Tag Archives: mitos

Terjawab Alasan Kenapa Harus Bersihkan Rumah Sebelum Imlek


Jakarta

Warga Indonesia keturunan Etnis Tionghoa baru saja merayakan tahun baru Imlek. Dalam menyambut tradisi nenek moyang ini, ada sejumlah tradisi dan mitos yang dipecaya dan dilakukan hingga saat ini.

Salah satunya adalah tradisi membersihkan rumah.

Dari makalah berjudul Mitos Tradisi Perayaan Tahun Baru Imlek, yang disusun Jepriyanti Br Tambunan, Sridevi Hutauruk, Zeco Hamos Sianno Pardede seperti dikutip dari detikJatim, Minggu (11/2/2024), ternyata ada alasan di balik tradisi membersihkan rumah ketika menyambut imlek.


Dalam artikel ini, juga akan dibahas mitos lain yang berkaitan dengan tradisi di rumah saat perayaan Imlek.

Merapikan Rumah

Rumah harus rapi sebelum Tahun Baru China. Itu sebagai upaya menyapu semua kemalangan dan membuat jalan keberuntungan di tahun mendatang.

Menyapu atau membersihkan rumah pantang dilakukan di hari pertama tahun baru. Sebab, itu dinilai sama artinya dengan menyapu semua kekayaan dan keberuntungan untuk tahun ini.

Memasang Lentera Merah dan Bunga

Meletakkan sumber cahaya dan hiasan di sudut rumah dipercaya mendatangkan kebaikan untuk fengshui rumah. Spesies bunga yang digunakan sebaiknya adalah chrysant, orange citrus, chinese narcissus, hydrangea dan rhododendrons.

Dalam kepercayaan orang Tionghoa, Nian atau sejenis makhluk buas yang hidup di dasar laut atau gunung akan keluar saat musim semi atau saat Tahun Baru Imlek.

Kedatangan mereka pun dilanjutkan dengan mengganggu manusia terutama anak kecil. Namun menghias rumah, pakaian, dan aksesoris berwarna merah dapat mengusir nian, karena ia takut dengan warna merah. Jadi tidak heran kalau nuansa merah begitu terlihat saat Imlek.

Dilarang Duduk di Kamar Tidur

Duduk di kamar tidur dianggap sebagai kesialan. Tuan rumah dan segenap isi rumah harus menyambut tamu yang datang dan memberikan salam.

Bahkan orang tua yang sudah sakit pun sebaiknya didandani dan diajak duduk bersama d ruang tamu. Selain itu, mengucapkan ‘Selamat Tahun Baru Imlek’ di kamar tidur bisa menghilangkan keberuntungan selama setahun ke depan.

(dna/dna)



Sumber : www.detik.com

Rumah di Gang Nggak Bisa Jadi Agunan, Mitos atau Fakta?



Jakarta

Rumah di gang memiliki lokasi yang sedikit menantang karena aksesnya yang kecil. Tak hanya akses, rumah tersebut juga dianggap sulit untuk dijadikan agunan saat ingin mengajukan pinjaman ke bank.

Pasalnya, pengajuan pinjaman ke bank tidak mudah karena pihak bank melakukan penilaian yang ketat dan selektif, apalagi soal agunan. Lantas, bagaimana kalau aset yang kita bisa jaminkan berupa rumah di gang? Apakah bank akan menolak pengajuan pinjaman?

Pengamat Perbankan dan Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo menjelaskan jaminan adalah ‘second way out’, di mana jalan utama dalam penyelesaian pembiayaan adalah kemampuan debitur membayar dengan pendapatan yang diperolehnya.


“Apabila debitur tidak mampu memenuhi kewajibannya, maka bank akan melakukan menjual jaminan,” ujar Arianto kepada detikcom, Rabu (4/7/2024).

Arianto mengungkapkan rumah di gang bisa dijadikan agunan ke bank selama ada bukti historis yang menunjukkan kawasan rumah likuid atau mudah untuk dijual. Hal ini akan dibuktikan oleh pihak bank melalui appraisal dengan wawancara lapangan serta mencari data jual beli dari mitra notaris atau Petugas Pembuat Akta Tanah (PPAT) setempat.

“Yang membuat (rumah di gang) tidak bisa diagunkan, di luar syarat dokumen yang tidak dapat dipenuhi, adalah valuasi harga pasar dan likuiditas (mudah atau tidak untuk dijual),” katanya.

Selain itu, pastikan rumah yang akan dijadikan agunan ada dokumen lengkapnya, seperti sertifikat, Akta Jual Beli (AJB), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Lalu, properti yang diagunkan tidak bermasalah, salah satunya dibuktikan dengan pernyataan tidak ada sengketa.

Di samping itu, ia mengakui agunan berupa rumah di gang biasanya lebih sulit disetujui oleh bank. Sebab, bank mempertimbangkan akses jalan sekitar rumah yang menjadi agunan.

“Penjualan rumah dalam gang tidak semudah penjualan rumah dengan akses jalan yang lebih lebar, misal dapat dilalui mobil, baik searah maupun dua arah. Hal ini yang menjadi salah satu pertimbangan bank untuk menolak membiayai pembelian rumah dalam gang apabila objek tersebut yang dijaminkan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, agunan berupa rumah di gang bisa saja menjadi tantangan untuk mengajukan pinjaman untuk KPR. Banyak yang mengira rumah dengan lokasi tersebut sering ditolak pengajuan KPR-nya.

“Jadi (pengajuan KPR) bukan soal penolakan atas penggunaan dana pembiayaannya, tetapi lebih pada permasalahan penyerahan aset agunan/jaminan yang lebih mudah dieksekusi (jual),” pungkas Arianto.

(dhw/dhw)



Sumber : www.detik.com

Pintu Rumah yang Tertutup Bisa Cegah Api Menyebar, Mitos atau Fakta?



Jakarta

Kebakaran adalah salah satu musibah yang harus diwaspadai karena api bisa muncul di rumah kapan saja. Api yang muncul bisa menyebar dengan cepat, bahkan pada beberapa kejadian penghuninya baru mengetahui setelah api membesar. Ternyata dengan menutup pintu kamar dan ruangan lain pada malam hari, saat terjadi kebakaran dapat mencegah api menyebar. Lho, bagaimana bisa?

Mengutip dari Parade, Rabu (4/9/2024), menurut The Fire Safety Research Institute (FSRI) mengatakan menutup pintu pada malam hari dapat menyelamatkan nyawa penghuni rumah jika terjadi kebakaran.

FSRI telah melakukan penelitian ekstensif untuk menganalisis pengaruh pintu dan jendela terhadap penyebaran api sejak tahun 2008. Salah satu alat yang mereka gunakan adalah kamera thermal imaging. Kamera ini bisa menandai suhu ruangan saat terjadi kebakaran.


Ternyata kamar dengan pintu tertutup memiliki suhu sekitar 100 derajat. Namun jika pintunya terbuka, suhu ruangan melonjak hingga 1000 derajat. Hal ini menunjukkan bahwa penghuni rumah yang berada di dalam ruangan dengan pintu tertutup saat terjadi kebakaran memiliki peluang untuk selamat jika terjadi kebakaran. Salah satu caranya dengan melarikan diri melalui jendela atau memadamkan api tanpa membuat api menyebar.

Terpisah, melansir dari Family Handyman, penyebab api cepat menyebar saat terjadi kebakaran bukan hanya karena barang-barang pada ruangan tersebut mudah terbakar, melainkan karena adanya oksigen.

Dengan menutup pintu pada malam hari atau pada saat tidak digunakan, dapat mencegah oksigen menyebar ke seluruh rumah. Pintu yang tertutup juga mempertahankan jumlah oksigen dalam ruangan. Saat pintu kamar terbuka, oksigen akan menyebar dan menyebabkan tingkat oksigen dalam ruangan menipis.

Terakhir, pintu yang tertutup saat terjadi kebakaran dapat mencegah penyebaran asap. Banyak korban kebakaran tidak terselamatkan bukan karena luka bakar, melainkan sesak napas akibat asap yang ditimbulkan dari api yang membesar.

Perlu diingat, dengan menutup pintu bukan berarti 100% api tidak akan menyebar. Pintu yang tertutup hanya akan menghambat beberapa waktu. Maka dari itu, kamu harus tetap waspada dan menyiapkan pemadam kebakaran atau APAR di dekat tempat tidur.

Sebelum tidur pasti semua alat elektronik tidak ada yang tersambung ke stop kontak, cek gas di rumah apakah aman atau tidak, dan jauhkan benda terbakar dari sumber panas atau api.

(aqi/dna)



Sumber : www.detik.com

Plafon Tinggi Bikin Rumah Lebih Adem Mitos atau Fakta? Begini Kata Ahli


Jakarta

Saat membangun rumah, kamu pasti menginginkan desain yang bisa membuat rumah terasa sejuk dan adem. Sebab, rumah yang terasa pengap dan panas sepanjang waktu pasti membuat penghuni rumah tidak nyaman, terutama saat tidur. Beberapa orang percaya salah satu aspek penting yang membuat rumah lebih sejuk adalah ketinggian plafon rumah. Kira-kira mitos atau fakta ya?

Menurut Arsitek Denny Setiawan, rumah dengan plafon tinggi tidak dapat menjamin rumah menjadi lebih sejuk. Justru rumah dengan plafon tinggi membutuhkan energi lebih untuk mendinginkan ruangan jika di dalamnya ditambahkan AC.

Dengan demikian, saat membangun rumah dengan plafon tinggi, kamu tidak bisa sembarangan menentukan ketinggiannya. Perlu mempertimbangkan keseluruhan atau proporsi rumah. Jangan sampai rumah terasa kecil padahal plafon sudah menjulang tinggi.


“Saya selalu menyarankan ketinggian (rumah) itu secukupnya supaya tidak boros material. Prinsipnya adalah bagaimana kita meminimalisasi penggunaan material,” ujar Denny saat berbincang dengan detikcom, Senin (20/5/2024).

Denny rumah setidaknya memiliki banyak ventilasi, tritisan, dan jendela agar terasa lebih sejuk dan hemat material pembangunannya.Lebih lanjut, berikut penjelasannya.

1. Perbanyak Ventilasi Udara

Setiap ruangan seharusnya mempunyai ventilasi udara agar ada aliran udara yang sejuk. Setidaknya ada dua ventilasi di setiap ruangan untuk menciptakan ventilasi silang. Ventilasi yang baik memungkinkan udara panas dan kelembapan tidak terperangkap di dalam rumah. Dengan begitu, suhu udara bisa keluar masuk melalui ventilasi tersebut. Ventilasi silang ini juga lebih optimal apabila ditambah dengan adanya kipas angin.

“Memang udara semakin panas saat ini, tapi dengan desain yang benar, dengan arsitektur yang benar, yang denahnya baik itu otomatis membuat masalah panas itu harusnya tidak jadi masalah lagi,” ucapnya.

2. Batasi Pancaran Sinar Matahari

Meskipun ada ventilasi yang cukup, rumah bisa panas apabila sinar matahari menyorot langsung ke dalam rumah. Dengan begitu, kamu bisa batasi pancaran sinar dengan menggunakan tritisan. Denny mengimbau agar menghindari memasang jendela yang mengarah ke mata angin barat agar rumah tetap adem.

“Di arah mata angin barat itu biasanya ketika sore hari itu panas yang membuat kita nggak nyaman. Jadi di arah barat pilihannya adalah kita nggak buka jendela di sana, atau kalau kita mau buka jendela, kita pasang kisi-kisi,” ujarnya.

3. Gunakan Bahan Penghalau Panas

Tidak hanya perlu menghalau sinar matahari, kamu juga harus mencegah masuknya hawa panas menggunakan styrofoam daur ulang. Bahan expanded polystyrene (EPS) styrofoam bisa menjadi bahan untuk membuat dinding rumah penghalau panas.

“Styrofoam itu penghalau panas sebenarnya. Dia nggak menghantar panas ke dalam (rumah). Jadi styrofoam disemen kiri dan kanan (menjadi tembok). Itu secara perhitungan saya sendiri, penelitian saya itu mengurangi suhu secara pasif itu minus 3 derajat selsius,” jelasnya.

Selain itu, ada material alternatif lain yang bisa digunakan seperti roster atau kerawang bata untuk menghalau panas. Dengan membangun penghalang dari bahan itu, memungkinkan penghuni rumah membuka pintu dan jendela untuk mendapat aliran udara sejuk tanpa khawatir privasi terganggu.

(aqi/aqi)



Sumber : www.detik.com

Bukan Cuma di RI, Ini Deretan Mitos Aneh soal Sapu di Berbagai Negara



Jakarta

Pernah mendengar soal mitos larangan menyapu di rumah pada malam hari? Katanya menyapu malam hari bisa bawa sial. Mitos itu diwariskan dari orang tua secara turun-temurun.

Dalam filsafat Yunani, mitos berasal dari kata myth yang artinya dongeng. Mitos suka dikaitkan dengan hal gaib karena pada awalnya manusia menggunakan ilmu gaib untuk menyelesaikan persoalan hidup. Sejatinya, mitos hanya disampaikan dari mulut ke mulut sehingga sulit diperiksa kebenarannya (Nasrimi, 2021).

Mitos dapat beredar ke seluruh aspek kehidupan manusia, seperti dalam persoalan bersih-bersih. Dikutip dari Apartment Therapy, Minggu (25/05/2025), mitos menyapu di malam hari dapat mendatangkan nasib buruk. Hal ini karena dahulu sebelum ada listrik, menyapu di malam hari dengan cahaya yang minim bisa menyeret barang-barang mahal, seperti cincin atau anting.


Selain menyapu pada malam hari, ini mitos unik lain yang juga berkembang di berbagai wilayah soal bersih-bersih.

Jangan Membawa Sapu Lama ke Rumah Baru

Pindah dari rumah lama ke rumah baru artinya membawa serta barang-barang dari rumah lama. Namun, jika membawa sapu yang lama ke rumah baru maka dipercaya dapat membawa nasib buruk.

Jangan Menyapu pada Malam Tahun Baru

Mitos yang juga unik dari Filipina adalah tradisi tidak pernah menyapu atau membuang apapun pada malam atau saat hari tahun baru. Hal ini dilakukan untuk menghindari hilangnya keberuntungan di sisa tahun. Oleh karena itu, jika mau membersihkan rumah maka lakukan sebelum akhir tahun.

Hati-Hati Saat Menyimpan Sapu

Di Malaysia, ada mitos bahwa jangan biarkan sapu menyentuh lantai saat tidak digunakan. Maka, sapu harus digantung di dinding karena sapu membawa keberuntungan dalam rumah tangga. Sapu juga tidak boleh ditumpuk bersama-sama saat digantung karena dipercaya dapat menimbulkan pertengkaran dalam keluarga.

(das/das)



Sumber : www.detik.com

Alasan Mengerikan di Balik Mitos Buka Payung di Dalam Rumah



Jakarta

Sebagian masyarakat masih memercayai adanya mitos, seperti larangan membuka payung di dalam rumah atau dalam ruangan. Hal ini dipercaya dapat membawa kesialan.

Mitos merupakan dongeng atau cerita berisi hal-hal gaib (Nasrimi, 2021). Mitos memang sulit dipercaya karena isinya terkadang tidak masuk logika. Akan tetapi, beberapa mitos masih diyakini sebagian masyarakat, salah satu contohnya adalah tidak boleh membiarkan payung terbuka di dalam rumah.

Dilansir dari Reader Digest, Minggu (25/05/2025), menurut Profesor Antropologi dari Universitas of Bufallo menjelaskan bahwa membuka payung di dalam rumah merupakan conoh berpikir magis. Menurutnya, suasana rumah yang awalnya teratur, tenang, dan damai dapat berubah menjadi energi buruk. Hal ini karena payung digunakan untuk badai atau sesuatu yang buruk di luar rumah. Sehingga, muncul kepercayaan dapat membawa nasib buruk bagi penghuni rumah.


Sementara dikutip dari How Stuff Work, orang Mesir Kuno percaya bahwa membuka payung di dalam rumah atau ruangan dianggap tidak menghormati dewa matahari, yaitu Dewa Ra. Sebab, di Mesir Kuno, payung dirancang untuk melindungi manusia dari matahari bukan dari hujan. Maka, jika masih membuka payung di dalam rumah dianggap demikian, karena dewa lah yang mengurus seluruh urusan manusia sehingga manusia harus tunduk dan tidak boleh menentang.

Selain itu, pada era Victoria, Menurut Ilmuwan Charles Panati dalam buku “Extraordinary Origins of Everyday Things”, payung adalah benda berbahaya. Sebab, payung terbuat dari jeruji logam kokoh, pemicu pegas yang kaku, serta kanopi bergaris baja.

Jika payung dibiarkan terbuka di dalam rumah atau ruangan, maka berisiko dapat melukai manusia. Tak hanya itu, payung juga bisa menghancurkan benda-benda di dalam ruangan apalagi benda tersebut mudah pecah. Air yang menetes pada payung juga dapat membuat lantai basah dan licin.

Oleh karena itu, mitos membuka payung dalam rumah bukan berarti membawa kesialan. Hal ini terkait dengan keselamatan dan keamanan bagi penghuninya.

(das/das)



Sumber : www.detik.com

Pengantin Baru Dilarang Lewat Jembatan Ini, Konon Bisa Kena Sial



Gunungkidul

Jembatan Jirak di Gunungkidul menyimpan sebuah mitos yang tak biasa. Pengantin baru dilarang melintas di jembatan ini kalau tidak mau tertimpa kemalangan.

Jembatan Jirak ini berlokasi di Pedukuhan Munggi Pasar, Kalurahan Semanu, Kapanewon Semanu, Gunungkidul. Bentuk jembatan ini sama dengan jembatan pada umumnya. Ada dua bangunan jembatan, di sisi utara dan selatan.

Pada Jembatan Jirak sisi utara terdapat tulisan ‘dengan rakhmat Tuhan yang maha esa JEMBATAN JIRAK, diresmikan pada hari Senin tanggal 16 Januari 1989 oleh Gubernur, Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta, KGPAA Paku Alam VIII’.


Sedangkan, pada Jembatan Jirak di sisi selatan terdapat tulisan ‘JEMBATAN JIRAK NO.26.030.001.B TH.2008 KM 45+77’. Sepintas, tidak ada yang aneh dari jembatan ini.

Namun, warga setempat masih percaya soal mitos pengantin baru yang tidak boleh melewati jembatan ini. Ketua Kalurahan Budaya Semanu, Sumaryanto menjelaskan, bahwa dari cerita para pendahulunya, dahulu ada kerajaan jin bernama Alas Kali Jirak di jembatan itu.

Asal Usul Jembatan Jirak

Kerajaan itu dipimpin seorang ratu bernama Sekar Cendani. Ratu Sekar Cendani mempunyai prajurit lelembut yang kuat, salah satunya bernama Gus Serut yang menaruh hati pada Nini Pantarwati, putri dari Sekar Cendani.

Namun, Nini Pantarwati ternyata jatuh cinta kepada seorang manusia bernama Sutejo. Sutejo merupakan putra dari Kiai Singo Wijoyo yang berasal dari Kemadang.

Gus Serut pun terlibat pertarungan dengan Sutejo untuk memperebutkan Nini Pantarwati. Ratu Sekar Cendani juga tidak merestui keduanya karena mereka berbeda alam.

Di tengah pertarungan sengit itu, Gus Serut melempar ajirak kepada Sutejo. Menurut Sumaryanto, itulah asal muasal mengapa jembatan itu akhirnya bernama Jembatan Jirak.

“Terus terjadi perkelahian, sambil lari Gus Serut akhirnya melempar ajirak, itu aji-aji semacam jarak. Karena itu disebut Jirak. Saat itu, belum ada jembatannya, hanya ada sesek (jembatan berbahan bambu),” ujarnya.

Setelah kejadian itu, ternyata Nini Pantarwati tetap mencintai Sutejo. Akhirnya, Ratu Sekar Cendani mengutuk Nini Pantarwati dan Sutejo menjadi batu.

“Yang akhirnya dikatakan menjadi watu manten kali Jirak (batu pengantin Kali Jirak),” ungkapnya.

Karena kisah itu, tidak ada pengantin yang berani melintasi Jembatan Jirak. Menurutnya, pengantin baru boleh melintasi jembatan Jirak setelah selapanan.

“Setelah itu tidak ada yang berani lewat situ, baik calon manten dan manten kalau belum selapanan atau 35 hari,” ujarnya.

Akan tetapi, calon pengantin dan pengantin baru tetap bisa melintasi jembatan tersebut meski belum selapanan. Konon caranya dengan memberikan syarat berupa melemparkan beberapa macam benda ke Kali Jirak.

“Tapi ada juga yang memilih menghindari Jembatan Jirak dengan mengambil rute lain yakni lewat utara Kantor Kalurahan, lewat Pacarejo, atau lewat Karangmojo,” lanjut Sumaryanto.

Sumaryanto menambahkan, bahwa hingga saat ini masyarakat Semanu masih mempercayai mitos tersebut. “Masih, wong kemarin tetangga saya dapat orang Mulo itu ya tidak berani lewat situ mending lewat Pacarejo,” ujarnya.

“Kalau dari informasi katanya ada yang sulit mendapatkan keturunan. Kalau sampai celaka kami belum pernah dengar, informasinya justru sulit mendapatkan momongan, rezekinya seret,” jawabnya.

“Semua itu cerita turun-temurun, fakta sebenarnya masih digali. Tapi nyatanya tetap ada yang tidak berani lewat situ kalau belum selapanan setelah prosesi manten,” pungkasnya.

—–

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ada Sumur Kuno di Proyek Underpass Joglo, Simpan Banyak Cerita



Solo

Ada satu sumur kuno di lokasi proyek Underpass Joglo, Solo. Sumur itu dipercaya peninggalan Paku Buwono (PB) VIII. Sumur itu menyimpan banyak cerita tak biasa.

Salah satunya adalah cerita ketika sumur itu hendak dirobohkan untuk kelancaran proyek jalan Underpass Joglo. Salah satu warga yang merawat sumur itu, Marno (57) mengaku pernah mendengar cerita dari seorang sopir ekskavator yang bertugas merobohkan bangunan di Jalan Sumpah Pemuda.

Saat akan merobohkan Masjid Baitusy Syukur, konon alat pengeruk itu sempat macet. Bahkan kacanya pecah.


“Kalau saya, tatkala saya mengerjakan itu (untuk masjid), tak bongkar sumur itu nggak ada apa-apa. Karena niatan kita baik, nggak ada masalah. Cuma kemarin yang terkait pembongkaran (proyek underpas Joglo) itu katanya backhoe macet, terus kacanya pecah,” kata Marno.

Meski demikian, bangunan masjid itu akhirnya dirobohkan. Sedangkan sumur peninggalan PB VIII itu dibiarkan tetap berdiri. Sumur itu kini ditutupi kain agar tidak terkena debu dan reruntuhan bangunan.

Menurut Marno, sebelum 2012, sumur yang diyakini berusia ratusan tahun itu jadi sumber air untuk kebutuhan warga sekitar. Airnya juga biasa untuk memandikan jenazah yang akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bonoloyo. Sumur itu juga dianggap sakral.

“Di situ kan dulu tempat memandikan jenazah, jadi ada bangsal atau rumah. Ada jenazah yang dari luar yang tidak terawat kan disucikan dulu. Atau mungkin tabrakan di mana, terus disimpan di bangsal, tempat penantian sementara sebelum dimakamkan. Seperti untuk menyalatkan dan sebagaianya kan ada,” kata Marno saat ditemui di rumahnya, Jumat (19/1) lalu.

Marno yang memiliki warung di sekitar sumur itu mengatakan, tidak banyak masyarakat sekitar yang tahu kalau sumur itu peninggalan Paku Buwono VIII. Tapi sebagian masyarakat tahu kalau air sumur itu dipercaya mujarab.

“Waktu yang lain kering, sumur ini nggak kering, segitu terus airnya. Airnya bersih, lebih bersih ini dari air PDAM,” ujar Marno.

Sumur yang diyakini peninggalan Sri Susuhunan Paku Buwono VIII di lokasi proyek underpass Joglo, Kota Solo, Jumat (19/1/2024).Sumur yang diyakini peninggalan Sri Susuhunan Paku Buwono VIII di lokasi proyek underpass Joglo, Kota Solo, Jumat (19/1/2024). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Menurut Ketua RT 02 RW 11 setempat, Sumanto (54) mengamini cerita Marno. Dia bilang sumur kuno itu sudah lebih dulu ada sebelum TPU Bonoloyo yang disebut sebagai peninggalan Pakubuwana IX.

“Kalau mengacu pada bangunan yang gapura (TPU Bonoloyo) itu (dibangun) PB IX, tapi karena itu kemarin pas pembongkaran sumur untuk pembangunan masjid, itu ada di papan kayunya tertera PB VIII. Di sumurnya itu, pas tempat gantungan yang untuk menimba,” kata Sumanto.

“Kalau ini (sumur) PB VIII, berarti (dibangun) sumurnya dulu, baru makam. Biasanya kalau membangun itu kan menyediakan air dulu, buat sumurnya dulu. Kemungkinan PB VIII itu surut, terus dilanjutkan ke PB IX,” sambungnya.

Sumanto juga berharap agar sumur kuno itu tidak digusur. Dia ingin agar dibuat saluran di bawahnya agar air dari sumur itu tetap bisa dialirkan ke Masjid Baitusy Syukur yang akan dibangun lagi di belakangnya.

“Syukur-syukur dibuatkan tempatnya (oleh pihak proyek Underpass Joglo), biar kita nggak (mengeluarkan) biaya lagi. Caranya cuma ditutup tapi masih dialirkan, jadi sumbernya masih dipakai,” ujar Sumanto.

Tak ingin sumur itu tergusur pembangunan, Marno lantas membubuhkan keterangan pada papan kayu di sumur itu yang menyebutkan bahwa sumur itu peninggalan Pakubuwana VIII.

“Saya ingin melestarikan sejarah, kita bisa sampai seperti ini karena sejarah. Pokoknya sudahlah bismillah, apapun saya pertanggungjawabkan, saya akan sekuat tenaga mempertahankan sejarah ini,” tutup Marno.

——

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Legenda Sendang Kasihan dan Kisah Kesaktian Sunan Kalijaga



Bantul

Di Bantul, ada destinasi pemandian yang lekat dengan mitos dan legenda. Sendang Kasihan namanya. Konon, sendang ini jadi saksi bisu kesaktian Sunan Kalijaga.

Sendang Kasihan adalah sebuah pemandian mata air yang berada di kecamatan Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Masyarakat setempat mempercayai beberapa mitos terkait Sendang Kasihan.

Salah satunya yakni mandi di Sendang Kasihan diyakini bisa memberikan pengasihan alias mudah mendapatkan jodoh.


“Cerita sendang ini kan terkenal dengan namanya yaitu Sendang Pengasihan. Pengasihan dalam artian luas kompleks, apalagi mengandung nilai sejarahnya. Dikatakan bahwa sumber mata air ini ditemukan oleh Sunan Kalijaga berarti ada karamahnya,” tutur pengelola Sendang Kasihan, Yudaryanto (53), beberapa waktu lalu.

Yudi menuturkan, banyak orang yang datang ke sendang dengan beragam tujuan. Misalnya, perempuan yang sial jodoh, harapannya ia membersihkan diri dan berharap segera bertemu dengan jodohnya.

Tidak hanya menjadi pembawa pengasihan, air di Sendang Kasihan juga konon membuat untuk awet muda. Sebab, kondisi fisik air sendang ini ternyata cukup bagus.

“Pernah dicek dari UGM, UIN, pH-nya 7, bagus. Terus ada tamu sendang itu dia mengelola air minum juga punya alatnya dicek. Dia turun jam 04.00 WIB, siangnya coba iseng ngetes, habis ngetes telepon saya, mas airnya sendang bagus sekali pH-nya 8. Jadi secara fisik bagus kandungan mineralnya tinggi keasamannya rendah,” cerita Yudi.

“Tokoh-tokoh banyak yang pernah datang. Paramitha Rusady 4 kali ke sini, Dian Sastro, Nicholas Saputra, banyak tokoh-tokoh. Dari Batam, Kalimantan banyak. Pejabat banyak, dulu waktu sebelum saya di sini, keluarga Pakualaman, keluarga Mangkunegaran, HB IX, HB VIII banyak,” tambahnya.

Kesaktian Sunan Kalijaga

Sendang Kasihan ini konon merupakan sendang yang ditemukan Sunan Kalijaga. Nama sendang ini berasal dari kisah Sunan Kalijaga yang merasa iba kepada seorang emak-emak dan bermunajat doa hingga muncul sumber mata air.

“Nama Sendang Kasihan itu, jadi Mbok Rondo tadi cari air jauh sekali sungai itu. Kemudian Sunan Kalijaga iba kasihan melihat Mbok Rondo, kasihan. Kata-kata kasihan itu akhirnya kan besok tekan ajining zaman tak beri nama Sendang Kasihan,” ujar Kepala Bidang Warisan Budaya Disbud Bantul, Risman Supandi.

Risman menyebut saat ini Sendang Kasihan sudah masuk dalam salah satu cagar budaya.

“Kenapa ditetapkan sebagai struktur? Jadi berdasarkan Pasal 5 UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya bahwa benda bangunan atau struktur dapat diusulkan sebagai cagar budaya apabila memenuhi kriteria,” jelas Risman.

Padusan jelang Ramadan di Sendang Kasihan, Kabupaten Bantul, Minggu (5/5/2019).Sendang Kasihan, Kabupaten Bantul Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Kisah yang sama juga dituturkan pengelola Sendang Kasihan, Yudaryanto (53). Dia menyebut Sendang Kasihan ditemukan saat Sunan Kalijaga mengembara dan bertemu dengan seorang perempuan.

“Waktu Sunan Kalijaga dalam pengembaraanya berkelana sampai di lokasi tempat ini, bertemu dengan sosok wanita seperempat tua yang sedang mencari air, membawa kendi. Ditanya orang tua itu sama Sunan Kalijaga mau ke mana, namanya siapa. Orang tua itu mengaku bernama Mbok Rondo Kasihan yang mau mencari air. Dengan bertemunya Sunan Kalijaga dan Mbok Rondo Kasihan mencari air, beliau bermunajat berdoa di tempat ini sambil menancapkan tongkat. Setelah bermunajat doa dan tongkat dicabut bekas tancapannya timbul sumber mata air,” jelas Yudi.

Selain sumber mata air, ditemukan dua arca di sisi timur setelah pintu masuk Sendang Kasihan. Kedua arca tersebut adalah arca Ganesha dan Resi Agastya.

“Terus di sana ada dua arca, Ganesha sama Resi Agastya. Arca Ganesha dari agama Hindu, kan dewa pengetahuan. Ada Resi Agastya kan gurunya guru, Maha Guru,” ujar Yudaryanto yang sering disapa Yudi.

“Arcanya ini yang saya dengar dulu kan sendang ini kecil dan diperlebar. Nah dulu waktu diperlebar ditemukan itu,” tambahnya.

Pohon soko temanten di Sendang Kasihan BantulPohon soko temanten di Sendang Kasihan Bantul Foto: Anandio Januar/detikJogja

Kemudian di samping arca tersebut terdapat pohon Soko Temanten. Konon, pohon tersebut sudah langka dan berusia tua.

“Pohon Soko Temanten pohon yang paling tua. Menurut simbah, pohon Soko Temanten itu yang menanam Sinuwun yang pertama, Sultan pertama Jogja,” tutur Yudi.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Bukit Kaba, Gunung Berapi yang Punya Mitos Kutukan di Bengkulu



Bengkulu

Di Bengkulu, ada sebuah gunung berapi yang menyimpan mitos kutukan. Bukit Kaba namanya. Seperti apa kutukan yang berlaku di gunung ini?

Bukit Kaba atau yang juga dikenal sebagai Gunung Kaba adalah salah satu gunung api aktif yang berada di Provinsi Bengkulu.

Menurut Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu, puncak Bukit Kaba terdiri dari dua kawah yang masing-masing berwarna hijau dan putih kecoklatan.


Gunung dengan ketinggian 1925 mdpl ini menyuguhkan hutan lebat yang dipenuhi semak belukar dan jurang sepanjang jalan menuju ke puncaknya.

Bukit Kaba dulunya adalah cagar alam yang jadi rumah bagi spesies Bunga Padma Raksasa atau yang dikenal sebagai Rafflesia arnoldi. Namun, kini Bukit Kaba berubah dari taman lindung menjadi tempat wisata alam.

Gunung Kaba ini terletak di Kabupaten Rejang Lebong dan Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Dari Kota Curup, lokasinya berada di sebelah tenggara dengan jarak sekitar 15 kilometer.

Bukit Kaba dapat ditempuh dengan kurang lebih 3-4 jam dari Ibukota Provinsi Bengkulu. Menurut buku Sejarah dan Budaya Tanah Serawai karya Ismaoen, nama kaba berasal dari bahasa Minangkabau yang artinya kamu.

Mitos Bukit Kaba

Menurut laman resmi Desa Kesambe Lama Bengkulu, bukit ini dipandang sebagai lokasi yang angker karena mitos bernama Muning Raib. Hal itu karena bukit tersebut dipercaya menjadi tempat tinggal Malim Bagus, seorang muning (paman) yang raib atau hilang dibawa oleh Bidadari.

Akibatnya, terdapat mitos kutukan yang cukup populer. Kutukan tersebut yakni bagi masyarakat asli yang lahir di Desa Curup dan belum menikah, dilarang untuk berkunjung atau mendaki ke Bukit Kaba. Jika melanggar, maka khawatir akan hilang diculik makhluk halus seperti Malim Bagus.

Bukit Kaba adalah salah satu dari 76 gunung aktif bertipe A di Indonesia. Gunung tipe A adalah gunung yang memiliki sejarah letusan sejak tahun 1600.

Saat ini, Bukit Kaba berada di level normal. Hal ini berarti tidak ada indikasi peningkatan aktivitas vulkanik, baik secara visual maupun kegempaan.

——

Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com