Tag Archives: museum di bali

Ini Pusat Edukasi Lontar Indonesia: Museum Pustaka Lontar



Karangasem

Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban bertekad menjaga kelestarian naskah lontar yang sudah berusia ratusan tahun. Museum ini dianggap sebagai pusat edukasi lontar di Indonesia.

Lontar merupakan catatan literasi yang menggunakan daun ental sebagai media penulisannya. Sebelum digunakan sebagai media lontar, daun ental harus melalui rangkaian proses panjang hingga bisa digunakan untuk menulis.

Lontar biasanya ditulis menggunakan pengrupak, semacam pisau khusus untuk menulis di atas daun ental. Untuk menimbulkan warna hitam, digunakan tingkih atau kemiri bakar. Lontar ditulis menggunakan aksara Bali.

Dibangun pada bulan Maret 2017 dan rampung pada Agustus 2017, Museum Pustaka Lontar berlokasi di Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem, Bali. Dari Kota Denpasar, traveler cukup menempuh waktu sekitar 1 jam 50 menit untuk dapat sampai di Museum Pustaka Lontar.

Museum Pustaka Lontar adalah sebuah kompleks museum yang menyimpan ribuan koleksi catatan yang ditulis di atas daun lontar kering. Semua catatan ini usianya sudah tua bahkan ratusan tahun, yang isinya mulai dari tata cara kehidupan ritual hingga keseharian masyarakat Bali. Semua catatan ini pun masih dijadikan pedoman aturan di masyarakat adat Bali.

Kehadiran Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban tak hanya menjadi destinasi wisata budaya, namun kini menjelma menjadi pusat edukasi lontar di Karangasem, Bali.

I Dewa Ayu Puspita Padni, guru Bahasa Bali SMP 5 Amlapura, mengaku ia dan siswa di sekolahnya sering berkegiatan di Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban.

“Kami dari sekolah sering berkegiatan di museum ini. Mulai dari nyurat lontar di sini, melakukan persiapan lomba, dan melakukan rekaman jika ada lomba secara online,” kata dia.

Menurut I Dewa Ayu Puspita Padni kehadiran Museum Pustaka Lontar sangat bermanfaat bagi sekitar, terutama untuk edukasi generasi muda terkait budaya ngerupak dan nyurat aksara Bali.

“Kalau kami di sekolah, perlu contoh dan motivasi dari tempat lain. Kebetulan museum ini memiliki koleksi lontar yang lengkap, itu cukup menjadi contoh dan acuan untuk kami dalam menularkan tradisi ngerupak,” dia menjelaskan.

Sebagai salah satu tenaga pendidik, I Dewa Ayu Puspita Padni berpesan untuk tidak memandang sebelah budaya lontar dan sastra Bali. Meskipun di tengah perkembangan teknologi, sastra dan aksara Bali tidak akan pernah tenggelam.

“Secanggih apapun teknologi sekarang, tulisan yang dihasilkan dengan tulisan tangan di atas daun lontar tak akan pernah terkalahkan taksunya. Setiap goresan tangan akan diikuti dan dijiwai oleh sang penulis, itu taksu tersendiri dari lontar dan sastra Bali,” ujarnya.

Ternyata tak hanya menjadi wisata edukasi Budaya, kehadiran Museum Pustaka Lontar telah menjelma sebagai pusat edukasi lontar khususnya bagi masyarakat Kabupaten Karangasem. Bagi traveler pecinta budaya, Museum Pustaka Lontar adalah destinasi yang wajib traveler kunjungi.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Museum Pustaka Lontar, Wisata Edukasi Rumahnya Lontar Bali



Karangasem

Bali timur tak hanya menawarkan keindahan alam yang menawan. Ternyata ada museum tersembunyi, pusatnya lontar Bali. Namanya Museum Pustaka Lontar di Desa Adat Dukuh Penaban.

Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban adalah museum komunitas karena dibangun oleh warga desa adat Pakraman Dukuh Penaban. Pembangunan museum mulai dilaksanakan pada bulan Agustus 2017.

Berdiri pada lahan seluas 1,5 hektar, museum hidden gems ini menyimpan ribuan koleksi catatan yang ditulis di atas daun lontar kering. Bahkan semua catatan ini usianya sudah tua, ada yang berusia sekitar 400 tahun.

Museum Pustaka Lontar menyimpan berbagai lontar yang isinya mulai dari tata cara kehidupan ritual hingga keseharian. Semua catatan ini pun masih dijadikan pedoman aturan di masyarakat adat Bali.

Bendesa Adat Dukuh Penaban, I Nengah Suarya, menjelaskan kehadiran Museum Pustaka Lontar memiliki banyak tujuan. Salah satunya adalah pusat wisata edukasi dan pelestarian lontar.

“Tujuan utamanya adalah membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Tapi saat melihat kondisi banyaknya lontar warga yang hancur, kita juga fokus ke pelestarian dan penyelamatan lontar,” dia menjelaskan.

Selain itu, menilik niat pembangunan museum tersebut ternyata Museum Pusaka Lontar dibangun untuk mencegah pemuda merantau. Ya, pembangunan Museum Pusaka Lontar sekaligus menjadi salah satu upaya membuka lapangan pekerjaan bagi warga kampung itu.

“Pendirian museum dilatarbelakangi oleh realita masyarakat desa. Saya melihat masyarakat yang masih SMA sudah berpikir untuk merantau. Saat itu, masyarakat kita sudah tua-tua juga, sedangkan di desa adat ada tradisi yang memang harus kita lakukan setiap tahun,” ujarnya.

Secara turun-menurun, warga Desa Adat Dukuh Penaban merupakan petani penggarap. Belakangan keinginan anak muda untuk merantau sangat kuat.

“Kami di prajuru adat memiliki kekhawatiran juga, bagaimana jika semua masyarakat keluar merantau sementara ada hal yang harus kita lakukan di desa. Karena persoalan ekonomi yang menyebabkan anak-anak ingin merantau. Sehingga, kami berpikir untuk membuka lapangan kerja,” kata I Nengah Suarya.


Daya Tarik Museum Pustaka Lontar

Berkunjung ke museum yang satu ini, traveler akan diajak masuk untuk menjelajahi jaman dulu. Arsitektur bangunan yang masih menggunakan batu bata dengan bangunan-bangunan khas Bali, seperti Bale Sang Kul Putih, Pewaregan, dan Bale Daja.

Bintang utama sekaligus daya tarik dari Museum Pustaka Lontar terletak dari koleksi lontar yang dimiliki museum ini. Traveler yang merupakan generasi muda tentu masih asing dengan bentuk dan wujud lontar.

Di Museum Pustaka Lontar, Traveler akan mendapatkan culture experience dan edukasi untuk mengenal lontar sebagai sumber ilmu pengetahuan. Traveler akan melihat catatan dari masa lalu yang hingga saat ini masih relevan dengan kehidupan masyarakat Bali.

Yang tak boleh traveler lewatkan adalah pengalaman menyurat langsung nama traveler di atas lontar dan di pajang di Bale Daja.

“Nah di sini uniknya, kita tidak hanya mengedukasi saja, namun juga memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk menulis atau menyurat langsung nama mereka di lontar yang sudah kami sediakan dan akan kami pajang di Bale Daja,” ujarnya.

Lokasi, Jam Operasional, dan Harga Tiket Museum Pustaka Lontar

Museum Pustaka Lontar berlokasi di Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem, Bali. Dari Kota Denpasar, traveler cukup menempuh waktu sekitar 1 jam 50 menit untuk dapat sampai di Museum Pustaka Lontar. Dapat diakses menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Museum ini buka setiap hari mulai pukul 08.30 – 16.30 WITA. Traveler tak dipatok untuk harga tiket masuk karena di Museum Pustaka Lontar masih menerapkan sistem donasi. Ketika berkeliling, traveler akan ditemani dengan seorang tour guide dari museum ini.

“Selama ini kita masih menggunakan sistem donasi dan sudah include dengan tour guide. Namun, kemungkinan ke depan kami akan merancang untuk menetapkan harga tiketnya,” katanya.

Museum Pustaka Lontar memiliki beberapa fasilitas seperti Balai Pertemuan, ruang pameran, Balai Asta Brata, open stage, bale daja, dan dapur. Museum ini juga memiliki fasilitas camp, cocok untuk traveler yang ingin bermalam di sini.

Mau mengisi liburan dengan aktivitas yang anti mainstream, yuk berkunjung ke Museum Pustaka Lontar!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Cocok Banget untuk Museum Date: Museum Pasifika



Badung

Traveler bisa museum date saat jalan-jalan di Badung, Bali. Yakni, di Museum Pasifika.

Museum Pasifika merupakan salah satu museum yang menyimpan dan menampilkan karya para maestro kondang di berbagai belahan dunia. Mulai dari maestro lokal hingga internasional.

Laksmi, direktur marketing Museum Pasifika, menuturkan nama Museum Pasifika bermakna museum untuk karya seni Pasifik dan Asia. Berbagai karya seni seperti lukisan dan patung tentang Asia Pasifik.

“Pertama, pasti banyak yang penasaran sebenarnya museum ini tentang apa sih, kadang ada yang mikir tentang laut. Nah sebenarnya, Museum Pasifika ini adalah museum untuk karya seni dari Asia Pasifik, seperti lukisan dan patung,” kata Laksmi.

Penasaran dengan kisah Museum Pasifika komplit dengan daya tariknya. Berikut informasi menarik yang wajib traveler simak mengenai Museum Pasifika.

Tentang Museum Pasifika

Museum Pasifika, yang terletak di kompleks Nusa Dua dengan luas bangunan mencapai 9.000 meter persegi, menjadi salah satu monumen seni yang megah di Bali. Dibangun di atas tanah seluas 12.500 meter persegi pada tahun 2006 oleh arsitek terkemuka Bali, yaitu Popo Danes.

Dengan visi yang ambisius, Museum Pasifika memadukan seni dari wilayah Pasifik dan Asia di bawah satu atap. Museum yang satu ini memiliki visi untuk menjadi museum kelas internasional.


Museum Pasifika di Badung, BaliMuseum Pasifika di Badung, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Misi Museum Pasifika berfokus pada beberapa aspek, pertama museum ini ingin menjadi internasional tourism attraction, bahkan sudah memboyong gelar Best of The Best kategori museum dari TripAdvisor tahun 2022 dan 2023.

Misi kedua berfokus pada pendidikan, terutama pada aspek edukasi seni. Dan terakhir berfokus pada budaya. Museum Pasifika melestarikan karya seni yang hampir punah, bahkan Laksmi mengaku pihaknya membeli kembali karya seni yang sudah dilelang di luar negeri.

Sejak awal pembukaannya, museum ini telah menjadi rumah bagi ratusan koleksi seni, menyelenggarakan berbagai acara dan pameran untuk mempromosikan keanekaragaman budaya Bali kepada mata internasional.

Daya Tarik Museum Pasifika

Berkunjung ke museum akan membawa traveler bak menjelajahi masa lalu. Lewat berbagai karya seni lukisan dan patung dengan gaya khas setiap negara. Kalau di Museum Pasifika, traveler bisa menemukan banyak daya tarik dan keunikannya, berikut ringkasan dari detikTravel.

1. Memiliki 11 Ruangan

Museum Pasifika memiliki 8 paviliun dan 11 ruang exhibition dengan tema dan konsep yang berbeda-beda. Mulai dari ruangan I adalah Indonesian room, ruangan II Italian room, ruangan III Dutch room, ruangan IV French room, ruangan V Indo-European room, ruangan VI art exhibition KTT G20 Summit, ruang VII Indochina room, ruangan VIII adalah Asia room, ruangan IX Vanuatu Pacific room, ruangan X Polynesia room, dan terakhir ruangan XI adalah exhibition room.

2. Simpan Karya Raden Saleh

Museum Pasifika menjadi salah satu museum yang menyimpan karya Raden Saleh asli terbanyak.

“Dengan bangga kita menyebut kalau Museum Pasifika menjadi salah satu museum yang memiliki karya Raden Saleh banyak. Total ada enam karya. Sebanyak lima karya dipajang di ruangan I dan satu karya di ruangan IV,” ujar Laksmi.

3. Punya 1200 Karya Seni

Museum Pasifika yang sudah berdiri sejak 2006 ternyata menyimpan sekitar 1200 karya. Namun karya yang dipajang dan ditunjukkan kepada pengunjung hanya sekitar 600 karya.

Terdiri dari karya seni lukisan, patung, dan benda-benda antik lainnya. Karya seni yang ada adalah karya dari 150 seniman yang berasal dari 30 negara. Beberapa pelukis terkenal yang karyanya ada di Museum Pasifika adalah Paul Gauguin, Raden Saleh, dan Le Mayeur.

4. Memecahkan Rekor MURI, Lukisan Kisah Ramayana Terbesar

Tahun 2024, Museum Pasifika baru saja mendapatkan sertifikat dari MURI. Museum satu ini memiliki lukisan Ramayana terbesar di Indonesia. Berukuran 6m x 4m dan merupakan karya dari I Gusti Ketut Kobot.

5. Ada Audio Guide

Kalau traveler mau berkeliling museum sambil mengetahui cerita dari masing-masing ruangan dan karya. Berbeda dari museum pada umumnya yang menggunakan penjelasan berupa tulisan. Museum Pasifika memiliki audio guide yang bisa menemani traveler saat berkeliling museum.

Traveler hanya perlu memindai qr code yang ada di depan ruangan atau pada masing-masing karya. Nanti akan muncul rekaman suara yang berisi cerita karya. Menarik ya, dijamin nggak akan bosen!

6. Banyak Spot Foto Estetik

Nggak cuma menyimpan karya seni dari Asia dan Pasifik, museum satu ini juga memiliki banyak spot foto estetik. Setiap sudutnya estetik dan instagramable. Traveler bisa menggunakan lukisan-lukisan yang ada sebagai latar belakang foto, terutama lukisan berukuran 6m x 4m.

Aktivitas Menarik di Museum Pasifika

Berkunjung ke Museum Pasifika, traveler dijamin nggak akan bosen. Banyak aktivitas yang bisa dicoba, dijamin bikin betah deh!

1. Berkeliling Museum

Aktivitas utama dan wajib traveler lakukan ketika berkunjung adalah berkeliling museum. Traveler bisa mengunjungi 11 ruangan, ditemani dengan audio guide. Laksmi menyebut, dengan adanya audio guide membuat pengunjung nggak akan bosan saat berkeliling museum.

2. Lomba Menggambar

Saat detikTravel menyambangi Museum Pasifika, terdapat ratusan anak sekolah yang sedang melaksanakan lomba menggambar. Menurut Laksmi, ini merupakan salah satu bentuk implementasi misi Museum Pasifika dalam bidang pendidikan.

3. Kelas Membatik dan Melukis

Kalau ingin mendapatkan pengalaman yang berbeda, traveler bisa mencoba beberapa kelas, seperti kelas membatik, melukis, dan lainnya. Untuk mencoba kelas ini, traveler akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 450.000/orang.

Lokasi, Jam Operasional, dan Harga Tiket Masuk
Museum Pasifika memiliki lokasi yang strategis, tepatnya di Komplek Bali Tourism Development Corporation (BTDC) Area Blok P, Benoa, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali.

Museum Pasifika berlokasi tidak terlalu jauh dari Kota Denpasar, sekitar 20 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 40 menit menggunakan kendaraan. Jika traveler berangkat dari Bandara Internasional Ngurah Rai yang hanya berjarak 13 kilometer, hanya akan memakan waktu sekitar 23 menit.

Museum ini buka setiap hari mulai pukul 10.00 – 18.00 WITA. Harga tiket yang ditawarkan pun cukup terjangkau, mulai Rp 10 ribu untuk pelajar, Rp 100 ribu untuk wisatawan internasional, dan Rp 70 ribu untuk wisatawan domestik.

Sebagai museum kelas internasional, fasilitas yang ditawarkan oleh Museum Pasifika juga nggak kalah lengkap. Ada garden dengan kapasitas event 500 orang, kafe, toilet, tempat parkir, dan lainnya.

Laksmi menyebut pengelola museum juga sering mengadakan promo-promo menarik. Traveler yang kepo, boleh berkunjung ke akun media sosial Instagram @museumpasifika.

Untuk traveler yang ingin museum date atau mencoba berwisata, Museum Pasifika sip banget untuk jadi destinasi yang wajib traveler kunjungi. Ingat patuhi aturan yang ada ya traveler!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Museum Pasifika Punya 11 Ruangan, Intip Keunikannya



Badung

Berdiri sejak 2006, Museum Pasifika menjadi rumah karya seni Asia dan Pasifik. Sebagai museum kelas internasional, Museum Pasifika punya 11 ruangan, komplit dengan karya seni cantik dan audio guide.

Laksmi, direktur marketing Museum Pasifika, menuturkan nama Museum Pasifika bermakna museum untuk karya seni Pasifik dan Asia. Berbagai karya seni seperti lukisan dan patung tentang Asia Pasifik.

Terletak di kompleks Nusa Dua dengan luas bangunan mencapai 9.000 meter persegi, menjadi salah satu monumen seni yang megah di Bali. Dibangun di atas tanah seluas 12.500 meter persegi pada tahun 2006 oleh arsitek terkemuka Bali Popo Danes.

Museum Pasifika terdiri dari delapan paviliun dan 11 ruang dengan tampilan koleksi yang berbeda-beda hasil karya 150 seniman kondang dari 30 negara. Setiap ruangan memiliki keunikan masing-masing, loh.

Berikut simak konsep unik setiap ruangan:

1. Indonesian Room (Ruangan I)

Ruangan 1 khusus menampilkan karya maestro asal Indonesia. Karya spesial yang ada di ruangan ini adalah 5 lukisan karya Raden Saleh. Museum Pasifika menjadi salah satu museum di Indonesia yang memiliki karya Raden Saleh asli yang banyak.

Di ruangan Indonesia ini menampilkan karya beberapa maestro, seperti Affandi, Raden Saleh, Ida Bagus Nyoman Rai, Hendra Gunawan, dan sebagainya

2. Italian Room (Ruangan II)

Ruangan II menampilkan karya seni seniman Italia di Indonesia. Di sini dipamerkan karya seni dari Gilda Ambron dan Renato Cristiano yang menampilkan lukisan perempuan pada masa penjajahan Belanda. Selain itu, terdapat karya dari maestro Piero Antonio Garriazo yang menggambarkan pemandangan perkampungan zaman dulu dan pemandangan sawah dalam lukisannya.


3. Dutch Room (Ruangan III)

Ruangan III ini berfokus untuk menampilkan lukisan pada zaman penjajahan karya pada seniman Belanda. Di sini terdapat diorama yang menggambarkan kehidupan pelukis Belanda yang tinggal di Indonesia pada masa lampau, seperti Paulides, Isaac Israel, Willem Gerard Hofker, dan lainnya.

Laksmi menyebut karya Isaac Israel tentang penari Jawa Raden Mas Jodjana merupakan karya masterpiece yang ada di ruangan III.

4. French Room (Ruangan IV)

Di sini dipajang lukisan karya seniman Perancis yang dulunya tinggal di Indonesia, seperti Paul Gerrard, Pierre Sicard, dan Lea Lafugie, yang ditandai dengan kehadiran makna dalam yang tersirat dalam karya-karya mereka. Terdapat pula 1 karya seni Raden Saleh, karena Raden Saleh mempelajari lukisan itu di Prancis.

5. Indo-European Room (Ruangan V)

Ruangan ini menampilkan koleksi lukisan dari seniman Eropa, termasuk dari Jerman, Swedia, dan Inggris. Di samping itu, terdapat pula koleksi surat tulisan dari Ir. Soekarno kepada Le Mayeur, seorang seniman Belgia, yang meminta kesediaannya untuk mengajar melukis kepada calon seniman muda Indonesia, Basuki Abdullah.

Laksmi menyebut di sini terdapat Lukisan Le Mayeur yang paling besar di Bali. Ia menyebut Le Mayeur hanya membuat 8 lukisan besar, dan salah satunya ada di ruangan V, Museum Pasifika.

6. Art Exhibition KTT G20 Summit (Ruangan VI)

Ruangan ini menampilkan karya I Gusti Kobot, salah satu karya seni yang mendapatkan Rekor MURI sebagai lukisan kisah Ramayana terbesar di Indonesia. Dengan ukuran 6m x 4m. Pun ruangan ini menjadi ruang art exhibition KTT G20.

7. Indochina Room (Ruangan VII)

Di ruangan ini, terpampang karya seniman dari Laos, Vietnam, Kamboja, dan Hongkong. Lukisan-lukisan yang dipamerkan memiliki kesamaan dengan corak budaya Indonesia, memberikan kesan yang akrab bagi pengunjung.

8. Asia Room (Ruangan VIII)

Di sini traveler juga bisa menemukan beberapa karya seni dari Singapura, Tibet, Jepang, China, Thailand, Malaysia, dan Philipines.

9. Vanuatu Pacific Room (Ruangan IX)

Karya dari negara kepulauan di Pasifik ini ditampilkan di ruangan ini. Kebanyakan karyanya berupa patung, artefak, peninggalan perahu kayu dan ragam lainnya. Laksmi menyebut di ruangan ini terdapat tiga tengkorak manusia asli, komplit dengan ceritanya.

10. Polynesia Room (Ruangan X)

Karya berupa patung, artefak, baju besi perang, perahu bekas dan lainnya dari Oseania dan Samudera Pasifik ada di ruangan ini. Terdapat beberapa patung besar karya Polgogang dari Tahiti.

11. Exhibition Room (Ruangan XI)

Ruangan ini menyimpan beberapa lukisan, salah satunya lukisan besar tentang Jepang karya Bernard Buffet. Terdapat karya seni dari India, China, dan Pacific Oceania.

Tak perlu khawatir, ketika traveler berkeliling museum, terdapat audio guide yang berisi rekaman suara penjelasan masing-masing ruangan dan karya. Jadi dijamin nggak bakal bosan deh!

Jadi kapan nih traveler berkunjung ke Museum Pasifika. Nggak Cuma menyimpan karya seni zaman dulu, tapi cocok untuk museum date dan banyak spot fotonya juga loh!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

5 Fakta Kebon Vintage Cars dan Jam Operasional



Jakarta

Kebon Vintage Cars Bali di Denpasar, Bali dibuka untuk umum, lho. Jam operasional dan harga tiketnya bisa cek di sini ya.

Tempat itu menjadi rumah 190 mobil klasik milik Jos Dharmawan, yang seorang pehobi ratusan mobil klasik. Dia mulai hobi mengoleksi mobil klasik sejak 1996.

Jos mengatakan awalnya ia hanya memiliki sebuah garasi pribadi untuk menyimpan seluruh koleksi mobilnya, kemudian dibuka untuk umum setelah pandemi Covid-19.


Kini, Kebun Vintage Cars mengoleksi 190 mobil antik. Namun, total mobil antik yang sudah dimiliki oleh Jos sekitar 250 mobil antik. Sebagian sedang disiapkan untuk masuk ke Kebun Vintage Cars.

Beberapa mobil yang dapat traveler temukan di sini adalah Dodge Brothers Spesial Series 116 Four Door tahun 1924, Austin A90 Atlantic tahun 1949-1952, Packard 200 8 cyline tahun 1951, Cadillac Fleetwood 75 Limousine tahun 1953, serta Volvo 960 Limousine tahun 1991.

Tak hanya menjadi ‘rumah’ ratusan mobil antik, setiap sudut garasi mobil ini sip banget untuk jadi spot foto.

Simak fakta-fakta yang menjadi daya tarik Kebon Vintage Cars. Simak juga harga tiket dan jam operasionalnya.

Daya Tarik Kebon Vintage Cars

1. Menyimpan 190 Mobil Antik

Jos, pemilik Kebun Vintage Cars, mulai menggeluti hobi mengoleksi mobil antik pada 1996. Hingga kini, Kebun Vintage Cars sudah mengoleksi 190 mobil antik yang dipajang.

Tidak semua mobil antik milik Jos disimpan di sana. Dia memiliki 250 mobil antik dan sedang disiapkan mengisi setiap sudut Kebun Vintage Cars.

Beberapa mobil yang dapat traveler temukan di sini seperti, Dodge Brothers Spesial Series 116 Four Door tahun 1924, Austin A90 Atlantic tahun 1949-1952, Packard 200 8 cyline tahun 1951, Cadillac Fleetwood 75 Limousine tahun 1953, serta Volvo 960 Limousine tahun 1991.

2. Ada Mobil Berusia 107 Tahun

Salah satu mobil tertua yang ada di Kebon Vintage Cars adalah Ford model T berwarna biru, keluaran tahun 1917. Uniknya lagi, mobil berwarna biru yang sudah berusia 107 tahun itu masih bisa menyala dan digunakan.

3. 50% Mobil Masih Menyala

Dari 190 mobil yang ada di Kebon Vintage Car, 50% mobil masih bisa menyala dan 30% mobil di sini juga masih bisa digunakan. Bahkan, tak jarang mobil-mobil antik ini dibawa untuk mengikuti touring ke berbagai daerah.

“Nah mobil di sini 50% masih bisa hidup, tapi untuk yang bisa hidup dan jalan itu 30% dari semua mobil. Kadang kita bawa untuk touring juga, tapi akan dicek dulu kondisinya agar aman jika dibawa touring jauh,” kata Jos.

4. Simpan Mobil Milik Ibu Negara Indonesia, Fatmawati

Beberapa mobil antik yang dipajang di Kebon Vintage Cars Bali memiliki kisah tersendiri. Salah satunya mobil berwarna hitam dengan merek Plymouth Hudson Hornet keluaran tahun 1948.

Pada Surat BPKB nya tertera nama Fatmawati yang merupakan istri presiden RI pertama, Sukarno. Mobil ini didapatkan oleh Jos pada tahun 2006 dengan harga Rp 9 juta.

5. Spot Foto Estetik

Menampilkan ratusan mobil antik dengan warna dan bentuk yang beragam, membuat Kebun Vintage Cars juga cocok untuk spot foto. Tak hanya mobil, traveler juga akan menemukan beberapa barang antik.

Jos menyebut setiap sudut Kebun Vintage Cars sangat oke menjadi spot foto. Namun ia merekomendasikan beberapa spot, seperti di bagian outdoor terdapat beberapa mobil jeep dengan latar belakang drum dan dekat dengan box-box telepon zaman dulu.

Ruangan di Kebon Vintage Cars

Kebon Vintage Cars memiliki luas sekitar 8 are dan memiliki beberapa ruangan yang menjadi garasi bagi mobil-mobil klasik koleksi Jos Dharmawan. Mulai dari Hall 1, hall 2, hall 3, dan bagian outdoor.

Setiap ruangan memiliki koleksi mobil yang berbeda, sesuai dengan tahun dan mereknya. Ada hall khusus mobil pre-warr, hall khusus tahun 1940 hingga 1948, tahun 1950 hingga 1957, hall khusus truk, hingga hall khusus Chevrolet, dan hall khusus jeep.

Menurut Jos, isi dari setiap hall juga akan diubah atau dirotasi setiap tiga bulan. Jadi traveler akan menemukan konsep Kebon Vintage Cars yang berbeda setiap tiga bulan.

Lokasi, Jam Operasional, dan Harga Tiket Masuk

Garasi mobil klasik ini berlokasi tak jauh dari pusat Kota Denpasar, tepatnya di Jalan Tegal Harum No 13, Biaung, Desa Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur.

Untuk melihat berbagai koleksi mobil antik ini, setiap pengunjung dikenakan harga Rp 100.000 untuk dewasa, Rp 50.000 untuk anak-anak, dan gratis untuk anak di bawah enam tahun.

Kebon Vintage Cars buka setiap hari, mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WITA. Jos mengatakan bagi traveler yang berkunjung diperkenankan untuk menyentuh mobil. Namun dilarang untuk naik atau masuk ke dalam mobil, untuk menghindari kerusakan.

Sudah tau kan ada apa saja di Kebon Vintage Cars? Bagi traveler penghobi otomotif dan kolektor mobil klasik, Kebon Vintage Cars surganya mobil klasik. Jangan lupa selalu patuhi aturan ya traveler!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com