gua.

Pengunjung yang datang ke sini juga bisa menyaksikan keindahan kaligrafi di dinding masjid. Maka tak heran, tempat ini ramai dikunjungi wisatawan yang ingin berwisata religi.

Fasilitas di Masjid Tiban

Masjid Tiban beralamat di Jalan Wachid Hasyim, Gang Anggur No.10, Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Walau lokasinya berada di tengah pemukiman penduduk, tapi Masjid Tiban terdiri dari 10 lantai. Wow!

Sama halnya seperti gedung perkantoran, setiap lantai di Masjid Tiban punya fungsinya masing-masing, yaitu:

  • Lantai 1: tempat istirahat dan musala.
  • Lantai 2: loket, tempat istirahat, tempat makan, dan dapur.
  • Lantai 3: musala, akuarium yang berisi berbagai jenis ikan, seperti ikan koi dan ikan arwana. Lalu ada juga kebun binatang mini.
  • Lantai 4: lantai khusus keluarga pengasuh pondok pesantren.
  • Lantai 5: khusus untuk musala.
  • Lantai 6: tempat istirahat para santri
  • Lantai 7 dan 8: terdapat toko dan kios-kios milik pesantren yang dikelola oleh para santri.
  • Lantai 9: bangunan yang didesain sebagai lereng gunung.
  • Lantai 10: gua dan juga merupakan puncak gunung.

Oh ya, pengunjung yang datang ke Masjid Tiban Malang tidak dikenakan tiket masuk sama sekali alias gratis. Kalau datang ke sini, jangan lupa sempatkan diri untuk berfoto-foto, ya!

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

Sediakan Makan-Tempat Tidur Gratis buat Semua Umat



Surabaya

Masjid di Surabaya ini viral karena menyediakan makanan, minuman hangat dan dingin, hingga tempat tidur gratis buat semua umat. Penasaran di mana lokasinya?

Jika traveler melintasi Jalan Kalikepiting No 111, Pacar Kembang, Surabaya, ada sebuah ruko dengan neon box bertuliskan Masjid Pemuda Konsulat. Ya, di situ lah masjid viral ini berada.

Tempatnya cukup kecil untuk sebuah masjid. Bahkan di bagian depannya, ada banner yang bertuliskan masjid ini hanya mampu menampung 150 jemaah saja.


“Dulunya, ini kantor dan kos-kosan. Bawahnya kantor Konsulat Filipina dan atasnya kos-kosan. Makanya masjid ini dinamakan Masjid Konsulat,” kata Pengurus Masjid Konsulat Pemuda, Ramadhan Surohadi, Minggu (9/6/2024).

Begitu menginjakkan kaki di serambinya, seorang marbot masjid menyambut dengan ramah. Pada sisi kanannya, ada kulkas showcase dan beberapa tumpuk kardus berisi air mineral, serta beberapa toples aneka jajanan.

Semua itu bisa dinikmati secara gratis. Bahkan, kami sempat ditawari minuman hangat oleh marbot Masjid Pemuda Konsulat.

“Mau kopi atau teh, Mas?” tawar sang marbot masjid.

Memasuki bagian dalam masjid, suasana sejuk dari pendingin ruangan sangat terasa. Terlihat beberapa rak buku yang diisi Al-Qur’an dan berbagai macam buku agama, serta minyak wangi yang bisa dipakai jemaah.

Masjid Konsulat Pemuda SurabayaMasjid Konsulat Pemuda Surabaya Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJatim

Ruangannya tak terlalu besar namun cukup panjang. Hanya ada tiga saf untuk makmum dan sebuah tempat imam dengan mimbar. Pada bagian ujung, terdapat sekat untuk jemaah perempuan.

Masjid Pemuda Konsulat ini terasa tak pernah sepi. Selain ada berbagai aktivitas keagamaan di bagian dalam, suara tawa anak-anak pun terdengar lepas di sisi luar masjid.

Tak hanya sebagai sarana ibadah, masjid ini juga dibuka setiap saat untuk masyarakat. Marbot dan santri selalu sigap membantu kebutuhan mereka.

“Masjid ini siap untuk melayani masyarakat. Bagaimana caranya salat tepat waktu, ada yang azan, iqamah, tempatnya bersih, siap untuk sujud, sarana prasarananya ada,” terang pria yang akrab disapa Rama itu.

Tak hanya itu, masjid ini juga menyediakan matras empuk dan nyaman untuk para jemaah yang akan beristirahat. Jika ingin mandi, ada kamar mandi lengkap dengan sabun dan sampo yang bisa digunakan.

“Kita juga terbuka 24 jam jika ada yang ingin datang untuk istirahat. Bahkan kalau ada yang mau mandi, silakan saja, sangat diperbolehkan,” tambahnya.

Sediakan Ratusan Porsi Makanan Gratis

Masjid Konsulat Pemuda juga menyediakan ratusan porsi makanan gratis. Tak hanya bagi masyarakat sekitar dan jemaah masjid, siapapun boleh mampir untuk mengisi perut mereka.

“Setiap Senin sampai Sabtu, kami menyediakan setidaknya 160 porsi makanan. Kalau Ahad (Minggu) libur supaya teman-teman bisa beristirahat,” tutur Rama.

Semua orang bisa makan gratis di Masjid Pemuda Konsulat SurabayaSemua orang bisa makan gratis di Masjid Pemuda Konsulat Surabaya Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJatim

Selain masyarakat dan para pendatang dengan berbagai keperluan, ada pula santri yang menghuni masjid ini. Lantai dua masjid yang semula difungsikan sebagai indekos, kini menjadi tempat tinggal puluhan santri.

“Ada (santri) yang masih bersekolah di sekitar sini, di sela-sela sekolahnya fokus mengaji dan membantu kegiatan masjid. Untuk yang profesional, mereka sudah selesai SMA dan kuliah,” ujar Rama.

“Ada (santri) yang lulusan Jepang, ada yang lagi ambil S2 santri-santri itu. Ada yang memang ingin belajar manajemen masjid, ingin saat pulang nanti bisa menduplikasi di daerahnya. Ada juga yang memang mau khidmat di sini,” sambungnya.

Berbagai fasilitas disediakan pengelola masjid untuk puluhan santri ini. Hal ini dimaksudkan agar mereka dapat totalitas merawat masjid.

“Mereka kita siapkan tempat tidurnya, kebutuhan sehari-harinya, dan setiap bulannya kita kasih hadiah. Harapannya, mereka di sini fokus 100% profesional mengurus masjid,” ungkap Rama.

“Total (pengurus masjid) sampai yang masak segala macam ada 23. Tapi yang menginap di sini, termasuk pengasuh sama istri anaknya, ada 16,” pungkasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

4 Destinasi Wisata di Marunda, Jakarta Utara


Jakarta

Selain Ancol, Marunda bisa menjadi pilihan liburan traveler saat berada di Jakarta Utara. Berikut empat spot wisata di Marunda yang bisa dikunjungi.

Saat berkunjung dan berlibur ke Jakarta Utara, destinasi mana saja sih yang akan jadi tujuannya? Mungkin beberapa akan menjawab kawasan Ancol karena banyaknya pilihan dan wahana yang menarik di sana. Tapi selain kawasan Ancol, ada juga nih tempat menarik dan tentunya harganya lebih terjangkau.

Coba deh untuk sesekali berkunjung ke beberapa tempat tentunya selain hemat di kantong juga bakalan ngasih informasi sejarah yang seru. Atau menikmati suasana pantai yang tenang sambil menyaksikan matahari terbenam.


Kesampingkan terlebih dahulu pikiran tentang Jakarta Utara bikin penat jalanannya karena banyak truk-truk besar yang lewat hingga debu jalanan yang tebal. Anggap saja hal-hal tersebut sebagai proses untuk menikmati destinasi ini.

Berikut empat tempat di Marunda, Jakarta Utara:

1. Pantai Marunda

Pantai Marunda, Cilincing, Jakarta Utara diminati pengunjung pada momen libur sekolah kali ini. Biaya masuk terjangkau, pantai pun kian bersih.Pantai Marunda, Cilincing, Jakarta Utara diminati pengunjung pada momen libur sekolah kali ini. Biaya masuk terjangkau, pantai pun kian bersih. (Pradita Utama/detikcom)

Mungkin yang terbersit dalam pikiran dan ingatan tentang pantai ini adalah kotor dan banyak sampah. Ya, jika beberapa tahun lalu pantai tersebut memang memperlihatkan sisi yang seperti itu namun keadaannya sekarang telah berangsur membaik.

detikTravel berkunjung beberapa kali ke kawasan Pantai Marunda belakangan ini dan melihat tumpukan sampah itu mulai menghilang. Keadaan pantai cukup bersih tak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Saat ini, petugas PPSU dan petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup Pulau Seribu rutin membersihkan area pantai tersebut. Pantai Marunda pun nyaman untuk dikunjungi.

Waktu tepat untuk menikmati Pantai Marunda ini adalah saat sore hari dan biasanya pantai ini akan mulai ramai dikunjungi sedari pukul 14.00 WIB. Jangan khawatir jika perutmu lapar karena di sini juga banyak tersedia warung cemilan hingga rumah makan masakan khas pantai yang menggiurkan.

Harga tiket masuk: cukup membayar parkir, Rp 5.000 untuk motor dan Rp 10.000 untuk mobil. Jika datang di weekend akan ada biaya tambahan di pintu masuk sebesar Rp 2.000.

Jam buka: tak ada waktu tentu, biasanya pengunjung mulai meninggalkan pantai setelah matahari terbenam.

2. Rumah Si Pitung

Rumah Si Pitung di Marunda, Jakarta UtaraRumah Si Pitung di Marunda, Jakarta Utara (Pradita Utama/detikcom)

Situs cagar budaya ini perlu kamu datengin ketika berada di wilayah Marunda karena biar mengetahui informasi-informasi menarik di bangunan tersebut. Rumah Si Pitung bukan sejatinya rumah yang ditinggali oleh yang bernama Pitung tapi rumah tersebut dahulu milik Haji Marsani yang dijadikan tempat pelarian Pitung.

Naman Pitung sendiri terdapat banyak versi ada yang menyebut nama seseorang dan ada juga yang menyebut nama sebuah kelompok. Tama, yang merupakan pemandu di Rumah Si Pitung, menceritakan versi Pitung yang paling masuk akal adalah versi sebagai kelompok.

“Tujuh orang itu ada nama-namanya lagi tapi yang paling orang kenal itu tuh nama pemimpinnya tuh Radin Muhammad Ali Nitikusuma,” kata Tama saat ditemui detikTravel, Jumat (5/7/2024).

Cerita berbagai versi Pitung ini bakalan kamu dengar langsung jika berkunjung ke Rumah Si Pitung yang terletak di Jalan Kampung Marunda Pulo 2, Cilincing, Jakarta Utara.

Harga tiket masuk: Selasa – Jumat untuk dewasa Rp 10.000, mahasiswa dan anak-anak/pelajar Rp 5.000, rombongan dewasa Rp 7.500, rombongan pelajar/mahasiswa/anak-anak Rp 3.500, dan wisatawan mancanegara Rp 50.000

Untuk Sabtu dan Minggu, dewasa Rp 15.000, mahasiswa Rp 5.000, anak-anak/pelajar Rp 5.000, rombongan dewasa Rp 11.500, rombongan pelajar/mahasiswa/anak-anak Rp 3.750, dan wisatawan mancanegara Rp 50.000

Jam buka: 08.00 – 16.00 WIB, buka setiap hari kecuali hari Senin dan libur nasional.

3. Masjid Al Alam

Masjid Al Alam, Marunda, Jakarta UtaraMasjid Al Alam, Marunda, Jakarta Utara Foto: Pradita Utama/detikcom

Destinasi berikutnya di Marunda masih terdapat kaitannya dengan cerita Pitung. Konon, Pitung pernah singgah ke masjid yang dibangun pada abad ke-17 dan didirikan oleh Pasukan Fatahillah saat akan menyerang Sunda Kelapa.

Di Masjid yang tak terlalu jauh dari Rumah Si Pitung dan Pantai Marunda itu menyimpan segudang cerita yang menarik, juga bangunannya tak berubah sejak dulu. Masjid itu berada di Jalan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara.

Hanya beberapa bagian sudah diperbaiki karena faktor usia, salah satu pengurus masjid Al Alam atau disebut juga Masjid Al Marunda, Kusnadi, mengatakan kalau masjid ini hanya dibangun dalam satu malam saja.

“Masjid Aulia Al Marunda ini dalam waktu semalam saja, itu cerita dari orang tua kita bahwa Masjid Aulia Al Marunda didirikan dalam waktu semalam oleh para aulia,” kata Kusnadi.

Selain sarat dengan cerita sejarahnya, masjid itu juga memiliki sumur yang dikenal dengan sumur tiga rasa. Dari rasa air biasa, asin hingga manis dan setiap orang yang mengangkut air tersebut akan berbeda rasanya,

Harga tiket masuk: gratis

Jam buka: untuk area bangunan Masih Al Alam lama dibuka hanya hingga jam 21.00 WIB, namun untuk area pendoponya dibuka 24 jam dan bisa digunakan untuk beristirahat.

4. Batik Marunda

Warga Rusunawa Marunda terus berkarya dengan memproduksi batik. DI Hari Batik Nasional ini, batik Marunda jadi babak baru batik Betawi.Warga Rusunawa Marunda terus berkarya dengan memproduksi batik. DI Hari Batik Nasional ini, batik Marunda jadi babak baru batik Betawi. (Pradita Utama/detikcom)

Jakarta Utara memiliki salah satu produksi batik yang menarik yaitu Batik Marunda, batik ini memiliki ciri khas motif flora dan fauna serta motif lainnya yang mencakup bangun Jakarta seperti Monumen Nasional (Monas) dan Museum Fatahillah.

Koordinator Produksi Batik Marunda, Mulyadi menjelaskan kalau Batik Marunda ini memiliki perbedaan dengan Batik Betawi. Jika Batik Betawi memakai warna cerah, maka Batik Marunda menggunakan warna yang lebih gelap.

“Yang membedakan batik kita dengan Batik Betawi dia kan cerah, kalau Batik Marunda lebih ke warna-warna gelap kayak merahnya maroon, orangenya agak tua gitu, birunya biru dongker,” kata dia.

Batik Marunda juga dibuat oleh ibu-ibu sekitar di Rusun Marunda, untuk masyarakat yang ingin melihat pembuatan Batik Marunda juga bisa datang ke Rusun Marunda blok A 10 dan untuk tempatnya pun berada di lantai dasar.

Harga tiket masuk: gratis

Jam buka: 10.00 – 17.00 WIB dari Senin – Sabtu

Jadi buat yang bingung untuk mencari destinasi wisata di Jakarta Utara bisa banget nih berkunjung ke beberapa tempat di atas. Silahkan jajal pengalaman menarik wisata di Jakarta Utara ini.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Spot-spot Nongkrong Estetik di Taman Ismail Marzuki, Catat ya!



Jakarta

Taman Ismail Marzuki (TIM) bisa menjadi pilihan sebagai tempat nongkrong hemat. Apa saja spotnya? Catat ya traveler!

Selain karena gratis, kawasan TIM juga memiliki spot-spot yang estetik untuk berfoto bersama teman-teman atau untuk selfie.

Letaknya berada di pinggir Jalan Cikini Raya Nomor 73, Menteng, Jakarta Pusat. Biasanya masyarakat ramai mengunjungi tempat ini ketika sore hari.


Entah itu sehabis para pelajar usai sekolah ataupun pekerja di sekitar area itu yang hendak rehat sejenak untuk sekadar duduk-duduk santai.

Salah satu petugas keamanan yang berjaga di Taman Ismail Marzuki mengatakan, ketika sore hari tiba yang ditandai mulai banyaknya pedagang yang berjualan, di situlah waktu yang biasanya mulai banyak berdatang masyarakat untuk menikmati sore hari di Cikini.

Ketika detikTravel berada di Taman Ismail Marzuki dan waktu tepat menunjukkan sekitar pukul 15.45 WIB. Betul saja para pedagang pun mulai bermunculan di area depan Taman Ismail Marzuki.

Kemudian tak lama berselang, masyarakat yang entah keluar dari gedung-gedung di area Taman Ismail Marzuki atau sekelilingnya mulai menghampiri pinggiran jalan itu.

Selain pinggiran Jalan Cikini atau area depan Taman Ismail Marzuki, area mana saja sih yang biasa dijadikan tempat nongkrong oleh masyarakat, yuk simak beberapa pilihan spotnya.

1. Depan Patung Ismail Marzuki

Tempat ini biasa dijadikan area untuk duduk-duduk santai masyarakat yang hendak menunggu transportasi atau pun yang memang sengaja menjadikan area tersebut sebagai spot nongkrong mereka.

Selain itu, tepat tak jauh dari patung tersebut ada photo box yang bisa dicoba oleh masyarakat dengan latar belakang patung Ismail Marzuki.

2. Tangga Gedung Ali Sadikin

Sebelum masuk ke dalam gedung ini, kamu harus menaiki beberapa anak tangga untuk akses menuju ke Perpustakaan Jakarta. Nah anak tangga inilah yang biasanya juga dijadikan area nongkrong oleh masyarakat.

tempatnya teduh juga bersih, begitu nyaman untuk duduk-duduk sore sambil bercengkrama dengan teman-teman.

3. Kolam Planetarium

Tempat Nongkrong di Taman Ismail MarzukiTempat Nongkrong di Taman Ismail Marzuki Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

Jika masuk ke outdoor di dalam area Taman Ismail Marzuki dan berada dekat Planetarium, kamu akan menemukan sebuah kolam yang cukup luas.

Di tempat ini pula terdapat area luas yang biasa dijadikan tempat duduk-duduk santai oleh masyarakat dan biasanya pula area ini dijadikan tempat untuk latihan menari oleh para pelajar.

Menurut petugas keamanan lainnya yang berada di Taman Ismail Marzuki, Mukti mengatakan untuk aktivitas nongkrong ini diperbolehkan selagi tidak melakukan hal-hal di luar aturan yang sudah ada.

Kegiatan melanggar norma hingga membuang sampah sembarangan sudah tentu dilarang di sini. Sedangkan untuk waktu, terbilang begitu leluasa karena warga bisa nongkrong hingga malam.

“Kalau untuk jam operasional itu kita di Taman Ismail Marzuki itu di jam 07.00 pagi mungkin sudah bisa diakses untuk umum hanya saja belum bisa masuk ke area dalam venue, karena untuk venue sendiri dibuka ketika ada kegiatan paling yang bisa diakses itu area outdoor. Dan terkait untuk jam operasional itu sebenarnya kita ada di jam 09.00 sampai 22.00 WIB,” ungkap Mukti.

Jadi buat kamu yang nyari tempat nongkrong murah dan estetik bisa langsung datang ke Taman Ismail Marzuki. Selain nongkrong-nongkrong di Taman Ismail Marzuki, kamu juga bisa kunjungi Perpustakaan Jakarta.

Taman Ismail Marzuki dengan bangunan yang berkonsep minimalis ini cocok untuk dijadikan latar belakang foto yang keren.

4. Perpustakaan Jakarta

Rasanya seperti kurang afdol jika berkunjung Ke Taman Ismail Marzuki tanpa mengunjungi Perpustakaan Jakarta yang berada di Gedung Ali Sadikin.

Bukan hanya jadi tujuan tempat baca saja, banyak dari pengunjung yang datang ke sana juga menjadikan perpustakaan tersebut sebagai tempat berfoto karena areanya yang estetik, belum lagi suasana di dalam yang nyaman bikin betah buat nongkrong berlama-lama.

5. Tangga Kecil Dekat Masjid Amir Hamzah

Buat kamu yang belum tahu spot nongkrong estetik lainnya di Taman Ismail Marzuki, ini adalah salah satunya.

Tak terlalu jauh dari Masjid Amir Hamzah terdapat beberapa anak tangga yang bisa dijadikan tempat duduk-duduk santai, tempat yang hening dan sejuk (sore hari) cocok banget buat kamu yang ingin suasana lebih tentram dibanding nongkrong di area depan Taman Ismail marzuki.

6. Foodcourt Gedung Ali Sadikin

Buat kamu yang ingin nongkrong dan sambil makan-makanan berat, tempat ini cocok banget deh. Berada di lantai satu, foodcourt ini bisa jadi pilihan kamu ketika ingin nongkrong tapi perut keroncongan.

Di sini terdapat berbagai pilihan makanannya mulai dari kudapan berat hingga cemilan, dan tentunya juga minuman. Tak jauh dari foodcourt juga terdapat kursi panjang yang dilengkapi dengan meja, bisa bengat buat menikmati makanan kalau kursi di depan foodcourt penuh.

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com

Gereja Katedral Jakarta, Megah dan Mewah Berdampingan dengan Masjid istiqlal



Jakarta

Gereja Katedral amat megah. Berada di jantung kota Jakarta, gereja itu bersebelahan dengan Masjid Istiqlal.

Gereja tersebut menjadi sebuah destinasi bagi wisatawan domestik dan wisatawan asing saat berkunjung ke Kota. Gereja itu akan selalu terbuka untuk wisatawan yang penasaran melihat kemegahan di dalamnya.

Wisatawan yang beragama Katolik maupun lainnya tak perlu mengeluarkan kocek ketika berkunjung ke gereja yang masuk daftar cagar budaya itu. Yang menonjol dari bangunan gereja itu adalah gaya arsitektur Neo-gothic.


Dibangun mulai 1891, gereja itu dinamai nama Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga. Kemudian, pada 1901 gereja tersebut muali dikenal dengan Gereja Katedral Jakarta karena terdapat cathedral atau tahta uskup di dalam gereja tersebut.

“Gereja Katedral Jakarta tuh sebenernya punya nama sendiri, namanya ‘Gereja Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga’. Disebut Gereja Katedral karena di dalam gereja itu ada suatu bangku yang spesial untuk Bapak Uskup namanya cathedra, maka disebutlah Gereja Katedral,” ucap Petugas Museum Katedral Jakarta, Lili, kepada detikTravel, Sabtu (13/7/2024).

Tak hanya wisatawan lokal saja yang datang ke Gereja Katedral Jakarta ini tapi juga banyak dari wisatawan mancanegara yang datang untuk melihat langsung megahnya salah satu ikon Kota Jakarta ini. Jika ingin melihat keadaan di dalam Gereja Katedral, wisatawan diperbolehkan melihat namun harus mematuhi aturan yang ada seperti tidak boleh melewati pagar.

“Bisa masuk dari pintu utama tapi memang ada pagar, kita (wisatawan) tidak boleh melintasi pagar itu, ada kegiatan maupun nggak ada kegiatan memang nggak bisa melewati,” kata Lili.

Saat melihat area dalam gereja, kemegahan arsitektur yang menawan membuat wisatawan seakan terhipnotis dengan maha karya yang dibuat. Namun yang perlu diperhatikan saat berada di dalam gereja, tentunya ketika sedang ada kegiatan tetap harus mengikuti aturan yang sudah ditetapkan.

Selain bisa melihat gereja dari dalam, pengunjung juga bisa melihat Museum Gereja Katedral yang letaknya berada di samping gereja, Di sana terdapat banyak jejak-jejak sejarah yang menjadi saksi perjalanan gereja tersebut, di dalam museum ini juga pengunjung bisa melihat catatan-catatan sejarah dari awal mula gereja ini dibangun.

“Di museum banyak ya, ada tentang asal mula Gereja Katedral, ada bagian visi-misi dari waktu awal perintisan, terus ada kenang-kenangan dari dua Paus yang berkunjung ke Indonesia sama ya alat-alat liturgi yang zaman dahulu dipakai,” katanya.

Museum Katedral Jakarta dari paparan Lili buka pada setiap hari Selasa hingga Sabtu dari pukul 10.00 sampai 16.00 WIB. Sementara untuk Gereja Katedral setiap harinya buka dari jam 06.00 sampai pukul 21.00 WIB.

Dalam setiap harinya pengunjung yang datang ke Museum Katedral Jakarta menurut Lili bisa mencapai 300 wisatawan. Ia tak bisa mengira berapa jumlah wisatawan yang berkunjung ke Gereja Katedral karena wisatawan diperbolehkan langsung masuk gereja tanpa harus mengisi daftar hadir.

“Rata-rata ya 200 sampai 300 ada setiap hari itu weekday, weekend lebih rame bisa 300 sampai 400,” ujar dia.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Tua Al Mubarok, Berumur Ratusan Tahun, Tempat Sejuk buat Karyawan Jaksel



Jakarta

Di Jakarta Selatan terdapat salah satu masjid yang berumur ratusan tahun dan menjadi sebuah saksi perkembangan wilayah Kuningan. Masjid Tua Al Mubarok.

Masjid itu berdiri tegak di pinggir Jalan Gatot Subroto yang tak jauh dari Museum Satriamandala. Dari sejarahnya, masjid tersebut merupakan peninggalan dari Syekh Arkanuddin atau Pangeran Adipati Awangga yang memiliki gelar Pangeran Kuningan yang berasal dari Cirebon.

Di masjid itu terdapat sebuah prasasti yang memastikan usia bangunan tersebut. Di sana tertulis masjid tersebut dibangun pada 1527.


Tahun tersebut bukan merujuk kepada bangunan mushola yang didirikan oleh Pangeran Kuningan bersama pasukannya, yang saat itu menempati kawasan tersebut. Tetapi, tahun itu merupakan pembangunan Masjid Tua Al Mubarok oleh warga di sekitar masjid. Lokasinya pas di mushala Pangeran Kuningan.

Musala yang dibangun Pangeran Kuningan dan pasukannya itu

Bendahara Masjid Tua Al Mubarok, Budi Raharjo, menceritakan kepada detikTravel, Jumat (19/7/2024) ada hal menarik dari pembangunan awal masjid tersebut, yakni berasal dari sebuah mimpi.

Konon, masjid yang dibangun oleh Pangeran Kuningan itu hanya terbuat dari kayu dan begitu sederhana.

“Nyi Imeh itu mimpi, dulu masjid ini terkenal dengan nama Masjid Rusak karena ya udah nggak terurus gitu. Di Masjid Rusak itu banyak orang datang pake jubah, pake pakaian putih ini dalam mimpinya, dia ngeliat banyak yang sembahyang di sini, itu akhirnya ngomong sama keluarga atau masyarakat di sini akhirnya dibangun lah masjid lagi,” kata Budi.

Masjid itu dibangun pada 1850 oleh Guru Simin dan Guru Jabir. Seiring berjalannya waktu, masjid itu kembali dimakan oleh zaman, sekiranya tahun 1915. Masjid Rusak kembali mengalami renovasi karena kala itu bangunannya masih terbuat dari kayu.

“Akhirnya di tahun 1925 itu digunakan sholat berjamaah rame-rame, kalau dulu kan mungkin hanya terbatas. Nah di tahun itu bangun untuk orang-orang banyak lah,” sambungnya.

Budi juga menerangkan kala pembangunan masjid pada 1925, bangunan masih kayu meskipun jamaah sudah banyak. Dan, secara terus menerus bangunan ini selalu diperbaiki oleh masyarakat.

Masjid Tua Al Mubarok berdiri tegak di pinggir Jalan Gatot Subroto yang tak jauh dari Museum Satriamandala. Masjid ini telah berumur ratusan tahun dan menjadi sebuah saksi perkembangan wilayah Kuningan.Masjid Tua Al Mubarok berdiri tegak di pinggir Jalan Gatot Subroto yang tak jauh dari Museum Satriamandala. Masjid ini telah berumur ratusan tahun dan menjadi sebuah saksi perkembangan wilayah Kuningan. (Muhammad Lugas Pribady)

Barulah di tahun 1996 bangunan masjid diperbaiki dan menggunakan beton hingga bisa berdiri hingga saat ini. Pembangunan tersebut dikatakan oleh Budi atas inisiasi pengurus masjid kala itu di antaranya adalah Haji Wardi.

“1925 yang dibangun sama guru itu ya masjid dari kayu aja tapi besar, nah dari kayu pun itu udah berubah-ubah kan mulai dari zamannya siapa diperbaiki. Jadilah pengurus terakhir itu zamannya Haji Wardi dibangunlah masjid ini, ya sampai sekarang,” kata dia.

“Dari zaman dulu posisinya di sini zaman dulu nggak berubah titiknya di sini,” ujar Budi.

Kini, peninggalan lawas masjid itu tidak banyak lagi. Budi mengatakan satu barang yang tersisa hanya jam yang berada di dekat mimbar. namun ia juga tak yakin jam tersebut berada di dalam masjid sejak tahun berapa.

Makam Pangeran Kuningan

Selain membahas tentang perjalanan Masjid Tua Al Mubarok, Budi juga menjelaskan kenapa nama wilayah ini Kuningan adalah untuk mengenang Pangeran Kuningan yang berada di kawasan ini dari 1527 hingga meninggal pada 1579. Budi juga menjelaskan letak makam yang letaknya bukan di area masjid.

“Meninggalnya itu 1579 kalau dia datang 1527, dia meninggal dan sekarang makamnya ada di (area perkantoran) Telkom,” sebut dirinya.

detikTravel pun penasaran dengan keberadaan makam sang pangeran yang berada di tengah perkantoran. Merujuk cerita dari Budi dan informasi dar penjaga, Makam Pangeran Kuninganberada di dekat lobi gedung dan dekat dengan sebuah mini market.

Dengan sejarah yang membersamai masjid ini jadi cerita sendiri bagi para jemaah. Selain sebagai tempat beribadah, tempat ini juga kerap dipakai untuk tempat istirahat para karyawan-karyawan di sela pekerjaan mereka.

Suasana yang rindang dan sejuk menjadi idaman di tengah-tengah panas matahari dan bisingnya jalanan Ibu Kota. Masjid Tua Al Mubarok dan makam Pangeran Kuningan oleh pemerintah daerah telah ditetapkan sebagai Monumen Ordonansi No 238 tahun 1931 melalui Lembaran Daerah No 60 tahun 1972 dan juga menjadi situs sejarah.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

10 Wisata Gresik yang Sayang Dilewatkan, Keindahan Alam hingga Sejarah


Gresik merupakan salah satu daerah di Jawa Timur yang menawarkan destinasi wisata menarik. Mulai dari warisan sejarah, pesona alam, hingga kuliner khas menjadikannya destinasi yang layak untuk dijelajahi.

Dari catatan detik Jatim, tercatat bahwa Gresik memiliki total 131 destinasi wisata. Simak beberapa wisata Gresik berikut ini untuk referensi.

Rekomendasi Wisata Gresik

Dinas pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, dan Pemuda Olahraga Gresik membagi daftar wisata dalam beberapa objek. Misalnya, wisata alam, wisata religi, wisata sejarah, wisata belanja, hingga wisata kuliner, hingga wisata belanja.


1. Setigi Gresik

Wisata Alam SetigiWisata Alam Setigi di Gresik. (Deny Prastyo Utomo/detikTravel)

Jika detikers ingin berwisata alam di Gresik, kamu bisa mengunjungi objek wisata Selo Tirto Giri alias Setigi. Setigi berasal dari kata selo (batu), tirto (air) dan giri (bukit).

Dinamakan demikian, karena kawasannya dikelilingi bebatuan, bukit dan danau di tengah-tengahnya. Tempat wisata ini diresmikan pada 2020 lalu.

Dilansir akun Instagramnya @wisatasetigi, wisata ini mengusung konsep edutainment dari sejarah dan keindahan alam yang memukau.

Sebelum jadi tempat wisata, kawasan ini merupakan lahan bekas tambang. Setelah tidak dipakai lagi, masyarakat setempat secara mandiri akhirnya merubah tempat ini menjadi daerah wisata yang menarik.

Di Wisata Setigi Gresik pengunjung bisa menikmati pemandangan bukit kapur, telaga warna, patung Semar, jembatan peradaban, candi topeng nusantara, miniatur masjid Persia, air terjun dan masih banyak lagi.

Pengunjung juga bisa menikmati ragam kuliner di Wisata Setigi, karena di sana banyak kios makanan dan minuman dengan harga terjangkau.

  • Lokasi: Area Sawah, Sekapuk, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik.
  • Jam Buka: Senin – Minggu, mulai pukul 08.00-17.00 WIB.
  • Harga Tiket Masuk: Dewasa Rp 15.000 dan Rp 10.000 untuk anak-anak.

2. Lontar Sewu

Wisata Lontar SewuWisata Lontar Sewu Gresik. (Jemmi Purwodianto)

Di Eduwisata gresik Lontar Sewu, pengunjung bisa bermain berbagai wahana untuk anak-anak dan orang dewasa. Mulai dari wahana bianglala, rumah balon, mandi bola, kereta mini, carousel, taman kelinci, hingga flying fox.

Untuk bisa naik wahana, pengunjung perlu bayar lagi ya. Harga setiap wahana cukup terjangkau kok, dilihat dari akun @explore_lontarsewu, biayanya mulai dari Rp 5.000 – 25.000 saja.

  • Alamat: Wisata Desa Hendrosari, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik.
  • Jam Buka: buka setiap hari mulai dari 08.00 – 21.00 WIB.
  • Harga Tiket Masuk: Senin – Jumat Rp 8.000 per tiket, semantara Sabtu – Minggu dan hari libur Rp 10.000.

3. Pantai Delegan

Pantai Delegan GresikPantai Delegan Gresik. (Jemmi Purwodianto)

Pantai Delegan menjadi salah satu wisata Gresik yang wajib dikunjungi. Di sini, kamu bisa melihat pemandangan laut utara Jawa dengan ombaknya yang relatif tenang.

Meski tergolong kecil, ada berbagai aktivitas di pantai ini. Mulai dari menikmati dan bermain pasir putih, berenang di sekitar bibir pantai, menyewa banana boat, hingga menaiki perahu bebek.

Bagi wisatawan yang tidak bisa berenang, jangan khawatir karena tidak ada penyewaan pelampung ban. Di sekitar sana, pantai juga terdapat kios

Angin laut sepoi-sepoi sekitar juga kerap menjadi tempat untuk bermain layang-layang. Di sana, ada kios juga yang menjual layang-layang.

  • Alamat: Secara administratif, Pantai Delegan terletak di Kabupaten Gresik, tepatnya di Desa Dalegan, Kecamatan Panceng.
  • Jam Buka: buka setiap hari mulai pagi hari pukul 07.00 – 17.00 WIB.
  • Harga Tiket Masuk: Rp 10.000.

4. Makam Sunan Gresik

Bacapres Anies Baswedan ziarah ke makam Sunan Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Ziarah tersebut bertepatan dengan Haul Sunan Gresik.Suasana ziarah ke makam Sunan Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Ziarah tersebut bertepatan dengan Haul Sunan Gresik. (Jemmi Purwodianto/detikJatim)

Dijuluki kota Santri, itulah yang jadi alasan Gresik terkenal menjadi tempat wisata religi. Salah satu wisata religi yang bisa dikunjungi adalah makam sunan.

Sunan Gresik sendiri menjadi salah satu dari 9 Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Wisatawan bisa berziarah ke makam Sunan Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik).

Makam Sunan Gresik juga dikelilingi oleh pemakaman keluarga dan umum. Biasanya, selesai berziarah ke Makam Sunan Gresik, wisatawan akan mampir ke Masjid Komplek Makam Sunan Gresik guna melaksanakan salat.

  • Alamat: Jalan Malik Ibrahim, Desa Gapuro Sukolilo, Kota Gresik, Jawa Timur.
  • Jam Buka: buka setiap hari selama 24 jam.
  • Harga Tiket Masuk: Peziarah tidak dikenakan biaya tiket masuk alias gratis.

5. Pulau Bawean

Danau Kastoba Pulau BaweanDanau Kastoba di Pulau Bawean. (Pradikta Kusuma/d’Traveler)

Pulau Bawean menjadi destinasi wisata Gresik dengan pemandangan alam ynag menawan. Bisa dibilang ini adalah pulau terluarnya kota Gresik.

Untuk ke sini, kamu bisa mencoba rute jalur laut lewat Pelabuhan Gresik dan Pelabuhan Paciran, Lamongan.

Di pulau ini kita bisa menikmati pantai Gili dengan pasir putihnya, pantai Mayangkara, pantai Mombhul, danau Kastoba yang ada di bagian tengah pulau, hingga Air Terjun Laccar.

  • Alamat: Sekitar 135 kilometer sebelah utara Kota Gresik.
  • Jam Buka: 24 jam.
  • Harga Tiket Masuk: gratis

6. Telaga Ngipik

Berburu senja di Telaga Ngipik, GresikSenja di Telaga Ngipik, Gresik. (Jemmy Purwodianto/detikJatim)

Telaga Ngipik lokasinya ada di tengah kepadatan industri kota Gresik. Disebut Ngipik karena lokasinya ada di Kelurahan Ngipik.

Telaga ini membentang seluas 20 hektare. Di sini, pengunjung bisa bersantai, piknik, sambil menikmati air telaga dengan pepohonan yang rindang yang mengelilinginya.

Biasanya, semakin sore pengunjung yang datang semakin banyak. Mereka berlomba-lomba untuk mencari view terbaik untuk berfoto.

  • Alamat: Jalan Siti Fatimah binti Maimun, bersebelahan dengan Kawasan Industri Gresik (KIG).
  • Jam Buka: 24 jam
  • Harga Tiket Masuk: gratis (hanya dikenakan biaya parkir saja sekitar Rp 2.500).

7. Giri Kedaton

Giri Kedaton di gresikGiri Kedaton di Gresik (Intan Puspita/detikTravel)

Giri Kedaton menjadi objek wisata sejarah di Gresik yang bisa kamu kunjungi. Ini adalah situs kedaton (istana) di era Giri I, yaitu Sunan Giri (Raden Paku atau Raden Ainul Yaqin).

Giri Kedaton berdiri di puncak sebuah bukit dengan tanjakan yang relatif curam. Dilansir situs Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gresik, Giri Kedaton didirikan pada sekitar tahun 1487 M oleh oleh Sunan Giri.

Awalnya, bangunan ini merupakan pesantren tempat Sunan Giri mengajarkan ajaran Agama Islam kepada para santrinya.

Kini, Giri Kedaton kerap didatangi peziarah maupun wisatawan umum sebagai tempat bermunajat maupun belajar sejarah bangunan kuno.

  • Alamat: Wilayah Sidomukti, Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik.
  • Harga Tiket Masuk: gratis (hanya dikenakan biaya parkir kendaraan).

8. Banyuurip Mangrove Center

Banyuurip Mangrove Center adalah wisata Gresik yang menawarkan sarana edukasi, konservasi, dan rekreasi mangrove. Ekowisata mangrove dengan hamparan hutan bakau di tepi laut Ujung Pangkah.

  • Alamat: Desa Banyuurip, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik.
  • Jam Buka: buka setiap hari, Senin-Kami mulai dari pukul 08.000 – 16.00 WIB, Jumat 08.000 – 11.00 WIB dengan istirahat dari 13.00 – 16.000. Weekend 08.000 – 16.00 WIB.
  • Harga Tiket Masuk: Harga menyesuaikan paket wisata.

9. Wisata Bajak Laut

Wisata Bajak Laut adalah waterpark atau kolam renang Gresik yang menjadi destinasi liburan yang cocok untuk keluarga. Di waterpark ini, pengunjung bisa bermain seluncur air yang terkenal berbentuk tentakel gurita.

  • Alamat: Desa Masangan, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik.
  • Jam Buka: setiap hari dari pukul 8.00 – 17.00 WIB.
  • Harga Tiket Masuk: Weekdays Rp 10.000 dan weekend Rp 15.000.

10. Pulau Gili Noko

Pulau Berbentuk Hati di Bawean GresikPulau Gili Noko. (Yunizar Permadi/d’Traveler)

Sama seperti destinasi yang ditawarkan Pulau Bawean, Pulau Noko memiliki pantai yang menyerupai sebuah pulau kecil di tengah-tengah laut (pulau itu sendiri).

Selain bisa melihat hamparan pasir putih nan indah, ini adalah tempat yang keren untuk snorkling. Saking beningnya, dengan mata telanjang wisatawan juga bahkan bisa melihat habitat laut di dalamnya.

  • Alamat: Desa Sidogedungbatu, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik.
  • Jam Buka: setiap hari 24 jam.
  • Harga Tiket Masuk: gratis.

Setiap sudut Gresik meman menawarkan tempat dengan kegiatan dan keindahan. Jadi, jangan ragu untuk memasukkan Gresik ke dalam daftar destinasi wisata kalian ya detikers.

(khq/fds)



Sumber : travel.detik.com

Ada Apa di Taman Lapangan Banteng? Ini 6 Aktivitas Seru dan Cara Ke Sana


Jakarta

Jakarta memiliki banyak area terbuka cantik yang cocok untuk tempat rekreasi di akhir pekan, salah satunya Lapangan Banteng. Kawasan ini terkenal dengan Monumen Pembebasan Irian Barat yang menjulang tinggi di tengah dan sangat ikonik.

Taman Lapangan Banteng termasuk landmark strategis di Jakarta. Lokasinya berada tidak jauh dari Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta. Menariknya, berbagai acara kerap digelar di sini sehingga banyak orang yang datang berkunjung.

Selain itu, area Lapangan Banteng menjadi tempat yang pas untuk berolahraga. Terdapat lapangan bola dan jalur lari di sana. Makin penasaran dengan kawasan taman satu ini? Temukan informasi lebih lengkapnya di bawah.


Ada Apa Saja di Taman Lapangan Banteng?

Ada sejumlah spot dan aktivitas seru yang dapat kamu lakukan di Lapangan Banteng, yakni sebagai berikut:

1. Pertunjukan Air Mancur

Jadwal Air Mancur Lapangan BantengWarga menyaksikan pertunjukan air mancur menari di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (18/6/2022). Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kembali menghadirkan pertunjukan air mancur menari setiap akhir pekan dan terbagi dalam tiga sesi, yakni pukul 18.30 WIB, 19.30 WIB dan 20.15 WIB, setelah dua tahun ditiadakan akibat pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.Pertunjukan air mancur di Lapangan Banteng. (Muhammad Adimaja/Antara)

Ini adalah salah satu daya tarik utama dari Taman Lapangan Banteng. Show air mancurnya digelar hari Sabtu dan Minggu saja pada jam 18.30 dan 19.30. Pertunjukannya semakin meriah dengan berhiaskan lampu warna-warni yang menyala indah di malam hari.

2. Berbagai Event Seru

Lapangan Banteng jadi spot langganan berbagai hajatan event. Mulai dari festival makanan, bazar pernak-pernik, pameran tanaman dan satwa, hingga konser. Berbagai acara ini juga yang menarik warga berdatangan ke sana.

Acara di Taman Lapangan Banteng selanjutnya yang akan diadakan yaitu Festival Raya Indonesia yang berlangsung selama 30 Agustus-1 September 2024. Pengunjung akan menemukan bazar makanan, mini zoo & pet show, sampai konser gratis.

3. Area Bermain

Menghabiskan akhir pekan di Lapangan Banteng, Jakarta PusatLapangan Banteng di Jakarta Pusat. (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

Kamu akan menemukan area bermain anak di Taman Lapangan Banteng. Di sini anak-anak bisa bermain papan seluncur, ayunan, hingga jungkat-jungkit. Orang tua pastikan tetap memperhatikan anak-anaknya yang sedang bermain di sana ya.

4. Tempat Olahraga

Taman Lapangan Banteng menjadi spot yang pas untuk berolahraga. Biasanya pengunjung akan jogging, jalan santai, atau berlari dengan mengitari area taman. Tak sedikit juga bermain sepak bola maupun bermain basket di lapangan khusus yang tersedia.

5. Spot Foto

Semenjak revitalisasinya selesai pada 2018 silam, Taman Lapangan Banteng semakin cantik. Hamparan rumput hijaunya dan deretan pepohonannya terlihat asri. Sejumlah tempat duduk juga disebar di beberapa titiknya.

Di satu area terdapat spot payung warna-warni bergantungan yang sekelilingnya ditanam pohon palem. Tempat-tempat tersebut sering kali dijadikan spot foto andalan oleh para pengunjung.

Lapangan Banteng beralamatkan di Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Letaknya dekat dengan Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta. Lokasinya pun tidak terlalu jauh dari Monumen Nasional (Monas), sekitar 2 km saja.

Lapangan Banteng dapat dijangkau menggunakan kendaraan pribadi maupun umum seperti KRL, Transjakarta, MRT, dan transportasi online. Kalau tertarik ke tempat rekreasi ini, simak cara ke Taman Lapangan Banteng dengan berbagai transportasi yang dikutip dari catatan detikcom berikut:

– Cara ke Lapangan Banteng Naik KRL

Untuk menuju Taman Lapangan Banteng menggunakan KRL, traveler dapat turun di Stasiun Juanda. Setelahnya, kamu bisa lanjut berjalan kaki berjarak kurang lebih 750 m dengan waktu tempuh sekitar 10 menit. Bisa juga memesan transportasi online menuju ke sana jika lelah berjalan.

– Cara ke Lapangan Banteng Naik Transjakarta

Pengguna Transjakarta dapat menaiki bus koridor 6H (Senen-Lebak Bulus) atau 1P (Blok M-Senen) untuk menuju ke sini. Nantinya kamu bisa turun di halte Lapangan Banteng 1, 2, 3, atau halte Kantor Pos Lapangan Banteng 3. Lanjut berjalan sebentar sampai ke area Taman Lapangan Banteng.

– Cara ke Lapangan Banteng Naik MRT

Lapangan Banteng juga dapat dijangkau dengan MRT. Nantinya traveler bisa turun di Stasiun Bundaran HI. Lanjut menaiki transportasi online berjarak sekitar 5 km dengan waktu tempuh kisaran 13 menit saja.

Menghabiskan akhir pekan di Lapangan Banteng, Jakarta PusatLapangan Banteng di Jakarta Pusat. (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

Fasilitas Taman Lapangan Banteng

Fasilitas umum yang tersedia di Lapangan Banteng sudah cukup lengkap. Terdapat mushola, toilet, pos keamanan, sentra UMKM, amfiteater, serta area bermain anak. Hamparan rumput hijau di bawah pohonnya cocok juga jadi spot piknik.

Kamu juga tidak perlu khawatir kelaparan karena di sekeliling kawasan taman ini berjejer banyak pilihan kuliner yang siap mengganjal perut keroncongan.

Nah, itu tadi informasi seputar Taman Lapangan Banteng di Jakarta Pusat. Jadi, traveler tertarik berekreasi di sana nggak nih?

(azn/row)



Sumber : travel.detik.com