Tag Archives: museum sanghyang dedari

Unik! Museum Sanghyang Dedari, Simpan Cerita Magis Tarian Penolak Bala



Karangasem

Museum Sanghyang Dedari menyimpan berbagai cerita magis di balik tarian sakral Sanghyang Dedari. Mulai dari properti hingga proses pementasan.

Museum ini bisa terbilang hidden gem. Berlokasi di Banjar Dinas Geriana Kauh, Desa Duda Utara, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali, museum ini menyuguhkan tema yang unik dengan mengangkat tarian sakral bernama Sanghyang Dedari.

Menurut Bendesa Adat Geriana Kauh, I Nyoman Subrata, Museum Sanghyang Dedari, merupakan sarana edukasi bagi generasi muda tentang Tari Sanghyang Dedari, mulai dari properti yang digunakan hingga proses atau ritual pementasan.

“Museum ini sebagai pusat pembelajaran tentang keberadaan Tari Sanghyang di Bali. Ritual Sanghyang yang keberadaanya sudah sedikit, jadi di museum ini kita bisa melestarikan,” ujarnya.

I Nyoman Subrata menyebut Tari Sanghyang Dedari bermakna sebagai penolak bala. Tarian ini sudah diwarisi secara turun temurun. Menurut cerita, Tarian Sanghyang Dedari sudah ada sejak zaman pra-Hindu.

“Tarian ini adalah sebuah proses penurunan roh dewa dewi yang kemudian memberikan anugerah kepada warga khususnya petani. Sesuai makna dan fungsi, tarian ini sebagai penolak bala. Khususnya bagi petani agar padi mereka bisa tumbuh subur,” ujar dia.

Inspirasi Museum Sanghyang Dedari bermula ketika pengabdian masyarakat dari mahasiswa UI yaitu Ibu Saras Dewi yang melakukan riset terkait Tari Sanghyang Dedari. Kemudian, pada 2016 disepakati dan turun pendanaan untuk membangun museum ini. Museum Sanghyang Dedari resmi dibuka pada 2019.

“Ide awal itu dari pengabdi UI itu, setelah melakukan riset dan berhasil. Akhirnya terbesit untuk melakukan sesuatu untuk melestarikan kembali ritual sakral ini,” kata Subrata.

Jika dilihat dari konsepnya, Museum Sanghyang Dedari adalah museum yang unik. Hingga saat ini, museum ini adalah satu-satunya museum yang menyajikan dengan lengkap terkait Tari Sanghyang Dedari yang sakral.

Belum banyak yang tau, Tari Sanghyang Dedari merupakan salah satu ritual penanaman padi taun. “Keunikan dari museum ini, anda bisa melihat koleksi tentang keberadaan ritual Sanghyang Dedari, khususnya dengan petani yaitu penanaman padi taun, yang merupakan padi khas desa di sini,” kata Subrata.

Kaitan Tari Sanghyang Dedari, yang sangat erat dengan proses penanaman padi taun, membuat di dalam museum ini traveler juga bisa melihat aneka peralatan pertanian tradisional yang lengkap. Contohnya seperti alat pemotong padi bernama ani-ani.

Pementasan Tari Sanghyang Dedari hanya dipentaskan pada saat ritual tertentu dan hanya dipentaskan di Desa Adat Geriana Kauh. I Nyoman Subrata menyebut tak menutup kemungkinan bagi traveler untuk menyaksikan pementasan Tari Sanghyang Dedari. Bagi traveler yang tertarik bisa berkunjung ke museum ini pada bulan April.

“Sangat boleh sekali ditonton, tapi harus mengikut aturan. Minimal menggunakan adat madya, pakaian yang menutupi dan pakai selendang,” kata Subrata.

Kaitan Tari Sanghyang Dedari yang sangat erat dengan proses penanaman padi taun, membuat di dalam museum ini traveler juga bisa melihat aneka peralatan pertanian tradisional yang lengkap.

Bagi traveler yang tertarik berkunjung ke Museum Sanghyang Dedari, hingga saat ini pengelola tidak mematok biaya tiket masuk, namun menerapkan sistem donasi.

Tak perlu khawatir, jika berkunjung ke sini traveler akan ditemani langsung dengan guide atau petugas dari yayasan yang akan menemani traveler berkeliling di sini. Traveler bisa berkunjung ke Museum Sanghyang Dedari setiap hari mulai pukul 08.00 – 16.00 WITA.

Museum Sanghyang Dedari juga akan mengembangkan pembangunan Balai Budaya. I Nyoman Subrata menjelaskan bahwa Balai Budaya nantinya akan digunakan untuk kegiatan anak-anak dalam mengembangkan bakatnya. Seperti menari dan mempelajari ritual gending Sanghyang.

(fem/iah)



Sumber : travel.detik.com

Museum Sanghyang Dedari di Bali Muncul Berkat Ide Mahasiswa UI



Karangasem – Museum Sanghyang Dedari merupakan salah satu museum unik, menyuguhkan ritual Sanghyang Dedari. Namun, siapa sangka, awal mula museum ini adalah mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang melakukan penelitian.

Bukan soal benda bersejarah, Museum Sanghyang Dedari ternyata menyimpan berbagai cerita dari Tari Sanghyang Dedari yang sangat sakral. Traveler akan menemukan berbagai properti yang digunakan pada ritual tari ini. Tak hanya itu, proses pementasan pun dijelaskan secara detail.

Bendesa Adat Geriana Kauh, I Nyoman Subrata, menjelaskan pendirian Museum Sanghyang Dedari berawal dari mahasiswa UI bernama Saras Dewi. Dia melakukan riset terkait Tari Sanghyang.

“Awal mula didirikan museum ini, diawali oleh pengabdian masyarakat mahasiswa UI bernama Saras Dewi pada 2016. Beliau melakukan riset terkait Tari Sanghyang ini,” kata dia.

Museum Sanghyang Dedari di Desa Adat Geriana Kauh, Karangasem, BaliMuseum Sanghyang Dedari di Desa Adat Geriana Kauh, Karangasem, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti)

Pendirian Museum Sanghyang Dedari mulanya bertujuan untuk melestarikan Tari Sanghyang Dedari yang hampir punah. Pelestarian ini dilakukan pada naskah-naskah terkait Tari Sanghyang Dedari.

Akhirnya, pada 2016 dilakukan diskusi dan kesepakatan untuk membangun museum ini. Subrata menyebut pembangunan Museum Sanghyang Dedari didanai oleh pemerintah dan berkolaborasi dengan Desa Adat Geriana Kauh.

Pembangunan Museum Sanghyang Dedari sempat terhenti pada tahun 2017 karena terjadi bencana alam gunung meletus. Walau sempat terhenti, akhirnya Museum Sanghyang Dedari dibuka secara resmi pada tahun 2019.

Menurut riset yang dilakukan oleh Saras Dewi, terdapat 25 jenis Tari Sanghyang, namun hingga saat ini tidak banyak lagi ritual Sanghyang yang ada di Bali. Salah satu yang masih eksis adalah Tari Sanghyang Dedari.

Sebagai kekayaan budaya Desa Adat Geriana Kauh, Subrata berharap museum ini menjadi daya tarik wisata dan memberikan imbas positif khususnya dalam bidang ekonomi untuk masyarakat desa.

“Saya dan warga desa berharap ini bisa dijadikan daya tarik untuk desa. Bisa memberikan imbas positif khususnya bidang ekonomi bagi warga desa. Mengingat kondisi desa kami yang hanya berjarak 9 kilometer dari puncak Gunung Agung,” kata Subrata.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com