Tag Archives: natal

7 Tips Membersihkan Rumah Menjelang Liburan Natal



Jakarta

Menjelang liburan natal, banyak penghuni rumah yang menyambutnya dengan mendekorasi rumah. Namun, sebelum kamu memasang pernak-pernik untuk natal, jangan lupa untuk membersihkan rumah.

Tradisi membersihkan rumah sebelum liburan dapat membuat rumah lebih nyaman ditinggali. Kamu tak perlu khawatir rumah berantakan bila banyak orang bertamu ke rumah. Melansir dari Homes and Gardens, Jumat (1/12/2023), berikut tips membersihkan rumah menjelang liburan natal.

Jadwalkan Waktu

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengatur waktu saat mulai melakukan tugas membersihkan rumah. Sehingga kamu tak lupa kapan dan apa yang akan kamu kerjakan.


Mencuci Seprai

Setelah itu, kamu dapat mulai membersihkan area kamar tidur. Pertama, mengganti seprai lama dan mencuci seprai, lalu masukkan seprai yang telah dicuci ke lemari sebagai cadangan. Hal bertujuan bila ada tamu atau saudara yang menginap, seprai sudah bersih dan siap digunakan. Seperti diketahui, Natal juga menjadi acara berkumpul bersama keluarga.

Sortir Isi Kulkas

Sebelum berbelanja keperluan makanan untuk Natal, kamu perlu menyortir bahan-bahan yang ada di dalam kulkas guna membuat kulkas selalu rapi. Membersihkan kulkas dari sekarang tidak hanya menghemat waktu kamu saat menjelang Natal, tetapi kamu juga akan mendapatkan kulkas yang selalu bersih.

Sapu dan Pel Lantai

kamu tidak perlu meluangkan waktu pembersihan seharian penuh, tapi bisa menyicilnya atau membersihkannya pada sela-sela waktu. Misalnya, ketika anak-anak tidur, gunakan waktu itu untuk membersihkan meja rias, cermin dan kamar mandi dengan cepat.

Singkirkan Barang-barang yang Berantakan dan Tak Terpakai

Selain itu, perlu juga menyingkirkan barang-barang yang berantakan seperti perlengkapan mandi atau dapur ke dalam lemari. Hal ini akan memberikan tampilan rapi dan tertata.

Letakkan Aroma Menyegarkan pada Beberapa Area Rumah

Langkah terakhir yang perlu dilakukan dalam membersihkan rumah untuk menyambut Natal adalah menggunakan aroma menyegarkan. Aroma yang wangi tentu tak hanya mengharumkan rumah, tapi juga menemukan rumah yang bersih. Sebagai cara instan, kamu dapat meletakkan tanaman bunga potong atau minyak esensial pada beberapa ruangan di rumah.

Cuci Gorden

Pastinya kamu tidak ingin melihat gorden yang kotor dan berdebu ketika natal tiba. Maka dari itu agar rumah tampak lebih bersih kamu dapat melepas kemudian mencuci gorden. Setelah gorden bersih, kamu mengeringkannya. Jika sudah kering kamu dapat memasangnya lagi dan tambahkan juga dekorasi.

Demikian 7 tips membersihkan rumah menjelang liburan natal. Semoga bermanfaat!

Buat detikers yang punya permasalahan seputar rumah, tanah atau properti lain. Baik itu berkaitan dengan hukum, konstruksi, pembiayaan dan lainnya, tim detikProperti bisa bantu cari solusinya. Kirim pertanyaan Kamu via email ke tanya@detikproperti.com dengan subject ‘Tanya detikProperti’, nanti pertanyaan akan dijawab oleh pakar.

(dna/dna)



Sumber : www.detik.com

Kotak Asli Lampu Natal Jangan Dibuang! Ternyata Ini Gunanya


Jakarta

Hari Raya Natal baru saja berlangsung. Bagi sebagian orang, mungkin ini saatnya untuk menyimpan lampu Natal dengan cara yang rapi dan tidak kusut.

Tak perlu khawatir, karena ada panduan praktis untuk merapikan lampu Natal sebelum disimpan lho! Dalam artikel ini, kami akan membagikan beberapa metode sederhana dan hemat biaya untuk menyimpan lampu Natal sehingga kamu bisa dengan mudah menghias rumah dengan indah pada tahun berikutnya.

Melansir Real Simple, Minggu (31/12/2023), berikut tips praktis menyimpan lampu Natal agar rapi dan tidak kusut.


1. Simpan di Kemasan Asli

Jika kamu masih menyimpan kemasan asli lampu Natal, ini bisa menjadi solusi yang sangat efektif. Namun, daripada berusaha memasukkan lampu kembali ke dalam rak kecil di dalamnya, gunakan sisi luar kotak. Tempelkan ujung rangkaian lampu ke kotak, bungkus dengan rapat, dan pastikan untuk melindunginya dengan lapisan pelindung, seperti kertas tisu atau bubble wrap.

2. Gunakan Karton Tebal

Jika kamu tidak memiliki kemasan asli, gunakan sepotong karton tebal. Potong celah di ujung karton untuk menahan ujung lampu, bungkus rangkaian lampu dengan rapat, dan amankan dengan selotip. Lindungi dengan bubble wrap atau kertas tisu untuk memastikan lampu tetap aman selama penyimpanan.

3. Gantung dengan Gantungan Pakaian

Gantungan pakaian bisa menjadi solusi yang praktis, terutama jika kamu memiliki lemari khusus untuk dekorasi Natal. Selipkan ujung lampu ke dalam alur gantungan, bungkus lampu di sekitar bagian atas dan bawah gantungan, dan amankan dengan tape. Metode ini tidak hanya efektif, tetapi juga memudahkan untuk mengambil lampu kembali nanti.

4. Gulung di Tabung Bekas Tisu

Kamu juga bisa memanfaatkan kemasan berbentuk tabung, seperti tisu toilet atau kok bulutangkis. Tempelkan ujung lampu ke dalam silinder, gulung lampu dengan rapi, dan amankan dengan selotip. Kamu bahkan bisa menambahkan pita sebagai sentuhan akhir untuk menjaga agar lampu tetap aman dan rapi.

5. Simpan di Rak

Jika kamu menyukai tampilan terorganisir, pertimbangkan untuk menggunakan rak penyimpanan yang dirancang khusus untuk lampu Natal. Rak ini biasanya terbuat dari plastik dan memiliki sistem gulungan yang memudahkan penyimpanan dan pengambilan lampu saat diperlukan.

Demikianlah tips praktis menyimpan lampu Natal agar rapi dan tidak kusut. Dengan mengikuti tips-tips praktis ini, kamu bisa menyimpan lampu Natal dengan mudah dan menghilangkan kerumitan yang biasanya terjadi. Semoga informasinya bermanfaat!

Buat detikers yang punya permasalahan seputar rumah, tanah atau properti lain. Baik itu berkaitan dengan hukum, konstruksi, pembiayaan dan lainnya, tim detikProperti bisa bantu cari solusinya. Kirim pertanyaan Kamu via email ke tanya@detikproperti.com dengan subject ‘Tanya detikProperti’, nanti pertanyaan akan dijawab oleh pakar

(dna/dna)



Sumber : www.detik.com

Ini Gereja Berusia 1 Abad di Cianjur, Lokasinya di Kampung Kristen Tertua



Cianjur

Sebuah gereja berusia lebih dari satu abad berdiri di Cianjur, Jawa Barat. Gereja itu terletak di permukiman kristen tertua di Cianjur.

Gereta tua berusia nyaris 100 tahun itu adalah Gereja Kristen Pasundan (GKP) Palalangon. Gereja itu pertama kali didirikan B.M Alkema, salah seorang zendeling (penyebar Injil) dari lembaga Pekabaran Injil dari Belanda bernama Nederlandsche Zendings Vererniging (NZV), pada 1902.

Dia dibantu juga tujuh keluarga perintis, yakni Miad Aliambar, Jena Aliambar, Hasan Aliambar, Akim Muhiam, Naan Muhiam, Yusuf Sairin, dan Elipas Kaiin.


“Bersama BM Alkema, tujuh orang ini kemudian menghimpun kembali keluarganya. Sehingga terkumpul 21 jemaat. Orang-orang ini lah yang disebut jemaat mula-mula berdirinya salah satu gereja protestan tertua dan permukiman kristen tertua di Cianjur,” kata Pengurus GKP Palalangon Vikaris (Vik) Ricki Albett Sinaga, Minggu (24/12/2023).

Gereja itu dinamai sesuai dengan lokasinya berada, yakni Palalangon. Palalangon berarti menara. Tetapi, nama itu bukan diambil dari kata menara di gereja, tetapi merujuk pada lokasi kampung yang berada di atas perbukitan.

Pada saat itu, Kampung Palalangon berada di atas ketinggian. Namun setelah adanya pembangunan Waduk Cirata, kampung ini bak turun dari ketinggiannya dan seolah berada di dataran rendah.

“Iya diambilnya namanya dari nama kampung ini. Bukan karena ada menara. Karena kan menara gereja dibangun setelah kampung ini ada,” kata dia.

Vik Ricki mengungkapkan awal mulanya, bangunan GKP Palalangon hanya sebuah tempat ibadah darurat dah dibuat dari eurih atau ilalang. Namun, kemudian dibuat menjadi bangunan permanen dengan desain gereja khas Eropa kala itu.

“Dibangun pertama dari ilalang, sangat sederhana. Kemudian dibangun menjadi bangunan gereja yang lebih kokoh. Dari dulu bangunannya pun masih seperti ini, kita jaga keaslian bentuk bangunannya,” kata dia.

Uniknya, penyangga bangunan ini pun bukan tiang beton tetapi masih menggunakan balok kayu yang sangat keras.

Kendati begitu, bangunan tua yang usianya lebih dari 100 tahun ini tetap kokoh berdiri dan menjadi tempat ibadah bagi penganut kristen di sana.

Berita selengkapnya baca di detikJabar.

(pin/fem)



Sumber : travel.detik.com

7 Tradisi Natal Unik yang Cuma Ada di Indonesia


Jakarta

Natal di Indonesia dirayakan dengan tradisi unik di sejumlah daerah. Tradisi ini dilakukan sebagai simbol kebersamaan secara turun-temurun.

Dikutip dari situs Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, inilah 7 tradisi perayaan Natal unik di Indonesia:

1. Marbinda/Marhobas (Sumatera Utara)

Marbinda merupakan tradisi menyembelih hewan, sedangkan Marhobas merupakan tradisi memasak hasil sembelih yang dilakukan oleh para pria. Kedua tradisi tersebut dilakukan setiap menjelang hari raya Natal oleh masyarakat Batak Toba di Sumatera Utara.


Tujuan dari Marbinda dan Marhobas adalah untuk mengeratkan kebersamaan masyarakat sekitar, membangun rasa gotong royong, serta sebagai wujud dari rasa syukur.

Hewan yang disembelih di Marbinda biasanya adalah hewan yang berkaki empat, seperti sapi, kerbau, atau babi. Hewan-hewan tersebut didapatkan dari hasil tabungan warga yang telah dikumpulkan selama berbulan-bulan.

Daging-daging hasil sembelih hewan-hewan ini kemudian dimasak lewat tradisi Marhobas, lalu dibagikan kepada warga.

Nah, yang lebih uniknya lagi nih Sobat Pesona, orang yang dipercaya untuk membagikan daging biasanya akan terpilih menjadi kepala desa di periode selanjutnya!

2. Rabo-rabo (Jakarta)

Tradisi Rabo-rabo dapat dijumpai di kawasan Cilincing, tepatnya di Kampung Tugu. Kampung yang disinggahi oleh sekelompok pemeluk agama Kristen berketurunan Portugis ini, menyimpan sebuah tradisi bernama Rabo-Rabo.

Dilakukan setiap menjelang hari Natal, tradisi yang memiliki arti “Ekor-Mengekor” dalam bahasa Kreol Portugis ini dilakukan dengan berkeliling kampung dan mengunjungi rumah-rumah sambil menyanyikan lagu keroncong.

Satu rombongan warga akan memulai Rabo-Rabo dengan mengunjungi Gereja terlebih dahulu untuk beribadah. Setelah itu, mereka langsung mengunjungi rumah-rumah warga sekitar.

Salah satu anggota keluarga dari setiap rumah-rumah yang dikunjungi tersebut nantinya harus ikut dalam rombongan layaknya ekor yang memanjang. Tradisi ini biasanya ditutup dengan pesta makan di rumah yang terakhir dikunjungi.

3. Wayang Wahyu (Jawa)

Pertunjukan Wayang Wahyu diambil dari berbagai kisah yang terdapat dalam Alkitab. Pertunjukan wayang yang seringkali dilakukan menjelang perayaan hari Natal di gereja-gereja tertentu di Jawa ini merupakan salah satu simbol inkulturasi budaya yang terbentuk #DiIndonesiaAja.

Pertama kali muncul pada tahun 1960an, pementasan Wayang Wahyu digunakan untuk mengingatkan umat Katolik untuk menjalin keharmonisan antar sesama.

4. Ngejot dan Penjor (Bali)

Pulau Dewata yang kental dengan agama Hindunya pun tak luput memiliki tradisi perayaan hari Natal yang unik. Sebagai tempat dengan toleransi agama yang masih terjaga, di Bali umat Kristen biasanya juga melakukan tradisi Ngejot dan Penjor menjelang perayaan Natal.

Kedua tradisi yang identik dengan umat Hindu ini juga seringkali dilakukan oleh umat Kristen serta Muslim. Ngejot sendiri merupakan tradisi di mana para warga saling membagikan makanan.

Makanan yang dibuat untuk tradisi Ngejot disesuaikan dengan agamanya masing-masing. Sedangkan Penjor merupakan bambu-bambu tinggi melengkung yang biasanya dipasang saat hari raya Galungan. Bambu-bambu tersebut dipasang di bagian rumah sebagai bentuk syukur terhadap anugerah Tuhan.

5. Kunci Taon (Sulawesi Utara)

Tradisi perayaan hari Natal yang satu ini bisa kamu jumpai di Kota Manado, Sulawesi Utara. Digelar sekaligus untuk memperingati akhir tahun, Kunci Taon biasanya dilaksanakan pada awal minggu bulan Desember dan berakhir pada awal bulan Januari.

Tradisi ini diawali dengan serangkaian ibadah di Gereja. Lalu, para umat Kristen akan berziarah ke makam kerabat. Biasanya saat berziarah mereka akan meletakkan lampu hias di atas makam kerabat mereka.

Tradisi Kunci Taon lalu ditutup dengan kegiatan pawai mengelilingi kampung sambil memakai kostum-kostum yang menarik.

6. Meriam Bambu (NTT)

Di Flores, Nusa Tenggara Timur, ada sebuah tradisi perayaan hari Natal yang seru banget. Sesuai dengan namanya, tradisi ini diisi oleh pesta meriam bambu yang meriah. Meriam bambu ini sendiri telah ramai dimainkan sejak tahun 80an hingga saat ini oleh warga setempat.

Suara menggelegar yang tercipta dari permainan tersebut merupakan sesuatu yang seringkali ditunggu-tunggu saat menjelang Natal. Selain membuat gembira, bunyi dari meriam bambu juga dapat diartikan sebagai sambutan terhadap kelahiran Yesus Kristus.

7. Bakar Batu (Papua)

Tradisi perayaan hari Natal yang terakhir ini biasa dilakukan oleh umat Kristen di Papua. Tradisi yang dikenal sebagai Bakar Batu ini merupakan kegiatan memasak bersama menggunakan batu-batu yang dibakar.

Batu-batu tersebut diletakkan di dalam sebuah lubang yang telah digali dan dilapisi dengan daun pisang dan ilalang. Kemudian dilapisi lagi dengan daun pisang.

Setelah itu, daging babi dimasukkan ke dalamnya, lalu disusul oleh lapisan daun pisang dan batu-batu panas lagi. Setelah itu, susunan tersebut diisi dengan sayuran dan umbi-umbian.

Bahan makanan tersebut lalu ditutup lagi dengan daun pisang, ilalang, serta batu bakar. Tradisi ini dilakukan setelah misa Natal dan biasanya akan memakan waktu sekitar setengah hari.

Bakar Batu dilakukan sebagai upaya untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan serta untuk menjaga kebersamaan.

(pin/pin)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Gereja Katolik Tertua di Pulau Dewata



Badung

Meski mayoritas beragama Hindu, tetapi ada juga penganut agama Katolik di Bali. Bahkan, ada gereja Katolik tertua di Pulau Dewata. Simak kisahnya berikut ini:

Di sudut Desa Tuka, Dalung, Kuta Utara, Badung, berdiri sebuah gereja megah bernama Gereja Tritunggal Mahakudus. Gereja ini bukan sekadar tempat ibadah umat Katolik, tetapi juga saksi sejarah panjang interaksi budaya dan kepercayaan agama di Bali.

Berusia 87 tahun, katedral ini memiliki daya tarik unik melalui arsitekturnya yang kental dengan nuansa Bali.


Desa Tuka dikenal sebagai desa pertama di Bali yang menerima ajaran Katolik. Tokoh masyarakat setempat, I Gusti Ngurah Bagus Kumara, mengisahkan bahwa leluhur mereka yang sebelumnya beragama Hindu mulai memeluk Katolik pada awal abad ke-20.

Pada tahun 1937, umat Katolik di Tuka membangun sebuah gereja kecil yang sederhana di sebelah barat desa, dengan bantuan seorang Hindu bernama I Gusti Made Rai Sengkug dari Banjar Pendem, Dalung.

“Beliau seorang asli Hindu,” tutur Ngurah Bagus Kumara, ditemui di gereja, Rabu (25/12/2024).

Namun, pada tahun 1983, gereja ini dipindahkan ke lokasi baru di timur desa. Relokasi ini tidak hanya memberikan ruang yang lebih luas tetapi juga menjadi momen penting untuk merevitalisasi arsitektur gereja dengan konsep khas Bali.

Bangunan gereja yang baru pun diresmikan pada tahun 1987 oleh Gubernur Bali saat itu, Ida Bagus Mantra.

Terinspirasi dari Pura Besakih

Dalam proses perancangan gereja baru, tokoh-tokoh Tuka terinspirasi oleh keindahan dan kekuatan simbolik Pura Agung Besakih di Karangasem.

“Dulu kami memutuskan bangunan gereja ini harus benar-benar yang bernilai Bali kuat. Dari sekian yang ada, di mana yang pas. Corak bangunan khas apa yang cocok. Lalu kami berpikir untuk mengadopsi gaya wantilan,” ujar pria yang saat ini sedang menyusun buku tentang sejarah kekatolikan di Bali.

Mereka ingin bangunan gereja ini mencerminkan identitas Bali. Ide untuk mengadopsi desain wantilan – bangunan tradisional Bali yang biasa digunakan untuk pertemuan – menjadi landasan utama desain gereja.

Atap gereja dibuat tinggi berbentuk limas segi empat menyerupai wantilan, sementara pintu masuknya dirancang dengan gaya angkul-angkul Bali lengkap dengan dua pintu kecil di kiri dan kanan.

Bagian tengah gereja diperkuat oleh pilar-pilar kayu berukir yang di Bali dinamai adegan. Jumlahnya 41 tiang, ditambah empat tiang beton besar sebagai penopang utama.

Bangunan gereja dirancang secara terbuka menyesuaikan konsep wantilan Bali. Secara keseluruhan, bangunan ini mampu menampung lebih dari 500 orang jemaat.

Makna Filosofi Gereja

Bagian altar gereja dihiasi dengan ukiran kayu dan dinding dari bata merah serta batu padas. Sebuah pintu kayu di altar menjadi akses menuju ruang penyimpanan benda-benda sakral seperti salib dan tabernakel, yang memiliki fungsi serupa dengan gedong pasimpenan dalam tradisi Hindu Bali.

Di atas altar, terdapat aksara Bali bertuliskan ‘Ene anggan manira, ene rah manira’ yang berarti ‘Inilah tubuhku, inilah darahku.’

Ngurah Bagus Kumara, yang kini tengah menyusun buku tentang sejarah kekatolikan di Bali, menjelaskan bahwa ungkapan ini menekankan ketulusan dan pengorbanan, nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam iman Katolik maupun budaya Bali.

Merayakan Natal dengan Nuansa Budaya Bali

Pada perayaan Natal tahun ini, suasana khidmat terasa menyelimuti Gereja Tritunggal Mahakudus. Yang menarik, banyak umat Katolik di Tuka tetap mengenakan pakaian adat Bali saat beribadah.

Menurut Ngurah, tradisi ini bukan sekadar bentuk penghormatan terhadap leluhur tetapi juga simbol kecintaan terhadap budaya.

Pemakaian udeng melambangkan penjernihan pikiran, sementara kamen yang dilipat dengan kancut melambangkan penghormatan terhadap ibu pertiwi.

“Bentuk hormat terhadap ibu pertiwi dikuatkan dengan kancut yang dibentuk mengerucut ke bawah saat melipat kamen. Nilai-nilai itu yang kami tanamkan,” jelas Ngurah.

Hiasan khas Bali seperti gebogan dan penjor pun turut memperindah gereja, mencerminkan kebahagiaan dan suka cita menyambut kelahiran Yesus Kristus.

Dengan perpaduan iman dan budaya yang begitu harmonis, Gereja Tritunggal Mahakudus Tuka tak hanya menjadi tempat ibadah tetapi juga simbol keberagaman yang kaya makna.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com