Tag Archives: pasuruan

Pengalaman Piknik Estetik di Hamparan Karpet Hijau Bromo



Pasuruan

Bromo merupakan salah satu spot eksotis di Jawa Timur yang menjadi daya tarik wisatawan. Tak hanya berfoto dan memandangi keindahan, beberapa aktivitas menarik dapat dilakukan di sini.

Misalnya saja yang detikcom lakukan bersama Plataran Bromo. Kami diajak untuk merasakan sensasi piknik yang tiada dua, yakni piknik berlatarkan hamparan karpet hijau di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Dalam kunjungan kami ke kawasan TNBTS, Kamis (7/12/2023), kami tiba sedari pukul 04.00 WIB di Bukit Perahu untuk menikmati sunrise. Puas memandangi panorama matahari pagi, kami akhirnya turun ke area savana untuk menikmati piknik.


Kami beruntung mendapatkan suasana begitu cerah. Walau memasuki musim penghujan, tetapi cuaca saat kami di sana sangat terang dan tak turun hujan. Matahari menyinari secara hangat dan sedikit tertutupi oleh awan tipis yang hilir mudik.

Pengalaman merasakan piknik estetik di BromoPengalaman merasakan piknik estetik di Bromo (Weka Kanaka/detikcom)

Saat kami tiba, peralatan piknik pun telah tersedia. Beanbag, hamparan kain putih, pernak-pernik, dan meja makan telah disusun sedemikian rupa sehingga begitu estetik. Di atasnya, terdapat beberapa makanan seperti kue-kue dan sandwich yang dapat langsung dilahap.

Tak hanya itu, terdapat pula live cooking yang disajikan untuk menyediakan makanan hangat. Kami bisa menyaksikan kru Plataran Bromo memasak hingga menyajikan makanan.

Pengalaman merasakan piknik estetik di BromoMemakan soto bebek dengan pemandangan savana Bromo. (Weka Kanaka/detikcom)

Makanan utama kami di sana adalah, hidangan soto bebek yang panas dan disajikan langsung di tempat. Selain itu, ada pula menu western breakfast seperti telur dadar, daging ham sapi, serta sosis. Sedangkan untuk minuman, kita bisa memilih antara teh maupun kopi.

Tentunya, hidangan hangat yang disajikan sangat ciamik dipadukan dengan suasana savana Bromo yang begitu sejuk.

Kami menghabiskan cukup banyak waktu untuk menikmati sajian makanan, serta sajian alam yang menawan. Memandangi hamparan rerumputan Savana Bromo yang telah kembali menghijau, sembari mencicipi makanan dan minuman yang disediakan, tentunya pengalaman syahdu yang begitu menarik.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) setelah terbakar Kamis (7/12/2023).Panorama savana hijau Bromo pada Kamis (7/12/2023). (Weka Kanaka/detikcom)

Tak hanya dapat dinikmati secara experience, pengalaman ini tentunya juga sangat sulit jika tidak diabadikan.

Bagi traveler yang ingin menikmati pengalaman ini, traveler dapat memesan experience bernama Tengger Caldera Wonders di Plataran Bromo. Biayanya yakni Rp 2 juta++ (21 persen) untuk dua orang.

Pengalaman ini tentunya patut traveler coba bersama orang paling spesial ataupun pasangan. Selain itu, bisa juga menjadi salah satu experience dalam foto prewedding.

Adapun kegiatan prewedding dan lainnya yang dilakukan di Bromo itu diizinkan dengan syarat mengurus izinnya terlebih dulu ke Balai Besar TNBTS.

“Kemudian kita juga mengimbau untuk masyarakat agar setiap aktivitas yang akan dilakukan di dalam kawasan Taman Nasional kan mungkin tidak hanya untuk wisata ya, bisa jadi untuk prewedding, kemudian bisa jadi juga untuk seperti ini peliputan,” ujar Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNBTS, Septi Eka Wardhani, saat ditemui detikcom di kantor BBTNBTS, Kamis (7/12/2023).

“Mohon untuk bisa dikomunikasikan, dilaporkan, dan minta izin kepada kami sehingga nanti kita bisa proses perizinannya. Kemudian kita bisa dampingi, kita bisa memberikan masukan mana yang boleh, mana yang tidak, guideline-nya seperti apa,” Septi menambahkan.

(wkn/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Bukit Perahu Bromo, Spot Sunrise Tak Kalah Indah Dari Penanjakan Satu



Pasuruan

Melihat matahari terbit di balik Bromo siapa yang tak ingin. Untuk menyaksikannya, traveler bisa menikmatinya di Bukit Perahu.

Biasanya, lokasi favorit bagi traveler yang ingin menyaksikan sunrise di Bromo adalah Penanjakan Satu yang berlokasi di Gunung Penanjakan, Pasuruan. Namun, sebagai spot favorit wisatawan tempat ini kerap kali penuh, sehingga traveler mesti mencari alternatifnya.

Salah satu alternatif yang mungkin bisa traveler pilih adalah Bukit Perahu yang juga ada di Gunung Pananjakan. Area ini tengah jadi favorit wisatawan pemburu sunrise di Bromo.


Alasannya, lokasi Bukit Perahu dinilai cukup lengkap. Dekat area spot sunrise, terdapat mushola yang cukup lega. Sehingga traveler yang ingin menikmati matahari terbit dapat beribadah terlebih dulu. Selain itu, ada juga toilet umum yang bisa dimanfaatkan untuk traveler yang ingin membuang air kecil ataupun besar. Di sekitar area masjid tersebut ada pula area duduk-duduk santai.

Ingin mengisi perut? Tenang saja, traveler bisa sarapan di warung-warung terdekat. Di sini traveler dapat mengisi perut sembari menghangatkan tubuh.

Selain itu, bagi traveler yang lupa membawa penghangat tubuh, bisa juga membeli atau menyewa perlengkapan tersebut. Tersedia penjaja jaket sewaan atau penjual kupluk dan sarung tangan.

Menuju spot sunrise, traveler mesti trekking sejenak sekitar 5-10 menit. Jalannya tidak terlalu terjal, namun cukup licin dan minim penerangan. Sehingga traveler mesti mempersiapkan penerangan ketika mendaki.

Di puncak Bukit Perahu, traveler akan disambut oleh pemandangan Gunung Bromo, Gunung Batok, serta Gunung Semeru yang juga terlihat samar.

Menyaksikan sunrise di sini baiknya traveler telah tiba sejak pukul 04.00 WIB. Hal tersebut agar traveler dapat mempersiapkan diri di spot terbaik serta agar terhindar dari macet dalam perjalanan, serta tentunya agar tidak terlewat panorama matahari pagi yang perlahan muncul.

Panorama munculnya matahari di sini tak benar-benar berada di balik Bromo, melainkan di sisi kirinya. Namun, menyaksikan sinar matahari perlahan muncul dan menyinari punggung kawasan Bromo dan Gunung Batok juga sangat memanjakan mata.

Pada kunjungan detikcom ke Bukit Perahu, Kamis (7/12/2023), terlihat kawasan ini juga dipadati oleh wisatawan, khususnya ketika sunrise telah muncul. Wisatawan lokal, hingga mancanegara juga terlihat banyak di sini.

Menurut penuturan seorang pemandu wisatawan, Rizal Trisna, Bukit Perahu ini adalah salah satu spot relatif baru yang tengah digandrungi wisatawan.

“Ya, kebetulan lagi booming-boomingnya di sini Bukit Perahu ini, termasuk baru sih,” kata dia.

Adanya pepohonan yang tumbuh di sekitar bukit disebut menjadi salah satu daya tarik lokasi ini. Terlihat pula para traveler memanfaatkan pohon tersebut menjadi objek swafoto.

“Mungkin ini ya, ini pohon-pohonnya ini bikin beda lah dibanding dari Bukit Kingkong atau Bukit Love Hill,” ujar dia.

(wkn/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

4 Spot Menyambut Sunrise Bromo dari Pasuruan, Begitu Syahdu


Pasuruan

Bromo merupakan kawasan wisata yang memiliki empat pintu masuk dari empat kabupaten berbeda. Menyambanginya melalui Pasuruan, traveler bisa menemukan empat spot terbaik.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) berada di antara empat kabupaten di wilayah Jawa Timur, tepatnya di Malang, Lumajang, Probolinggo, dan Pasuruan. Berkunjung ke Bromo, traveler bisa melalui jalur dari keempat kabupaten tersebut.

Biasanya berkunjung ke Bromo dilakukan melalui dua fase, yakni fase menikmati sunrise di bukit-bukit atau spot sunrise pada dini hari hingga matahari menampakkan diri. Kemudian, fase kedua adalah menikmati panorama Bromo dari dekat, yakni berkunjung ke area Pasir Berbisik, Bukit Teletubbies, atau menuju area kawahnya.


Nah, jika berkunjung melalui Pasuruan, traveler akan disuguhkan oleh empat sunrise spot terbaik. Bahkan, beberapa wisatawan yang berkunjung dari daerah lain pun menjadikan tempat ini sebagai destinasi.

1. Pananjakan Satu

Salah satu sunrise spot yang paling terkenal di kawasan Bromo adalah Pananjakan 1. Tempat ini berada pada ketinggian 2.770 mdpl, yakni sebagai titik tertinggi di Gunung Pananjakan yang berlokasi di sekitar Bromo.

Tempat ini juga menyandang gelar The Famous of Bromo Sunrise. Namun menuju tempat ini, akses kendaraan cukup terbatas dan padat, sehingga bagi traveler yang ingin berkunjung ke sini mesti datang lebih awal.

2. Bukit Perahu

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) setelah terbakar Kamis (7/12/2023).Pemandangan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dari Bukit Perahu. Foto: Weka Kanaka/detikcom

Salah satu spot yang tengah digemari di sekitar Gunung Pananjakan adalah Bukit Perahu. Spot ini berada tepat sebelum Pananjakan 1.

Misalnya saja Rizal Trisna. Dia adalah pemandu yang berasal dari Probolinggo.

Saat itu ia tengah mendampingi rombongan turis China untuk mengunjungi Bromo. Ia memilih lokasi Bukit Prahu sebagai pilihan karena memiliki panorama unik lewat pepohonannya.

“Ya lagi booming, boomingnya ini Bukit Perahu, termasuk baru (booming). Mungkin ini ya kayak di pohon-pohonnya ini bikin beda lah dibanding Bukit Kingkong, atau Bukit Lovehill,” ujar Rizal kepada detikcom, Kamis (7/12/2023).

Area Bukit Perahu juga menjadi pilihan ketika kami berkunjung. Berkunjung ke sini, traveler mesti tracking ringan selama 5-10 menit dengan berjalan sedikit mendaki. Ketika dini hari, tak ada penerangan di area bukit sehingga traveler mesti menyalakan senter.

Area ini terdiri dari perbukitan yang memiliki lahan cukup lapang di bagian atas, dan terdapat lahan yang agak curam di area spot fotonya.

Namun, panorama pagi hari setelah matahari telah nampak begitu indah. Panorama Bromo terlihat jelas di sini dan pepohonan di area sini juga bisa menjadi ornamen menarik untuk swafoto.

Selain itu, fasilitas di sekitar area ini juga cukup lengkap. Terdapat warung, masjid, hingga toilet umum berada di tepi jalan.

3. Bukit Kingkong atau Bukit Kedaluh

Salah satu spot yang bisa dikunjungi jika melalui Pasuruan adalah Bukit Kingkong atau Bukit Kedaluh. Lokasi sunrise point ini terletak tak terlalu tinggi dibandingkan dua spot sebelumnya. Yakni tingginya berada di 2.600 mdpl.

Kendati sudut pandang di sini akan lebih rendah, tetapi traveler tetap dapat menikmati sunrise yang muncul dari balik Gunung Batok dan Mahameru, yakni puncak Gunung Semeru.

Di kawasan ini terdapat pula pagar pengaman setinggi dada orang dewasa, sehingga ini bisa menjadi pembatas keamanan bagi traveler. Selain itu, tempat ini juga dekat dengan pedagang asongan, sehingga traveler bisa menemui jajanan hangat seperti kopi ataupun mie rebus.

Area parkir kendaraan di sini cukup luas dan memiliki beberapa pilihan untuk camping ground.

4. Bukit Cinta

Nah, salah satu yang tak kalah tenar adalah Bukit Cinta atau Love Hill. Tempat ini berada di ketinggian 2.680 mdpl dan terkadang disebut sebagai sunrise point Pananjakan 3.

Tempat ini selain menjadi spot asyik melihat sunrise, tetapi juga menyimpan legenda masyarakat setempat. Tempat ini diyakini sebagai tempat pertemuan Roro Anteng dan Joko Seger, yakni nenek moyang yang dipercaya sebagai leluhur masyarakat Tengger di Bromo.

Spot ini juga bisa menjadi alternatif jika spot Pananjakan 1 dan 2 dipadati pengunjung.

(wkn/fem)



Sumber : travel.detik.com

Hotel Dekat Bromo Syahdu Mirip di Swiss



Pasuruan

Bromo merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Jawa Timur. Dekat dengan Bromo, terdapat hotel yang memiliki suasana mirip di Swiss.

Ingin menikmati liburan dengan menyaksikan panorama Bromo? traveler bisa menyempatkan diri menikmati hotel bernuansa Swiss di sekitar sini. Adalah Plataran Bromo, merupakan hotel yang berada di jalur menuju Bromo, tepatnya di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Plataran Bromo Hotel, Pasuruan, Jawa Timur.Pemandangan di Plataran Bromo Hotel, Pasuruan, Jawa Timur. (Weka Kanaka/detikcom)

Nuansa yang disebut mirip di Swiss ditunjukkan lewat pemandangan yang memanjakan mata. Itu lantaran hotel ini berada di ketinggian sekitar 1.800 mdpl. Bahkan, di beberapa tempat paling atas hotel ini menyuguhkan spot pemandangan yang menghadap berbagai gunung dan bukit yang mengelilingi hotel ini.


“Di sini kan bisa dibilang kita di Gunung cukup tinggi, 1800 di atas permukaan laut. Jadi pastinya konsep yang diambil salah satunya pemandangan yang bisa melihat lima gunung itu sekaligus makanya kita sebut yang di atas Swiss van Java,” terang General Manager Plataran Bromo, Ani Tri Windarti, kepada detikTravel, Jumat (8/12/2023).

Pada area pandang di Plataran Bromo bahkan terdapat penunjuk arah ke spot-spot terkenal di sekitar, seperti Bromo, Danau Ranu Pani Lumajang, Gunung Semeru, Gunung Arjuna Pandaan, Bukit Tanggulangin, dsb.

Selain menyuguhkan pemandangan yang ciamik, tempat ini juga memiliki konsep arsitektur yang sangat memanjakan mata. Lewat perpaduan bentuk bangunan, area taman, area terbuka, hingga konsep penginapan yang unik.

Plataran Bromo Hotel, Pasuruan, Jawa Timur.Suasana di Plataran Bromo Hotel, Pasuruan, Jawa Timur. (Weka Kanaka/detikcom)

Khusus area menginap, konsep bangunannya cukup menarik. Yakni terdiri dari bangunan-bangunan rumah besar yang menggunakan sentuhan ala skandinavia. Sentuhan itu begitu terasa degan banyaknya ornamen kayu di dalam, misalnya pada lantai, jendela, atap, hingga adanya perapian di area living room kamar.

Plataran Bromo Hotel, Pasuruan, Jawa Timur.Area ruang tamu di Plataran Bromo Hotel, Pasuruan, Jawa Timur. (Weka Kanaka/detikcom)

Kamar-kamar di sini tersedia di dalam satu rumah besar yang memiliki area living room juga area meja makan. Jadi, selain dapat bersantai di dalam kamar, traveler juga bisa saling bercengkerama dengan penghuni lain di area ruang tamu.

“Jadi konsep buildingnya ini seperti lebih pengennya ke homey style, house resort. Makanya style kamar kita kan house resort yang ibaratnya satu rumah beberapa kamar yang bisa jadi cocok untuk family dan kids friendly,” ujar Ani.

Menariknya, seluruh kamar di Plataran Bromo disebut tanpa dilengkapi pendingin atau AC. Walau begitu, suasana di sini sudah cukup sejuk baik di pagi hingga malam hari.

Terkhusus malam hari, kabut kerap menyelimuti area hotel. Untuk menghangatkan diri, traveler pun bisa menikmati air hangat yang tersedia di kamar mandi, minuman hangat, ataupun melakukan aktivitas spa yang juga tersedia.

Plataran Bromo Hotel, Pasuruan, Jawa Timur.Kamar di Plataran Bromo Hotel, Pasuruan, Jawa Timur. (Weka Kanaka/detikcom)

Namun, suasana dingin di malam hari pun dirasa tak terlalu ekstrim. Suhu dingin tidak terlalu menusuk yang mungkin karena konsep bergaya skandinavia yang penuh kayu.

Ingin mencari penghangat diri yang lebih syahdu lagi? Tenang, traveler juga bisa menghangatkan diri dengan makan malam di sini. Traveler bisa memesan makan malam berupa hotpot ataupun barbeque. Tentu aktivitas tersebut sangat syahdu dilakukan di balik dinginnya tempat ini.

“Terus terang kita ini menyajikan nature yang indah dan kalau kamar mungkin hampir semua hotel kan pastinya intinya menjual kamar. Tapi kita di sini juga memberikan experience yang berbeda dengan hotel-hotel lain. Dan di sini memang tidak banyak hotel atau lebih banyak homestay jadi bisa dibilang kita stand out dengan fasilitas dan activities Plataran Bromo juga,” ujar Ani.

(wkn/fem)



Sumber : travel.detik.com

Sensasi Ngopi Berselimut Kabut di Pegunungan Bromo, Syahdu!



Jakarta

Tak lengkap rasanya perjalanan ke Gunung Bromo bila tak singgah di warung kopi satu ini. Sederhana, namun suasananya bikin betah.

Nama tempat ini yaitu Onok Kopi. Lokasinya berada di dataran tinggi pegunungan Bromo, tepatnya di Desa Balaidono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.

Mudah kok untuk menemukan warung ini, karena berada di tepi jalan menuju Bromo dari arah Pasuruan. Warung ini bertema rumah klasik dari kayu. Properti yang ada serba antik menguatkan kesan lawas.


Adapun yang membuat betah di sini yaitu pemandangan alam pegunungan yang memukau. Sambil menikmati kopi, pengunjung bisa menyaksikan perbukitan hijau dan lembah yang indah.

onok kopi pasuruanOnok Kopi Pasuruan Foto: Muhajir Arifin

Suasana kian syahdu saat seluruh tempat diselimuti kabut. Menambah nikmat minum kopi panas yang cepat menghangat karena hawa yang dingin.

Pengunjung juga akan dimanjakan bermacam pilihan jenis kopi. Tentu saja tersedia aneka minuman selain kopi. Menu makanan di warung ini juga beraneka ragam. Salah satu yang khas adalah nasi sembel bakar ala Tengger.

Tidak heran, warung ini jadi tujuan para pelancong yang akan menuju atau baru pulang dari Bromo. Pengunjung berasal mulai dari Malang, Surabaya, Jakarta, Medan, Bandung, Jogja dan beberapa daerah lainnya.

“View-nya gila, bagus. Pas datang kabut, keren,” kata Doni (45), pengunjung asal Jakarta, Sabtu (27/1/2024).

Doni yang datang bersama sejumlah temannya mengaku berniat mampir ke warung tersebut bila ke Bromo lagi. “Pokoknya kalau dari Bromo, wajib lah mampir ke sini,” ungkapnya.

Bondan Septo (31) Scooteres dari Jogja, mengatakan, dirinya dan komunitasnya sengaja mampir ke warung Onok Kopi. Ia mengaku tahu Onok Kopi dari review di medsos, lalu mampir saat touring ke Bromo.

“Viewnya ternyata benar-benar mantap. Sangat bagus ini, sejuk, habis capek-capek ngopi di sini,” kata Bondan.

Pengunjung yang ingin menginap, warung ini juga menyediakan vila yang harganya terjangkau.

Harga menu di warung tidak menguras kantong. Kopi mulai dari Rp 10 ribu-Rp 20 ribu, tergantung jenis kopinya. Untuk makanan dibanderol dari harga Rp10 ribu-Rp 25 ribu per porsi.

Artikel ini telah tayang di detikJatim.

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Lebih Tua dari RI, Masjid Tiban di Pasuruan yang Sudah Berusia 216 Tahun



Pasuruan

Di Pasuruan, ada masjid tua bernama Masjid Jamik Baitul Atiq. Masjid ini sering disebut masjid tiban karena saking tuanya. Usianya konon sudah 216 tahun.

Masjid yang berada di Dusun Serambi, Desa Winongan Kidul, Winongan, Pasuruan ini dibangun pada tahun 1216 Hijriah, atau 216 tahun silam. Usia itu mengacu pada tulisan kaligrafi yang tertera di atas tempat imam.

Takmir masjid Biatul Atiq, Abdul Rochim (68) mengatakan, masjid dengan ornamen mayoritas berwarna hijau tersebut saat ini sudah direnovasi total.


Namun, sejumlah bukti menunjukkan bahwa masjid itu sudah eksis ratusan tahun. Bukti itu masih disimpan dan dirawat dengan baik.

“Ada kendi atau gentong, mimbar tempat khotib khotbah dan ukiran kaligrafi dari kayu,” ujar Rochim.

Di areal masjid ini terdapat makam Habib Sholeh Semendi. Keberadaan makam ulama penyebar Islam ini tidak bisa dipisahkan dengan masjid. Adanya makam aulia ini semakin mengukuhkan tuanya usia masjid.

“Kenapa seperti itu, karena Mbah Semendi ini kan ulama penyebar Islam, maka otomatis membangun masjid. Bangunnya di mana ya di masjid ini, karena di Winongan masjid pertama itu ya Masjid Jamik ini,” jelas Rochim.

Masjid tiban di PasuruanMasjid tiban di Pasuruan Foto: Muhajir Arifin/detikJatim

Menurut Rochim, berdasarkan sumber turun-temurun, awalnya masjid dibangun dengan ukuran 18 X 25 meter. Namun saat ini ukuran luasnya telah mencapai 25 X 25 meter karena mengalami renovasi beberapa kali.

“Bayangkan saja, seluruh warga di desa yang berasal di Kecamatan Winongan dulu kalau Jumatan semuanya ke sini,” tutur Rochim.

Terkait gentong atau kendi yang ada di masjid ini disebutkan Rochim merupakan kubah pertama di masjid tersebut. Saat renovasi, gentong tersebut berada bagian paling atas masjid.

“Dulu kendi ini dipasang di atas kubah masjid,” tandas Rochim.

Di gentong tersebut terdapat tulisan berhuruf China. Tulisan di gentong itu diyakini warga peninggalan zaman Dinasti Qing yang berkuasa di China pada tahun 1636 hingga 1911.

“Berdasarkan penelusuran anak-anak Remas (remaja masjid) yang bertanya ke orang-orang China serta beberapa sumber, gentong dari dinasti Qing,” tandas Rochim.

——

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Tradisi Unik Sambut Idul Adha di Pasuruan: Manten Sapi



Pasuruan

Ada beragam tradisi unik menyambut Idul Adha di Indonesia. Di Pasuruan, Jawa Timur warga menggelar acara Manten Sapi alias Pengantin Sapi. Seperti apa ya?

Tradisi Manten Sapi biasanya dilakukan sehari sebelum waktu Idul Adha tiba. Warga melakukan tradisi ini sebagai simbol penghormatan kepada hewan yang akan dikurbankan.

Untuk menghormati hewan kurban, biasanya masyarakat akan memandikan mereka dengan air kembang dan merias hewan tersebut. Sapi-sapi ini akan dirias serupa pengantin, diberi kalung kembang tujuh rupa, dan diselimuti kain putih.


Penampilannya setelah dirias sangat cantik dan tampan menyerupai pengantin menjadi alasan tradisi ini disebut sebagai manten sapi atau pengantin sapi.

Sesudah dihias, sapi-sapi tersebut kemudian diarak berkeliling oleh masyarakat, sebelum akhirnya diserahkan ke panitia penyembelihan hewan kurban di masjid.

Tak hanya rombongan sapi yang tampil meriah dan anggun, warga masyarakatnya pun tak ketinggalan. Mereka yang ikut arak-arakan manten sapi akan membawa berbagai bahan pangan. Seperti minyak goreng, beras, bumbu masak, hingga kayu bakar.

Bahan pangan tersebut nantinya akan diberikan kepada warga yang tidak mampu bersama dengan daging kurban yang telah dipotong pada hari Idul Adha. Hal ini dilakukan masyarakat untuk membantu warga tersebut agar tak kesulitan untuk mengolah daging sembelihan.

Selain sebagai tradisi yang menarik untuk menjadi tontonan, kebiasaan turun-temurun di masyarakat ini juga dilakukan sebagai bagian dari syiar Islam.

Adanya tradisi manten sapi ini diharapkan supaya masyarakat memiliki keinginan untuk berkurban di momen Idul Adha tahun berikutnya.

Meskipun hanya sapi yang diarak, tetap saja hal ini diharapkan memotivasi masyarakat untuk bersemangat kurban dengan hewan apapun yang diperbolehkan. Antara lain kambing, domba, sapi, bahkan unta.

Masyarakat yang mengikuti manten sapi juga merasa bangga sebab di tengah banyaknya tradisi lokal yang hilang, kebiasaan ini masih terus dilakukan di masyarakat. Selain itu, manten sapi juga dilakukan sebagai bentuk komunikasi untuk menjaga tradisi setempat.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

4 Desa Wisata Cantik di RI yang Butuh Perhatian



Lampung

Indonesia adalah negeri kepulauan yang kaya akan desa wisata cantik. Dari sekian banyak desa wisata di RI, ada empat yang butuh perhatian pemerintah. Apa saja?

Desa wisata di Indonesia menyimpan banyak permata tersembunyi yang tersebar dari pesisir hingga pegunungan. Desa-desa ini tentu saja memiliki keanekaragaman alam dan budaya yang patut dikunjungi wisatawan.

Namun empat desa wisata berikut ini butuh perhatian lebih agar pengembangan yang berbasis potensi budaya lokal, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat dapat membuka jalan menuju masa depan pariwisata yang lebih berkelanjutan. Berikut empat desa wisata tersebut:


1. Desa Wisata Teluk Kiluan di Lampung

Desa wisata Kiluan Negeri di Lampung dikenal karena keberadaan kawanan lumba-lumba yang bermigrasi di Teluk Kiluan. Lumba-lumba yang saling berenang berkejaran dengan kapal menciptakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Teluk Kiluan LampungTeluk Kiluan Lampung Foto: Nopi_kikie/d’traveler

Laguna Gayau dan pantai-pantai berbatu di teluk Kiluan juga menjadi bagian dari kekayaan alam pesisir yang ditawarkan di desa wisata ini. Sayangnya, di balik keindahan tersebut, teluk Kiluan menghadapi realitas keterbatasan infrastruktur, akses layanan kesehatan yang minim, serta persoalan pengelolaan sampah.

2. Desa Wisata Wonokitri di Jawa Timur

Berada di ketinggian hampir 2.000 mdpl, desa wisata Wonokitri di Kabupaten Pasuruan ini menjadi gerbang menuju kawasan Bromo dari sisi utara.

Tidak hanya menawarkan lanskap pegunungan yang menakjubkan, Wonokitri juga menjadi pusat budaya masyarakat Suku Tengger, yang masih mempertahankan adat dan tradisi dalam kehidupan sehari-hari.

Kebun Edelweis WonokitriKebun Edelweis di desa wisata Wonokitri Foto: (Muhajir Arifin/detikcom)

Budidaya bunga edelweiss yang bersifat sakral, kini telah dikembangkan sebagai bagian dari ekowisata berbasis konservasi di desa wisata itu.

Di balik sektor pariwisata yang terus tumbuh, ternyata desa Wonokitri juga dihadapkan dengan risiko kerusakan alam, contohnya longsor akibat deforestasi. Tantangan itu mendorong kebutuhan terhadap praktik agroforestri yang berkelanjutan di desa ini.

3. Desa Wisata Pulau Derawan di Kalimantan Timur

Di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Pulau Derawan menawarkan pemandangan bawah laut yang memesona. Terumbu karang, penyu hijau, ubur-ubur tak menyengat, hingga pari manta menjadikan perairannya salah satu kawasan biodiversitas laut yang penting.

Namun, di balik pesonanya, pulau Derawan menghadapi tantangan seperti abrasi pantai, pemukiman yang kian padat, dan berkurangnya hasil tangkapan laut.

4. Desa Wisata Dayun di Riau

Kunjungan Sandiaga Uno ke Desa Wisata Dayun, Siak, Riau.Desa Wisata Dayun di Siak, Riau. Foto: Dok. Kemenparekraf

Desa wisata Dayun di Kabupaten Siak, Riau, berdiri di tengah bentang alam gambut yang kaya, sekaligus rentan. Di sini, berbagai spesies langka seperti harimau Sumatera dan burung rangkong menemukan rumahnya.

Desa wisata Dayun pernah dikunjungi oleh Menparekraf Sandiaga Uno kala itu. Sebagai andalan, desa ini mengedepankan wisata edukasi berbasis alam dan buatan.

Namun, perubahan fungsi lahan untuk industri dan perkebunan sawit, ditambah dengan ancaman kebakaran hutan, menempatkan desa wisata Dayun dalam tekanan sehingga butuh perhatian dari pemerintah.

Tantangan seperti perubahan iklim, keterbatasan infrastruktur, dan tekanan ekonomi memperlihatkan perlunya pendekatan pembangunan yang berbasis komunitas dan kolaborasi lintas sektor.

Lewat kolaborasi lintas sektor, desa-desa wisata ini tidak hanya menjadi destinasi perjalanan, tetapi juga bisa menjadi cermin masa depan pembangunan berkelanjutan Indonesia.

EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn pun mengajak anak-anak muda dari multi-disiplin ilmu untuk berkontribusi langsung di desa-desa tersebut lewat program Genera-Z Berbakti.

“Genera-Z Berbakti merupakan bagian dari campaign Bakti BCA. Tahun ini kami mengadakan call for proposal. Kami memanggil anak-anak muda di kampus-kampus seluruh Indonesia dari multi-disiplin ilmu. Mereka diberi kesempatan untuk join mengidentifikasi masalah, kemudian turun, live in, dan berkontribusi langsung di empat desa binaan Bakti BCA,” terang Hera.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Wisata Sejarah Candi Sumber Tetek yang Unik di Pasuruan



Pasuruan

Libur long weekend bisa traveler manfaatkan dengan berwisata sejarah ke candi Sumber Tetek yang unik di Pasuruan.

Di Pasuruan ada banyak candi peninggalan masa kerajaan yang bisa menjadi destinasi wisata sejarah. Salah satunya Candi Sumber Tetek di Dusun Belahan, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol.

Bangunan bersejarah yang juga disebut Candi Belahan ini juga merupakan destinasi wisata religi bagi sebagian umat yang beragama Hindu.


Candi Sumber Tetek yang ada di lereng Gunung Penanggungan adalah petirtaan kuno peninggalan Prabu Airlangga. Petirtaan ini dibangun dari bata merah sebagian besar strukturnya sudah hancur, yang tersisa dinding dengan dua arca sosok Dewi Laksmi dan Dewi Sri.

Dari payudara atau tetek patung Dewi Laksmi itulah terpancar air ke kolam yang ada di depannya. Pancuran air yang keluar dari tetek arca Dewi Laksmi ini menjadi daya pikat wisatawan.

Meski lokasinya relatif jauh dari jalan utama jurusan Surabaya-Malang, candi ini selalu dikunjungi wisatawan setiap hari. Pada hari libur, wisatawan yang datang semakin banyak.

Kepercayaan bahwa air pancuran di candi ini memiliki khasiat sebagai obat dan membuat awet muda juga menjadi magnet wisatawan. Air pancuran di candi ini bersumber dari pegunungan.

“Wisatawan yang masuk sini gratis. Cukup isi buku tamu,” kata Koordinator Juru Pelihara (Jupel) Cagar Budaya Wilayah Pasuruan, Astono, Kamis (29/5).

Wisatawan datang untuk membasuh muka, mandi di kolam bahkan membawa air pulang. Mereka juga tidak melewatkan kesempatan kunjungan ke lokasi ini untuk berfoto dengan latar belakang candi.

“Petirtaan Belahan merupakan cagar budaya yang menjadi daya tarik wisatawan. Ini tempat bersejarah yang terbuka untuk umum,” jelasnya.

Selain wisatawan umum, candi yang sumber airnya menjadi andalan warga saat musim kering ini juga menjadi wisata religi bagi sebagian orang. Menurut Astono, banyak orang yang datang untuk melakukan ritual.

“Kadang ada yang datang ritual, umumnya malam hari, tapi kadang juga siang hari,” terangnya.

Mereka yang melakukan ritual berasal dari berbagai daerah. “Orang-orang kejawen banyak yang ritual di sini. Orang dari Bali juga banyak yang datang untuk melakukan ritual,” urainya.

Astono mengatakan, mereka yang datang untuk melakukan ritual juga tidak dipungut biaya alias gratis. Mereka hanya diminta mengisi buku tamu dan berkoordinasi dengan juru pelihara.

“Kalau mau ritual koordinasi dulu, sehingga kami bisa mengkondisikan wisatawan umum agar memberikan kesempatan mereka yang ritual. Wisatawan umum biasanya mengerti dan mau menunggu. Toh ritual nggak lama,” pungkasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com