Tag Archives: pembangunan masjid

Masjid Agung Karawang Padukan Arsitektur Timur Tengah dan Budaya Sunda



Jakarta

Masjid Agung Karawang menjadi simbol kebanggaan Kabupaten Karawang. Masjid itu kaya akan nilai sejarah dan memiliki arsitektur yang khas.

Masjid Agung Karawang atau Masjid Agung Syekh Quro Karawang merupakan salah satu masjid tertua yang ada di Provinsi Jawa Barat. Masjid itu berdiri pada tahun 1418 Masehi atau 838 Hijriyah di Karawang, Jawa Barat.

Masjid ini didirikan oleh ulama tersohor pada saat itu bernama Syekh Quro yang bernama lengkap Syekh Hasanudin bin Yusuf Sidik. Juga ada dua ulama yang terlibat dalam pendiriannya, yaitu Syekh Abdurrahman dan Syekh Mualana Idhofi.


Semula bangunan masjid itu hanya sebuah pondok pesantren yang bernama Pesantren Quro sekaligus mushola kecil, hanya seluas kurang lebih 9 x 9 meter.

Kini, masjid itu megah. Renovasi besar-besaran terakhir dilakukan pada tahun 2017 di bawah arahan Bupati Karawang ke-28, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana. Perubahan itu membawa tampilan baru pada masjid, dengan desain interior yang menggabungkan gaya Timur Tengah yang mewah dan budaya Sunda yang menegaskan identitas lokal.

“Konsep dari masjid yang baru ini, desainnya teh Celli memadukan arsitektur Timur Tengah dan budaya Sunda,” kata Hj. Acep Jamhuri, Ketua DKM Masjid Agung.

Selain memiliki desain yang menarik, Masjid Agung Karawang juga mengandung nilai historis yang tinggi.

Renovasi Pertama

Masjid ini pertama kali direnovasi pada tahun 1637 oleh Raden Singa Perbangsa, Bupati Karawang pertama. Renovasi berikutnya pada tahun 1747 dilakukan oleh Raden Mochamad Sholeh Singaperbangsa, Bupati Karawang keempat, yang memperluas masjid secara signifikan.

Masjid Agung KarawangMasjid Agung Karawang (Asti Azhari/detikcom)

Raden Mochamad Sholeh Singaperbangsa, sosok penting dalam sejarah Karawang, pernah dimakamkan di serambi selatan masjid, yang kini dikenal sebagai Dalem Serambi.

Menurut Amir, salah satu marbot masjid, makam tersebut telah dipindahkan, meskipun penanda makam tetap diletakkan di sana sebagai simbol pentingnya sejarah tersebut.

Masjid yang telah berusia ratusan tahun ini mengalami perluasan dan peningkatan kualitas secara bertahap. Salah satu renovasi besar dilakukan pada tahun 1989 di bawah Kolonel Czi. H. Sumarmo Suradi, Bupati Karawang ke-20, yang meningkatkan kapasitas masjid untuk menampung lebih banyak jamaah. Renovasi tersebut juga dilengkapi dengan fasilitas yang memudahkan pengunjung.

Pembangunan besar terakhir yang dilaksanakan oleh dr. Hj. Cellica Nurrachadiana semakin mendekatkan masjid ini dengan masyarakat.

“Pembangunan masjid ini didukung dengan dana dari provinsi,” kata Acep.

Pengunjung masjid juga merasakan peningkatan kenyamanan setelah renovasi.

“Masjid lebih bagus dan lebih luas setelah direnovasi. Dulu catnya sudah pudar, tapi sekarang tampak mewah dan lega, bisa menampung banyak orang,” kata Anita, salah seorang pengunjung.

Pendapat itu diperkuat oleh Agus, seorang pengunjung lain.

“Asyik, seru, dan nyaman setelah direnovasi karena terhubung langsung ke Alun – Alun Kota Karawang,” kata Agus.

Keterhubungan ini menjadikan Masjid Agung Karawang tempat yang ideal untuk bersantai dan menikmati lingkungan sekitar.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Desain Unik Masjid Berbentuk Perahu di Sukabumi



Sukabumi

Masjid Sri Soewarto merupakan masjid dengan desain yang unik. Berbentuk perahu dan berwarna ungu.

Keunikan itu membuat masjid di Sukabumi, Jawa Barat itu diminati wisatawan luar daerah untuk singgah. Selain untuk beribadah, mereka juga menelusuri masjid itu untuk berwisata religi.

Masjid Sri Soewarto terletak di Desa Purwasari, Kecamata Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Didirikan oleh Sri Soewarto, masjid itu kemudian diberi nama yang sama.


Berbentuk Perahu dan Berwarna Ungu

Menurut manajer Masjid Sri Soewarto, keunikan warna ungu pada masjid itu dipilih langsung oleh sang pemilik, Sri Soewarto. Perpaduan bentuk perahu dan warna ungu menciptakan kesan artistik sekaligus menenangkan, menghadirkan suasana yang sakral dan estetik secara bersamaan.

Masjid Perahu di Sukabumi.Masjid Perahu di Sukabumi. (Syahdan Alamsyah)

Selain warna yang menonjol, desain perahu juga memiliki makna simbolis bagi Sri Soewarto. Menurut manajer Masjid Sri Soewarto, Lukman Hakim, desain masjid berbentuk perahu ini didasari oleh kecintaan Sri Soewarto kepada perahu dan dunia pelayaran. Poin itu menjadi konsep utama pembangunan masjid berbentuk perahu tersebut.

Secara keseluruhan bangunan itu terdiri dari empat lantai. Di lantai pertama terdapat sebuah restoran yang menyajikan makanan dan minuman bagi para wisatawan dan tamu yang berkunjung.

Kemudian, di lantai dua ada masjid yang berdampingan dengan ruang pertemuan. Lantai tiga dan empat digunakan sebagai area panorama, berupa kawasan terbuka bagi wisatawan yang ingin menikmati pemandangan dan juga mengambil foto.

Pusat Keagamaan dan Wisata

Lukman menjelaskan bahwa Sri Soewarto mendirikan bangunan masjid ini bukan sekedar sebagai tempat ibadah. Ia ingin agar masjid, yang dibangun itu, menjadi tempat menjalin interaksi sosial, budaya, dan tempat wisata religi.

Masjid Perahu di Sukabumi.Interior di masjid perahu di Sukabumi. (Syahdan Alamsyah)

“Masjid ini didesain oleh Haji Soewarto tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan wisata keluarga,” ujarnya dikutip dari detikJabar.

Masjid itu dibangun selama lima tahun mulai 2019 dan beroperasi sejak 2024. Pada bagian belakang masjid, terdapat destinasi wahana rekreasi air dan danau yang menambah keindahan masjid tersebut.

“Alhamdulillah, tanggapan masyarakat sangat positif. Dengan adanya Masjid Perahu yang juga memiliki wahana air dan danau, banyak yang menyambut baik. Pak Haji Soewarto membangun masjid ini dengan niat menyejahterakan masjid dan masyarakat di sekitarnya,” ujar dia.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com