Tag Archives: mata air

Mata Air Grogolan Diserbu Wisatawan saat Libur Lebaran



Bojonegoro

Destinasi mata Air Grogolan di Bojonegoro ramai diserbu wisatawan saat libur Lebaran. Suasana rindang hutan jati yang dialiri mata air alami jadi daya tarik.

Mata air Grogolan berada di Desa Ngunut, Kecamatan Dander, Bojonegoro. Pada libur Lebaran, destinasi ini jadi objek wisata murah meriah untuk dikunjungi masyarakat Bojonegoro.

Mereka menghabiskan waktu bersantai bersama keluarga di destinasi ini. Air yang mengalir dari sumber mata air Grogolan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para kawula muda maupun anak-anak.


Di sini, mereka bisa bermain air atau mandi di aliran sungai yang jernih. Ditambah aneka makanan ringan yang dijajakan oleh warga setempat, semakin menambah betah para wisatawan.

Dari pagi hingga siang hari, ada sekitar 500 pengunjung dari berbagai wilayah di Bojonegoro. Mereka berasal dari Kecamatan Balen, Sumberejo, Kedungadem dan Boureno. Mereka memadati wisata yang dikelola oleh pokdarwis serta pemuda Desa Ngunut ini.

“Murah meriah ya main di sini bersama keluarga, yang penting anak-anak juga nyaman bermain air yang jernih dan suasana alam terbuka,” tutur Yuni, Minggu (14/4/2024).

Wisata mata air Grogolan Bojonegoro ramai diserbu wisatawan saat libur LebaranWisata mata air Grogolan Bojonegoro ramai diserbu wisatawan Foto: Ainur Rofiq/detikJatim

Untuk liburan kali ini, tiket masuk di lokasi sumber mata air Grogolan Kecamatan Dander hanya dipatok Rp 3 ribu untuk satu orang.

Selain di mata air Grogolan, di kecamatan Dander juga terdapat alternatif wisata alam lainnya. Pengunjung bisa mampir ke sejumlah wisata ini, mulai dari Khayangan Api, kolam renang water park serta air panas blukutuk.

——

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Cuma di Klaten, Ada Kolam Segar Alami di Bawah Pohon Beringin Ratusan Tahun



Klaten

Klaten memang ‘surganya’ Umbul alias kolam renang mata air alami. Salah satu yang paling menarik adalah Umbul Kapilaler yang berada di bawah pohon beringin berusia ratusan tahun.

Dari puluhan umbul yang ada di Klaten, Umbul Kapilaler mungkin yang paling adem. Ya, karena mata air itu dinaungi pohon beringin berukuran besar yang usianya konon sudah ratusan tahun.

Umbul Kapilaler terletak di di Desa Karanglo, Kecamatan Polanharjo, Klaten. Mata air tersebut lebih menyerupai sendang karena cenderung bundar dengan diameter sekitar 20 meter.


Dindingnya terbuat dari tatanan batu fondasi berbahan andesit. Di tepian dan lantainya tidak ada porselen atau keramik warna-warni, hanya pasir dan batu andesit berlumut.

Di sisi utara, tumpukan batu andesit ukuran besar seperti menjadi pagarnya. Dinaungi dua pohon beringin besar yang rimbun membuat umbul Kapilaler hampir tak tersengat teriknya sinar matahari kala siang.

Umbul Kapilaler di Desa Karanglo, Kecamatan Polanharjo, Klaten.Umbul Kapilaler Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Sinar matahari hanya menyentuh sisi timur umbul yang tidak terdapat pohon. Di sisi barat daya umbul, akar dan sulur pohon beringin yang rumpunnya seukuran truk, biasa digunakan wisatawan untuk selfie.

Letaknya yang lebih rendah dari daratan di sekelilingnya membuat umbul itu tampak seperti cermin, karena airnya yang bening. Mata air itu juga terkesan alami, karena tidak ditemukan arsitektur modern di sekitarnya.

Cara Menuju ke Umbul Kapilaler

Untuk sampai ke Umbul Kapilaler tidak sulit. Traveler bisa lewat jalan Jogja-Solo. Dari simpang empat Nglajur, Kecamatan Delanggu, kalian bisa ambil jalur jalan Delanggu-Polanharjo.

Traveler bisa mengambil lurus sekitar 5 kilometer ke arah Umbul Ponggok, kemudian ada simpang empat Karanglo atau Water Gong. Lalu, setelah lewat depan Water Gong, lurus sekitar 200 meter maka traveler akan sampai di Umbul Kapilaler.

Ketua Pokdarwis Wanua Tirta, Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Triyono menjelaskan Umbul Kapilaler dan Sigedang itu dulunya menjadi mata air utama untuk pabrik gula (PG) Ceper, Kecamatan Ceper di masa penjajahan Belanda. Nama Kapilaler diambil dari bahasa Capillair.

“Bahasa Belanda saluran itu Capillair, tapi orang Jawa berubah menjadi Kapilaler. Saat PG masih ada dulunya sepanjang hilir dirawat, iya ini untuk mengaliri PG Ceper,” tutur Triyono beberapa waktu lalu.

Saking alaminya Umbul Kapilaler, dulu airnya bisa langsung diminum masyarakat. Umbul ini juga tidak pernah kering sepanjang tahun meskipun ada musim kemarau.

Harga Tiket Masuk Umbul Kapilaler

Harga tiket masuk ke umbul ini dipatok Rp 10.000 per orang, sudah termasuk air mineral kemasan dan asuransi. Pengunjung tidak hanya bisa menikmati kolam Umbul Kapilaler, tapi juga Umbul Sigedang, karena dua objek itu satu paket.

Umbul Kapilaler buka mulai pukul 07.00 sampai 17.00 WIB. Untuk mengisi perut, pengunjung tidak perlu khawatir karena ada warung UKM dengan berbagai menu dan gazebo untuk istirahat.

—–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Umbul Cantik di Klaten Ini Dulu Cuma Buat Tempat Cuci Mobil dan Truk



Klaten

Siapa yang menyangka, umbul cantik di Klaten yang banyak dikunjungi wisatawan ini dulunya cuma digunakan warga setempat buat mencuci mobil dan truk.

Di Klaten, Jawa Tengah ada banyak mata air atau umbul yang jadi destinasi wisata. Salah satunya adalah Umbul Susuhan.

Mata air alami ini berada di Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen, Klaten. Yang unik dari mata air ini adalah, dulunya hanya dimanfaatkan untuk mencuci kendaraan.


“Ya biasa dulu untuk mandi, cuci dan guyangan (cucian) kendaraan warga. Mata airnya ada dua,” ungkap Jamari (60), warga setempat, beberapa waktu lalu.

Diceritakan Jamari, Umbul Susuhan punya dua mata air, yaitu di Utara dan tengah. Dulunya ada dua pohon beringin besar tapi ambruk terkena angin.

“Ambruk kena angin, dulu pas mau Pilkades ingat saya. Tapi airnya juga tidak pernah kering meski pohonnya ambruk,” kata Jamari.

Sekretaris BUMdes Mahanani Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen, Bima Sakti Prasetya membenarkan dulunya umbul itu hanya untuk keperluan warga sekitar. Difungsikan untuk mandi, cuci dan mencuci kendaraan roda empat.

“Dulu untuk mandi, cuci, untuk cuci mobil, cuci truk. Jadi Umbul ini sudah ada sejak lama,” ungkap Bima kepada detikJateng di lokasi.

Menurut Bima, air dari Umbul Susuhan tidak pernah kering sepanjang tahun meski kemarau. Namun pada tahun 2019 silam, pohon beringin di sekitar mata air itu sempat ambruk terkena angin.

“Tumbang pohonnya sekitar akhir 2019, tidak pernah kering. Meskipun pohonnya tumbang,” kata Bima.

Bima menyatakan, saat ini jumlah pengunjung ke umbul itu sudah mulai pulih seperti sebelum pandemi. Di hari biasa bisa 200-300 orang tetapi jika akhir pekan atau liburan, bisa mendekati 1.000 orang.

“Weekend bisa 500 pengunjung tapi untuk liburan bisa sampai 1.000 orang. Di sini bukanya jam 05.00 WIB sampai 17.00 WIB,” ucap Bima.

Umbul SusuhanUmbul Susuhan Foto: Putri Ayu Sabrina/d’Traveler

Saat ini di Umbul Susuhan ada empat kolam. Terdiri dari kolam anak, dewasa, khusus wanita dan kolam mata air utama. Ke depan akan menambah beberapa fasilitas.

“Ke depan, rencana kita buat kolam terapi ikan. Saat ini untuk harga tiket hanya Rp 10.000, untuk balita gratis, untuk rombongan pelajar atau pesantren kita berikan diskon untuk pendidikan,” imbuh Bima.

Pengunjung asal Kecamatan Bayat, Saryono mengatakan dirinya sudah berkali-kali datang ke lokasi. Selain tiketnya murah juga paling dekat.

“Ya paling dekat untuk mata air alami. Di sini juga tidak terlalu ramai dan mudah karena di tepi jalan,” katanya.

Cara Menuju ke Umbul Susuhan

Umbul Susuhan memang tidak sulit dicari karena persis di tepi jalan Klaten – Boyolali. Dari Klaten kota hanya sekitar lima kilometer ke Utara arah Boyolali.

Tepat di sisi kiri jalan setelah Desa Gedaren, Kecamatan Jatinom bangunan Umbul Susuhan akan terlihat. Pengunjung tinggal parkir dan masuk setelah membayar harga tiket.

—–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Umbul Besuki yang Cantik di Klaten, Dulu Mau Dinamai Umbul Robert



Klaten

Tak ada yang menyangka, Umbul Besuki yang cantik di Klaten sempat mau diberi nama Umbul Robert. Kok bisa? Begini ceritanya….

Di desa Ponggok, Klaten ada beberapa umbul atau sumber mata air yang menjadi destinasi wisata. Salah satu yang paling terkenal tentu saja Umbul Ponggok.

Selain Umbul Ponggok, ada juga Umbul Besuki yang namanya sedang naik daun di kalangan wisatawan. Rupanya, ada sebuah kisah menarik tentang umbul ini. Sebelum diberi nama umbul Besuki, umbul ini sempat mau diberi nama Umbul Robert.


Zaman dulu, umbul ini memang sering untuk mandi para pembesar Belanda. Salah satunya bernama Robert. Maka dari itu, umbul ini sempat mau diberi nama Umbul Robert, namun tidak jadi.

“Dulu orang-orang tua ingin dinamakan Umbul Robert. Karena dulu pernah ada orang Belanda mandi di situ namanya Robert,” ungkap Ketua Pokdarwis Wanua Tirta Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Triyono beberapa waktu lalu.

Akhirnya, umbul ini pun dinamakan Umbul Besuki. Besuki diambil dari kata Basuki yang berarti Sejahtera dalam bahasa Indonesia.

“Akhirnya sering dinamakan Umbul Besuki, dari kata basuki (sejahtera). Sampai sekarang jadi Besuki,” kata Triyono.

Pada zaman dulu, Umbul Besuki hanya terdiri dari satu kolam mata air. Di sisi utaranya ada hutan dan jurang aliran sungai.

“Sebelahnya jurang tapi ya airnya dari umbul Besuki juga. Mata airnya tidak terlalu besar, tapi mengaliri yang lain,” ujar Triyono.

Umbul Besuki di Klaten mulai dikunjungi wisatawanUmbul Besuki di Klaten Foto: Achmad Syauqi/detikcom

Namun sejak dikembangkan pada tahun 2018, Umbul Besuki terbagi menjadi beberapa bagian. Umbul utama berada paling atas, berupa kolam alami seukuran 500 meter persegi.

Di bagian jurangnya, disulap menjadi satu kolam renang modern untuk anak-anak. Sementara di tebing bagian timur, dibuat dua kolam modern berbentuk oval di tengah hutan pohon jati.

Umbul Besuki pun semakin dikenal dan menjadi destinasi wisata alternatif selain umbul Ponggok. Ke depan, pengembangan umbul ini akan terus dilakukan.

“Jadi ke depan di situ menjadi komplitnya Umbul Ponggok. Karena nanti ada home stay, camping ground sampai out bond,” imbuh Triyono.

Cara Menuju ke Umbul Besuki

Untuk menuju ke Umbul Besuki, traveler bisa ditempuh perjalanan dari kota Klaten ke Utara sejauh sekitar 20 kilometer. Dari arah jalan Jogja-Solo, jaraknya hanya sekitar lima kilometer ke barat daya.

Dari jalan Jogja-Solo, sesampainya di kota Kecamatan Delanggu, pengunjung bisa lewat jalan Delanggu-Ponggok. Setelah Kantor Desa Ponggok, ambil kanan ke Umbul Besuki.

Umbul Besuki letaknya memang tidak jauh dari Umbul Ponggok yang berada di tepi jalan Janti- Karanganom. Dari Umbul Ponggok, Umbul Besuki cuma berjarak sekitar 500 meter ke arah Utara. Lokasinya tepat berada di tepi persawahan.

Pintu masuk utamanya berada di dekat area parkir. Untuk masuk, traveler hanya perlu tiket seharga Rp 10.000 per orang. Jam buka dari 07.00 pagi sampai 16.00 sore.

—–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Legenda Sendang Kasihan dan Kisah Kesaktian Sunan Kalijaga



Bantul

Di Bantul, ada destinasi pemandian yang lekat dengan mitos dan legenda. Sendang Kasihan namanya. Konon, sendang ini jadi saksi bisu kesaktian Sunan Kalijaga.

Sendang Kasihan adalah sebuah pemandian mata air yang berada di kecamatan Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Masyarakat setempat mempercayai beberapa mitos terkait Sendang Kasihan.

Salah satunya yakni mandi di Sendang Kasihan diyakini bisa memberikan pengasihan alias mudah mendapatkan jodoh.


“Cerita sendang ini kan terkenal dengan namanya yaitu Sendang Pengasihan. Pengasihan dalam artian luas kompleks, apalagi mengandung nilai sejarahnya. Dikatakan bahwa sumber mata air ini ditemukan oleh Sunan Kalijaga berarti ada karamahnya,” tutur pengelola Sendang Kasihan, Yudaryanto (53), beberapa waktu lalu.

Yudi menuturkan, banyak orang yang datang ke sendang dengan beragam tujuan. Misalnya, perempuan yang sial jodoh, harapannya ia membersihkan diri dan berharap segera bertemu dengan jodohnya.

Tidak hanya menjadi pembawa pengasihan, air di Sendang Kasihan juga konon membuat untuk awet muda. Sebab, kondisi fisik air sendang ini ternyata cukup bagus.

“Pernah dicek dari UGM, UIN, pH-nya 7, bagus. Terus ada tamu sendang itu dia mengelola air minum juga punya alatnya dicek. Dia turun jam 04.00 WIB, siangnya coba iseng ngetes, habis ngetes telepon saya, mas airnya sendang bagus sekali pH-nya 8. Jadi secara fisik bagus kandungan mineralnya tinggi keasamannya rendah,” cerita Yudi.

“Tokoh-tokoh banyak yang pernah datang. Paramitha Rusady 4 kali ke sini, Dian Sastro, Nicholas Saputra, banyak tokoh-tokoh. Dari Batam, Kalimantan banyak. Pejabat banyak, dulu waktu sebelum saya di sini, keluarga Pakualaman, keluarga Mangkunegaran, HB IX, HB VIII banyak,” tambahnya.

Kesaktian Sunan Kalijaga

Sendang Kasihan ini konon merupakan sendang yang ditemukan Sunan Kalijaga. Nama sendang ini berasal dari kisah Sunan Kalijaga yang merasa iba kepada seorang emak-emak dan bermunajat doa hingga muncul sumber mata air.

“Nama Sendang Kasihan itu, jadi Mbok Rondo tadi cari air jauh sekali sungai itu. Kemudian Sunan Kalijaga iba kasihan melihat Mbok Rondo, kasihan. Kata-kata kasihan itu akhirnya kan besok tekan ajining zaman tak beri nama Sendang Kasihan,” ujar Kepala Bidang Warisan Budaya Disbud Bantul, Risman Supandi.

Risman menyebut saat ini Sendang Kasihan sudah masuk dalam salah satu cagar budaya.

“Kenapa ditetapkan sebagai struktur? Jadi berdasarkan Pasal 5 UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya bahwa benda bangunan atau struktur dapat diusulkan sebagai cagar budaya apabila memenuhi kriteria,” jelas Risman.

Padusan jelang Ramadan di Sendang Kasihan, Kabupaten Bantul, Minggu (5/5/2019).Sendang Kasihan, Kabupaten Bantul Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Kisah yang sama juga dituturkan pengelola Sendang Kasihan, Yudaryanto (53). Dia menyebut Sendang Kasihan ditemukan saat Sunan Kalijaga mengembara dan bertemu dengan seorang perempuan.

“Waktu Sunan Kalijaga dalam pengembaraanya berkelana sampai di lokasi tempat ini, bertemu dengan sosok wanita seperempat tua yang sedang mencari air, membawa kendi. Ditanya orang tua itu sama Sunan Kalijaga mau ke mana, namanya siapa. Orang tua itu mengaku bernama Mbok Rondo Kasihan yang mau mencari air. Dengan bertemunya Sunan Kalijaga dan Mbok Rondo Kasihan mencari air, beliau bermunajat berdoa di tempat ini sambil menancapkan tongkat. Setelah bermunajat doa dan tongkat dicabut bekas tancapannya timbul sumber mata air,” jelas Yudi.

Selain sumber mata air, ditemukan dua arca di sisi timur setelah pintu masuk Sendang Kasihan. Kedua arca tersebut adalah arca Ganesha dan Resi Agastya.

“Terus di sana ada dua arca, Ganesha sama Resi Agastya. Arca Ganesha dari agama Hindu, kan dewa pengetahuan. Ada Resi Agastya kan gurunya guru, Maha Guru,” ujar Yudaryanto yang sering disapa Yudi.

“Arcanya ini yang saya dengar dulu kan sendang ini kecil dan diperlebar. Nah dulu waktu diperlebar ditemukan itu,” tambahnya.

Pohon soko temanten di Sendang Kasihan BantulPohon soko temanten di Sendang Kasihan Bantul Foto: Anandio Januar/detikJogja

Kemudian di samping arca tersebut terdapat pohon Soko Temanten. Konon, pohon tersebut sudah langka dan berusia tua.

“Pohon Soko Temanten pohon yang paling tua. Menurut simbah, pohon Soko Temanten itu yang menanam Sinuwun yang pertama, Sultan pertama Jogja,” tutur Yudi.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Konon, Ini Mata Air Tempat Wudu Sunan Kalijaga



Gunungkidul

Ada sebuah sumber mata air di Gunungkidul yang dipercaya sebagai tempat wudunya Sunan Kalijaga. Sumber air Tuk Dungsono, begitu warga setempat mengenalnya.

Mata air Tuk Dungsono itu berada di Padukuhan Plumbungan, Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Mata air itu terletak di pinggir sungai Kedung Sono.

Airnya mengalir dari sepotong bambu yang tertancap di batu tebing yang tingginya sekitar 2,5 meter. Terdapat atap dari seng yang menaungi sumber itu.


Air yang keluar dari sumber tersebut tampak bening, kontras dengan air di sungai yang berwarna nyaris seputih susu.

Di bawah aliran air itu terdapat sebuah ember biru berukuran kurang lebih 50 liter. Dari permukaan ember hingga ke atas tebing terdapat dua ruas paralon.

Dua ruas paralon itu tersambung melalui sebuah mesin pompa air. Saat Tim detikJogja mencoba meminum air tersebut, airnya terasa segar dan tidak berbau.

Tampak seorang warga sekitar dengan anaknya sedang mengambil air dari sumber tersebut menggunakan galon berkapasitas 15 liter.

Warga itu bernama Gunawan (41). Ia menuturkan jika mata air itu dipercaya pernah menjadi tempat wudu Sunan Kalijaga.

“Katanya sumber di sini dulunya tempat wudunya Sunan Kalijaga. Tapi saya tidak paham betul bagaimana ceritanya,” ungkap Gunawan kepada saat ditemui di lokasi, Minggu (4/2/2024).

Ia mengatakan biasa mengambil air bersih untuk dikonsumsi di sumber tersebut.

“Sehari-harinya biasa ambil air di sini buat minum sama memasak,” katanya.

Mata Air Muncul Saat Sunan Kalijaga Mau Salat

Dukuh Plumbungan, Sulistyo menuturkan, sumber air tersebut dipercaya muncul ketika Sunan Kalijaga hendak menunaikan salat saat berada di wilayah tersebut. Saat itu, kata Sulistyo, cuaca sedang kemarau.

“Dulu kan gini cerita yang kami yakni, Sunan Kalijaga sama muridnya nyari air untuk wudu pas musim kemarau tapi tidak ada air. Akhirnya Sunan Kalijaga nyari di sana. Dia memasukkan telunjuknya di batu itu (lalu muncullah mata air tersebut),” jelas Sulistyo saat ditemui di Padukuhan Plumbungan, Minggu (4/2/2024).

Mata air itu, jelas Sulistyo, dikenal sebagai Tuk Dungsono karena dulunya sungai tersebut dipenuhi oleh pohon Sonokeling.

“Karena di tempat itu banyak Sonokeling dulunya akhirnya akhirnya dikasih nama sama warga Kedung Sono atau Tuk Dungsono,” terangnya.

Usai muncul mata air itu, kata Sulistyo, Sunan Kalijaga bersama muridnya menunaikan salat di sungai tidak jauh dari sumber air yang saat itu sedang kering. Sulistyo menjelaskan posisi sungai tempat Sunan Kalijaga salat berada di atas sumber dan tepat menghadap ke kiblat.

“(Sungai) Di atas itu ada batu yang rata menghadap ke kiblat. Pas menghadap kiblat bener,” katanya.

Lokasi Tuk Dungsono yang berada di samping sungai Kedung Sono, Gunungkidul, pada Minggu (4/2/2024).Mata air Tuk Dungsono Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJogja

Pada awalnya, Sulistyo mengungkapkan sumber air itu tidak diberi bambu. Diameter lubangnya, tutur Sulistyo, dulunya hanya sebesar telunjuk orang dewasa.

“Awalnya nggak dikasih bambu, sekarang dikasih untuk ambil air. Dulu besarnya setelunjuk jari. Besar mungkin faktor air,” terangnya.

Pada saat gempa di Jogja tahun 2006 silam, Sulistyo menceritakan banyak sumber air di wilayahnya yang mati. Namun tidak dengan sumber air Tuk Dungsono.

“Dulu gempa tahun 2006 itu banyak yang mati sumber di sini. Dan itu (Tuk Dungsono) yang belum berubah sampai sekarang,” terangnya.

“Sekarang dimanfaatkan untuk air minum yang deket sini. Tidak pernah macet, airnya stabil meskipun kemarau,” lanjutnya.

Kini, jelas Sulistyo, banyak masyarakat yang tidak paham akan cerita yang dipercaya tersebut. Ia mendapat cerita tersebut sewaktu kecil dari kakeknya.

“Kalau sekarang masyarakat sudah hampir nggak paham. Dulu mbah yang cerita sebelum tidur. Mbah saya dulu dukuh kedua yang pertama itu bapaknya si mbah,” ungkapnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Hutan Angker Gunungkidul Punya Mata Air Berbentuk Kelopak Mata



Gunungkidul

Sebuah hutan yang dikenal angker di Gunungkidul memiliki sebuah mata air tersembunyi. Uniknya, mata air itu memiliki bentuk seperti kelopak mata.

Hutan Tlawah di Kalurahan Natah, Kapanewon Nglipar, Gunungkidul, punya mata air tersembunyi. Untuk menuju ke posisi mata air itu dibutuhkan waktu setidaknya 30 menit dengan berjalan kaki.

Mata air tersebut terletak di semak-semak, sehingga tak tampak mata jika tidak paham betul posisinya. Mata air tersebut masih tertutup sedikit tanah, sehingga tidak terlalu tampak seperti kelopak mata manusia. Meski disebut dengan mata air, tidak terlihat ada air yang mengalir.


Awalnya saat tanah tersibak mata air yang konon tampak seperti mata manusia itu tak tampak persis jika dilihat dari arah timur. Namun, mata air itu tampak mirip dengan kelopak mata jika dilihat dari arah barat.

Di tengah mata air tersebut terdapat sebuah batu berukuran sedikit lebih besar dari genggaman dua tangan orang dewasa. Sedangkan di permukaan luar terlihat berbentuk seperti kacang almond dengan panjang kurang lebih 60 cm dan lebar 40 cm. Mata air tersebut memiliki kedalaman sekitar 10 cm.

Jika dilihat dengan saksama, maka bagian mata tersebut seakan melirik ke selatan. Bola mata yang terlihat seperti pupil manusia itu berasal dari batu yang sudah agak lapuk sehingga mudah tergerus saat dicongkel menggunakan sebatang kayu.

Sumber Mata Air Itu Terbentuk Secara Alami

Ngadimo (58), warga sekitar menjelaskan mata air tersebut terbentuk secara alami, tidak ada campur tangan manusia. Dulunya mata air tersebut dimanfaatkan oleh warga untuk minum.

“Ini bukan buatan manusia. Dari saya kecil ya memang begini. Dari alamnya sudah begitu. Dulu biasanya orang-orang minum di sini kalau lewat hutan,” jelas Ngadimo.

Mata air berbentuk kelopak mata di tengah alas angker Tlawah, Gunungkidul. Foto diambil Jumat (10/5/2024).Mata air berbentuk kelopak mata di tengah hutan Tlawah yang angker Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJogja

Mata air tersebut sudah lama dilupakan oleh warga. Malah disebut sebagai mitos sampai sumber air itu ditemukan lagi oleh komunitas Resan Gunungkidul pada 2022 lalu.

“Warga sudah banyak yang nggak tahu. Dianggap mitos juga kok karena sudah lupa mata air ini. Tapi pas komunitas Resan ke sini ngajak saya untuk cari, ketemu lagi mata airnya,” katanya.

Asal Usul Hutan Tlawah

Ngadimo mengatakan, nama tlawah diambil dari mata air yang berbentuk kelopak mata manusia tersebut. Ngadimo menyebut tlawah dalam bahasa Jawa yakni lubang kecil dengan batu di tengahnya.

“Asal usul nama tlawah ya itu. Ada lubang kecil, ada batu, namanya tlawah,” jelas Ngadimo.

“Tlawah itu tahunya cuma nama. Tapi saya ingat kalau batu di mata air itu ya itu namanya asal usul tlawah,” lanjutnya.

Ngadimo mengungkapkan, masyarakat setempat meyakini adanya sesosok makhluk gaib penjaga alas Tlawah. Sosok tersebut bernama Mbah Sostrowono.

“Di alas ini ada penunggunya namanya Mbah Sostrowono. Bukan manusia dia. Dia istilahnya makhluk gaib,” sebutnya.

Dari kepercayaan masyarakat setempat Mbah Sostrowono itu konon ditaklukkan oleh para wali. Dia kemudian ditugaskan menjaga alas Tlawah.

Batu berwarna hitam di bawah mata air itu pun diyakini milik Mbah Sostrowono. Oleh karena itu, orang tak boleh sembarangan mengambil batu di area kelopak mata air tersebut.

“Batunya itu tidak boleh diambil memang ada pusaka milik Mbah Sostrowono,” jelas Ngadimo.

Hutan Tlawah Dikenal Angker

Di sisi lain, Ngadimo menceritakan banyak orang yang masuk ke alas Tlawah tanpa izin akhirnya tersesat. Tak hanya itu, diyakini banyak cerita warga yang diganggu makhluk tak kasat mata.

“Sudah banyak yang bingung masuk ke sini. Bahkan ada masyarakat yang bingung pas masuk ke sini. Kalau yang belum pernah masuk sini itu izin dulu ke warga sekitar,” ungkap Ngadimo.

“Warga belum tentu berani masuk alas di siang, sore, malam. Hanya orang tertentu yang berani. Saya buktikan sendiri banyak yang sering mengganggu,” sambung dia.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Mitos-mitos di Mata Air Cigempol, Konon Bisa Bikin Awet Muda



Sumedang

Mata air Cigempol di Sumedang menyimpan mitos-mitos yang dipercayai oleh warga setempat. Konon, mata air ini bisa bikin awet muda lho!

Mata air yang terletak di Dusun Jemo, Desa Nagrak, Kecamatan Buah Dua, Kabupaten Sumedang ini menyimpan mitos yang membuat para wisatawan datang ke sana, bahkan saat malam hari.

Sekretaris Desa Nagrak, Hendra Juanda menceritakan, tidak sedikit warga sekitar hingga warga luar daerah, sering mendatangi mata air Cigempol hanya untuk mandi pada malam hari.


“Pada malam tertentu banyak yang mandi di lokasi ini, warga sekitar tidak pernah mengetahui kalau ada orang luar yang suka mandi di situ,” ujar Hendra saat berbincang belum lama ini.

Menurut Hendra, dari laporan yang ada, warga datang hanya sekadar mandi di mata air Cigempol rata-rata pada malam Jumat Kliwon.

Namun, ia memastikan bahwa yang melakukan hal tersebut bukan hanya warga sekitar saja, melainkan terdapat warga dari luar Desa Nagrak hingga luar Sumedang.

“Soalnya pasti mereka mandinya kayak tengah malam jadi tidak diketahui oleh warga sekitar. Mereka datangnya pasti setiap malam Jumat Kliwon,” katanya.

“Kadang emang pernah juga warga jauh datang terus datang bawa galon besar atau botol minuman buat ngambil air yang banyak,” sambungnya.

Terkait dengan mitos itu, Hendra sendiri pun ikut merasakannya. Ia mengaku terdapat perbedaan yang dirasakan jika mencuci wajah di rumah sendiri dengan di mata air Cigempol tersebut.

“Awet muda, efek udah mandi kayak lebih segar sama berbeda aja kalau mandi di rumah. Saya juga memang merasakan hal sama cuci muka di rumah atau cuci muka di sini beda aja,” pungkasnya.

Seperti diketahui, keberadaan mata air Cigempol, Buah Dua, Sumedang ini sudah ada sejak ratusan tahun. Terdapat beberapa manfaat seperti membantu warga saat wilayahnya dilanda musim kemarau hingga dapat membantu mengaliri air ke area persawahan warga.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Umbul Buto Klaten dan Kisah Asal-usulnya



Klaten

Di Klaten, ada pemandian mata air dengan nama Umbul Buto. Kisah tentang asal usul umbul ini menarik untuk disimak. Seperti apa?

Nama Buto dalam bahasa Jawa berarti Raksasa dalam seni pewayangan. Tidak seperti namanya yang berkonotasi seram, pemandian ini ternyata tempatnya adem.

Umbul Buto berada di sisi utara desa Kedungan, kecamatan Pedan, di tepi perkampungan padat penduduk Klaten. Di Utara mata air tersebut, terdapat persawahan padi dan tanaman palawija yang membentang.


Pantauan di lokasi, Umbul Buto yang mulai kusam airnya karena kemarau berada di tepi jalan desa. Mata air di umbul seukuran sekitar 8×8 meter dengan kedalaman sekitar lima meter itu dikelilingi dua pohon beringin besar dan tiga pohon gayam tua.

Dahannya yang besar dan daunnya yang rimbun membuat Umbul Buto tak mudah tersentuh sinar matahari. Di Utara dan timur dasar umbul yang mulai menyusut airnya terdapat saluran air mengarah ke sawah.

Di tengah air umbul yang mulai dipenuhi sampah daun, dua batu menyembul. Batu berbentuk patung topeng buto itulah yang konon menjadi asal julukan bagi Umbul Buto.

“Ada empat patungnya, yang buat tidak tahu dan sejak dulu sudah ada. Lha itu (menunjuk ke bawah) mulai kelihatan batunya,” ungkap Heri (50) pengelola warung di lokasi.

Menurut Heri, umbul itu dulunya dimanfaatkan untuk pengairan sawah oleh pemerintah Belanda. Disebut Umbul Buto karena ada patungnya.

“Ya karena ada patungnya itu namanya. Dulu sering digunakan nepi (menyendiri) tapi sekarang tidak lagi, tidak ada cerita aneh-aneh,” jelas Heri yang tinggal di lokasi.

Umbul Buto di Desa Kedungan, Kecamatan Pedan, Klaten.Umbul Buto di Desa Kedungan, Kecamatan Pedan, Klaten. Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Jarwo (75), warga lain menyatakan sejak dirinya kecil umbul juga sudah ada. Konon menurut cerita orang tua-tua ada pentas tayub tapi gongnya dimasukkan ke umbul itu untuk menutupi mata air yang terlalu deras.

“Ono ledek sak gamelane ditanggap, gong e dilebokne kene ben ora dadi segara (ada penari tayub bersama gamelan pentas, gamelan dimasukkan sini agar tidak jadi laut),” tutur Jarwo dengan bahasa Jawa campuran kepada detikJateng di lokasi.

Menurut Jarwo, zaman dulu umbul itu airnya banyak dan bening untuk mandi. Tetapi sekarang sudah tidak digunakan dan hanya digunakan untuk mencari angin masyarakat.

“Untuk ngadem warga. Tidak ada yang aneh-aneh setiap hari ramai untuk duduk-duduk,” jelasnya.

Kades Kedungan, Kecamatan Pedan, Bagus Wahyu Dewanto, menuturkan umbul Buto dulunya dimanfaatkan untuk pengairan Belanda. Disebut Umbul Buto karena ada patung kepala raksasa buto di dasarnya.

“Di bawah itu ada patung kepala buto, jumlahnya empat dan untuk apa fungsinya kita tidak tahu. Bukan ditemukan baru karena sejak dulu sudah ada, nanti kalau puncak kemarau kelihatan,” ucap Bagus Wahyu kepada detikJateng.

Umbul itu, terang Bagus Wahyu, konon berhubungan dengan dua umbul di utaranya yaitu Umbul Cilik dan Umbul Gede. Umbul cilik dimanfaatkan untuk Pamsimas.

“Umbul cilik dimanfaatkan untuk Pamsimas. Yang Umbul Buto dua tahun lalu kita beri pagar dan tulisan untuk ruang terbuka hijau karena ada pohon-pohon besarnya, terutama pohon gayam,” kata Bagus Wahyu.

——–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Mengering Malah Dikerubungi Banyak Orang, Sunsetnya Juara



Jakarta

Destinasi mata air satu ini memang sedang mengering. Namun, keadaannya itu malah membuat traveler menyemut mengunjunginya.

Danau Setu Patok yang berada di Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jabar, mengering. Dasar danau tampak terlihat. Bahkan, rerumputan tumbuh di dasar danau yang mengering itu.

Meski begitu, surutnya air danau menjadi magnet tersendiri bagi banyak orang untuk berwisata ke Setu Patok. Biasanya pengunjung menikmati danau Setu Patok dari pinggir, sekarang pengunjung dapat menikmati danau Setu Patok tepat di area tengahnya.


Sambil menunggu matahari terbenam, banyak pengunjung melakukan berbagai macam aktivitas rekreasi di tengah danau yang kering, seperti berfoto dengan latar belakang sunset bukit setu patok, duduk santai sambil menikmati minuman, atau bermain bola di tengah danau setu patok. Tak hanya pengujung, keringnya danau setu patok juga bisa dilewati oleh kendaraan roda dua.

Abdul Manaf salah seorang penduduk lokal yang juga berprofesi sebagai pedagang kopi keliling di danau Setu Patok mengatakan, air danau surut saat musim kemarau. Menurutnya, air hanya tersisa di bagian dekat pintu masuk bendungan.

Danau Setu Patok di Kabupaten CirebonSetu Patok Cirebon (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)

“Kalau sekarang memang nggak kering semua, soalnya sengaja di bagian pintu airnya ditutup, biar air danaunya masih ada sisa, jadi airnya nggak bisa mengalir ke sungai-sungai, sama biar danaunya nggak kering semua,” tutur Manaf, Sabtu (10/8/2024).

Manaf memaparkan kunjungan wisatawan meningkat saat air danau mengering. “Kalau kering kayak begini sih, memang banyak pengunjung yang datang untuk menikmati, nggak kayak pas airnya masih ada,” tutur Manaf.

Menurut Manaf, suasana di danau Setu Patok yang kering cocok untuk menghabiskan sore. “Enak suasananya, cocok untuk nongkrong atau ngopi mah, mantap lah,” tutur Manaf.

Senada dengan Manaf, pengunjung lain bernama Fawaz mengatakan kondisi danau Setu Patok yang sedang kering, memang nyaman dijadikan tempat untuk berwisata bersama keluarga.

“Kebetulan datang ke sini sudah dua kali, datang ke sini bareng keluarga, karena kalau kering begini tuh enak, bisa nongkrong duduk santai bareng keluarga,” tutur Fawaz.

Tidak ada tiket masuk di danau Setu Patok, pengunjung hanya cukup membayar parkir kendaraan sebesar Rp 2.000. Danau Setu Patok sendiri berlokasi di Desa Setu Patok, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon.

Baca artikel selengkapnya di detikJabar

(msl/msl)



Sumber : travel.detik.com