Tag Archives: pemerintah belanda

Taman Benyamin Sueb, Tinggalan Cornelis Senen, Diresmikan Anis Baswedan



Jakarta

Nama dan pamor seniman asli Betawi Benyamin Sueb atau Bang Ben tak perlu diragukan lagi. Untuk mengenang kiprah dan pengaruhnya dibuatlah Taman Benyamin Sueb yang terletak di Jatinegara, Jakarta Timur.

Taman Benyamin Sueb itu diresmikan pada 2018 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Anies Baswedan. Tujuan utama dari adanya taman ini tentunya bentuk apresiasi kepada Benyamin Sueb dan juga sebagai pusat pelestarian seni dan kebudayaan, wabil khusus budaya Betawi.

Bangunan Taman Benyamin Sueb ini dulunya merupakan bangunan peninggalan milik Meester Cornelis van Senen sekitar tahun 1625 hingga 1661. Saat Daendels menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia-Belanda bekas kediaman Meester Cornelis itu didirikan tiga bangunan utama yang masih kokoh hingga saat ini.


“Awal mula bangunan ini adalah lahan seluas 6.500 meter persegi milik Meester Cornelis Senen dia seorang penginjil yang taat hingga dia dipercaya oleh Pemerintah Belanda untuk mengembangkan wilayah sini pada tahun 1625 kurang lebih. Setelah itu Cornelis meninggal, sekitar 200 tahun kemudian datang Daendels dan bangunan ini dibangun sekitar 1811,” kata pengelola Gedung Taman Benyamin Sueb, Sri Heni Setiawati, kepada detikTravel, Selasa (16/7/2024).

Taman Benyamin Sueb terletak di Jatinegara, Jakarta Timur. Taman ini untuk mengenang kiprah dan pengaruhnya Benyamin Sueb selama berkesenian.Taman Benyamin Sueb terletak di Jatinegara, Jakarta Timur. Taman ini untuk mengenang kiprah dan pengaruhnya Benyamin Sueb selama berkesenian. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

“Kemudian dibangun ada tiga gedung yang pertama ini gedung tengah yang biasa kita sebut gedung A, kemudian gedung B untuk sekretariat PNS, kemudian gedung C dimanfaatkan untuk kantin saat ini. Dulu tempat ini digunakan untuk villa, tempat tinggal, untuk transit pedagang-pedagang pada zaman Daendels,” kata Sri saat kami berbincang di Gedung A.

Saat pendudukan Jepang, bangunan itu digunakan oleh tentara Jepang, mulai dari 1942-1950. Kemudian, nama kawasan yang asalnya beranama Meester Cornelis itu diganti menjadi Jatinegara karena dianggap terlalu kental dengan unsur Belanda.

“Bangunan ini dulu (era Jepang) dipakai sebagai markas tentara Jepang,” kata Heni.

Taman Benyamin Sueb terletak di Jatinegara, Jakarta Timur. Taman ini untuk mengenang kiprah dan pengaruhnya Benyamin Sueb selama berkesenian.Taman Benyamin Sueb terletak di Jatinegara, Jakarta Timur. Taman ini untuk mengenang kiprah dan pengaruhnya Benyamin Sueb selama berkesenian. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Dilanjut tahun 1950-an bangunan itu menjadi markas Komando Militer Kota Jatinegara atau Komando Militer Kota Jakarta Raya 0505 Jatinegara. Dan berjalannya waktu, lanjut Heni bangunan eks Kodim 0505 ini di tahun 2018 menjadi Taman Benyamin Sueb.

Kini kawasan Taman Benyamin Sueb bisa dikunjungi oleh masyarakat untuk mengenang jejak sang legenda Betawi tersebut. Seperti yang disebut di awal tadi, inisiasi adanya Gedung Taman Benyamin Sueb ini sebagai wadah pelestarian seni dan budaya Betawi serta budaya daerah lainnya.

“Jadi ini adalah keinginan pemerintah memberikan apresiasi kepada Benyamin ya, beliau adalah seniman multitalenta yang dia bisa berkesenian apa saja, dia menginginkan wadah atau tempat pengembangan dan pelestarian seni budaya. Maka, dibuatlah di sini jadi (Benyamin) ingin punya wadah untuk pelestarian budaya, tidak hanya Betawi saja jadi budaya dari mana saja,” katanya.

Di kawasan ini juga terdapat museum yang menampilkan beberapa penghargaan yang diraih oleh Bang Ben dan juga beberapa peninggalan beliau seperti rilisan musik hingga wardrobe yang pernah ia kenakan dulu kala. Kemudian bangunan lainnya di area Taman Benyamin Sueb ini juga kerap dipakai untuk latihan oleh berbagai sanggar di Jakarta.

Taman Benyamin Sueb terletak di Jatinegara, Jakarta Timur. Taman ini untuk mengenang kiprah dan pengaruhnya Benyamin Sueb selama berkesenian.Taman Benyamin Sueb terletak di Jatinegara, Jakarta Timur. Taman ini untuk mengenang kiprah dan pengaruhnya Benyamin Sueb selama berkesenian. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Saat detikTravel berkunjung ke Taman Benyamin Sueb ini terdapat sanggar tari yang tengah berlatih. Walaupun namanya taman tapi tak seperti taman-taman lainnya yang terdapat permainan untuk anak atau arena rekreasi, melainkan taman yang dimaksud di sini sebagai wadah untuk pelestarian seni dan budaya.

Masyarakat yang ingin berkunjung ke museum di Taman Benyamin Sueb ini bisa dengan mudah menikmatinya tanpa dipungut biaya. Terletak tak jauh dari Stasiun Jatinegara di Jalan Jatinegara Timur Nomor 76, Jatinegara, Jakarta Timur dan buka mulai dari hari Selasa hingga Minggu sedari pukul 09.00 sampai 15.00 WIB, tutup di hari Senin serta libur keagamaan.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Taman Benyamin Sueb Bekas Markas Kodim untuk Mengenang Legenda Betawi



Jakarta

Sebagai apresiasi terhadap pengaruh besar Benyamin Sueb, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyulap bekas Kodim 0505 Jatinegara menjadi Taman Benyamin Sueb. Kini, tempat tersebut menjadi tujuan wisata sekaligus menyimpan jejak-jejak karya Benyamin Sueb.

Jauh sebelum menjadi Taman Benyamin Sueb, atau pada 1625, bangunan tersebut merupakan tempat tinggal dari Meester Cornelis Senen. Dia utusan Pemerintah Belanda untuk mengembangkan kawasan yang ini dikenal sebagai Jatinegara.

Kemudian pada 1950-an bangunan itu menjadi markas Kodim 0505 Jatinegara. Kemudian, oleh Pemprov DKi saat dipimpin Anies Baswedan bangunan itu diresmikan sebagai Taman Benyamin Sueb, tepatnya pada 2018.


Pengelola Taman Benyamin Sueb, Sri Heni Setiawati, menjelaskan selain sebagai apresiasi kepada sang seniman, taman itu juga menjadi keinginan Bang Ben, sapaan karib Benyamin Sueb. Dia pernah menyatakan keinginannya agar Jakarta memiliki wadah untuk pelestarian seni dan budaya.

“Jadi ini adalah keinginan pemerintah memberikan apresiasi kepada Benyamin ya, beliau adalah seniman multitalenta yang dia bisa berkesenian apa saja. Dia menginginkan wadah atau tempat pengembangan dan pelestarian seni budaya. Maka, dibuatlah di sini jadi (Benyamin) ingin punya wadah untuk pelestarian budaya, tidak hanya Betawi saja jadi budaya dari mana saja,” kata Heni kepada detikTravel, Selasa (16/7/2024).

Taman Benyamin Sueb terletak di Jatinegara, Jakarta Timur. Taman ini untuk mengenang kiprah dan pengaruhnya Benyamin Sueb selama berkesenian.Taman Benyamin Sueb terletak di Jatinegara, Jakarta Timur. Taman ini untuk mengenang kiprah dan pengaruhnya Benyamin Sueb selama berkesenian. (Muhammad Lugas Pribady)

Di Taman Benyamin Sueb itu bukan hanya terdiri dari area terbuka layaknya sebuah taman, tetapi juga terdapat kurang lebih enam bangunan. Yakni, Museum Benyamin Sueb, tiga bangunan yang merupakan peninggalan zaman dulu yang terletak di belakang museum dan juga di kanan-kiri museum. Kemudian, terdapat bangunan Rumah Betawi yang biasa digunakan sebagai area latihan oleh sanggar-sanggar.

Di dalam area museum, terdapat berbagai macam peninggalan dari Benyamin Sueb. Ada penghargaan-penghargaan yang sempat ia peroleh dari segala bidang, lalu rilisan musik hingga beberapa wardrobe yang pernah dikenakan oleh Bang Ben.

Heni mengatakan arsip dan foto-foto yang ada di museum itu merupakan mengatakan peninggalan Benyamin Sueb. Benda-benda yang ada di sana juga merupakan barang asli yang pernah dipakai oleh sang seniman.

Heni juga membeberkan museum itu baru saja mendapatkan koleksi teranyar, yakni sepeda ontel. Walaupun bukan sepeda yang pernah dipakai bang Ben, tapi sepeda tersebut serupa dengan yang pernah dipakai oleh Benyamin.

“Ya ini yang di Museum Benyamin Sueb itu barang-barang milik almarhum semua. Semuanya kita dapat dari Yayasan Benyamin Sueb, kita dapat juga dari sahabat-sahabat beliau. Nah, yang belum lama kita dapat sepeda juga kita dapat hibah dari Komunitas Sepeda Ontel tapi itu sepeda zamannya beliau,” kata Heni.

Taman Benyamin Sueb terletak di Jatinegara, Jakarta Timur. Taman ini untuk mengenang kiprah dan pengaruhnya Benyamin Sueb selama berkesenian.Pengelola Taman Benyamin Sueb, Sri Heni Setiawati (Muhammad Lugas Pribady)

Dalam kesempatan berkunjung ke Taman Benyamin Sueb, detikTravel melihat beberapa orang yang tengah berlatih tari di bangunan Rumah Betawi. Heni juga mengatakan ada beberapa sanggar yang kerap berlatih di Taman Benyamin Sueb, salah satunya adalah Sanggar Seni Budaya Khatulistiwa.

“Contohnya ini sedang ada latihan dari Sanggar Seni Budaya Khatulistiwa (SBK) ini dia rutin menggunakan gedung kami setiap hari Selasa dan Jumat,” kata Heni.

detikTravel pun penasaran untuk melihat latihan tersebut. Ketua Sanggar Seni Budaya Khatulistiwa, Teguh Hari Santoso, menjelaskan sanggar yang ia kelola merupakan sanggar tari yang mencakup berbagai tarian di seluruh Indonesia. Dan Sanggar SBK sudah rutin berlatih di Taman Benyamin Sueb sejak lima tahun yang lalu.

“Alhamdulilah di sini tuh sudah hampir empat atau lima tahun ya, kita latihan seminggu dua kali. Kalau untuk diklatnya itu hari Selasa dari jam 15.00 sampai jam 20.00 WIB. Terus di hari Jumat itu pembekalan anak-anak yang sudah mahir,” kata Teguh..

Teguh juga menyampaikan dengan hadirnya Taman Benyamin Sueb sebagai wadah pelestarian seni dan budaya sangat membantu sanggarnya untuk mengeksplorasi tarian. Dan ia menjelaskan di sanggar besutannya itu tari Betawi merupakan gerbang untuk menguasai berbagai tarian Indonesia lainnya.

“Wah alhamdulillah dengan adanya Taman Benyamin Sueb ini kami selaku sanggar yang ada di Jakarta Timur terbantu sekali dengan adanya Taman Benyamin Sueb jadi kita bisa latihan dan eksplorasi gerak di Taman Benyamin Sueb ini,” katanya.

“Justru pengenalan awalnya itu (tari) Betawi gitu, setelah itu akan meningkat ke Bali, Sumatera, Sulawesi gitu. Ya jadi untuk pertama kali masuk di sanggar ini pasti kita kasihnya tari Betawi yang dasar, biasanya kita kasih tari cokek terus sama tari ragam dasar Betawi,” ujar dia.

Taman Benyamin Sueb ini dibuka untuk umum jadi masyarakat yang ingin berkunjung ke tempat ini bisa datang di hari Selasa hingga Minggu, mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB untuk operasional museum.

Sementara itu, untuk area Taman Benyamin Sueb seperti Rumah Betawi yang dijadikan tempat latihan oleh sanggar, pengelola membatasi waktu kegiatan hingga pukul 21.00 WIB.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Gedung Candra Naya Bertahan Dipeluk Gedung-gedung Modern nan Menjulang



Jakarta

Jakarta Barat memiliki kawasan Pecinan terluas di Indonesia. Salah satunya ditandai dengan bangunan-bangunan bernuansa Tionghoa, salah satunya Gedung Candra Naya.

Gedung Candra Naya berada di Jalan Gajah Mada Nomor 188, Jakarta Barat. Gedung itu dulu merupakan rumah tinggal milik Mayor Khouw Kim An dan didirikan pada abad ke-19.

Gedung Candra Naya tak terlihat dari jalan raya. Gedung itu diapit oleh bangunan-bangunan tinggi seperti hotel, perkantoran, dan apartemen.


Gedung Candra Naya memiliki tiga bangunan asli. Satu bangunan utama dekat lobi hotel sedangkan dua lainnya berada di kedua sisi bangunan utama tersebut. Sebetulnya dulu ada empat bangunan namun kini sudah berubah menjadi apartemen.

Petugas keamanan yang berjaga di Gedung Candra Naya, Lutfi mengatakan bangunan tersebut merupakan ruangan selir dan bangunan itu memiliki dua tingkat.

Jakarta Barat memang terkenal dengan Pecinan Glodoknya, di area tersebut berjejal berbagai makanan hingga bangunan-bangunan bernuansa Tionghoa. Namun beranjak sedikit dari kawasan tersebut ada bangunan lama berarsitektur Tionghoa yang telah melegenda. Bangunan itu adalah Gedung Candra Naya.Gedung Candra Naya di Glodok, bangunan lama berarsitektur Tionghoa yang melegenda. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Saat detikTravel berkunjung Gedung Candra Naya, Rabu (17/7/2024) Lutfi menceritakan beberapa hal tentang gedung yang telah menjadi cagar budaya itu.

“Ini bangunan ada tiga bangunan, sisi selatan sama sisi utara, nah ini bangunan induknya. Ini rumah Khouw Kim An, dulu dibelakang ada (bangunan) dua lantai nah itu tempatnya para selir, sekarang udah dibongkar dimakan sama apartemen,” kata Lutfi.

Dari catatan sejarah yang berada di gedung tersebut, belum ada tahun pasti kapan bangunan ini resmi didirikan, yang pasti bangunan ini sudah ada sebelum Khouw Kim An lahir. Jadi entah sang kakek Khouw Kim An (Khouw Tjeng Tjoan) atau sang ayah (Khouw Tian Sek), anggapannya bangunan ini dibangun tahun 1807 oleh Khow Tjeng Tjoan untuk merayakan kelahiran anaknya yakni ayah dari Khouw Kim An di tahun 1808.

“Yang dari sejarah itu kemungkinan sekitar 1800-an ini bangunan dibangun, sekarang yang orang tahu tuh rumahnya Mayor Khouw Kim An. Nah itu Khouw Kim An sendiri adalah penerus, dia sebagai cucu bukannya sebagai yang punya (pendiri) bangunan ini jadi ini peninggalan rumah kakeknya,” ujar Lutfi.

Jakarta Barat memang terkenal dengan Pecinan Glodoknya, di area tersebut berjejal berbagai makanan hingga bangunan-bangunan bernuansa Tionghoa. Namun beranjak sedikit dari kawasan tersebut ada bangunan lama berarsitektur Tionghoa yang telah melegenda. Bangunan itu adalah Gedung Candra Naya.Gedung Candra Naya, bangunan lama berarsitektur Tionghoa yang melegenda. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Khouw Kim An sendiri lahir pada 5 Juni 1879, berjalannya waktu rumah peninggalan keluarganya itu ditempati olehnya. Melanjut dari catatan di Gedung Candra Naya, Khouw Kim An menempati bangunan ini pada tahun 1934.

Khouw Kim An diberikan jabatan oleh Pemerintah Belanda kala itu untuk mewakili etnis Tionghoa di Batavia, tahun 1905 karena karirnya dianggap mumpuni alhasil pangkat letnan disematkan kepadanya. Dan kurang dari sepuluh tahun Khouw Kim An sudah dua kali naik jabatan, di tahun 1908 menjadi kapten dan 1910 menjadi mayor.

Ketika Bangsa Jepang masuk ke Indonesia di tahun 1942, dalam catatan Khouw Kim An ditahan oleh Jepang dan meninggal dalam tahanan pada 13 Februari 1945. Sepeninggal Khouw Kim An bangunan ini pun beberapa kali beralih fungsi.

Alih Fungsi dari Pusat Perkumpulan Warga Tionghoa hingga Pusat Pendidikan Candra Naya

Setelah Perang Dunia Kedua berakhir di tahun 1946, bangunan ini dipakai menjadi tempat bagi Asosiasi Xin Ming (perkumpulan sosial) yang memiliki tujuan sebagai pusat informasi bagi etnis Tionghoa kala itu. Berbagai kegiatan banyak asosiasi ini lakukan di antaranya membuat klinik diagnostik yang menjadi awalan dari Rumah Sakit Sumber Waras.

Selain itu juga beberapa kegiatan olahraga seperti biliar, bulu tangkis hingga kungfu. Dan gedung tersebut juga sempat jadi pusat pendidikan SD, SMP, SMA yang bernama Candra Naya, di tahun 1965 atas permintaan Organisasi Persatuan Etnis untuk mengganti nama gedung menjadi Gedung Candra Naya.

Kini di area belakang bangunan utama Gedung Candra Naya terdapat sebuah kolam ikan yang indah. Menurut Lutfi kolam tersebut bukan bawaan dari bangunan lama.

Ia mengetahui setelah bertanya kepada salah satu pengunjung yang ternyata sempat mengenyam pendidikan di SD Candra Naya.

“Kolam ikan itu baru, dulu lapangan tempat latihan kungfu. Soalnya saya dapat informasi ini semuanya itu memang dari alumni SD dulu yang di sini, saya tanya umurnya udah berapa? Udah 60 tahunan,” kata dia.

Gedung Candra Naya saat ini seperti tak lekang dimakan zaman, walaupun sudah ratusan tahun berdiri daya tarik bangunannya masih terus terjaga. Arsitektur China klasik terlihat dari berbagai ukiran yang ada di setiap bangunan tersebut, Lutfi juga menyebut juga kerap datang arsitek yang ingin melihat bangunan Candra Naya.

“Ada beberapa arsitek yang datang ke sini, liat-liat bangunan ini katanya buat referensi dia gitu,” ujar Lutfi.

Bangunan yang statusnya sudah menjadi cagar budaya ini tetap bertahan di tengah gempuran gedung tinggi di sekelilingnya. Jika ingin langsung melihat keindahan bangunan ratusan tahun ini, kamu bisa datang setiap harinya mulai pukul 08.00 hingga 20.00 WIB.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Umbul Buto Klaten dan Kisah Asal-usulnya



Klaten

Di Klaten, ada pemandian mata air dengan nama Umbul Buto. Kisah tentang asal usul umbul ini menarik untuk disimak. Seperti apa?

Nama Buto dalam bahasa Jawa berarti Raksasa dalam seni pewayangan. Tidak seperti namanya yang berkonotasi seram, pemandian ini ternyata tempatnya adem.

Umbul Buto berada di sisi utara desa Kedungan, kecamatan Pedan, di tepi perkampungan padat penduduk Klaten. Di Utara mata air tersebut, terdapat persawahan padi dan tanaman palawija yang membentang.


Pantauan di lokasi, Umbul Buto yang mulai kusam airnya karena kemarau berada di tepi jalan desa. Mata air di umbul seukuran sekitar 8×8 meter dengan kedalaman sekitar lima meter itu dikelilingi dua pohon beringin besar dan tiga pohon gayam tua.

Dahannya yang besar dan daunnya yang rimbun membuat Umbul Buto tak mudah tersentuh sinar matahari. Di Utara dan timur dasar umbul yang mulai menyusut airnya terdapat saluran air mengarah ke sawah.

Di tengah air umbul yang mulai dipenuhi sampah daun, dua batu menyembul. Batu berbentuk patung topeng buto itulah yang konon menjadi asal julukan bagi Umbul Buto.

“Ada empat patungnya, yang buat tidak tahu dan sejak dulu sudah ada. Lha itu (menunjuk ke bawah) mulai kelihatan batunya,” ungkap Heri (50) pengelola warung di lokasi.

Menurut Heri, umbul itu dulunya dimanfaatkan untuk pengairan sawah oleh pemerintah Belanda. Disebut Umbul Buto karena ada patungnya.

“Ya karena ada patungnya itu namanya. Dulu sering digunakan nepi (menyendiri) tapi sekarang tidak lagi, tidak ada cerita aneh-aneh,” jelas Heri yang tinggal di lokasi.

Umbul Buto di Desa Kedungan, Kecamatan Pedan, Klaten.Umbul Buto di Desa Kedungan, Kecamatan Pedan, Klaten. Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Jarwo (75), warga lain menyatakan sejak dirinya kecil umbul juga sudah ada. Konon menurut cerita orang tua-tua ada pentas tayub tapi gongnya dimasukkan ke umbul itu untuk menutupi mata air yang terlalu deras.

“Ono ledek sak gamelane ditanggap, gong e dilebokne kene ben ora dadi segara (ada penari tayub bersama gamelan pentas, gamelan dimasukkan sini agar tidak jadi laut),” tutur Jarwo dengan bahasa Jawa campuran kepada detikJateng di lokasi.

Menurut Jarwo, zaman dulu umbul itu airnya banyak dan bening untuk mandi. Tetapi sekarang sudah tidak digunakan dan hanya digunakan untuk mencari angin masyarakat.

“Untuk ngadem warga. Tidak ada yang aneh-aneh setiap hari ramai untuk duduk-duduk,” jelasnya.

Kades Kedungan, Kecamatan Pedan, Bagus Wahyu Dewanto, menuturkan umbul Buto dulunya dimanfaatkan untuk pengairan Belanda. Disebut Umbul Buto karena ada patung kepala raksasa buto di dasarnya.

“Di bawah itu ada patung kepala buto, jumlahnya empat dan untuk apa fungsinya kita tidak tahu. Bukan ditemukan baru karena sejak dulu sudah ada, nanti kalau puncak kemarau kelihatan,” ucap Bagus Wahyu kepada detikJateng.

Umbul itu, terang Bagus Wahyu, konon berhubungan dengan dua umbul di utaranya yaitu Umbul Cilik dan Umbul Gede. Umbul cilik dimanfaatkan untuk Pamsimas.

“Umbul cilik dimanfaatkan untuk Pamsimas. Yang Umbul Buto dua tahun lalu kita beri pagar dan tulisan untuk ruang terbuka hijau karena ada pohon-pohon besarnya, terutama pohon gayam,” kata Bagus Wahyu.

——–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

12 Wisata Medan yang Wajib Dikunjungi Beserta Jam Buka dan Harga Masuknya


Medan adalah salah satu kota di Indonesia yang menawarkan berbagai destinasi wisata yang menarik. Mulai dari keindahan alam hingga warisan budayanya, membuat ibu kota Sumatera Utara wajib dieksplor.

Wisata Medan juga punya daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Tak heran, jika Medan menjadi destinasi yang wajib dikunjungi terutama mereka yang ingin mengeksplorasi pesona Sumatera Utara.

Wisata Medan yang Terkenal

Telah dirangkum detikTravel, berikut adalah daftar destinasi wisata Medan yang bagus untuk dikunjungi:


1. Istana Maimun

Lokasi: Jalan Brigjen Katamso No. 1, Medan, Sumatera Utara.

Istana Maimun (laman disbudpar Sumut)Istana Maimun. Foto: dok. laman Disbudpar Sumut.

Salah satu wisata Medan terkenal yang wajib dikunjungi adalah Istana Maimun. Di sini, wisatawan bisa berkeliling menikmati kemegahan bangunan, berkeliling, menaiki delman dan kendaraan listrik hingga belajar sejarah.

Dilansir situs Itjen Kemdikbud, Istana Maimun dibangun pada 26 Agustus 1888 atas perintah Sultan Ma’moen Al Rasyid, Kerajaan Deli. Pembangunannya baru selesai pada 18 Mei 1891.

Istana Maimun dirancang oleh Theodoor van Erp, tentara Belanda kelahiran Ambon, Maluku, dan didesain juga oleh seorang arsitek Italia bernama Ferrari.

Kondisi Istana Maimun Medan yang mirip pasarTampak depan Istana Maimun Foto: Nizar Aldi

Bangunannya begitu mencolok di mata dari kejauhan, pasalnya didominasi warna kuning-emas. Arsitektur Istana Maimun mengandung unsur Melayu, Timur Tengah, dan Eropa.

Berdiri di lahan seluas 2.772 km2 dengan megah, istana ini memiliki 30 ruangan yang terdiri dari 3 bagian utama bangunan induk, sayap kiri, dan sayap kanan.

Jam Buka

Istana Maimun buka pada 08.00 WIB – 17.00 WIB.

Harga Tiket Masuk

Dari catatan detikSumut, harga masuk ke Istana Maimun sekitar Rp 10 ribu per orang. Sementara untuk anak-anak di bawah 5 tahun gratis.

2. Masjid Al-Mashun

Lokasi: Jalan Mahkamah No.74 c, RT.02,Kota Medan.

Bersilaturahmi disela sela acara salad idul adha di Masjid Raya Al-Mashun MedanMasjid Raya Al-Mashun Medan Foto: Aisyah Luthfi Munthe/detik.com

Masjid Al-Mashun adalah masjid tua cantik yang lokasinya bersebelahan dengan Istana Maimun. Masjid ini juga bagian dari peninggalan Kesultanan Deli.

Masjid Al-Mashun dibangun oleh Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam. Pembangunannya dipimpin oleh beliau pada 12 Agustus 1906 dan selesai pada 10 September 1909.

Selain untuk beribadah dan melihat arsitekturnya, di area masjid pengunjung juga bisa melihat makam para Sultan Deli.

Berdasarkan pengalaman detikSumut, area pemakaman tersebut ada berbagai bentuk. Ada juga nama nisan yang terukir bertuliskan bahasa Arab.

Makam Sultan Deli ke-9 dibentuk setinggi kurang lebih 1 meter dan berwarna kuning. Pada nisan pun tertulis para nama Sultan Deli beserta istri hingga anaknya, seperti nama Sultan Deli ke-9 Sultan Ma’moen Al Rasyid.

Makam para Sultan Deli ditempatkan berbeda dengan makam para keturunan Melayu lainnya.

Jam Buka

Masjid Al-Mashun buka setiap hari mulai pukul 04.00 – 00.00 WIB.

Harga Tiket Masuk

Masuk ke Masjid Al-Mashun tidak dipungut biaya alias gratis.

3. Graha Bunda Maria Annai Velangkanni

Lokasi: Jalan Sakura III No. 7 – 10, Tj. Selamat, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan.

Pengunjung melihat dari dekat Graha Bunda Maria Annai Velangkanni, Medan, Sumatera Utara, Kamis (23/11/2017). Tempat yang diresmikan pada tahun 2005 ini dibuat untuk menjadi tempat berziarah atau mencari tahu sejarah tentang kerohanian. Grandyos Zafna/detikcom-. Kesan kuil India langsung luruh begitu Anda masuk ke bagian dalam bangunan. -. Graha Bunda Maria Annai Velangkanni terbuka untuk umum. -. Tidak ada tiket masuk yang diberlakukan alias gratis bagi siapa saja yang ingin melihat, berziarah, serta mencari tahu sejarah tentang peristiwa kerohanian.-. Graha Bunda Maria Annai Velangkanni ini didirikan dan dibangun oleh Pastor James Bharataputra S.J.-. September 2001 pembangunan graha mulai dilakukan selama empat tahun dengan biaya yang dihabiskan sebesar Rp 4 miliar. -. Dana datang dari kemurahan hati para pecinta dan pemuja Maria, baik Katolik maupun non Katolik. 60 persen dana berasal dari umat di Indonesia, 30 persen Singapura, selebihnya dari Malaysia, India, dan Dubai.Graha Bunda Maria Annai Velangkanni, Medan. Foto: Grandyos Zafna

Graha Maria Annai Velangkanni merupakan tempat ziarah dan ketaatan umat Katolik kepada Bunda Maria (penyembuh orang sakit). Dibangun pada tanggal 8 oktober 2001, dengan gaya bangunan Indo-Mughal (Islam-Hindu).

Arsitekturnya sangat menarik, yakni seperti bentuk candi yang membungkuk ke atas. Bangunan graha berlantai 7,yang terdiri dari 3 stupa, 2 di lantai 4 dan melambangkan kesempurnaan dan 7 langit.

Jam Buka

Graha Maria Annai Velangkanni buka setiap hari dari pukul 08.00-18.00 WIB di weekdays. Sementara untuk weekend tutup pada 19.00 WIB.

Harga Tiket Masuk

Masuk ke Graha Maria Annai Velangkanni gratis.

4. Danau Siombak

Lokasi: Jalan Pasar Nippon Ujung, Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan.

Destinasi Wisata Danau SiombakDestinasi Wisata Danau Siombak, Medan. Foto: Kartika Sari

Dilansir dari laman pemkomedan.go.id, karena letaknya jauh dari laut, Danau Siombak berair payau.

Wisatawan bisa menikmati pemandangan indah di dermaga yang menghadap ke hamparan hutan di sekeliling danau. Bakal lebih seru lagi, kalau kalian menaiki perahu, bebek air kayuh, atau berenang di kolam renang yang ada di sekitar sana.

Jam Buka

Danau Siombak buka setiap hari, dari pukul 09.00 hingga 18.00 WIB di weekdays. Sementara di weekend tutup pada 19.00 WIB.

Harga Tiket Masuk

Harga tiket masuk ke Danau Siombak hanya Rp 2 ribu.

5. Tjong A Fie Mansion

Lokasi: Jl. Jendral Ahmad Yani No. 105, Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan.

Rumah Tjong A FieRumah Tjong A Fie. Foto: Putu Intan/detikcom

Tjong A Fie Mansion merupakan museum berupa bangunan bersejarah dengan gaya gaya arsitektur Cina, Melayu, dan Art Deco. Tjong A Fie Mansion disebut juga sebagai “permata bersejarah di Medan”.

Sebenarnya, ini adalah rumah Tjong A Fie seorang pengusaha, bankir dan kapitan asal Hakka, Tiongkok. Kini, rumah ini telah menjadi bangunan bersejarah sekaligus cagar budaya dan museum.

Rumah Tjong A FieRumah Tjong A Fie. Foto: Putu Intan/detikcom

Dilansir situs resminya, rumah ini dibangun pada tahun 1895 di atas lahan 8000 m2. Bangunannya juga dibangun dengan memperhatikan prinsip feng shui.

Ketika masuk ke dalam, pengunjung akan melihat pemandangan rumah mewah ala Tiongkok zaman dahulu. Kamar-kamar ada di keempat sisi bangunan dan mengelilingi halaman terbuka di bagian tengah. Ini melambangkan “Sumur Surga”.

Menariknya, pada setiap sudut rumah perabotan atau meubelnya pun terjaga keasliannya.

Jam Buka

Tjong A Fie Mansion buka setiap hari mulai pukul 09.00 WIB – 17.00 WIB. Namun, setelah pukul 16.30 pengunjung sudah dilarang masuk.

Museum ini akan tutup pada Hari Tahun Baru Cina.

Harga Tiket

Harga tiket masuk ke Tjong A Fie Mansion adalah Rp 35.000 per orang.

6.Kampoeng Selfie (Kongsi)

Lokasi: Jalan DR. Cipto, Anggrung, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan.

Kampoeng Selfie di MedanKampoeng Selfie di Medan. Foto: Jefris Santama/detikcom

Kampoeng Selfie adalah salah satu destinasi viral di Medan. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota Medan, waktu tempuh perjalanan sekitar 30 menit saja.

Dilansir dari sittus Universitas Sumatera Utara, wisata Kampung Selfie Medan resmi dibuka pada sejak 25 November 2017. Sesuai namanya, tempat ini mengusung konsep kreativitas seni dan penanaman tanaman di depan ruman.

Jalanan di kampung ini terlihat indah dengan sentuhan cat warna-warni kontras nan meriah. Daya tarik kongsi ini adalah menawarkan pengalaman wisatawan untuk merasakan keseruan berfoto selfie berlatar belakang spot-spot foto menarik, kekinian, dan beragam.

Jam Buka

Kampoeng Selfie Medan buka hari Senin-Sabtu pada pukul 09.00 WIB – 20.00 WIB.

Harga Tiket

Masuk ke Kampoeng Selfi Medan tidak dipungut biaya.

7. Museum Perjuangan TNI

Lokasi: Jalan KH. Zainul Arifin No. 8, Petisah Tengah, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan.

Dilansir situs Arsip Indonesia, Museum Perjuangan TNI Medan menjadi wisata sejarah mengenai perjuangan ABRI serta rakyat di Sumatera Utara.

Dilansir situs Arsip Indonesia, bangunan Museum Perjuangan TNI didirikan pada 1928 oleh pemerintah Belanda sebagai bangunan Arhnehen atau Asuransi NV Levensverzekering.

Pada tahun 1942 – 1945 bangunan ini dikuasai oleh Jepang. Barulah pada 1971 hingga sekarang menjadi Museum Perjuangan TNI.

Wisatawan yang berkunjung bisa melihat senjata, obat – obatan, hingga seragam TNI digunakan pada perang kemerdekaan Indonesia melawan pemberontakan pada tahun 1985.

Tidak hanya pernak-pernik TNI, koleksi di museum ini juga ada perlengkapan militer, arkeologi, relief, hingga monumen.

Jam Buka

Museum Perjuangan TNI Medan buka setiap Selasa – Kamis 07.00 sampai 15.00 WIB.

Harga Tiket

Masuk ke Museum Perjuangan TNI Rp 0 alias tidak dipungut biaya.

8. Pos Bloc Medan

Lokasi: Jalan Pos, No. 1, Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan.

Pos Bloc MedanPos Bloc Medan. Foto: Putu Intan/detikcom

Pos Bloc Medan adalah tempat hits di Medan yang bisa didatangi secara gratis. Tempat ini menjadi tempat bersejarah yang kini disulap menjadi area dengan unsur seni, budaya, dan hiburan. Kegiatan kreatif sering dilakukan di area Maidan Hall dan Cultural Hall di Pos Bloc.

Dilansir akun Instagram @posblokmedan, dulunya Pos Bloc Medan merupakan kantor pengiriman surat. Di mana ruangannya menjadi kantor para pegawai Pos, dengan gudang yang penuh sekat.

Jam Buka

Pos Bloc Medan buka dari pukul 10.00 – 22.00 WIB di weekdays, sedangkan di weekend mulai pukul 08.00 – 23.00 WIB.

Harga Tiket

Masuk ke Pos Bloc Medan gratis.

9. Taman Sri Deli

Lokasi: Jl. Sisingamangaraja, Mesjid, Kota Medan.

Taman Sri Deli. Foto: direktoripariwisata.idTaman Sri Deli. Foto: Dok.direktoripariwisata.id

Tempat wisata gratis di Medan selanjutnya ada Taman Sri Deli. Taman ini dibuat tahun 1920-an atas gagasan Amaludin Sani Perkasa Alamsyah, Sultan Deli ke-10.

Taman Sri Deli juga bisa jadi pilihan objek wisata Medan yang romantis, untuk pilihan tempat nongkrong. Menerapkan perpaduan arsitektur Turki, India, dan Mesir, taman ini didesain oleh arsitek Italia.

Letak taman ini berseberangan dengan Masjid Raya Medan. Di sini, pengunjung bisa bersantai. Di sekitar lokasi juga banyak warung untuk membeli makanan.

Jam Buka

Taman Sri Deli Medan buka setiap hari, mulai pukul 07.00-21.00 WIB.

Harga Tiket

Masuk ke Taman Sri Deli gratis.

Lokasi: Jalan S. Parman No. 309, Petisah Hulu, Kec. Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara.

Wisatawan mancanegara mengamati koleksi serangga yang diawetkan di Rahmat International Wildlife Museum dan Galeri di Medan, Sumatera Utara, Sabtu (29/6/2024).  Museum yang memiliki 2.600 spesies dan 5.000 spesimen hewan dan satwa yang diawetkan tersebut menjadi salah satu obyek wisata favorit di Medan serta menjadi sarana pembelajaran bagi anak sekolah. ANTARA FOTO/Fransisco Carolio/rwa.Wisatawan mengamati koleksi yang diawetkan di Rahmat International Wildlife Museum dan Galeri di Medan, Sumatera Utara. Foto: ANTARA FOTO/FransiscoCarollio

Galeri Rahmat Medan adalah satu-satunya galeri bertaraf internasional di Asia. Galeri ini mengoleksi sekitar 2.600 spesies binatang liar yang diawetkan dan 5.600 spesimen.

Para hewan disusun dengan artistik dalam ruangan khusus untuk menjaga kelembapan. Selain ada koleksi satwa, museum ini juga menyediakan perpustakaan berisi informasi seputar berbagai jenis satwa dan habitatnya dari berbagai negara.

Para spesiesnya berasal dari perburuan legal dengan konservasi, pemberian dari berbagai negara, hasil pembelian secara legal.

Jam Buka

Rahmat International Wildlife Museum & Gallery buka setiap hari, mulai pukul 09.00 – 17.00 WIB.

Harga Tiket

Biaya masuk ke Rahmat International Wildlife Museum & Gallery sebesar Rp 75.000 ribu per orang.

11. Kebun Binatang Medan

Lokasi: Jalan Simalingkar Raya, Medan.

Keterangan Foto : Suasana pengunjung yang berwisata ke Medan Zoo di momen hari libur lebaran Idul Fitri 1443 Hijriah, Selasa (3/5/2022).Suasana pengunjung yang berwisata ke Medan Zoo di momen hari libur. Foto: Goklas wisely/detisumut

Medan Zoo jadi destinasi untuk melihat para fauna dan flora, sehingga cocok untuk dikunjungi bersama keluarga dan si kecil.

Jam Buka

Kebun Binatang Medan setiap hari mulai pukul 08.30 sampai 17.30 WIB.

Harga Tiket Masuk

Harga masuk Kebun Binatang Medan adalah Rp 15.000 per tiket di weekdays, dan Rp 20.000 di weekend.

12. Kuil Shri Mariamman (Mariamman Temple)

Lokasi: Jalan Teuku Umar No.18, Petisah Tengah, Kec. Medan Petisah, Kota Medan.

Gerbang kuil Shri Mariamman di Medan. (Farid Achyadi Siregar/detikSumut)Gerbang kuil Shri Mariamman di Medan. (Farid Achyadi Siregar/detikSumut)

Kuil Shri Mariamman menjadi salah satu kuil tertua di Kota Medan. Berdiri sejak tahun 1884, kuil ini menjadi tempat untuk memuja Dewi Mariamman.

Kuil ini juga menjadi saksi masuknya umat Hindu dan orang India di kota Medan. Pengunjung bisa ke sana untuk melihat keindahan kuil.

Jam Buka

Kuil Shri Mariamman buka setiap hari pada pukul 06:00-12:00 WIB. Lalu, akan buka kembali pada pukul 16:00-20:00 WIB.

Harga Tiket Masuk

Masuk ke Kuil Shri Mariaman gratis.

Sebagai destinasi wisata yang terus berkembang, Medan bisa jadi pilihan tempat bagi wisatawan dengan keramahan dan kekayaan budayanya yang khas. Wisata Medan mana yang tertarik untuk detikers kunjungi?

(khq/fds)



Sumber : travel.detik.com

Tahu Nggak, Rumah Ibu Bung Karno Ada di Bali Utara



Jakarta

Mungkin tak banyak orang tahu, jika ibu presiden pertama RI, Bung Karno berada di Bali. Rumah kecil itu sekarang telah menjadi cagar budaya.

Ibu Sukarno, Ni Nyoman Rai Serimben, berasal dari Buleleng, tepatnya berada di Dusun Bale Agung, Desa Paket Agung. detikcom berkesempatan datang ke kawasan Soekarno Heritage dan bertemu dengan Made.

Dia mengatakan di kawasan itu terdapat beberapa keluarga yang hidup seperti biasanya. Tidak ada pengamanan khusus atau larangan masuk kawasan cagar budaya ini. Namun, kawasan Soekarno Heritage tidak dibuka untuk umum.


Andai traveler ingin datang, harus ada pemberitahuan sebelumnya.

Cagar Budaya, Rumah Ibunya Bung Karno, Ni Nyoman Rai Serimben di BulelengCagar Budaya, Rumah Ibunya Bung Karno, Ni Nyoman Rai Serimben di Buleleng (Syanti Mustika/detikcom)

Sembari berkeliling, detikcom melihat beberapa rumah dan penghuninya saling bercengkrama. Juga terdapat lumbung padi yang masih berdiri kokoh dan digunakan masyarakat untuk menyimpan di musim panen.

Terlihat sebuah rumah panggung, yang dikatakan sebagai rumah tinggalnya kakek Soekarno yaitu Nyoman Pasek bersama istrinya Ni Made Liran, serta Made Pasek dan Nyoman Rai Srimben.

Naik ke rumah ini, kita bisa melihat silsilah lengkap dari keluarga ibunya Bung Karno. Terdapat sebuah papan yang menampilkan foto dan pohon silsilah keluarga mereka.

Di dinding-dinding rumah juga terpampang foto-foto Bung Karno bersama ibunya. Traveler juga bisa melihat patung Ni Nyoman Rai Serimben dengan pose duduk. Patung ini posisinya dekat dinding, namun berada di tengah-tengah.

Cagar Budaya, Rumah Ibunya Bung Karno, Ni Nyoman Rai Serimben di BulelengCagar Budaya, Rumah Ibunya Bung Karno, Ni Nyoman Rai Serimben di Buleleng (Syanti Mustika/detikcom)

Made pun menceritakan asal mula pertemuan ibu Bung Karno dengan ayahnya. Berasal dari keluarga beradat dan mengurus keagamaan, Serimben tak bisa sembarangan menikah. Sebagaimana adat Bali, tak boleh orang luar Bali mempersunting dirinya.

Rai Serimben di mata masyarakat sekitar dikenal sebagai wanita santun, gemar menari, dan punya keahlian menenun. Rai Serimben merupakan anak kedua dari pasangan I Nyoman Pasek dan Ni Made Liran. Diperkirakan ibunda Bung Karno itu lahir sekitar tahun 1881.

Pertemuan kedua orang tua Bung Karno

Singkat cerita, pada tahun 1890, Nyoman Rai Serimben bertemu dengan Raden Soekeni Sosrodiharjo, yang dia saat itu ditugaskan sebagai guru di Sekolah Rakyat (SR) 1 Singaraja (kini SDN 1 Paket Agung) oleh pemerintahan kolonial. Dia jatuh hati melihat Serimben menari.

” Dia jatuh cinta pada Serimben saat melihat Serimben menari rejang di Pura Bale Agung, tepat saat umanis galungan. Namun, mereka berdua sadar ada adat yang tidak bisa dilawan,” kata Made.

Lanjutnya, dua sijoli yang dimabuk cinta ini memutuskan untuk kawin lari. Tindakan Serimben ini sudah jelas melanggar aturan Bale Agung dimana tidak boleh menikah dengan ‘orang luar’.

Dikutip dari website Kemendikbud, pernikahan itu pun menyebabkan Raden Sukemi harus menjalani persidangan.

Pemerintah Belanda menganggap Sukemi menyebabkan kegaduhan di masyarakat, kegelisahan para tokoh, dan kekacauan pada sistem tatanan adat di Bale Agung. Dia dijatuhi sanksi denda sebesar 40 ringgit dan denda itu akhirnya dibayar Nyoman Rai Serimben dengan perhiasan yang ia miliki.

Cagar Budaya, Rumah Ibunya Bung Karno, Ni Nyoman Rai Serimben di BulelengCagar Budaya, Rumah Ibunya Bung Karno, Ni Nyoman Rai Serimben di Buleleng Foto: (Syanti Mustika/detikcom)

Sejak kawin lari, Serimben pun tak pernah pulang ke rumah gadisnya di perbekelan Bale Agung. Soekeni dan Serimben akhirnya tinggal di wilayah perbekelan Banjar Paketan tepatnya di rumah Pan Sedana Mertia.

Rumah yang ditinggali Soekeni dan Serimben sempat roboh karena usianya yang sudah terlampau tua. Namun rumah itu kembali dibangun dalam bentuk yang persis sama, hanya bahan bangunannya yang berbeda.

Semasa tinggal di rumah tersebut, Nyoman Rai Serimben melahirkan anak pertamanya, yakni Soekarmini. Raden Soekeni Sosrodiharjo, Nyoman Rai Serimben, dan Soekarmini akhirnya pindah ke Surabaya pada tahun 1900. Hingga akhirnya ia melahirkan Sukarno pada 6 Juni 1901.

Serimben pun tak pernah kembali lagi ke rumah gadisnya hingga mangkat pada Jumat Kliwon, 12 September 1958.

Megawati dan Puan Maharani pernah berkunjung

Made juga mengatakan putrinya Bung Karno, Megawati pernah datang ke rumah neneknya ini, Begitu juga Puan Maharani.

“Dulu. Sudah lama sekali Megawati datang ke sini. Puan juga pernah datang,” kata Made.

(sym/fem)



Sumber : travel.detik.com

8 Ide Museum Date di Jakarta, Bangun Suasana Romantis dan Seru


Jakarta

Museum date adalah konsep kencan di mana pasangan menghabiskan waktu bersama di museum. Mereka biasanya menjelajahi pameran seni, sains, sejarah, atau budaya.

Jakarta jadi salah satu kota yang sangat cocok untuk museum date. Selain memiliki banyak museum, museum di jakarta juga menawarkan suasana yang nyaman,sarat pengetahuan dan instagrammable.

Bagi detikers yang bingung mau liburan akhir tahun sama pangan ke mana? Kamu bisa pilih tempat-tempat ini untuk museum date.


Ide Museum Date di Jakarta

Dirangkum detikcom dari akun sosial media dan websitenya, berikut adalah beberapa rekomendasi museum yang bisa jadi pilihan museum date di Jakarta:

1. MoJa Museum

Libur panjang membuat warga beraktivitas di luar rumah, salah satunya dengan bermain sepatu roda di Moja Museum.Libur panjang membuat warga beraktivitas di luar rumah, salah satunya dengan bermain sepatu roda di Moja Museum. (Rifkianto Nugroho)
  • Harga tiket masuk: Rp 125 ribu-240 ribu.
  • Lokasi: Gelora Bung Karno Sports Complex, Main Stadium, Zona Biru 8-9, RT.1/RW.3, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat.
  • Jam buka: Setiap hari dari jam 11.00-19.30 WIB.

MOJA museum jadi salah satu museum terkenal di Jakarta yang interaktif dan instagrammable. Di sini, kamu bisa melihat banyak eksibisi seni interaktif.

Berbagai aktivitas seru yang bisa kamu lakukan di MoJa museum di antaranya MoPaint (untuk kamu yang suka gambar), golf, atau RoJa yakni wahana roller skating (sepatu roda).

2. Museum Sejarah Jakarta

Museum Sejarah Jakarta dikenal juga dengan nama Museum Fatahillah. Museum Sejarah Jakarta terletak di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.Museum Sejarah Jakarta dikenal juga dengan nama Museum Fatahillah. Museum Sejarah Jakarta terletak di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. (Tiara Rosana/detikcom)
  • Harga tiket masuk: Rp 2 ribu (pelajar), Rp 3 ribu (mahasiswa), dan Rp 5 ribu (dewasa).
  • Alamat: Jalan Taman Fatahillah No.1, Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.
  • Jam buka: Selasa-Minggu pukul 09.00-15.00 WIB.

Museum Sejarah Jakarta atau dikenal juga museum Fatahillah, adalah bangunan yang jadi ikon di kawasan Kota Tua Jakarta. Dilansir Antara, museum ini memiliki koleksi sekitar 23.500 barang bersejarah, baik dalam bentuk benda asli maupun replika.

Dilansir laman Jakarta Tourism, dulunya, bangunan museum merupakan markas administrasi Perusahaan Hindia Timur, dan kemudian Pemerintah Belanda. Kebanyakan koleksi di museum ini terdiri dari peninggalan-peninggalan Belanda yang bermukim di Batavia sejak awal abad XVI.

3. Galeri Nasional Indonesia

Pengunjung mengamati karya seni instalasi dari medium logam alumunium karya Lini Natalini Widhiasi di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (6/9/2024). Pameran tunggal seni rupa bertajuk Infinity Yin Yang merupakan karya seni baru yang menunjukkan kekuatan eksplorasi sekaligus eksploitasi material, medium dan teknik yang berlangsung 4 September hingga 3 Oktober 2024. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/agrPengunjung mengamati karya seni instalasi dari medium logam alumunium karya Lini Natalini Widhiasi di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (6/9/2024). Pameran tunggal seni rupa bertajuk Infinity Yin Yang merupakan karya seni baru yang menunjukkan kekuatan eksplorasi sekaligus eksploitasi material, medium dan teknik yang berlangsung 4 September hingga 3 Oktober 2024. (ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah)
  • Harga tiket masuk: Rp 10 ribu (anak-anak), Rp 20 ribu (dewasa), dan Rp 50 ribu (wisatawan asing).
  • Alamat: Jl. Medan Merdeka Tim. No.14, RT.6/RW.1, Gambir, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat.
  • Jam buka: Selasa-Sabtu dari jam 09.00-19.00 WIB.

Museum seni dan pusat pameran ini lokasinya ada di jantung kota Jakarta. Di sini kamu bisa menikmati ruang seni dan budaya, dengan beragam koleksi karya seni rupa.

Baik itu yang bersifat klasik maupun kontemporer dari seniman Indonesia maupun internasional. Galeri Nasional Indonesia cocok banget buat dijadikan ide museum date, karena banyak spot foto estetik dengan suasana yang tenang dan nyaman.

4. Museum Seni Rupa dan Keramik

Museum Seni Rupa dan Keramik JakartaArea Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta. (Weka Kanaka/detikcom)
  • Harga tiket masuk: Rp 10 ribu-15 ribu (lokal), Rp 5 ribu (mahasiswa), Rp 50 ribu (wisatawan asing).
  • Alamat: Jl. Pos Kota No.2 9, RT.9/RW.7, Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.
  • Jam buka: Selasa-Minggu dari jam 09.00 WIB – 15.00 WIB.

Sesuai namanya, museum ini menyimpan koleksi seni rupa dan keramik. Selain melihat koleksi, kamu dan pasangan date kamu juga bisa mengikuti workshop membuat gerabah atau keramik di sini lho.

5. Museum MACAN (Modern and Contemporary Art in Nusantara)

Museum MACANMuseum MACAN. (Chelsea Olivia/detikcom)
  • Harga tiket masuk: Rp 36 ribu-90 ribu.
  • Alamat: AKR Tower Level M, Jl. Panjang No.5, Kebon Jeruk, Kecamatan Kebon Jeruk, Kota Jakarta Barat.
  • Jam buka: Selasa-Minggu dari 10.00-18.00 WIB.

Museum ini menyimpan berbagai karya seni modern dan kontemporer dari Indonesia dan luar negeri. Museum ini memang populer dikalangan pecinta seni dan anak muda.

Museum MACAN juga kerap menghadirkan pameran dan event kolaborasi dengan tema yang berbeda-beda.

6. Museum Nasional Indonesia

Museum Nasional Indonesia di malam hari pada Sabtu (26/10/2024).Museum Nasional Indonesia di malam hari pada Sabtu (26/10/2024). Foto: Weka Kanaka/detikcom
  • Harga tiket masuk: Rp 15 ribu (anak-anak), Rp 25 ribu (dewasa), Rp 50 ribu (WNA).
  • Alamat: Jl. Medan Merdeka Barat No.12, Gambir, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat,
  • Jam buka:Selasa-Minggu dari jam 09.00-15.00 WIB.

Kompleks Museum Nasional berdiri di atas tanah seluas 26.500 meter persegi.Terdiri dari Gedung A digunakan untuk ruang pamer dan wahana Imersifa, dan Gedung B (Gedung Arca) untuk pameran, juga digunakan untuk laboratorium, ruang pameran temporer, area komersial, perpustakaan, dan kantor.

Dilansir laman resminya, sampai saat ini koleksi yang dikelola museum ini ada sekitar 190.000an. Benda-benda tersebut terdiri dari 7 jenis koleksi yakni prasejarah, arkeologi masa klasik, sejarah, numismatik dan heraldik, keramik, dan etnografi.

7. Museum Bank Indonesia (BI)

Pameran Rupiah Berkisah tentang TimurPameran Rupiah Berkisah tentang Timur. (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)
  • Harga tiket masuk: Rp 5 ribu per orang, gratis bagi pelajar/mahasiswa.
  • Alamat: Jl. Pintu Besar Utara No.3, RT.4/RW.6, Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.
  • Jam buka: Selasa-Minggu mulai dari jam 08.00-15.30 WIB.

Museum BI dulunya digunakan oleh De Javasche Bank, salah satu gedung dengan nilai sejarah yang tinggi. Lokasinya masih berada di kawasan Kota Tua.

Museum ini pertama kali dibuka pada tanggal 15 Desember 2006. Museum BI menyimpan berbagai koleksi numismatik dan arsitektur gedung.

8. Museum Wayang

Museum Wayang di Kota Tua Jakarta menjadi salah satu destinasi liburan edukasi. Di sini, Anda dapat melihat beragam koleksi wayang dari seluruh Indonesia.Museum Wayang di Kota Tua Jakarta menjadi salah satu destinasi liburan edukasi. Di sini, Anda dapat melihat beragam koleksi wayang dari seluruh Indonesia. (Muhammad Lugas Pribady)
  • Harga tiket masuk: Rp 5 ribu (anak-anak dan pelajar/mahasiswa), Rp 10 ribu (dewasa), dan Rp 50 ribu (WNA).
  • Alamat: Jalan Pintu Besar Utara No.27 Pinangsia, RT.3/RW.6, Kota Tua, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.
  • Jam buka: Selasa – Minggu dari jam 09.00-15.00 WIB.

Museum Wayang banyak memamerkan dan melestarikan warisan seni budaya pertunjukan boneka tradisional indonesia. Koleksinya meliputi wayang golek, wayang kulit, serta beberapa koleksi wayang dari daerah serta negara lain.

Tips untuk Museum Date

  • Ketahui tanggal dan waktu buka museum.
  • Pakai outfit terbaikmu, jangan lupa juga pilih yang nyaman.
  • Abadikan momen dengan berfoto di spot-spot menarik dan Instagramable.
  • Bangun obrolan dengan membahas topik seputar koleksi menarik atau karya seni di museum tersebut.

Itu tadi beberapa pilihan tempat untuk ide museum date di Jakarta yang bisa dikunjungi. Selain menawarkan suasana yang lebih santai dan estetis, date di museum juga sangat bernuansa romantis.

(row/row)



Sumber : travel.detik.com

Berkunjung ke 5 Masjid Terbesar di Indonesia



Jakarta

Ramadan hitungan hari. Traveler bisa nih merancang wisata religi dengan berkunjung ke 5 masjid terbesar di Indonesia.

detikcom telah merangkum, Senin (24/2/2025) lima masjid terbesar di Indonesia yang bisa dikunjungi saat Ramadan nanti.

1. Masjid Istiqlal


Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, menyediakan 4.000 hingga 6.000 boks takjil gratis setiap hari. Masyarakat yang ingin mendapatkan takjil tersebut bisa mendatangi Masjid Istiqlal setiap hari saat berbuka puasa, Selasa (12/3/2024).Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat Foto: Pradita Utama

Masjid Istiqlal beralamat di Jl Taman Wijaya Kusuma, Ps Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat. Masjid ini sangat strategis karena berada di pusat kota. Letaknya berdampingan dengan Gereja Katedral di Kecamatan Sawah Besar untuk menunjukkan bentuk kerukunan beragama.

Masjid Istiqlal memiliki luas bangunan 2,5 hektare di atas tanah 9,8 hektare dengan kapasitas jamaahnya sendiri mencapai sekitar 100.000 orang.

Biasanya, selama Ramadan, Masjid Istiqlal menjadi salah satu destinasi wisata religi untuk ngabuburit di Jakarta. Setelah melihat kemegahannya, kamu juga bisa ikut berbuka bersama gratis di masjid bersama jamaah lain.

2. Masjid Al-Akbar Surabaya (MAS)

Masjid Al-Akbar Surabaya (MAS) menjadi masjid nomor 2 terbesar di Indonesia setelah Masjid Istiqlal. Masjid ini berdiri di atas lahan seluas 11,2 hektar serta mampu menampung hingga 60.000 jamaah.

Lokasinya berada di Jalan Masjid Al Akbar Timur Nomor 1, Pagesangan, Kecamatan Jambangan, Kota Surabaya. Bangunan masjid sangat mudah dikenali karena kubahnya yang besar dan megah berwarna kebiruan.

Daya tarik dari masjid ini terletak pada kubahnya yang berbentuk oval. Kubah besar dan megah ini berwarna kebiruan ditambah aksen diagonal yang saling menyilang berwarna hijau muda.

Selain kubah, adapun menara setinggi 99 meter yang merepresentasikan 99 Asmaul Husna. Sementara, bangunan mihrab memiliki motif batik pada bagian sisinya.

Selain sebagai tempat ibadah, MAS memiliki fasilitas yang lengkap. Di antaranya seperti taman, green house, urban farming, edu park, dan grand ballroom.

3. Masjid Islamic Centre

Masjid Islamic Center ini berada di Kecamatan Samarinda Ilir, Kalimantan Timur. Masjid yang diresmikan pada Juni 2008 ini memiliki luas sekitar 43.500 meter persegi.

Luasnya ini menjadikan Masjid Islamic Centre mampu masuk dalam jajaran masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara. Dengan luasnya bangunan, masjid tersebut dapat menampung jemaah sekitar 40.000-45.000 orang.

Arsitektur Masjid Islamic Center Samarinda sangat detail. Terdapat tujuh buah menara yang terdiri atas satu menara utama dan enam anak menara lainnya. Induk menara memiliki tinggi 99 meter yang menyimbolkan Asmaul Husna. Selain itu, ketika memasuki bangunan utama masjid, jamaah akan melewati 33 anak tangga yang sama seperti jumlah biji tasbih.

4. Masjid Raya Baiturrahman, Aceh

Masjid Raya Baiturrahman di Banda AcehMasjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh Foto: (Syanti/detikcom)

Liburan ke negeri Serambi Mekkah saat Ramadan juga bisa jadi pilihan nih, Kamu bisa berkunjung ke Masjid Raya Baiturrahman. Masjid yang menjadi kebanggaan orang Aceh ini, arsitekturnya bercorak eklektik dan mampu menampung sekitar 30.000 jemaah.

Masjid yang didirikan oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1607-1636 itu menjadi saksi bisu pahit getirnya warga Aceh melawan Belanda, pergolakan pasca kemerdekaan, bencana gempa dan tsunami, hingga perjanjian damai GAM-RI. Masjid yang berdiri sekarang merupakan pengganti dari masjid raya yang telah Belanda bakar saat menaklukkan Aceh.

Kapten de Bruijn, Komandan Zeni Angkatan Darat Tentara Kerajaan Belanda merupakan arsitek masjid ini. Ia berkonsultasi dengan Snouck Hurgronje, orientalis kepercayaan pemerintah Belanda dan penghulu masjid Bandung, Jawa Barat.

Saat ini, dengan berlakunya syariat Islam, Masjid Baiturrahman dinyatakan sebagai kawasan terbatas. Hanya pengunjung yang menutup aurat, sesuai hukum syariat yang boleh masuk ke dalam masjid.

5. Masjid Al-Jabbar, Bandung

Suasana Masjid Raya Al Jabbar saat salat Idul AdhaSuasana Masjid Raya Al Jabbar Foto: Wisma Putra/detikJabar

Masjid Al-Jabbar, Bandung telah menjadi primadona di Jabar sejak diresmikan pada Desember 2022. Masjid Al Jabbar terletak di Jl. Cimincrang No.14, Cimenerang, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat.

Masjid ini dibangun di tanah seluas 25 hektare dan mampu menampung 30.000 jemaah, dengan rincian 10.000 orang di area dalam (indoor) dan 20.000 orang di area plaza. Proses perancangan dimulai pada 2015 oleh Ridwan Kamil yang semasa itu menjabat sebagai Walikota Bandung.

Arsitektur Masjid Raya Al Jabbar dirancang dari perpaduan arsitektur modern kontemporer dengan aksentuasi masjid Turki yang dihiasi seni dekoratif khas Jawa Barat. Bangunan utama masjid tidak memisahkan dinding, atap, dan kubah, melainkan hasil peleburan ketiganya menjadi satu bentuk setengah bola raksasa.

Ketiga sisi bangunan masjid dikelilingi sebuah danau besar yang ibarat cermin, merefleksikan masjid menjadi berbentuk bulat utuh. Keindahan danau memiliki fungsi penting lain, sebagai retensi banjir sekaligus penyimpan air.

Bangunan utama dirancang dengan luas lantai 99 x 99 m2 sesuai angka Asmaul Husna. Kelak, semua yang sudah terbangun di Masjid Raya Al Jabbar seperti museum, danau, plaza, dan taman-taman akan membuat masjid ini tidak hanya memiliki fungsi ibadah, tetapi juga fungsi edukasi dan berpotensi sebagai pusat wisata religi Jawa Barat.

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com