Tag Archives: pangandaran

Pantai Ini Hidden Gem di Pangandaran, tapi Dilarang Berenang



Pangandaran

Namanya adalah Pantai Legokjawa di Pangandaran. Pantai ini mulai digemari sebagai tempat nongkrong karena keindahannya.

Pantai Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat mulai bersolek. Di pesisirnya dibangun warung-warung untuk menyambut wisatawan yang hadir.

Meski waktu libur Lebaran masih lama, warga setempat sejak musim munggahan sudah bersiap dan menata pantai Legokjawa. Pantai juga dibersihkan dari sampah.


Pantai yang berlokasi samping Pacuan Kuda Legokjawa tersebut memiliki daya tarik untuk dikunjungi. Di tempat tersebut terdapat batuan karang yang bisa dijadikan spot foto.

Selain itu, lapang pacuan kuda di pesisir itu menambah eksotis dan memperkaya latar belakang untuk swafoto.

Tokoh Pemuda Legokjawa Kiki Masuki mengatakan, Pantai Legokjawa dibersihkan atas inisiasi warga, karena melihat peluang banyak pengunjung yang sering nongkrong.

Suasana Pantai Legokjawa yang jadi lokasi 9 santri terseret ombakSuasana Pantai Legokjawa (Aldi Nur Fadillah/detikJabar)

“Akhirnya sejumlah warga pun berinisiasi membuka peluang dengan berdagang,” kata Kiki kepada detikJabar.

Menurutnya, pantai Legokjawa kini berubah sedikit lebih rapih. Sebelumnya hanya pohon-pohon pandan dan kelapa yang menghiasi kawasan pantai tersebut.

“Dulu kumuh, sekarang di tahun 2024 bersih dan banyak pedagang, lebih mendingan,” kata Kiki

Kiki menambahkan, apalagi sekarang bulan Ramadan, pantai pacuan Legokjawa cocok untuk ngabuburit.

“Lokasinya pas untuk tempat ngabuburit sambil menunggu magrib, kami juga di sini sediakan takjil kalau sudah sore,” ujarnya.

Pantainya Tidak untuk Berenang

Kepala Desa Legokjawa Ahrudin menambahkan sepanjang area pantai Legokjawa tidak bisa untuk berenang. Mengingat di titik tersebut merupakan pantai terbuka yang gelombangnya cukup besar.

“Kalau untuk berenang nggak bisa, tapi untuk pemandangan dan panorama alamnya nggak kalah indah,” katanya melalui pesan WhatsApp.

Menurut dia, dari Pantai Legokjawa langsung terhubung ke Pantai Madasari jaraknya tidak terlalu jauh. “Akses jalan sudah bagus ke Pantai Madasari dekat masih satu jalur,” ucapnya.

Ahrudin mengaku, senang ada banyak masyarakat inisiatif membersihkan sepadan pantai tersebut. “Namun tetap kami bimbing, karena ada beberapa lahan yang tidak boleh dibangun,” katanya.

Kendati demikian, kata Ahrudin, pihaknya meminta para pedagang menjaga ketertiban terutama kebersihan. “Supaya pesisir pantai tetap indah dan lestari,” ucapnya.

***

Baca berita selengkapnya di sini.

(bnl/bnl)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Pohon Pandan ‘Sakti’ di Pangandaran, Tak Mempan Alat Berat



Pangandaran

Di Pacuan Kuda Legokjawa, Pangandaran ada sebuah pohon ‘sakti’ yang tak mempan ketika mau digusur alat berat. Bagaimana kisahnya?

Lokasi pohon itu berada di pesisir pantai desa Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran. Pohon ini berada di dalam pacuan kuda terbesar kedua di dunia setelah Inggris yang berada di pinggir pantai.

Ada sebuah pohon pandan berdiri tegak di tengah pacuan kuda memiliki cerita mistis di dalamnya. Konon, sejak berdirinya pacuan kuda tersebut di tahun 80-an, pohon tersebut belum bisa ditebang.


Bahkan, sempat diusahakan ditebang menggunakan alat berat tetapi selalu ada kendala hingga alat beratnya pun patah. Tokoh masyarakat Legokjawa, Engkus Kusnindar membenarkan kisah tersebut.

Engkus mengatakan, pohon pandan ‘sakti’ di pacuan kuda Legokjawa itu bernama pohon Pandan Uwong.

“Memang betul, konon pohon itu sudah ada sejak lama, bahkan saat saya kecil pun tahun 1990an sudah ada,” ucap Engkus, Senin (18/3) lalu.

Ia mengatakan, posisi pohon yang berdiri tegak di bagian kanan pacuan kuda sampai saat ini masih terlihat segar meski sudah puluhan tahun.

Sebelumnya, menurut Engkus di Pacuan Kuda itu terdapat bangunan SD Negeri Sindangjaya. “Dulu tahun 1991 masih ada, saya juga alumni dari situ sekarang sudah dipindahkan,” katanya.

Pohon Pandan Uwong di Pacuan Kuda Legokjawa Pangandaran/Pohon Pandan Uwong di Pacuan Kuda Legokjawa Pangandaran Foto: Aldi Nur Fadilah/detikJabar

Engkus memperkirakan pacuan kuda sudah ada sejak tahun 1960an atau sudah 60 tahunan lebih berdiri. Pohon itu ditanam oleh Sajidin, senior di sekolahnya dulu.

“Kalau sekarang pak Sajidin usianya sudah 60 tahun, pasti tidak jauh usianya dengan pohon pandan tersebut,” tutur Engkus.

Menurut Engkus, secara syariat kalau pohon pandan tidak berusia lama. Menurutnya, sangat jarang pohon pandan bisa bertahan hingga puluhan tahun.

“Namun pandan uwong ini masih berdiri kokoh hingga sekarang dan tidak berubah warnanya tetap hijau meski di bawah terik matahari,” ucapnya.

Ia menceritakan, saat itu ada dua pohon Pandan Uwong yang berdiri di pacuan kuda namun satu lagi sudah tidak ada secara alami.

“Jadi yang tersisa tinggal itu saja,” ucapnya.

Engkus mengatakan pohon pandan uwong itu sempat berencana akan ditebang tahun 2016 lalu saat ada PON di Jabar, tapi tidak bisa disingkirkan.

“Pohon pandan uwong yang satu itu pernah mau disingkirkan oleh alat berat (beko) malah bekonya yang mental. Pokoknya mitos yang dialami oleh kami itu ada dua, pertama beko mau menyingkirkan pohon malah mental, kemudian beko yang menggunakan alat tajam pun malah patah besinya” katanya. Soal penyebab kenapa pohon itu tak bisa ditebang, Engkus mengaku tidak mengetahuinya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kala Hujan Abadi Turun Tanpa Henti di Green Canyon Pangandaran



Pangandaran

Tahukah kamu, di objek wisata Green Canyon Pangandaran, kalian bisa merasakan hujan ‘abadi’ yang turun tanpa henti. Seperti apa sih rasanya?

Hujan abadi semakin menambah keeksotisan objek wisata Green Canyon yang berada di Pangandaran, Jawa Barat. Batuan stalaktit dan stalagmit menjadi sumber menetesnya air bersih dari dalam sela-sela bebatuan.

Penamaan hujan abadi yang ada dalam goa Cagar Alam Pangandaran sudah ada sejak lama. Bahkan, meski kondisinya kemarau panjang, tetesan air dari sela-sela batu terus mengalir seakan tanpa henti.


Beragam batuan alam yang terbentuk alami karena tetesan air yang diperkirakan ratusan tahun itu membuat cantik ukirannya. Selain itu, batuan yang berbentuk payung menjadi spot melompat bagi pengunjung yang melakukan body rafting.

Nama Green Canyon untuk destinasi itu seakan sangat tepat, airnya yang hijau, pepohonan yang rindang dan asrinya suasana.

Nama Green Canyon pertama kali dikenalkan wisatawan asing asal Perancis bernama Bill Jhon yang mengaitkan dengan sebuah ngarai yang ada di Grand Canyon, Arizona, Amerika Serikat yang membelah sungai.

Green Canyon yang akrab disebut Cukang Taneuh itu memiliki magnet kunjungan setiap menjelang hari libur. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Green Canyon Suhman mengatakan objek wisata Green Canyon ini sudah ada sejak 1990-an.

Namun, baru disatukan menjadi satu destinasi wisata dengan dermaga pemberangkatan pada tahun 1998.

“Dulu namanya masih populer di masyarakat dengan nama Cukang Taneuh, tempat penyeberangan atau jembatan yang terbuat secara alami dari tanah dan bebatuan di atas sungai Green Canyon,” kata Suhman, Senin (27/5) pekan lalu.

Objek wisata Green Canyon Pangandaran.Objek wisata Green Canyon Pangandaran. Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar

Menurut dia, nama Green Canyon justru muncul dari wisatawan asal Perancis yang waktu itu diajak berkunjung menyusuri Green Canyon waktu itu sekitar tahun 1998.

“Dulu memang yang pertama kali menemukannya wisatawan asing dengan menyebut mirip dengan Grand Canyon di Amerika Serikat. Makanya lokasi ini disebut Green Canyon, nama itu populer hingga saat ini,” ucapnya.

Green Canyon menyediakan keindahan berupa aliran sungai yang diapit diantara dua bukit bebatuan yang tembus ke dalam goa. Sementara pada mulut goa terdapat hiasan gemericik tetesan air abadi yang tak pernah surut.

“Memang benar tetesan air abadi atau wisatawan banyak bilang hujan abadi sudah ada sejak dulu saat pertama kali ditemukan,” katanya.

Ia mengatakan meski memasuki musim kemarau, kondisi tetesan air abadi terus mengalir.

“Kalaupun kemarau, air yang mengalir tetap sama,” pungkasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Gua Langkob di Pangandaran, Cocok buat Petualangan di Akhir Pekan



Pangandaran

Menyambut libur panjang akhir pekan ini, saatnya kemasi ransel dan berpetualang ke Pangandaran. Keeksotisan gua Langkob menanti untuk dijelajahi.

Selain pantainya, wisatawan yang berkunjung ke Pangandaran, juga harus mencoba menjelajah gua Langkob. Gua ini bisa menjadi alternatif liburan yang menarik, terutama bagi para penggemar wisata alam dan petualangan.

Gua Langkob terletak di Desa Bangunkarya, Kecamatan Langkaplancar. Jaraknya sekitar 25 km dari Pangandaran, melalui Jalan Selasari, Parigi. Untuk mencapai Gua Langkob, disarankan menggunakan kendaraan pribadi karena kendaraan umum hanya dapat mencapai Cibenda, Parigi.


Dari sana, wisatawan perlu mengambil jalan kanan menuju Kota Baru Pangandaran, melalui Jalan Selasari. Setelah tiba di perempatan, belok kanan ke Jalan Langkaplancar sejauh 5 km.

Kondisi jalan menuju Gua Langkob masih tergolong baik dan bisa dilalui berbagai jenis kendaraan. Saat ini, belum ada retribusi masuk untuk objek wisata ini.

Kepala Desa Bangunkarya, Yaya Suryana mengatakan gua Langkob adalah salah satu objek wisata desa di Kecamatan Langkaplancar, Pangandaran.

“Gua Langkob berasal dari kata ‘Lengkob’ yang berarti lembah. Konon, di dalam gua eksotis ini terdapat gamelan yang dapat digunakan masyarakat saat mengadakan perhelatan,” ujar Yaya belum lama ini.

Menurut Yaya, Gua Langkob dapat dinikmati sebagai wisata historis dan wisata alam bebas. Pengunjung bahkan bisa melakukan aktivitas berkemah di dalam goa.

“Wisata alam bebas di Gua Langkob akan menambah keseruan saat menyusuri bagian dalam gua. Di sana banyak spot foto yang menarik,” tambahnya.

Gua Langkob memiliki tiga mulut gua dengan ukuran yang bervariasi. Ada yang sepanjang 20-30 meter, satu lagi 100 meter, dan satu lainnya belum pernah diukur karena sangat dalam.

“Lubang ketiga konon adalah gua paling besar,” kata Yaya.

Aktivitas yang bisa dilakukan di Gua Langkob antara lain berkemah, swafoto, jelajah goa, dan caving.

“Jika ingin masuk ke dalam gua, disarankan meminta bantuan warga setempat yang menjadi pemandu karena memerlukan orang yang mengetahui situasi dan kondisi dalam gua,” kata Yaya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Cobain Body Rafting Curug Ciparakan



Pangandaran

Pangandaran punya banyak objek wisata selain pantai yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Curug Ciparakan yang tersembunyi dan jarang terekspos.

Curug Ciparakan berlokasi di Desa Cibanten, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran. Sekitar 26 kilometer dari bunderan Marlin Pangandaran, dengan jarak tempuh selama satu jam berkendara lewat jalur darat.

Destinasi wisata Curug Ciparakan memiliki panorama alam yang asri dengan ciri khas aliran sungai yang jernih dan bersih. Bahkan, warga setempat memanfaatkan air tersebut untuk kegiatan masak hingga mandi.


Konon warga di Desa Cibanten itu masih ada yang memanfaatkan air bersih itu untuk langsung diminum. Namun, untuk saat ini harus menyaring terlebih dahulu agar aman untuk diminum.

Aktivitas yang dapat wisatawan lakukan jika berkunjung di antaranya, body rafting, berenang, spot foto selfie dan makan bersama.

Curug Ciparakan di Pangandaran.Curug Ciparakan di Pangandaran. Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar

Suara gemericik air curug yang mengalir dari sungai ke persawahan terdengar sangat merdu, seakan menjadi backsound suasana destinasi tersebut.

Tak ada tarif khusus untuk berkunjung ke lokasi tersebut. Pengelola desa setempat hanya menyediakan lahan parkir dengan tarif hanya Rp 5.000 per orang, ditambah penitipan sepeda motor sebesar Rp 2.000 saja.

Saat memasuki destinasi curug Ciparakan, para wisatawan akan disuguhi panorama alam persawahan hijau dan kebun kelapa. Lelah akan jauhnya perjalanan pun terbayarkan dengan pemandangan itu.

Cara Menuju ke Curug Ciparakan

Untuk menuju Curug Ciparakan, dari arah bunderan Marlin Pangandaran menuju Kecamatan Cijulang traveler bisa menggunakan angkot jurusan Pangandaran-Cijulang jarak tempuh 30 menit.

Sesampainya di Terminal Cijulang, bisa menggunakan jasa ojek menuju Desa Cibanten menuju jembatan sungai Ciparakan sejauh 5 kilometer ditaksir dengan ongkos Rp 30 ribu.

Namun, sangat disarankan berburu keindahan alam ke Curug Ciparakan menggunakan kendaraan pribadi. Sebab, di sini masih minim angkutan umum. Dari jembatan menuju curug hanya sekitar 300 meter ditempuh dengan berjalan kaki.

Fasilitas yang tersedia di Curug Ciparakan cukup lengkap, ada warung-warung kecil, musala, dan kamar mandi. Adapun menu makanan yang bisa dipesan adalah Nasi Liwet Ikan Mujair.

Harga Body Rafting di Curug Ciparakan

Kepala Desa Cibanten Ahmad Nuryana mengatakan objek wisata Curug Ciparakan ini baru diresmikan setahun yang lalu pada 3 Januari 2021.

“Meskipun baru, wisatawan mancanegara banyak berdatangan ke sini,” ucapnya, beberapa waktu lalu.

Curug Ciparakan memang terkenal dengan air terjunnya. Saluran airnya menyambung menuju Sungai Green Canyon.

“Ada dua air terjun yang ada di Ciparakan. Pertama, Taringgul yang bisa digunakan untuk berenang dan di bawahnya Ciparakan untuk aktivitas body rafting,” katanya.

Untuk body rafting di curug ini harganya cukup terjangkau. Per regu ada 5 orang, dengan harga Rp 110.000 per orangnya.

Fasilitas yang didapatkan wisatawan di antaranya pelampung, helm, makan satu kali, kelapa muda, dan tentunya durasi satu jam body rafting.

Curug Ciparakan sendiri sering jadi tempat untuk menenangkan diri. Healing, begitu istilah anak muda zaman sekarang menyebutnya.

“Biasanya warga setempat sebut dengan tadabur alam,” katanya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Panduan Perjalanan dari Jakarta ke Ciwidey Naik Kereta Api dan Biayanya


Jakarta

Ciwidey memiliki sejumlah objek wisata yang menarik dikunjungi. Buat warga Jakarta yang pengin ke sana tapi nggak mau capek-capek mengemudi atau berkendara sendiri, kalian bisa naik transportasi umum.

Dalam artikel ini akan kita ulas panduan dari Jakarta ke Ciwidey naik kereta api. Tentunya, kereta api hanya mengantarkan hingga stasiun terdekat yang dilanjutkan dengan transportasi umum menuju Ciwidey.

Rute dari Jakarta ke Ciwidey Naik Kereta

Berikut ini rute perjalanan dari Jakarta ke Ciwidey naik kereta api yang berlanjut dengan alat transportasi lainnya, lengkap dengan perkiraan biayanya.


1. Naik Kereta ke Bandung

Yang pertama, traveler bisa naik kereta yang memiliki beberapa pilihan. Kalian bisa naik dari Stasiun Gambir dan turun ke Stasiun Bandung, atau naik dari Stasiun Pasar Senen dan turun di Stasiun Kiaracondong. Waktu tempuhnya sekitar 2,5 jam.

Disarankan untuk turun di Stasiun Bandung, karena jaraknya lebih dekat menuju ke titik selanjutnya. Namun jika turun di Stasiun Kiaracondong, selisihnya juga tak terlalu jauh.

Berikut ini beberapa pilihan kereta api Jakarta-Bandung, lengkap dengan kisaran harga tiketnya, yang dilansir dari situs KAI:

a. Cikuray (Ekonomi)

Rute: Stasiun Gambir-Stasiun Bandung-Stasiun Kiaracondong
Harga tiket: Rp 45 ribu

b. Serayu (Ekonomi)

Rute: Stasiun Pasar Senen-Stasiun Kiaracondong (tidak berhenti di Stasiun Bandung)
Harga tiket: Rp 63 ribu

c. Papandayan (Ekonomi & Eksekutif)

Rute: Stasiun Gambir-Stasiun Bandung
Harga tiket: Rp 120 ribu-Rp 200 ribu

d. Papandayan Panoramic (Eksekutif)

Rute: Stasiun Gambir-Stasiun Bandung
Harga tiket: Rp 425 ribu

e. Argo Parahyangan (Ekonomi & Eksekutif)

Rute: Stasiun Gambir-Stasiun Bandung
Harga tiket: Rp 120 ribu-Rp 200 ribu

f. Argo Parahyangan Luxury (Eksekutif)

Rute: Stasiun Gambir-Stasiun Bandung
Harga tiket: Rp 380 ribu-Rp 510 ribu

g. Argo Parahyangan Panoramic (Eksekutif)

Rute: Stasiun Gambir-Stasiun Bandung
Harga tiket: Rp 400 ribu

h. Pangandaran (Ekonomi & Eksekutif)

Rute: Stasiun Gambir-Stasiun Bandung
Harga tiket: Rp 120 ribu-Rp 200 ribu

2. Ke Terminal Leuwipanjang

Setelah turun dari Stasiun Bandung atau Kiaracondong, traveler bisa pindah ke titik selanjutnya, yaitu ke Terminal Leuwipanjang. Ada beberapa transportasi umum, tetapi disarankan untuk naik ojek atau taksi yang lebih cepat.

Perjalanan ini menempuh waktu sekitar 15-20 menit. Tarif naik ojek online sekitar Rp 20 ribu, sedangkan naik taksi online biayanya sekitar Rp 45 ribu.

3. Ke Terminal Cibeureum

Tiba di Terminal Leuwipanjang, carilah angkutan yang dikenal dengan sebutan Colt L300 untuk menuju ke Terminal Cibeureum, Ciwidey. Tanya kepada petugas jika masih ragu. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 40-50 menit. Tarif naik angkutan ini sekitar Rp 20 ribu.

4. Ke Tempat Wisata Ciwidey

Terakhir, setelah sampai di Terminal Cibeureum, traveler bisa menuju ke tempat wisata naik sejumlah angkutan umum. Misalnya jika menuju ke Kawah Putih, Patuha, Ranca Upas, atau Situ Patenggang, kalian bisa menggunakan angkutan umum warna kuning yang tarifnya sekira Rp 10-15 ribu.

Atau traveler bisa mencari paket wisata yang memberikan fasilitas penjemputan. Sampaikan bahwa titik penjemputan kamu adalah di Terminal Cibeureum.

Nah, itulah tadi panduan perjalanan dari Jakarta ke Ciwidey naik kereta api, lengkap mulai dari rute, pilihan kereta, hingga biayanya. Sebelum berangkat, jangan lupa update rute transportasi umum dan biaya yang diperlukan.

Selain itu, detikers sebaiknya mempersiapkan duit kas untuk biaya transortasi umum menuju Ciwidey. Tidak semua angkutan umum menyediakan akses pembayaran non tunai saat melayani penumpang.

(bai/row)



Sumber : travel.detik.com

Hujan-hujan, Hangatkan Badan di Wisata Air Panas Pangandaran



Pangandaran

Berbagai daerah di Tanah Air tengah dilanda hujan. Untuk menghangatkan badan, tak ada salahnya berkunjung ke wisata air panas Pangandaran. Sudah pernah belum?

Meski terkenal dengan keindahan pantainya, Pangandaran ternyata punya sumber mata air panas di kolam yang berpotensi menjadi objek wisata.

Lokasi kolam air panas itu berada di Desa Kedungwuluh, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Konon air tersebut bersumber dari Gunung Munggang Pare.


Tokoh Masyarakat Padaherang Eris Riswana mengatakan meski Gunung Munggang tiga kilometer dari lokasi kolam air panas. Ia menduga sumber air panas dalam kolam itu berasal dari kaki gunung tersebut.

Ia mengatakan Gunung Munggang itu bersifat aktif, namun senyap. Maksudnya, tidak ada tanda yang menunjukan gunung itu berapi aktif.

“Selama saya hidup sampai saat ini belum pernah meletus,” kata Eris.

Perangkat Desa Kedungwuluh, Anggi mengatakan memang kabarnya Gunung Munggang itu aktif dan menghasilkan sumber air panas di sumur yang tak jauh dari kantor desa.

“Lokasi sumur dan kolam itu berada depan kantor desa,” kata Anggi.

Menurutnya, kolam itu sering dimanfaatkan untuk pemandian air panas.

“Sudah sejak dulu sebelum saya lahir sudah ada. Cuman tepatnya dari kapannya kurang tau pastinya,” katanya.

Bahkan, kata dia, kolam itu sering dipakai warga setempat dan dari luar desa juga. Sebelumnya, tempat tersebut sempat menjadi destinasi wisata warga kampung.

“Dulu sempat di kelola ditarik retribusi, tapi tidak berjalan dan digratiskan sampai saat ini,” ucapnya.

Kendati demikian, kata dia, pihak desa belum pernah mengukur ketinggian gunung tersebut. “Ketinggian sih kurang tau lebih tepatnya. Cuman kalo gunungnya masuk wilayah Desa Karangmulya dan Desa Kedungwuluh,” katanya.

Pemkab Pangandaran Akan Kaji Potensi Wisata Air Panas

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pangandaran menghitung jumlah potensi destinasi wisata daerah di tingkat desa. Salah satu yang ditinjau Cipanas di Desa Kedunwuluh.

Pjs Bupati Pangandaran Benny Bacthiar mengatakan baru pertama kalinya dengar ada Cipanas di Pangandaran. Tentu hal tersebut menjadi potensi.

“Mudah mudahan, teman-teman di Desa bisa mencari sumber utamanya dimana dan insyaallah kalau ada waktu saya akan mengundang dari tim Geologi untuk mencoba membantu kita untuk melihat apakah mungkin atau tidak ini menjadi destinasi wisata,” ucap Benny.

“Kebayang tidak? Kabupaten Pangandaran itu asumsinya wisata pantai. Tapi ternyata punya juga air panas. Kan kalau ini dikembangkan menjadi luar biasa,” sambung Benny.

Menurutnya, Padaherang ini satu kecamatan di kabupaten Pangandaran yang biasa dilalui kendaraan wisatawan.

“Justru itu, jadi saya inginnya ketika wisatawan masuk ke Pangandaran itu orang sudah tahu, oh ternyata di sini ada tempat wisata ini dan di Kecamatan Kalipucang ada wisata juga,” ucapnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

5 Spot Ngabuburit Cantik di Pangandaran, Menunggu Buka Sambil Lihat Sunset



Pangandaran

Ngabuburit di Pangandaran, traveler bisa sambil berburu pemandangan sunset yang cantik. Berikut 5 tempat yang direkomendasikan:

Pangandaran menawarkan beragam pilihan tempat seru untuk mengisi waktu ngabuburit selama bulan Ramadan. Selain berburu takjil, pengunjung juga bisa menikmati pemandangan indah dan berburu spot foto menarik di berbagai lokasi.

Berikut 5 Rekomendasi Spot Ngabuburit Terbaik di Pangandaran:

1. Taman Suarsih

Taman Suarsih menjadi salah satu destinasi favorit warga Pangandaran saat ngabuburit. Berlokasi di Desa Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran, taman ini hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari Pantai Pangandaran.


Daya tarik utama Taman Suarsih adalah pemandangan langsung menghadap laut dan menjadi salah satu tempat terbaik menikmati sunset. Taman ini juga dilengkapi fasilitas lengkap, seperti tempat duduk nyaman, spot foto kekinian, sky walk, hingga jogging track.

Menariknya, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk karena Taman Suarsih masih termasuk kawasan wisata Pantai Pangandaran. Selain bersantai, pengunjung bisa berburu foto instagramable dengan latar pantai yang memukau.

2. Cikembulan Pass

Cikembulan Pass yang berlokasi di Desa Cikembulan, Kecamatan Sidamulih, menjadi spot ngabuburit baru yang kian populer. Pengunjung bisa menikmati suasana pantai, bermain pasir, hingga berswafoto sembari menanti adzan Magrib.

Lokasi ini semakin menarik karena panorama sunset yang memukau bisa disaksikan langsung dari area ini. Ditambah lagi, deretan pedagang takjil mulai buka sejak sore hari, memudahkan pengunjung berburu hidangan berbuka.

“Paling ikonik di tempat ini yaitu patung bundaran Marlin dan tulisan Cikembulan Pass untuk swafoto,” kata seorang pengunjung. Menariknya, lokasi ini juga kerap digunakan untuk aktivitas senam atau zumba sore hari.

3. Alun-alun Paamprokan

Alun-alun Paamprokan yang terletak di Jalan Pamugaran, Desa Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran, menjadi pusat aktivitas warga, khususnya saat Ramadan. Taman ini diresmikan langsung oleh Gubernur Jawa Barat saat itu, Ridwan Kamil.

Area alun-alun yang luas memungkinkan warga melakukan beragam aktivitas, mulai dari berfoto di menara, bermain di taman anak, menggunakan fasilitas gym outdoor, hingga bermain skateboard di area yang tersedia.

Bagi pengunjung yang ingin berburu takjil, di sekitar alun-alun sudah tersedia banyak penjual makanan yang mulai buka sejak sore hari. Waktu terbaik berkunjung ke Alun-alun Paamprokan biasanya antara pukul 16.00 WIB hingga 17.00 WIB.

4. Jembatan Wiradinata Rangga Jipang

Jembatan Wiradinata Rangga Jipang di jalur lintas pesisir Pantai Pangandaran kini menjadi salah satu pusat keramaian baru. Lokasinya sangat cocok dijadikan tempat ngabuburit sambil menikmati pemandangan sekitar.

Di sekitar jembatan terdapat Danau Tanjung Cemara yang menghadirkan panorama indah saat sore hari. Bias cahaya matahari yang memantul di permukaan danau menciptakan pemandangan yang sangat instagramable dan cocok untuk berswafoto.

Jembatan ini juga dekat dengan pusat jajanan takjil di sekitar Masjid Cikembulan, tepat di perempatan Jalan Raya Cijulang-Pangandaran, di samping Cafe Amora. Berbagai pilihan hidangan pembuka puasa tersedia dengan harga terjangkau.

5. Taman Pesona Pangandaran (TPP)

Taman Pesona Pangandaran atau TPP menjadi pilihan ngabuburit ramah keluarga, khususnya bagi ibu-ibu muda yang membawa anak-anak. Taman ini menawarkan beragam wahana permainan anak yang bisa dicoba selama menunggu waktu berbuka.

Selain area bermain, TPP juga dikenal sebagai pusat kuliner dengan foodcourt yang menyediakan aneka makanan dan takjil. Pengunjung tidak perlu repot mencari makanan berbuka karena semua tersedia di satu tempat.

Lokasi TPP berada di samping Pasar Pananjung, hanya sekitar 1 kilometer dari Pantai Pangandaran. Foodcourt di TPP mulai beroperasi sekitar pukul 16.30 WIB hingga 01.00 WIB dini hari, sehingga cocok untuk ngabuburit hingga kulineran malam.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ngabuburit Beda di Pangandaran Sambil Petik Melon Inthanon



Pangandaran

Ngabuburit menunggu azan Maghrib di Pangandaran bisa diisi dengan kegiatan yang berbeda, yaitu memetik buah melon langsung dari pohonnya.

Aktivitas ini bisa dinikmati di kebun melon milik Tuslam, yang berlokasi di Dusun Sukanegara, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran. Kebun melon ini menggunakan sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT) yang dikembangkan oleh Tuslam di halaman belakang rumahnya.

Saat Ramadan, kebun melon milik Tuslam ramai dikunjungi warga, terutama karena sedang memasuki panen raya. Uniknya, ia sengaja tidak memanen seluruh melon yang sudah matang, sehingga pengunjung bisa merasakan sensasi memetik sendiri langsung dari pohonnya.


Kebun milik Tuslam memiliki luas 130 meter persegi dengan populasi 150 tanaman melon jenis Inthanon. Ia pun berharap kebun ini bisa menjadi destinasi agrowisata baru di kampungnya.

Tuslam, mengungkapkan bahwa kebun melon ini berawal dari hobinya dalam bertani.

“Awalnya hanya hobi, tapi kemudian saya coba menanam melon secara hidroponik. Alhamdulillah hasilnya bagus,” tuturnya.

Sebagai lulusan jurusan pertanian, ia ingin menerapkan ilmu yang telah dipelajarinya sekaligus berbagi pengalaman dengan masyarakat sekitar.

Tuslam juga memiliki visi untuk mengembangkan kebunnya sebagai destinasi agrowisata dan edukasi, di mana pengunjung tidak hanya bisa membeli, tetapi juga memetik melon langsung dari pohonnya.

“Awalnya hanya iseng, tapi saya berpikir bahwa hobi itu harus menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” ungkapnya.

Tuslam menjelaskan bahwa kebun melon miliknya baru berjalan selama satu tahun, tetapi dalam lima bulan pertama sudah dua kali panen.

“Dari awal tanam hingga panen hanya butuh waktu sekitar dua bulan. Dalam satu pohon, hanya dipertahankan satu buah agar kualitasnya terjaga,” jelasnya.

Melon jenis Inthanon yang ia budidayakan tergolong langka di pasaran. Selain memiliki rasa yang sangat manis, melon ini juga dikenal dengan aromanya yang harum dan teksturnya yang renyah.

Kebun melon ini selalu ramai dikunjungi, terutama pada bulan Ramadan. “Setiap hari selalu ada pengunjung, mulai dari pagi, siang, hingga sore hari,” ujar Tuslam.

Pengunjung Tahu dari Media Sosial

Meski luas lahannya terbatas, kebun ini mampu menghasilkan buah melon yang cukup melimpah. Ika Umika, seorang pengunjung asal Kalipucang, mengaku mengetahui kebun ini dari media sosial dan tertarik untuk datang.

“Saya dapat info dari media sosial, katanya bisa memetik melon segar langsung dari pohonnya,” ujar Ika.

Menurutnya, melon merupakan buah favoritnya karena rasanya yang manis dan segar, terutama untuk hidangan berbuka puasa.

Hal serupa juga dirasakan oleh Rifda, yang mengetahui kebun melon ini dari status WhatsApp temannya.

“Saya melihat teman update sedang memetik melon disini, jadi saya langsung datang. Kebetulan lokasinya masih dekat dengan rumah,” kata Rifda.

Kebun Melon Tuslam Menghasilkan Cuan

Dari hasil panen, Tuslam mengaku bisa memperoleh pendapatan yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya operasional.

“Jika dirata-ratakan, penghasilan per hari bisa mencapai Rp 1 juta lebih. Alhamdulillah, cukup untuk memenuhi kebutuhan selama menunggu panen berikutnya,” katanya.

Namun, penghasilan yang lumayan itu dia dapatkan ketika kebun melonnya mengalami musim panen.

“Kebetulan Ramadan ini pun waktunya panen,” ucapnya.

Untuk pengunjung yang ingin menikmati pengalaman memetik sendiri, harga satu buah melon dengan berat 1 kg adalah Rp 35 ribu. Sementara dalam sehari kebun Tuslam mampu menjual sekitar 30 kg melon yang dibeli langsung oleh pelanggan.

“Alhamdulillah, saat ini lebih banyak yang membeli langsung ke kebun,” ucapnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Lempar Koin di Situs Ini Dipercaya Membawa Keberuntungan



Pangandaran

Warga Pangandaran percaya jika melempar koin di Situs Batu Kalde, maka wisatawan akan mendapatkan keberuntungan. Percaya atau tidak?

Jika Anda berkunjung ke Taman Wisata Alam (TWA) Cagar Alam Pangandaran, jangan lupa mampir ke Situs Batu Kalde. Ada mitos unik yang menyelimuti situs ini. Mitos itu melibatkan uang koin.

Situs Batu Kalde adalah bangunan cagar budaya yang disebut-sebut sebagai petilasan Prabu Jaya Pakuan, pangeran dari Kerajaan Pajajaran. Konon, sang pangeran pernah singgah di situs ini.


Situs ini dinamakan Situs Batu Kalde karena terdapat sebuah arca berbentuk sapi. Meski berbentuk sapi, namun oleh masyarakat setempat dianggap menyerupai ‘kalde’, bahasa Sunda untuk keledai.

Namun, dalam mitologi Hindu, arca tersebut sebenarnya merupakan Nandi, wahana atau kendaraan Dewa Siwa. Biasanya, keberadaan Nandi menandakan di tempat itu dulunya terdapat arca Dewa Siwa dalam bentuk lingga yoni, simbol kesuburan dalam kepercayaan Hindu.

Situs Batu Kalde di PangandaranSitus Batu Kalde di Pangandaran Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar

Lingga melambangkan kejantanan dan sumber kehidupan. Sedangkan yoni adalah simbol kesuburan yang dihubungkan dengan Dewi Parwati, istri Dewa Siwa. Penyatuan lingga dan yoni diyakini sebagai filosofi keseimbangan alam yang menciptakan kehidupan baru.

Kembali ke mitos yang dipercaya oleh warga setempat, mereka percaya jika orang yang berhasil melemparkan uang koin ke dalam lubang batu yoni yang tersisa, maka dia akan mendapatkan keberuntungan.

Yogi Saputera, juru penunggu Situs Batu Kalde, mengatakan mitos tersebut telah ada sejak lama.

“Memang katanya kalau berhasil melempar koin ke batu yoni, bisa mendapatkan keberuntungan. Tapi aturannya, harus melempar dari jarak tiga langkah mundur dari batas yang ditentukan,” ujar Yogi belum lama ini.

Konon, jika seseorang berhasil memasukkan koin ke dalam lubang candi yang tinggal satu umpak, maka harapannya akan terkabul. Menurut Yogi, uang koin yang digunakan juga tidak boleh sembarangan.

“Harus pakai uang receh pecahan Rp 500 atau lebih kecil. Tidak boleh terlalu besar nilainya,” tambah dia.

Sampai sekarang mitos ini tetap lestari, bahkan semakin populer, terutama saat musim liburan. Setiap harinya, Yogi mengaku menerima 20 hingga 30 wisatawan yang datang khusus untuk mencoba peruntungan mereka dengan melempar koin.

“Pas libur panjang, jumlahnya bisa lebih banyak. Rata-rata 30 orang datang ke sini setiap hari,” katanya.

Wisatawan Dibuat Penasaran

Bagi sebagian pengunjung, melempar koin ke Situs Batu Kalde bukan hanya soal mitos, tetapi juga bagian dari pengalaman seru selama berwisata. Seperti yang dialami Aprilian (24), seorang wisatawan yang mengunjungi situs ini bersama temanya.

“Awalnya sih cuma ikut rute yang diberikan pemandu. Terus dia bilang ini tempat bersejarah dan ada mitos kalau bisa lempar koin ke dalam lubang, harapan kita bisa terkabul. Jadi ya coba aja,” ungkapnya.

Hal yang sama juga dirasakan Fazar Sidiq, yang datang liburan ke Situs Batu Kalde bersama dengan Aprilian.

“Karena penasaran, ya ikut coba aja. Tadi sampai nukerin uang Rp 2.000 jadi koin receh. Dari empat koin yang saya lempar, dua berhasil masuk,” katanya.

Terlepas dari mitos yang berkembang, Situs Batu Kalde tetap menjadi destinasi menarik di Cagar Alam Pangandaran. Selain menyimpan nilai sejarah dan budaya, tempat ini juga menjadi daya tarik wisata yang unik dengan tradisi lempar koinnya.

Bagi yang percaya, ritual ini bisa menjadi simbol harapan. Namun, bagi yang hanya sekadar mencoba, melempar koin ke Batu Kalde tetap memberikan pengalaman seru yang tak terlupakan.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com