Tag Archives: muslim traveler

Ini Masjid Tertua di Padangsidimpuan, Konon Dibangun dalam 24 Jam



Padangsidimpuan

Kota Padangsidimpuan di Sumatera Utara punya masjid tertua. Konon Masjid Syech Zainal Abidin ini dibangun hanya dalam waktu sehari semalam atau 24 jam.

Berdasarkan keterangan di laman cagar budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov Sumut, masjid ini dibangun pada tahun 1880. Masjid ini menjadi paling tua di Kota Padangsidimpuan.

“Masjid Syech Zainal Abidin dibangun tahun 1880 dan merupakan masjid tertua di Kota Padangsidimpuan,” seperti dikutip pada Jumat (16/2/2024).


Syech Zainal Abidin merupakan ulama dan sufi terkemuka di wilayah Tapanuli bagian Selatan. Dia lahir pada tahun 1810 dan meninggal dunia pada tahun 1903.

Jenazahnya dimakamkan tidak jauh dari lokasi masjid tersebut. Masjid Syech Zainal Abidin sendiri terletak di Desa Pudun Jae, Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua, Kota Padangsidimpuan.

Masjid ini dibangun tanpa menggunakan semen seperti umumnya bangunan zaman sekarang. Bangunan Masjid Syech Zainal Abidin ini dibuat dari tanah liat, telur ayam, batu dan tanah kapur.

Masjid ini dibangun dalam waktu sehari semalam atau 24 jam. Sebanyak 50 orang bergotongroyong untuk membangun masjid ini.

“Bangunan ini dahulunya dibangun hanya dalam tempo waktu 24 jam dengan pekerja lebih dari 50 orang,” terang laman tersebut.

Masjid Syech Zainal Abidin memiliki warna hijau di bagian atap dan dinding berwarna putih. Dinding masjid tersebut dibuat dengan ketebalan 60 centimeter.

Gaya Arab-Jawa melekat dalam ornamen masjid yang memiliki kapasitas 100 jemaah ini. Masjid tersebut memiliki satu pilar besar di bagian tengah. Sedangkan di bagian luar terdapat 8 pilar untuk menopang masjid.

Konon banyak keberkahan terjadi selama proses pembangunan masjid ini. Seperti adanya pekerja yang sembuh dari penyakit kelumpuhan setelah ikut gotong royong membangun masjid ini.

Pemkot Padangsidimpuan kemudian menetapkan Masjid Syech Zainal Abidin ini sebagai cagar budaya pada 2014. Penetapan tersebut berdasarkan Peraturan Daerah nomor 04 tahun 2014.

——

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah 2 Kepala Harimau di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon



Cirebon

Di Cirebon, ada masjid kuno berusia ratusan tahun, yaitu Masjid Sang Cipta Rasa. Di bagian mimbarnya, ada 2 kepala harimau bermakna filosofis. Seperti apa?

Imam Besar Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon, KH Muhammad menuturkan, Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang hingga kini masih berdiri tegak dibangun oleh para Wali Songo dengan tempo sehari semalam pada tahun 1480.

“Masjid ini sudah berusia ratusan tahun yang dibangun oleh para wali dibantu 500 orang dari kerajaan Demak, Majapahit dan Cirebon,” terangnya, Rabu (13/3/2024).


Secara arsitektur, ia menjelaskan, bila bangunan masjid ini sudah berkonstruksi anti gempa. Hal itu ditandai dengan tidak ada cabang pada pondasi masjid.

“Kalau melihat dari pondasi yang tidak memiliki cabang bangunan masjid ini anti gempa,” ucapnya.

Selain itu, terdapat banyak juga ornamen dari berbagai etnis di masjid ini sebagai tanda pluralisme mulai dari negara Arab, Cina, dan Portugis.

“Masjid ini punya beberapa ornamen mulai dari negara Arab, Cina, sama Portugis. Sudah sejak lama Cirebon dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi ditandai dengan sejumlah ornamen yang ada di rumah ibadah,” terangnya.

Alasan penamaan masjid tidak menggunakan bahasa Arab, Jumhur menyampaikan karena sebagai simbol nilai pluralisme yang dijunjung tinggi oleh para wali.

“Penamaan masjid pun tidak menggunakan bahasa Arab karena mengikuti zamannya karena sebagai bukti pluralisme,” ujarnya.

Sedangkan di sudut lain, tepatnya pada bagian mimbar, terdapat dua kepala harimau yang memiliki makna filosofi tersendiri.

“Mimbar Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki keunikan dimana terdapat dua kepala harimau yang terletak di bawah mimbar. Hal ini sebagai bila sudah berbicara harus berani untuk mempertanggungjawabkan,” tegasnya.

Inilah sepenggal bukti akan penyebaran agama islam di kota Udang dan romantisme Sunan Gunung Jati terhadap sang istrinya. Masjid Agung Sang Cipta Rasa.Masjid Agung Sang Cipta Rasa Foto: Sudirman Wamad

Uniknya lagi, jumlah pintu di masjid ini tidak hanya satu. Melainkan terdapat sembilan pintu dengan desain sederhana namun mempunyai makna yang cukup dalam.

“Kenapa ada 9, karena setiap wali memiliki pintu masuk masing-masing,” paparnya.

Masjid yang didesain langsung oleh Sunan Kalijaga ini banyak memiliki keunikan lainnya. Seperti rendahnya ukuran pintu masjid, ia menuturkan karena memiliki pesan untuk merendahkan diri sebelum menghadap sang kuasa.

“Makna pintu rendah itu jangan sombong kepada sang kuasa apalagi kalau mau menghadap-Nya,” bebernya.

Aktivitas di Masjid Sang Cipta Rasa Selama Bulan Ramadan

Selama bulan Ramadan, biasanya masjid ini selalu dipadati oleh jamaah yang melaksanakan ibadah wajib maupun sunnah.

Tidak sedikit juga jamaah yang melakukan tadarus Al Qur’an selama bulan suci Ramadan. Biasanya pada sore hari dan setelah menjalankan ibadah shalat tarawih.

Bilamana sudah masuk pada malam Lailatul Qodar biasanya masjid ini lebih padat lagi dibandingkan sebelumnya. Pasalnya banyak dari jamaah yang melakukan itikaf di masjid yang satu ini.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Siapa Sangka, Masjid Megah Bergaya Timur Tengah Ini Ada di SPBU Tasikmalaya



Tasikmalaya

Siapa sangka, masjid megah dengan gaya Timur Tengah ini berada di sebuah SPBU di Tasikmalaya. Seperti apa penampakannya?

Tempat ibadah menjadi salah satu fasilitas dasar SPBU di samping toilet, isi angin ban dan lainnya. Di Kota Tasikmalaya, ada salah satu masjid SPBU yang mencuri perhatian, karena bangunan masjidnya megah dan tampak estetik.

Masjid tersebut bernama Masjid Jami Al Hidayah yang berada di kompleks SPBU 34.46128 Cikurubuk yang terletak di Jalan EZ Muttaqin Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya.


Banyak masyarakat pengguna jalan di Tasikmalaya dan sekitarnya yang terkesan dengan keindahan arsitektur masjid berkelir putih ini, hingga menjadi magnet bagi warga untuk singgah dan beribadah.

Kesan megah langsung muncul ketika pertama kali masuk ke area SPBU yang tak jauh dari Pasar Cikurubuk ini. Masjid dua lantai tersebut langsung mencuri perhatian.

Masjid SPBU di Kota Tasikmalaya bergaya Timur Tengah.Masjid SPBU di Kota Tasikmalaya bergaya Timur Tengah. Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar

Konstruksi bangunan masjid dua lantai ini terlihat kokoh, gaya arsitekturnya mirip masjid di Timur Tengah. Ornamen-ornamen hiasan bangunan terlihat cantik dengan dominasi warna putih.

Satu kubah besar dengan lafaz Allah SWT menyembul di bagian atas bangunan, seakan menegaskan bahwa bangunan megah ini adalah rumah Allah SWT.

Beberapa batang pohon kurma terlihat menghiasi pelataran masjid, semakin menambah keindahan lanskap juga memperkuat suasana Timur Tengah.

Hawa sejuk dan adem langsung terasa ketika memasuki masjid ini. Sistem ventilasi bangunan ditata dengan baik, ditambah lantai marmer mengkilap boleh jadi turut membuat bagian dalam masjid terasa adem.

Pembangunan masjid ini rupanya belum 100 persen selesai, masih ada beberapa pekerja yang terlihat mengerjakan bagian-bagian detail bangunan. Meski demikian masjid ini sudah dapat digunakan.

“Sudah dipakai, salat Jumat, salat tarawih sudah ramai,” kata salah seorang jamaah.

Masjid SPBU di Kota Tasikmalaya bergaya Timur Tengah.Masjid SPBU di Kota Tasikmalaya bergaya Timur Tengah. Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar

Selain masjid yang megah, pihak pengelola juga sedang membangun toilet masjid yang desainnya tak kalah menarik. Desain toilet masjid yang dibangun terpisah itu juga mengusung konsep arsitektur Timur Tengah, sehingga tampak senada dengan bangunan masjid.

Rizal petugas pengawas SPBU Cikurubuk mengatakan pembangunan atau renovasi masjid ini sengaja dilakukan oleh majikannya pemilik SPBU.

“Iya dibangun oleh Bu Haji Tiktik, majikan kami yang punya SPBU ini,” kata Rizal.

Dia menjelaskan renovasi masjid dilakukan mulai tahun 2023 lalu.

“Asalnya memang masjid, kemudian direnovasi. Pembangunannya terbilang cepat. Hanya setahun sudah jadi semegah ini, waktu di awal-awal pembangunan pekerjanya banyak sekali,” kata Rizal.

Rizal menambahkan majikannya sengaja membangun masjid megah untuk melaksanakan wasiat atau pesan mendiang suaminya.

“Jadi katanya renovasi masjid ini untuk melaksanakan pesan almarhum Pak Haji Wawan, suaminya. Lebih dari itu ya sebagai fasilitas ibadah bagi pelanggan SPBU dan masyarakat,” kata Rizal.

Rizal mengakui banyak masyarakat yang terpikat oleh kemegahan masjid ini. Banyak yang menjadikan masjid ini sebagai spot foto atau dijadikan konten media sosial.

“Ya memang jadi ramai, banyak yang singgah. Banyak yang foto-foto, apalagi kalau malam kan indah sekali. Tapi ada satu larangan yaitu bagi mereka yang mau foto prewedding, itu tidak boleh,” kata Rizal.

Larangan dijadikan lokasi pemotretan pasangan pranikah itu, menurut Rizal karena dianggap melanggar etika kesopanan di dalam masjid.

“Masalahnya sering kali pasangan foto prewedding itu berfoto mesra, padahal mereka kan belum suami istri. Makanya kami melarang masjid ini digunakan untuk prewedding,” kata Rizal.

—–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ini Pondok Pesantren Tertua di Kota Malang, Usianya Sudah 225 Tahun



Malang

Inilah pondok pesantren tertua di Kota Malang. Usianya sudah 225 Tahun. Namanya Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) atau lebih dikenal dengan Pondok Gading.

Pondok Gading baru saja menerima anugerah pesantren tertua dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada 31 Januari 2023 lalu. Anugerah ini diberikan karena Pondok Gading masuk 8 besar ponpes tertua se-Indonesia.

Putra pengasuh Pondok Gading, Gus Fuad Abdurrohim Yahya mengatakan, pondok Gading dirikan oleh KH Hasan Munadi pada tahun 1768 atau usianya saat ini sudah 255 tahun. Setelah KH Hasan Munadi meninggal, pondok gading di asuh oleh KH Ismail.


Penerus pengasuh pondok saat itu KH Muhammad Yahya bersama para santri juga turut berperan dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di Surabaya. Cerita itu didapatkan oleh Gus Fuad dari abahnya, berdasarkan kisah para pejuang yang berada di lapangan.

Pada saat itu juga pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yakni, Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad pada 10 November 1945.

“Beliau (KH Muhammad Yahya) ikut berperang mempertahankan kemerdekaan di Surabaya, sewaktu bersama Bung Tomo, Insya Allah bersama santrinya juga. Karena saat itu banyak santri dari pondok-pondok di Jatim, Jateng dan Jabar ikut (berperang) melawan sekutu di Surabaya,” kata Gus Fuad.

Saat itu, para santri ponpes dididik sesuai ajaran NU yakni Hubbul Wathon Minal Iman atau slogan yang artinya ‘cinta tanah air atau nasionalisme bagian dari iman’. Para santri tidak diajarkan ilmu agama Islam semata saja tetapi juga dipraktekkan melawan penjajah.

Pondok Gading pasca kemerdekaan RI juga memiliki gebrakan kepada para santri laki-lakinya untuk menyeimbangkan antara ilmu agama dengan pendidikan umum. Para santri laki diperbolehkan untuk bersekolah umum hingga saat ini.

“Pada saat itu ponpes yang membebaskan santrinya untuk bersekolah umum adalah hal yang jarang di temui, mungkin khawatir akan adanya paham-paham yang tidak sesuai dapat mempengaruhi ajaran agama yang sudah diperoleh,” ujarnya.

Kebijakan ponpes saat itu bisa dibilang cukup berani karena berbeda dengan lainnya. Namun, tetap ada batasan waktu, seperti diperbolehkan sekolah pada pagi hari dan setelahnya kembali ke ponpes.

Selama mengasuh pondok Gading, KH Muhammad Yahya selalu mewanti-wanti para santrinya agar tidak salah dalam niatnya.

Sampai sekarang, pesan itu diteruskan oleh putra-putranya. Kini, Pondok Gading dikelola oleh pengasuhnya, yaitu KH Ahmad Arief bersama keluarga besar generasi keempat.

Ajaran-ajaran yang ada juga sesuai paham NU Ahlussunnah Waljamaah, kitab-kitab KH Hasyim Asy’ari juga dikaji di Pondok Gading.

Selain itu, seperti ponpes pada umumnya juga diajarkan alquran, ilmu Fiqih, Tauhid, Sejarah, Tasawuf, Nahwu, Shorof dan lainnya.

“Kita juga mengajarkan ilmu Hisab untuk menentukan awal puasa, kemudian hari raya, waktu shalat, terkadang jelang Ramadan berbagai pihak menghubungi Pondok Gading bertanya kapan waktu mulai puasanya, juga Idul Fitri biasanya ada perbedaan waktu penentuan, itu juga tanyanya ke kami,” bebernya.

Total ada 600 santri, terdiri 500 laki dan 100 perempuan yang mondok di Pondok Gading. Rata-rata para santri laki berstatus sebagai mahasiswa.

“Di sini santri ada yang masih usia SMP, SMA, kuliah, bahkan ada juga yang sudah bekerja, tetapi 50 persen mahasiswa. Untuk sekolah formal di lingkungan pondok hanya Madrasah Diniyah saja, untuk lainnya sekolah formal dibebaskan memilih di luar,” ungkapnya.

Selain itu, beberapa alumnus Pondok Gading juga rata-rata berkontribusi bagi negara. Seperti Wali Kota Malang, Sutiaji, kemudian salah satu Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Kyai Haji Robikin Emhas yang juga Staf Khusus Wakil Presiden RI dan lainnya.

“Juga ada bapak As’ad Malik yang pernah menjadi Bupati Lumajang, di Kementerian juga banyak alumnus kita disana, Insya Allah lulusan Pondok Gading ini banyak yang berkontribusi untuk negara,” pungkasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Pohon Kantil Ini Jadi Saksi Bisu Masjid Berusia 4 Abad di Klaten



Klaten

Di Klaten, ada sebuah masjid yang konon usianya sudah 4 abad. Saksi bisunya adalah sebuah pohon kantil yang tumbuh di depannya. Begini kisahnya:

Masjid Roudlotuzzahidin yang berada di Dusun Tegalarum, Desa Kunden, Kecamatan Karanganom, merupakan salah satu masjid tua yang tersisa di Klaten. Masjid tersebut konon didirikan sekitar tahun 1000 H atau 1581 Masehi pada masa kesultanan Pajang, Solo, 443 tahun silam.

Jejak masjid tua itu terlihat dari arsitektur di dalamnya. Ada empat tiang kayu jati utuh yang menjadi penopang utama bangunan masjid meski temboknya kini tampak keramik.


Pada bagian atapnya, bangunan masjid ini menggunakan kayu. Bangunan Masjid Roudlotuzzahidin ini mirip Masjid Golo dan Masjid Kajoran di sekitar kompleks makam Sunan Pandanaran, Desa Paseban, Kecamatan Bayat.

Lalu di sisi utara masjid masih terdapat kolam air sebagaimana masjid kuno umumnya. Kolam air tersebut masih dipertahankan meskipun tidak lagi digunakan untuk bersuci.

Arsitektur Masjid Roudlotuzzahidin di Tegalarum, Klaten. Banguna masjid ini diperkirakan berusia 443 tahun. Foto diambil Sabtu (30/3/2024).Kolam air di Masjid Roudlotuzzahidin Klaten Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Tak hanya kolam air, model bangunan masjid kuno juga terlihat dari pohon kantil tua di depan masjid. Pohon kantil berdiameter sekitar 80 sentimeter itu menyisakan kulit kayunya yang mengelupas karena usia.

Pohon yang memiliki berbagai mitos bagi masyarakat Jawa itu juga masih berdiri kokoh di badan jalan kampung. Pengurus masjid pun tak berencana menebang pohon kantil itu karena menjadi saksi bisu sejarah masjid berusia lebih dari 400 tahun ini.

“Usia masjid ini sudah 400-an tahun. Ini (pohon kantil) termasuk peninggalan karena ditanam bersamaan pendirian masjid,” kata Penasihat Takmir Masjid, Muhammad Asrori (80) dalam bahasa Jawa, Sabtu (30/3) akhir pekan lalu.

Sejarah Berdirinya Masjid

Asrori yang juga sesepuh masjid, Dusun Tegalarum dulunya berupa tegalan tanpa penduduk. Pada masa itu, tahun 1581 masa Kasultanan Pajang, Solo, ada seorang bangsawan yang meminta lokasi itu dijadikan tempat penyebaran agama Islam.

“Bangsawan itu minta diajari ngaji, kemudian meminta kepada Kiai Syarifuddin di Gading Santren (Desa Belang wetan, Kecamatan Klaten Utara) mengirim guru ngaji. Lalu dikirim Mbah Kiai Ahmad Mahrom ke sini,” tutur Asrori.

Asrori menerangkan Kiai Ahmad Mahrom lalu membersihkan tegalan yang ditumbuhi ilalang untuk didirikan masjid. Semakin lama pengajian semakin ramai sehingga santri membangun rumah di sekitar masjid.

“Terus santri buat rumah sekitar sini terus sampai sekarang pada bisa ngaji, ada sekolah ada pesantren. Makam Mbah Kiai Ahmad Mahrom di belakang masjid,” lanjut Asrori.

Asrori menuturkan masjid ini kini sudah dipugar dari bangunan aslinya. Dulunya ada tangga yang terbuat dari kayu papan dan mimbar yang kini sudah tidak ada. Namun, pohon kantil tua itu masih dipertahankan sebagai pengingat sejarah.

“Tidak ditebang karena untuk sejarah, karena bunga kantil banyak dan harum baunya, di sini dinamakan Tegalarum,” imbuhnya.

Arsitektur Masjid Roudlotuzzahidin di Tegalarum, Klaten. Banguna masjid ini diperkirakan berusia 443 tahun. Foto diambil Sabtu (30/3/2024).Masjid Roudlotuzzahidin di Tegalarum, Klaten. Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Penasihat masjid lainnya, Muhammad Busairi (79) menambahkan, dulunya mimbar masjid berasal dari kerajaan. Ada ukiran dan ada tongkatnya untuk khotbah.

“Ada tongkatnya, ukiran karena dari kerajaan tapi sudah rusak dan tidak ada lagi. Kalau bunga kantil dulu banyak yang cari ke sini,” kata Busairi.

Peninggalan lain, sebut Busairi, adalah kolam air untuk bersuci. Dia mengenang ada banyak orang yang mengambil air dari kolam itu untuk berbagai keperluan.

“Orang sakit dimandikan di sini, orang mau cari jabatan mandi ke sini. Tapi itu zaman dulu, ya hanya sebagai sarana, tapi sekarang sudah tidak ada,” terang Busairi.

——

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com