Tag Archives: mitos

Kampung Terpencil di Ciamis Punya Pantangan: Jangan Ngomong Sembarangan!



Ciamis

Ada sebuah kampung terpencil yang unik di Ciamis. Kampung itu hanya terdiri dari 8 rumah dan lokasinya di tengah hutan. Kampung itu juga punya pantangan.

Pantangannya adalah dilarang ngomong sembarangan atau dalam bahasa Sundanya, dilarang sompral alias mengucapkan hal-hal yang negatif dan menyinggung orang.

Jika melanggar pantangan tersebut, maka pengunjung itu bisa-bisa tidak akan pulang. Mereka tiba-tiba saja akan kesasar di tengah hutan dan tidak dapat menemukan jalan keluar.


Ya, mitos tersebut dipercayai oleh warga Kampung Rumah 8, sebuah kampung terpencil nan unik di Ciamis. Pengunjung yang datang atau melintas di kawasan hutan di Kampung Rumah 8 ini harus bersikap baik.

Jangan sesekali menyampaikan ucapan atau hal-hal yang tidak sopan, sehingga dapat menyinggung pihak yang tidak ingin disinggung.

Beberapa pemburu hewan atau pun pengunjung yang melakukan aktivitas off-road di hutan sekitar Kampung Rumah 8 mengaku pernah mengalami hal itu.

Namun beruntung, mereka berhasil menghubungi warga yang ada di Kampung Rumah 8 dan langsung diantar ke luar dari hutan jati yang mengelilingi kampung tersebut.

“Jadi memang di sini aura mistisnya masih ada. Orang luar yang datang ke sini sering nyasab (kesasar). Itu mungkin bicara tidak sopan. Seiring terjadi seperti itu,” ujar Eli Yuliana, Ketua RT di Kampung Rumah 8, Sabtu (10/2/2024).

Kejadian pengunjung kesasar di tengah hutan jati itu tidak tergantung pada waktu. Bisa terjadi pada siang hari atau pun malam hari.

Eli pun mewanti-wanti bila memasuki kawasan hutan di kampungnya untuk senantiasa bersikap sopan dan berdoa terlebih dahulu.

“Jadi niatnya harus baik-baik, kalau ada pikiran negatif itu kemungkinan akan sasab (tersasar),” ucapnya.

Kampung Rumah 8 di Kabupaten Ciamis.Kampung Rumah 8 di Kabupaten Ciamis. Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Menurut cerita Eli, beberapa waktu lalu ada pemburu yang malam-malam kesasar di wilayahnya. Kemudian ada juga ada orang yang sedang trail adventure di siang hari tidak dapat menemukan jalan keluar dari hutan.

“Jadi yang naik motor trail itu mengaku hanya kuar-kuir (bolak-balik) saja di tempat yang sama. Kemudian orang itu menghubungi warga di Kampung Rumah 8. Akhirnya ditunjukkan jalan ke luar,” ucapnya.

Eli menyebut dengan adanya kisah mistis ini, Kampung Rumah 8 pun aman dari hal-hal kejahatan seperti pencurian.

“Paling yang ada di sini hewan seperti babi, monyet, landak, tapi selama tidak mengganggu Insyalloh aman tidak menyerang,” tutupnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Tengger Ciut, Lahan yang Terlarang di Cirebon



Cirebon

Selain warganya pantang jualan nasi, desa Slangit di Cirebon masih menyimpan sebuah mitos lain. Ada lahan yang terlarang untuk dimanfaatkan warga. Kenapa?

Di desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon ada banyak mitos yang dipercayai oleh warga setempat. Larangan untuk berjualan nasi bagi warganya adalah salah satunya.

Di desa Slangit, ada satu mitos lagi yang dipercaya oleh masyarakat setempat, yaitu sebuah lahan yang konon tidak boleh digunakan atau dimanfaatkan oleh siapapun.


Warga desa setempat mengenal lahan ‘terlarang’ itu dengan nama Tengger Ciut. Lokasinya berada di antara area persawahan yang ada di Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon.

Hingga kini, lahan tersebut tidak ada yang memanfaatkan dan hanya dibiarkan begitu saja. Kondisinya hanya dipenuhi oleh rumput maupun tanaman liar.

Adi Sucipto (55), salah seorang warga setempat mengatakan, tengger ciut merupakan sebuah lahan milik pemerintah desa setempat. Lahan tersebut memiliki luas sekitar 2,4 Hektare.

“Tanahnya (lahan tengger ciut statusnya) punya desa. Luasnya kurang lebih 2,4 Hektare,” kata Adi di Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, belum lama ini.

Sepintas, tidak ada yang aneh dari lahan tersebut. Namun, tidak ada padi ataupun sayuran yang ditanam di lahan tersebut. Padahal, di sekitarnya banyak lahan pertanian yang dimanfaatkan untuk menanam padi maupun sayuran-sayuran.

Adi yang pernah menjabat sebagai perangkat Desa Slangit itu mengatakan, lahan tersebut sebenarnya sempat beberapa kali digunakan untuk berbagai keperluan. Seperti digunakan untuk membangun rumah, dipakai sebagai lapangan olahraga, hingga dimanfaatkan untuk mendirikan kandang ternak milik warga.

Namun, penggunaan lahan tersebut selalu tidak berlangsung lama. Berbagai keanehan selalu muncul ketika lahan tersebut mulai digunakan atau dimanfaatkan oleh masyarakat.

Tengger Ciut di Desa Slangit Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.Tengger Ciut di Desa Slangit Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Foto: Ony Syahroni/detikJabar

Seperti contohnya ketika lahan tersebut digunakan untuk membangun rumah. Saat menempati rumah yang dibangun di atas lahan tersebut, para penghuninya pun selalu mengalami kejadian-kejadian aneh.

“Sekitar tahun 1970-an di lahan itu pernah dibangun rumah khusus untuk orang tidak mampu. Tapi apa yang terjadi. Selama menempati rumah itu banyak gangguan-gangguan gaib. Akhirnya mereka ngga kuat,” kata Adi.

Pernah Jadi Lapangan Bola, Banyak yang Cedera

Selain itu, berbagai kejadian juga kerap muncul ketika lahan tersebut dimanfaatkan untuk dijadikan sebagai lapangan sepak bola. Selama digunakan, tidak jarang ada pemain yang mengalami cedera maupun luka.

“Lahan itu pernah dicoba juga digunakan untuk lapangan sepak bola. Dan sama, banyak kejadian juga. Sering ada yang keseleo dan patah tulang. Akhirnya tidak digunakan lagi,” kata Adi.

Pernah Juga untuk Kandang Kerbau

Selanjutnya beragam peristiwa di luar nalar pun sering terjadi ketika lahan yang dikenal dengan nama Tengger Ciut itu digunakan untuk mendirikan kandang peternakan kerbau milik warga.

“Di Desa Slangit itu dulu ada peternak kerbau. Kalau jaman dulu kan sebelum ada traktor, membajak sawah itu masih pakai kerbau. Jadi dulu di Desa Slangit itu banyak peternak kerbau. Dan waktu itu oleh desa difasilitasi (lahan),” kata dia.

“Jadi (pemerintah) desa mempersilakan para peternak kerbau (menggunakan lahan). Gratis. Di lahan itu juga, namanya Tengger Ciut,” ucap Adi menambahkan.

Setelah digunakan untuk mendirikan kandang peternakan kerbau, berbagai kejadian aneh pun sering terjadi. Para peternak kerap mendapati kerbau milik mereka yang keguguran.

“Kalau bahasa sini sih kerbaunya itu runtuh. Kalau bahasa Indonesianya itu kerbaunya keguruan. Pokoknya banyak kejadian-kejadian tidak normal,” kata dia.

Akibat banyaknya kejadian-kejadian aneh yang tidak bisa dijelaskan dengan logika di Tengger Ciut, hingga kini tidak ada yang memanfaatkan lahan tersebut. Saat ini, lahan itu hanya dibiarkan begitu saja.

Kondisinya pun terlihat banyak ditumbuhi oleh rumput maupun berbagai tanaman liar lainnya. Warga desa hanya menggunakan lahan tersebut sebagai tempat menggembala hewan ternak maupun mengambil rumput.

“Sekarang (Tengger Ciut) paling dimanfaatkan buat gembala (hewan ternak) atau buat ngambil rumput aja. Kalau itu nggak apa-apa,” kata Adi.

—–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

3 Mitos Menyeramkan Gunung Bawakaraeng, Pendaki Wajib Tahu!



Gowa

Gunung Bawakaraeng di Gowa ternyata diselimuti oleh mitos yang menyeramkan. Bagi para pendaki yang ingin ‘menaklukkan’ gunung ini, wajib tahu mitosnya ya!

Gunung Bawakaraeng merupakan salah satu gunung favorit bagi para pendaki di Gowa, Sulawesi Selatan. Terletak di Kecamatan Tinggimoncong, gunung ini tersusun dari batuan vulkanik yang terbentuk dari pendinginan magma ketika berbentuk lava di permukaan bumi.

Memiliki ketinggian 2.840 meter di atas permukaan laut (mdpl), gunung ini menyimpan sejumlah mitos yang melegenda dan dipercayai oleh masyarakat setempat, serta para pendaki.


Apa saja mitos-mitos tersebut? Simak ya!

1. Hantu Noni yang Kerap Memperlihatkan Diri di Pos 3

Dilansir dari Jurnal Universitas Hasanuddin, Gunung Bawakaraeng menyimpan legenda hantu yang sering disebut dengan nama hantu Noni.

Masyarakat setempat mempercayai Noni adalah sebuah panggilan bagi seorang wanita berparas cantik yang mirip wanita Belanda.

Terdapat beberapa versi cerita soal hantu Noni. Menurut kisahnya, Noni merupakan seorang wanita yang meninggal karena gantung diri di salah satu pohon yang terletak di pos tiga pendakian gunung Bawakaraeng.

Cerita yang paling umum di masyarakat, Noni dikisahkan merupakan seorang pendaki wanita yang rutin mendaki bersama kekasihnya sekitar tahun 1980-an. Noni kemudian diduga mengakhiri hidupnya lantaran sakit hati kepada sang kekasih di sebuah pohon yang masih berdiri kokoh di pos 3.

Cerita hantu Noni yang melegenda bermula saat masyarakat melihat Noni turun dari gunung seorang diri dengan wajah yang pucat dan sesekali melotot walau terdiam.

Hal tersebut kemudian membuat warga heran, karena Noni dikenal sebagai sosok yang periang dan ramah. Beberapa hari kemudian, warga yang sedang mencari kayu di dalam hutan menemukan Noni tewas tergantung di dahan besar pohon di pos tiga.

Warga akhirnya mengetahui, sosok yang mereka temui merupakan arwah Noni yang bergentayangan. Kisah Noni yang bergentayangan di pos 3 terus menjadi cerita turun temurun yang terus terdengar di kalangan pendaki.

Sejumlah pendaki mengaku pernah melihat langsung hantu Noni. Mitos keramat soal hantu Noni kemudian terus berkembang di kalangan masyarakat dan juga para pendaki.

2. Pasar Setan Anjaya

Cerita mistis yang populer di kalangan pendaki gunung Bawakaraeng adalah pasar setan yang bernama Pasar Anjaya. Masyarakat setempat menyebut Pasar Anjaya adalah pasar hantu atau tempat berkumpulnya jin.

Cerita mistis ini berlokasi di sebuah tanah lapang yang terletak di antara Gunung Bawakaraeng dan Lompobattang. Ketika diamati, lokasi tempat pasar hantu tersebut memang terlihat berbeda.

Hal ini lantaran tempat tersebut dikelilingi pepohonan, namun ada titik menunjukkan tidak satupun pohon yang tumbuh. Konon para pendaki disarankan untuk tidak mendirikan tenda di lokasi Pasar Anjaya.

Apabila pendaki nekat mendirikan tenda di Pasar Anjaya, maka mereka akan mendengar suara keramaian pasar hingga cerita aneh yang tidak bisa dijelaskan akal sehat.

3. Ritual Naik Haji di Gunung Bawakaraeng

Melansir dari Jurnal Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, ritual ibadah haji Bawakaraeng merupakan sebuah ritual yang dipercayai oleh sebagian masyarakat Desa Lembanna.

Masyarakat yang mempercayai ritual tersebut biasanya melaksanakannya dengan cara mendaki gunung Bawakaraeng pada saat hari raya Idul Adha.

Pelaksanaannya pun tak berbeda dengan ibadah Haji yang terdapat tawaf, sa’i hingga wukuf. Namun, masyarakat yang melaksanakan ibadah tersebut berpandangan, bahwa mereka naik ke puncak Gunung Bawakaraeng dalam niat melakukan ritual Haji yang sama seperti di Tanah Suci Mekkah.

Warga yang melaksanakan ritual tersebut membawa beberapa sesajen seperti gula merah, kelapa, daun sirih dan juga pinang. Mereka juga turut melepas hewan ternak seperti ayam dan kambing.

Istilah Haji Bawakaraeng kemudian heboh di kalangan masyarakat. Pada tahun 80-an, terjadi tragedi di puncak Gunung Bawakaraeng dimana tragedi itu telah memakan banyak korban jiwa.

Masyarakat pun menilai ritual tersebut sebagai aktivitas melenceng dari syariat Islam. Para pelaku yang sering melaksanakan ritual tersebut sering disebut Haji Bawakaraeng. Namun, mereka merasa sangat dirugikan dengan adanya penamaan label Haji Bawakaraeng.

Tidak hanya itu, masyarakat sekitar Gunung Bawakaraeng dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada Haji Bawakaraeng. Masyarakat percaya, bahwa haji seharusnya dilaksanakan di Mekkah, bukan di puncak Gunung Bawakaraeng.

Selain itu, ada juga masyarakat yang mempersepsikan Gunung Bawakaraeng sebagai tempat sakral, suci dan yang indah bagi mereka yang ingin melakukan perjalanan spiritual.

Pemerintah setempat mengatakan dengan bijak bahwa ritual tersebut merupakan sebuah kesalahpahaman yang terlanjur mengakar ke masyarakat, karena belum ada yang mampu membuktikan adanya ritual haji di Gunung Bawakaraeng.

——-

Artikel ini telah naik di detikSulsel.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Jangan Ucapkan Kata Kotor Kalau Mau Selamat



Sibolga

Di Sibolga, ada destinasi Gua Belanda yang menyimpan cerita horor tersendiri. Selain itu, ada mitos dilarang mengucapkan kata-kata kotor bagi pengunjung.

Batu Lubang atau Gua Belanda, begitu warga Sibolga mengenalnya. Kami berkesempatan untuk melintasi Batu Lubang tersebut dalam perjalanan menuju Kota Sibolga. Tim berangkat dari Kota Medan pukul 19.30 WIB dan tiba di Batu Lubang sekitar pukul 03.00 dini hari.

Suasana saat itu begitu gelap, hanya ada pencahayaan dari mobil untuk menerangi perjalanan untuk melintasi gua sepanjang kurang lebih 50 meter tersebut.


Suasana gua begitu hening, kebetulan hanya mobil tim yang melintasi gua tersebut. Tampak samar, beberapa kelelawar tampak melintas sekilas begitu terkena cahaya mobil. Air menetes dari atas langit-langit gua.

Begitu mulai memasuki gua, sopir travel yang kami tumpangi kemudian membunyikan klakson tiga kali. Tim pun penasaran maksud dari membunyikan klakson tersebut.

“Udah memang tradisinya bunyikan klakson,” ungkap sopir travel, Parna beberapa waktu lalu.

Parna bercerita, membunyikan klakson selalu dilakukan para sopir agar mobil dari arah berlawanan dapat mengetahui dan dapat bergantian.

Ya, kondisi jalan di dalam gua begitu sempit dan hanya mampu dilewati oleh satu kendaraan saja.

“Jadi biar mobil dari gua satu lagi tahu ada mobil lain jadi gantian masuknya, itu logikanya,” ujarnya.

Kisah Mistis Gua Belanda

Parna kemudian diam sesaat, lalu menceritakan kisah mistis dari gua yang memiliki dua bagian tersebut.

“Batu lubang ini dibuat orang kita (warga lokal) pada zaman penjajahan Belanda. Selama proses pembuatan gua ini ada yang mati dan dulu mayatnya enggak dikubur tapi tertimpa batu itu. Makanya kalau lewat situ harus bunyikan klakson,” kata Parna.

Selain itu, Parna juga mengingatkan sebelumnya bahwa saat berada di dalam gua tersebut, pengendara ataupun penumpang dilarang untuk mengucapkan kata-kata yang sembarangan ataupun kotor.

“Jangan ngomong sembarangan kalau lewat sini, karena katanya dulu orang kita itu sering mengumpat orang-orang Belanda. Jadi langsung dibunuh sama orang Belanda itu, makanya yang lewat situ enggak boleh ngomong kasar, berbahaya,” jelasnya.

Sejarah Gua Belanda di Sibolga

Batu Lubang Sibolga memiliki sejarah menarik dalam proses pembangunannya pada era zaman penjajahan Belanda. Konon, gua ini dibangun sekitar awal tahun 1900-an.

“Pembangunan Batu Lubang ini simpang siur ya, ada yang bilang tahun 1900 atau 1930. Tapi untuk yang tahun 1930 saya enggak yakin karena saya juga cek di Perpustakaan Leiden University, ada koleksi foto asli yang didigitalkan itu tahunnya 1915 dan tidak ada yang lebih tua dari itu. Itu kan fotonya sudah jadi ya, kalau saja kita tarik ke belakang pasti di bawah tahun 1915 untuk pembangunannya,” kata Sejarahwan Sumut M Aziz Rizky Lubis.

Azis menyebutkan Batu Lubang ini memegang peranan penting dalam geliat perekonomian pada masa penjajahan Belanda pada zaman dahulu. Di antaranya sebagai bentuk mobilitas dalam pengangkutan hasil bumi dari wilayah Tapanuli ke daerah luar.

“Gunanya Belanda buat gua ini untuk menghubungkan wilayah Tapanuli karena ini kan pada saat itu masuk dalam Keresidenan Tapanuli. Untuk menghubungkan wilayah pedalaman Residen Tapanuli ke wilayah luar, pertama Sibolga ini memang pada saat itu jadi ibukota dari Keresidenan Tapanuli, nah mereka memiliki pelabuhan yang menjadi pintu masuk dan keluar ke dunia yang ada di sekitarnya maupun ke luar negeri,” kata Azis.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Mitos-mitos di Mata Air Cigempol, Konon Bisa Bikin Awet Muda



Sumedang

Mata air Cigempol di Sumedang menyimpan mitos-mitos yang dipercayai oleh warga setempat. Konon, mata air ini bisa bikin awet muda lho!

Mata air yang terletak di Dusun Jemo, Desa Nagrak, Kecamatan Buah Dua, Kabupaten Sumedang ini menyimpan mitos yang membuat para wisatawan datang ke sana, bahkan saat malam hari.

Sekretaris Desa Nagrak, Hendra Juanda menceritakan, tidak sedikit warga sekitar hingga warga luar daerah, sering mendatangi mata air Cigempol hanya untuk mandi pada malam hari.


“Pada malam tertentu banyak yang mandi di lokasi ini, warga sekitar tidak pernah mengetahui kalau ada orang luar yang suka mandi di situ,” ujar Hendra saat berbincang belum lama ini.

Menurut Hendra, dari laporan yang ada, warga datang hanya sekadar mandi di mata air Cigempol rata-rata pada malam Jumat Kliwon.

Namun, ia memastikan bahwa yang melakukan hal tersebut bukan hanya warga sekitar saja, melainkan terdapat warga dari luar Desa Nagrak hingga luar Sumedang.

“Soalnya pasti mereka mandinya kayak tengah malam jadi tidak diketahui oleh warga sekitar. Mereka datangnya pasti setiap malam Jumat Kliwon,” katanya.

“Kadang emang pernah juga warga jauh datang terus datang bawa galon besar atau botol minuman buat ngambil air yang banyak,” sambungnya.

Terkait dengan mitos itu, Hendra sendiri pun ikut merasakannya. Ia mengaku terdapat perbedaan yang dirasakan jika mencuci wajah di rumah sendiri dengan di mata air Cigempol tersebut.

“Awet muda, efek udah mandi kayak lebih segar sama berbeda aja kalau mandi di rumah. Saya juga memang merasakan hal sama cuci muka di rumah atau cuci muka di sini beda aja,” pungkasnya.

Seperti diketahui, keberadaan mata air Cigempol, Buah Dua, Sumedang ini sudah ada sejak ratusan tahun. Terdapat beberapa manfaat seperti membantu warga saat wilayahnya dilanda musim kemarau hingga dapat membantu mengaliri air ke area persawahan warga.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Siapa Bisa Angkat Batu di Ciamis Ini, Keinginannya Akan Terkabul



Ciamis

Di Situs Astana Gede, Ciamis ada satu batu ‘sakti’ yang punya mitos tersendiri. Siapa bisa mengangkat batu itu, keinginannya akan terkabul. Bagaimana kisahnya?

Situs yang berada di Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis itu menyimpan sejumlah prasasti dan peninggalan sejarah Kerajaan Galuh. Salah satunya adalah Batu Palinggih.

Konon batu tersebut digunakan untuk melantik para Raja Galuh saat memerintah di wilayah Kawali. Batu Palinggih atau juga Batu Korsi merupakan peninggalan Kerajaan Galuh yang paling besar di antara prasasti yang lain.


Bentuknya panjang dan pipih. Di bagian tengahnya, terdapat batu yang berdiri sebagai sandaran raja saat menjalani prosesi pelantikan.

Letak Batu Palinggih berada di bagian tengah Situs Astana Gede paling awal di antara prasasti lainnya. Konon dulunya batu tersebut adalah lempengan besar, namun pecah oleh masyarakat.

Kang Enno, Budayawan Kawali menjelaskan, masyarakat Kawali menyebut batu itu Palinggih, sedangkan secara arkeologi disebut Batu Korsi atau tempat penobatan raja.

“Jadi setiap calon raja di Kerajaan Galuh kalau mau dilantik duduk di batu itu untuk melaksanakan prosesi pelantikan,” ujar Enno, Sabtu (15/6) akhir pekan lalu.

Enno menjelaskan, Batu Palinggih berbeda dengan Singgasana. Di beberapa situs atau kabuyutan, biasanya terdapat batu untuk pengobatan raja. Sedangkan singgasana hanya ada di keraton.

“Situs-situs di Galuh khususnya mempunyai batu untuk penobatan. Di Karangkamulyan ada, di Bogor juga ada peninggalan Padjajaran,” ungkapnya.

Batu Palinggih itu pertama digunakan saat pelantikan Raja Galuh Prabu Ajiguna Linggawisesa pada tahun 1333. Prabu Ajiguna Linggawisesa merupakan raja pertama yang memerintah di Kerajaan Galuh Kawali.

Sedangkan batu itu terakhir digunakan untuk pengobatan Raja Prabu Jayadewata atau masyarakat menyebutnya Prabu Siliwangi.

“Jadi Batu Palinggih ini dipakai penobatan 7 raja. Dari tahun 1333 raja pertama sampai tahun 1482 raja terakhir,” katanya.

Enno pun belum mengetahui secara pasti prosesi penobatan raja di Batu Palinggih tersebut. Mengingat tidak disebutkan secara detail dalam naskah-naskah kuno.

“Tapi yang jelas sistem pemerintahannya itu memiliki pola Tritangtu yaitu ada Rama, Resi dan Ratu,” ungkap petugas di Astana Gede Kawali ini.

Mitos Batu Palinggih Bisa Kabulkan Keinginan

Setiap peninggalan atau benda tertentu biasanya memiliki cerita mitos yang melekat di masyarakat, termasuk juga Batu Palinggih. Konon masyarakat Kawali dulu percaya apabila mampu mengangkat Batu Palinggih itu maka segala keinginannya cepat terkabul.

“Sebelum Astana Gede Kawali ini diresmikan oleh pemerintah, dulu masyarakat Kawali mempercayai siapa saja yang ke Astana Gede dan mencoba mengangkat batu itu maka keinginannya cepat tercapai,” ucapnya.

Enno menerangkan ternyata masyarakat salah mengartikan kata diangkat dari batu itu. Padahal orang terdahulu memberitahukan diangkat itu adalah pengangkatan raja.

“Tapi itu kebanyakan salah arti, jadi malah mengangkat batu tersebut. Padahal memberitahukan bahwa itu pengangkatan raja,” jelasnya.

Akibat cerita mitos tersebut, Batu Palinggih tersebut yang tadinya lempengan menjadi pecah beberapa bagian. Tapi sekarang masyarakat sudah tidak ada lagi yang mencoba mengangkat batu itu setelah dijaga dan dilindungi pemerintah.

“Awalnya batu itu satu lempengan tapi terbelah-belah. Mitos memang ada sisi baik dan sisi buruk. Sekarang urang yang datang ke sini didampingi, dipandu dan dijelaskan. Kalau di Sunda itu jangan langsung menyimpulkan karena leluhur kita memakai bahasa-bahasa sastra jadi harus dibedah dahulu,” pungkasnya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Curug Sodong Sukabumi, Pesona Air Terjun Kembar di Geopark Ciletuh


Jakarta

Curug Sodong Sukabumi adalah wisata alam yang berada di kawasan Geopark Ciletuh, Jawa Barat. Air terjun ini setinggi 20 meter ini unik karena memiliki dua aliran yang berdampingan di satu lokasi.

Geopark Ciletuh telah menjadi situs warisan dunia UNESCO pada tahun 2015. Selain pemandangannya yang mempesona, ada beberapa daya tarik yang membuat traveler wajib datang ke Curug Sodong Sukabumi.

Daya Tarik Curug Sodong Sukabumi

Berikut ini beberapa daya tarik dari Curug Sodong:


1. Air Terjun Kembar

Curug Sodong Sukabumi memiliki keunikan yang tidak banyak dimiliki air terjun lain. Curug ini memiliki dua aliran air terjun yang berdampingan, sehingga sering disebut sebagai curug kembar. Aliran keduanya ada kadang sama-sama deras, meski tak jarang salah satunya mengalir lebih lambat.

2. Sejarah Bongkahan Batu

Aliran dua air terjun tersebut dipisahkan bongkahan batu yang sangat kokoh. Dalam mitosnya, seperti ditulis detikJabar, batu ini jangan sampai jatuh karena air laut (Samudera Hindia) berisiko naik ke darat.

Panel informasi di lokasi Curug Sodong Sukabumi menjelaskan mitos ini secara geologis. Batu yang memisahkan aliran curug kemungkinan bisa jatuh karena gempa yang besar. Gempa inilah yang berisiko mengakibatkan air laut naik ke darat menjadi tsunami.

3. Pemandangan Air Terjun Lain

Curug Sodong Sukabumi menyediakan bonus bagi para pengunjung. Mereka tidak hanya menikmati keindahan air terjun tersebut, tapi juga bentang alam serupa di sekitarnya. Kedua air terjun tersebut adalah Curug Cikanteh dan Curug Ciateul.

4. Akses Mudah

Salah satu alasan wisatawan banyak memilih Curug Sodong Sukabumi adalah aksesnya yang mudah. Pengunjung bisa membawa kendaraan hingga dekat dengan air terjun. Selanjutnya, wisatawan bisa langsung melihat pemandangan Curug Sodong Sukabumi dari tempat parkir.

5. Fasilitas Lengkap

Fasilitas di Curug Sodong Sukabumi semakin lengkap setelah mendapat suntikan dana Rp 7 Miliar dari anggaran pemulihan ekonomi nasional tahun 2021. Beberapa fasilitasnya yaitu:

  • Area parkir luas
  • Mushola
  • Gazebo
  • Toilet
  • Homestay
  • Amfiteater

Harga Tiket Masuk, Lokasi, dan Jam Buka

Bagi detikers yang tertarik mengunjungi Curug Sodong Sukabumi, berikut informasi detailnya

Harga Tiket Masuk

Untuk masuk ke Curug Sodong Sukabumi, harga tiket masuknya adalah Rp 5 ribu per orang. Namun, informasi lain menyatakan harga tiket masuk Curug Sodong Sukabumi adalah Rp 12 ribu untuk dewasa. Sedangkan untuk anak-anak adalah Rp 7 ribu dan Rp 12 ribu bagi pengunjung yang akan berkemah.

Lokasi

Curug Sodong berada di Kompleks Geopark Ciletuh, Ciemas, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Jaraknya Curug Sodong Sukabumi sekitar 45 km yang dapat ditempuh sekitar 1,5 jam dari pusat kota.

Jam Buka

Tempat wisata Curug Sodong Sukabumi buka setiap hari pada pukul 08.00-16.00 WIB. Namun untuk wisatawan yang berkemah atau camping, Curug Sodong Sukabumi dibuka setiap saat (24 jam).

Nah, itulah tadi informasi lengkap mengenai Curug Sodong Sukabumi, lengkap dengan daya tarik, tiket masuk, lokasi, dan jam bukanya. Sebelum berkunjung, jangan lupa mengupdate informasi sehingga bisa berwisata dengan aman dan nyaman.

(bai/row)



Sumber : travel.detik.com

Terowongan Peninggalan Belanda yang Menyimpan Mitos di Sukabumi



Sukabumi

Masyarakat Sukabumi punya cerita tentang keberadaan terowongan bawah tanah peninggalan Belanda di kota itu. Terowongan tersebut dipercaya menyimpan mitos.

Beberapa orang percaya terowongan itu menyimpan misteri. Sementara yang lain, menganggapnya hanyalah sebuah saluran drainase biasa.

Namun, fakta sejarah mengungkap, apa yang sering disebut terowongan bawah tanah di Sukabumi sebenarnya adalah saluran air tertutup atau gorong-gorong yang dikenal sebagai duiker.


“Dalam pembangunan masa kolonial, terowongan (tunnel) dibangun dengan membobok bukit atau tanah untuk mendapatkan akses seperti pembangunan terowongan Lampegan. Di Kota Sukabumi belum pernah ada pembangunan terowongan yang dimaksud kecuali memanfaatkan saluran air yang ada seperti sungai atau selokan,” kata Irman Firmansyah, penulis buku Soekaboemi The Untold Story, belum lama ini.

Pada masa kolonial Belanda, pembangunan Kota Sukabumi didesain dengan memanfaatkan teknologi tata air yang canggih untuk masa itu.

Saluran-saluran air kecil, yang sebelumnya dibiarkan terbuka, mulai ditutup dengan duiker, sebuah konstruksi tembok yang memungkinkan air tetap mengalir di bawah tanah tanpa menghambat pembangunan di atasnya.

Sebagai contoh, saluran di sekitar alun-alun Kota Sukabumi dan Masjid Agung dibangun dengan konsep ini untuk memaksimalkan fungsi ruang kota.

Konsep drainase kota atau dikenal dengan sebutan rioleeringsplan, menjadi bagian integral dari perencanaan tata Kota Sukabumi.

Menurut peta kolonial, banyak sungai kecil dan selokan di Sukabumi yang kemudian diselaraskan dengan jalur gorong-gorong tertutup. Fakta ini membantah anggapan adanya terowongan bawah tanah dalam arti sebenarnya, seperti yang ditemukan di wilayah lain dengan topografi berbukit.

“Posisi sungai atau selokan dan jalur terowongan sama persis sehingga bisa dipastikan bahwa jalur tersebut bukanlah terowongan tetapi sungai kecil yang ditutup dengan duiker,” ujarnya.

Teknologi duiker tidak hanya digunakan untuk saluran air tetapi juga untuk membangun jembatan yang lebih efisien. Jembatan tua seperti yang ada di Leuwigoong dan Karangtengah, Cibadak, menjadi contoh bagaimana teknologi ini diterapkan sebelum jembatan berbahan besi mulai digunakan.

Salah satu konstruksi duiker tertua adalah Duiker Cisero Sukaraja yang dibangun sekitar tahun 1800, sebelum masa Daendels.

“Pasca pembentukan afdeling tercatat pembangunan duiker untuk drainase di area pasar Sukabumi (stasiun) dibangun pada tahun1881 dan di Jalan Ciaul tanggal 16 Maret 1888,” kata Irman.

Saat Sukabumi menjadi gemeente pada tahun 1914, perhatian terhadap drainase semakin meningkat. Pemerintah kolonial mengalokasikan anggaran khusus untuk pemeliharaan gorong-gorong dan saluran air.

Terowongan peninggalan Belanda di Sukabumi.Terowongan peninggalan Belanda di Sukabumi. Foto: Istimewa

Pada tahun 1915, misalnya, dana sebesar 713 gulden dialokasikan untuk pemeliharaan drainase di beberapa titik. Pada tahun 1929, anggaran sebesar 9.000 gulden kembali disiapkan untuk memperluas jaringan drainase, termasuk di sekitar perempatan ABC yang rawan banjir.

Selain berfungsi sebagai saluran pembuangan, gorong-gorong ini juga membantu mengatasi banjir di wilayah padat penduduk. Namun, pada masa awal pembangunannya, sebagian masyarakat masih memanfaatkan saluran air terbuka untuk kebutuhan sehari-hari. Beberapa dari saluran terbuka tersebut kemudian ditutup demi kebersihan dan efisiensi tata kota.

Seiring waktu, masalah baru mulai muncul. Sampah yang menumpuk di saluran tertutup dan pembangunan tanpa perencanaan matang menyebabkan banyak gorong-gorong menjadi mampet. Situasi ini memperparah banjir di beberapa wilayah, terutama di daerah padat penduduk seperti Kampung Tipar dan Bale Desa.

Pembangunan drainase juga menjadi bagian dari program Kampong Verbettering pada tahun 1939. Program ini bertujuan untuk memperbaiki lingkungan perkampungan dengan fokus pada pengelolaan drainase.

Pemerintah dan masyarakat bekerja sama dalam memelihara saluran air, meskipun tantangan tetap ada akibat kebiasaan buruk seperti pembuangan sampah sembarangan.

Kini, mitos tentang terowongan bawah tanah Belanda di Sukabumi terus menarik perhatian. Namun, memahami sejarah dan fungsi asli saluran air ini dapat membantu meluruskan persepsi masyarakat.

Sebagai warisan infrastruktur kolonial, duiker tetap menjadi bagian penting dari sejarah Sukabumi dan menunjukkan bagaimana teknologi masa lalu membantu membentuk tata kota yang kita kenal sekarang.

Kisah tentang duiker ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga infrastruktur warisan sejarah. Dengan perawatan yang baik dan kesadaran masyarakat, saluran air ini tidak hanya menjadi saksi bisu masa lalu tetapi juga tetap berfungsi untuk masa depan.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Konon Pintu di Gua Ini Bisa Tembus Sampai ke Negeri Arab dan China



Cirebon

Cirebon punya banyak destinasi menarik. Salah satunya gua Sunyaragi yang konon punya pintu ‘ajaib’ yang bisa tembus sampai ke Arab dan China.

Di tengah Kota Cirebon, ada sebuah tempat yang dikenal bukan hanya karena keindahan dan sejarahnya, tetapi juga karena kisah mitosnya yang unik. Tempat itu ialah Gua Sunyaragi.

Gua Sunyaragi yang berlokasi di Kelurahan Sunyaragi, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon merupakan kompleks cagar budaya yang menyimpan berbagai legenda.


Salah satu yang paling unik dari tempat ini yaitu tentang ‘pintu kemana saja’ yang dipercaya bisa menembus ruang dan waktu.

Masyarakat setempat menyebut bahwa gua ini memiliki lorong ajaib yang bisa membawa siapa saja ke negeri-negeri jauh, mulai dari Arab hingga China.

Bukan sekadar cerita kosong, mitos ini masih bertahan hingga kini dan terus melekat pada Gua Sunyaragi, serta dipercaya oleh warga Cirebon.

Alkisah, lorong menuju ke Arab dan China itu berlokasi di pelataran bangunan Argajumut, tepatnya di bagian barat Gua Sunyaragi. Di sana, terdapat dua pintu masuk.

Pintu sebelah kanan diyakini sebagai lorong menuju ke Mekah-Madinah. Sedangkan pintu sebelah kiri diyakini menuju ke China.

Meski disebut lorong, namun kedua pintu itu memiliki bentuk yang hanya sebuah ruangan berukuran 1×1 meter. Konon katanya, pintu itu sering digunakan oleh para wali untuk menuju ke Arab maupun China.

Mitos tentang keberadaan lorong menuju Arab dan China itu masih terus terjaga dan diyakini masyarakat Cirebon hingga sekarang. Namun pengelola Gua Sunyaragi sekaligus budayawan Cirebon, Jajar Sudrajat menyebut, lorong itu hanyalah filosofi tentang kehidupan.

“Lorong Mekah-Madinah dan Tiongkok itu penamaannya. Bentuknya cuma ruangan. Lorong ini memiliki filosofi bahwa kiblat pendidikan agama itu Mekah-Madinah, sedangkan ilmu itu ke Cina atau Tiongkok,” ucap Jajat saat ditemui pada Jumat 17 Agustus 2018 silam.

Lorong yang tembus langsung ke Arab Saudi dan China di Gua Sunyaragi CirebonLorong yang tembus langsung ke Arab Saudi dan China di Gua Sunyaragi Cirebon Foto: Sudirman Wamad/detikTravel

Jajat mengungkap filosofi tentang lorong tersebut. Menurut dia, tokoh pendiri Cirebon dulunya adalah orang-orang yang berasal dari Arab dan juga China. Hal itu diperkuat dengan banyaknya arsitektur bangunan di Cirebon bergaya Arab maupun Tiongkok.

“Ini juga merupakan filosofi bahwa yang meramaikan dan membangun Cirebon waktu dulu itu mereka-mereka (Arab dan Tiongkok),” kata Jajat.

Meski begitu, Jajat tidak memungkiri jika lorong menuju Arab-China itu benar-benar ada. Menurutnya, kesaktian para wali di zamannya dulu seperti Sunan Gunung Jati punya kemampuan di luar batas manusia biasa. Karenanya, mitos soal lorong itu masih terus terjaga sampai saat ini.

“Bisa juga itu benar. Namanya juga Wali Allah, bisa saja terjadi di luar dari batas kemampuan kita,” tandasnya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Gua Ngerong Nan Mistis di Tuban, Ada Ikan yang Tak Boleh Dibawa Pulang



Tuban

Tuban punya destinasi gua Ngerong yang menyimpan mitos. Konon, ikan-ikan yang ada di sana tak boleh dibawa pulang kalau tidak mau celaka.

Gua Ngerong adalah salah satu destinasi wisata alam yang berada di Jalan Raya Rengel, Tuban, Jawa Timur. Destinasi ini tidak pernah sepi pengunjung.

Lokasi gua ini menawarkan pemandangan alam yang indah namun menyimpan cerita mistis. Cerita mistis itu berpusat pada ikan-ikan yang hidup di sungai di sekitar gua Ngerong.


Goa Ngerong TubanIkan-ikan di ga Ngerong Tuban Foto: Ainur Rofiq/detikJatim

Menurut pedagang setempat, Mbak Mah, ikan-ikan di sungai ini tidak pernah dibawa pulang oleh pengunjung, karena takut kena celaka.

“Orang-orang percaya ada cerita mistis di balik keberadaan ikan-ikan ini,” tuturnya.

Selain daya tarik itu, pengunjung juga bisa menikmati pemandangan alami gua Ngerong. Untuk menikmati panorama tersebut, pengunjung harus membayar tiket seharga Rp 5.000 untuk anak-anak dan Rp 7.000 untuk orang dewasa.

Di dalam lokasi, pengunjung dapat menikmati bermain air sungai yang jernih dengan ribuan ikan dan kelelawar yang bergelantungan di dinding gua.

“Kami bisa memberi makan ikan dengan roti atau biji kapas. Mereka berebut makanan,” kata Sari, pengunjung dari Bojonegoro, Minggu (10/1).

Pengunjung dapat berenang atau mandi dengan pelampung karet yang disewakan oleh pengelola dan warga sekitar. Lapak-lapak pedagang makanan dan biji kapas juga tersedia di lokasi.

——–

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com