Tag Archives: nabi muhammad saw

Perabotan Emas-Sutra Tidak Dianjurkan Ada di Rumah Menurut Islam



Jakarta

Mengisi rumah dengan perabotan dan perlengkapan yang indah dan estetik menjadi hal yang sering kita pertimbangkan. Alih-alih mengutamakan fungsi, sisi keestetisan membuat penghuni rumah suka membeli barang atau sesuatu agar isi rumah kelihatan nampak mewah. Namun, hal tersebut justru sangat tidak dianjurkan oleh Islam.

Berdasarkan jurnal ilmiah yang berjudul “Islamic Values in The Design of Residential Internal Layout” yang ditulis oleh Mohd Akil Muhamed Ali, Mohd Farhan Md Ariffin, Mohd Nazri Ahmad, dan Shafiza Safie, Islam melarang umatnya menghias rumah dengan kemewahan, misalnya perlengkapan makan yang terbuat dari emas dan perak. Barang itu bisa berupa piring, cangkir, garpu, dan sendok.

Nabi Muhammad pernah bersabda “Barangsiapa minum di wadah yang terbuat dari emas atau perak maka hakikatnya dia sedang menuangkan api neraka Jahanam ke dalam perutnya.” (Hadis Sahih Mutaffaq ‘alaih)


Selain emas dan perak, dalam artikel disebutkan bahan lain yang juga sebaiknya dihindari adalah kain sutra. Bahan sutra yang digunakan pada seprai dan sarung bantal tidak dianjurkan bagi umat Islam. Namun, hal ini masih diperbolehkan bila dalam keadaan tertentu menyangkut masalah kesehatan.

Bahan emas, perak, serta sutra tersebut memang tidak dianjurkan Nabi Muhammad SAW untuk ada di perabotan rumah. Hal ini semata-mata bermaksud untuk tidak membangga-banggakan sesuatu yang dimiliki serta tidak bermewah-mewahan. Perabotan rumah sebaiknya bertujuan menurut fungsinya serta dapat memberikan ketenangan bagi penghuni rumah dengan senantiasa bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.

Selain bahan tersebut, ada juga barang yang sebaiknya tidak diletakkan di dalam rumah sebagai hiasan. Misalnya adalah lukisan berwujud makhluk hidup yang dipajang pada dinding. Tak hanya itu, patung atau pahatan yang berbentuk tiga dimensi menyerupai makhluk hidup juga dilarang oleh Islam. Keberadaan patung ini dapat menyebabkan malaikat tidak masuk ke dalam rumah. Namun, patung untuk boneka atau mainan masih diperbolehkan karena ditujukan sebagai mainan anak-anak.

(das/das)



Sumber : www.detik.com

Tradisi yang Pikat Ribuan Wisatawan



Jakarta

Setiap 10 Muharam, yang tahun ini bertepatan pada 6 Juli 2025, warga Kota Pariaman, Sumatera Barat menggelar Pesona Hoyak Tabuik Piaman.

Di balik dentuman tambur dan riuh rendah keramaian, terdapat belasan pasang tangan terampil merakit kayu, bambu, rotan, dan pernak-pernik menjadi ornamen setinggi belasan meter.

Tabuik adalah tradisi budaya dan keagamaan yang berasal dari Kota Pariaman, Sumatera Barat. Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat setempat setiap 10 Muharam untuk memperingati Hari Asyura, yaitu hari wafatnya Imam Husain Bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam perang Karbala.


Ornamen itu dibangun menyerupai burak. Burak diyakini umat muslim sebagai kendaraan Nabi Muhammad SAW saat Isra Miraj. Makhluk ini juga dipercaya membawa jasad cucu orang yang paling dimuliakan dalam islam yakni Husain Bin Ali yang mati dipenggal di Karbala oleh tentara Yazid Bin Muawiyah.

Karena dikisahkan membawa jenazah cucu kesayangan Nabi, maka di atas makhluk bersayap dan berkepala manusia itu terdapat wadah yang difungsikan sebagai keranda.

Foto udara puluhan ribu pengunjung menyaksikan tabuik dibuang ke laut di Pariaman, Sumatera Barat, Minggu (21/7/2024). Dua tabuik dihoyak dan dibuang ke laut dalam rangka memperingati Hari Asyura (10 Muharram) 1446 Hijriyah sekaligus masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) Kemenparekraf. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc.Foto udara puluhan ribu pengunjung menyaksikan tabuik dibuang ke laut di Pariaman, Sumatera Barat tahun lalu. Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Siang dan malam dengan cekatan para pembuat Tabuik menyelesaikan setiap tahapan agar tabuik dengan berat ratusan kilogram itu dapat selesai sebelum 10 Muharam. Mereka membuat berbagai komponen mulai dari rangka, badan burak, sayap, ekor, keranda, payung hingga hiasan dan pernik yang tidak saja untuk keindahan namun memiliki makna dan filosofi tersendiri.

Proses pembuatan yang panjang dan detail itu cerminan dari penghormatan dan kecintaan masyarakat terhadap tradisi yang berkembang di daerah itu semenjak abad ke-19 Masehi.

Ornamen yang merupakan representasi simbolik dari kendaraan burung dan keranda cucu Nabi Muhammad SAW itu dibuat tidak saja satu, namun dua. Masing-masing dibuat oleh kelompok berbeda yaitu Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang.

Keduanya saling menampilkan karya terbaik pada puncak kegiatan yakni saat prosesi Hoyak Tabuik, dan tabuik dilarung ke laut pada 10 Muharam.

Salah seorang perajin Tabuik Subarang, Ade Ratman (43), mengatakan dirinya sudah enam tahun membuat ornamen yang diangkat dan dihoyak (digoyang-goyang) oleh puluhan orang itu. Ilmu itu didapatkannya dari mengikuti orang-orang di kelompoknya saat membuat tabuik.

Menurut pemuda yang berprofesi sebagai perajin dan penjual suvenir tabuik itu, kesulitan dalam menyelesaikan ornamen tersebut yaitu saat membentuk burak. Hal tersebut karena tidak ada cetakan dan standar ukuran sedangkan badan makhluk itu direpresentasikan berlekuk.

Namun, kesulitan itu merupakan tantangan tersendiri karena bagian tersebutlah yang paling digemari oleh ribuan pasang mata. Sebab, orang ingin melihat representasi dari burung yang ditunggangi Nabi Muhammad SAW.

Foto udara puluhan ribu pengunjung menyaksikan tabuik dibuang ke laut di Pariaman, Sumatera Barat, Minggu (21/7/2024). Dua tabuik dihoyak dan dibuang ke laut dalam rangka memperingati Hari Asyura (10 Muharram) 1446 Hijriyah sekaligus masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) Kemenparekraf. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc.Tradisi Tabuik Pariaman Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Tidak hanya prosesi pelarungan tabuik, proses pembuatannya juga digemari oleh wisatawan. Biasanya tempat pembuatan tabuik akan banyak dikunjungi wisatawan pada malam hari.

Salah seorang wisatawan asal Padang Pariaman Muhammad Ari mengatakan dirinya sengaja membawa kedua anak dan istrinya ke lokasi pembuatan tabuik untuk mengenalkan bagaimana ornamen itu dibuat.

Ornamen yang kerap mereka lihat ketika melintasi salah satu persimpangan di Pariaman, Simpang Tabuik. Di persimpangan itu dibangun Tugu Tabuik dengan dihiasi lampu sehingga memancarkan cahaya saat malam.

Melihat proses pembuatan tabuik tersebut juga dapat menjawab rasa penasaran Ari dan keluarga bagaimana ornamen yang menarik ribuan wisatawan hingga rela berdesakan hanya untuk menyaksikan tabuik dihoyak dan dilarung ke laut itu dibuat.

Proses pembuatan ini juga ditawarkan oleh Pemerintah Kota Pariaman kepada wisatawan. Bahkan untuk menarik minat wisatawan menyaksikan kegiatan yang menguras energi, komunitas di daerah itu pernah menggelar kegiatan hiburan tradisional.

Selain itu, Pemerintah Kota Pariaman juga meminta pengelola penginapan untuk menjaga kesiapan kamar selama proses pembuatan tabuik hingga dibuang ke laut.

Tidak heran di lokasi pembuatannya, yaitu di rumah tabuik, terdapat sejumlah pedagang kaki lima yang memanfaatkan momen tersebut untuk mengais rezeki. Makanan dan minuman yang dijual tidak saja yang bersifat tradisional khas daerah namun juga makanan kekinian.

Prosesi Hoyak Tabuik serta pembuangan Tabuik ke laut juga membutuhkan puluhan orang yang bekerja sama dengan kompak. Sebab, dengan kekompakan itulah ornamen seberat 300 kilogram itu dapat diangkat dan dihoyak sehingga memukau ribuan wisatawan yang menyaksikan agenda tahunan di daerah itu.

Pemerintah Kota Pariaman bersama masyarakat menjadwalkan pelaksanaan Pesona Hoyak Tabuik Piaman pada tahun ini dimulai sejak 27 Juni hingga 6 Juli 2025. Menurut Wali Kota Pariaman Yota Balad, tabuik bukan hanya sekadar tontonan belaka. Lebih dari itu, tabuik merupakan warisan budaya turun temurun yang sudah berusia ratusan tahun dan harus terus dilestarikan.

“Jangan hubung-hubungkan tabuik dengan agama. Ini adalah tradisi,” ujarnya seperti dilansir dari Antara.

(ddn/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Endog-endogan Banyuwangi, Tradisi Memperingati Maulid Nabi



Banyuwangi

Untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW, masyarakat Banyuwangi punya tradisi endog-endogan. Tradisi ini merupakan salah satu warisan budaya Banyuwangi yang unik dan penuh makna.

Bagi masyarakat Banyuwangi, terutama komunitas Using, endog-endogan bukan sekadar perayaan, tetapi juga ungkapan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus sarana memperkuat syiar Islam di Bumi Blambangan.

Sejarah Tradisi endog-endogan

Dilansir dari Repository Unej, tradisi endog-endogan tercatat sudah ada sejak tahun 1777, masa ketika para misionaris VOC berusaha menyebarkan agama Nasrani di wilayah Banyuwangi. Pada masa itu, para ulama dan masyarakat setempat memanfaatkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai media dakwah.


Mereka merangkai telur rebus hias menjadi arak-arakan meriah yang kemudian dikenal sebagai tradisi endog-endogan. Keberadaan tradisi ini juga terkonfirmasi dalam Cathetan Raden Sudira pada awal 1930-an, hasil riset tentang Banyuwangi atas perintah peneliti Belanda Theodoore Pigeaud.

Dalam manuskrip yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Indonesia, disebutkan adanya hidangan ancak dan telur hias (endog-endogan) dalam perayaan Maulid Nabi, sebagaimana yang dikenal masyarakat Banyuwangi hingga kini.

Dalam cerita lisan masyarakat, yang dilansir dari arsip pemberitaan detikJatim, tradisi ini bahkan diyakini pertama kali dicetuskan KH Abdullah Faqih dari Cemoro, Songgon.

Menurut penulis buku Islam Blambangan, Ayung Notonegoro, setiap sisi tradisi endog-endogan memiliki nilai filosofis yang melambangkan ajaran Islam. Telur dengan tiga lapisannya mencerminkan Islam, Iman, dan Ihsan sebagai lapisan spiritual yang harus dimiliki seorang muslim.

Sejak awal kemunculannya, tradisi endog-endogan mengalami pasang surut. Ada masa ketika tradisi ini dijalankan meriah, ada masa ketika hampir terpinggirkan oleh arus modernisasi.

Namun, pada tahun 1995, pemerintah daerah Banyuwangi mulai memberi perhatian khusus dengan memasukkannya dalam agenda resmi pariwisata. Sejak itu, tradisi ini dikemas lebih menarik untuk memikat wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Kini, tradisi endog-endogan semakin berkembang. Arak-arakan berlangsung lebih terorganisir, hiasan telur semakin kreatif, dan fungsi sosialnya semakin kuat sebagai sarana mempererat kebersamaan warga.

Setiap wilayah di Banyuwangi bahkan memiliki ciri khas tersendiri dalam menghias jodang dan menggelar prosesi. Kondisi ini menunjukkan kekayaan budaya lokal yang tetap lestari.

Rangkaian Acara Tradisi Endog-endogan

Tradisi endog-endogan di Banyuwangi memiliki susunan acara yang sarat makna dan nilai kebersamaan. Setiap tahapannya mencerminkan kekayaan budaya Using, sekaligus semangat umat Islam dalam memperingati Maulid Nabi. Berikut rangkaian tradisi endog-endogan yang biasa digelar masyarakat Banyuwangi.

1. Persiapan Telur Hias dan Jodang
Warga menyiapkan ribuan telur rebus yang dihias beraneka warna. Telur-telur ini ditancapkan pada batang pisang atau jodang. Satu jodang biasanya memuat sekitar 50 telur, masing-masing ditempatkan dalam wadah kecil yang menarik.

2. Arak-arakan Telur Sambil Bersalawat
Pada hari pelaksanaan, warga mengenakan pakaian serba putih sebagai simbol kesucian. Mereka mengarak jodang telur keliling kampung sambil diiringi rebana, musik-musik Islami,dan melantunkan salawat Nabi Muhammad SAW. Ribuan warga dari berbagai penjuru berkumpul, melambangkan lima waktu salat wajib.

3. Tausiah dan Doa Bersama
Acara diisi dengan tausiah agama yang dilakukan para ulama. Tausiah ini mengingatkan makna peringatan Maulid Nabi dan nilai Islam, iman, serta ihsan yang disimbolkan telur dalam tradisi endog-endogan.

Sebagai penutup acara, warga duduk bersama menikmati nasi ancak-nasi dan lauk yang disajikan di nampan daun pisang untuk dimakan oleh 4-5 orang. Momen ini menjadi simbol keguyuban, gotong royong, dan persaudaraan antarwarga.

Artikel ini sudah tayang di detikJatim. Baca selengkapnya di sini.

(auh/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Prosesi Jejak Banon Keraton Yogya, saat Sri Sultan Menjadi Lambang Hijrah



Jakarta

Sri Sultan Hamengku Buwono X melakukan Jejak Banon yang sakral dan sangat langka pada Kamis (4/9/2025) malam. Prosesi yang dilaksanakan 8 tahun sekali ini adalah bagian dari tradisi Sekaten memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Jejak Banon punya makna sangat dalam.

“Prosesi Jejak Banon atau Jejak Beteng adalah tradisi sarat makna yang diwariskan turun-temurun. Tradisi ini melambangkan keberanian menapaki perubahan hidup berlandaskan ajaran Islam dan lahirnya tatanan masyarakat baru,” tulis Portal Pemerintah Daerah DI Yogyakarta dalam situsnya.


Jejak Banon artinya adalah menjejak atau menghancurkan tumpukan bata dalam bahasa Indonesia. Prosesi ini dilakukan di sisi selatan Masjid Gedhe, yang berada di kompleks Alun-alun utara Kasultanan Yogyakarta. Sri Sultan melangkahkan kaki di atas tumpukan batu batu ketika sudah dihancurkan.

Prosesi Jejak Banon saat Hajad Dalem Sekaten, Kamis (4/9/2025) malam. Prosesi ini dilakukan setiap delapan tahun atau sewindu sekali.Prosesi Jejak Banon pada Kamis (4/9/2025) malam Foto: dok. Humas Pemda DIY

Menurut Koordinator Rangkaian Prosesi Garebeg Mulud Dal 1959, KRT Kusumonegoro, Jejak Banon atau Jejak Beteng adalah simbol keberanian dan spiritualisme. Ketika itu, para leluhur berani menghadapi perubahan tanpa meninggalkan akar budaya yang dilanjutkan Sri Sultan sebagai pemimpin keraton saat ini.

Jejak Banon juga memiliki arti penting sebagai pengingat sejarah panjang dakwah Islam di Tanah Jawa. Penyebaran Islam dilakukan dengan cara damai dan bijaksana, sehingga ajaran bisa diterima seluruh lapisan masyarakat. Tidak heran ajaran Islam dan prosesi Jejak Banon masih lestari di Yogya.

Seluruh prosesi Jejak Banon dilakukan dalam suasana khidmat, tanpa mengurangi rasa penasaran masyarakat yang menyaksikan. Sri Sultan hadir dengan balutan baju takwa biru bermotif bunga di Kompleks Masjid Gedhe tepat saat Jejak Banon hendak dimulai. Sri Sultan yang juga Gubernur DI Yogyakarta ini hadir bersama para kerabat keraton.

Jejak Banon diawali dengan pembagian udhik-udhik berisi bunga, uang koin, dan biji-bijian. Masyarakat tampak antusias menerima bingkisan yang dipercaya membawa keberuntungan dan berkah ini. Setelah itu, Sri Sultan memasuki teras masjid untuk mengikuti tradisi pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW.

Riwayat yang dibacakan dalam bahasa Jawa ini dipimpin Kiai Penghulu Keraton. Tentunya, proses yang diyakini bertepatan dengan momen kelahiran Nabi Muhammad SAW ini dilakukan dengan khidmat dan hening penuh penghayatan.

Setelah Jejak Banon, gamelan Sekati Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga yang mengiringi proses dikembalikan ke keraton melalui prosesi Kondur Gangsa. Tahapan ini menandai berakhirnya perayaan Sekaten, sekaligus pengantar menuju puncak Garebeg Mulud Tahun Dal.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

Keraton Solo, Sejarah, Kedudukan, dan Perannya Kini



Jakarta

Keraton Solo merupakan salah satu kerajaan yang masih berdiri di Indonesia. Hingga saat ini, Keraton Solo masih memiliki peran penting bagi masyarakat Jawa Tengah, khususnya Surakarta.

Keraton Solo atau dikenal juga dengan Keraton Surakarta Hadiningrat merupakan salah satu keraton yang masih eksis di Jawa Tengah hingga saat ini. Berada di Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah, keraton ini menjadi simbol keberagaman budaya di Indonesia.

Apa saja fakta tentang Keraton Solo? Simak penjelasan berikut.


Sejarah Berdirinya Keraton Solo

Menurut laman resmi DPRD Kota Surakarta, asal-usul nama Surakarta berasal dari permainan kata Kartasura. Sementara itu, nama Solo berasal dari nama Desa Sala yang dipilih Pakubuwono II untuk tempat mendirikan kerajaan.

Penggunaan kata Surakarta biasanya digunakan dalam situasi formal atau pemerintahan, sedangkan Solo digunakan untuk jangkauan yang lebih umum.

Melansir arsip detikJateng, Keraton Solo tidak terlepas dari perkembangan Kerajaan Mataram yang didirikan Panembahan Senapati Ing Ngalogo pada 1575. Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645).

Berdasarkan catatan dari buku “Kitab Terlengkap Sejarah Mataram” karya Soedjipto Abimanyu. Sejarah Keraton Solo bermula dari Pakubuwono I yang dikenal sebagai sultan dari Keraton Kartasura.

Setelah Pakubuwono I wafat, tahta keraton kemudian digantikan oleh Pakubuwono II dengan gelar Susuhunan Paku Buwana Senapati Ing Alaga Abdul Rahman Sayidin Panatagama.

Sejarah mencatat, pada 1740 terjadi sebuah pemberontakan yang dilakukan oleh orang-orang Cina kepada VOC. Hal ini didasari oleh kebijakan VOC yang membatasi jumlah orang Cina di Batavia. Pemberontakan yang dilakukan oleh laskar Cina ini dikenal dengan peristiwa Geger Pecinan.

Konflik ini bermula dari perbedaan pendapat antara Sultan Pakubuwono II dan Sultan Hamengkubuwono I. Sultan Pakubuwono II memberikan dukungan kepada laskar Cina dengan mengutus patih Keraton Kartasura, Adipati Natkusuma.

Namun, dalam perlawanan itu, Pakubuwana II melihat bahwa peluang laskar Cina menang melawan VOC sangat kecil, terlebih setelah gagal menguasai Semarang. Pakubuwana II kemudian memilih untuk mundur dari pemberontakan tersebut dengan menarik Adipati Natkusuma dan mengasingkannya ke Sailon (Srilanka).

Prediksi Pakubuwana II ternyata meleset, laskar Cina berhasil memperkuat pertahanan dan berhasil menggaet dukungan dari Bupati Pati dan Grobogan. Bahkan, Cina mendeklarasikan Mas Garendi atau Sunan Kuning sebagai penguasa Kerajaan Mataram Kartasura.

Dengan bantuan dari VOC, Pakubuwana II berhasil mendapatkan kembali kerajaan yang sempat dikuasai para pemberontak. Setelah kejadian tersebut, Pakubuwana II memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Kartasura ke Desa Sala (Solo) dan mengganti nama kerajannya menjadi Keraton Surakarta. Secara resmi Keraton Surakarta berdiri pada 17 Februari 1745.

Setelah Pakubuwono II wafat, tahta kerajaan digantikan oleh putranya yang diberi gelar sultan Pakubuwana III. Mengikuti jejak sang ayah, Pakubuwana III mengabdikan diri kepada VOC.

Pada masa pemerintahan Pakubuwana III terjadi perang saudara antara Pakubuwana III dengan Raden Mas Said dan Mangkubumi. Peristiwa inilah yang kemudian membuat pecahnya Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta. Sultan Pakubuwana III menyetujui pembagian wilayah Surakarta kepada Mangkubumi yang kemudian menjadi Raja dari Keraton Yogyakarta dengan gelar Hamengkubuwono I. Kesepakatan ini kemudian dikenal dengan Perjanjian Giyanti.

Silsilah dan Raja-raja Keraton Solo

Melansir situs detikJateng, tercatat sudah ada setidaknya 12 raja yang memerintah Keraton Solo dari masa ke masa.

· Sri Susuhunan Pakubuwono II (tahun 1745-1749)
· Sri Susuhunan Pakubuwono III (tahun 1749-1788)
· Sri Susuhunan Pakubuwono IV (tahun 1788-1820)
· Sri Susuhunan Pakubuwono V (tahun 1820-1823)
· Sri Susuhunan Pakubuwono VI (tahun 1823-1830)
· Sri Susuhunan Pakubuwono VII (tahun 1830-1858)
· Sri Susuhunan Pakubuwono VIII (tahun 1859-1861)
· Sri Susuhunan Pakubuwono IX (tahun 1861-1893)
· Sri Susuhunan Pakubuwono X (tahun 1893-1939)
· Sri Susuhunan Pakubuwono XI (tahun 1939-1944
· Sri Susuhunan Pakubuwono XII (tahun 1944-2004)
· Sri Susuhunan Pakubuwono XIII (tahun 2004-2025)

Sri Susuhunan Pakubuwono XIII wafat pada Minggu (2/11/2025). Keraton solo mengonfirmasi akan menggelar Jumenengan atau penobatan raja baru pada Sabtu (15/11/2025).

Keraton menyatakan bahwa undangan Jumenengan Hajad Dalem Jumengeng Dalem Nata Binayangkare S.I.S.K.S Pakubuwono XIV sudah disebarkan. Upacara tersebut akan diadakan di Keraton Solo pukul 08.00 WIB.

“Menanggapi berbagai pertanyaan dan konfirmasi yang masuk, kami menyampaikan bahwa surat resmi mengenai pelaksanaan Hajad Dalem Jumengeng Dalem Nata Binayangkare S.I.S.K.S. Pakubuwono XIV yang beredar adalah benar dan sah dikeluarkan oleh Panitia Jumengeng Dalem Nata Binayangkare Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat,” ujar G.K.R Timoer Rumbai Kusuma Dewayani, putri tertua Pakubuwono XIII.

Raja baru yang akan dinobatkan menggantikan Pakubuwono XIII adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram atau lebih akrab dikenal dengan Gusti Purbaya.

Untuk mengisi kekosongan tahta, ditunjuk seorang Pelaksana Tugas (Plt) yang bertugas untuk mengawal administrasi keraton dan menghindari konflik internal. Saat ini, Plt yang ditunjuk adalah Kanjeng Gusti Panembahan Tedjowulan yang merupakan adik dari almarhum Pakubuwono XII.

Peran Keraton Solo di Zaman Modern

Di zaman modern, Keraton Solo telah berubah dari sistem politik tradisional menjadi salah satu pusat kebudayaan dan identitas lokal bagi masyarakat. Meski tidak memiliki kekuasaan secara administratif dalam sistem pemerintahan Indonesia, keraton tetap diakui sebagai simbol warisan budaya bangsa.

Secara politik, Keraton Solo memang tidak lagi berdaulat, tetapi secara kultural dan simbolik, ia masih berperan besar sebagai penjaga napas budaya Jawa dan jembatan antara masa lalu dengan masa kini.

Mengutip Antara, Kementerian Kebudayaan RI menyatakan komitmennya untuk memfasilitasi pemugaran aset dari cagar budaya di Indonesia untuk menjaga nilai sejarah dan budaya di Jawa agar tetap hidup, salah satunya Keraton Solo.

“Kami berharap aset budaya dan cagar budaya keraton ini dapat terus menjadi bagian dari kekayaan budaya nasional kita,” kata Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia dalam keterangan tertulis, dilansir detikNews.

Dalam hal ini, Keraton Solo berperan sebagai pusat pelestarian budaya keraton, pusat seni tradisional, upacara adat, dan pariwisata. Hal ini memberikan tantangan kepada pemerintah dalam melestarikan dan menjaga warisan budaya Indonesia.

Hingga kini, keraton masih aktif menyelenggarakan berbagai upacara adat dan ritual tradisional, seperti sekaten (peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan nuansa budaya Jawa-Islam), tedhak siten, kirab malam 1 Suro, dan berbagai pementasan tari klasik dan gamelan, serta jumenengan yang dijadwalkan pada akhir pekan ini.

Secara administratif, Keraton Solo berdiri sebagai pusat budaya yang tidak terkait dengan sistem pemerintahan di Indonesia. Namun, pemerintah tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi keberlangsungan dari Keraton Solo.

Mengutip penelitian “Kedudukan Keraton Surakarta Berdasarkan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Provinsi Jawa Tengah” menjelaskan bahwa Keraton Solo pernah diresmikan sebagai Daerah Istimewa pada 1945.

Namun pada 4 Juli 1950, diterbitkan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1950 tentang Pembentukan Provinsi Jawa Tengah. Dimana saat itu Surakarta masuk ke dalam provinsi tersebut secara administratif, sehingga status daerah istimewanya dihapus. Berbeda dengan Yogyakarta yang tetap mendapatkan keistimewaan sebagai daerah yang memiliki kedudukan hukum khusus.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com