Tag Archives: padaherang

Hujan-hujan, Hangatkan Badan di Wisata Air Panas Pangandaran



Pangandaran

Berbagai daerah di Tanah Air tengah dilanda hujan. Untuk menghangatkan badan, tak ada salahnya berkunjung ke wisata air panas Pangandaran. Sudah pernah belum?

Meski terkenal dengan keindahan pantainya, Pangandaran ternyata punya sumber mata air panas di kolam yang berpotensi menjadi objek wisata.

Lokasi kolam air panas itu berada di Desa Kedungwuluh, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Konon air tersebut bersumber dari Gunung Munggang Pare.


Tokoh Masyarakat Padaherang Eris Riswana mengatakan meski Gunung Munggang tiga kilometer dari lokasi kolam air panas. Ia menduga sumber air panas dalam kolam itu berasal dari kaki gunung tersebut.

Ia mengatakan Gunung Munggang itu bersifat aktif, namun senyap. Maksudnya, tidak ada tanda yang menunjukan gunung itu berapi aktif.

“Selama saya hidup sampai saat ini belum pernah meletus,” kata Eris.

Perangkat Desa Kedungwuluh, Anggi mengatakan memang kabarnya Gunung Munggang itu aktif dan menghasilkan sumber air panas di sumur yang tak jauh dari kantor desa.

“Lokasi sumur dan kolam itu berada depan kantor desa,” kata Anggi.

Menurutnya, kolam itu sering dimanfaatkan untuk pemandian air panas.

“Sudah sejak dulu sebelum saya lahir sudah ada. Cuman tepatnya dari kapannya kurang tau pastinya,” katanya.

Bahkan, kata dia, kolam itu sering dipakai warga setempat dan dari luar desa juga. Sebelumnya, tempat tersebut sempat menjadi destinasi wisata warga kampung.

“Dulu sempat di kelola ditarik retribusi, tapi tidak berjalan dan digratiskan sampai saat ini,” ucapnya.

Kendati demikian, kata dia, pihak desa belum pernah mengukur ketinggian gunung tersebut. “Ketinggian sih kurang tau lebih tepatnya. Cuman kalo gunungnya masuk wilayah Desa Karangmulya dan Desa Kedungwuluh,” katanya.

Pemkab Pangandaran Akan Kaji Potensi Wisata Air Panas

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pangandaran menghitung jumlah potensi destinasi wisata daerah di tingkat desa. Salah satu yang ditinjau Cipanas di Desa Kedunwuluh.

Pjs Bupati Pangandaran Benny Bacthiar mengatakan baru pertama kalinya dengar ada Cipanas di Pangandaran. Tentu hal tersebut menjadi potensi.

“Mudah mudahan, teman-teman di Desa bisa mencari sumber utamanya dimana dan insyaallah kalau ada waktu saya akan mengundang dari tim Geologi untuk mencoba membantu kita untuk melihat apakah mungkin atau tidak ini menjadi destinasi wisata,” ucap Benny.

“Kebayang tidak? Kabupaten Pangandaran itu asumsinya wisata pantai. Tapi ternyata punya juga air panas. Kan kalau ini dikembangkan menjadi luar biasa,” sambung Benny.

Menurutnya, Padaherang ini satu kecamatan di kabupaten Pangandaran yang biasa dilalui kendaraan wisatawan.

“Justru itu, jadi saya inginnya ketika wisatawan masuk ke Pangandaran itu orang sudah tahu, oh ternyata di sini ada tempat wisata ini dan di Kecamatan Kalipucang ada wisata juga,” ucapnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ngabuburit Beda di Pangandaran Sambil Petik Melon Inthanon



Pangandaran

Ngabuburit menunggu azan Maghrib di Pangandaran bisa diisi dengan kegiatan yang berbeda, yaitu memetik buah melon langsung dari pohonnya.

Aktivitas ini bisa dinikmati di kebun melon milik Tuslam, yang berlokasi di Dusun Sukanegara, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran. Kebun melon ini menggunakan sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT) yang dikembangkan oleh Tuslam di halaman belakang rumahnya.

Saat Ramadan, kebun melon milik Tuslam ramai dikunjungi warga, terutama karena sedang memasuki panen raya. Uniknya, ia sengaja tidak memanen seluruh melon yang sudah matang, sehingga pengunjung bisa merasakan sensasi memetik sendiri langsung dari pohonnya.


Kebun milik Tuslam memiliki luas 130 meter persegi dengan populasi 150 tanaman melon jenis Inthanon. Ia pun berharap kebun ini bisa menjadi destinasi agrowisata baru di kampungnya.

Tuslam, mengungkapkan bahwa kebun melon ini berawal dari hobinya dalam bertani.

“Awalnya hanya hobi, tapi kemudian saya coba menanam melon secara hidroponik. Alhamdulillah hasilnya bagus,” tuturnya.

Sebagai lulusan jurusan pertanian, ia ingin menerapkan ilmu yang telah dipelajarinya sekaligus berbagi pengalaman dengan masyarakat sekitar.

Tuslam juga memiliki visi untuk mengembangkan kebunnya sebagai destinasi agrowisata dan edukasi, di mana pengunjung tidak hanya bisa membeli, tetapi juga memetik melon langsung dari pohonnya.

“Awalnya hanya iseng, tapi saya berpikir bahwa hobi itu harus menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” ungkapnya.

Tuslam menjelaskan bahwa kebun melon miliknya baru berjalan selama satu tahun, tetapi dalam lima bulan pertama sudah dua kali panen.

“Dari awal tanam hingga panen hanya butuh waktu sekitar dua bulan. Dalam satu pohon, hanya dipertahankan satu buah agar kualitasnya terjaga,” jelasnya.

Melon jenis Inthanon yang ia budidayakan tergolong langka di pasaran. Selain memiliki rasa yang sangat manis, melon ini juga dikenal dengan aromanya yang harum dan teksturnya yang renyah.

Kebun melon ini selalu ramai dikunjungi, terutama pada bulan Ramadan. “Setiap hari selalu ada pengunjung, mulai dari pagi, siang, hingga sore hari,” ujar Tuslam.

Pengunjung Tahu dari Media Sosial

Meski luas lahannya terbatas, kebun ini mampu menghasilkan buah melon yang cukup melimpah. Ika Umika, seorang pengunjung asal Kalipucang, mengaku mengetahui kebun ini dari media sosial dan tertarik untuk datang.

“Saya dapat info dari media sosial, katanya bisa memetik melon segar langsung dari pohonnya,” ujar Ika.

Menurutnya, melon merupakan buah favoritnya karena rasanya yang manis dan segar, terutama untuk hidangan berbuka puasa.

Hal serupa juga dirasakan oleh Rifda, yang mengetahui kebun melon ini dari status WhatsApp temannya.

“Saya melihat teman update sedang memetik melon disini, jadi saya langsung datang. Kebetulan lokasinya masih dekat dengan rumah,” kata Rifda.

Kebun Melon Tuslam Menghasilkan Cuan

Dari hasil panen, Tuslam mengaku bisa memperoleh pendapatan yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya operasional.

“Jika dirata-ratakan, penghasilan per hari bisa mencapai Rp 1 juta lebih. Alhamdulillah, cukup untuk memenuhi kebutuhan selama menunggu panen berikutnya,” katanya.

Namun, penghasilan yang lumayan itu dia dapatkan ketika kebun melonnya mengalami musim panen.

“Kebetulan Ramadan ini pun waktunya panen,” ucapnya.

Untuk pengunjung yang ingin menikmati pengalaman memetik sendiri, harga satu buah melon dengan berat 1 kg adalah Rp 35 ribu. Sementara dalam sehari kebun Tuslam mampu menjual sekitar 30 kg melon yang dibeli langsung oleh pelanggan.

“Alhamdulillah, saat ini lebih banyak yang membeli langsung ke kebun,” ucapnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com