Tag Archives: pemakaman

Perhatikan 5 Hal Ini Sebelum Membeli Rumah di Lokasi Strategis



Jakarta

Membeli properti untuk dihuni dalam jangka panjang tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam membuat keputusan besar ini, termasuk menentukan lokasi yang strategis. Seberapa penting sih pertimbangan lokasi strategis ini?

Sebagaimana diketahui, seseorang akan menginvestasikan hidupnya untuk berada di satu lingkungan saat membeli rumah. Untuk itu, penting memilih rumah yang berada di lokasi strategis agar dapat memenuhi beragam kebutuhan hidup dalam jangka panjang.

Pemilihan lokasi yang strategis pun akan meningkatkan harga nilai properti, jika Anda memiliki kemungkinan menjual atau menyewa di masa depan. Pastinya, pemilihan lokasi yang tepat juga akan menjamin kenyamanan dan kualitas hidup pemilik nantinya.


Jangan sekadar tergiur harga yang murah, tapi cek dulu ketersediaan fasilitas umum di sekitar lokasi rumah yang akan Anda pilih. Semakin banyak fasilitasnya, semakin strategis pula lokasi rumah yang akan dihuni.

Adapun sejumlah pertimbangan dalam memilih lokasi strategis biasanya berkaitan dengan lokasi tempat kerja, aksesibilitas transportasi umum, fasilitas umum seperti lembaga pendidikan, layanan kesehatan, sarana olahraga, hingga keamanan dari risiko bencana alam.

Lantas, bagaimana sih cara memilih lokasi terbaik untuk pembelian properti? Simak tipsnya berikut ini!

1. Mudah Menjangkau Transportasi Umum

Kemudahan menjangkau transportasi umum jadi nilai plus saat memilih lokasi strategis dalam membeli properti. Hal ini menawarkan banyak keuntungan, karena Anda bisa bepergian dengan mudah dan hemat naik transportasi umum yang relatif lebih murah. Tips yang satu ini juga bisa jadi pertimbangan jika lokasi kerja atau sekolah Anda jauh dari rumah.

2. Dekat Fasilitas Umum Penunjang Kehidupan

Lokasi hunian yang dekat dengan fasilitas umum penunjang kehidupan akan membuat hidup makin mudah dan nyaman. Sebisa mungkin, pastikan properti yang akan kamu beli dekat dengan fasilitas umum seperti sekolah, rumah sakit, mal, pasar, dan juga kantor. Dengan hadirnya fasilitas umum yang dekat, Anda tak perlu menghabiskan banyak waktu dan bepergian jauh saat membutuhkan layanan di fasilitas tersebut.

3. Bukan Lokasi Rawan Bencana

Bencana memang tak kenal waktu dan tempat, tapi Anda bisa menghindarinya dengan memahami kondisi wilayah calon hunian. Misalnya, kenali daerah-daerah rawan banjir untuk menghindarinya dengan cara bertanya pada warga setempat saat survei atau mencari informasi di internet. Dengan cara ini, kamu bisa terhindar dari rugi berlipat di kemudian hari.

4. Punya Sumber Air Bersih

Air bersih jadi kebutuhan dasar yang dibutuhkan sehari-hari, baik untuk mandi, memasak, dan lainnya. Untuk itu, pastikan ketersediaan air bersih saat memilih lokasi properti. Beberapa lokasi yang biasanya dihindari saat mempertimbangkan ketersediaan air bersih yaitu properti di sekitar pemakaman, umumnya masyarakat khawatir dan ketakutan jika sumber air tanah dari sumur yang mereka miliki dangkal jika dekat dengan fasilitas umum seperti pemakaman.

5. Relatif Aman dari Risiko Kriminalitas

Terakhir, lokasi strategis juga mesti mempertimbangkan lingkungan yang relatif aman. Terutama dari risiko kriminalitas. Cara ini bisa diatasi dengan memilih properti di kompleks atau klaster yang umumnya memiliki satpam untuk berjaga.

Untuk Anda yang sudah menemukan lokasi strategis untuk membeli properti, Anda bisa manfaat kan layanan KPR BRI yang bisa jadi solusi dalam memiliki hunian, seperti rumah tinggal, apartemen, ruko/rukan, dan tanah kavling siap bangun baik melalui developer atau non developer di lokasi strategis.

KPR BRI ini bisa digunakan nasabah untuk pembelian baru, second, top up, renovasi, dan take over bank lain. Anda juga bisa cari alternatif hunian lain di lokasi strategis sekaligus menghitung simulasi KPR BRI dengan mengunjungi Homespot.id.

(akn/ega)



Sumber : www.detik.com

Menyoal Rumah Dekat Kuburan Susah Laku, Tak Melulu soal Mistis



Jakarta

Harga rumah sangat ditentukan pada tanah tempat bangunan tersebut berdiri. Semakin mahal harga tanah, harga rumahnya pun akan semakin tinggi.

Salah satu trik untuk mendapatkan tanah yang murah tetapi lokasinya masih strategis adalah dengan membeli tanah di dekat pemakaman atau kuburan. Lho nggak salah? Nggak dong.

Buktinya banyak rumah berdiri di dekat pemakaman umum. Lokasinya strategis bahkan ada yang di tengah perkotaan. Selain itu, peminatnya pun tidak begitu banyak karena masyarakat Indonesia masih menganggap skeptis rumah yang dibangun dekat pemakaman. Oleh karena itu, banyak yang mengira tanah di dekat pemakaman tidak menarik.


Menurut Pengamat Properti Steve Sudijanto terdapat beberapa alasan tanah di dekat pemakaman tidak menarik. Alasan yang paling mendasar adalah kebudayaan di Indonesia.

“Budaya di benua Asia itu, graveyard atau kuburan, pemakaman umum itu mengandung superstitious (takhayul). Jadi memang kalau di luar negeri itu (pemakaman) suatu taman yang indah ya. Kalau di sini itu masih belum seindah di luar negeri,” kata Steve saat dihubungi detikProperti, Jumat (20/6/2025).

Alasan lainnya adalah mengenai kualitas tanah tersebut. Jasad yang telah membusuk akan mengalami penguraian. Konon jasad yang terurai tersebut akan mengotori tanah.

Padahal menurut CEO Earth Funeral Tom Harries dikutip dari CNN, jaringan manusia yang telah terurai di dalam tanah justru bagus untuk tanah tersebut. Jasad manusia layaknya nutrisi yang baik bagi tanah.

Alasan ketiga karena dalam feng shui disebut jika membeli rumah di dekat pemakaman justru menghalangi rezeki datang. Feng shui merupakan ajaran kuno dalam budaya China yang mengatur mengenai cara menata ruang agar tercipta keseimbangan energi di lingkungan hidup kita. Feng shui telah dikenal luas dan diadopsi oleh banyak orang dari berbagai etnis.

“Feng Shui itu salah satu trigger, jadi tolak ukur dari konsumen membeli rumah. Contohnya dari penomoran, penomoran aja itu sudah menjadi suatu pertimbangan. Kedua, kalau di samping pemakaman atau kuburan itu juga sudah suatu pertimbangan karena apa ya, mungkin tidak akan membawa rejeki. Mungkin pamali, kalau malam mungkin ada yang bunyi-bunyi, ada suara-suara gitu ya,” tuturnya.

Terpisah, Founder & CEO Pinhome Dayu Dara Permata menjelaskan, salah satu alasan tanah di dekat pemakaman enggan dibeli karena akses air bersih. Menurutnya, rumah di dekat kuburan bisa saja memiliki akses air tanah yang kurang bagus. Meskipun saat ini akses PDAM sudah ekspansif, banyak masyarakat yang masih memakai air sumur sebagai tambahan sumber air.

“Kualitas air, karena meskipun PDAM itu sudah cukup ekspansif ya, artinya ada di mana-mana. Tapi orang Indonesia tidak akan nyaman kalau belum punya sumur sendiri dan ketakutan mereka adalah ketika sumurnya dangkal dan dekat sekali dengan fasum (fasilitas umum) seperti pemakaman,” ujarnya di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sulitnya menjual rumah di dekat kuburan juga membuat calon pembeli berpikir dua kali untuk membeli properti tersebut. Sebab, bisa saja setelah rumah itu dibeli, ia akan kesulitan untuk menjualnya kembali.

Selain itu, dilansir dari buku Membangun Rumah Ala orang Jawa karya Asti Musman, disebutkan bahwa tanah yang di sekelilingnya banyak kuburan atau bekas kuburan dianggap kurang baik. Hal itu karena secara psikologis penghuninya akan selalu murung dan berpenyakit. Tanah semacam itu disebut dhandhang kukulangan.

Di luar hal-hal tersebut, tidak ada salahnya mencoba membeli tanah di dekat pemakaman. Apabila masih ragu, bisa bertanya dahulu dengan pemilik rumah di sekitarnya yang sudah lebih dulu dibangun. Cara yang lebih meyakinkan lagi adalah bertanya kepada ahli lingkungan dan kelurahan setempat mengenai status tanahnya.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(aqi/zlf)



Sumber : www.detik.com

Daya Tarik, Lokasi, Harga Tiket


Jakarta

Di selatan Makassar, terdapat Kabupaten Gowa yang memiliki beragam tempat wisata yang menarik. Tempat pariwisata Gowa ini mulai dari wisata alam, wisata buatan, wisata sejarah, hingga religi.

Buat traveler yang berwisata di Gowa dan sekitarnya, simak dulu 15 tempat pariwisata Gowa berikut ini, lengkap dengan daya tarik, lokasi, dan harga tiketnya.

Rekomendasi Pariwisata Gowa

Inilah 15 rekomendasi tempat pariwisata Gowa yang dikutip dari situs Pemkab Gowa:


1. Danau Tanralili

Indahnya Danau Tanralili di Gowa, Sulsel. (Syachrul Arsyad/detikSulsel)Indahnya Danau Tanralili di Gowa, Sulsel. (Syachrul Arsyad/detikSulsel) Foto: Indahnya Danau Tanralili di Gowa, Sulsel. (Syachrul Arsyad/detikSulsel)
  • Lokasi: Desa Manimbahoi, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
  • Jam buka: 24 jam.
  • Harga tiket masuk: Rp 5 ribu.

Danau Tanralili berada di kaki Gunung Bawakaraeng. Danau ini memiliki pemandangan telaga berair jernih, pegunungan hijau, dan suasananya yang sejuk. Keindahannya sering dibandingkan dengan Ranu Kumbolo di Gunung Semeru, Jawa Timur.

Danau Tanralili terbentuk akibat longsoran gunung yang membentuk cekungan dalam. Makanya. Untuk mencapai Danau Tanralili, membutuhkan waktu sekitar 3 jam dari Kota Makassar.

2. Bendungan Kampili

  • Lokasi: Desa Kampili, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
  • Jam buka: 24 jam.
  • Harga tiket masuk: gratis.

Selain digunakan untuk kepentingan irigasi, Bendungan Kampili juga menjadi tempat wisata yang menarik, sehingga sering dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara. Saat kemarau, aliran airnya jernih. Bebatuan di tepi danau juga membuatnya semakin eksotis.

Namun saat musim hujan, debit airnya meningkat dan airnya menjadi kecoklatan. Batu-batu juga menjadi berlumut dan cukup licin.

3. Bendungan Bili-bili

Bendungan Bili-Bili Kabupaten GowaBendungan Bili-Bili Kabupaten Gowa (smartcity.gowakab.go.id)
  • Lokasi: Desa Bili-bili, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa.
  • Jam buka: 24 jam.
  • Harga tiket masuk: Rp 2 ribu.

Dilansir dari situs Kemenkeu, Bendungan Bili-bili awalnya digunakan untuk sarana drainase pada saluran Sinri Jala, Jongaya, dan Panampu karena sudah tidak memadai serta sering membuat genangan di daerah hilir Sungguminasa.

Dikutip dari detikSulsel, pemandangannya yang menarik membuat Bendungan Bili-bili juga menjadi tempat wisata. Di sekeliling bendungan terdapat berbagai spot yang bisa digunakan untuk menikmati pemandangan bendungan, seperti tempat makan, tempat camping, dan hotel.

4. Makam Sultan Hasanuddin dan Raja-raja Lain

Bendungan Bili-Bili Kabupaten GowaMakam Sultan Hasanuddin. (detikcom)
  • Lokasi: Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
  • Jam buka: 07.00-17.00 WITA.
  • Harga tiket masuk: gratis.

Sultan Hasanuddin adalah pahlawan nasional Indonesia yang dimakamkan di kompleks pemakaman di puncak Bukit Tamalate. Luas kompleks ini yakni 2.352 m².

Selain Sultan Hasanuddin, terdapat 24 situs pemakaman raja-raja lain dari Kerajaan Gowa sejak sebelum masa Islam di Sulawesi Selatan. Hal ini ditunjukkan dengan arah makam yang membujur ke timur-barat.

Beberapa tokoh yang dimakamkan di Kompleks Pemakaman Sultan Hasanuddin adalah I Tajiibang Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatta (Raja Gowa ke-11 yang wafat pada 1565) dan Arung Lamoncong (bangsawan Kerajaan Bone), dan Karaeng I Mallingkari Daeng Manjori Karaeng Katangka Sultan Abdullah Awalul Islam Tumenanga Riagamana Raja Tallo (wafat pada 1636).

5. Air Terjun Parangloe

Air Terjun ParangloeAir Terjun Parangloe Foto: Air Terjun Parangloe. (smartcity.gowakab.go.id)
  • Lokasi: Belapunranga, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
  • Jam buka: 24 jam.
  • Harga tiket masuk: Rp 5 ribu + dana kebersihan Rp 3 ribu.

Kabupaten Gowa memiliki banyak air terjun yang menjadi tempat wisata, salah satunya Air Terjun Parangloe. Air terjun ini tidak meluncur deras dari ketinggian, tetapi mengalir berundak dari batuan yang bertingkat. Airnya yang jernih membuat wisatawan senang bermain air di bawahnya.

Namun untuk bisa menikmati keindahan ini, traveler harus menempuh perjalanan panjang. Kalian harus berjalan kaki sekitar 45 menit hingga 1 jam dari tempat parkir.

6. Air Terjun Cinta

Air terjun CintaAir terjun Cinta Foto: (Abdy Febriady/detikcom)
  • Lokasi: Tamalatea, Manuju, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
  • Jam buka: 24 jam.
  • Harga tiket masuk: Rp 5 ribu.

Air Terjun Cinta memiliki keunikan pada bentuk kolamnya yang berbentuk hati. Kondisi lingkungan di sekitarnya masih alami. Airnya pun masih jernih, sehingga cocok buat traveler yang mencari nuansa alami dan ketenangan.

7. Air Terjun Biroro

Air terjun Biroro di GowaAir terjun Biroro di Gowa (Muhammad Bakri/detikTravel)
  • Lokasi: Bonto Lerung, Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
  • Jam buka: 09.00-17.00 WITA.
  • Harga tiket masuk: gratis.

Air Terjun Biroro memiliki suasana yang masih alami dan sepi. Sepanjang perjalanan menuju air terjun, traveler dapat menikmati pemandangan sawah dengan latar belakang Gunung Bawakaraeng. Airnya yang jernih membuat traveler akan senang berenang di sana.

Air Terjun Biroro berjarak sekitar 5 km dari pusat kota Malino, atau sekitar 77 km dari Kota Makassar. Sampai di tempat parkir di perkampungan warga, traveler harus berjalan kaki sekitar 2 km untuk mencapai air terjun.

8. Air Terjun Takapala

Destinasi wisata Air Terjun Takapala, Kabupaten Gowa, Sulsel.Destinasi wisata Air Terjun Takapala, Kabupaten Gowa, Sulsel. Foto: (Ibnu Munsir/detikSulsel)
  • Lokasi: Kampung Takapala, Desa Bontolerung, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
  • Jam buka: 24 jam.
  • Harga tiket masuk: Rp 7 ribu.

Jika ingin melihat air terjun yang tinggi dengan air yang meluncur deras, traveler bisa berwisata ke Air Terjun Takapala. Ketinggiannya mencapai 109 meter dengan debit air yang cukup besar.

Tebing-tebing curam membuat air terjun ini tampak eksotis. Belum lagi cipratan air yang membentuk kabut di bawah membuat pemandangan semakin menakjubkan. Untuk mencapai air terjun, traveler bisa naik bukit batu yang dikenal memiliki 1.000 anak tangga.

9. Malino Highlands

Destinasi wisata Air Terjun Takapala, Kabupaten Gowa, Sulsel.Pemandangan di Malino Foto: (Basri/d’Traveler)

Lokasi: Pattapang, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Jam buka: 07.00-18.00 WITA.
Harga tiket masuk:

  • Weekday: Rp 50 ribu untuk dewasa dan Rp 25 ribu untuk anak.
  • Weekend: Rp 65 ribu untuk dewasa dan Rp 35 ribu untuk anak.

Malino Highlands adalah kawasan wisata yang lengkap, mencakup penginapan, kuliner, pemandangan alam, hingga aktivitas menarik seperti trekking di alam, main ATV, berkuda, panahan, bersepeda, dan beraneka paket wisata.

Di ketinggian sekitar 1.200 mdpl, wisatawan akan merasakan suasana sejuk. Kalian juga bisa jalan-jalan di perkebunan teh Dataran Tinggi Malino yang luasnya sekitar 200 hektare.

10. Permandian Je’ne Tallasa Sileo

Destinasi wisata Air Terjun Takapala, Kabupaten Gowa, Sulsel.Permandian Je’ne Tallasa Sileo (smartcity.gowakab.go.id)
  • Lokasi: Sileo, Paraikate, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
  • Jam buka: 08.00-17.00 WITA.
  • Harga tiket masuk: Rp 20 ribu untuk dewasa, Rp 15 ribu untuk anak-anak (weekend + Rp 5 ribu)

Permandian Je’ne Tallasa menjadi tempat wisata favorit di Gowa di akhir pekan, terutama untuk anak-anak. Objek wisata air ini memiliki luas sekitar 20 hektare. Wahana di sini antara lain beraneka seluncuran, ember tumpah, dan wahana lainnya.

11. Istana Balla Lompoa

Museum Balla LompoaMuseum Balla Lompoa (Ibnu Munsir/detikcom)
  • Lokasi: Jalan Sultan Hasanuddin Nomor 48, Sungguminasa, Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
  • Jam buka: 08.00-16.00 WITA.
  • Harga tiket masuk: Rp 2 ribu.

Kata Balla Lompoa berarti rumah besar. Rumah ini adalah istana yang menjadi tempat tinggal Raja Gowa. Situs seluas 3 hektar ini dibangun tahun 1936 oleh Raja Gowa ke-XXXV I Mangimangi Daeng Matutu, Karaeng Bontonompo yang bergelar Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin.

Kini bangunan ini digunakan sebagai museum. Di bagian belakang istana terdapat tembok batu alam yang tebal dengan pintu kayu yang lebar dan kokoh. Di bagian depan terdapat pagar permanen yang rendah dan halaman yang terbuka

12. Sierra Sky View Malino

Sierra Sky View Malino GowaSierra Sky View Malino Gowa (smartcity.gowakab.go.id)
  • Lokasi: Jl. Poros Malino, Pattapang, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
  • Jam buka: 09.00-18.00 WITA.
  • Harga tiket masuk: Rp 25 ribu.

Sierra Sky View berada di dataran tinggi Malino yang sejuk. Tempat wisata ini menawarkan nuansa bangunan miniatur dunia, mulai dari kincir angin Belanda, Jembatan Venice Italia, bangunan Swiss, Kota Santorini, hingga bangunan khas Jepang, China, dan Korea. Selain itu terdapat ayunan raksasa dan jembatan kaca.

13. Rainbow Garden Gowa

Sierra Sky View Malino GowaRainbow Garden Gowa (Arnas Padda/Antara)
  • Lokasi: Jalan Dato Ri Panggentungang, Tamarunang, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
  • Jam buka: 07.00-18.00 WITA.
  • Harga tiket masuk: Rp 10 ribu.

Rainbow Garden Gowa adalah taman yang memiliki beragam bunga yang menghampar luas. Bunga yang paling dominan adalah bunga celosia, bunga matahari dan kenop. Tempatnya berada tepat di tengah sawah, sehingga tampak unik.

Taman bunga ini cocok buat traveler yang suka berfoto-foto. Terlebih ketika hari sudah hampir gelap, cahaya oranye akan membuat tempat ini semakin eksotis.

14. Kebun Binatang Citra Satwa Celebes

Kebun Binatang Citra Satwa Celebes GowaKebun Binatang Citra Satwa Celebes Gowa (Gowakab.go.id)
  • Lokasi: Sokkolia, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
  • Jam buka: 08.00-17.00 WITA.
  • Harga tiket masuk: Rp 20 ribu.

Salah satu tempat pariwisata Gowa yang cocok untuk anak-anak adalah Kebun Binatang Citra Satwa Celebes. Di bagian depan, traveler akan disuguhi koleksi aneka burung, mulai dari merpati, merak, dan nuri. Selain itu, terdapat sekitar 30 spesies satwa yang dilindungi, seperti rusa, anoa, kera, dan sebagainya.

15. Masjid Tua Al-Hilal Katangka

Masjid Tua Al Hilal Katangka merupakan masjid tertua di Sulawesi Selatan. Diketahui, masjid ini dibangun pada tahun 1603. Ini penampakannya.Masjid Tua Al Hilal Katangka (Arnas Padda/Antara)
  • Lokasi: Jalan Syech Yusuf Nomor 57, Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
  • Jam buka: 24 jam.
  • Harga tiket masuk: gratis.

Masjid Tua Al-Hilal Katangka adalah salah satu masjid tertua yang berada di Kelurahan Katangka. Dikutip dari arsip berita detikSulsel, Katangka sebetulnya adalah nama pohon. Pohon ini terkenal keramat pada masa Raja I Tumanurung.

Masjid ini menjadi bukti perkembangan Islam di Kerajaan Gowa yang dibangun pada 1603 M oleh Raja Gowa XIV I Mangngarangi Daeng Manrabbia. Di sekitar masjid terdapat makam raja-raja Gowa. Masjid masih digunakan masyarakat untuk beribadah hingga sekarang.

Demikian tadi 15 tempat pariwisata Gowa yang bisa dikunjungi, lengkap dengan daya tarik, lokasi, dan harga tiketnya. Sebelum berkunjung jangan lupa update informasi lebih dulu untuk memastikan harga tiket, ketersediaan layanan, dan berbagai info lainnya.

(bai/row)



Sumber : travel.detik.com

Makam Gaya Eropa yang Penuh Misteri di Pinggir Jalan Kuningan



Jakarta

Makam dengan gaya bangunan gaya Eropa masih menyimpan misteri hingga kini. Lokasinya di pinggir sebuah jalan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Lokasi persisnya di Jalan Raya Cigugur-Palutungan, Kabupaten Kuningan. Konon, banyak yang menyebut bangunan berada di samping markas Koramil 1515 Cigugur itu merupakan makam pembesar Belanda bernama Van Beck.

Meski demikian, tak banyak warga yang mengetahui silsilah ataupun rekam jejak meneer Belanda yang konon tinggal di daerah Cigugur itu. Hal itu jugalah yang ada di benak Iim Wakim.


Juru pemelihara situs makam tersebut mengaku hanya mendapat sedikit informasi mengenai sosok Van Beck.

Makam Van Beck di Kuningan.Makam Van Beck di Kuningan (Foto: Mohamad Taufik/detikJabar)

“Bangunan ini adalah makam Jenderal Van Beck yang meninggal pada tahun 1912. Tapi tidak ada catatan sejarah ataupun informasi dari warga sini siapa sosok Van Beck tersebut, apakah dia seorang tentara Belanda atau saudagar kaya waktu itu,” ungkap Iim kepada detikJabar, belum lama ini.

Termasuk makam Van Beck yang mana, Iim tak mengetahui. Sebab, di dalam bangunan berbentuk bulat bak Igloo di Kutub Utara ini terdapat dua makam yang saling berdampingan.

“Ada dua makam, kondisi satu makam di sebelah Barat sudah terbongkar sedangkan satu lagi di sebelahnya sudah bolong. Tidak ada keterangan makam Van Beck yang mana, dan makam siapa yang satu lagi, apakah istrinya atau siapa saya tidak tahu,” ujarnya.

Pastinya, kata Iim, di lokasi tersebut dulunya memang area pemakaman yang didominasi warga Belanda yang tinggal di daerah Cigugur. Ini terlihat dari beberapa makam yang tersisa di dekat makam Van Beck mempunyai bentuk makam bergaya Eropa.

Baca artikel selengkapnya di detikJabar

(msl/msl)



Sumber : travel.detik.com

Monumen Rawagede di Karawang, Dark Heritage Simpan Luka Sejarah



Jakarta

Monumen Rawagede, destinasi dark heritage di Karawang, mengenang tragedi pembantaian 1947. Pengunjung dapat belajar sejarah dan berziarah di makam korban.

Monumen ini berlokasi di Dusun Rawagede, Desa Rawagede, Kecamatan Rawamerta, Karawang, Jawa Barat. Monumen tersebut didirikan untuk mengenang tragedi pembantaian yang terjadi pada tahun 1947.

Dalam insiden tragis itu sekitar 431 warga sipil laki-laki, yang usianya berkisar mulai dari 15 tahun, tewas.


Di dalam kompleks monumen, para pengunjung dapat menyaksikan patung-patung, diorama yang menggambarkan suasana pembantaian, serta foto-foto dokumentasi kunjungan pemerintah dan sosok penting Kapten Lukas, yang memainkan peran besar dalam peristiwa tersebut.

Monumen Rawagede beroperasi mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Untuk masuk ke area monumen, pengunjung dikenakan biaya tiket sebesar Rp 2.500, belum termasuk biaya parkir.

Meski harga tiketnya relatif terjangkau, namun pengalaman yang didapatkan dari kunjungan ke monumen itu sangat mendalam. Terutama, bagi mereka yang ingin mengetahui lebih dalam tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah.

Sejarah Monumen Rawagede

Monumen Rawagede merupakan salah satu destinasi yang dikategorikan sebagai wisata dark heritage di Indonesia yang menyimpan kisah tragis dari masa lalu. (Asti Azhari/detikcom)

Dark heritage ini menjadi destinasi wisata sejarah berkat usulan masyarakat setempat dan dipelopori oleh Bapak K. Sukarman HD, yang kala itu menjabat sebagai lurah. Dengan dukungan dari pemerintah daerah, monumen ini resmi dibuka pada 9 Desember 1996. Selain berfungsi sebagai tempat peringatan, monumen ini juga berperan sebagai sarana edukasi mengenai tragedi Rawagede, mencakup peristiwa sebelum dan setelah tragedi tersebut terjadi.

Menurut Sukarman, mantan lurah yang kini berusia 75 tahun, Monumen Rawagede awalnya dibangun sebagai tempat pemakaman bagi para korban pembantaian.

“Awalnya dibuat pemakaman dulu, jasad para korban yang dikebumikan di depan rumahnya masing-masing dipindahkan agar anak cucu generasi bangsa tahu bahwa ada peristiwa ini, sekaligus menghormati jasad para korban pembantaian,” kata Sukarman kepada tim detikTravel dalam perbincangan dengan detikTravel pada 4 Oktober 2024.

Peristiwa tragis itu bermula ketika Belanda mencari keberadaan Kapten Lukas, seorang pejuang yang melarikan diri ke Rawagede. Sayangnya, tidak ada satu pun warga yang memberikan informasi kepada serdadu Belanda.

“Salah satu penyebab pembantaian adalah, tak ada satu pun warga yang menjawab pertanyaan serdadu Belanda yang bertanya di mana Kapten Lukas berada dan para pejuang lainnya. Masyarakat memilih bungkam, meski mengetahui keberadaan Kapten Lukas dan para pejuang,” ujar Sukarman.

Akibat keheningan warga, tentara Belanda langsung menembaki warga yang telah dikumpulkan. Tragedi ini membuat sungai di sekitar Rawagede berubah menjadi merah darah, karena beberapa jasad korban dibuang ke sungai. Sukarman juga menggambarkan bagaimana para istri korban terpaksa mengubur jasad suami dan anak mereka dengan kain seadanya.

“Jasad dikubur di lubang yang tidak lebih dari 50 cm, hingga sore hari bau busuk mulai tercium,” ujar Sukarman.

Di dalam kompleks Monumen Rawagede, terdapat sekitar 181 makam korban pembantaian. Para pengunjung, termasuk traveler yang tertarik pada wisata sejarah, dapat berziarah dan mendoakan para korban di makam-makam tersebut. Setiap makam telah mendapatkan izin dari keluarga korban, sebagai bentuk penghormatan terhadap mereka yang gugur dalam peristiwa tersebut.

Salah satu pengunjung dari Karawang Barat, Fajar, mengungkapkan bahwa rasa penasaran terhadap sejarah pembantaian Rawagede membuatnya tertarik kembali mengunjungi Monumen Rawagede. Menurutnya, kunjungan sebelumnya hanya singkat dan ia belum sempat mengeksplorasi monumen secara menyeluruh.

“Penasaran sih, karena sebelumnya pernah ke sini tapi cuma sebentar, hanya sampai ke area makam, belum masuk ke monumennya,” ujar Fajar.

Saat berkunjung ke monumen tersebut, Fajar merasakan kesan yang cukup unik. “Kesan saya sih agak mistis, karena banyak makam korban pembantaian di sini, jadi sedikit merinding. Tapi, suasana terasa adem juga karena banyak pepohonan,” ujar dia.

Menurut Sukarman, monumen ini sering dikunjungi oleh pelajar dari berbagai jenjang, mulai dari TK hingga mahasiswa, serta para peneliti yang tertarik mempelajari lebih lanjut mengenai sejarah perjuangan bangsa.

Pendanaan untuk operasional dan perawatan monumen didukung oleh Yayasan Rawagede, dengan anggaran dari pemerintah Kabupaten Karawang serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karawang, yang bekerja sama dengan pemerintah daerah. Perbaikan dan pelestarian fasilitas di monumen ini juga melibatkan peran aktif masyarakat lokal.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Makam Jabang Bayi, Situs yang Keramat di Cirebon



Cirebon

Situs makam Jabang Bayi merupakan salah satu situs keramat yang ada di Kota Cirebon, lokasinya diapit oleh deretan pedagang bunga tabur makam.

Sebelum masuk makam Jabang Bayi, terdapat sebuah pintu berwarna hijau setinggi leher orang dewasa, di bagian dinding depannya juga terlihat hiasan piring keramik.

Masuk lagi ke dalam, terlihat sebuah ruangan dengan lantai berwarna putih, serta sebuah pintu kayu berwarna emas yang dilapisi oleh kain panjang berwarna pink dan silver.


Di balik pintu tersebut, terdapat sebuah makam berukuran kecil, yang dikelilingi dengan kelambu berwarna putih. Terlihat juga aneka bunga tabur yang memenuhi bagian tubuh makam.

Seperti namanya, yakni Makam Jabang Bayi, makam tersebut merupakan makam seorang bayi yang baru lahir. Menurut pegiat sejarah Cirebon, Farihin, bayi yang dimakamkan dalam makam tersebut adalah bayi dari hasil hubungan terlarang antara seorang perempuan keturunan Eropa, bernama Nyonya Delamore dan Putra Mahkota Keraton Kanoman.

“Itu anak Sultan Komarudin II dengan Dellamor,” tutur Farihin, belum lama ini.

Kala itu, sekitar tahun 1800-an, saat Sultan Anom VI Komarudin I berkuasa di Kesultanan Kanoman. Pemerintah Kolonial Belanda mengangkat seorang Kepala Residen Cirebon yang baru bernama Jean Guillaume Landre atau dikenal dengan nama Tuan Dellamore.

Sebagaimana pejabat Belanda pada umumnya, Tuan Dellamore sering melakukan pertemuan resmi dengan Sultan Anom Komarudin I. Saat melakukan pertemuan, Tuan Dellamore mengajak putrinya Nyonya Dellamore untuk ikut dalam pertemuan.

Begitu juga dengan Sultan Anom Komarudin I, ia juga mengajak putra mahkotanya, Pangeran Raja Komarudin II untuk ikut serta dalam pertemuan kenegaraan tersebut. Karena sering bertemu, membuat Pangeran Raja Komarudin II dan Nyonya Dellamore pun jatuh cinta, hingga akhirnya melakukan hubungan terlarang sampai akhirnya hamil di luar nikah.

Karena takut diketahui oleh ayahnya, Nyonya Dellamore menutupi kehamilannya hingga bayi tersebut dilahirkan. Namun, saat dilahirkan, bayi Dellamore sudah dalam kondisi meninggal.

Untuk menutupinya, Nyonya Dellamore melarung jasad bayi tersebut ke laut. Meski dianggap sebagai sejarah kelam, tapi menurut Farihin, cerita tentang hubungan terlarang antara Pangeran Raja Komarudin II dan Nyonya Dellamore tetap merupakan bagian dari sejarah Cirebon.

“Tapi kita membicarakan sejarah kan, membicarakan peristiwa terlepas apapun yang terjadi, yah itu yang diceritakan,” pungkas Farihin.

Sementara itu, juru kunci makam Jabang Bayi, Kani mengatakan, setelah dilarung ke laut, jasad bayi ditemukan oleh seorang nelayan, karena tidak mengetahui jasad milik siapa, oleh nelayan, jasad bayi tersebut dimakamkan di area pelabuhan, yang sekarang lokasinya dekat dengan Rutan Pelabuhan Kelas 1 Cirebon.

“Pas ditemukan sama nelayan itu dimakamkan di pelabuhan yang dekat penjara, tapi karena banyak yang dateng ditambah di sana banyak narapidana, pada tahun 1933 dari dipindahkan ke sini (Kesambi),”tutur Kani.

Jabang Bayi sendiri merupakan sebutan untuk bayi yang sudah meninggal saat belum diberi nama. Terlepas dari kisah kelamnya, menurut Kani, sejak dulu makam Jabang Bayi memang sering didatangi peziarah, ditambah area sekitarnya merupakan tempat pemakaman umum.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ini Nih Pulau Terpadat di Kepulauan Seribu



Jakarta

Kepulauan Seribu popular sebagai tempat liburan dengan keindahan pantainya. Tapi ternyata ada satu pulau yang bukan tempat liburan dan berpredikat sebagai pulau dengan populasi terpadat.

Adalah Pulau Panggang yang bukan destinasi wisata dan merupakan pulau dengan populasi terpadat di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pulau Panggang berada di Kecamatan Pulau Seribu Utara.

Pulau Panggang memiliki luas 0,09 km persegi dengan jumlah penduduk kepala keluarga 2.003.


detikTravel mendapat kesempatan untuk berkeliling langsung ke pulau itu. Rumah penduduknya cenderung rapat-rapat, menyisakan gang-gang kecil yang hanya bisa dilalui oleh motor dan sepeda sebagai jalur transportasi.

Imelda (25), lulusan perawat dari Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) Yogyakarta, merupakan seorang yang lahir dan besar di pulau itu. Asli putri daerah, anak kesembilan dari sebelas bersaudara itu mengakui bahwa Pulau Panggang memang sangat padat.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuImelda, warga Pulau Panggang di Kepulauan Seribu (bonauli/detikcom)

“Pulau Panggang bukan pulau liburan, cara berpakaian turis tidak bisa diterapkan di sini,” kata Imelda pada Senin (24/3).

Pulau Panggang Saat Ramadan

Bertepatan dengan bulan Ramadan, Imelda menceritakan kebiasaan warga yang tak biasa. Kalau biasanya berburu takjil jadi kegiatan saat ngabuburit, di Pulau Panggang lain lagi. Tidak ada yang berdagang takjil di sana, warganya membuka pesanan menu berbuka dalam grup obrolan Whatsapp.

“Enggak semua orang punya warung, ada yang PO juga. Jadi warga pesan di room chat lalu nanti diantar,” kata dia.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuPemukiman di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu (bonauli/detikcom)

Kondisi itu dikonfirmasi oleh Nining Kurnia (32), seorang ibu rumah tangga dengan empat anak. Sebagai warga pendatang dari Depok, Jawa Barat, dirinya cukup kaget dengan kebiasaan di Pulau Panggang.

“Iya, di sini enggak ada takjil. Kalau mau pesan lewat grup chat,” kata dia.

Nining menikah dengan pria asli Pulau Panggang, bahkan suaminya masih keturunan wali di sini. Setiap lebaran hari pertama, ia dan keluarga akan nyekar dan ziarah ke makan keluarga suami.

“Tapi kalau bukan keturunan wali di sini, biasanya nyekar di (lebaran) hari kedua,” kata dia.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuPulau Karya (bonauli/detikcom)

Tempat Pemakaman Umum (TPU) penduduk berada di seberang pulau, yaitu Pulau Karya. Hanya beberapa wali saja yang dikubur di area timur Pulau Panggang.

Imelda juga berkata hal senada. Dirinya biasanya nyekar di hari kedua. Ia ingat betul, usai salat Ied, warga akan berbondong-bondong naik motor (perahu motor) lalu menyeberang ke Pulau Karya.

“Ramai sekali, motor antre panjang mau masuk pulau,” kata dia.

Budaya lain saat Ramadan adalah petasan. Anak-anak di Pulau Panggang biasanya berkumpul di area pelabuhan untuk bermain petasan bersama. Bunyi petasan bersahut-sahutan, asap mesiu menyeruak mengisi langit-langit.

Sudah jadi budaya, anak-anak itu terlihat sangat piawai menyalakan petasan yang ‘masuk angin’. Mereka bahkan tak segan untuk melemparkan petasan ke sesama. Sesekali, orang tua yang lewat menghardik mereka untuk hati-hati. Namun, anak-anak itu tetap santai melanjutkan perang petasan. Sementara remaja-remaja tanggung sibuk main bola di lapangan.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuAnak-anak bermain petasan di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu (bonauli/detikcom)

Kumandang salat di masjid menggema seisi pulau. Pria dewasa bergegas menunaikan salat dan tarawih di masjid. Mereka berbaris mengambil air wudhu.

“Oiya, air di sini itu asin, bukan payau,” ucap Nining memberitahu satu lagi fakta tentang Pulau Panggang.

Tak semua rumah memiliki tampungan air hujan, beberapa menggali sumur untuk kebutuhan rumah tangga. Namun, kebanyakan warganya membeli air dari daratan untuk kebutuhan masak dan mandi. Untuk air minum, mereka lebih suka membeli air galon.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuPulau Panggang di Kepulauan Seribu (bonauli/detikcom)

Nining mengaku mengalami culture shock saat pertama kali datang ke Panggang. Sekujur tubuhnya melakukan penolakan dengan siraman air asin yang dilakukan tiap hari.

“Awalnya alergi sebadan-badan. Tapi lama-lama sudah biasa. Cuma kalau airnya lagi jelek, ya luka-luka,” ujarnya sambil menunjukkan bekas luka alergi pada tangan dan kaki.

Ada yang datang menetap, sebagian ingin pergi. Imelda adalah salah satu warga yang berkeinginan untuk melanjutkan hidup di luar pulau. Mimpinya, meraih sukses di Kuwait.

“Mungkin karena sudah dari kecil di sini, jadi sudah bosan. Sekarang mau berjuang untuk keluar dari sini,” katanya sambil tersenyum manis.

(bnl/fem)



Sumber : travel.detik.com

Bekas Tempat Eksekusi, Ini Pulau di Jakarta yang Paling Ditakuti



Jakarta

Satu-satunya bank terapung dunia, Teras BRI Kapal berlayar ke berbagai pulau di Nusantara. Mereka tentu punya pengalaman berbeda dari pekerja bank lainnya.

Teras BRI Kapal ‘Bahtera Seva I’ melayani inklusi keuangan di Kepulauan Seribu. Setiap minggu, mulai Senin-Jumat, kapal ini bergantian ke lima pulau yaitu Pramuka, Panggang, Kelapa-Harapan, Tidung dan Untung Jawa.

Setiap pulau memiliki cerita yang berbeda, termasuk kisah yang membuat bulu kuduk merinding, bahkan masa lalu kelam Indonesia. Saat berlayar ke Pulau Panggang bersama bank terapung BRI, detikTravel mendengar langsung tentang seramnya Pulau Karya.


Pulau ini berada tepat di seberang dermaga Pulau Panggang. Saat Bahtera Seva I bersandar di dermaga, satu sisi kapal otomatis menghadap ke pulau itu. Jaraknya tak sampai satu kilo.

Teras BRI KapalTeras BRI Kapal ‘Bahtera Seva I’ Foto: (bonauli/detikcom)

Salah satu mantri BRI yang bernama Ryan (35) mendapat jadwal ke pulau itu. BRI memiliki dua tim yang bergantian untuk melayani ke Pulau Seribu, tim ini akan berganti setiap minggu.

Ia bercerita bahwa pernah sekali waktu ia masih terjaga sampai pukul 01.30 WIB. Masih asyik dengan telepon genggamnya, sayup-sayup ia mendengar suara berupa ketokan di dinding kamar.

Beberapa ketukan ia abaikan. Ia masih terpaku dengan layar handphone. Namun kali kedua, jantung Ryan seakan berhenti berdetak.

“Kamar itukan posisinya menghadap ke laut Pulau Karya. Langsung tahu, nggak bener nih. Langsung tidur saat itu,” kenangnya sambil memeragakan di depan kru kapal.

Yang lain ikut menimpali sambil tertawa, mereka belum pernah merasakan pengalaman yang horor, tapi sering mendengar cerita-cerita gaib dari warga Pulau Panggang.

“Iya, tau pulau itu horor,” kata yang lain bersahutan.

Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

detikTravel bertanya langsung pada seorang warga asli Pulau Panggang, Sopyan Hadinata (38). Leluhurnya termasuk tokoh agama terpandang di pulau itu.

Iyan (sapaan akrab) mengakui bahwa Pulau Karya memang angker. Sejak dulu, ia sudah mendengar cerita-cerita horor sampai jadi terbiasa dengan hal itu.

“Dulu itu bilangnya tempat buat latihan menembak tentara. Jadi warga nggak boleh ke sana kalau ada latihan,” katanya memulai cerita.

Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

Sebelum jadi pulau khusus pemakaman (TPU) seperti sekarang ini, Pulau Karya hanyalah hutan belantara. Ada berbagai macam tumbuhan, buah-buahan dan tentu saja pantai yang indah sana.

“Di era pemerintahan Soeharto itu, kalau ada tentara yang ke sana warga langsung tahu mau ada latihan menembak. Karena orang tua kita zaman dulu banyak juga yang jadi pahlawan, mereka bilang kita harus hormat sama tentara,” katanya.

Mandat untuk menjauhi pulau saat ada tentara tidak pernah dilanggar oleh warga Pulau Panggang. Yang mereka tahu, suara tembakan selalu terdengar saat tentara tiba. ‘Oh sedang latihan’, pikiran itu akan otomatis muncul tanpa kecurigaan. Dua atau tiga kapal tentara muncul jika waktu ‘latihan’ tiba.

Sampai kerusuhan tahun 1998 terjadi. ‘Latihan menembak’ semakin sering, barulah warga sadar apa arti letusan bedil, yaitu eksekusi. Lalu terbentuklah reformasi dan ‘latihan menembak’ tak pernah terjadi lagi.

Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

Iyan tidak ingat jelas kapan, tapi sekitar tahun 2000-an, pembangunan Pulau Karya dimulai. Warga bahu-membahu membantu pembangunan rumah dinas untuk pejabat dan unit lainnya seperti polres dan pemadam kebakaran.

Saat menggali tanah, ditemukan puluhan tengkorak. Tak ada identitas, hanya tulang belulang. Masa lalu Pulau Karya terkuak, diceritakan turun-temurun sampai sekarang.

“Orang sini udah nggak asing lagi sama cerita horor. Dulu polisi sering cerita digangguin kalau tidur. Tadinya tidur di dalem kantor, bangun-bangun udah ada di luar,” ungkapnya.

Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

Tak hanya polisi, narapidana yang dikirim ke Pulau Karya juga merasa sengsara. Kata Iyan, jumlah napi seringkali bertambah, mereka terus minta pindah karena diganggu oleh makhluk halus.

“Pernah mereka lagi tidur, terus dinampakin ada jari-jari segede pisang ambon. Pokoknya digangguin terus sampai mereka bilang lebih mending di Cipinang daripada di sini,” jawabnya.

Iyan sendiri pernah mengalaminya langsung. Bapak beranak empat itu ingat betul dirinya membawa lima teman kampus UNINDRA untuk kemping di Pulau Karya. Sebelum kemping, Iyan mengajak teman-temannya untuk ziarah, meminta izin untuk masuk ke pulau.

Lelaki lulusan Teknik Informatika itu mengatakan ada sebuah aturan untuk bisa kemping di sana. Mereka tidak boleh berkata kasar dan berbuat mesum saat kemping. Teman-temannya mengiyakan.

“Setelah puas main di pantai, mereka kecapean lalu tertidur di tenda,” katanya.

Dua perempuan dan tiga pria tentu membuat kemah cukup sesak. Tak mau mengganggu temannya yang kelelahan, Iyan pun ngungsi ke rumah dinas pemadam kebakaran.

Tak berapa lama angin kencang muncul, awan gelap seakan jadi pertanda akan hadirnya badai. Iyan khawatir akan teman-temannya. Dari ujung pulau ke ujung satunya, ia berlari untuk mendapati kawan-kawannya.

“Saya kaget, kok mereka udah nunggu di dermaga. Pas saya tanya, mereka jawab ‘kan tadi kamu udah bangunin katanya suruh siap-siap’,” ucapnya.

Dalam hati Iyan paham, yang tadi datang bukan dirinya. Namun makhluk gaib yang menyerupai dirinya. Tak ingin membuat temannya panik, ia kemudian membawa mereka pulang ke Pulau Panggang.

“Di sini itu udah biasa, pokoknya kita hidup berdampingan dan tidak saling mengganggu, itu aja,” pungkasnya.

Teras BRI Kapal terjadwal hadir di Pulau Panggang setiap Selasa. Pulau pemukiman dengan penduduk terpadat di Pulau Seribu itu memiliki jumlah penduduk 6.260 jiwa menurut sensus tahun 2017. Berbeda dengan pulau-pulau lainnya yang sangat erat dengan kegiatan pariwisata, Panggang murni pemukiman. Kebanyakan nasabah BRI yang melakukan transaksi di kapal terapung berupa setoran tabungan, peminjaman, pembuatan tabungan dan penarikan ATM.

(bnl/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Tentara Buntung Ikut Upacara Bendera



Jakarta

Kepulauan Seribu begitu populer sebagai tempat wisata, khususnya snorkeling. Tapi siapa sangka, ada ‘pantangan’ untuk masuk ke pulau yang satu ini.

Pulau Karya berada di seberang Pulau Panggang, cukup dekat dari Pulau Pramuka. Pulau ini menjadi tempat pemakaman umum (TPU) bagi warga pulau sekitar.

Namun ada yang menarik dari pulau itu. Masa lalunya membuat pulau itu kosong tak berpenghuni dan menjadi seperti sekarang.


Sopyan Hadinata (38), seorang warga asli Pulau Panggang bercerita bahwa Karya hanyalah hutan belantara di masa lalu. Era Soeharto membuat pulau itu berganti status menjadi tempat latihan tembak tentara.

Tak ada yang curiga, latihan singkat dilakukan dan suara senapan bergaung sampai Pulau Panggang. Warga akhirnya tahu apa makna ‘latihan tembak’ itu setelah kerusuhan tahun 1998 terjadi.

Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

Pembangunan dilakukan di sana, rencananya pulau itu akan dijadikan sebagai pusat pemerintahan. Rumah dinas pejabat, Polres, markas pemadam kebakaran hingga TNI direncanakan.

“Waktu pembangunan kita kaget ada puluhan tengkorak di sana,” ucap Iyan (sapaan akrab) lewat sambungan telepon pada Jumat (25/4).

Waktu berlalu, semua fasilitas telah dibangun. Tapi tak ada yang betah di sana. Kabar bahwa pulau itu angker mulai tersebar.

“Yang paling terkenal itu tiap 17an, ada upacara bendera di sana. Tapi yang baris itu hantu tentara,” ucap pria beranak empat itu.

Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

Menurut pengakuan warga, mereka seakan diberi penampakan singkat sewaktu upacara. Sesekali penampakan bendera merah putih yang hendak dikibarkan, sedang yel-yel, atau tentara yang sedang baris-berbaris.

“Tapi ya gitu, badan tentaranya nggak lengkap. Ada yang buntung tangannya, kepalanya, matanya jatuh,” jelasnya.

Dari cerita yang beredar, ternyata tak hanya Pulau Karya yang jadi tempat eksekusi. Pulau-pulau kecil tak berpenghuni di Kepulauan Seribu memang kerap jadi ‘latihan tembak’ pada saat itu.

Tidak ada larangan resmi, namun wisatawan yang hendak kemping di sana harus berhati-hati. Tak jarang, mereka datang untuk meminta bantuan.

“Dulu kan rumah dinas itu masih dipakai sama pejabat yang datang ke sini. Tentara itu suka datang minta odol atau sabun, pakai seragam lengkap. Begitu ditanya ke markas TNI, nggak ada yang ngaku. Dari situ tahu, kalau itu hantu,” jawabnya.

Kini Polres telah dipindahkan. Rumah dinas hampir rubuh, dengan karat dan rayap yang menggerogoti bangunan. Warga masih sering ke sana karena merasa tidak perlu takut, toh mereka hidup berdampingan.

Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

“Warga suka nyuci ramai-ramai di sana karena airnya bagus, tidak seperti di Panggang, asin. Pantainya juga bagus. Anak muda juga main bola kalau sore di sana,” ungkapnya.

Pulau ini dibuka untuk umum, meski begitu traveler yang ingin berwisata ke sana wajib ziarah ke makam leluhur untuk izin.

“Dulu itu ada juru kunci, namanya Uwa Man. Kalau kita mau main di sini, dia nanti panggil penunggu-penunggunya terus bilang kalau anak-anak ini jangan diganggu,” kenangnya.

Kini Uwa Man telah meninggal. Istrinya yang dulu menemaninya sudah pindah dari sana. Itulah mengapa, wisatawan diminta untuk ziarah ke makam bersama warga pulau untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

(bnl/wsw)



Sumber : travel.detik.com