Tag Archives: pecinan

5 Pertunjukan Imlek ‘Festival Pecinan’ Taman Mini yang Jangan Sampai Dilewatkan



Jakarta

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) mempersembahkan Festival Pecinan untuk merayakan Tahun Baru Imlek 2024. Festival ini tidak hanya menjadi ajang merayakan Imlek, tetapi juga dirancang untuk memupuk keharmonisan antar etnis sehingga dapat dinikmati oleh seluruh kalangan.

Festival Pecinan hanya digelar dari 8-11 Februari 2024, jadi pastikan kamu datang dan menikmati rangkaian acara yang penuh kegembiraan. Tertarik untuk merayakan Tahun Baru Imlek dengan suasana berbeda? Yuk segera pesan tiketnya yang kini telah tersedia di detikEvent.

Biar nanti kamu tidak bingung saat datang, ini adalah lima pertunjukan yang tidak boleh dilewatkan:


1. Dancing Fountain “Tirta Menari”

Mengawali daftar adalah pertunjukan menakjubkan dari air mancur menari, “Tirta Menari”. Jamuan visual ini memadukan cahaya, air, dan gerakan yang memukau, menciptakan suasana yang penuh kegembiraan dan kecantikan.

2. Musik Kala Senja

Menikmati harmoni musik yang mempesona saat senja menyapa tahun baru Imlek. Pertunjukan “Musik Kala Senja” akan menghibur pengunjung dengan melodi yang menghanyutkan, menciptakan pengalaman yang tak terlupakan.

3. Tabuh Nusantara

Rasakan getaran budaya Indonesia melalui pertunjukan “Tabuh Nusantara”. Iringan musik tradisional ini mempersembahkan kekayaan dan keberagaman warisan musik dari berbagai daerah di Indonesia.

4. Gamelan Corobalen

Nikmati keseluruhan tradisi musik gamelan dalam pertunjukan “Gamelan Corobalen”. Suara gamelan yang khas dan irama yang memesona akan mengantar pengunjung dalam sebuah perjalanan seni yang mengagumkan.

5. Kecak Dance

Menutup daftar adalah pertunjukan ikonik, “Kecak Dance”. Asalnya dari Bali, seni tari Kecak memukau dengan puluhan penari laki-laki yang membentuk pola melingkar, menghasilkan gerakan yang penuh semangat dan penuh makna.

Festival Pecinan TMII tidak hanya menawarkan kegembiraan, tetapi juga memperkenalkan keanekaragaman budaya Indonesia. Selain lima pertunjukan di atas, kamu juga dapat mengikuti aktivitas lainnya seperti Dawai Biola, Bazaar Pecinan, Soul of Youth, dan masih banyak lainnya. Jadi, pastikan tidak melewatkan kesempatan untuk menikmati 5 pertunjukan spektakuler ini saat merayakan Tahun Baru Imlek di TMII.

Kini kamu dapat membeli tiket Festival Pecinan TMII melalui detikEvent. Ayo segera serbu tiketnya sekarang juga di sini.

(ddn/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Melihat Dusun Pecinan di Klaten, Sisa Geger Zaman Mataram



Klaten

Di Klaten ada sebuah dusun Pecinan. Konon, dusun ini menyimpan peninggalan peristiwa Geger Pecinan pada zaman Mataram berabad-abad silam.

Dusun Pecinan itu berada di wilayah desa Kepanjen, Kecamatan Delanggu, Klaten. Dusun tersebut konon merupakan perkampungan etnis Tionghoa di masa Kerajaan Mataram Kartasura.

Dari pusat kota Klaten, dusun Pecinan berjarak sejauh 25 kilometer ke arah Solo. Kalau dari Kartasura, Sukoharjo, jaraknya cuma sekitar 10 kilometeran.


Berada di tepi jalan Jogja-Solo, dusun itu tak tampak sebagai kampung Pecinan pada umumnya. Tidak ada bangunan bergaya etnis Tionghoa atau jejak kebudayaannya di sana.

Satu-satunya yang terkait etnis Tionghoa hanya kompleks makam di utara dusun yang terdapat beberapa kuburan Tionghoa.

Masuk ke dusun tersebut juga tidak ada gapura berarsitektur naga liong atau lampion. Satu-satunya penunjuk hanya beberapa plang papan nama bertuliskan RT dan RW Pecinan di pojok-pojok dusun.

“Kalau sejarahnya saya tidak tahu. Cuma di Utara dusun itu ada makam China, di Utara sungai,” ungkap warga Dusun Pecinan, Desa Kepanjen, Yatmi (66) dengan bahasa campuran Jawa, Kamis (8/2/2024) pekan lalu.

Dari cerita Yatmi, di dusunnya tidak ada warga yang beretnis Tionghoa. Makamnya pun tidak khusus untuk orang Tionghoa, tapi juga masyarakat sekitarnya.

“Dulu Bong Cino, tapi tidak semua orang China yang dikubur, itu makam umum. Tapi masuknya Desa Wadung Getas, Kecamatan Wonosari,” jelas Yatmi.

Lisna, warga lainnya mengatakan kuburan Cina tidak hanya ditemukan di makam umum. Tapi di utara dusun pernah ada beberapa makam China.

“Dulu ada kuburan China di pekarangan selatan sungai tapi sudah dibongkar. Sekarang pada jadi rumah,” kata Lina kepada detikJateng.

Ketua RW 1 Dusun Pecinan, Desa Kepanjen, Endri Yunanto menambahkan, tidak ada yang tahu pasti nama dusunnya. Hanya ada cerita tutur turun-temurun dulunya menjadi tempat pelarian etnis Tionghoa.

“Riwayat pastinya kita tidak tahu. Hanya konon di sini dulu banyak warga China pelarian ketika ontran-ontran di Keraton Kartasura. Sehingga dulu banyak ditemukan makam China, tidak hanya di Utara kampung yang sekarang jadi makam tapi juga di tengah kampung,” tutur Endri.

Makam-makam di tengah kampung itu, sekarang sudah tidak ada lagi. Makam sudah dibongkar, dipindahkan atau jadi pemukiman.

“Sudah tidak ada tapi itu belum lama dibongkar. Karena dibangun, kemudian diratakan padahal dulu banyak di tengah kampung, di tengah kebun tapi karena dibangun rumah ya dibongkar atau dipindah,” lanjut Endri.

Kuburan etnis Tionghoa di Utara kampung Pecinan, Delanggu, Klaten, Kamis (8/2/2024).Kuburan etnis Tionghoa di Utara dusun Pecinan, Klaten Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Dihubungi terpisah, Pegiat Cagar Budaya Kabupaten Klaten, Hari Wahyudi mengatakan, permukiman etnis Tionghoa di Klaten tersebar merata. Keberadaan mereka terkait pabrik gula.

“Di dekat pabrik gula pasti ada bangunan kolonial, bangunan Pecinan, juga ada makam China dan makam Belanda atau kerkoff. Etnis Tionghoa itu dekat dengan Eropa, mereka dipekerjakan sebagai ahli akuntansi di pabrik Eropa,” ungkap Hari.

Menurut penelusuran dari berbagai sumber, geger Pecinan Kartasura merupakan konflik politik di tahun 1740-1743 yang diawali dari kekerasan terhadap etnis Tionghoa di Batavia (Jakarta) oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Konflik itu kemudian melebar dengan penyerbuan pasukan China yang bergabung dengan pasukan Jawa menyerang benteng keraton Mataram Kartasura (Sukoharjo) karena bersekutu dengan VOC.

—–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kawasan Pecinan yang Tersembunyi di Kota Bandung



Bandung

Tahukah kamu, di kota Bandung ada sebuah kawasan Pecinan yang tersembunyi. Namanya Komplek Jap Loen. Begini penampakan dan lokasi tepatnya:

Meskipun tidak ada wilayah yang bisa dikatakan kampung Pecinan secara spesifik di Kota Bandung, akademisi sekaligus Pengamat Pecinan di Kota Bandung, Sugiri Kustedja melihat Komplek Jap Loen menjadi titik yang paling mendekati pecinan.

Komplek Jap Loen saat ini lebih dikenal dengan Jalan Ikan Asin di Pasar Andir, Kota Bandung. Sebutan Jalan Ikan Asin merujuk pada penamaan masing-masing jalan, yakni Jalan Kakap, Jalan Teri, Jalan Gabus, dan Jalan Pepetek.


Tak banyak yang tahu, bahwa wilayah tersebut juga disebut dengan Komplek Jap Loen, karena dibangun oleh penduduk etnis Tionghoa yang kaya raya bernama Yap Loen.

“Daerah pasar itu yang bangun orang kaya dulu, namanya Yap Loen. Makanya komplek Yap Loen. Sebaliknya, Yap Loen itu rumahnya di antara Gang Luna sama Jalan Sudirman. Saya bilang Komplek Yap Loen itu paling cocok kalau dikatakan pecinan, meski kecil. Sebab bangunannya itu masih ada sisa-sisa gaya Tiongkok. Di jalan ikan asin itu, Gabus, Pepetek,” kata Sugiri yang juga merupakan dosen Arsitektur di Universitas Maranatha tersebut.

Dalam penelitiannya yang berjudul Jejak Komunitas Tionghoa dan Perkembangan Kota Bandung, Sugiri menuliskan Yap Loen adalah seorang pengusaha tekstil dan properti. Ia aktif pada banyak organisasi Tionghoa, THHK (pendidikan), Siang hwe (perdagangan), Hong Hoat Tong (paguyuban), dan anggota dewan regentschapsraad Bandoeng.

“Yap Lun pada awalnya sebagai pedagang kain keliling. Yap Lun menjadi kaya raya ketika pecah Perang Dunia ke-1 (1914-1918). Ia kaya karena usaha impor kain dalam jumlah besar dari Jepang pada saat Eropa berperang. Sehingga Eropa tidak mampu menyuplai barang ke Hindia Belanda,” kisahnya dalam penelitian itu.

Menelusuri 'Pecinan' di Kota Bandung.Menelusuri ‘Pecinan’ di Kota Bandung. Foto: Anindyadevi Aurellia

Yap Lun menjadi developer Gg Luna (Lun-An; Yap Lun & Kok An), di daerah jalan Waringin, Pasar Andir. Daerah itu kemudian dikenal juga sebagai kompleks Yap-lun, Yaploen straat, Yaploen plein. Perusahaan pengembangnya adalah ‘Jap Loen & Co.’ dan ‘NV Bow Mij Tjoan Seng’.

Dulunya, di daerah itu terdapat sekitar 130 buah ruko satu lantai khas Tionghoa. Sugiri menyebut ruko tersebut mulanya berderet dan seragam. Saat ini wajah pertokoan tersebut sudah berubah, tapi masih ada satu hal yang menjadi ciri khas pecinan di sana.

“Yakni Thiam Tang. Bagian dinding depan ruko yang terdiri dari 3 bidang lembaran konstruksi kayu. Itu menjadi ciri paling khas di situ. Dinding depannya dari kayu, ada tiga segmen. Itu gaya dari Tiongkok Selatan. Pintunya juga kayu dan terbelah dua gitu. Dulu berderet seragam. Kalau dibuka kan, ada yang dia buka atasnya saja, ini artinya publik umum (pembeli) di luar aja,” kata Sugiri sambil memperagakan Thiam Tang tersebut.

Kayu bagian teratas biasanya ditarik agar matahari bisa masuk ke dalam toko, namun tidak sepenuhnya karena terhalang kayu tersebut. Namun jika para pedagang itu welcome, kata Sugiri, kayu bagian bawah pun akan diangkat sehingga mempermudah akses orang keluar masuk.

Pantauan di lokasi, pertokoan dengan jendela kayu yang khas tersebut masih mudah ditemui dari sepanjang Jalan Kakap menuju ke Jalan Pepetek (pasar basah tempat berjualan sayur dan ikan di belakang Pasar Andir).

Kondisi Komplek Jap Loen tersebut ramai oleh pedagang yang berjualan mayoritas kebutuhan rumah tangga seperti sabun, sampo, jajanan, ikan asin, daging ayam, sayur, dan masih banyak lagi. Kebanyakan dari mereka menggelar lapak di luar ruko, ada beberapa ruko yang dibuka untuk berjualan tapi ada pula yang tidak.

“Kalau yang tutup mah ya untuk penyimpanan stok biasanya. Kalau yang dibuka bisa untuk transaksi. Ada juga yang memang sudah kosong,” kata salah seorang pedagang yang memberikan keterangan singkat.

Sayangnya, komplek yang bisa menjadi titik pecinan di Kota Bandung ini kurang begitu terawat. Kondisi jalannya tak mulus, lapak-lapak di gelar di pinggir jalan agar memudahkan pembeli membuatnya terkesan kurang rapi. Terlebih jika menengok ke area Jalan Pepetek yang sudah padat kios dan beratapkan seng atau terpal.

Di sisi lain, Jalan Cibadak menjadi ruas jalan yang lebih dikenal sebagai pecinan di Kota Bandung. Hal ini karena mayoritas penduduknya etnis Tionghoa, serta jalanan ini dikenal dengan kulinernya yang beragam dan mudah ditemui kuliner khas atau akulturasi Tiongkok.

Namun, dikatakan Sugiri, wilayah Cibadak dirasa kurang pas jika dikenal sebagai wilayah pecinan.

“Kalau Cibadak itu sudah model arsitektur Belanda semua. Kalau populasinya (Cibadak) memang benar, tapi bangunannya sudah bangunan Belanda semua,” ucapnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Bukan Negeri China, Ini Old Shanghai di Jakarta Timur yang Asyik buat Ngonten



Jakarta

Butuh tempat foto dengan latar bangunan-bangunan khas Negeri Tirai Bambu? Atau butuh tempat baru yang memiliki banyak pilihan makanannya? Old Shanghai bisa jadi tujuan tersebut, tempat ini memiliki konsep yang unik dan bisa memberikan kesan yang menarik saat berkunjung ke sini.

Berada di kawasan Sedayu City, Kelapa Gading, Jakarta Timur, Old Shanghai jadi tujuan baru masyarakat Jakarta untuk berburu kuliner dengan nuansa khas China. Fasad bangunan-bangunan di kawasan itu menjadi daya tarik.

Arsitektur ala bangunan tradisional China ini keren-keren, cocok untuk diabadikan dan di-upload di sosial media. Jika orang-orang tak tahu dengan tempat ini mungkin akan menyangka traveler sedang berada di daratan China sungguhan.


Ketika pertama kali masuk akan disambut gapura megah nan tinggi menjulang dengan ornamen yang bertuliskan aksara China dan makhluk ikoniknya, naga. Di kedua sisi gapura ini juga terdapat mural-mural yang tak kalah memesona,

Masih berada di area depan, pengunjung juga pastinya bakalan mengabadikan momen terlebih dahulu di gapura tersebut sebelum masuk lebih dalam dan mengeksplorasi setiap sudut di Old Shanghai ini. Berjalan melewati gapura tersebut, detikTravel pun makin terpukau dengan bangunan pagoda berwarna merah yang tepat berada sejajar dengan gapura.

Tempat ini mengingatkan detikTravel dengan film-film kolosal yang kerap diperankan oleh Jet Li, saat berada di sini terasa kita masuk ke tempat kaisar-kaisar China zaman dahulu. Tak perlu mengeluarkan kocek yang mahal traveler akan serasa tengah berlibur berada di China.

Selain bangunan-bangunan ikonik, di Old Shanghai Sedayu City juga terdapat beberapa patung. Salah satunya patung tinggi yang berada dekat pagoda, patung tersebut adalah Dewi Tian Shang Shen Mu atau Dewi Mazu yang merupakan dewi samudera.

Old Shanghai Sedayu City Jakarta TimurOld Shanghai Sedayu City Jakarta Timur (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

“Satu hal yang juga menjadi sorotan di Old Shanghai yaitu pagoda dan Altar Dewi Mazu di area tengah-tengah Old Shanghai, di mana Altar Dewi Mazu juga dijadikan tempat ibadah di depan patungnya, kami siapkan dupa dan banyak pengunjung yang berdoa disitu,” kata Deputy Division Head Commercial Retail 1 Agung Sedayu Group, Jarenta Sinaga, kepada detikTravel, Rabu (19/6/2024).

Masih banyak lagi bangunan-bangunan keren yang berada di Old Shanghai ini, lawasan yang berdiri seluas 14,515 meter persegi ini juga memiliki banyak tenant-tenant makanan. Ya memang tempat ini selain menyuguhkan keindahan suasana Kota Shanghai juga jadi spot kulineran warga sekitar.

Dalam laman resmi Agung Sedayu Group, sebagai perusahaan yang membidani tempat ini, menyebut terdapat lebih dari 80 tenant kuliner. Untuk masyarakat muslim juga tenang karena di Old Shanghai juga banyak makanan-makanan halal.

“Old Shanghai menyediakan banyak pilihan makanan non halal dan sekitar 70 persen kuliner di Old Shanghai merupakan kuliner halal,” keterangan di laman itu.

Tak cukup dengan suasana dan sajian kulinernya, Old Shanghai juga memiliki supermarket yang juga bernuansa China. Old Shanghai memang masih terbilang muda sebagai sebuah destinasi karena baru tahun 2022 lalu tempat ini resmi beroperasi.

Old Shanghai Sedayu City Jakarta TimurOld Shanghai Sedayu City Jakarta Timur (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

Kendati masih baru tapi pamor tempat ini sudah begitu masyhur, terlihat dari video-video yang berseliweran di media sosial tenant Old Shanghai. Memang tak aneh bila tempat ini jadi magnet untuk para pembuat konten, tempat yang keren serta akses masuk yang mudah.

“Banyak pengunjung yang gemar mencari spot foto yang instagramable dan aesthetic, seringkali juga banyak yang membuat konten vlog ala-ala di sini. Sehingga membuat kita menjadi bertambah exposure dan semakin banyak orang mengenal Old Shanghai,” kata Jarenta.

Untuk bisa masuk ke kawasan ini tak dipungut biaya dan jika ingin berkunjung ke tempat ini, waktu yang pas adalah sore hari. Selain tak terlalu terik, keindahan tempat ini akan semakin meningkat ketika lampu-lampu mulai menyala.

Ini semakin menggugah semangat untuk mengeksplor setiap ikon di Old Shanghai dengan latar bangunan khas China dan lampion-lampion menggantung yang semakin membuat foto jadi keren. Old Shanghai juga bisa didatangi setiap hari, mulai Senin-Jumat buka pada pukul 10.00-22.00 WIB dan Sabtu-Minggu mulai pukul 07.00 WIB sampai 23.00 WIB.

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com

‘Kesederhanaan’ Segelas Kopi Es Tak Kie, Warisan Glodok 1927



Jakarta

Kopi Es Tak Kie sudah ada sejak 1927 dan eksis hingga kini. Berada di tengah pasar, kedai kopi ini menjadi penjaga budaya Tionghoa di tengah Jakarta.

Di tengah kesibukan pecinan Glodok, Jakarta Barat, terselip satu kedai kopi legendaris yang membawa detikers kembali ke masa lalu. Namanya Kopi Es Tak Kie, kedai yang sudah berdiri pada 1927. Traveler masih bisa menikmati kopi itu hingga kini.


Kedai legendaris itu berada di Gang Gloria, kawasan kuliner legendaris di Pecinan Glodok, Pancoran, Jakarta Barat. Kalau dihitung, keddai kopi itu sudah berumur 98 tahun.

Kini, kedai itu dikelola oleh Ak Wang, generasi ketiga penerus usaha keluarga. Aroma es kopi langsung tercium berpadu dengan sajian lain.

“Pertama kali berdiri tahun 1927, waktu itu yang dijual hanya teh manis dan teh pahit. Baru kemudian menyesuaikan permintaan orang-orang zaman dulu yang ingin kopi,” ujar Ak Wang saat ditemui detikTravel, Selasa (21/10/2025).

Ada dua menu favorit yang paling banyak dipesan, yakni kopi hitam es dan kopi susu es, masing-masing dibanderol Rp 25 ribu per gelas. Total ada 14 menu yang tersedia di sini, mulai dari aneka bakmi dan sup, empat varian kopi, empat jenis teh, hingga telur ayam kampung.

Kopi Es Tak Kie, Glodok, Jakarta BaratSuasan Kopi Es Tak Kie, Glodok, Jakarta Barat (dok. Qonita Hamidah/detikTravel)

Kedai kopi itu sederhana. Ruangannya cukup luas, dengan pembeli yang bergantian keluar masuk.

Kopi Tak Kie, Kopi Kesederhanaan dan Pergaulan

Semua kopi diracik secara manual, tanpa bantuan mesin modern. Pemilihan metode pembuatan es kopi yang masih sangat konvensional ini mungkin tak lepas dari makna nama kedai yang selalu tampil rapi dan bersih ini.

“Nama Tak Kie sendiri berarti kesederhanaan dan pergaulan. Itu filosofi dari kakek saya,” ujar Ak Wang.

Kedai ini tak pernah sepi pengunjung mulai dari warga lokal, wisatawan, hingga anak muda yang datang untuk merasakan atmosfer klasik Glodok. Suasana kedainya pun masih otentik, meja kayu tua, gelas jadul, dan dinding berubin putih khas kedai tempo dulu.

“Semua orang bisa masuk ke sini, dari berbagai kalangan. Saya bersyukur pada kakek saya yang sudah mendirikan kedai ini. Berkat beliau, Tak Kie bisa terus diminati sampai sekarang,” kata Ak Wang.

Menurut Manda, salah satu pengunjung, suasana Kopi Tak Kie benar-benar mengingatkannya pada memori di kampung halaman bersama nenek. Apalagi es kopi Tak Kie dengan cita rasa berimbang antara manis dan pahit benar-benar mengingatkannya pada adukan kopi khas rumah tangga.

“Rasa makan dan kopi di sini tuh kaya otentik banget seperti lagi makan di rumah nenek di kampung Kopi Es Tak Kie ini direkomendasikan buat teman-teman yang ingin merasakan rasa kopi yang khas ada manis dan pahitnya,” kata Manda.

Bagi detikers yang ingin mencicipi secangkir es kopi segar adukan khas Kopi Es Tak Kie, bisa datang setiap hari pukul 06.30-13.30 WIB. Menu di sini tersedia dengan kisaran harga Rp 22-25 ribu untuk makanan dan minuman. Tak hanya hidangan berkualitas, di sini detikers juga bisa sekilas merasakan suasana Chinatown tempo dulu.

(row/row)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
image : unsplash.com / Thomas Tucker

Rute dan Akses Menuju Destinasi Wisata Petak Sembilan, Glodok


Jakarta

Kawasan wisata budaya dan kuliner Petak Sembilan di Glodok, Jakarta Barat bisa diakses dengan kendaraan umum. Simak di sini informasinya.

Akhir pekan belum mempunyai rencana liburan? Petak Sembilan di kawasan Pecinan Glodok bisa jadi pilihan menarik. Kawasan ini dikenal sebagai surga kuliner khas Tionghoa, lengkap dengan suasana pasar yang dipenuhi toko China.

Bukan hanya menyuguhkan makanan lezat, Petak Sembilan juga menawarkan pengalaman berjalan di antara gang sempit dengan aroma dupa, jajanan tradisional, hingga toko Cina yang legendaris. Tak heran jika kawasan ini selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.


Masih bingung soal transportasi umum menuju ke sana? detikTravel sudah merangkum beberapa cara mudah menuju Petak Sembilan.

Naik TransJakarta

Perjalanan bisa dimulai dengan naik TransJakarta koridor 1 (Blok M-Kota) dan turun di Halte Glodok. Setelah itu, lanjutkan berjalan kaki sekitar 250 meter menuju kawasan Pecinan Jakarta atau dikenal juga sebagai Chinatown.

Setelah melewati gapura khas Tionghoa di pintu masuk, lanjutkan berjalan sekitar 50 meter hingga menemukan Gang Petak 9 di sisi kanan jalan. Bagi yang baru pertama kali datang, disarankan bertanya kepada warga sekitar, karena gang ini tidak memiliki papan nama resmi yang menandai sebagai Petak Sembilan.

Naik KRL

Alternatif lain adalah menggunakan KRL. Naik kereta menuju arah Kampung Bandan dan turun di Stasiun Duri. Dari sana, berjalan sekitar 100 meter ke Jalan Duri Utama 1, kemudian naik mikrolet M41. Turun di Jalan Kemenangan 1 dan lanjutkan berjalan sekitar 200 meter menuju kawasan Petak Sembilan.

Naik MRT

Moda transportasi modern ini juga bisa jadi pilihan. Turun di Stasiun Bundaran HI, lalu lanjutkan perjalanan menggunakan TransJakarta koridor 1 dan turun di Halte Glodok. Selanjutnya, cukup berjalan kaki menuju kawasan Pecinan untuk menemukan Petak Sembilan.

Petak Sembilan bukan sekadar destinasi kuliner, tetapi juga tempat untuk merasakan atmosfer budaya Tionghoa yang masih terjaga di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Jadi, siapkan kamera dan selera makan terbaikmu, karena setiap sudutnya siap memanjakan mata dan perut!

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com