Tag Archives: pantura

Pulau Unik di NTT yang Dapat Ditempuh dengan Jalan Kaki saat Laut Surut



Jakarta

Di bagian utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) terdapat satu pulau unik yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki saat laut surut.

Adalah pulau Nusa Kutu yang terletak di Desa Kolisia, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka. Tempat itu sekitar 100 meter dari daratan Flores. Pulau itu memiliki struktur karang kokoh yang memiliki sabana di atasnya.

Pulau ini dulunya bagian dari Pulau Flores. Namun akibat bencana alam yang melanda Kabupaten Sikka pada 1992, Nusa Kutu terpisah dan menjadi pulau mandiri.


Untuk mengunjungi pulau ini, pengunjung dapat berkendara dari Kota Maumere ke arah barat melalui jalur Pantura menuju Desa Kolisia. Perjalanan memakan waktu sekitar 20-25 menit.

Setibanya di Kolisia, mata Anda akan dimanjakan dengan hamparan pasir putih yang halus. Tersedia pondok kecil di sekitar lokasi parkir yang bisa disewa, menciptakan suasana santai sebelum perjalanan ke pulau dimulai.

Setelah tiba di lokasi, biaya parkir yang dikenakan cukup terjangkau, yaitu Rp 5.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp 10.000 untuk kendaraan roda empat. Selain area parkir, pengunjung dapat menyewa balai-balai kecil dengan harga Rp 20.000, tempat yang nyaman untuk bersantai menikmati pemandangan.

Untuk mencapai Nusa Kutu, pengunjung dapat menggunakan perahu milik nelayan setempat dengan waktu tempuh sekitar 5-7 menit saat laut pasang.

Uniknya, jika air laut sedang surut, pengunjung bisa berjalan kaki menyusuri pesisir menuju pulau sambil ditemani deburan ombak. Jalur ini memberikan pengalaman unik, seolah menyusuri jalur alami yang menghubungkan daratan dengan pulau kecil ini.

Untuk mencapai puncak Nusa Kutu, pengunjung perlu berjalan sekitar 50 meter melewati lereng bukit. Dari sana, pemandangan luas ke arah laut dan pulau di sekitarnya menjadi panorama yang tak terlupakan.

Salah satu momen terbaik untuk mengunjungi Nusa Kutu adalah saat senja. Keindahan matahari terbenam di pulau ini menciptakan pemandangan memukau, menjadikannya surga bagi para pecinta sunset.

Bagi Anda yang mencari destinasi unik di Kabupaten Sikka, Nusa Kutu menawarkan pengalaman wisata alam yang asri dan menenangkan, lengkap dengan pemandangan indah dan suasana eksotis. Nikmati keindahan dan ketenangan Nusa Kutu di akhir pekan Anda!

__________________

Artikel ini telah tayang di detikBali

(wkn/wkn)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Pilihan 7 Aktivitas Seru Sehari di Taman Nasional Baluran Africa van Java


Jakarta

Taman Nasional Baluran dijuluki sebagai Africa van Java. Bukan tanpa sebab, hamparan alam yang disuguhkannya begitu mempesona, terlebih saat musim kemarau tampak mirip dengan savana di Afrika.

Berlokasi di ujung timur Pulau Jawa, luasnya yang mencapai 25.000 hektar menyajikan banyak spot menarik. Traveler dapat menemukan kawasan padang rumput, hutan hijau, pegunungan, serta perairan.

Tertarik mengunjungi taman nasional satu ini? Cari tahu daya tarik dan aktivitas seru yang dapat dilakukan di Taman Nasional Baluran pada uraian di bawah.


Aktivitas Seru di Taman Nasional Baluran

Dilansir situs Dinas Pariwisata Kabupaten Situbondo, berikut spot dan kegiatan yang asik dilakukan di Taman Nasional Baluran:

1. Berkeliling Taman Nasional

Taman nasional ini menyuguhkan bentangan Savana Bekol, hutan hijau lebat Evergreen Forest, hingga pesona Pantai Bama. Padang rumput Bekol menjadi kawasan ikonik di sana. Kawasan seluas 10 ribu hektare inilah yang menjadi alasan Taman Nasional Baluran disebut sebagai Africa van Java.

Ketika cuaca kemarau, rerumputan di Savana Bekol mengering sehingga menyerupai padang rumput di daratan Afrika. Di musim hujan, padang rumput ini akan menghijau cantik sejauh mata memandang. Begitu pula dengan Gunung Baluran yang menjadi latar belakangnya.

Burung merak melintas di padang sabana Bekol di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur, Jumat (22/6). Kawasan yang memiliki luas 25 ribu hektar tersebut memiliki sekitar 444 jenis tumbuhan, 26 jenis mamalia, 155 jenis burung dan terdapat lokasi wisata bahari serta lokasi pengamatan burung migran. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pd/18Savana Bekol di Taman Nasional Baluran. Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Untuk menuju pada rumput, detikers harus terlebih dahulu melewati Evergreen Forest sebagai jalan satu-satunya. Hutan rimbun ini bak terowongan hijau dengan pepohonan yang berada di sekelilingnya. Bulan Januari hingga Februari diketahui waktu terbaik mampir ke area hutan ini.

Di ujung Taman Nasional Baluran, traveler akan menemukan Pantai Bama dengan perairan yang jernih dan hamparan pasir putihnya. Kawasan ini juga dikelilingi hutan mangrove yang eksotis. Sejumlah spot lain yang bisa dikunjungi di taman nasional ini, meliputi Gua Jepang, Curah Tangis, Batu Numpuk, serta Candi Bang.

2. Mengamati Flora dan Fauna

Savana Bekol menjadi habitat satwa meliputi kerbau liar, banteng Jawa, rusa timor, kera, lutung, ular, babi dan anjing hutan, hingga macan tutul. Selain fauna, flora yang bakal kamu jumpai di sana seperti widoro bukol, pilang, mimbo, dan kesambi.

Rusa timor (cervus timorensis) bersama kera ekor panjang (macaca fascicularis) mencari makan di savana Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur, Jumat (5/6/2020). Ditutupnya pariwisata di TN Baluran pada masa Pandemi COVID-19, berdampak pada perilaku satwa yang biasanya beraktivitas di dalam hutan saat ini mudah dijumpai di padang savana karena tidak adanya wisatawan. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/pras.Rusa timor (cervus timorensis) bersama kera ekor panjang (macaca fascicularis) mencari makan di savana Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur, Jumat (5/6/2020). Foto: ANTARA FOTO/BUDI CANDRA SETYA

Detikers juga akan menemukan sejumlah spesies burung di Taman Nasional Baluran secara keseluruhan, antara lain kuntul karang, cangak abu, bangau tong-tong, hingga wiliwili besar. Menariknya, khusus di Pantai Bama saja merupakan habitat asli bagi beberapa burung endemik Jawa Timur.

3. Menyaksikan Panorama dari Menara Pandang

Hamparan alam Taman Nasional Baluran sangat disayangkan apabila tidak dapat dinikmati secara menyeluruh. Untungnya, di sana terdapat menara pandang yang bisa diakses pengunjung untuk menyaksikan panorama padang rumput dari ketinggian.

Dari menara tersebut, traveler bakal melihat bentangan savana yang luas beserta gerombolan satwa liar yang hidup di taman nasional. Pengalaman itu tentunya sangat berkesan.

Menara Bekol di Taman Nasional BaluranMenara Bekol di Taman Nasional Baluran. Foto: (Bonauli/detikcom)

4. Menikmati Pemandangan Bawah Laut

Pantai Bama di kawasan Taman Nasional Baluran menyuguhkan perairan yang jernih dengan kehidupan bawah laut yang luar biasa. Hamparan pasir putihnya yang lembut dan bersih menjadi pelengkap keelokan pantai satu ini.

Di Pantai Bama, traveler bisa menikmati panorama bawah laut dengan snorkeling. Kamu dapat menyewa perahu untuk menyelam di kawasan perairan yang lebih dalam. Terdapat juga sebuah dermaga di area pantai ini. Ujung dermaga kerap dijadikan lokasi memancing oleh para pengunjung yang datang.

Pengunjung melakukan aktivitas snorkelling di Pantai Balanan, Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur, Kamis (17/11/2022). Pantai tersebut memiliki potensi wisata pesona bawah laut yang menawarkan keragaman biota laut yang masih alami. ANTARA FOTO/Budi Candra SetyaPengunjung melakukan aktivitas snorkelling di Pantai Balanan, Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur, Kamis (17/11/2022). Pantai tersebut memiliki potensi wisata pesona bawah laut yang menawarkan keragaman biota laut yang masih alami. Foto: ANTARA FOTO/BUDI CANDRA SETYA

Pantai lain di Taman Nasional Baluran yang dapat dijadikan spot snorkeling yaitu Pantai Balanan. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Pantai Bama, sekitar 3 km ke arah barat.

5. Hunting Foto

Aktivitas ini tentunya tidak boleh dilewatkan saat detikers mampir ke Taman Nasional Baluran. Selain direkam oleh mata, pesona alam di sana patut untuk diabadikan oleh kamera.

Setiap sudut taman nasional ini sangatlah cantik, jadi kamu bisa berfoto di mana saja. Namun perlu diperhatikan, apa yang traveler lakukan jangan sampai mengganggu satwa maupun merusak kawasan sekitar ya.

6. Wisata Sejarah di Goa Jepang

Detikers bisa menemukan Gua Jepang di depan kantor balai Taman Nasional Baluran. Gua ini merupakan peninggalan bersejarah yang jadi saksi bisu penjajahan Negeri Sakura di wilayah ujung timur Pulau Jawa tersebut. Pada masanya, gua seluas 12 meter itu menjadi tempat penyimpanan senjata dan benteng pertahanan pasukan Jepang.

7. Bermalam di Kawasan Pantai Bama

Pantai di BaluranPantai Bama di Taman Nasional Baluran. Foto: (yayan_fmr/d’Traveler)

Taman Nasional Baluran dilengkapi fasilitas wisata berupa penginapan. Kalau kurang puas menyusuri kawasan taman nasional ini dalam sehari, maka kamu bisa bermalam dan melanjutkan penjelajahan keesokan harinya.

Penginapan yang tersedia pun memiliki daya tarik tersendiri dengan pemandangan pantai yang persis di depannya.

Taman Nasional Baluran terletak di Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Meski secara administrasi berada di Situbondo, kawasan taman nasional ini lebih dekat dengan Kabupaten Banyuwangi.

Dari pusat kota Situbondo, Taman Nasional Baluran berjarak sekitar 67-68 km yang dapat ditempuh dalam 1 jam 40 menit. Lewati Jl. Raya Pantura lanjut ambil Jl. Raya Banyuputih untuk sampai di sana.

Sementara dari Banyuwangi, jaraknya sekitar 51-53 km dengan waktu tempuh kisaran 1 jam 25 menit. Ambil arah utara melalui Jl. Raya Banyuwangi-Situbondo, gunakan online maps sebagai petunjuk jalan.

Traveler dapat menggunakan motor atau mobil untuk menuju Taman Nasional Baluran. Namun disarankan menaiki mobil karena lokasi yang cukup jauh, kawasan yang luas, dan khawatir diganggu satwa liar saat sudah sampai di lokasi.

Banyuwangi memiliki tempat wisata eksotis bernama Taman Nasional Baluran. Taman nasional ini menawarkan kehidupan alam yang bebas layaknya di Afrika. Penasaran?Savana Bekol di Taman Nasional Baluran. Foto: Antara Foto

Tiket Masuk Taman Nasional Baluran

Taman Nasional Baluran buka setiap hari dan loket pembelian karcis ditutup pada pukul 16.00 WIB. Tiket masuk dibedakan antara pengunjung domestik dan mancanegara, berikut daftar harganya yang dikutip dari akun Instagram @btn_baluran:

Harga Tiket Weekday (Hari Kerja)

  • Wisatawan domestik: Rp 16.000
  • Wisatawan mancanegara: Rp 165.000

Harga Tiket hari Libur

  • Wisatawan domestik: Rp 18.500
  • Wisatawan mancanegara: Rp 240.000

Pengunjung yang datang menggunakan kendaraan juga akan dikenakan biaya masuk sebesar:

  • Roda dua: Rp 5.000
  • Roda empat: Rp 10.000
  • Roda enam: Rp 50.000

Aturan di Taman Nasional Baluran

Menara Bekol di Taman Nasional BaluranAturan yang terpampang di Menara Bekol, Taman Nasional Baluran. Foto: (Bonauli/detikcom)

Traveler yang hendak berkunjung ke Taman Nasional Baluran, hendaknya memperhatikan sejumlah aturan berikut:

  • Dilarang mengoperasikan drone
  • Dilarang memberi makan satwa
  • Dilarang memasuki kawasan savana
  • Kecepatan berkendara 20 km per jam
  • Tidak membuang sampah sembarangan.

Aturan ini hendaknya diikuti pengunjung selama berada di area Taman Nasional Baluran. Selamat berlibur dan jangan lupa selalu menjaga kebersihan ya detikers.

(azn/row)



Sumber : travel.detik.com

Makam Misterius di Jalur Pantura Lasem, Konon Milik Intel Zaman VOC



Lasem

Jalur Pantai Utara (Pantura) Lasem menyimpan makam yang sederhana namun misterius. Konon, makam itu milik ‘agen rahasia’ pada zaman VOC.

Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Jalur Pantura yang membelah wilayah Lasem di kabupaten Rembang, Jawa Tengah tersembunyi sebuah makam sederhana penuh misteri.

Terletak tidak jauh dari badan jalan. Tepat di sebelah utara Jalur Pantura masuk Dukuh Caruban, Desa Gedongmulyo, Lasem. Tak jauh dengan lokasi Sungai Kiringan atau Kairingan, atau sebelah timurnya, makam ini dikenal masyarakat sebagai makam Mbah Galio atau Mbah Sedandang.


Tidak sedikit yang percaya, ia bukan orang biasa, melainkan seorang inteligen sekaligus pengawal setia Raden Panji Margono, tokoh perlawanan terhadap VOC Belanda dalam Perang Kuning di Lasem.

Sepintas melihat, makam ini nyaris tidak mencolok. Diteduhi pohon tua dan dilindungi cungkup kayu yang sangat sederhana. Keberadaannya seolah terlupakan oleh modernitas. Namun, bagi sebagian masyarakat Lasem, makam ini adalah saksi bisu perjuangan heroik di masa lampau.

“Nama Mbah Galio memang tidak muncul dalam buku-buku sejarah resmi, tapi dalam penuturan masyarakat tua, beliau adalah orang kepercayaan Raden Panji Margono. Perannya cukup penting dalam Perang Kuning melawan VOC yang terjadi sekitar abad ke-18,” ujar Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Forkmas) Lasem, Ernantoro, Minggu (4/5/2025).

Menurut Ernantoro, Mbah Galio bukan sekadar pengawal. Ia disebut-sebut sebagai mata-mata ulung, sebagai seorang intelijen pemberi informasi dalam mengatur strategi perang.

Makam misterius di Pantura Lasem, Rembang, Minggu (4/5/2025). Konon makamnya Mbah Galio (Mbah Sedandang) pengawal Raden Panji Margono, tokoh pemimpin Perang Kuning.Makam misterius di Jalur Pantura Lasem Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng

Ia mampu menyamar dengan sangat baik, bahkan hingga dianggap orang biasa oleh masyarakat umum. Karena kesederhanaan dan kemisteriusannya, ia dijuluki Mbah Sedandang, sosok yang selalu membawa dandang (panci tradisional untuk mengukus) dan berpakaian seperti rakyat jelata.

“Konon, beliau sering muncul tiba-tiba di tempat berbeda. Ini yang membuatnya dijuluki sebagai intelijen. Dia suka nyamar dengan memikuk dandang tiap ke mana-mana. Namun, hingga kini, keberadaan dan identitas aslinya tetap menjadi teka-teki,” tambah Ernantoro.

Perang Kuning sendiri merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah perlawanan lokal Lasem terhadap kolonialisme Belanda.

Dipimpin oleh Raden Panji Margono, perang ini melibatkan jaringan perlawanan rakyat yang tersebar hingga ke pelosok desa. Banyak tokoh penting yang gugur, dan sebagian jejaknya terkubur oleh waktu, salah satunya adalah Mbah Galio.

Meski tidak tercatat dalam arsip resmi kolonial, makam Mbah Galio tetap dihormati oleh warga sekitar. “Tempat ini sering dianggap angker, tapi sebenarnya tidak,” ungkap Ernantoro.

Forkmas Lasem kini tengah mengusulkan agar situs makam Mbah Galio dijadikan cagar budaya lokal, sebagai upaya pelestarian sejarah lisan yang masih hidup di tengah masyarakat.

“Sejarah tidak selalu harus tertulis. Selama masih hidup dalam ingatan kolektif, ia layak dihormati dan dilestarikan,” pungkasnya.

Di tengah lalu lintas kendaraan berat dan debu jalanan Pantura, makam Mbah Galio berdiri diam, menyimpan cerita tentang keberanian, pengabdian, dan misteri yang belum terpecahkan.

——-

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com