Tag Archives: pembeda

Penting! Ini 6 Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Buka Bisnis Kos-kosan


Jakarta

Bisnis kos-kosan menjadi salah satu pilihan untuk memanfaatkan properti yang kita miliki agar lebih bernilai. Kos-kosan biasanya ukurannya lebih kecil daripada kontrakan karena diperuntukkan untuk per orang. Hal ini dikarenakan orang-orang tersebut biasanya jauh dari keluarga dan belum berkeluarga.

Lokasinya pun berada di dekat lokasi yang ramai seperti kampus, area perkantoran, area industri, dan lainnya. Lalu, kos-kosan biasanya biaya sewanya jauh lebih rendah daripada kontrakan.

Bisnis satu ini sangat menguntungkan dan bisa menjadi pemasukan pasif terutama bagi yang mendekati usia pensiun. Namun, kalian harus siap setiap pergantian tahun dan semester akan ada banyak penyewa yang keluar dan masuk.


Sebelum terjun ke bisnis kos-kosan, ada beberapa hal yang harus diketahui agar laku dan tidak ditipu.

1. Konsep Kos-kosan

Sebelum menjalankan bisnis kos-kosan, perlu adanya konsep dan tujuan agar usaha kalian berjalan lancar. Menurut Pengusaha Kos-kosan Anis Widiadi menentukan target pasar sangat penting. Dengan begitu, kalian bisa menentukan lokasi, harga sewa, dan fasilitas kos-kosan yang sesuai.

“Jadi memang dari awalnya konsepnya dulu harus dibuat, mau buat siapa nih,” ujar Anis Widiadi kepada detikcom beberapa waktu lalu.

2. Lokasi yang Strategis

Setelah memiliki konsep, kamu bisa mencari lokasi kos-kosan yang pas. Anis menyebutkan apabila ingin membuat kos khusus mahasiswa, maka pastikan lokasi dekat dengan perguruan tinggi. Semakin dekat lokasinya, peminatnya juga bisa tinggi. Lalu, jika targetnya adalah pekerja industri, pastikan lokasinya bisa diakses dengan berjalan kaki.

“Kalau buat tenaga kerja, istilahnya pegawai, kita harus ngeliat lokasinya yang mendekati orang banyak PT-PT atau gedung perusahaan,” katanya.

3. Fasilitas

Saat menjalankan bisnis kos-kosan, kamu tidak hanya menyediakan tempat tinggal, melainkan beberapa perabotan di dalamnya. Perabotan ini tidak begitu banyak, hanya tempat tidur, lemari pakaian, meja untuk dapur mini, atau meja belajar jika peruntukkannya untuk mahasiswa.

“Kalau sebetulnya sih standar ya, kalau itu sudah pasti yang standar ada tempat tidur, ada lemari, paling nggak meja,” tuturnya.

Fasilitas ini dapat ditambah untuk menjadi pembeda dengan kos-kosan lain. Misalnya kamu ingin menambahkan AC, kipas angin, atau WiFi gratis.

“Fasilitasnya bagus, misalnya lengkap furniturnya semua sama kayak gitu, terus fasilitas misalnya AC, terus ada wifi tergantung dari uang sewanya. Tapi kalau misalnya uang sewanya kita rendah, misalnya dibawah satu juta ya pasti kosongan gitu,” jelasnya.

4. Harga Pesaing

Saat menentukan konsep, lokasi, dan perabotan yang harus tersedia, kalian sudah terbayang berapa pengeluaran dan berapa biaya sewa yang bisa dikenakan. Namun, sebelum menentukan harga sewa, sebaiknya cek harga pasaran di lokasi yang sama. Apabila kamu memberikan harga yang terlalu mahal, khawatir banyak penyewa yang memilih opsi lain yang lebih murah. Selain itu, lihat pula rata-rata gaji bulanan calon penyewa.

“Kalau kita juga terlalu mahal, jadi nggak ada yang ke kita, jadi kita mesti survei lapangan juga untuk menentukan harga itu,” katanya.

5. Syarat dan Perizinan

Setiap membangun bangunan, baik untuk tempat tinggal maupun usaha, pasti ada pengurusan izin atau yang sering disebut dengan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Anis pun berbagi pengalamannya membuat kos-kosan di rumahnya. Karena ia tidak mengubah fasad depan rumah, melainkan menambah sekat-sekat di dalam rumah, sehingga tidak mengubah IMB. Berbeda halnya ketika ia membangun rumah dari awal yang membutuhkan IMB.

“Ada peraturan juga dari pemerintah, kalau dia (kamar kos) melebihi dari 10, 12, apa 11, itu dia akan kena pajak pemda (pemerintah daerah) gitu,” ungkapnya.

6. Mengenal Penyewa

Saat menjalankan bisnis kos-kosan, kalian akan menemui banyak sifat penyewa. Agar bisnis kos-kosan kamu lancar dan tidak repot, kenali penyewa. Menyewa kos-kosan berbeda dengan menerima tamu di hotel. Sebelum menerima, pemilik kos-kosan harus menemui penyewa secara langsung dan melakukan wawancara, terutama untuk penyewa yang sudah bekerja.

Selain itu, pengusaha kos-kosan bisa meminta nomor kontak jaga-jaga atau terdekat penyewa sebagai langkah antisipasi.Bahkan, pemilik kos juga bisa menghubungi orang tua penyewa yang masih di bangku kuliah. Hal ini untuk menghindari keadaan tidak diinginkan, seperti orang-orang yang tidak membayar kos ataupun bermasalah. Apabila merasa tidak nyaman dengan kesan pertama penyewa, maka bisa menolak baik-baik.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(aqi/aqi)



Sumber : www.detik.com

Back To Nature di Ekowisata Kalitalang



Klaten

Wisata alam yang paket komplit bisa ditemui di Ekowisata Kalitalang. Dari sini, Gunung Merapi terlihat dengan gagah saat cuaca bersahabat.

Ekowisata Kalitalang, yang terletak di Desa Balerante, Klaten, Jawa Tengah, pas untuk traveler yang menyukai petualangan. Memiliki pembeda pemandangan spektakuler Gunung Merapi dan suasana padang rumput yang luas, tempat itu merupakan destinasi ideal untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan sahabat dalam suasana alam yang tenang.

Kalitalang mengangkat konsep ecosystem dengan menghadirkan eco-tourism, photo spot, camping dan tracking. Lokasinya berjarak 31 kilometer dari jantung kota Klaten atau butuh waktu sekitar satu jam lebih jika ditempuh dari Tugu Yogyakarta.


Banyak aktivitas yang dapat di jajal di sini, mulai dari sekedar hunting foto hingga merencanakan kemah yang menyenangkan. Letaknya yang berada di ketinggian 1.120 mdpl juga cocok untuk latihan tracking melintasi kawasan ekowisata.

“Kesini nyoba buat tracking ringan karena jalurnya tidak sesusah itu, jadi aksesnya mudah untuk semua orang,” kata Naufal, salah satu pengunjung yang ditemui detikTravel

Yuk, simak ulasan aktivitas di ekowisata Kalitalang, Klaten:

1. Easy Hiking di Tengah Keindahan Alam

Salah satu daya tarik utama Ekowisata Kali Talang adalah jalur hiking yang mudah. Naufal, seorang pengunjung, menjelaskan bahwa jalurnya tidak terlalu sulit, memungkinkan akses bagi banyak orang untuk menikmati keindahan alam sekitar tanpa kesulitan yang berarti.

Dari jalur hiking ini, pengunjung dapat dengan jelas melihat Gunung Merapi yang megah serta menikmati panorama padang rumput yang terhampar luas.

2. Aktivitas Camping dan Fotografi

Bagi penggemar camping, Ekowisata Kali Talang menyediakan berbagai paket camping mulai dari tenda glamping hingga tenda standar, dilengkapi dengan perlengkapan seperti cooking set dan lampu tenda.

Suasana udara sejuk di pagi hari dan pemandangan matahari terbenam yang memukau menjadikan tempat ini sebagai pilihan ideal untuk menghabiskan malam bersama keluarga atau teman-teman.

Spot-spot foto yang tersebar di sekitar lokasi juga menawarkan latar belakang yang sempurna dengan Gunung Merapi dan hamparan rumput sebagai pemandangan utama.

3. Mengenal Lebih Dekat Lokalitas dan Budaya

Tidak hanya itu, kunjungan ke Ekowisata Kali Talang juga memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan warga setempat yang ramah. Warga sering kali memanfaatkan padang rumput ini untuk mencari pakan ternak, menciptakan suasana yang hangat dan menyambut bagi para pengunjung.

Selain itu, keberadaan objek wisata ini dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi menambah nilai ekologis dan kelestarian alam yang dijaga oleh para pemuda setempat.

4. Akses dan Fasilitas

Meskipun akses jalan menuju lokasi masih perlu diperbaiki, Ekowisata Kali Talang tetap menawarkan pengalaman berharga bagi setiap pengunjung. Dengan biaya masuk yang terjangkau sebesar Rp 5.000 per orang serta tersedianya area parkir yang aman, pengunjung dapat dengan nyaman menikmati berbagai fasilitas yang disediakan.

Dengan segala keindahannya, Ekowisata Kali Talang dijamin membuat siapa pun yang mengunjunginya merasa terpesona dan ingin kembali lagi. Untuk para pencinta alam dan petualang, tempat ini tidak hanya sekadar destinasi wisata, tetapi juga tempat untuk menciptakan kenangan tak terlupakan di tengah alam yang masih asri dan indah.

(fem/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Wow! Ada Kosmonaut Rusia di Taman Mataram



Jakarta

Taman Mataram di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini tidak hanya memberikan kesejukan dari banyaknya pepohonan, tapi memiliki pembeda dibandingkan taman lain di Jakarta. Ada sosok kosmonaut atau astronot asal Uni Soviet (Rusia).

Patung kosmonaut itu bernama Yuri Alekseyevich Gagarin. Dia merupakan orang pertama di ruang angkasa selama 108 menit dan berhasil satu kali mengelilingi orbit bumi pada medio 1960-an.

Nah, patung Yuri berdiri di Taman Mataram ini sebagai pengingat hubungan antara Indonesia dan Rusia. Patung itu diresmikan pada tahun 2021 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu yakni Anies Baswedan.


“Kehadiran Patung Yuri Gagarin di Taman Mataram memaknai keeratan warga Jakarta dengan Rusia, khususnya dalam mendukung sejarah 70 tahun hubungan bilateral kedua negara serta menciptakan ruang terbuka hijau yang sejuk dan nyaman bagi publik Jakarta,” kata Anies, dikutip dari laman resmi Kementerian Luar Negeri.

Saat berkunjung ke Taman Mataram ini, Sabtu (28/9/2024), detikTravel melihat banyak pengunjung yang menikmati hari dengan berbagai aktivitas, ada yang berolahraga hingga sekadar bersantai. Suasana yang sejuk dan nyaman melekat pada taman yang luasnya kurang lebih 3 hektar itu.

Taman Mataram di Kebayoran Baru, JakselTaman Mataram di Kebayoran Baru, Jaksel (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Bunga-bunga yang mulai bermekaran di taman ini membuat pandangan sekeliling begitu dimanjakan. Traveler bisa menjumpai Patung Yuri Gagarin tepat di ujung taman mengarah ke Jalan Sisimangaraja.

Di dekat patung itu juga banyak pengunjung yang beraktivitas, tak banyak pengunjung yang mengetahui siapa sosok dari patung tersebut. Salah satunya adalah Dandi, ia tak pernah tahu Yuri Gagarin siapa dan kontribusinya sebagai kosmonaut asal Rusia.

“Jujur sih nggak tahu juga siapa patung itu, yang saya tahu yang ke luar angkasa cuma yang orang Amerika itu,” ujarnya kepada detikTravel kemudian tertawa.

Taman Mataram ini sering Dandi jadikan tempat beristirahat sehabis bersepeda dengan kawan-kawannya. Baginya tempat yang strategis jadi mudah untuk mengaksesnya.

“Iya sekalian istirahat tadi abis muter-muter di GBK jadi ke sini sekalian arah balik,” ujarnya.

Taman Mataram di Kebayoran Baru, JakselTaman Mataram di Kebayoran Baru, Jaksel (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Di taman itu selain tersedia bangku-bangku taman, juga tersedia wahana kebugaran dan wahana permainan anak seperti ayunan. Tempatnya yang berada di area komplek membuat taman ini nyaman untuk dinikmati pagi maupun sore hari karena tidak terlalu ramai.

Taman Mataram itu terbagi dua yang dipisah oleh Jalan Patimura, di kedua taman ini juga terdapat beberapa area bangku taman dan bayak pepohonan. Untuk operasional taman biasa dibuka mulai pukul 07.00 hingga 19.00 WIB.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Bekantan, Maskot Ancol, Ada di Faunaland



Jakarta

Siapa bilang harus pergi jauh ke Kalimantan untuk melihat bekantan? Di Faunaland Ancol pengunjung dapat menikmati pengalaman dekat dengan bekantan.

Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan primata langka yang berasal dari Kalimantan. Lewat hidungnya, traveler akan langsung mengingat maskot tempat wisata di Dufan.

Bekantan memiliki warna bulu yang bervariasi yaitu coklat kemerahan hingga orange. Bukan cuma memiliki pembeda pada hidung panjangnya, ternyata primata ini pandai berenang lho!


Faunaland Berlokasi di Ecovention Building – Ecopark, Jalan Lodan Raya, Pademangan, Ancol, Jakarta Utara, dekat juga dengan Stasiun KRL Ancol.

detikTravel datang ke sana, Selasa (24/09/2024) untuk bertemu langsung dengan primata endemik Kalimantan itu. Saat tiba, kami menyebrangi jembatan berwarna coklat tua dengan nuansa keasrian pohon-pohon, menjadikan perjalanan menuju primata unik ini semakin mengesankan.

Saat tiba, bekantan sedang santai. Di sini traveler bisa mengamati perilaku, karakteristik, warna bulu, cara makan, dan bentuk fisiknya secara lebih dekat.

Bekantan di Faunaland, Ancol, Jakarta UtaraBekantan di Faunaland, Ancol, Jakarta Utara (Amalia Novia Putri/detikcom)

“Ciri fisik khas bekantan ada di hidungnya, perbedaan fisik terlihat jelas pada 1 bekantan jantan bernama Simon memiliki hidung yang besar dan panjang, 2 bekantan betina bernama Melani dan Stephani anaknya memiliki hidung cenderung lebih pendek. Hidung pada bekantan jantan jika semakin besar dan panjang menjadi daya tarik lebih bagi bekantan betina,” kata Febri, dokter hewan di Faunaland.

Selain memiliki ciri fisik yang mencolok yaitu hidung besar dan panjang yang khas, bekantan juga memiliki kemampuan luar biasa dalam hal berenang. Mereka hidup di sepanjang sungai dan hutan bakau, menjadikannya primata yang sangat terampil menyelam di dalam air.

“Tak hanya bergelantungan di ranting-ranting pohon maupun di pagar kandang, bekantan juga pandai berenang karena memiliki selaput di sela-sela jari kakinya,” ujar Febri.

Selain adanya edukasi kepada pengunjung, Faunaland juga mengambil langkah dalam menjaga kelestarian bekantan, dari ancaman kepunahan melalui upaya konservasi. Itu sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan peluang kelangsungan hidup bekantan yang terancam punah, dengan memantau dan menjaga perkembang-biakan bekantan dengan teknologi USG, agar memastikan kesehatan dan pertumbuhan janin bekantan.

“Kita mencoba untuk mengembangbiakan bekantan. kita terus pantau perkembangannya, biasanya saat sudah satu bulan kemungkinan perkembangbiakan berhasil, kita terus pantau dan USG untuk menjaga kehamilan bekantan betina” kata Febri.

Dikutip dari WWF.id masa depan bekantan berada dalam keadaan yang bisa dibilang kritis. Satwa khas dari Kalimantan ini banyak diburu untuk dikonsumsi dagingnya karena dipercaya dapat menambah stamina. Selain itu, bekantan banyak diperdagangkan untuk dipelihara. Karena inilah populasi bekantan di habitatnya terus menerus dan terancam punah (9/01/2024).

Faunaland Ancol bisa dikunjungi mulai pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 16.30 WIB setiap hari. detikTravel menyarankan datanglah pagi karena selain bisa melihat primata bekantan traveller juga bisa melihat siamang putih di pulang amang dengan menaiki sampan di perairan Faunaland.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Objek Wisata Alam di Kuningan, Ada Hutan Tengah Kota



Kuningan

Kabupaten Kuningan memiliki objek wisata baru Kajene Forest. Tempat ini menjadi hutan kota pertama di jantung kota.

Forest Kajene berada di Jalan Siliwangi Cigembang, Kelurahan Purwawinangun, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Dibangun di lahan seluas 6 hektare, objek wisata hutan kota swasta itu diyakini dapat menjadi magnet bagi wisatawan baik lokal, regional, atau internasional datang ke Kabupaten Kuningan.

Berbagai fasilitas tersedia di sini, di antaranya Minara Goodies (pusat oleh-oleh), Minara Mart (mini market), Minara Food Park (kuliner) dan Minara House (kafe).


Arti Nama Kajene dan Minara

Merujuk arsip detikjabar, nama Kajene diambil dari sejarah Kabupaten Kuningan pada era Kerajaan Pajajaran saat dipimpin oleh seorang adipati yang bijaksana bernama Arya Kamuning. Nama Kajene disematkan oleh Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati saat menjalankan misi menyebarkan Islam ke wilayah ini.

Kajene berarti kuning atau emas yang juga berarti keagungan, dihormati dan dimuliakan. Nama itu dipilih dengan harapan area itu menjadi ikon Kabupaten Kuningan dan menjadi hutan kota swasta terbaik di Indonesia.

Adapun Minara yang disematkan pada sejumlah fasilitas wisata di sana mempunyai makna filosofi yang dalam. Nama Minara berasal dari Bahasa Sansakerta yang artinya pencuri hati.

Kajene Forest memiliki pembeda dengan berada di kawasan hutan yang semula hijau rimbun dan di antara pohon besar. Bahkan menjadi kawasan konservasi yang lebih tertata dan nyaman karena tidak satupun pohon-pohon besar di kawasan ini yang ditebang.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Padat, tapi Masih Bisa ‘Bernapas’



Yogyakarta

Saat liburan di Yogyakarta, kurang lengkap rasanya jika tidak mencoba Kereta Rel Listrik atau KRL Jogja-Solo yang menghubungkan Jogja, Klaten, dan Solo. Saat jam pulang kantor, KRL padat tetapi tidak berdesak-desakan laiknya Commuter Line Jabodetabek.

Yogyakarta dan Solo sudah terhubung dengan kereta commuter line sejak lama, dengan kereta Prameks nan legendaris. Dulu, Prameks bertenaga diesel namun kemudian KA Prameks ‘pensiun’ pada 10 Februari.

detiktravel mencoba melakukan perjalanan dengan KRL Jogja-Solo pada Jumat (22/8/2025), KRL itu beroperasi antara Stasiun Tugu di jantung Yogyakarta hingga Palur, yang jadi perbatasan antara Solo dan Karanganyar. Perjalanan dari Yogyakarta hingga Solo memakan waktu sekitar 1,5 jam.


Hanya punya satu jalur, KRL Jogja-Solo itu berhenti di 13 stasiun, mulai dari stasiun Tugu Yogyakarta, Lempuyangan, Maguwo, Brambanan, Srowot, Klaten, Ceper, Delanggu, Gawok, Purwosari, Solo Balapan, Solo Jebres, hingga Palur.

KRL Prameks Jogja-SoloKRL Jogja-Solo (bonauli/detikcom)

KRL Jpgja-Solo itu mengangkut sekitar 16 gerbong. Pada pagi hari, KRL Jogja-Solo beroperasi dua kali dalam satu jam, namun saat sore hari hanya satu jam sekali.

Mirip dengan KRL Jabodetabek, KRL Jogja-Solo dipadati oleh warga yang ngalaju (pulang-pergi) antara Yogyakarta dan Solo. Beruntung, detiktravel mendapatkan KRL Jogja-Solo saat tidak terlalu padat penumpang meskipun saat itu pukul 16.10 WIB, tepat saat orang pulang kerja.

Naik dari Stasiun Stasiun Tugu bisa menguntungkan, karena peluang mendapatkan tempat duduk lebih besar. Kalau tempat duduk sudah penuh, penumpang hanya bisa berdiri dari stasiun awal hingga tujuan.

Di KRL Jabodetabek biasanya penumpang berdiri ke segala arah yang penting bisa terangkut. Para penumpang berdesak-desakan, sampai-sampai tak berpegangan pada strap hanger pun tidak masalah karena nggak akan terjatuh akibat tertahan penumpang lain.

Nah, di KRL Jogja-Solo lain cerita. Penumpang memang ada yang berdiri, namun lebih leluasa.

Ini tentu pemandangan yang tak biasa bagi warga Jabodetabek. Penumpang masih memungkinkan untuk berbaris dengan rapi. Bisa dibilang semua terasa begitu berbeda, meski sama-sama KRL. Yang sehari-hari menggunakan moda KRL dari Bogor atau Depok atau Cisauk dan Bintaro ke Jakarta tak bisa tidak untuk bikin perbandingan. Sudah bisa terangkut saja syukur di jam-jam berangkat dan pulang kerja.

Apalagi, pemandangan sepanjang perjalanan masih sangat hijau dan jauh dari hutan beton. Paling ramai, hanya permukiman.

Dari sejumlah cerita penumpang lain, kepadatan dalam KRL Jogja-Solo bisa menyerupai KRL Jabodetabek saat libur sekolah atau akhir pekan. Saat jam-jam pulang atau berangkat kerja keramaian tergolong wajar.

KRL Prameks Jogja-SoloKRL Jogja-Solo (bonauli/detikcom)

Satu pembeda terakhir adalah tidak adanya gerbong khusus wanita di kedua ujung kereta. Semua gerbong dibuka untuk umum. Jadi tidak ada gerbong khusus perempuan.

Tarif KRL Jogja-Solo flat sebesar Rp 8.000 sekali jalan, tidak seperti KRL yang memiliki tarif progresif atau bertambah sesuai jarak tempuh.

Berikut jadwal KRL Yogyakarta-Palur:

Jadwal keberangkatan Jogja-Solo dari Stasiun Tugu Yogyakarta yaitu pukul 05.05 WIB, 06.00 WIB, 07.05 WIB, 07.54 WIB, 08.49 WIB, 10.56 WIB, 12.07 WIB, 13.57 WIB, 15.01 WIB, 16.10 WIB, 17.35 WIB, 18.08 WIB, 20.15 WIB, 21.20 WIB dan 22.35 WIB.

(bnl/fem)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Sukses Ngargogondo Bersama Pegadaian



Jakarta

Desa Ngargogondo di lereng Gunung Menoreh, Magelang, Jawa Tengah, tidak hanya menyublim menjadi desa wisata, namun menjadi penanda lahirnya perubahan. Desa binaan Pegadaian itu melengkapi dengan pertanian organik, UMKM hijau, dan tata kelola yang berpihak pada warga.

Pemandangan mewah sebuah desa disuguhkan Desa Ngargogondo. Sebuah amfiteater dan pendopo yang cukup luas menjadi sajian Balkondes Ngargogondo The Gade Village. Juga, lapangan bola komplet dengan jogging trek di sekelilingnya menjadi poin plus desa yang berjarak sekitar 2,5km dari Candi Borobudur itu.

Area itu semakin menyenangkan dengan pohon kelengkeng. “Kalau pas panen, wisatawan bisa menikmati kelengkeng. Warga akan membuka warung kelengkeng di sekitar balkondes atau balai ekonomi desa,” kata Aryan Subekti, 42, pengelola Balkondes Ngargogondo, dalam perbincangan dengan detiktravel, Selasa (30/9/2025).


Musim kelengkeng itu datang pada periode ini. Nah, akhir pekan lalu, Desa Ngargogondo The Gade Village mereka yang mengikuti Borobudur Jemparingan Festival atau festival panah tradisional bisa menikmati kelengkeng berkilo-kilo di sana.

Andalan lain dari kebun warga di Desa Ngargogondo adalah singkong, pepaya, dan cabai. “Yang istimewa cabai. Cabai yang kami hasilkan ini cabai organik. Pupuknya organik, pengolahan tanahnya kami upayakan tanpa bahan kimia,” kata Aryan.

Balkondes Ngargogondo The Gade VillageBalkondes Ngargogondo The Gade Village (dok. Balkondes Ngargogondo The Gade Village)

Aryan menceritakan bahwa pertanian organik cabai ini merupakan hasil pendampingan dari Pegadaian. Bukan hanya penanaman cabai, namun mulai dari pembuatan pupuk organik.

“Dari Pegadaian mendampingi kelompok tani di desa Ngargogondo dengan pembuatan pupuk organik. Itu dimulai sejak 2022. Semua proses, mulai dari pembuatan pupuk, praktik menanam, kemudian disewakan lahan oleh Pegadaian untuk menanam cabai. Kami jamin, cabai dari Desa Ngargogondo adalah produk cabai organik,” kata Aryan.

Untuk menjadikan Desa Ngargogondo memiliki pembeda sebagai penghasil pertanian organik itu, Aryan mengatakan, Pegadaian menggandeng asosiasi atau komunitas yang menghimpun petani, nelayan, pelaku UMKM, akademisi, dan swasta Intani, juga bekerja sama dengan perguruan tinggi Universitas Jenderal Soedirman.

“Kerja sama itu termasuk untuk membangun demplot, uji pupuk, sertifikasi untuk kelompok petani untuk pembuatan pupuk. Harapannya kampung kami bisa jadi desa produsen tanaman pangan organik dan jangka panjangnya mendukung program untuk ketahanan pangan. Program ini juga sekaligus cara Pegadaian mengEMASkan Indonesia. Buat kami program ini menjadi cara mengurangi pembelian pupuk kimia,” kata Aryan.

Bagi Aryan dan warga Desa Ngargogondo, pertanian organik dulu terasa mustahil. Mereka hanya melihat kisah sukses petani organik lewat televisi, berita, atau media sosial. Sebelum 2018, desa yang terletak di kaki Bukit Menoreh itu mayoritas dihuni petani sawah tadah hujan, dengan keterbatasan sumber air karena sedikitnya mata air di sekitar perbukitan.

“Dulu tiap musim kemarau kami terkendala air. Dulu, 80-90 persen penduduk berprofesi sebagai petani, petani sawah tadah hujan,” kata Aryan.

Balkondes Ngargogondo The Gade VillageBalkondes Ngargogondo The Gade Village (dok. Balkondes Ngargogondo The Gade Village)

Aryan menjelaskan bahwa pendapatan Desa Ngargogondo terus meningkat setelah mendapat pembinaan dari Pegadaian. Seiring berjalannya waktu, jumlah tamu dan acara di Balkondes Ngargogondo terus bertambah. Jika semula pada 2020 cuma ada 32 event dan 5.747 orang serta menjadi 70 event dan 8.026 orang pada 2024. Pada 2020, desa itu hanya memperoleh sekitar Rp 26 juta, namun dalam beberapa tahun naik pesat hingga mencapai Rp 229 juta.

Dia pun menyadari, sebagai pengelola Balkondes, laporan keuangan harus disajikan secara transparan. Transparansi inilah yang menjadi salah satu pilar penting dalam penerapan ESG (Environmental, Social, and Governance).

“Dengan pendapatan ini, kas desa otomatis meningkat. Warga juga jadi memiliki pendapatan lain,” ujar Aryan.

Bermula dari Tanah Bengkok

Dalam tujuh tahun terakhir ini, mata pencaharian warga Desa Ngargogondo masih sama. 80-90 persen petani, petani tadah hujan. Namun, kini mereka tidak lagi hanya mengandalkan pemasukan dari bertani tadah hujan itu.

“Ada pendapatan lain. Selain dari cabai organik itu, kami lebih dulu dibukakan pintu melalui balkondes. Balkondes Ngargogondo The Gade Village ini,” kata Aryan.

Aryan menjelaskan semua itu bermula pada 2018. Saat itu, BUMN untuk memberikan bantuan balkondes untuk 20 desa di Borobudur, program satu desa satu balkondes. Nah, Desa Ngargogondo salah satunya. Oleh BUMN, adalah Pegadaian yang ditugaskan untuk mendampingi desa Ngargogondo. Peresmian dilakukan oleh Menteri BUMN Rini Soemarno dan Direktur Utama PT Pegadaian Sunarso.

“Dulu, ini tanah bengkok desa. Dulu ilalang, enggak menghasilkan. Luasnya 3.500 meter persegi. Kemudian, dialihkan menjadi balkondes. Istimewanya, ada lapangan di sebelah balkondes ini,” kata Aryan.

Balkondes Ngargogondo The Gade VillageMushola di Balkondes Ngargogondo The Gade Village (dok. Balkondes Ngargogondo The Gade Village)

Sementara itu, Reggy Nouvan, ESG Spesialis PT Pegadaian, mengatakan bahwa Pegadaian menempatkan pembangunan desa wisata sebagai bagian dari tanggung jawab sosial korporasi (CSR) dan strategi pemberdayaan ekonomi lokal.

“Pilihan lokasi Ngargogondo didasarkan pada potensi kultural, lingkungan, dan peluang ekonomi masyarakat setempat untuk dikembangkan menjadi destinasi pariwisata yang inklusif. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesejahteraan warga, menciptakan mata pencaharian alternatif (ekonomi pariwisata), serta memperkuat reputasi Pegadaian sebagai BUMN yang berkontribusi pada pembangunan daerah berkelanjutan,” kata Reggy.

Reggy sekaligus menyampaikan bahwa Desa Ngargogondo disiapkan sebagai desa yang ramah lingkungan. Strategi yang disiapkan untuk mewujudkannya antara lain dengan desain dan pembangunan berkelanjutan, yakni memprioritaskan material lokal, arsitektur yang sesuai kearifan lokal, dan minim dampak lingkungan.

Kemudian, pengelolaan jejak lingkungan dengan mengadopsi praktik pengelolaan air, energi, dan limbah yang efisien. Lantas, menggandeng komunitas dan menggelar pelatihan untuk pengelola dan masyarakat agar menjalankan operasional yang berwawasan lingkungan.

“Kami juga menggandeng pihak ketiga, mulai dari akademisi, NGO, dan mitra teknis untuk menerapkan praktik ramah lingkungan,” kata dia.

Reggy juga mengatakan Desa Ngargogondo mengedepankan tata kelola yang melibatkan BUMDes dan kolaborasi dengan Pegadaian, pemerintah daerah, dan masyarakat lokal.

“Penciptaan lapangan pekerjaan untuk warga lokal juga oke sejauh ini. Ada warga yang mengelola secara penuh dan warga yang direkrut secara kasual tiap ada event besar berjalan dengan baik,” kata Reggy.

Aryan mengatakan saat ini ada lima orang yang mengelola Balkondes Ngargogondo. “Tetapi, kami juga menggunakan sistem kasual warga sesuai kebutuhan. Kalau sedang banyak tamu, kami rekrut warga, baik itu ibu-ibu, bapak-bapak, pemuda desa, sampai Gen Z, kami ajak bergabung,” kata dia.

Fasilitas di Balkondes Ngargogondo The Gade Village

Balkondes Desa Ngargogondo The Gade Village memiliki berbagai fasilitas untuk menunjang kenyamanan pengunjung. Selain dua pendopo besar dengan kapasitas 300 orang, balkondes ini juga memiliki amfiteater dengan kapasitas 80 penonton, homestay, toilet, musala, serta lapangan dengan lintasan jogging.

“Di sini juga langganan buat festival, event running, wedding. Sudah ada yang booking untuk wedding sampai Januari,” kata Aryan.

Selain itu, balkondes ini memiliki restoran dan 17 kamar, yang terdiri dari 5 kamar dengan double bed, 3 kamar dengan twin bed, serta 3 family room yang masing-masing memiliki tiga kamar.

Balkondes Ngargogondo The Gade VillageAmfiteater Balkondes Ngargogondo The Gade Village (dok. Balkondes Ngargogondo The Gade Village)

Tarif penginapan per malamnya adalah Rp 500 ribu untuk kamar double dan twin, serta Rp 1,5 juta untuk kamar family. Setiap kamar telah dilengkapi dengan AC, TV, air panas, dan sarapan.

“Semoga Balkondes Ngargogondo The Gade Village ini menjadi satellite destination yang memperkaya pengalaman pengunjung Borobudur dengan atraksi budaya dan ekowisata lokal,” ujar Reggy.

“Selain itu, juga menyediakan rute wisata terpadu yang memperpanjang durasi tinggal wisatawan di wilayah, sehingga mendatangkan manfaat ekonomi lebih besar ke komunitas setempat, serta meningkatkan kapasitas pemasaran regional dan kerja sama lintas-stakeholder untuk memaksimalkan nilai tambah pariwisata berkelanjutan,” kata Reggy.

Reggy menambahkan Pegadaian juga mengintegrasikan literasi keuangan dengan pengembangan desa wisata, di antaranya mengenalkan produk-produk seperti Pegadaian tabungan emas, khususnya bagi pelaku UMKM dan pekerja sektor pariwisata.

Dengan cara itu, masyarakat desa wisata tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan wisata, tetapi juga memiliki sarana finansial yang berkelanjutan untuk menghadapi risiko di masa depan untuk mewujudkan misi PT Pegadaian #mengEMASkan Indonesia.

(fem/ddn)



Sumber : travel.detik.com