Tag Archives: masjid

Keindahan Masjid Djauharotul Imamah, Saat Arsitektur Eropa Bertemu Jawa


Jakarta

Masjid unik dengan gaya bangunan berbeda dan padat program bisa ditemukan di beberapa wilayah Indonesia. Salah satunya Masjid Djauhoratul Imamah yang berada di Pati, Jawa Tengah, yang mengingatkan jemaah pada sebuah kastil.

“Bagus banget masjidnya, nyaman, dan minimalis. Arsitekturnya keren banget pengen ke sana lagi kalau ada waktu,” tulis akun Ima Rahmawati dalam Google Review.

Aneka kegiatan yang dikelola masjid juga mendapat pujian warganet. Salah satunya kajian pada hari tertentu dengan ustaz yang kompeten sebagai pengisi acara. Kajian tersebut dinilai sesuai kebutuhan dan menjawab pertanyaan jemaah.


“Selain sebagai tempat salat berjamaah, masjid ini juga sebagai rujukan sumber ilmu agama. Ilmu tauhid, akhlak, tafsir, siroh, fiqh, hadits, dan masih banyak lagi Insya Allah komplit,” tulis akun kakak pertama.

Lokasi Masjid Djauharotul Imamah yang Unik

Masjid Djauharotul Imamah berada di Jl. Penjawi Gang II, Kaborongan, Pati Lor, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Lokasi masjid ini tidak terlalu jauh dengan Alun-alun Pati yang menjadi pusat kegiatan warga.

Jarak Masjid Djauharotul Imamah dan alun-alun Pati kurang lebih 1,1 km yang bisa ditempuh dalam waktu tiga menit. Jemaah bisa menggunakan transportasi umum atau pribadi sesuai kebutuhannya. Bagi yang membawa kendaraan pribadi tak perlu khawatir, karena masjid menyediakan arena parkir cukup luas.

Masuk ke arena masjid, jemaah langsung disuguhi keindahan arsitektur masjid dengan gaya Eropa. Masjid Djauharotul Imamah dirancang punya tampilan mirip kastil dengan tetap menggunakan kubah, sebagai ciri khas masjid Indonesia. Masjid didominasi warna cokelat yang menimbulkan kesan elegan sangat indah.

Masjid ini punya halaman luas yang tak hanya digunakan untuk parkir, tapi juga kegiatan sehari-hari. Misal makan siang bersama usai salat Jumat, buka puasa, atau pasar yang diselenggarakan pada bulan Ramadan. Halaman juga digunakan masjid untuk sekadar duduk dan ngobrol.

Bangunan masjid terdiri atas dua lantai, dengan bagian bawah digunakan sebagai aula dan tempat wudhu. Sementara salat dilakukan di lantai dua, dengan ruang imam berbentuk gebyok kayu berukir. Desain ini terasa sangat njawani atau khas Jawa.

“Masjid ini berdiri tahun 2011 dan memang bergaya campuran Jawa dan Eropa. Gaya Eropa dilihat dari bangunan mirip kastil yang jarang ditemui di Pati,” ujar kata Wakil Ketua Takmir Masjid Djauharotul Imamah Hamzah pada detikJateng.

Di area masjid juga terdapat taman belakang yang digunakan jemaah untuk santai, ikut kajian, atau menunggu waktu salat. Tentunya masjid juga punya fasilitas lain untuk memenuhi kebutuhan jamaah, misal toilet bersih dan wangi di lantai satu plus sandal.

Bangunan masjid menggunakan jendela cukup lebar yang memudahkan sirkulasi udara dalam ruangan. Jendela ini juga mengingatkan jemaah pada bangunan istana negeri dongeng dalam film atau buku cerita. Penggunaan jendela besar dan plengkungnya membuat tampilan masjid makin anggun dan dreamy.

Menurut Hamzah, masjid ini tak pernah sepi didatangi jemaah yang ingin beribadah atau sekadar berteduh. Masjid Djauharotul Imamah berdiri di lahan seluas satu hektar dengan kapasitas total 100 orang. Jika jemaah melimpah, lantai satu bisa diubah sementara menjadi ruang salat.

Program Masjid Djauharotul Imamah

Masjid yang buka 24 jam ini menerapkan manajemen zero sebagai dasar pengelolaan masjid. Maksudnya, dana dari jamaah dikelola sebaik mungkin demi kemakmuran masjid dan umat sehingga kas menjadi nol. Tentunya pengelolaan harus bertanggung jawab dan benar-benar memberi manfaat.

Beberapa program masjid adalah makan bersama dan aneka kajian yang ilmunya mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ulasan google menyatakan, program makan bersama tepat bagi para santri dan musafir yang mampir di masjid.

Detikers yang penasaran dengan masjid yang dibangun di tanah wakaf Mbah Johar Malikan dan Imam Sulaini ini bisa datang setiap saat. Selama di Masjid Djauharotul Imamah pastikan selalu sopan, menjaga kebersihan, dan taat aturan lingkungan sekitar.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Sejuta Pemuda, Ikhtiar Melayani Tamu 24 Jam


Jakarta

Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi, Jawa Barat bukan sekadar tempat menunaikan ibadah saat jam salat, namun dibuka 24 jam nonstop. Masjid ini menjadi jujugan banyak orang, mulai dari warga setempat hingga musafir.

Rumah ibadah dengan nama lengkap Masjid Pemuda At-Tin itu mungkin tidak asing bagi pengguna media sosial. Konten pelayanan pada jemaah yang ketiduran, belum makan seharian, atau memberi seduhan kopi di sela kegiatan selalu banjir viewer.

Netizen tak segan memuji program dan kegiatan Masjid Sejuta Pemuda. Para netizen berharap bisa mengunjunginya suatu hari dan merasakan hikmah masjid. Netizen juga berharap bisa menikmati masjid yang dikeliling pemandangan indah alam Sukabumi.


“Saya belum pernah berkunjung ke Mesjid Sejuta Pemuda ingin sekali datang ke sana. Saya sangat kagum sekali dengan pengurus mesjidnya. Semoga para pengurus selalu diberikan kesehatan agar bisa berbuat kebaikan untuk semua orang,” tulis akun Nurjanah.

Warganet yang sudah sempat berkunjung berharap jemaah lain bisa ikut datang ke Masjid Sejuta Pemuda. Hingga saat itu tiba, warganet berharap pengurus bisa terus melaksanakan tugasnya dengan baik. Sehingga, Masjid Sejuta Pemuda bisa terus menebarkan kebaikan pada semua orang.

“Semoga lebih banyak orang yang hadir untuk beribadah di sini serta pengurusnya tetap istiqomah dalam kebaikan. Semoga Allah beri kesempatan saya dan anak-anak beribadah di sana saat ke Sukabumi,” tulis akun Sulistyowati 250514.

Lokasi Masjid Sejuta Pemuda yang Nyaman dan Ramah

Masjid Sejuta Pemuda berada di Jl. Lamping, Gedongpanjang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Pendiri Masjid Sejuta Pemuda Anggy Firmansyah Sulaiman menjelaskan, masjid ini berkonsep open space yang memungkinkan jemaah melihat alam sekeliling.

Konsep ini memungkinkan jemaah, pengurus, dan masyarakat sekitar berinteraksi dengan baik. Orang yang sekadar datang berkunjung juga bisa ikut merasakan manfaat masjid. Interaksi tidak hanya terjadi di ruang salat atau saat kegiatan ibadah dilakukan.

“Masjid ini open space untuk kami dan masyarakat. Mereka punya peran di sini, dan kami ingin masjid ini benar-benar bermanfaat bagi semua,” ujar Anggy.

Masyarakat dan pengurus berinteraksi dalam sejumlah kegiatan yang dilakukan Masjid Sejuta Pemuda. Hal yang sama dilakukan pada para tamu Allah. Semua arena indoor dan outdoor bisa dimanfaatkan untuk kajian, kegiatan sosial, atau rapat seputar memakmurkan masjid.

Masjid Sejuta Pemuda berdiri di area seluas kurang lebih satu hektar. Di sini, fasilitas pendukung dibangun untuk kenyamanan para umat. Beberapa fasilitas tersebut adalah toilet wangi, tempat wudhu nyaman, dapur dan ruang makan cukup lega, serta balkon yang dilengkapi meja kursi.

Di sini juga tersedia coffee bar tempat marbot barista meramu kopi untuk semua pengunjung. Tentu tersedia minuman dan camilan lain bagi pengunjung yang memilih suguhan lain.

Sebagai informasi, Masjid Sejuta Pemuda tidak punya pagar. Hal ini sesuai konsep masjid sebagai yang terbuka 24 jam bagi semua umat. Para pengunjung bisa datang setiap saat untuk beribadah atau sekadar berteduh. Tentunya masjid dilengkapi tempat parkir luas dan pengurus yang siap menemani anak-anak.

Program Masjid Sejuta Umat

Dalam media sosialnya, Masjid Sejuta Umat menyediakan sejumlah program untuk umat antara lain:

Masjid ramah musafir

Di Masjid Sejuta Umat, para musafir yang bermalam diberi fasilitas menginap. Misalnya bantal dan alas kasur seingga bisa beristiraat dengan nyaman. Program ini diterapkan untuk jemaah laki-laki dan perempuan

Coffee bar premium gratis

Masjid menyediakan working space dan coffee ala cafe yang tersedia bagi para jemaah. Fasilitas ini tersedia pukul 09.00-21.00 untuk semua pengunjung yang berada di masjid. Minuman kopi disiapkan khusus marbot masjid yang merangkap barista.

Bagi-bagi makan tiga kali sehari

Makanan gratis disajikan tiga kali sehari untuk semua pengunjung masjid. Hidangan ini diolah di dapur masjid dari bahan-bahan berkualitas. Seluruh proses memasak dilakukan dengan bersih dan benar.

Ramah anak

Masjid Sejuta Pemuda tidak melarang atau menganggap anak-anak mengganggu kegiatan beribadah. Anak-anak diberikan ruang belajar khusus sehingga bisa tetap berkegiatan, tidak merasa bosan, dan tak mengganggu orang yang sedang ibadah

Ramah kucing

Masjid Sejuta Pemuda berada tidak jauh dari pasar dan tempat masyarakat umum beraktivitas. Lingkungan sekitar masjid sering dijadikan lokasi pembuangan kucing. Pengurus masjid lantas mengurus kucing-kucing tersebut dengan baik dan membuka adopsi. Program ini didasari keyakinan untuk saling menyayangi antar makhluk Tuhan.

Buat detikers yang ingin mengunjungi Masjid Sejuta Pemuda, bisa menjadwalkan kedatangan tiap saat. Dengan lingkungan yang asri dan nyaman, jemaah bisa dipastikan betah berada di masjid. Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan, kerapihan, dan taat aturan.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

8 Spot Healing Dekat Jakarta yang Bisa Dijangkau KRL



Jakarta

Banyak tempat menarik untuk healing di Jakarta yang bisa dijangkau dengan KRL lho. Bisa nih jadi destinasi untuk mengisi waktu weekend atau liburan kamu.

detikTravel telah merangkum, Sabtu (12/7/2025) tempat healing di Jakarta yang dekat dengan stasiun KRL.

1. Kota Tua

Kota Tua Jakarta, Kamis (30/1/2025)Kota Tua Jakarta Foto: Syanti Mustika/detikTravel

Berkunjung ke Kota Tua Jakarta, banyak spot menarik yang bisa kamu kunjungi. Diantaranya Museum Fatahilla, Museum Bank Indonesia, Museum wayang, Museum Bank Mandiri, Museum Bahari, Toko Merah, Kafe Batavia dan lainnya.


Kamu bisa menikmati keindahan dan kemegahan Kota Tua Jakarta dengan transportasi umum yaitu KRL. Turun saja di Stasiun Kota Tua.

2. Jakarta Aquarium

Traveler yang ingin membawa keluarga melihat akuarium indoor dengan ragam satwa lautnya datang saja ke Jaakrta Aquarium. Lokasinya berada di dalam Mall Neo Soho.

Adapun stasiun terdekat dari Jakarta Aquarium adalah Stasiun Palmerah dan Stasiun Grogol. Setelah itu kamu harus naik kendaraan online atau Transjakarta menuju mall.

3. Tebet Eco Park

Adapun stasiun KRL terdekat dari Tebet Eco Park adalah Stasiun Tebet. Taman ini buka setiap hari mulai pukul 06.00 WIB hingga 22.00 WIB dan masuknya gratis, namun perlu mendaftar melalui aplikasi JAKI terlebih dahulu.

Banyak kegiatan menarik yang bisa traveler lakukan di sini, diantaranya piknik, olahraga, bermain di ragam fasilitas dan playground, bersantai hingga berburu foto.

4. Ancol

Destinasi populer di Jakarta ini bisa dijangkau dengan KRL. Kamu bisa turun di Stasiun Kampung Bandan yang dekat dengan pintu masuk Ancol. Setelah turun dari stasiun, kamu perlu berjalan sekitar 20 menitan. Atau juga turun di Stasiun Ancol dengan menaiki KRL rute Jakarta Kota-Tanjung Priuk.

5. BXSea

BXsea di dalam Bintaro Jaya Exchange Mall tahap 2BXsea di dalam Bintaro Jaya Exchange Mall 2 Foto: (Syanti Mustika/detikcom)

Destinasi akuarium indoor dalam mall yang bisa kamu jangkau dengan KRL yaitu BXSea yang berada di Tangerang Selatan, berlokasi di Bintaro Jaya Xchange Mall 2. Kamu turun saja di Stasiun Jurangmangu, lalu berjalan saja ke arah mal. Stasiun dan mall terhubung oleh lorong yang nyaman untuk dilewati.

Adapun harga tiketnya mulai Rp 85 ribu.

6. Masjid Istiqlal

Masjid megah kebanggaan Jakarta ini bisa dijangkau dari Stasiun Juanda. Kamu hanya perlu berhjalan keluar dari halte dengan mengikuti arah yang tertera jelas kok di stasiun. Pintu masuk ke Masjid Istiqlah tak jauh dari pintu keluar stasiun.

7. Gelora Bung Karno

Traveler yang ingin bersantai di Hutan Kota atau berolahraga di kawasan Gelora Bung Karno, bisa datang ke sini dengan KRL kok. Adapun stasiun terdekatnya adalah Stasiun Palmerah.

Setelah turun dari stasiun, kamu bisa menaiki Transjakarta kok. Atau jika bersemangat olahraga, bisa jalan kaki dari stasiun sekitar 25-30 menitan.

8. Alun-alun Bogor

Bergeser dari Jakarta, kamu bisa nih mencari yang hijau-hijau di Bogor yang bisa dijangkau dengan KRL. Salah satu tempatnya adalah Alun-alun Bogor.

Kamu bisa turun di Stasiun Bogor, lalu jalan kaki sekitar 300 menit dari pintu keluar stasiun. Lokasi alun-alun tepat berada di depan n Kantor Wali Kota Bogor dan Masjid Agung Kota Bogor.

(sym/wsw)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
image : unsplash.com / Thomas Tucker

Liburan Hemat Naik Kereta dari Tanjung Priok Temukan Berbagai Tujuan Wisata



Jakarta

Traveler yang tidak jauh dari Stasiun Tanjung Priok banyak nih tempat menarik yang bisa kamu jangkau dengan kereta. Tenang, pilihan destinasinya banyak yang murah kok.

detikcom telah merangkum, Jumat (1/8/2025) destinasi wisata yang bisa dijangkau bila naik dari Stasiun Tanjung Priok.

1. Kota Tua Jakarta dan sekitarnya

Berkunjung ke Kota Tua Jakarta, banyak spot menarik yang bisa kamu kunjungi. Diantaranya Museum Fatahillah, Museum Bank Indonesia, Museum Wayang, Museum Bank Mandiri, Museum Bahari, Toko Merah, Kafe Batavia dan lainnya.


Kamu nanti tinggal turun di Stasiun Jakarta Kota.

2. Jakarta Aquarium

Pengunjung beraktivitas di Jakarta Aquarium & Safari, Jakarta, Sabtu (25/5/2024).Pengunjung beraktivitas di Jakarta Aquarium & Safari, Jakarta( Foto: Rifkianto Nugroho)

Traveler yang ingin membawa keluarga melihat akuarium indoor dengan ragam satwa lautnya datang saja ke Jakarta Aquarium. Lokasinya berada di dalam Mall Neo Soho.

Adapun stasiun terdekat dari Jakarta Aquarium adalah Stasiun Palmerah dan Stasiun Grogol. Setelah itu kamu harus naik kendaraan online atau Transjakarta menuju mall.

3. Ancol

Destinasi populer di Jakarta ini bisa dijangkau dengan KRL. Kamu bisa turun di Stasiun Kampung Bandan yang dekat dengan pintu masuk Ancol. Setelah turun dari stasiun, kamu perlu berjalan sekitar 20 menitan. Traveler bisa naik menaiki KRL rute -Tanjung Priuk- Jakarta Kota lalu turun di Stasiun Ancol.

4. BXSea

Destinasi akuarium indoor dalam mall yang bisa kamu jangkau dengan KRL yaitu BXSea yang berada di Tangerang Selatan, berlokasi di Bintaro Jaya Xchange Mall 2. Kamu turun saja di Stasiun Jurangmangu, lalu berjalan saja ke arah mal. Stasiun dan mall terhubung oleh lorong yang nyaman untuk dilewati.

Adapun harga tiketnya mulai Rp 85 ribu.

5. Masjid Istiqlal

Pemerintah Indonesia dan Arab Saudi gelar pameran kebudayaan dan keagamaan di Masjid Istiqlal. Pameran bertajuk Masjid Istiqlal. Foto: Rifkianto Nugroho

Masjid megah kebanggaan Jakarta ini bisa dijangkau dari Stasiun Juanda. Kamu hanya perlu berjalan keluar dari halte dengan mengikuti arah yang tertera jelas kok di stasiun. Pintu masuk ke Masjid Istiqlal tak jauh dari pintu keluar stasiun.

Tak jauh dari masjid, kamu bisa berjalan kaki sedikit menuju kawasan Monas, Taman Lapangan Benteng atau Perpustakaan Nasional.

6. Alun-alun Bogor

Bergeser dari Jakarta, kamu bisa nih mencari yang hijau-hijau di Bogor yang bisa dijangkau dengan KRL. Salah satu tempatnya adalah Alun-alun Bogor.

Kamu bisa turun di Stasiun Bogor, lalu jalan kaki sekitar 300 menit dari pintu keluar stasiun. Lokasi alun-alun tepat berada di depan n Kantor Wali Kota Bogor dan Masjid Agung Kota Bogor.

7. Gelora Bung Karno

Traveler yang ingin bersantai di Hutan Kota atau berolahraga di kawasan Gelora Bung Karno, bisa datang ke sini dengan KRL kok. Adapun stasiun terdekatnya adalah Stasiun Palmerah.

Setelah turun dari stasiun, kamu bisa menaiki Transjakarta kok. Atau jika bersemangat olahraga, bisa jalan kaki dari stasiun sekitar 25-30 menitan.

(sym/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Jalan-Jalan Asyik dan Seru, Strolling Around Blok M



Jakarta

Blok M bukan hanya dikenal sebagai pusat belanja dan kuliner, tapi juga menyimpan banyak cerita sejarah dan sudut menarik yang jarang diketahui. Ada apa saja ya?

Melalui acara Strolling Around Blok M, detiktravel berkesempatan menelusuri destinasi ikonik bersama Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Selatan pada 25 September.

Berikut spot-spot yang kami singgahi saat berkeliling Blok M:

1. Masjid Al-Azhar

Masjid Agung Al-AzharMasjid Agung Al-Azhar (Yusuf Alfiansyah Kasdini)

Perjalanan menuju Masjid Al-Azhar, menggunaka bus menuju Stasiun Lebak Bulus dengan menempuh perjalanan 5 km melalui jalur arteri, dan menuju ke blok m memakai MRT lalu turun di Halte ASEAN. Tiba pukul 10.10 WIB. Jalan kaki menuju Masjid Al azhar selama 5 menit. Kemudian berkunjung ke Aula Buya Hamka.


Sebelum berubah menjadi nama Masjid Al-Azhar, dulunya masjid ini bernama Masjid Agung Kebayoran.

Masjid ini bersebelah dengan Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), di dalamnya terdapat Aula yang sering digunakan untuk acara seperti, pernikahan, kegiatan kampus dan lainnya. Mimbar Masjid Al-Azhar terletak di lantai 2.

2. Sekretariat ASEAN

Gedung Sekretariat ASEAN diresmikan Jokowi hari ini. Sebelum menjadi gedung Sekretariat ASEAN, bangunan itumerupakan kantor Wali Kota Jakarta Selatan.Gedung Sekretariat ASEAN (Rengga Sancaya)

Tiba pukul 11.20 WIB berjalan dari Masjid Al-Azhar selama 5 menit. Dijelaskan oleh pemandu bahwa gedung Sekretariat ASEAN dibangun oleh orang yang sama dengan yang membangun gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

3. Perum Percetakan Uang RI (PERURI)

Peruri Blok MPeruri Blok M (Qonita Hamidah/detiktravel)

Peruri dibangun 1971 dengan saham milik negara. Peruri merupakan tempat mencetak uang koin, paspor, dan dokumen lainnya. Tak hanya mencetak uang Indonesia, Peruri dikabarkan juga mencetak mata uang Srilanka.

Peruri memiliki kompleks berbentuk kotak sampai Mbloc Space. Dalam komplek Peruri ini terdapat Masjid Palatehan yang diambil dari nama Pangeran Fatahillah tahun 1985.

Berdasarkan keterangan pemandu wisata dalam acara Famtrip Suku Dinas Pariwisata, sekarang gedung Peruri yang terletak di Jakarta, tepatnya di Jl. Pelatehan Kebayoran Baru Jakarta Selatan kini telah menjadi bangunan cagar budaya dan kantornya yang sekarang menjadi rumah dinas.

Kini, gedung ini sudah menjadi cagar baru dan kantornya dijadikan rumah dinas. Gedung Peruri sudah mengalami renovasi.

“Rumahnya terbengkalai karena biaya pajaknya mahal mencapai Rp 22 Milyar karena itu kan rumah zaman dulu” Kata Muti pemandu Famtrip.

5. Mbloc Space

Suasana berwisata di Mbloc Space.Suasana berwisata di Mbloc Space. (Rengga Sancaya/detikcom)

Area Mbloc Space sempat kosong selama 24 tahun, lalu kembali dibuka untuk umum 2019. Di Mblok Space terdapat kedai-kedai berbagai kuliner, juga artshop.

detiktravel dan rombongan mampir ke salah satu ruko kuliner, yaitu Suwe Ora Jamu. Kedai ini dimiliki oleh Ibu Novadina.

Suwe Ora Jamu menyuguhkan menu makanan yang beragam, mulai dari nasi ayam suwir, nasi ikan, dan menu lainnya yang dipadukan dengan lalapan sayur.

6. Taman Literasi Martha Christina Tiahahu

Pencanangan HUT ke-498 DKI Jakarta yang digelar sore ini di Taman Literasi, Blok M, Jakarta Selatan ramai dikunjungi masyarakat.Taman Literasi, Blok M, Jakarta Selatan (Brigitta/detikcom)

Taman ini dibangun bersamaan dengan dibangunnya halte CSW dan diresmikan pada 2021 oleh Gubernur Jakarta Anies Baswedan.

Dulu taman ini dinamakan Taman Martha Christina Tiahahu, namun diganti namanya menjadi Taman Literasi dengan harapan warga Jakarta dapat menemukan spot baca dan sebagai tempat pertemuan di tengah Kota.

Nama Martha Tiahahu diambil dari nama pahlawan perempuan asal Maluku. Ia, meninggal pada 1818 saat ditawan oleh Belanda. Di masa itu, dia melakukan protes dengan menolak makan. Setelah meninggal, mayatnya dibuang ke laut.

Pada 1969 Martha Tiahahu ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Di taman ini tak hanya tersedia tempat duduk-duduk, tetapi juga ada choffeshop. Kopi yang paling mahal adalah kopi gajah dari hasil fermentasi gajah. Harga 1 cangkir Rp 50 ribu.

7. Blok M Hub

Tenant Kuliner dari Negara ASEAN Ada di Blok M Hub(Blok M Hub) Diah Afrilian

Pada era 1990-an, Blok M terkenal sebagai tempat nongkrong warga Jakarta dan sekitarnya. Tujuan Blok M dibangun sebagai kawasan integrasi transportasi umum.

“Parkiran bus di sini (Blok M) dibuat untuk menggantikan parkiran blok A, zaman dulu berbayar 300 rupiah per hari,” kata Muti, pemandu famtrip Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

8. Blok M

Blok M diresmikan pada 1978, dibangun karena pada saat itu ada asosiasi travel legendaris dari Qatar yang menjadikan Blok M sebagai tempat singgah. Sebelum menyambut tamu dari Qatar, para pegawai di Blok M mendapatkan kelas bahasa Inggris untuk pemandu tamu-tamu dari Qatar.

9. Gang viral Blok M

Gang viral blok M berada di jalanan Blok M. Disebut gang viral karena tenant atau makanannya yang viral di media sosial.

Keviralannya dilihat dari bentuk toko yang unik seperti kursi dan mejanya yang berbentuk seperti tetesan air atau bantal, dan makanan kekinian.

10. Little Park Tokyo

Little Park Tokyo merupakan toko yang menjual makanan Jepang. Banyak barang dan makanan ekspor dari Jepang, ada festival matsuri untuk peringatan sejarah.

Pada zaman dulu Little Park 100 persen menjual makanan Jepang, namun sekarang hanya 10 persen saja pedagang yang menjual makanan Jepang.

Dari informasi pemandu dalam Famtrip Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pemilik Little Park Tokyo menginginkan cita rasa makanan khas Jepang yang belum pernah dicoba oleh lidah Indonesia. “Biar orang-orang di Jakarta yang ingin mencicipi rasa itu enggak harus ke Jepang,” kata si pemandu.

11. Blok M Square

Blok M SquareBlok M Square (Qonita Hamidah/detiktravel)

Blok M Square diresmikan pada zaman Gubernur Ali Sadikin. Di lantai 7 Blok M Square terdapat Masjid Nurul Iman. Masjid ini merupakan masjid terbesar di dalam mall.

Masjid Nurul Iman merupakan cita-cita dari Ali Sadikin dalam mewujudkan area pendidikan di area blok M. Ali Sadikin dijuluki sebagai bapak pembangunan Jakarta, karena pada saat menjabat Gubernur Jakarta, berhasil membangun Blok M menjadi salah satu pusat mall terbesar di Jakarta.

Ali Sadilkin menginginkan makanan di Blok M dikelilingi makanan tradisional. Karena itulah Blok M dipenuhi oleh para pedagang kuliner hingga saat ini.

Perjalanan singkat ini menunjukkan bahwa Blok M adalah kawasan yang memadukan sejarah, budaya, hingga gaya hidup modern Jakarta. Jadi, kalau mampir ke Jakarta Selatan, jangan lupa sempatkan waktu untuk menjelajahi serunya Blok M.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Kuno Ini Saksi Penyebaran Agama Islam di Madiun



Madiun

Di tengah pemukiman warga kelurahan Kuncen, berdiri sebuah masjid kuno yang menjadi saksi penyebaran agama Islam di Madiun.

Masjid Kuno Kuncen, yang dikenal pula sebagai Masjid Nur Hidayatullah, kerap disebut sebagai salah satu saksi perkembangan Islam di Madiun dan telah menarik perhatian warga, peneliti, serta wisatawan religi.

Meski ukurannya tak seluas masjid-masjid agung metropolitan, nilai historis dan arsitekturnya membuat tempat ini istimewa. Struktur serupa joglo, tiang saka kayu berusia, serta pagar batu bata yang menjulang menjadi ciri khas yang mudah dikenali.


Kompleks masjid ini juga letaknya berdekatan dengan sendang yang menurut tradisi setempat terkait dengan asal-usul nama kota Madiun. Air dari sendang ini juga dipercaya memiliki berkah dan sering digunakan untuk ritual jamasan (penyucian) benda-benda pusaka, terutama menjelang bulan Suro (Tahun Baru Jawa) atau saat perayaan Grebeg Maulud.

Asal-usul Masjid Kuno Kuncen

Dilansir dari laman resmi Kelurahan Kuncen, pergeseran kekuasaan besar terjadi pada tahun 1568 di Kesultanan Demak, yang dampaknya turut membentuk sejarah di Madiun.

Era baru ini dimulai setelah Mas Karebet, atau Jaka Tingkir, memenangkan perang saudara. Dengan restu para wali, ia naik tahta menggantikan mertuanya, Sultan Trenggono, dan bergelar Sultan Hadiwijaya.

Namun, Sultan Hadiwijaya menolak untuk berkedudukan di Demak dan memilih memindahkan pusat pemerintahannya ke Pajang. Sejalan dengan perubahan tersebut, putra Sultan Trenggono lainnya, Pangeran Timur, diangkat sebagai Bupati Madiun pada 18 Juli 1568.

Pengangkatan adik ipar Sultan Hadiwijaya ini dilakukan oleh Sunan Bonang yang mewakili dewan wali. Pangeran Timur, yang memerintah Madiun dari tahun 1568 hingga 1586, kemudian dikenal dengan gelar Panembahan Rama atau Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno.

Pada tahun 1575, Pangeran Timur mengambil keputusan strategis untuk memindahkan pusat pemerintahan Madiun dari wilayah utara (Kelurahan Sogaten) ke lokasi baru di selatan, yaitu di Kelurahan Kuncen (sebelumnya bernama Wonorejo).

Selain mengurus pemerintahan, Pangeran Timur juga mengemban misi dakwah untuk menyebarkan agama Islam. Karena penyebaran agama erat kaitannya dengan pendirian tempat ibadah, maka diyakini bahwa Masjid Kuno Kuncen (yang kini bernama Masjid Nur Hidayatullah) didirikan di Kuncen setelah perpindahan ibu kota tersebut, yakni sekitar akhir abad ke-16.

Peninggalan Sejarah Masjid Kuncen

Peninggalan sejarah di masjid di antaranya adalah bedug (kentungan besar) kuno yang diyakini seusia dengan masjid, serta mustaka (mahkota atap) asli masjid yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Selain itu, mimbar dan beberapa elemen arsitektur di dalam masjid juga masih mempertahankan keasliannya sejak era Pangeran Timur.

Artefak terpenting di kompleks ini sesungguhnya adalah keberadaan makam-makam kuno, terutama makam Pangeran Timur (Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno), Bupati Madiun pertama.

Kompleks makam ini, yang letaknya menyatu dengan area masjid, menjadi bukti utama fungsi Kuncen sebagai pusat pemerintahan dan penyebaran Islam pertama di Madiun. Nisan-nisan kuno dari para kerabat dan abdi dalem yang dimakamkan di sekitar Pangeran Timur juga menjadi peninggalan sejarah yang tak ternilai.

Karena nilai sejarah yang tinggi dan keunikan arsitekturnya, kompleks Masjid Kuno Kuncen (termasuk area makam Pangeran Timur) telah ditetapkan secara resmi oleh Pemerintah Kota Madiun sebagai Situs Cagar Budaya melalui SK Walikota pada tahun 2019.

Status ini memberikan perlindungan hukum penuh, yang berarti segala bentuk pemugaran atau penambahan fasilitas baru di kawasan tersebut harus dilakukan atas seizin dan pengawasan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur.

Masjid Kuno Kuncen adalah bukti konkrit yang menghubungkan masa lalu dengan keseharian warga Madiun. Perdebatan tentang tanggal pendirian atau nama pendiri menggambarkan hidupnya tradisi dan arsip, keduanya perlu disandingkan agar sejarah kawasan ini bisa ditulis lebih lengkap.

Upaya pelestarian dan pengelolaan wisata yang menghormati nilai asli akan menentukan apakah generasi mendatang masih bisa menyentuh, melihat, dan belajar dari warisan ini.

——–

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Tertua hingga Makam Ulama, Ini Fakta Masjid Agung Karawang!


Jakarta

Karawang bukan cuma dikenal sebagai kota industri, tetapi juga banyak menyimpan cerita sejarah penyebaran Islam di Jawa Barat. Salah satu buktinya adalah Masjid Agung Karawang, masjid ini disebut sebagai salah satu masjid tertua di Karawang. Masjid Agung Karawang juga dikenal dengan nama Masjid Quro.

Fakta-Fakta Masjid Agung Karawang

Apa saja fakta menarik dari Masjid ini? Berikut detikTravel rangkum untuk kalian!

1. Masjid Tertua di Jawa Barat

Didirikan pada tahun 1418 Masehi/838 Hijriyah, Masjid Agung Karawang disebut menjadi salah satu masjid tertua di Jawa Barat.


Masjid ini didirikan oleh tiga ulama besar yakni, Syekh Abdurrahman, Syekh Hasanudin bin Yusuf Sidik, dan Syekh Maulana Idhofi. Masjid Agung Karawang dibangun sebagai lambang penyebaran syariat Islam di Jawa Barat, tepatnya Kabupaten Karawang.

Bangunan masjid dibangun dengan mencerminkan perpaduan antara budaya lokal dan nilai-nilai Islam yang kuat. Hingga saat ini, Masjid Agung Karawang masih digunakan sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial sekaligus simbol warisan sejarah.

2. Makam Syekh Abdurrahman

Makam Syekh Abdurrahman, di kompleks Masjid Agung KarawangMakam Syekh Abdurrahman, di kompleks Masjid Agung Karawang Foto: Asti Azhari/detikTravel

Tepat berada di halaman belakang bangunan masjid, bersemayam seorang tokoh besar Islam. Makam Syekh Abdurrahman, salah satu ulama yang turut berperan dalam pendirian Masjid Agung sekaligus penyebaran Islam di Karawang.

Makam ini selalu ramai diziarahi oleh masyarakat setempat, terutama pada hari Jumat. Syekh Abdurrahman tidak hanya dihormati karena ilmunya, tetapi juga keteladanannya dalam membimbing umat ke jalan yang lebih baik.

Pengelola masjid menyampaikan makam Syekh Abdurrahman tidak boleh dikunjungi saat ada jadwal shalat berjamaah, untuk mengurangi risiko kepadatan dan kerusuhan. Selain itu, makam ini terbuka untuk dikunjungi oleh masyarakat setempat.

3. Pondok Pesantren Quro

Pondok Pesantren Quro merupakan salah satu pondok pesantren tertua di Karawang. Pondok ini juga didirikan bersamaan dengan pendirian Masjid Agung Karawang. Nama Quro sendiri diambil dari nama salah satu pendirinya yaitu Syekh Hasanudin bin Yusuf Sidik yang lebih dikenal dengan sebutan Syekh Quro.

Hingga kini, Pondok Pesantren Quro menjadi bukti kuatnya tradisi penyebaran Islam dan menjadi lembaga pembelajaran agama untuk mencetak generasi penerus yang berpegang pada nilai-nilai keislaman.

(row/row)



Sumber : travel.detik.com