Tag Archives: pati

Susur Gua di Pegunungan Kendeng Pati, Cukup Ekstrem tapi Tiket Murah



Jakarta

Kegiatan yang cukup ekstrem ditawarkan oleh Kabupaten Pati. Di kawasan kapur Pegunungan Kendeng, terdapat gua berair yang terlihat ekstrem untuk disusuri.

Pantauan detikJateng di lokasi objek wisata di lereng Pegunungan Kendeng ramai wisatawan, Minggu (11/8/2024). Wisatawan datang dari beberapa daerah seperti Pati, Kudus dan Rembang.

Gua yang pertama kali ditemukan pada tahun 1932 ini menyajikan pemandangan keindahan alam. Dari depan gua terlihat keindahan batu di dalam gua. Wisatawan bisa berjalan-jalan di dalam kolam yang memiliki dasar mirip kolam itu.


Saat masuk ke dalam, mata wisatawan akan dimanjakan dengan bebatuan dinding gua yang berbentuk eksotis. Wisatawan tidak perlu khawatir meski harus menyusuri air karena mereka mendapat pinjaman jaket pelampung, helm, dan sepatu boot.

Pengelola Gua Pancur Abdul Salam mengatakan di dalam Gua Pancur memiliki panjang 826 meter. Di dalam gua terdapat bermacam-macam batuan stalakmit dan stalaktit dan stalakmit. Uniknya bebatuan itu menyerupai ornamen-ornamen tertentu.

“Kalau masuk ke dalam lagi ada batu menyerupai batu Buddha, menyerupai gentong besar kayak kendi,” terangnya ditemui di lokasi.

Suasana di objek wisata Gua Pancur, Pati, Senin (23/1/2023).Suasana di objek wisata Gua Pancur, Pati (Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng)

Abdul mengatakan untuk menikmati wisata gua pancur wisatawan tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Untuk tarif per orang mulai dari Rp 15 ribu sampai dengan Rp 20 ribu. Wisatawan dilengkapi dengan alat berupa jaket pelampung, helm, dan sepatu boot.

Abdul menambahkan selain susur gua juga terdapat wisata kolam, bumi perkemahan dan permainan lainnya. Untuk tiket masuknya per orang Rp 5 ribu.

Abdul melanjutkan, gua itu ditemukan oleh salah satu warga bernama Sarto. Pada waktu itu Sarto mendengar adanya percikan air keras seperti mancur. Lantas dari situ gua tersebut dinamai dengan Gua Pancur.

Gua Pancur tidak hanya dikenal dengan keindahan di bagian dalamnya. Lingkungan sekitarnya yang adem juga menjadikan kawasan itu menjadi tempat yang asyik untuk kemping.

Lokasi kemping tidak jauh letak gua. Wisatawan agak naik ke lokasi lereng Pegunungan Kendeng. Suasana sejuk dan adem menjadi daya tarik wisatawan yang tengah berlibur.

Baca artikel selengkapnya di detikJateng

(msl/msl)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Tugu Bandeng yang Unik di Pati, Terbuat dari Ribuan Knalpot Brong



Pati

Ada pemandangan unik di sekitar Alun-alun Pati. Sebuah tugu berbentuk ikan bandeng berdiri tegak. Yang unik, tugu itu terbuat dari 4.031 buah knalpot brong.

Tugu Bandeng itu berdiri sebelah barat Alun-alun Pati, Jawa Tengah. Semula di lokasi itu terdapat Tugu Air. Namun kini sudah berubah menjadi Tugu Bandeng dari knalpot brong.

Pengguna jalan Pantura dari arah timur ke barat atau menuju Kudus melintasi Kota Pati akan dengan mudah melihat tugu itu, karena lokasinya yang berada di jantung Kota Pati. Tugu Bandeng itu dipasang menghadap ke timur.


“Jadi terkait pembuatan Tugu Bandeng dari knalpot brong, ini adalah semangat dari jajaran Satlantas Polresta Pati dalam mendukung deklarasi knalpot brong yang rencananya akan dilaksanakan besok pagi secara serentak di seluruh jajaran Polda Jawa Tengah,” kata Asfauri, Sabtu (13/1/2024) akhir pekan lalu.

Asfauri beralasan, tugu itu berbentuk ikan bandeng, karena salah satu ikon Pati adalah bandeng. Total ada 4.031 knalpot brong yang dirangkai menjadi tugu tersebut.

Knalpot-knalpot itu merupakan hasil sitaan dari pelanggar lalu lintas yang ditindak oleh Satlantas Polresta Pati selama setahun belakangan ini.

“Kemudian tugu ini dibuat bandeng, karena di Pati ini salah satu ikon identik dengan bandeng, ikonnya adalah bandeng,” kata dia.

“Jadi knalpot kurang lebih sekitar 4.031 knalpot ini adalah penyerahan dari para pelanggar. Mereka suka rela ketika ditemukan, kemudian diberikan imbauan, diberikan pengertian, sehingga menyerahkan kepada kita. Nah ini jadi untuk mengingatkan seluruhnya menaati lalu lintas,” lanjut Asfauri.

Menurut Asfauri, tugu ini juga bisa sebagai pesan kepada masyarakat, bahwa knalpot brong dilarang dan tidak boleh digunakan. Knalpot brong bahkan bisa memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas.

“Kami membuat tugu itu adalah semangat edukasi kepada masyarakat, bahwa knalpot tidak boleh dipakai atau digunakan. Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat di Kabupaten Pati, untuk tidak menggunakan knalpot brong,” tutupnya.

—–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Pati Punya Gerbang Majapahit, Berdiri Semenjak Tahun 1318



Pati

Salah satu destinasi wisata yang cocok bagi pecinta budaya dan sejarah di Pati adalah Gerbang Majapahit. Wisata edukasi ini berada di Desa Muktiharjo Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Saat ini, gerbang kuno sedang ramai diminati wisatawan, terutama para pelajar. Seperti salah satu pelajar SMKN 1 Pati, Amelia Sagita ini. Siswi kelas 10 itu datang bersama teman-temannya untuk melihat benda cagar budaya tersebut.

Gerbang Majapahit berukuran 3,5 x 3,5 meter. Terlihat di gerbang itu terdapat banyak ukiran. Seperti gambar pewayangan hingga Patih Gajah Mada yang diukir dengan kepala raksasa. Bangunan Gerbang Majapahit terbuat dari kayu jati. dan kondisi bangunan itu pun masih terjaga sampai sekarang.


Amelia mengatakan sengaja datang ke Gerbang Majapahit karena keingintahuan tentang peninggalan sejarah di Pati. Dia pun akhirnya mengetahui tentang asal usul gerbang dari Kerajaan Majapahit sampai di Pati.

“Gerbang itu ada ukiran sama dijelaskan tentang sejarah Gerbang Majapahit, ya menambah pengetahuan tentang sejarah yang ada di Pati,” kata Amelia kepada detikJateng di lokasi, Sabtu (4/5/2024).

Pintu Gerbang Majapahit yang ada di Dukuh Rendole Desa Muktiharjo Kecamatan Pati, Sabtu (4/5/2024).Pintu Gerbang Majapahit yang ada di Dukuh Rendole Desa Muktiharjo Kecamatan Pati, Sabtu (4/5/2024). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Juru Kunci Gerbang Majapahit Budi Santoso (83) memperkirakan Gerbang Majapahit dibuat tahun 1318 silam. Menurutnya bangunan gerbang itu dibuat dari kayu jati kuno. Sampai sekarang bangunan tersebut masih terjaga dan terawat.

“Pembuatan ini diperkirakan pada tahun 1318 waktu Darmawulan menjadi Raja karena membuat pintu keputren yang bernama Bajang Ratu,” jelas Budi kepada detikJateng di lokasi.

“Boleh dikatakan zaman dahulu kalau membuat pintu ada khodamnya, banyak penghuninya, kalau pintu itu dari jati yang tertua,” dia melanjutkan.

Salah satu ukiran yang menarik kata dia adalah tentang Patih Gajah Mada. Ukiran itu menggambarkan tentang kisah sumpah palapa.

“Kalau di atas Gajah Mada karena Kerajaan Majapahit bisa menyatukan NKRI, itu ada ukiran kepala raksasa,” jelas Budi.

Budi yang menjadi juru kunci sejak tahun 1992 itu menjelaskan banyak wisatawan yang datang ke Gerbang Majapahit saat akhir pekan. Terutama pelajar yang ada kunjungan ke lokasi bersejarah itu. Mereka bahkan ada dari luar Pati, seperti Semarang, Yogyakarta, sampai Jakarta.

“Dari Jakarta,Yogyakarta, Semarang ambil pelajaran ke sini, biasanya ambil jurusan sejarah,” ungkap Budi.

Artikel ini telah tayang di detikjateng

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Jelajah Desa Bakaran Wetan di Pati, Melihat Meriahnya Sedekah Bumi



Pati

Desa-desa di Jawa Tengah masih menyelenggarakan acara Sedekah Bumi untuk bersyukur kepada Tuhan, seperti desa Bakaran Wetan di Pati. Seperti apa keseruannya?

Wajah-wajah penuh senyum dan tawa lepas bisa traveler lihat ketika menjelajahi wilayah pesisir Pantura, tepatnya di Desa Wisata Batik Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Bulan Mei-Juni adalah waktu terbaik untuk Jelajah Jateng di Desa Wisata Bakaran Wetan. Kita akan berada di tempat wisata yang begitu lengkap, baik masyarakat sebagai penggiat, budaya maupun tokoh sejarah di balik terbentuknya desa wisata ini.


“Untuk kali ini, kita telah menyiapkan serangkaian acara bertajuk Sedekah Bumi Bakaran Wetan 2024 yang akan berlangsung mulai tanggal 23 Mei-30 Juni 2024,” jelas Wahyu Supriyo, selaku Kepala Desa Bakaran Wetan kepada detikTravel, Minggu (19/5/2024).

Pada tanggal 23 Mei 2024, akan berlangsung berbagai kegiatan dimulai dari Manganan Sigit, Kondangan Petinggen, hingga Klenengan. Alunan dari Karawitan Sukolaras akan meramaikan Balai Desa Bakaran Wetan. Puncaknya adalah Sedekah Bumi yang diselenggarakan pada tanggal 26 Mei 2024.

Acara pertama adalah Kirab Tumpeng disusul Bancaan Punden. Tradisi ini memperlihatkan suburnya budaya di desa wisata Bakaran Juwana Pati selama ini.

Dalam gelaran Sedekah Bumi ini, tak elok bila tak menyaksikan Pagelaran Wayang Kulit oleh Dalang Ki Rama Aditya, serta Dalang Ki Purbo Asmoro, pada malam harinya.

“Menutup gelaran Sedekah Bumi, seluruh masyarakat desa wisata Bakaran Wetan akan berkumpul menggelar shalawatan bersama Habib Muhammad Syafi’i Bin Idrus Alaydrus, sebagai wujud rasa syukur,” imbuh Wahyu.

Asal Usul Desa Bakaran Wetan

Asal usul desa ini sangatlah unik. Desa ini berasal dari hutan yang dibakar oleh seorang wanita bernama Nyi Sabirah, keturunan dari Kerajaan Majapahit. Begitu hutan menjadi abu, kemudian abu itu jatuh dimana-mana dan di situlah Desa Bakaran berada.

“Nyai Ageng Sabirah lah yang telah mengajarkan membatik sehingga turun temurun diajarkan dan dilestarikan sampai sekarang,” cerita Wahyu.

Sejarah ini bisa kita telaah ketika mengunjungi Museum Batik Sudewi di desa Bakaran Wetan. Mau belajar membatik khas Bakaran Wetan dengan warna sogan hitam terbakar, juga bisa. Motifnya sangat khas berbeda dibandingkan batik Solo maupun Pekalongan.

“Batik ini tercipta melalui proses kreasi sembilan tahap. Dari ribuan motif, sembilan di antaranya sudah memiliki hak paten yang dikenal di dunia internasional,” tambahnya.

Desa Bakaran Wetan, Juwana, PatiPunden Nyai Ageng Sabirah di Desa Bakaran Wetan, Juwana, Pati Foto: (dok. Istimewa)

Datang ke desa wisata Bakaran Wetan, kita bisa jelajah Punden Mbah Nyai Ageng Sabirah hingga Mbah Dalang Soponyono. Di desa ini juga bersanding tempat ibadah lintas agama yang hidup dengan damai.

Jelajah Desa Bakaran Wetan juga tak afdol bila tidak mencoba menu kulinernya. Ada nama-nama kuliner asing yang menarik dicoba seperti masin, waleran, wedang pedes, es campur sari, cemedeng nyonyor, hingga rebon.

Melihat kehidupan masyarakat desa guyup bergotong royong dan ramah serta budaya beraneka ragam, jelas bakal membuat traveler makin cinta budaya.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Keunikan Masjid Berarsitektur Eropa-Jawa di Pati



Pati

Menikmati bangunan berarsitektur Eropa tidak perlu ke luar negeri. Di Pati, Jawa Tengah ada masjid yang memadukan arsitektur Eropa dan Jawa yang bisa dikunjungi.

Masjid yang berada di jalan Kaborongan Kelurahan Pati Lor Kecamatan Pati, Kabupaten Pati itu diketahui memiliki gaya unik. Masjid yang berdiri sejak tahun 2011 silam ini memiliki perpaduan gaya arsitektur Eropa dan Jawa.

Masjid itu bernama Djauharotul Imamah. Lokasinya tepat di pinggir jalan Kaborongan, yakni di utara seberang jalan.


Sekilas masjid ini tampak mewah dengan dua lantai. Bangunan masjid dari luar berwarna cokelat dan mirip seperti kastil yang ada di Eropa.

Bangunan bawah merupakan aula dan tempat untuk wudu. Sedangkan bagian atas tempat untuk melaksanakan ibadah salat.

Masjid Djauharotul Imamah yang ada di jalan Kaborongan Kelurahan Pati Kidul Kecamatan Pati, Kamis (6/3/2025).Masjid Djauharotul Imamah Pati Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Saat naik ke atas, bangunan masjid ini begitu apik. Gaya bangunan masjid ini tidak seperti umumnya, karena memiliki jendela berukuran besar dan lebar. Hal ini seperti bangunan khas Eropa.

Kemudian masuk di dalam ruangan lantai atas terdapat tempat pengimanan yang berbentuk gebyok kayu berukir. Gebyok ini perpaduan budaya dari Jawa sehingga masjid ini bergaya Eropa dan Jawa.

“Masjid ini berdiri sejak tahun 2011. Memang arsitektur masjid ini bergaya campuran, Jawa dan Eropa,” kata Wakil Ketua Takmir Masjid Djauharotul Imamah, Hamzah saat berbincang dengan detikJateng, Kamis (6/3/2025).

Dia mengatakan masjid ini dibangun oleh pasangan suami istri. Mereka mewakafkan masjid ini kepada masyarakat setempat. Pasangan suami istri itu adalah Mbah Johar Malikan dan Imam Sulaini warga Pati Lor. Dari nama keduanya kemudian diabadikan menjadi nama masjid.

“Dari dua nama inilah kemudian dipakai nama masjid Djauharotul Imamah,” jelas Hamzah.

Dia menjelaskan bangunan ini memiliki arsitektur gaya Eropa dan Jawa. Arsitektur Eropa ini bisa dilihat dari bentuk masjid seperti kastil, sedangkan Jawa dilihat dari tempat imam yang terbuat dari gebyok khas Jawa. Masjid ini menghabiskan anggaran mencapai Rp 1 miliar.

“Kalau gaya Eropa ini dilihat bangunan masjid yang mirip seperti kastil jarang ditemui di Pati. Sedangkan yang Jawa itu gebyok yang ada di lantai atas, tempat pengimanan,” ujarnya.

Dia mengatakan bangunan masjid lantai bawah digunakan tempat aula dan wudu. Sedangkan lantai atas digunakan untuk tempat ibadah. Masjid ini mampu menampung 100 lebih jemaah.

“Kalau lantai atas tidak muat maka kita juga gunakan umat dalam kondisi darurat,” jelasnya.

Selain itu di belakang masjid juga terdapat taman yang luas. Fasilitas taman ini digunakan jemaah untuk beristirahat atau sekadar berfoto.

“Kemudian ada taman di belakang merupakan fasilitas masjid area hijau yang kita siapkan bagi jemaah yang pengin nyantai, bagi jemaah yang pengin duduk, sehingga ada spot tanam yang bisa dikunjungi,” ungkap dia.

Ada Banyak Kegiatan Selama Bulan Ramadan

Lebih lanjut Hamzah mengatakan, masjidnya ini rutin menggelar buka bersama setiap hari selama bulan Ramadan. Panitia masjid menyediakan 300 porsi sampai 500 porsi makanan berbuka puasa setiap harinya.

“Dan ini sudah berlangsung sejak lama. Setiap Ramadan kita adakan acara buka bersama. Tahun lalu hanya 250 porsi dan tahun ini mencapai 300 porsi setiap hari. Dan memang target kita bisa sampai 500 porsi setiap hari,” kata Hamzah.

Menurutnya, buka bersama ini tidak hanya untuk jemaah atau warga setempat, akan tetapi warga umum yang melintas di Pati Kota. Tak jarang tukang ojek maupun tukang sapu juga mampir ke masjid tersebut untuk mengikuti kegiatan berbuka puasa bersama.

“Mungkin banyak tukang ojek online sore ikut berbuka ke sini. Free ke sini,” jelasnya.

Dia menjelaskan untuk menyediakan menu berbuka puasa, panitia setiap hari merogoh uang mencapai Rp 7,5 juta. Jika dihitung selama satu bulan puasa mencapai Rp 200-an juta. Anggaran ini pun didapatkan dari para donatur.

“Semua murni kesadaran jemaah menitipkan donasi di masjid ini. Mereka percaya pengelolaan masjid di sini,” ungkap dia.

Salah satu warga, Erik Setiawan, mengaku rutin ke masjid tersebut saat Ramadan ini. Selain mengikuti acara berbuka puasa, dia juga mengikuti acara pengajian rutin sebelum berbuka puasa.

“Rutin ke sini, karena di sini sebelum berbuka puasa ada acara pengajian, terus berbuka puasa dilanjutkan salat tarawih berjamaah di sini,” ujar Erik.

——–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Keindahan Masjid Djauharotul Imamah, Saat Arsitektur Eropa Bertemu Jawa


Jakarta

Masjid unik dengan gaya bangunan berbeda dan padat program bisa ditemukan di beberapa wilayah Indonesia. Salah satunya Masjid Djauhoratul Imamah yang berada di Pati, Jawa Tengah, yang mengingatkan jemaah pada sebuah kastil.

“Bagus banget masjidnya, nyaman, dan minimalis. Arsitekturnya keren banget pengen ke sana lagi kalau ada waktu,” tulis akun Ima Rahmawati dalam Google Review.

Aneka kegiatan yang dikelola masjid juga mendapat pujian warganet. Salah satunya kajian pada hari tertentu dengan ustaz yang kompeten sebagai pengisi acara. Kajian tersebut dinilai sesuai kebutuhan dan menjawab pertanyaan jemaah.


“Selain sebagai tempat salat berjamaah, masjid ini juga sebagai rujukan sumber ilmu agama. Ilmu tauhid, akhlak, tafsir, siroh, fiqh, hadits, dan masih banyak lagi Insya Allah komplit,” tulis akun kakak pertama.

Lokasi Masjid Djauharotul Imamah yang Unik

Masjid Djauharotul Imamah berada di Jl. Penjawi Gang II, Kaborongan, Pati Lor, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Lokasi masjid ini tidak terlalu jauh dengan Alun-alun Pati yang menjadi pusat kegiatan warga.

Jarak Masjid Djauharotul Imamah dan alun-alun Pati kurang lebih 1,1 km yang bisa ditempuh dalam waktu tiga menit. Jemaah bisa menggunakan transportasi umum atau pribadi sesuai kebutuhannya. Bagi yang membawa kendaraan pribadi tak perlu khawatir, karena masjid menyediakan arena parkir cukup luas.

Masuk ke arena masjid, jemaah langsung disuguhi keindahan arsitektur masjid dengan gaya Eropa. Masjid Djauharotul Imamah dirancang punya tampilan mirip kastil dengan tetap menggunakan kubah, sebagai ciri khas masjid Indonesia. Masjid didominasi warna cokelat yang menimbulkan kesan elegan sangat indah.

Masjid ini punya halaman luas yang tak hanya digunakan untuk parkir, tapi juga kegiatan sehari-hari. Misal makan siang bersama usai salat Jumat, buka puasa, atau pasar yang diselenggarakan pada bulan Ramadan. Halaman juga digunakan masjid untuk sekadar duduk dan ngobrol.

Bangunan masjid terdiri atas dua lantai, dengan bagian bawah digunakan sebagai aula dan tempat wudhu. Sementara salat dilakukan di lantai dua, dengan ruang imam berbentuk gebyok kayu berukir. Desain ini terasa sangat njawani atau khas Jawa.

“Masjid ini berdiri tahun 2011 dan memang bergaya campuran Jawa dan Eropa. Gaya Eropa dilihat dari bangunan mirip kastil yang jarang ditemui di Pati,” ujar kata Wakil Ketua Takmir Masjid Djauharotul Imamah Hamzah pada detikJateng.

Di area masjid juga terdapat taman belakang yang digunakan jemaah untuk santai, ikut kajian, atau menunggu waktu salat. Tentunya masjid juga punya fasilitas lain untuk memenuhi kebutuhan jamaah, misal toilet bersih dan wangi di lantai satu plus sandal.

Bangunan masjid menggunakan jendela cukup lebar yang memudahkan sirkulasi udara dalam ruangan. Jendela ini juga mengingatkan jemaah pada bangunan istana negeri dongeng dalam film atau buku cerita. Penggunaan jendela besar dan plengkungnya membuat tampilan masjid makin anggun dan dreamy.

Menurut Hamzah, masjid ini tak pernah sepi didatangi jemaah yang ingin beribadah atau sekadar berteduh. Masjid Djauharotul Imamah berdiri di lahan seluas satu hektar dengan kapasitas total 100 orang. Jika jemaah melimpah, lantai satu bisa diubah sementara menjadi ruang salat.

Program Masjid Djauharotul Imamah

Masjid yang buka 24 jam ini menerapkan manajemen zero sebagai dasar pengelolaan masjid. Maksudnya, dana dari jamaah dikelola sebaik mungkin demi kemakmuran masjid dan umat sehingga kas menjadi nol. Tentunya pengelolaan harus bertanggung jawab dan benar-benar memberi manfaat.

Beberapa program masjid adalah makan bersama dan aneka kajian yang ilmunya mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ulasan google menyatakan, program makan bersama tepat bagi para santri dan musafir yang mampir di masjid.

Detikers yang penasaran dengan masjid yang dibangun di tanah wakaf Mbah Johar Malikan dan Imam Sulaini ini bisa datang setiap saat. Selama di Masjid Djauharotul Imamah pastikan selalu sopan, menjaga kebersihan, dan taat aturan lingkungan sekitar.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

Bupati Pati Viral, Ada Wisata Apa Saja sih di Hogwarts van Java?



Pati

Bupati Pati Sudewo viral karena menaikkan pajak bumi dan bangunan pedesaan dan perkotaan (PBB-P2) sampai 250 persen. Kota ini punya banyak potensi wisata.

Terletak di Provinsi Jawa Tengah, Pati memiliki julukan sebagai Hogwarts from Java. Julukan ini diberikan karena banyak tempat yang menjadi tujuan wisata spiritual dan memiliki sejumlah paranormal terkenal, sebut saja Mbah Roso, Bos Edy dan Jeng Asih.

Tak cuma wisata spiritual, Pati juga memiliki beragam alam yang wajib untuk dikunjungi. Berikut 7 wisatanya:


7 Tempat Wisata Pati

1. Alun-alun Kota Pati

Jika dibandingkan dengan destinasi wisata Pati lainnya, Alun-Alun Kota Pati merupakan salah satu destinasi wisata tertua. Alun-Alun Kota Pati cocok dikunjungi karena bukan hanya menyediakan lapangan yang hijau, namun beberapa pohon rindang yang mengelilinginya cocok dijadikan untuk tempat bersantai.

Bukan hanya populer di mata wisatawan, tempat wisata Pati ini juga populer di mata wisatawan lokal karena setiap sore, warga lokal dan remaja menghabiskan waktu santai di tempat ini.

Pesona destinasi wisata Pati ini tidak sampai situ saja. Ketika malam hari tiba, Alun-Alun Kota Pati akan memancarkan waktu dengan berbagai warna!

2. Waduk Seloromo

Waduk Gembong di Dukuh Seloromo, Desa/Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah,  Jumat (30/6/2023).Waduk Gembong di Dukuh Seloromo Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Destinasi wisata Pati yang selanjutnya adalah Waduk Seloromo, yang menawarkan keindahan yang tidak ada duanya. Berada di kaki Gunung Muria, kombinasi antara jernihnya air dan gunung yang megah membuat kesejukan di waduk ini sangat kental, sehingga banyak wisatawan atau warga lokal betah menghabiskan waktu di tempat ini. Kombinasi dua aspek membuat tempat ini juga layak masuk ke dalam media sosialmu.

3. Air Terjun Lorotan Semar

Air terjun merupakan salah satu destinasi wisata yang selalu menjadi favorit banyak orang. Di Pati juga ada air terjun, salah satunya adalah Air Terjun Lorotan Semar. Air Terjun Lorotan Semar ini diapit oleh dua bukit. Untuk sampai ke air terjun ini, jalannya juga mudah untuk diakses roda dua dan roda empat.

Air Terjun Lorotan Semar ini memiliki bentuk yang unik dan berbeda dari air terjun biasanya. Air terjunnya landai dan cekung. Namun, kolam dibawah air terjunnya cukup luas. Airnya juga masih sangat jernih.

Di lokasi air terjun ini juga sudah terdapat fasilitas yang sangat lengkap. Seperti toilet, mushola, area parkir yang luas dan lain-lain.

4. Agrowisata Jolong

Agrowisata Jolong merupakan tempat wisata yang menyuguhkan hamparan kebun kopi. Selain menyenangkan, tempat wisata yang satu ini tentunya mengedukasi karena memberikan para pengunjung pengalaman terbaru mengenai perkebunan kopi.

Selain itu, Agrowisata Jolong memiliki objek wisata yang sangat instagramable. Banyak spot foto yang bisa kamu gunakan untuk swafoto sepuasnya dengan latar perkebunan, taman dan juga langit biru yang sangat cerah.

Agrowisata Jolong lokasinya berada di Jolong, Situluhur, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Untuk masuk ke Agrowisata Jolong kamu perlu membayar tiket masuk seharga Rp10.000 saja.

Di dalam tempat wisata ini terdapat berbagai wahana yang kamu bisa naiki, dan membayar lagi untuk setiap tiket wahana yang ingin kamu coba.

5. Pulau Seprapat Juwana

Berlokasi di Growong Lor, Juwana, Kabupaten Pati, terdapat sebuah pulau yang menjadi salah satu destinasi wisata di Pati. Pulau Seprapat, selalu ramai dikunjungi karena memiliki pesona alam yang sangat indah.

Di Pulau Seprapat ini, kamu akan sering melihat pepohonan tinggi yang rindang. Pepohonan tersebut merupakan habitat para kera. Pulau Seprapat ini menawarkan pemandangan matahari terbenam yang selalu menarik hati para pengunjung.

6. Air Terjun Grodo

Air Terjun Grodo merupakan salah satu destinasi wisata air terjun di Pati. Tempat wisata yang satu ini terbilang masih tersembunyi. Salah satu destinasi wisata di daerah Winong, Pati ini seringkali disebut sebagai niagara mini.

Selain dinikmati keindahannya dengan cara difoto, kamu juga bisa berenang langsung di kolam air terjun tersebut. Airnya sangat sejuk dan jernih. Kamu perlu hati-hati untuk berjalan menyusuri air terjun, terutama ketika musim penghujan. Seringkali jalanan menjadi licin terutama di tepi kolam.

Untuk masuk ke Air Terjun Grodo tidak diperlukan biaya tiket masuk alias masih gratis.

7. Gua Pancur

Suasana di objek wisata Gua Pancur, Pati, Senin (23/1/2023).Suasana di objek wisata Gua Pancur Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Gua Pancur merupakan objek wisata gua di Pati. Untuk kamu yang menyukai berwisata yang sedikit ekstrem, kamu bisa mencoba datang ke Gua Pancur ini, karena kamu nanti akan diajak untuk menyusuri ke dalam gua ini.

Momen ketika menyusuri gua inilah yang dicari-cari para pengunjung karena kamu akan mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan. Namun, kamu tidak perlu khawatir, soal keamanannya dijamin sudah terbukti aman, karena tiap pengunjung diberi perlengkapan pelindung.

(bnl/wsw)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
image : unsplash.com / Thomas Tucker