Tag Archives: museum benteng vredeburg

Rekomendasi Tempat Wisata di Malioboro: Museum Benteng Vredeburg



Yogyakarta

Berwisata di Malioboro tak sekadar belanja atau nongkrong. Traveler juga dapat belajar sejarah di Museum Benteng Vredeburg.

Museum Benteng Vredeburg berada di kawasan Malioboro atau tepatnya berada dekat Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Museum ini berdiri kokoh di tengah hiruk pikuk Malioboro yang dipenuhi wisatawan tiap musim liburan.

Museum Benteng Vredeburg menyimpan koleksi berupa bangunan peninggalan Belanda serta diorama yang berisi kisah pembentukan negara Indonesia. Pada diorama-diorama itu traveler dapat mempelajari perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka, persiapan menuju kemerdekaan, kondisi pascakemerdekaan, hingga masa Orde Baru.


Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg. Foto: Putu Intan/detikcom

Sejarah ini dijelaskan dengan cara yang cukup menarik menggunakan patung, foto, dan lukisan. Selain itu terdapat fasilitas interaktif termasuk layanan audiovisual untuk membantu pengunjung mendapatkan pengetahuan.

Tak cuma mengenal sejarah, banyak juga pengunjung yang datang untuk berfoto. Benteng bersejarah itu memang memiliki arsitektur yang indah dan megah sehingga kerap diabadikan sebagai latar foto.

Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg. Foto: Putu Intan/detikcom

Jam Buka dan Harga Tiket

Museum Benteng Vredeburg buka Selasa-Minggu. Harga tiket bervariasi berdasarkan usia pengunjung. Berikut penjelasan lengkap mengenai jam buka dan harga tiket.

Jam Buka:

  • Selasa – Minggu : 07.30 – 16.00 WIB
Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg. Foto: Putu Intan/detikcom

Harga Tiket:

  • Wisatawan mancanegara : Rp 10.000
  • Wisatawan lokal
    – Dewasa perorangan : Rp 3.000
    – Dewasa rombongan : Rp 2.000
    – Anak-anak perorangan: Rp 2.000
    – Anak-anak rombongan : Rp 1.000

(pin/fem)



Sumber : travel.detik.com

Menanti Wajah Baru Museum Benteng Vredeburg



Yogyakarta

Museum Benteng Vredeburg sedang menjalani revitalisasi dan pemeliharaan. Seperti apa wajah baru museum di Yogyakarta ini ya?

Untuk mengoptimalkan fungsi Museum Benteng Vredeburg sebagai destinasi wisata edukasi dan ruang publik yang menyenangkan bagi masyarakat, program revitalisasi dan pemeliharaan pun dilakukan oleh Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya (MCB) atau Indonesia Heritage Agency (IHA).

Proyek transformasi Museum Benteng Vredeburg meliputi revitalisasi infrastruktur dengan pembaruan dan pemeliharaan area terbuka, serta ruang tata pamer museum.


Selanjutnya, pembangunan fasilitas pengunjung seperti museum shop dan ruang anak pun dilakukan, untuk mengoptimalkan pengalaman publik yang lebih edukatif dan interaktif.

Plt Kepala BLU Museum dan Cagar Budaya (MCB), Ahmad Mahendra menyatakan, transformasi Museum Benteng Vredeburg bertujuan untuk meningkatkan pengalaman pengunjung yang lebih baik lagi ke depannya.

“Kami berharap museum ini tidak hanya menjadi ruang edukasi sejarah, tetapi menjadi tempat yang nyaman untuk rekreasi. Untuk itu, MCB terus berkomitmen untuk terus mendukung transformasi museum yang profesional melalui berbagai agenda revitalisasi untuk menjadikan museum sebagai ruang yang nyaman untuk semua,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Senin (11/3/2024).

Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg Foto: (dok. IHA)

Museum Benteng Vredeburg terletak di Kota Yogyakarta. Museum ini memiliki lebih dari 7.000 benda bersejarah, mulai dari peralatan rumah tangga sampai peralatan perang.

Menempati bangunan kolonial yang dibangun pada tahun 1760, museum yang beralamat di Jalan Margo Mulyo No 6 ini menjadi destinasi wisata sejarah yang memiliki nilai historis dan edukatif bagi para pengunjung.

Selama proses revitalisasi, Museum Benteng Vredeburg akan tutup dari tanggal 4 Maret 2024. Kendati demikian, bagi publik yang ingin mengeksplorasi koleksi museum dapat mengakses kegiatan “Vredeburg Virtual Visit” yang diselenggarakan setiap hari Senin untuk umum atau individu dan Rabu untuk kelompok atau sekolah pukul 09.00-11.00 WIB secara gratis.

Penanggung Jawab Unit Museum Benteng Vredeburg, M. Rosyid Ridlo menjelaskan, rencananya museum secara fisik akan kembali dibuka untuk publik dengan wajah barunya pada pertengahan tahun 2024.

“Walau secara fisik museum tutup, tetapi kami tetap hadir secara virtual. Hal ini penting bagi kami, karena tugas kami adalah untuk membuka akses masyarakat terhadap bangunan, artefak dan benda bersejarah yang dapat diolah menjadi produk pengetahuan sejarah dan berguna untuk pemahaman bangsa mengenai warisan budaya Nusantara dan semangat perjuangan bangsa Indonesia,” tutupnya.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Rekomendasi 5 Museum Sejarah untuk Pelajar Biar Makin Pintar



Jakarta

Masih dalam semangat Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni 2024, berikut rekomendasi 5 museum sejarah untuk pelajar biar mereka jadi makin pintar.

Dengan belajar sejarah di 5 museum ini, para pelajar dan mahasiswa bisa mengenal dan mempelajari lebih dalam tentang perjalanan sejarah Indonesia.

Berikut 5 rekomendasi museum sejarah yang dapat dikunjungi oleh para pelajar dan mahasiswa:


1. Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta

Museum Kebangkitan Nasional di Jakarta menempati bangunan bersejarah yang dahulu merupakan sekolah kedokteran pertama di Indonesia yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda, STOVIA.

Sebagai saksi lahirnya organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908, tempat ini tidak hanya menjadi tempat pendidikan, tetapi juga menjadi tempat lahirnya semangat kebangsaan di kalangan pemuda Indonesia.

Pengunjung dapat mengeksplorasi ruang-ruang asrama dan kuliah yang menggambarkan semangat kebangsaan serta mengikuti sesi edukasi yang memberikan pemahaman mendalam tentang sejarah kebangkitan nasional.

2. Museum Sumpah Pemuda, Jakarta

Museum Sumpah Pemuda di Jakarta mengabadikan peristiwa bersejarah pada 28 Oktober 1928, saat para pemuda dari berbagai daerah Indonesia bersumpah untuk bersatu. Dikelola oleh IHA, museum ini menampilkan koleksi berharga termasuk biola WR.Supratman yang digunakan untuk mengumandangkan lagu “Indonesia Raya” pertama kali.

Pameran foto dan dokumen asli dari era pergerakan pemuda, serta rekonstruksi asrama pemuda, memberikan pengunjung gambaran mendalam tentang semangat persatuan dan perjuangan para pemuda Indonesia.

Museum ini menawarkan pameran interaktif dan program edukasi yang menekankan pentingnya semangat kebangsaan dan persatuan.

3. Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta

Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jakarta, yang terletak di sebuah bangunan bergaya Art Deco, merupakan saksi bisu perumusan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 16 Agustus 1945.

Dikelola oleh IHA, museum ini menyimpan artefak penting termasuk mesin tik yang digunakan untuk mengetik naskah proklamasi. Pameran di museum ini menggambarkan proses perumusan secara komprehensif dan menampilkan lebih dari seribu benda bersejarah terkait perjuangan kemerdekaan.

Museum ini tidak hanya menjadi tempat pengenalan tokoh-tokoh proklamasi tetapi juga pusat kontemplasi sejarah yang edukatif dan menghibur, memperkaya pemahaman pengunjung tentang momen-momen bersejarah tersebut.

4. Museum Perjuangan, Yogyakarta

Museum Perjuangan di Yogyakarta, yang diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada tahun 1961, didirikan untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Terletak di pusat kota, museum ini memamerkan koleksi yang menggambarkan semangat kebangkitan nasional dan perjuangan para pejuang kemerdekaan.

Museum PerjuanganMuseum Perjuangan Foto: (dok. IHA)

Dikelola oleh IHA, museum ini menawarkan pameran yang memberikan nuansa sejarah inspiratif dan mengajak pengunjung untuk menggali lebih dalam tentang perjuangan nasional.

Selain sebagai pusat kajian sejarah, museum ini juga berfungsi sebagai ruang publik untuk berbagai kegiatan masyarakat, memperkuat spirit perjuangan bangsa dan menjaga agar api perjuangan terus menyala di hati setiap anak bangsa.

5. Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta

Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta merupakan peninggalan kolonial tertua yang menawarkan pengalaman wisata sejarah yang komprehensif.

Awalnya dibangun sebagai markas pertahanan oleh Belanda, kini museum ini dikelola oleh IHA dan menampilkan narasi sejarah dari era Diponegoro hingga Orde Baru.

Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg Foto: (dok. IHA)

Koleksinya yang terdiri dari lebih dari 7.000 benda bersejarah, termasuk artefak yang digunakan oleh tokoh proklamator Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta, memberikan wawasan mendalam tentang perjuangan nasional.

Terletak strategis dekat Jalan Malioboro, museum ini juga menjadi destinasi wisata ikonik dengan ruang terbuka hijau yang asri dan program publik yang menarik, menjadikannya tempat belajar sekaligus rekreasi yang sempurna bagi pelajar dan wisatawan.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ulasan Destinasi Bersejarah di Jogja, dari Benteng Vredeburg-Monjali



Yogyakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), seperti namanya kota ini begitu istimewa dan selalu punya cerita. Yogyakarta juga punya andil besar dalam kemerdekaan RI dengan bukti tinggalan sejarahnya.

Berbagai situs bersejarah terkait perjuangan rakyat Indonesia mengusir penjajah masih terawat. Bahkan, kini ada museum untuk mengenang perjuangan itu.

Bangunan atau tempat bersejarah bahkan dibuka sebagai tempat wisata. Mulai dari peninggalan keraton sampai penjajahan Belanda, wisata sejarah Jogja punya banyak pilihan.


5 Wisata Sejarah Jogja

1. Museum Benteng Vredeburg

Museum Benteng Vredeburg, Jogja. Foto diunggah pada Selasa (10/10/2023).Museum Benteng Vredeburg, Jogja. (Anandio Januar-Novi Vianita/detikJogja)

Lokasi: Jl. Margo Mulyo No.6, Ngupasan, Kec. Gondomanan, Kota Yogyakarta

Buka: Setiap hari Selasa – Minggu (08.00 WIB – 15.00 WIB)

Harga tiket masuk: Rp 2.000 (anak), Rp 3.000 (dewasa), dan Rp 10.000 (turis asing)

Museum Benteng Vredeburg dibangun pada 1765 oleh pemerintah Belanda. Museum ini awalnya adalah benteng pertahanan dari serangan Kraton Yogyakarta.

Di dalam museum ini, kamu akan menemukan sejumlah koleksi, seperti diorama yang menceritakan perjuangan rakyat pra-proklamasi, bangunan-bangunan peninggalan Belanda, serta benda-benda bersejarah lainnya yang sangat khas dengan budaya masa lalu.

2. Situs Warungboto

Situs Warungboto Jogja. Foto diambil Senin (3/9/2023).Situs Warungboto Jogja. (Anandio Januar/detikJogja)

Lokasi: Jalan Veteran No. 77, Kalurahan Warungboto, Kêmantrèn Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

Buka: Setiap hari (08.00 WIB – 17.00 WIB)

Harga tiket masuk: Gratis

Situs Warungboto merupakan wisata sejarah yang memiliki banyak nama lain, yakni Umbul Warungboto, Pesanggrahan Warungboto, dan Pesanggrahan Rejowinangun. Banyaknya nama ini bisa jadi karena situs ini berada di dua kalurahan yang berbeda.

Dikutip dari website resmi Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, situs bersejarah ini dulunya dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono II ketika beliau sedang menjadi putra mahkota pada periode 1765-1792. Selain menjadi tempat beristirahat, Pesanggrahan Rejowinangun juga merupakan sebuah benteng pertahanan dari sisi timur Keraton Ngayogyakarta.

Pesanggrahan ini juga dilengkapi dengan taman, segaran, kolam, dan kebun di sisi timur. Sementara, di sisi barat merupakan kompleks bangunan berkamar dan dua kolam pemandian.

3. Keraton Yogyakarta

Keraton YogyakartaKeraton Yogyakarta (Pradita Utama/detikTravel)

Lokasi: Jl. Rotowijayan Blok No. 1, Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta

Buka: Setiap hari (08.30 WIB – 14.00 WIB)

Harga tiket masuk: mulai dari Rp 5.000 – Rp 15.000 per orang.

Salah satu wisata sejarah di Jogja yang wajib kamu kunjungi tentu saja Keraton Yogyakarta. Tempat wisata sekaligus salah satu ikon kota ini memiliki nama asli Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Hingga kini, istana ini masih dihuni oleh para keturunan raja-raja Yogyakarta.

Tidak hanya melihat bangunan bersejarah saja, kamu juga bisa menyaksikan berbagai pertunjukan atau upacara adat yang masih sering dilakukan oleh pihak keraton. Jika masuk ke dalam, kamu juga akan menemukan barang-barang pusaka peninggalan zaman dulu.

Barang-barang pusaka tersebut misalnya seperti kereta kencana, keris, tombak, ampilan, panji-panji, pelana kuda, dan regalia. Tak heran, lokasi ini juga sudah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia.

4. Taman Sari Keraton Yogyakarta

Wisatawan berfoto di halaman Tamansari Yogyakarta, Sabtu (26/6/2021). Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan HB X menutup sementara wisata milik Keraton Yogyakarta antara lain Museum Kereta Keraton, Kompleks Pagelaran, Keben/Kompleks Kedhaton (Museum Keraton), Tamansari, serta Puralaya Imogiri dan Kotagede selama satu pekan mulai Sabtu (26/6) hingga Jumat (2/7) untuk menekan penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/rwa.Wisatawan berfoto di halaman Tamansari Yogyakarta, Sabtu (26/6/2021). (Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko)

Lokasi: Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta

Buka: Setiap hari (09.00 WIB – 15.00 WIB)

Harga tiket masuk: Rp 5.000 per orang.

Wisata sejarah di Jogja lainnya yang wajib kamu kunjungi adalah Kampung Wisata Taman Sari. Bangunan yang sudah ada sejak abad ke-17 ini dibangun pada masa kesultanan Hamengkubuwono I dengan lama waktu pengerjaan sekitar 9 tahun (1758 hingga 1765).

Dulunya, bangunan ini memiliki luas awal 10 hektar dengan 57 bangunan, yang terdiri dari kompleks kolam pemandian, pulau buatan, danau buatan, jembatan gantung, taman, lorong bawah tanah, kanal air, serta beberapa gedung dengan beragam arsitektur.

Kini, salah satu bangunan yang masih tersisa dan bisa kamu nikmati adalah masjid bawah tanah. Masjid yang sangat populer di kalangan wisatawan ini sukses menjadi spot favorit untuk mengabadikan momen liburan yang menyenangkan.

5. Monumen Yogya Kembali

Pemasangan bendera raksasa di Monumen Yogya Kembali (Monjali), Rabu 29 Juni 2016Pemasangan bendera raksasa di Monumen Yogya Kembali (Monjali), Rabu 29 Juni 2016 (Sukma Indah P/detikcom)

Lokasi: Jl. Ring Road Utara, Jongkang, Sariharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman

Buka: Setiap hari Selasa – Minggu pukul 08.00 – 16.00 WIB.

Harga tiket masuk: mulai dari Rp 10.000 – Rp 15.000 per orang.

Museum ini mulai dibangun pada 29 Juni 1985 dan diresmikan pada 6 Juli 1989 oleh Presiden Soeharto.

Museum ini didirikan dengan tujuan untuk memperingati peristiwa sejarah ditariknya tentara kolonial Belanda dari Ibu Kota Yogyakarta pada 29 Juni 1949, yang sekaligus juga menjadi penanda berfungsinya kembali Kota Yogyakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia yang direbut dari penjajah Belanda.

Gagasan awal pendirian Museum Monjali disampaikan oleh Kolonel Sugiarto dalam peringatan Yogya Kembali yang diselenggarakan pada 29 Juni 1983.

Keunikan Museum Monjali terletak pada struktur bangunannya. Bangunan Monjali berbentuk kerucut yang terdiri dari 3 lantai. Bentuk bangunan yang unik ini sangat ikonik dan telah menjadi ciri khas dari Museum Monjali.

Selain itu, keunikan lain dari Museum Monjali adalah bangunan induk museum yang dikelilingi oleh kolam ikan.

(bnl/fem)



Sumber : travel.detik.com