Tag Archives: mistis

Pesanggrahan Tamsis Kaliurang, Tempat WN Finlandia Ditemukan Konon Angker



Jogja

WN Finlandia, Erik Aleksander dilaporkan hilang saat berwisata di kawasan Kaliurang. Ia ditemukan di halaman pesanggrahan Taman Siswa yang konon angker.

Erik ditemukan dalam kondisi sehat, namun lemas karena seharian belum makan. Erik dilaporkan hilang tepat pada hari Natal, Senin (25/12/2023) sore. Dia baru ditemukan wisatawan lain pada keesokan harinya, Selasa (26/12) siang.

Pesanggrahan Taman Siswa Kaliurang tempat Erik ditemukan itu terletak di Hargobinangun, Pakem, Kabupaten Sleman. Bangunan bercat putih itu sudah ada sejak zaman pendudukan Belanda.


Berbeda dari pesanggrahan yang lain, rumah yang satu ini terkenal karena nuansa mistis dan angker yang melingkupi bangunan tersebut.

Dibangun Hampir Satu Abad yang Lalu

Dilansir dari laman Jogja Cagar, pesanggrahan tersebut dibangun sebelum tahun 1930. Bangunan ini juga dikenal dengan nama Pesanggrahan Sarjanawiyata, karena saat ini dimiliki oleh Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST).

Pesanggrahan itu juga kerap disebut Rumah Putih Grezenberg karena lokasinya yang berdekatan dengan gunung Merapi. Disebutkan pula rumah dua lantai ini pernah rusak akibat letusan Merapi pada tahun 1994.

Sebelum tidak terurus seperti sekarang, rumah bergaya arsitektur Eropa ini dulunya digunakan sebagai tempat berkumpulnya para penyebar agama Katolik Belanda.

Pada tahun 1953, bangunan tersebut sempat dimiliki oleh salah satu guru besar UGM, yakni Prof. drg. Soedomo, yang merupakan pendiri Fakultas Kedokteran Gigi UGM. Sebelum akhirnya rumahnya beralih kepemilikan kembali menjadi milik UST.

Nuansa Horor di Pesanggrahan Taman Siswa

Akibat terbengkalai, Pesanggrahan ini ditumbuhi oleh berbagai tanaman jalar yang merambat di dinding-dinding rumah sehingga memberikan kesan horor. Terlebih lagi, bangunannya sudah tak digunakan karena konstruksinya yang tidak layak huni.

Meskipun tampak mencekam, banyak wisatawan masih kerap mengunjungi Pesanggrahan Taman Siswa itu. Mulai dari sekadar melihat-lihat bagian luar dan bagian dalam bangunan, melakukan sesi foto, hingga uji nyali.

Banyak pengunjung yang mengaku melihat penampakan makhluk halus di bangunan tersebut, bahkan di siang hari. Terlepas dari benar tidaknya pengakuan itu, Pesanggrahan Taman Siswa masih terlihat megah dan kokoh berdiri, bahkan dengan kondisinya yang terbengkalai dan berkesan angker.

—–

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Tengger Ciut, Lahan yang Terlarang di Cirebon



Cirebon

Selain warganya pantang jualan nasi, desa Slangit di Cirebon masih menyimpan sebuah mitos lain. Ada lahan yang terlarang untuk dimanfaatkan warga. Kenapa?

Di desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon ada banyak mitos yang dipercayai oleh warga setempat. Larangan untuk berjualan nasi bagi warganya adalah salah satunya.

Di desa Slangit, ada satu mitos lagi yang dipercaya oleh masyarakat setempat, yaitu sebuah lahan yang konon tidak boleh digunakan atau dimanfaatkan oleh siapapun.


Warga desa setempat mengenal lahan ‘terlarang’ itu dengan nama Tengger Ciut. Lokasinya berada di antara area persawahan yang ada di Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon.

Hingga kini, lahan tersebut tidak ada yang memanfaatkan dan hanya dibiarkan begitu saja. Kondisinya hanya dipenuhi oleh rumput maupun tanaman liar.

Adi Sucipto (55), salah seorang warga setempat mengatakan, tengger ciut merupakan sebuah lahan milik pemerintah desa setempat. Lahan tersebut memiliki luas sekitar 2,4 Hektare.

“Tanahnya (lahan tengger ciut statusnya) punya desa. Luasnya kurang lebih 2,4 Hektare,” kata Adi di Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, belum lama ini.

Sepintas, tidak ada yang aneh dari lahan tersebut. Namun, tidak ada padi ataupun sayuran yang ditanam di lahan tersebut. Padahal, di sekitarnya banyak lahan pertanian yang dimanfaatkan untuk menanam padi maupun sayuran-sayuran.

Adi yang pernah menjabat sebagai perangkat Desa Slangit itu mengatakan, lahan tersebut sebenarnya sempat beberapa kali digunakan untuk berbagai keperluan. Seperti digunakan untuk membangun rumah, dipakai sebagai lapangan olahraga, hingga dimanfaatkan untuk mendirikan kandang ternak milik warga.

Namun, penggunaan lahan tersebut selalu tidak berlangsung lama. Berbagai keanehan selalu muncul ketika lahan tersebut mulai digunakan atau dimanfaatkan oleh masyarakat.

Tengger Ciut di Desa Slangit Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.Tengger Ciut di Desa Slangit Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Foto: Ony Syahroni/detikJabar

Seperti contohnya ketika lahan tersebut digunakan untuk membangun rumah. Saat menempati rumah yang dibangun di atas lahan tersebut, para penghuninya pun selalu mengalami kejadian-kejadian aneh.

“Sekitar tahun 1970-an di lahan itu pernah dibangun rumah khusus untuk orang tidak mampu. Tapi apa yang terjadi. Selama menempati rumah itu banyak gangguan-gangguan gaib. Akhirnya mereka ngga kuat,” kata Adi.

Pernah Jadi Lapangan Bola, Banyak yang Cedera

Selain itu, berbagai kejadian juga kerap muncul ketika lahan tersebut dimanfaatkan untuk dijadikan sebagai lapangan sepak bola. Selama digunakan, tidak jarang ada pemain yang mengalami cedera maupun luka.

“Lahan itu pernah dicoba juga digunakan untuk lapangan sepak bola. Dan sama, banyak kejadian juga. Sering ada yang keseleo dan patah tulang. Akhirnya tidak digunakan lagi,” kata Adi.

Pernah Juga untuk Kandang Kerbau

Selanjutnya beragam peristiwa di luar nalar pun sering terjadi ketika lahan yang dikenal dengan nama Tengger Ciut itu digunakan untuk mendirikan kandang peternakan kerbau milik warga.

“Di Desa Slangit itu dulu ada peternak kerbau. Kalau jaman dulu kan sebelum ada traktor, membajak sawah itu masih pakai kerbau. Jadi dulu di Desa Slangit itu banyak peternak kerbau. Dan waktu itu oleh desa difasilitasi (lahan),” kata dia.

“Jadi (pemerintah) desa mempersilakan para peternak kerbau (menggunakan lahan). Gratis. Di lahan itu juga, namanya Tengger Ciut,” ucap Adi menambahkan.

Setelah digunakan untuk mendirikan kandang peternakan kerbau, berbagai kejadian aneh pun sering terjadi. Para peternak kerap mendapati kerbau milik mereka yang keguguran.

“Kalau bahasa sini sih kerbaunya itu runtuh. Kalau bahasa Indonesianya itu kerbaunya keguruan. Pokoknya banyak kejadian-kejadian tidak normal,” kata dia.

Akibat banyaknya kejadian-kejadian aneh yang tidak bisa dijelaskan dengan logika di Tengger Ciut, hingga kini tidak ada yang memanfaatkan lahan tersebut. Saat ini, lahan itu hanya dibiarkan begitu saja.

Kondisinya pun terlihat banyak ditumbuhi oleh rumput maupun berbagai tanaman liar lainnya. Warga desa hanya menggunakan lahan tersebut sebagai tempat menggembala hewan ternak maupun mengambil rumput.

“Sekarang (Tengger Ciut) paling dimanfaatkan buat gembala (hewan ternak) atau buat ngambil rumput aja. Kalau itu nggak apa-apa,” kata Adi.

—–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

7 Gunung Paling Angker di Jawa Timur yang Terkenal dengan Cerita Mistisnya


Jakarta

Ada banyak gunung yang berdiri kokoh di Jawa Timur. Beberapa di antaranya menjadi gunung favorit bagi para pendaki. Di sisi lain, sejumlah gunung itu dikenal angker dengan berbagai kisah mistis yang disimpannya.

Cerita-cerita mistis sebagian dialami oleh orang yang mendaki gunung tersebut. Ada juga mitos dan legenda yang beredar serta diyakini masyarakat sekitar gunung-gunung itu.

Lantas, ada gunung apa saja yang terkenal angker di Jawa Timur?


7 Gunung Paling Angker di Jawa Timur

Berikut sejumlah gunung di Jawa Timur yang terkenal dengan cerita mistisnya.

Gunung Arjuno pascaterbakar yang pendakiannya masih ditutup hingga pergantian tahun.Foto: Muhajir Arifin/detikJatim)

1. Gunung Arjuno

Gunung Arjuno merupakan gunung tertinggi kedua di Jawa Timur. Puncaknya yang disebut Puncak Ogal Agil berada di ketinggian 3.399 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Secara administratif, Gunung Arjuno terletak di perbatasan Kota Batu, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Pasuruan. Gunung ini menjadi langganan pendakian dengan tiga jalurnya, yakni Lawang, Tretes, dan Batu.

Sepanjang jalur pendakian, kamu akan menemukan berbagai peninggalan Kerajaan Majapahit dan Singasari. Dari mitos yang beredar, petilasan tersebut dijaga penunggunya yang dikenal dengan Bambang Wisanggeni.

Petilasan itu juga jadi spot orang-orang yang bertapa. Konon, mereka yang melakukan tapa di sana bisa menghilang.

Tak jarang, para pendaki di Gunung Arjuno pernah mengalami hal mistis. Menurut salah satu cerita, saat terdengar alunan gamelan dan suara ramai-ramai berarti tandanya kamu memasuki Pasar Setan.

Dikenal juga kawasan Alas Lali Jiwo di gunung ini. Kabarnya, lokasi tersebut merupakan sarang makhluk halus dan jin. Pendaki yang memiliki niat jahat bisa di tersesat jika berada di sana.

Kawah Gunung KeludFoto: Fariz Ilham Rosyidi/d’traveler

2. Gunung Kelud

Gunung Kelud termasuk gunung api aktif yang ada di Jawa Timur. Lokasi tepatnya masuk ke Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang.

Menurut mitos, jika ada orang yang melihat manusia berkepala kerbau maka jadi tanda bahwa gunung ini akan meletus. Konon, makhluk tersebut adalah Lembusura.

Berdasarkan legenda juga, keris milik Mpu Gandring dikubur di dalam Gunung Kelud. Keris itu diyakini mempunyai kekuatan magis yang mampu mempengaruhi orang untuk berbuat kejahatan.

3. Gunung Kawi

Gunung Kawi berada di Kabupaten Malang dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Blitar. Gunung ini terkenal sebagai tempat untuk mencari pesugihan.

Misteri Gunung Kawi dikaitkan dengan makam yang disakralkan di sana. Kabarnya, itu adalah tempat peristirahatan terakhir bagi tokoh yang mempunyai kekuatan magis.

Di sekitar makam tumbuh pohon dewandaru yang diyakini keramat. Berdasarkan catatan detikJatim, apabila orang yang bertapa di bawah pohon itu kejatuhan buah, daun atau benda lain lalu dibawa pula maka ia akan menjadi kaya raya. Karena itu, lokasi pohon ini berada kerap menjadi tempat ritual pesugihan.

Sejumlah aktivits pengunjung wisata saat liburan Nataru di Gunung Bromo, Selasa (26/12/2023).Foto: M Rofiq

4. Gunung Bromo

Gunung Bromo juga termasuk gunung berapi aktif di wilayah timur Pulau Jawa itu. Gunung ini secara administratif terletak di empat kabupaten; Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang.

Konon, ada pasir hisap yang mampu menenggelamkan siapapun dan apapun ke dalamnya di sekitar gunung ini. Lokasi pasir hisap ini kabarnya hanya diketahui oleh para sesepuh suku Tengger.

Selain itu, keberadaan kerajaan gaib yang dipercaya sebagai kediaman dewa-dewa ajaran Hindu diyakini ada di Gunung Bromo ini.

5. Gunung Raung

Gunung Raung adalah gunung tertinggi ketiga di Jawa Timur. Dengan ketinggian 3.344 mdpl, gunung ini memiliki empat puncak: Puncak Bendera, Puncak 17, Puncak Tusuk Gigi, dan Puncak Sejati.

Saat mendaki Gunung Raung, kamu akan menemukan banyak pos peristirahatan untuk bermalam sejenak. Kisah mistis menyelimuti sebagian pondokan tersebut.

Menurut arsip detikJatim, di pondok Demit akan terdengar suara kerumunan orang bak di pasar. Suara itu bisa terdengar pada malam-malam tertentu.

Selain itu, ada juga pos yang dinamakan pondok Mayit. Di sana kabarnya pernah ditemukan mayat yang tinggal kerangka dan tidak bisa dikenali. Mayat itu kemudian di kubur di sekitar pos tersebut.

Mitos lainnya tentang Gunung Raung yakni kerajaan macan putih yang dipimpin oleh Pangeran Tawangulun. Menurut pengakuan pendaki, ada yang pernah melihat kerajaan itu di malam Jumat kliwon.

Pengunjung melihat kawah dari kaldera Gunung Ijen di Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (4/5/2023). TWA Ijen yang telah ditetapkan sebagai anggota UNESCO Global Geopark (UGG) itu ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara saat liburan. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/tom.Foto: ANTARA FOTO/Budi Candra Setya

6. Gunung Ijen

Gunung Ijen tergolong pula gunung berapi aktif. Lokasinya ada di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso.

Gunung ini dikenal angker dengan adanya black spot di jalur menuju TWA Kawah Ijen Banyuwangi. Kawasan black spot itu rawan kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa.

Suara gamelan juga konon sering terdengar di salah satu black spot bernama Sengkan Saleh atau Sengkan Gandrung. Menurut legenda yang beredar dikutip dari catatan detikcom, dulunya pernah terjadi kecelakan rombongan gandrung di tanjakan Sengkan Gandrung tersebut

7. Gunung Wilis

Gunung Wilis berada di enam perbatasan kabupaten di Jawa Timur, yakni Tulungagung, Nganjuk, Trenggalek, Ponorogo, Madiun, dan Kediri. Ketinggian gunung ini mencapai 2.563 mdpl.

Mitos yang beredar mengenai Gunung Wilis berkaitan dengan keberadaan ular raksasa tak kasat mata, sosok putri Kerajaan Mataram yang memakai pakaian khas, serta lelaki berwajah hitam menyerupai monyet.

Bukan hanya itu, di gunung ini dipercaya terdapat goa gaib yang terletak di bawah puncak gunung bagian barat.

Nah, itu dia sederet gunung paling angker di Jawa Timur yang terkenal dengan berbagai cerita mistisnya. Kalau kamu, berani nggak mendaki ke gunung-gunung di atas?

(azn/fds)



Sumber : travel.detik.com

Ternyata Bekas Kuil yang Dirobohkan



Medan

Draco Waterpark sudah lama terbengkalai. Dulu, wahana air di Medan ini pernah populer pada tahun 2013. Namun sekarang, berubah jadi terbengkalai dan angker.

Wahana Draco Waterpark ini berlokasi di Jalan Mongonsidi, Kecamatan Medan Polonia, Medan. Berdasarkan pantauan di lokasi, hanya tersisa semak belukar di balik gedung eks Hermes Plaza. Tidak ada puing-puing sisa bangunan waterpark tersebut.

Desas-desus cerita mistis eks Draco Waterpark ramai beredar di masyarakat. Konon, waterpark ini sempat memakan korban seorang pegawai yang meninggal akibat kecelakaan kerja di sana.


“Udah tutup lah sekitar lima tahunan lebih lagi. Dulu itu ada yang meninggal pegawai di situ gara-gara mau menyelamatkan kalung pengunjung, dia yang merasa bertanggung jawab namun dia tersedot mesin pembuat gelombang. Dari situ mulai berkurang pengunjung di situ,” ungkap warga setempat Amel, Kamis (18/7/2024).

Warga setempat menilai waterpark tersebut menjadi angker lantaran dahulu ada kuil umat Hindu yang dirobohkan di sekitar bangunan Hermes Plaza.

“Dulu ada kuil yang dirobohkan dekat parkiran belakang Hermes, katanya ada juga yang bilang gara-gara dirobohkan itu jadi angker wahananya itu,” ujarnya.

Beberapa warga menyebut pernah mendengar pengalaman mistis seperti mendengar suara-suara aneh dan juga penampakan misterius.

“Ada yang pernah dengar suara aneh samar-samar terus ada yang pernah lihat bayangan yang buat takut pengunjung,” kata Amel.

Kenangan Indah Warga Medan di Draco Waterpark

Namun begitu, banyak warga Medan yang memiliki kenangan indah saat berkunjung ke Draco Waterpark.

“Dulu pernah masuk waktu tahun 2012-an, seru sekali ajak anak-anak main wahana tapi ya harga lumayan ya Rp 100 ribuan per orang. Jadi paling cuma sekali dua kali lah ke sana,” kata warga Medan, Indah mengenang momen tersebut.

Sementara itu, sejarawan Azis Rizky Lubis mengakui bahwa benar adanya kuil yang dirobohkan dalam pembangunan Draco Waterpark ini. Tak hanya itu, tragedi meninggalnya pegawai di Draco Waterpark ini turut membuat masyarakat enggan untuk berkunjung ke wahana tersebut.

“Robohnya kuil itu kemungkinan penyuaraan masyarakat hindu tidak terlalu ditanggapi serius padahal begitu banyak masyarakat etnis Hindu yang bermukim di situ. Kalau ada kaitannya mistis dengan kuil yang dirobohkan juga beredar di masyarakat. Apalagi dengan adanya kasus meninggal pegawai di sana membuat penurunan pengunjung,” kata Azis.

Tak hanya waterpark, Azis menyebut banyak kasus-kasus mistis yang terjadi di Hermes Plaza.

“Suasana mencekam ini tak hanya di wahana airnya saja tapi misalnya dari arena permainan di malnya yang sempat mencekam, jadi ya terdengar angker dari tanggapan masyarakat begitu,” pungkasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Cerita Mistis yang Menyelimuti Gedung Negara Cirebon



Cirebon

Di Cirebon ada satu bangunan bersejarah peninggalan era Hindia Belanda. Namanya Gedung Negara. Konon, cerita mistis menyelimuti gedung ini. Seperti apa?

Gedung Negara terletak di Kesenden, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Bangunan yang didominasi warna putih ini telah berdiri selama ratusan tahun dan menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kota Cirebon.

Menurut pegiat sejarah Cirebon, Putra Lingga Pamungkas, Gedung Negara dibangun sekitar tahun 1860-an. Dahulu, gedung ini digunakan sebagai rumah dinas dan kantor keresidenan Cirebon.


Lingga menjelaskan keresidenan merupakan bentuk pemerintahan pada masa Hindia Belanda yang setingkat dengan provinsi. Keresidenan Cirebon mencakup wilayah Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kuningan, Majalengka, Ciamis, dan Indramayu.

“Residen itu setingkat provinsi, gemeente setingkat kotapraja, bupati di kabupaten, district setingkat kecamatan, kewedanan setingkat desa, serta Gubernur Jendral yang menjadi setingkat presiden sebagai perwakilan atau penyambung lidah dari ratu Belanda,” tutur Lingga, belum lama ini.

Pembangunan Gedung Negara tidak terlepas dari hancurnya benteng Fort De Beschermingh, sebuah benteng yang dibangun oleh VOC pada sekitar tahun 1680 di Kebumen, dekat pesisir Cirebon. Saat masih berfungsi, benteng ini juga digunakan sebagai kantor oleh keresidenan Cirebon.

Namun, sekitar tahun 1840-an, terjadi ledakan bubuk mesiu di dalam benteng yang disebabkan oleh kelalaian seorang pegawai, yang mengakibatkan benteng tersebut hancur total.

Setelah Indonesia merdeka, Gedung Negara beberapa kali mengalami pergantian kepemilikan. Berdasarkan catatan, gedung ini pernah dikelola oleh pemerintah provinsi hingga Badan Koordinasi Daerah.

Gedung Negara CirebonGedung Negara Cirebon Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar

Hingga kini, status kepemilikan Gedung Negara masih berada di tangan pemerintah. Pengunjung pun tidak diperbolehkan masuk ke dalam Gedung Negara.

Namun terdapat taman di samping gedung yang memiliki kandang rusa dan burung merak. Pengunjung bisa menghabiskan waktu dengan melihat dan memberi makan rusa, menjadikan tempat ini tujuan alternatif untuk berlibur di Cirebon.

Cerita Mistis Menyelimuti Gedung Negara

Sebagai bangunan tua, Gedung Negara memiliki beberapa cerita mistis. Salah satunya paparkan oleh penjaga Gedung Negara, Mulyono. Ia mengatakan memang ada beberapa orang yang pernah mengalami kejadian mistis di Gedung Negara.

“Memang ada saja beberapa tamu yang menginap di sini, terus pada minta pindah. Katanya, ada yang gangguin, kayak mendengar suara-suara seperti anak kecil, atau suara perempuan noni Belanda,” tutur Mulyono.

Meski sering mendengar cerita mistis, Mulyono mengaku tidak terlalu memedulikannya.

“Kalau bagi saya yang sudah lama bekerja di sini, hal seperti itu biasa saja,” katanya santai.

Gedung Negara memiliki beberapa ruangan, termasuk aula yang dipenuhi perabotan antik berusia ratusan tahun.

“Untuk kamarnya ada sekitar lima kamar, ada juga ruang tamu, ruang rapat, ruang tengah sama ruang keluarga,” pungkas Mulyono.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Jembatan Cincin Jatinangor yang Konon Horor



Sumedang

Ada sebuah jembatan ikonik di daerah Jatinangor. Jembatan Cincin, begitu warga setempat mengenalnya. Konon, jembatan ini horor. Apa iya?

Selepas menunaikan salat Zuhur, seorang pria tua berjalan menuju ke gapura di jalan menuju Jembatan Cincin di Desa Cikuda, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

Mengenakan peci hitam, kaus cokelat dan celana pendek, pria itu langsung duduk di bawah gapura yang di bawahnya memiliki teras untuk bersantai.


Pria itu bernama Aba Adi Brata. Sesampainya di gapura itu, Aba yang kini usaianya sudah 75 tahun langsung duduk untuk bersantai sejenak di teras tersebut. Menurut Aba, teras itu menjadi tempat nyaman baginya kala dia keluar rumah.

“Bukan kereta api (angkutan masyarakat umum), tapi lori, kereta angkutan yang digunakan untuk ke perkebunan,” kata Aba sambil menunjuk ke arah Jembatan Cincin.

Jembatan yang dibangun pada 1917-1918 memiliki pesona tersendiri dan pemandangannya yang sangat indah. Namun cerita-cerita horor kerap menghantui jembatan itu.

Aba pun menjelaskan pengalaman mistis yang diceritakan terkait jembatan Cincin. Rata-rata, pengalaman itu karena terbawa perasaan takut dan salah penglihatan.

“Seperti gini, waktu itu bapak (Aba) pas pulang nonton bioskop malam-malam di tempat yang gelap. Bapak lihat seperti berwujud orang yang sedang melambai. Bapak saat itu lari terbirit-birit, eh besoknya pas dilihat ternyata pohon pisang,” ujar Aba.

Menurut Aba, jembatan Cincin dianggap berbau mistis dan horor karena dulu oleh sebagian orang dijadikan tempat untuk meminta nomor togel. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa di jembatan tersebut bisa mendatangkan keberuntungan dari makhluk gaib.

“Itu kenapa angker karena awalnya sudah dianggap begitu, padahal itu sulit dibuktikan. Jika suatu tempat dianggap angker, makhluk selain manusia akan senang menggoda kita. Harusnya kita cukup sama Allah saja tempat meminta dan tempat menaruh rasa takut, bukan sama hal begituan (makhluk gaib),” tutur Aba.

Tak Ada Horor di Jembatan Cincin

Aba pun membantah isu yang menyebut jembatan itu mengandung nuansa mistis. Tak pernah ada kejadian apapun yang berkaitan dengan hal mistis atau horor selama dia tinggal di dekat jembatan Cincin.

“Enggak, enggak angker. Bapak orang sini asli. Pernah mahasiswa sini saya tegur, jangan macam-macam sebar isu itu. Banyak juga mahasiswa yang melintas ke sini malam-malam, tidak ada apa-apa,” tuturnya.

Jembatan Cincin di Sumedang.Jembatan Cincin Foto: Wisma Putra/detikJabar

Aba juga menyebut, jika ada yang menyebut kawasan tersebut angker itu hanya isu burung yang tidak dapat dibuktikan keasliannya.

“Itu hanya isu, dikarenakan gini di sini banyak kosan paling dekat dan lainnya iri, yang dekat penuh yang lain tidak, biasa nakut-nakutin,” tambahnya.

Dindin (54), salah satu pengendara yang melintas di jalan itu mengatakan, dia sering pulang-pergi lewat jembatan itu di malam hari. Menurut Dindin, baik-baik saja.

“Enggak pernah tuh ada hantu (horor) atau apa, aman-aman saja,” ujarnya.

Dindin mengakui jika keberadaan jembatan itu sangat membantu aktivitas warga.

“Kalau enggak ada jembatan ini, yang mau sekolah harus muter, begitu juga petani. Berguna sekali, khususnya bagi anak sekolah,” tambahnya.

Sejarah Jembatan Cincin

Jembatan Cincin dulu dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS) atau Perusahaan Kereta Api Negara pada tahun 1917/1918. Rencananya, jembatan itu untuk jalur kereta api yang menghubungkan Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari-Citali.

“Dulu namanya SS (Staatsspoorwegen), bukan PT KAI, bukan PJKA, tapi SS (yang membangun jembatan). Bukan jalur kereta api umum, tapi digunakan lori untuk mengangkut hasil pertanian, itu juga kata kakek bapak yang bekerja di SS,” jelas Aba.

Menurut Aba, sebelum kawasan tersebut dipenuhi pemukiman, kereta lori berlalu lalang di jembatan itu untuk mengangkut hasil-hasil perkebunan dari mulai kawasan Jatinangor hingga Tanjungsari. Hail panen itu nantinya diangkut ke kota oleh Belanda.

“Bukan jalur kereta api tapi jalur lori, seperti angkutan tebu atau barang. Anak-anak sekarang tidak tahu riwayatnya, bukan kereta api, bapak tanyakan langsung ke kakek bapak dulu,” ujarnya.

Menurut Aba, dulunya perkebunan di kawasan Jatinangor ditanami tanaman haramai yang biasa dihinggapi ulat sutera dan hasilnya di bawa ke luar negeri dijadikan kain sutra. Setelah itu, diganti tanaman teh dan diganti kembali dengan pohon karet.

“Teh itu diganti lagi, dikarenakan Jatinangor daerah panas tidak seperti Ciwidey dan Lembang. Hujan bagus, kemarau kering dan diganti lagi jadi kebun karet,” tuturnya.

Saat ini, jembatan tersebut digunakan warga sebagai jalan penghubung antar kampung. Jalan itu biasa digunakan petani, pelajar, hingga masyarakat umum.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Gua Ngerong Nan Mistis di Tuban, Ada Ikan yang Tak Boleh Dibawa Pulang



Tuban

Tuban punya destinasi gua Ngerong yang menyimpan mitos. Konon, ikan-ikan yang ada di sana tak boleh dibawa pulang kalau tidak mau celaka.

Gua Ngerong adalah salah satu destinasi wisata alam yang berada di Jalan Raya Rengel, Tuban, Jawa Timur. Destinasi ini tidak pernah sepi pengunjung.

Lokasi gua ini menawarkan pemandangan alam yang indah namun menyimpan cerita mistis. Cerita mistis itu berpusat pada ikan-ikan yang hidup di sungai di sekitar gua Ngerong.


Goa Ngerong TubanIkan-ikan di ga Ngerong Tuban Foto: Ainur Rofiq/detikJatim

Menurut pedagang setempat, Mbak Mah, ikan-ikan di sungai ini tidak pernah dibawa pulang oleh pengunjung, karena takut kena celaka.

“Orang-orang percaya ada cerita mistis di balik keberadaan ikan-ikan ini,” tuturnya.

Selain daya tarik itu, pengunjung juga bisa menikmati pemandangan alami gua Ngerong. Untuk menikmati panorama tersebut, pengunjung harus membayar tiket seharga Rp 5.000 untuk anak-anak dan Rp 7.000 untuk orang dewasa.

Di dalam lokasi, pengunjung dapat menikmati bermain air sungai yang jernih dengan ribuan ikan dan kelelawar yang bergelantungan di dinding gua.

“Kami bisa memberi makan ikan dengan roti atau biji kapas. Mereka berebut makanan,” kata Sari, pengunjung dari Bojonegoro, Minggu (10/1).

Pengunjung dapat berenang atau mandi dengan pelampung karet yang disewakan oleh pengelola dan warga sekitar. Lapak-lapak pedagang makanan dan biji kapas juga tersedia di lokasi.

——–

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Misteri Alas Purwo, Hutan Tertua di Pulau Jawa



Banyuwangi

Alas Purwo tidak hanya dikenal karena keindahannya, tetapi juga berbagai mitos yang menyelimutinya. Mari sibak misteri hutan tertua di pulau Jawa ini.

Alas Purwo merupakan hutan lebat di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Hutan ini diyakini banyak menyimpan misteri gaib.

Oleh masyarakat setempat, hutan ini diyakini sebagai yang tertua di pulau Jawa, dan sering disebut sebagai gerbang menuju dunia gaib. Banyak cerita mistis yang menjadikannya salah satu tempat paling disegani di Nusantara.


Dilansir dari jurnal Universitas Islam Sunan Kalijaga berjudul Mitos Kerajaan Jin di Alas Purwo Banyuwangi Indonesia dalam Perspektif Teori Sakral dan Profan Emile Durkheim, yang ditulis Isnawi dan Indah Yulianti, Alas Purwo disebut memiliki aura mistis yang kuat.

Beberapa orang percaya Alas Purwo adalah tempat tinggal makhluk gaib, seperti genderuwo, jin, hingga setan. Ahli spiritual Banyuwangi Ki Joko Gondrong, menguatkan mitos ini dan menyarankan wisatawan untuk selalu waspada saat berkunjung ke hutan tersebut.

Alas Purwo disebut sebagai lokasi pertama yang dihuni manusia, tepatnya di Situs Kawitan. Tak hanya itu, di Alas Purwo terdapat gua Istana yang menjadi destinasi menarik dan wajib dikunjungi wisatawan.

Menurut cerita rakyat setempat, Gua Istana menjadi destinasi terkenal yang dipercaya sebagai tempat Ir Soekarno pernah bertemu Nyi Roro Kidul.

Tak jauh dari gua tersebut, terdapat pura yang sering digunakan untuk semedi. Pura ini sering dikunjungi untuk meditasi atau laku ritual spiritual.

Tempat ini dipercaya bisa memberikan energi-energi ketenangan batin. Kepercayaan akan nuansa mistis ini membuat masyarakat lokal mengingatkan pengunjung untuk berhati-hati. Sebab, melanggar aturan di hutan ini sering dikaitkan dengan kejadian mistis yang mengundang malapetaka.

Salah satu mitos yang berkembang di kalangan masyarakat adalah suara panggilan misterius di Alas Purwo. Jika mendengar suara memanggil, jangan langsung menengok ke belakang. Konon, menengok bisa membawa malapetaka atau membuat seseorang hilang secara gaib.

Hingga saat ini, masyarakat setempat masih percaya dengan mitos-mitos di Alas Purwo, meski tak sedikit juga yang bersikap sebaliknya.

Cara Menuju ke Alas Purwo

Untuk menuju ke Alas Purwo, traveler bisa memilih rute misalnya dari Kota Banyuwangi menuju Kecamatan Rogojampi, kemudian ke Kecamatan Srono, Kecamatan Muncar, dan Kecamatan Tegaldlimo.

Dari Kecamatan Tegaldlimo, perjalanan dilanjutkan sekitar 10 km melewati jalan berbatu, hingga tiba di Pos Rowobendo, gerbang utama Taman Nasional Alas Purwo.

Untuk mencapai Alas Purwo, wisatawan disarankan menggunakan kendaraan pribadi karena belum tersedia transportasi umum menuju lokasi ini.

Dengan segala keindahan dan cerita di baliknya, Alas Purwo menjadi destinasi wisata sekaligus misteri yang memikat. Bagi yang penasaran, berhati-hatilah saat menjelajah, karena di balik keindahannya tersimpan banyak misteri yang belum terungkap.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Setiap Jumat Pahing, Gua Ini Dipenuhi Mereka yang Mau Ngalap Berkah



Tuban

Di Tuban, Jawa Timur ada satu gua yang dipenuhi pengunjung setiap Jumat Pahing. Mereka datang untuk ngalap berkah di gua itu. Bagaimana kisahnya?

Wisata gua Ngerong yang berada di desa Rengel, kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur selalu ramai dikunjungi warga, terutama pada hari Jumat Pahing dalam penanggalan Jawa.

Menurut juru kunci, Mbah Mustamin (60), banyaknya pengunjung yang datang pada hari tersebut, dengan tujuan untuk ngalap berkah. meskipun tak sedikit pula datang ke gua ini murni hanya untuk berwisata.


“Kalau Jumat Pahing mulai pagi jam 6 itu susah antri di dekat kolam gua Lowo situ, sambil bawa bunga setaman,” tutur Mustamin, Minggu (26/1).

Pengunjung yang datangke gua itu memiliki berbagai tujuan, seperti mencari kesembuhan dari penyakit, bersyukur atas kesembuhan, atau memiliki hajat lainnya.

Mereka akan turun ke kolam di gua itu untuk melakukan ritual membasuh muka tiga kali dan menyampaikan harapan di petilasan pertapaan Eyang Jala Ijo.

“Yang datang itu mulai orang sakit, sembuh dari sakit, atau hajat lainnya ya… ke sini turun ke kolam raup ping tigo (basuh muka tiga kali). Lalu hajatnya apa saya sampaikan ke dalam gua Mbah Jala Ijo,” tutur Mustamin.

Banyak warga yang percaya bahwa doa mereka terkabul setelah berkunjung ke gua Ngerong. Hal ini membuat mereka kembali lagi untuk mengucapkan syukur dan ngalap berkah.

Sebagai juru kunci yang bertugas secara turun-temurun, Mbah Mustamin juga menceritakan asal-usul gua Ngerong yang penuh cerita mistis.

Asal Usul Gua Ngerong

Kisahnya bermula dari seorang perempuan bernama Dewi Laras yang sedang hamil dan membutuhkan air untuk melahirkan. Ki Jala Ijo dan Ki Kumbang Jaya Kusuma yang sedang bertapa di depan gua, berusaha menolong Dewi Laras yang kesulitan mendapatkan air.

Mereka pun menancapkan tongkat di dalam gua, hingga akhirnya keluar air deras disertai kemunculan hewan seperti ikan, kura-kura, dan kelelawar. Hewan-hewan ini kemudian dipercaya masyarakat sebagai hewan keramat.

“Dewi Laras akhirnya menemukan sumber air inilah yang disebut-sebut sebagai awal mula wilayah gua Ngerong. Ngerong itu bermula dari bahasa Jawa ‘Klenger Ngorong akhire dadi Ngerong,” jelas Mbah Mustamin.

Kepercayaan masyarakat terhadap kisah ini begitu kuat, bahkan ada pantangan untuk membawa pulang hewan dari dalam gua.

“Sudah banyak buktinya, siapa yang ambil ikan akan mati. Sehingga tak ada yang berani bawa pulang,” pungkas si juru kunci.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Pondok Mayit-Pondok Demit, 2 Pos Gunung Raung yang Paling Mistis



Banyuwangi

Mendaki gunung Raung, para pendaki akan melewati pos Pondok Mayit dan Pondok Demit yang nuansanya mistis. Bagaimana kisahnya?

Gunung Raung tak hanya dikenal karena kaldera raksasanya dan medan pendakian ekstrem yang menantang. Di balik megahnya salah satu gunung tertinggi di Jawa Timur ini, tersimpan dua spot yang paling banyak dibicarakan para pendaki, yaitu Pondok Mayit dan Pondok Demit.

Keduanya bukan sekadar tempat istirahat, tapi dipercaya menyimpan kisah gaib yang membuat jalur pendakian Gunung Raung semakin mencekam. Dari penampakan mayat misterius tergantung di pohon, hingga suara pasar gaib yang muncul tiba-tiba di tengah hutan.


Cerita tentang dua pos bernama seram ini akan terus hidup di kalangan pendaki dan masyarakat lokal. Tak sedikit pendaki yang mengaku mengalami kejadian di luar nalar saat melewati dua pos pendakian tersebut.

Asal Usul Nama Pos Pondok Mayit

Nama Pondok Mayit seolah sudah menjelaskan aura yang menyelimutinya. Tak sedikit pendaki yang merasa tidak nyaman saat melintasi kawasan ini, bahkan ketika matahari masih tinggi.

Pondok Mayit memang dikenal sebagai lokasi yang menyeramkan karena pernah ditemukan jasad misterius yang tergantung di pohon di area ini.

Beberapa cerita menyebut mayat tersebut adalah bangsawan Belanda yang dihukum gantung oleh para pejuang lokal pada masa penjajahan. Kejadian tersebut masih menjadi bagian dari catatan sejarah tak resmi yang dipercayai masyarakat sekitar Gunung Raung.

Dari nama Pondok Mayit saja itu sudah cukup untuk menghadirkan suasana mencekam. Sebutan itu seolah menyiratkan tempat yang identik dengan kematian, membuat siapa pun yang mendengarnya langsung merasakan hawa dingin merambat ke tubuh.

Dilansir dari pemberitaan detikcom, banyak pendaki menggambarkan bagaimana rasa merinding kerap datang, bahkan sebelum tiba di lokasi tersebut. Di sekitar kawasan ini, cerita-cerita mistis tak lagi sekadar bisikan.

Pernah terjadi kejadian di mana salah satu pendaki mendadak berteriak di tengah malam, seakan kesurupan. Suaranya berubah menjadi berat dan menggelegar, jauh dari suara aslinya.

Situasi semakin mencekam hingga akhirnya ada yang menenangkan dengan bacaan ayat-ayat suci, dan suasana kembali tenang. Kisah semacam ini memperkuat anggapan bahwa Pondok Mayit bukan sekadar nama, tapi bagian dari misteri nyata yang menyelimuti Gunung Raung.

Pondok Demit dan Munculnya Pasar Gaib di Tengah Hutan

Jika Pondok Mayit dikenal lewat kisah jasad misterius dan aura kematian, Pondok Demit menawarkan misteri yang lebih surreal, yaitu keramaian pasar makhluk halus di tengah hutan sunyi.

Masyarakat setempat mempercayai Pondok Demit sebagai “pasar” tempat makhluk halus melakukan transaksi di waktu-waktu tertentu. Hal ini sejalan dengan kisah para pendaki yang mengaku mendengar keramaian layaknya pasar malam, tawa perempuan, gamelan, suara tawar-menawar, hingga langkah kaki banyak orang, padahal di tengah hutan.

Beberapa pendaki yang bermalam di sekitar pos ini juga mengaku mengalami gangguan. Mulai dari mimpi buruk hingga perasaan diawasi sepanjang malam tanpa sebab yang jelas.

Aura ganjil yang menyelimuti Pondok Demit semakin memperkuat reputasinya sebagai salah satu pos paling mistis di jalur pendakian Gunung Raung.

Nama Pondok Demit sendiri berasal dari kata demit yang dalam bahasa Jawa berarti makhluk halus atau jin. Nama ini tak muncul begitu saja, tapi dibentuk dari rangkaian kisah-kisah ganjil yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Cerita-cerita yang tak terdokumentasi resmi, namun dipercaya secara luas oleh masyarakat lokal maupun pendaki veteran. Keberadaan Pondok Mayit dan Pondok Demit bukan hanya legenda yang hidup dari mulut ke mulut.

Keduanya sudah menjadi bagian dari narasi besar Gunung Raung, gunung dengan empat puncak dan kaldera kering terbesar di Pulau Jawa.

Di balik keindahan dan tantangan fisiknya, Gunung Raung juga menjadi ruang di mana kepercayaan, sejarah, dan pengalaman spiritual berpadu menjadi satu.

Bagi para pendaki, melintasi dua pos ini bukan hanya soal fisik dan stamina. Tapi juga kesiapan mental. Sebab bukan hanya tubuh yang diuji, melainkan keberanian menghadapi yang tak kasat mata.

Meski begitu, kisah-kisah ini tidak serta-merta membuat Gunung Raung ditinggalkan. Justru sebaliknya, nuansa misterius itu menambah daya tarik tersendiri dari gunung itu.

——–

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com