Tag Archives: mitos

Misteri Alas Purwo, Hutan Tertua di Pulau Jawa



Banyuwangi

Alas Purwo tidak hanya dikenal karena keindahannya, tetapi juga berbagai mitos yang menyelimutinya. Mari sibak misteri hutan tertua di pulau Jawa ini.

Alas Purwo merupakan hutan lebat di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Hutan ini diyakini banyak menyimpan misteri gaib.

Oleh masyarakat setempat, hutan ini diyakini sebagai yang tertua di pulau Jawa, dan sering disebut sebagai gerbang menuju dunia gaib. Banyak cerita mistis yang menjadikannya salah satu tempat paling disegani di Nusantara.


Dilansir dari jurnal Universitas Islam Sunan Kalijaga berjudul Mitos Kerajaan Jin di Alas Purwo Banyuwangi Indonesia dalam Perspektif Teori Sakral dan Profan Emile Durkheim, yang ditulis Isnawi dan Indah Yulianti, Alas Purwo disebut memiliki aura mistis yang kuat.

Beberapa orang percaya Alas Purwo adalah tempat tinggal makhluk gaib, seperti genderuwo, jin, hingga setan. Ahli spiritual Banyuwangi Ki Joko Gondrong, menguatkan mitos ini dan menyarankan wisatawan untuk selalu waspada saat berkunjung ke hutan tersebut.

Alas Purwo disebut sebagai lokasi pertama yang dihuni manusia, tepatnya di Situs Kawitan. Tak hanya itu, di Alas Purwo terdapat gua Istana yang menjadi destinasi menarik dan wajib dikunjungi wisatawan.

Menurut cerita rakyat setempat, Gua Istana menjadi destinasi terkenal yang dipercaya sebagai tempat Ir Soekarno pernah bertemu Nyi Roro Kidul.

Tak jauh dari gua tersebut, terdapat pura yang sering digunakan untuk semedi. Pura ini sering dikunjungi untuk meditasi atau laku ritual spiritual.

Tempat ini dipercaya bisa memberikan energi-energi ketenangan batin. Kepercayaan akan nuansa mistis ini membuat masyarakat lokal mengingatkan pengunjung untuk berhati-hati. Sebab, melanggar aturan di hutan ini sering dikaitkan dengan kejadian mistis yang mengundang malapetaka.

Salah satu mitos yang berkembang di kalangan masyarakat adalah suara panggilan misterius di Alas Purwo. Jika mendengar suara memanggil, jangan langsung menengok ke belakang. Konon, menengok bisa membawa malapetaka atau membuat seseorang hilang secara gaib.

Hingga saat ini, masyarakat setempat masih percaya dengan mitos-mitos di Alas Purwo, meski tak sedikit juga yang bersikap sebaliknya.

Cara Menuju ke Alas Purwo

Untuk menuju ke Alas Purwo, traveler bisa memilih rute misalnya dari Kota Banyuwangi menuju Kecamatan Rogojampi, kemudian ke Kecamatan Srono, Kecamatan Muncar, dan Kecamatan Tegaldlimo.

Dari Kecamatan Tegaldlimo, perjalanan dilanjutkan sekitar 10 km melewati jalan berbatu, hingga tiba di Pos Rowobendo, gerbang utama Taman Nasional Alas Purwo.

Untuk mencapai Alas Purwo, wisatawan disarankan menggunakan kendaraan pribadi karena belum tersedia transportasi umum menuju lokasi ini.

Dengan segala keindahan dan cerita di baliknya, Alas Purwo menjadi destinasi wisata sekaligus misteri yang memikat. Bagi yang penasaran, berhati-hatilah saat menjelajah, karena di balik keindahannya tersimpan banyak misteri yang belum terungkap.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Setiap Jumat Pahing, Gua Ini Dipenuhi Mereka yang Mau Ngalap Berkah



Tuban

Di Tuban, Jawa Timur ada satu gua yang dipenuhi pengunjung setiap Jumat Pahing. Mereka datang untuk ngalap berkah di gua itu. Bagaimana kisahnya?

Wisata gua Ngerong yang berada di desa Rengel, kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur selalu ramai dikunjungi warga, terutama pada hari Jumat Pahing dalam penanggalan Jawa.

Menurut juru kunci, Mbah Mustamin (60), banyaknya pengunjung yang datang pada hari tersebut, dengan tujuan untuk ngalap berkah. meskipun tak sedikit pula datang ke gua ini murni hanya untuk berwisata.


“Kalau Jumat Pahing mulai pagi jam 6 itu susah antri di dekat kolam gua Lowo situ, sambil bawa bunga setaman,” tutur Mustamin, Minggu (26/1).

Pengunjung yang datangke gua itu memiliki berbagai tujuan, seperti mencari kesembuhan dari penyakit, bersyukur atas kesembuhan, atau memiliki hajat lainnya.

Mereka akan turun ke kolam di gua itu untuk melakukan ritual membasuh muka tiga kali dan menyampaikan harapan di petilasan pertapaan Eyang Jala Ijo.

“Yang datang itu mulai orang sakit, sembuh dari sakit, atau hajat lainnya ya… ke sini turun ke kolam raup ping tigo (basuh muka tiga kali). Lalu hajatnya apa saya sampaikan ke dalam gua Mbah Jala Ijo,” tutur Mustamin.

Banyak warga yang percaya bahwa doa mereka terkabul setelah berkunjung ke gua Ngerong. Hal ini membuat mereka kembali lagi untuk mengucapkan syukur dan ngalap berkah.

Sebagai juru kunci yang bertugas secara turun-temurun, Mbah Mustamin juga menceritakan asal-usul gua Ngerong yang penuh cerita mistis.

Asal Usul Gua Ngerong

Kisahnya bermula dari seorang perempuan bernama Dewi Laras yang sedang hamil dan membutuhkan air untuk melahirkan. Ki Jala Ijo dan Ki Kumbang Jaya Kusuma yang sedang bertapa di depan gua, berusaha menolong Dewi Laras yang kesulitan mendapatkan air.

Mereka pun menancapkan tongkat di dalam gua, hingga akhirnya keluar air deras disertai kemunculan hewan seperti ikan, kura-kura, dan kelelawar. Hewan-hewan ini kemudian dipercaya masyarakat sebagai hewan keramat.

“Dewi Laras akhirnya menemukan sumber air inilah yang disebut-sebut sebagai awal mula wilayah gua Ngerong. Ngerong itu bermula dari bahasa Jawa ‘Klenger Ngorong akhire dadi Ngerong,” jelas Mbah Mustamin.

Kepercayaan masyarakat terhadap kisah ini begitu kuat, bahkan ada pantangan untuk membawa pulang hewan dari dalam gua.

“Sudah banyak buktinya, siapa yang ambil ikan akan mati. Sehingga tak ada yang berani bawa pulang,” pungkas si juru kunci.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Sungai di Palembang dengan Mata Air yang Dipercaya Bisa Menyembuhkan



Palembang

Di Palembang, ada sebuah sungai dengan mata air yang dipercaya warga bisa menyembuhkan segala penyakit. Inilah kisah tentang sungai Tawar di Palembang.

Sungai Tawar merupakan aliran anak sungai yang terletak di Kecamatan Ilir Barat (IB) 2, Kota Palembang. Mata air yang berada di Sungai Tawar hingga kini masih menyimpan mitos dan legenda di kalangan masyarakat.

Sejarahwan Dedi Irwanto mengatakan Sungai Tawar terletak di kawasan 27,28 dan 29 Ilir, Kecamatan IB 2 Kota Palembang. Sungai Tawar dilekatkan dengan mitos dan legenda yang tidak lepas dari seorang ulama di Palembang yang bernama Kemas Abu Nawar atau Kiai Abu Nawar.


“Pada aliran Sungai Tawar yang berada di kawasan 29 Ilir ada sebuah mata air yang saat ini masih dipercaya untuk mengobati segala macam penyakit,” kata Dedi, Minggu (2/1/2025).

Menurut Dedi, dari segi perspektif ilmiah, Sungai Tawar ini dulunya merupakan lembah ada talang air dan sekarang dikenal dengan nama Jalan Talang Kerangga. Lembah tersebut dulu dikenal dengan nama bukit Lembah Pengantin merupakan pengunjung dari sebuah bukit atau talang yang bentuknya lembah.

“Kalau dilihat dari peta kolonial, dulunya di daerah lebak (dataran rendah digenangin air) karena curah hujan cukup tinggi membuat lebak itu mengalami pendangkalan. Pada tahun 1900-an terbentuklah sungai yang sekarang dikenal dengan Sungai Tawar yang berada di kawasan 27,28 dan 29 Ilir,” ujarnya.

“Di sinilah cerita Sungai Tawar yang melegenda hingga saat ini yang dapat menyembuhkan penyakit. Pada masa penjajahan Belanda, orang Belanda mencoba meracuni masyarakat dengan mencampur racun ke dalam aliran Sungai Tawar ternyata apa yang dilakukan oleh Belanda tidak berhasil masyarakat yang menggunakan air Sungai Tawar dalam aktivitas kehidupan sehari-hari tetap sehat tanpa ada yang keracunan,” sambungnya.

Konon, air sungai tersebut tidak bisa diracuni oleh kolonial Belanda karena ada karomah dari Kiai Kemas Abunawar sehingga air sungai tersebut menjadi tawar dan tidak beracun lagi.

Bahkan karena karomahnya tersebut Belanda tidak bisa menyerang masyarakat di sekitar Sungai Tawar karena senjata mereka selalu rusak.

“Selain itu di Sungai Tawar tersebut memiliki mata air yang dipercaya hingga saat ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit baik medis maupun non medis,” katanya.

“Sehingga lama-kelamaan banyak yang mandi dan berobat,” lanjutnya.

Lebar Sungai Tawar Kini Tinggal 2 Meter

Dedi menyebut saat ini seiring sudah banyaknya jumlah penduduk, Sungai Tawar sudah semakin sempit bahkan lebarnya sekitar 2 meter saja.

Menariknya lagi, Sungai Tawar yang menyempit ini sangat mudah menemukan mata air yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit.

“Walau mata airnya berada di dalam parit tapi saat ada orang yang akan mengambil mata air tersebut airnya tetap jernih,” ujarnya.

“Masyarakat percaya bahwa air tersebut ada penawar meski diambil di dalam parit yang kotor sekali pun,” tambahnya.

Dedi pun mengimbau kepada pemerintah agar bisa mengelola peninggalan bersejarah ini agar seperti di Thailand menjadi tempat wisata dan kehidupan warga di Sungai Tawar juga terbantu.

“Bisa jadi tempat wisata dan pemerintah harus bisa mengelolanya,” katanya.

Sementara itu, Ketua RT 15 M Haris Fadillah membenarkan jika di wilayahnya yang di aliri air Sungai Tawar terdapat mata air yang dipercayai dan diyakin dapat menyembuhkan penyakit.

“Beberapa orang percaya bahwa mata air ini dapat menyembuhkan penyakit jadi ada beberapa orang dari Pulau Jawa, Pulau Bangka bahkan dari luar negeri seperti Brunei Darussalam datang kemari dengan membawa botol kosong untuk mengambil airvdari mata air tersebut,” ujarnya.

Belum Ada Perhatian dari Pemerintah

Faris menyayangkan meski ada legenda tentang Sungai Tawar ini tapi pemerintah tidak ada perhatian untuk menjadikan tempat wisata agar ekonomi warga di sekitar Sungai Tawar terbantu.

“Mata air ini dekat di belakang Musala Darussalam yang juga didirikan oleh Kiai Kemas Abu Nawar dan mata airnya hingga saat ini masih ada,” ujarnya.

Dari pantauan di lokasi, mata air yang berada di Sungai Tawar masih ada. Bahkan salah seorang warga Gandus, Tarmizi datang membawa botol kosong lalu mengambil air di mata air tersebut, meski saat itu air sungai sedang pasang dan berwarna hitam karena banyaknya tumpukan sampah.

“Untuk obat katanya bisa menyembuhkan penyakit. Jadi saya kemari,” ujar Tarmizi singkat.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Lempar Koin di Situs Ini Dipercaya Membawa Keberuntungan



Pangandaran

Warga Pangandaran percaya jika melempar koin di Situs Batu Kalde, maka wisatawan akan mendapatkan keberuntungan. Percaya atau tidak?

Jika Anda berkunjung ke Taman Wisata Alam (TWA) Cagar Alam Pangandaran, jangan lupa mampir ke Situs Batu Kalde. Ada mitos unik yang menyelimuti situs ini. Mitos itu melibatkan uang koin.

Situs Batu Kalde adalah bangunan cagar budaya yang disebut-sebut sebagai petilasan Prabu Jaya Pakuan, pangeran dari Kerajaan Pajajaran. Konon, sang pangeran pernah singgah di situs ini.


Situs ini dinamakan Situs Batu Kalde karena terdapat sebuah arca berbentuk sapi. Meski berbentuk sapi, namun oleh masyarakat setempat dianggap menyerupai ‘kalde’, bahasa Sunda untuk keledai.

Namun, dalam mitologi Hindu, arca tersebut sebenarnya merupakan Nandi, wahana atau kendaraan Dewa Siwa. Biasanya, keberadaan Nandi menandakan di tempat itu dulunya terdapat arca Dewa Siwa dalam bentuk lingga yoni, simbol kesuburan dalam kepercayaan Hindu.

Situs Batu Kalde di PangandaranSitus Batu Kalde di Pangandaran Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar

Lingga melambangkan kejantanan dan sumber kehidupan. Sedangkan yoni adalah simbol kesuburan yang dihubungkan dengan Dewi Parwati, istri Dewa Siwa. Penyatuan lingga dan yoni diyakini sebagai filosofi keseimbangan alam yang menciptakan kehidupan baru.

Kembali ke mitos yang dipercaya oleh warga setempat, mereka percaya jika orang yang berhasil melemparkan uang koin ke dalam lubang batu yoni yang tersisa, maka dia akan mendapatkan keberuntungan.

Yogi Saputera, juru penunggu Situs Batu Kalde, mengatakan mitos tersebut telah ada sejak lama.

“Memang katanya kalau berhasil melempar koin ke batu yoni, bisa mendapatkan keberuntungan. Tapi aturannya, harus melempar dari jarak tiga langkah mundur dari batas yang ditentukan,” ujar Yogi belum lama ini.

Konon, jika seseorang berhasil memasukkan koin ke dalam lubang candi yang tinggal satu umpak, maka harapannya akan terkabul. Menurut Yogi, uang koin yang digunakan juga tidak boleh sembarangan.

“Harus pakai uang receh pecahan Rp 500 atau lebih kecil. Tidak boleh terlalu besar nilainya,” tambah dia.

Sampai sekarang mitos ini tetap lestari, bahkan semakin populer, terutama saat musim liburan. Setiap harinya, Yogi mengaku menerima 20 hingga 30 wisatawan yang datang khusus untuk mencoba peruntungan mereka dengan melempar koin.

“Pas libur panjang, jumlahnya bisa lebih banyak. Rata-rata 30 orang datang ke sini setiap hari,” katanya.

Wisatawan Dibuat Penasaran

Bagi sebagian pengunjung, melempar koin ke Situs Batu Kalde bukan hanya soal mitos, tetapi juga bagian dari pengalaman seru selama berwisata. Seperti yang dialami Aprilian (24), seorang wisatawan yang mengunjungi situs ini bersama temanya.

“Awalnya sih cuma ikut rute yang diberikan pemandu. Terus dia bilang ini tempat bersejarah dan ada mitos kalau bisa lempar koin ke dalam lubang, harapan kita bisa terkabul. Jadi ya coba aja,” ungkapnya.

Hal yang sama juga dirasakan Fazar Sidiq, yang datang liburan ke Situs Batu Kalde bersama dengan Aprilian.

“Karena penasaran, ya ikut coba aja. Tadi sampai nukerin uang Rp 2.000 jadi koin receh. Dari empat koin yang saya lempar, dua berhasil masuk,” katanya.

Terlepas dari mitos yang berkembang, Situs Batu Kalde tetap menjadi destinasi menarik di Cagar Alam Pangandaran. Selain menyimpan nilai sejarah dan budaya, tempat ini juga menjadi daya tarik wisata yang unik dengan tradisi lempar koinnya.

Bagi yang percaya, ritual ini bisa menjadi simbol harapan. Namun, bagi yang hanya sekadar mencoba, melempar koin ke Batu Kalde tetap memberikan pengalaman seru yang tak terlupakan.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ada yang Beracun dan Tidak Pernah Kering



Cirebon

Cirebon memiliki budaya yang kaya dan sejarah yang panjang. Di kota ini, ada 4 sumur keramat dengan kisah tersendiri. Ada yang beracun hingga tak pernah kering.

Sumur keramat tersebut tersebar di keraton-keraton yang ada di Cirebon. Sampai sekarang, sumur-sumur ini masih didatangi peziarah dan diyakini memiliki khasiat.

Berikut 4 Sumur di Cirebon yang Keramat:


1. Sumur Upas: Sumur Beracun Peninggalan Abad 15

Berbeda dengan sumur lainnya, Sumur Upas atau Sumur Soka yang berada di bawah pohon soka besar di Petilasan Keraton Dalem Agung Pakungwati kini ditutup dan tidak difungsikan karena diyakini mengandung racun.

Kepala Bagian Informasi dan Pariwisata Keraton Kasepuhan Iman Sugiman, menyebutkan sumur ini dulunya digunakan untuk merendam senjata agar beracun saat melawan penjajah.

Nama “Sumur Upas” berasal dari kata “upas” yang berarti racun. Uniknya, pohon soka tempat sumur ini berada dikenal langka karena bunganya tumbuh di dahan, bukan di pucuk daun seperti pohon soka pada umumnya.

2. Sumur Ketandan: Saksi Pembuatan Terasi Cirebon

Sumur Ketandan menjadi salah satu situs sejarah penting di Kota Cirebon yang menyimpan kisah perjuangan Pangeran Cakrabuana dalam menyebarkan agama Islam di pesisir utara Jawa.

Terletak di bawah naungan pohon beringin besar yang telah berusia ratusan tahun, sumur ini hingga kini masih dijaga kesakralannya.

Menurut juru kunci Sumur Ketandan, Raden Syarifuddin, air sumur ini diambil secara manual menggunakan ember tanpa bantuan pompa. Hal ini dilakukan agar kesucian dan kesakralan situs tetap terjaga. “Kalau pakai pompa, nanti jadi tidak sakral,” ujarnya.

Syarifuddin menjelaskan, nama “Ketandan” berasal dari kata “Tanda”, yang berarti ciri-ciri. Dalam kisahnya, Pangeran Cakrabuana pernah menaruh “jalatunda” atau jaring di sekitar sumur setelah mencari ikan di laut Cirebon.

Sumur ini dahulu digunakan untuk mencuci jala dan membuat terasi dari ikan rebon. Pada masa itu, lokasi sumur berada dekat pantai, sebagaimana halnya Masjid Pejlagrahan, yang juga merupakan peninggalan Pangeran Cakrabuana.

Meskipun telah berusia ratusan tahun, air sumur ini tidak pernah kering. Masyarakat percaya bahwa airnya memiliki khasiat untuk penyembuhan dan pelindung dari sihir. Namun Syarifuddin mengingatkan, semua permohonan tetap harus ditujukan kepada Allah SWT.

Pengunjung biasanya datang saat malam Jumat Kliwon, baik umat Muslim maupun non-Muslim. Mereka melakukan napak tilas sejarah dan memanfaatkan air sumur yang dianggap penuh berkah.

3. Sumur Kejayaan: Sumur Keramat di Keraton Kasepuhan Cirebon

Sumur Kejayaan merupakan salah satu sumur keramat yang terletak di area Petilasan Dalem Agung Pakungwati, komplek Keraton Kasepuhan Cirebon. Sumur ini diyakini sebagai tempat wudu bagi Pangeran Cakrabuana dan Sunan Gunung Jati.

Menurut juru kunci, Mang Pardi (68), banyak pengunjung dari berbagai daerah, seperti Cirebon, Kuningan, Indramayu, Majalengka, hingga Jawa Tengah yang datang untuk berwudu, mandi, atau mengambil air sumur.

Menariknya, meskipun kedalamannya hanya sekitar tiga meter, air sumur ini tidak pernah kering meski kemarau panjang, dan tidak meluber saat musim hujan.

Mang Pardi mengatakan bahwa setiap pengunjung datang dengan tujuan berbeda, mulai dari kelancaran usaha hingga terkabulnya hajat. Namun, semua dikembalikan kepada kehendak Tuhan.

Pengunjung yang ingin memasuki kawasan petilasan Dalem Agung Pakungwati dan Sumur Kejayaan wajib mematuhi sejumlah aturan. Antara lain, melepas alas kaki, tidak merokok, dan hanya laki-laki yang diperbolehkan masuk, dengan alasan kesucian tempat.

4. Sumur Jala Tunda: Sumber Air Abadi

Sumur Jala Tunda yang berada di sebelah Masjid Pejlagrahan, Kampung Grubugan, Kelurahan Kasepuhan, Kota Cirebon, juga merupakan peninggalan Pangeran Cakrabuana dari abad ke-14.

Menurut Ketua DKM Masjid Pejlagrahan, Sulaeman, sumur ini dibuat untuk memudahkan nelayan berwudu sebelum salat. Sumur ini terdiri dari dua bagian: untuk laki-laki dan perempuan. Hingga kini, sumur ini tak pernah kering, meskipun kedalamannya hanya sekitar enam meter.

Selain dimanfaatkan masyarakat setempat, banyak peziarah dari luar daerah yang mengambil air sumur karena diyakini memiliki khasiat tertentu.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Saat Mitos Santet Kalah dengan Perburuan Gigi Megalodon di Gua Sukabumi



Sukabumi

Di Sukabumi, ada satu gua yang lekat dengan mitos santet. Namun semua itu lenyap ketika muncul fenomena perburuan gigi Megalodon. Bagaimana ceritanya?

Demam perburuan fosil gigi Hiu Megalodon sempat melanda kawasan Pajampangan, Kabupaten Sukabumi pada tahun 2021 silam, terutama di wilayah Kecamatan Surade.

Kala itu, fosil-fosil gigi hiu itu dihargai cukup tinggi oleh para kolektor. Hal ini pula yang kemudian menghilangkan mitos di Gua Kolotok, saksi bisu kisah kelam santet di Pajampangan.


Gua ini berada di Desa Jagamukti, Kecamatan Surade, Sukanumi. Disebut Kolotok, karena mulut gua itu dahulunya disebut mirip kalung kerbau.

Gua itu memiliki lebar mulut sekitar 1,5 meter dan panjang sekitar 4 meter. Ssmakin dalam, ruangan di dalam gua itu semakin lebar dan luas.

Kedalamannya yang mencapai 30 meter hingga 40 meter menjadikan gua ini tempat yang hampir mustahil untuk keluar bagi siapa pun yang dibuang ke sana.

Gua Kolotok di Sukabumi.Gua Kolotok di Sukabumi Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Penambangan fosil gigi hiu megalodon, yang dikenal dengan nama lokal huntu gelap, telah menyebabkan kerusakan parah pada gua Kolotok. Warga setempat menganggap fosil gigi hiu sebagai barang berharga.

Namun tanpa disadari, aktivitas ini juga menghancurkan salah satu tempat bersejarah yang terkait dengan masa lalu gelap masyarakat Pajampangan.

Menurut Apay Suyatman, Kades Jagamukti, penambangan fosil gigi hiu ini pertama kali dimulai di Desa Gunung Sungging, yang berbatasan dengan Jagamukti.

Desa Gunung Sungging dulu merupakan satu desa yang kemudian dibagi menjadi dua, dan kini penambangan liar terus berlangsung meskipun sudah sering diadakan razia oleh aparat kepolisian.

“Penambangan fosil gigi hiu megalodon ini memang sudah berlangsung lama. Warga yang terlibat merasa bingung karena mereka sudah sangat bergantung pada hasil temuan ini. Beberapa waktu lalu, aparat bahkan melakukan razia dan menangkap para pelaku, namun penambangan tetap berjalan,” tambah Suyatman.

Keberadaan Gua Kolotok yang kini rusak dan tidak terawat adalah simbol dari bagaimana kepercayaan terhadap santet dan teluh masih memengaruhi masyarakat Pajampangan.

Meskipun banyak yang mulai meragukan kebenaran tentang santet, cerita dan kepercayaan terhadap ilmu hitam ini tetap hidup di kalangan warga.

Suyatman menyadari bahwa kepercayaan terhadap santet di Pajampangan tak mudah hilang begitu saja, tetapi ia tetap berusaha memperkenalkan pemahaman yang lebih rasional dan bijaksana kepada masyarakat.

“Kami ingin cerita tentang Gua Kolotok yang penuh mistis ini bisa berubah menjadi tempat wisata budaya yang mengedepankan sejarah dan kearifan lokal. Namun, itu semua harus dimulai dengan mengubah stigma buruk tentang teluh yang sudah sangat melekat di masyarakat,” ujar Suyatman, menutup percakapan panjang tentang bagaimana Gua Kolotok dan santet masih menjadi bagian dari masa lalu yang sulit untuk dilupakan.

Jejak Perburuan Gigi Megalodon

Jejak perburuan Huntu Gelap di kawasan itu terlihat dari adanya lubang-lubang galian di sekitar lokasi Gua Kolotok. Lubang itu menggunakan Pasangan, sejenis penahan kayu yang dipasang mengikuti alur gua agar tidak terkena longsor.

Bagi banyak tokoh dan warga Pajampangan, upaya untuk melawan stigma negatif tentang teluh dan santet menjadi perjuangan panjang yang penuh tantangan.

Seiring dengan zaman yang terus berubah, kepercayaan terhadap ilmu hitam ini mulai dipertanyakan. Namun, stigma tersebut masih menghantui wilayah ini, menjadikan Pajampangan sering diidentikkan dengan santet.

Seperti yang dijelaskan oleh Kyai Asep Mustofa, Ketua MUI Kecamatan Surade, pandangan terhadap teluh dan santet seringkali berakar dari kesalahpahaman dan niat buruk antar individu.

“Teluh ini identik dengan sebutan santet. Secara umum, teluh itu dikenal dengan santet, tapi yang ramai dibicarakan di luar itu adalah teluh dan sebagainya. Ketika ditelusuri lebih dalam, siapa ahli teluh, siapa yang dianggap tukang teluh, itu sangat sulit untuk dibuktikan,” katanya.

Kyai yang dikenal dengan sebutan Asmu Bentang ini menekankan bahwa, menurut ajaran Islam, praktik santet jelas haram, namun yang lebih penting adalah niat di baliknya.

“Ada praktik mencelakakan orang lain, menabur sesuatu dengan tujuan tidak baik itu ada. Tapi untuk kita mengidentifikasi siapa yang melakukannya, itu sangat berat. Kita harus hati-hati agar tidak terjebak fitnah,” ujar Kyai Asep.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Misteri Terowongan Tersembunyi di Bawah Gedung Sate



Bandung

Selama bertahun-tahun, ada mitos tentang terowongan tersembunyi di bawah Gedung Sate. Benarkah mitos tersebut?

Banyak warga Bandung percaya terowongan rahasia itu membentang jauh hingga menghubungkan Gedung Sate dengan kawasan Braga, bahkan hingga ke kawasan Gedung Merdeka.

Namun faktanya, mitos itu ternyata terlalu dibesar-besarkan. Yang benar, terowongan itu memang ada. Namun bukan menuju ke tempat-tempat jauh seperti yang disebut-sebut, melainkan hanya menghubungkan Gedung Sate dengan gedung PT Pos Indonesia yang berdiri bersebelahan di sisi barat.


“Mitos itu sebetulnya memang betul, di museum Gedung Sate ini yang ada di basement area, ada terowongan yang terhubung ke gedung PT Pos yang dibangun berbarengan dengan Gedung Sate tahun 1920, itu saling terhubung,” kata edukator Museum Gedung Sate, Wenno Guna Utama, belum lama ini.

“Sayangnya, kondisi lorong tersebut kini tak lagi bisa dilihat. Pintu masuk ke terowongan telah ditutup dan ditimbun permanen karena alasan keamanan dan perombakan struktur gedung.

“Jadi terowongan itu ada di basement area dan diketahui ada tembok yang ditutup untuk akses tunnel tersebut,” ujarnya.

Wenno kemudian merespon cerita tentang lorong yang menyambung hingga ke pusat kota, bahkan sebagai jalur rahasia para penjajah yang kemudian menjadi bumbu menarik dalam narasi sejarah Gedung Sate. Dia menyebut, hingga kini tidak ada pembuktian atas cerita dari mulut ke mulut tersebut.

“Ada rumor ya terowongan itu terhubung dari Gedung Sate ke Braga dan Gedung Merdeka, itu belum ada prove-nya. Ada beberapa sumber yang menyebutkan ada terowongan tapi di kita belum ada datanya. Yang ada datanya di kita tunnel di Gedung Sate ke Gedung POS yang memang ditutup aksesnya,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, terowongan yang kini ditutup sempat difungsikan saat Gedung Sate belum dijadikan kantor gubernur. Dahulu, terowongan bawah tanah itu pernah dipakai sebagai penjara hingga jalur darurat.

“Di tahun 1924 dan 1930 fungsi Gedung Sate itu kan departemen pekerjaan umum, di situlah masih digunakan tunnel-nya. Kemudian waktu jadi kantor Gubernur Jawa Barat, akses tanahnya ditutup,” ucapnya.

“Fungsinya lebih ke bunker, sempat juga dijadikan penjara bawah tanah. Beberapa sumber menyebutkan bahwa itu bisa digunakan juga untuk melarikan diri,” sambungnya.

Terowongan tersebut memang telah ditutup permanen saat ini. Namun cerita soal terowongan itu selalu menjadi cerita menarik yang menyelimuti megahnya Gedung Sate.

“Semua sekarang ditutup walaupun ada beberapa yang memang tidak ditutup. Belanda ini memang suka membuat tunnel yang saling terhubung antar bangunan, tapi yang bisa dibuktikan di sini saja,” terang Wenno.

———

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Seperti Ini Wujud Gua Tempat Persinggahan Ratu Laut Selatan



Sukabumi

Konon di balik tebing karang yang menjulur ke laut, tersimpan ruang kecil yang dianggap keramat oleh sebagian warga Sukabumi. Itulah tempat persinggahan sang Ratu Laut Selatan.

Matahari belum sepenuhnya naik ketika Edo Supriadi berjalan menyusuri bibir Pantai Karang Hawu yang berada di Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat.

Lelaki berusia 41 tahun itu membawa seikat bunga, dua batang dupa, dan segelas air mineral yang dibungkus kain mori putih. Langkahnya pelan, seperti sedang mengukur waktu dan diam-diam membaca tanda dari alam.


Menurut cerita turun-temurun, Nyi Roro Kidul sosok yang dikenal dalam legenda sebagai Ratu Laut Selatan diyakini pernah singgah. Keyakinan itu hidup kuat, bagi mereka yang percaya.

“Dari dulu saya sudah sering diajak orang tua ke sini. Dulu kalau ada hajat besar, orang-orang suka tirakat di sini. Katanya ini tempat singgah Ratu Laut Selatan.” ucap Edo membuka kisahnya, orang tua yang ia maksud adalah orang yang dia tuakan, seorang tokoh spiritual.

Gua itu dikenal sebagai Gua Keramat Karang Hawu, berada di balik batu besar di kaki tebing yang disebut Gunung Winarum. Lokasinya hanya bisa dicapai dengan menaiki jalan setapak dari sisi timur pantai.

Tak ada papan penunjuk arah. Tempat itu seolah hanya bisa ditemukan oleh mereka yang tahu atau dipanggil, bagi mereka yang percaya.

Di dalam gua, suasana sunyi menyelimuti. Udara dingin menempel di kulit. Sisa dupa dan sesajen berserak di lantai batu.

Gua Karang Hawu SukabumiGua Karang Hawu Sukabumi Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Sebuah kendi tua diletakkan di sudut, berisi air laut yang konon telah dibacakan doa. Di dinding gua, garis-garis basah mengalir perlahan seperti peluh batu yang menyimpan kisah lama.

Namun bukan hanya gua yang dikeramatkan. Di atas bukit karang itu, tepat di ujung tebing yang menghadap langsung ke laut, terdapat formasi batu yang disebut karang kursi.

Batu besar ini menyerupai singgasana. Bagi mereka yang percaya, di situlah Nyi Roro Kidul kerap “duduk” memandang cakrawala, terutama saat purnama merekah di atas laut selatan.

“Kalau yang benar-benar niat datang, kadang dapat mimpi. Katanya duduk di kursi batu itu, ngadep laut, terus tiba-tiba tahu jalan keluar dari masalahnya,” ujar Edo.

Purnama bukan hanya penanda waktu, tapi bagi sebagian orang menjadi jendela antara dunia manusia dan dunia gaib. Malam Jumat Kliwon, malam Suro, atau saat bulan penuh, kerap dianggap sebagai waktu ketika tirai antara alam terlihat dan tak terlihat menipis. Bagi mereka yang percaya, itu adalah saat yang sakral.

“Banyak yang percaya, kalau niatnya baik, datang ke sini bisa dapat petunjuk atau kemudahan. Tapi kalau sembarangan, bisa celaka,” kata Edo.

Ia mengaku pernah menyaksikan kejadian yang sulit dijelaskan. Seorang pengunjung datang tergesa-gesa, langsung naik ke atas tanpa ritual pembuka. Tak lama, orang itu jatuh tak sadarkan diri di depan karang kursi.

“Pernah ada yang kesurupan, atau tiba-tiba jatuh pingsan waktu naik ke atas bukit. Biasanya karena lupa izin atau tidak jaga sikap,” ujarnya.

Pantai Karang Hawu sendiri memang punya ciri unik. Namanya berasal dari bentuk karang besar yang menyerupai tungku atau hawu dalam bahasa Sunda. Namun bentuk dan nama itu hanya sebagian dari pesona. Yang lain adalah cerita dan keyakinan, yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain.

Edo bukanlah seorang juru kunci. Ia hanya warga biasa yang merasa terpanggil menjaga tempat ini agar tidak diabaikan begitu saja. Tidak untuk dipuja, tidak juga dijadikan tontonan.

“Saya cuma jaga. Supaya tempat ini enggak hilang, enggak dijadikan hiburan semata. Karena ini bukan tempat wisata biasa, ini tempat keramat,” ujarnya.

Dalam dunia yang makin rasional, tempat seperti Gua Karang Hawu dan karang kursinya berdiri sebagai pengingat, bahwa ada sisi lain dari tradisi yang hidup dalam diam. Tempat di mana mitos, budaya, dan keyakinan lokal bersatu, bagi mereka yang percaya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(sya/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Mitos Ikan Raksasa Penguasa Sungai Citarum



Jakarta

Di balik derasnya arus Sungai Citarum, yang terbentang sejak Kabupaten Bandung-Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, tersimpan sebuah kisah yang turun-temurun diceritakan warga sekitar. Konon, di dasar sungai itu hidup seekor ikan raksasa, makhluk gaib yang dipercaya sebagai penguasa Sungai Citarum.

Kisah itu bermula dari Desa Cihea. Di desa itu di bagian Sungai Citarum ada sebuah leuwi atau bagian sungai yang dalam bernama Leuwi Dinding. Karena dalam, air di Leuwi Dinding nyaris selalu dalam keadaan tenang. Airnya juga bersih.

Leuwi itu ada penunggunya. Dia Kiai Layung.


Kiai Layung adalah makhluk air berupa ikan kancra raksasa. Jika umumnya kancra berukuran kecil-sedang, maka Kiai Layung adalah pengecualian. Dia berukuran jumbo, dibilang sebagai ikan raksasa.

Dikutip dari detikjabar, dalam “Asal-usul Hayam Pelung jeung Dongeng-dongeng Cianjur Lianna” tulisan Tatang Setiadi (2011), disebutkan mitos Kiai Layung, kancra raksasa penguasa Sungai Citarum itu.

Siapa Kiai Layung?

Kiai Layung dipercaya sebagai orang sakti yang kena hukuman dari dewata karena orang tersebut berambisi menjadi yang terkuat di bumi dan ingin menguasai surga. Dalam masa hukuman itu, Kiai Layung Harus menjalani ritual berjemur di bawah sinar matahari senja atau dalam bahasa Sunda disebut layung.

Maka, tiap pagi hingga petang, Kiai Layung muncul ke bawah permukaan air dan berjemur di dekat batu pipih di sana. Bertahun-tahun, dia hidup tenang di leuwi itu bersama ikan-ikan kancra.

Diganggu Badak

Hingga kemudian petaka itu muncul. Kiai Layung dan ikan kancra terusik dengan kehadiran badak-badak yang berenang dan berkubang tanpa etika di sekitar Leuwi Dinding. Akibatnya, banyak ikan-ikan kancra mati terinjak, tempat berenang ikan-ikan itu juga menjadi keruh ulah para badak.

Meskipun bekas orang sakti, Kiai Layung yang kini berwujud ikan tidak kuasa untuk mengusir badak-badak bertubuh besar dan memiliki tenaga yang kuat. Dia pun kemudian meminta bantuan kepada manusia. Dengan “Aji Panggentra” yang masih dimiliki, Kiai Layung yang ikan kancra itu memanggil manusia bernama Kiai Padaratan.

Bantuan Orang Sakti

Kiai Padaratan merespons dan bergegas menuju Leuwi Dinding. Setelah berada di Leuwi Dinding, Kiai Padaratan segera menyadari bahwa yang meminta pertolongan kepadanya adalah ikan kancra raksasa yang sedang berjemur di dekat batu. Mereka pun berbincang dan Kiai Padaratan bersedia mengusir badak-badak itu.

Sebelum menjalankan misi itu, mereka membuat kesepakatan. Kiai Layung minta kehidupan yang tenang sebagai ikan kancra sedangkan Kiai Padaratan mendapatkan air dan segala kehidupan yang terkandung di dalam sungai itu untuk kelangsungan hidup manusia.

Kiai Padaratan berhasil mengusir badak-badak itu. Hingga kini, diyakini Kiai Layung bisa berjemur setiap hari dengan damai di Leuwi Dinding di Sungai Citarum itu. Sementara itu, warga sekitar bisa mengambil air dan memanfaatkan isi leuwi di sana.

(fem/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Goa Purba di Pulau Kunti dan Mitos Anti Jomlo



Sukabumi

Di Pulau Kunti, Geopark Ciletuh ada sebuah goa yang dipercaya bisa mendatangkan jodoh. Goa ini memang sudah lama lekat dengan mitos anti jomlo.

Ombak sore itu datang berulang, memukul sisi perahu kayu yang perlahan mendekati tebing. Anginnya membawa aroma asin dan suara serak burung laut yang melintas rendah.

Dari jauh, tampak rongga hitam di dinding batu mulut gua yang terbuka menghadap laut. Orang-orang di sini menyebutnya Gua Anti Jomblo.


Saman, pemandu wisata lokal yang mengantar ke lokasi tersebut, berdiri di haluan sambil menunjuk ke arah tebing.

“Nah, ke sebelah sananya lagi, ada namanya gua purba Pulau Kunti,” ujarnya, suaranya setengah tenggelam oleh deru ombak, Minggu (5/10).

“Usianya 60 juta tahun, terbentuk dari gunung bibir pantai yang dihantam terus sama gelombang laut, akhirnya ada proposal ke dalam 15 meter, tingginya 9 meter,” katanya menambahkan, matanya tak lepas dari dinding batu di kejauhan.

Ia diam sebentar sebelum menambahkan. “Di dalam gua itu tidak ditemukan batuan selektif atau salak mid karena gua kering, cuman di sini ada mitos siapa aja yang masuk ke gua purba Pulau Kunti, pulangnya suka cepat dapat jodoh katanya,” tuturnya pelan, lalu tertawa kecil. “ini baru mitos,” lirihnya.

Angin sore menampar lembut wajah, sementara sinar matahari jatuh miring ke mulut gua yang tampak keemasan di bawah cahaya senja.

Saman tersenyum kecil sebelum melanjutkan penjelasannya, tangannya menepuk haluan perahu yang basah oleh percikan air.

“Ya setahu saya itu kalau misalkan punten dalam artian yang punya keyakinan, kayaknya saya sering mengantar yang seperti itu, mungkin keyakinannya seperti itu” ujarnya pelan, berhati-hati memberikan penjelasan.

“Cuman kalau yang lain biasanya dia hanya berdoa tapi bukan minta ke batu atau ke gua tapi mintanya ke pemilik batu atau gua, yang setahu saya, memang kalau uang meyakini memang seperti itu, dilaksanakan ritual di sana,” katanya menutup penjelasan.

Cerita soal Gua Anti Jomblo kemudian diperkaya oleh Piat Supriatna, petugas Balawista yang juga Geopark Ranger dari Badan Pengelola Geopark Ciletuh-Palabuhanratu.

“Ok saya ceritakan dari awal dulu prosesnya, takutnya ada sedikit ini mispersepsi juga dari masyarakat, khususnya pengunjung,” ujarnya membuka percakapan.

Goa Itu Sudah Berusia Jutaan Tahun

“Sebenarnya ini ada gua Pulau Kunti, gua tersebut itu sebetulnya secara ilmiah terbentuknya oleh abrasi laut selama jutaan tahun. Sebenarnya ini kan daratan yang terangkai di dasar samudra ke permukaan nih, dan itu kan ketika terbentuk ke permukaan bebatuan tersebut atau bukit itu belum terbentuk gua sebelumnya dulunya,” tuturnya.

Piat berbicara sambil menatap jauh ke laut, suaranya tenang.

“Nah, selama jutaan tahun tergerus oleh abrasi laut, sehingga terkikis, terbentuklah gua. Makanya gua tersebut disebut Pulau Kunti karena ketika dihantam gelombang setinggi lima meter atau musim badai menggema seperti orang tertawa maka dibilanglah Pulau Kunti,” kisahnya.

Mitos Anti Jomlo

Ia lalu tersenyum kecil, soal gua yang kemudian dikenal dengan nama Gua Anti Jomblo.

“Nah ada cerita dari masyarakat sekitar sini, Pulau Kunti ini banyak yang cerita bahwa bisa dikatakan nih gua jomblo, bisa dikatakan dalam arti jika masuk ke sana katanya bisa punya, dapat pasangan,” katanya sambil mengangkat bahu.

Piat sempat terdiam, menatap ke laut yang mulai memantulkan warna keemasan sore.

“Sebenernya kalau sekarang banyak orang lebih ke modernisasi, tapi ada saja, sampai saat ini,” ujarnya pelan,

“Tapi itu dulu saya sempat ke sana, banyak ditemukan orang simpan sesajen itu kan, ada seperti dupa itu menemukan, tapi sampai saat ini, walaupun karena sudah modernisasi masih ada orang percaya akan hal itu,” katanya menutup pembicaraan.

——-

Artikel ini telah naik detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com