Tag Archives: pemerintah daerah

Hak Pakai Tanah Bisa Diperbarui, Ini Syarat dan Kisaran Biayanya


Jakarta

Sertifikat hak pakai sangat penting untuk dimiliki agar punya kepastian hukum saat menggunakan tanah. Hak pakai tanah memang ditentukan dengan batas waktu tertentu, tapi masih bisa diperbarui.

Nah, untuk memperbarui hak pakai tanah, ada beberapa hal yang perlu diketahui terlebih dahulu misalnya seperti jangka waktu hak pakai. Berikut ini informasinya.

Jangka Waktu Hak Pakai

Menurut PP Nomor 18 tahun 2021 pasal 52, jangka waktu hak pakai bisa berbeda-beda. Contohnya pada hak pakai di atas tanah negara dan tanah hak pengelolaan, itu bisa diberikan paling lama untuk 30 tahun, diperpanjang paling lama untuk 20 tahun, dan diperbarui paling lama untuk jangka waktu 30 tahun. Tapi setelah jangka waktu pemberian, perpanjangan, dan pembaruan selesai, tanah hak pakai kembali lagi menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh negara atau tanah hak pengelolaan.


Berbeda dengan hak pakai yang ada di atas tanah hak milik. Untuk jangka waktu hak pakai di atas tanah hak milik diberikan waktu paling lama 30 tahun dan dapat diperbarui dengan akta pemberian hak pakai di atas tanah hak milik.

Sementara itu, kalau hak pakai selama dipergunakan, misalnya yang diberikan untuk pemerintah daerah, itu bisa dipergunakan dengan jangka waktu yang tidak ditentukan selama dipergunakan dan dimanfaatkan.

Kriteria Hak Pakai Bisa Diperpanjang

Hak pakai di atas tanah bisa diperpanjang selama memenuhi kriteria. Berikut ini informasinya berdasarkan PP nomor 18 tahun 2021 pasal 55.

Hak Pakai di Atas Tanah Negara

Hak Pakai di Atas Tanah Negara bisa diperpanjang atau diperbarui atas permohonan pemegang hak apabila memenuhi syarat:

– tanahnya masih diusahakan dan dimanfaatkan dengan baik sesuai dengan keadaan, sifat, dan tujuan pemberian hak;
– syarat-syarat pemberian hak dipenuhi dengan baik oleh pemegang hak;
– pemegang hak masih memenuhi syarat sebagai pemegang hak;
– tanahnya masih sesuai dengan rencana tata ruang; dan
– tidak dipergunakan dan/atau direncanakan untuk kepentingan umum.

Hak Pakai di Atas Tanah Hak Pengelolaan

Hak pakai di atas tanah hak pengelolaan bisa diperpanjang atau diperbarui atas permohonan pemegang hak pakai apabila memenuhi syarat seperti pada Hak Pakai di Atas Tanah Negara dan mendapat persetujuan dari pemegang hak pengelolaan.

Hak Pakai di Atas Tanah Hak Milik

Hak pakai di atas tanah hak milik bisa diperpanjang atau diperbarui asalkan ada kesepakatan dengan pemegang hak milik dengan pemberian hak pakai baru dengan akta yang sudah dibuat oleh pejabat pembuat akta tanah (PPAT) dan hak itu harus didaftarkan ke kantor pertanahan.

Permohonan pembaruan hak pakai diajukan paling lama dua tahun setelah berakhirnya jangka waktu hak pakai.

Syarat Pembaharuan Hak Pakai

Hak pakai dengan jangka waktu ini diberikan ke WNI, badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia, badan hukum asing yang punya perwakilan di Indonesia, badan keagamaan dan sosial, serta orang asing.

Nah, pemilik bisa melakukan pembaharuan hak pakai ke kantor pertanahan terdekat. Berikut ini syarat pembaharuan hak pakai perseorangan WNI dilansir dari aplikasi Sentuh Tanahku.

Persyaratan

1. Formulir permohonan yang sudah diisi dan ditandatangani pemohon atau kuasanya di atas meterai cukup
2. Surat kuasa apabila dikuasakan
3. Fotokopi identitas pemohon (KTP, KK) dan kuasa apabila dikuasakan, yang telah dicocokkan dengan aslinya oleh petugas loket
4. Fotokopi akta pendirian dan pengesahan badan hukum yang telah dicocokkan dengan aslinya oleh petugas loket, bagi badan hukum
5. Sertifikat Asli
6. Fotokopi KTP dan para pihak penjual-pembeli dan / atau kuasanya
7. Izin pemindahan hak apabila di dalam sertifikat / keputusannya dicantumkan tanda yang menyatakan bahwa hak tersebut hanya boleh dipindahtangankan jika telah diperoleh izin dari instansi yang berwenang
8. Fotokopi SPPT dan PBB tahun berjalan yang telah dicocokkan dengan aslinya oleh petugas loket, penyerahan bukti SSB (BPHTB) dan bukti bayar uang pemasukan (pada saat pendaftaran hak)

Keterangan:
– Identitas diri
– Luas, letak, dan penggunaan tanah yang dimohon
– Pernyataan tanah tidak sengketa
– Pernyataan tanah dikuasai secara fisik

Biaya dan Lama Prosesnya

Biaya dihitung berdasarkan jumlah bidang dan luas masing-masing bidang pemecahan. Di website Kementerian ATR/BPN maupun aplikasi Sentuh Tanahku bisa dilakukan simulasi biaya untuk pembuatan sertifikat hak pakai.

Misalnya, luas tanah yang ingin digunakan adalah 300 meter persegi untuk kegiatan non-pertanian di Provinsi Jawa Barat, maka perkiraan biaya yang harus dibayarkan yaitu Rp 572.000. Rinciannya, biaya pengukuran Rp 160.000, biaya pemeriksaan tanah Rp 362.000, dan biaya pendaftaran Rp 50.000.

Untuk penerbitan sertifikatnya kurang lebih 18 hari kerja.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(abr/das)



Sumber : www.detik.com

Disparekraf Gelar Jakarta Illumination Island Festival di Pulau Pramuka



Jakarta

Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-498 Kota Jakarta, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta menghadirkan pengalaman unik dan memikat melalui event Jakarta Illumination Island Festival yang akan digelar pada 2 – 8 Juni 2025 di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Festival ini menjadi salah satu rangkaian acara unggulan yang mengangkat tema keindahan alam bawah laut Jakarta dalam bentuk instalasi cahaya yang memukau.

Melalui dekorasi lampu tematik berbentuk biota laut dan ornamen bawah laut lainnya, pengunjung akan diajak merasakan suasana magis seolah-olah berada di dalam laut DKI Jakarta, yang kaya akan keanekaragaman hayati dan keindahan alam bahari.

Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-498 Kota Jakarta, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta menghadirkan pengalaman unik dan memikat melalui event Jakarta Illumination Island Festival yang akan digelar pada 2 - 8 Juni 2025 di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta menghadirkan pengalaman unik dan memikat melalui event Jakarta Illumination Island Festival yang akan digelar pada 2 – 8 Juni 2025 di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Foto: Disparekraf DKI

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta, Andhika Permata mengatakan Jakarta Illumination Island Festival merupakan sebuah inovasi baru Pemprov Jakarta dalam mempromosikan wisata unggulan Kepulauan Seribu.


“Festival ini bukan hanya menjadi atraksi wisata malam hari, tetapi juga merupakan bagian dari upaya kami untuk menghadirkan inovasi dalam mempromosikan destinasi unggulan Jakarta, khususnya Kepulauan Seribu,” ujar Andhika dalam keterangannya, Rabu (4/6/2025).

Selama satu pekan penyelenggaraan, pengunjung akan diajak menikmati instalasi seni cahaya di berbagai titik Pulau Pramuka, diiringi pertunjukan musik, aktivitas budaya, kuliner lokal, serta edukasi lingkungan tentang pentingnya menjaga ekosistem laut Jakarta.

Diharapkan Jakarta Illumination Island Festival ini dapat menjadi daya tarik baru bagi wisatawan lokal maupun mancanegara, sekaligus mendorong peningkatan kunjungan wisatawan ke Kepulauan Seribu dan mendukung pengembangan ekonomi kreatif serta pariwisata berkelanjutan di Jakarta.

Jakarta Illumination Island Festival bukan hanya sekadar tontonan visual, melainkan sebuah langkah konkret dalam mempromosikan ekowisata dan pariwisata berkelanjutan di Jakarta. Kegiatan ini juga menjadi wujud kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku industri kreatif, komunitas lokal, dan masyarakat Pulau Pramuka dalam menyemarakkan ulang tahun Kota Jakarta dengan penuh makna.

(ega/ega)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Libur Akhir Tahun di Sumenep, Ini Acara yang Sayang buat Dilewatkan



Jakarta

Kabupaten Sumenep kembali menyuguhkan serangkaian acara menarik di penghujung tahun 2024. Pemerintah daerah mengundang wisatawan lokal maupun mancanegara untuk menikmati keindahan budaya dan pesona alam Sumenep melalui delapan event spektakuler sepanjang Desember 2024.

Event tersebut mencakup berbagai jenis acara seperti olahraga, budaya, komunitas pencinta motor klasik dan masih banyak lainnya.

Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menyaksikan event yang akan digelar pada bulan Desember ini.


“Kami yakin, event ini akan membuat wisatawan terkesan karena beragam pagelaran yang kita siapkan khusus mengisi liburan akhir tahun,” tuturnya, dikutip dari siaran pers, Kamis (5/12/2024).

Berikut adalah daftar acara yang patut Anda saksikan:

1. Madura 10k (15 Desember 2024)

Menikmati suasana keindahan serta udara segar di kota Sumenep melalui Madura 10k. Festival ini akan membawa Anda mengenal lebih dalam suasana kedamaian kabupaten di ujung timur pulau Madura ini dengan lari 5 kilometer dan 10 kilometer.

2. Mercy Never Say Old

Mercy Never Say Old adalah sebuah pertemuan para pecinta mobil tua dengan mengangkat semangat hidup dan kebahagiaan di usia lanjut. Acara ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa usia bukanlah halangan untuk terus aktif, sehat, dan penuh semangat.

Mercy Never Say Old mengajak semua kalangan untuk merayakan kehidupan tanpa batasan usia, dengan tetap produktif dan positif. Kegiatan ini akan berlangsung di depan masjid jamik.

3. Perbakin Shooting Exhibition

Kegiatan ini merupakan kompetisi menembak menggunakan senjata api dengan melibatkan Forkopimda, Forpimcam dengan tujuan melatih emosional dalam menembus titik saran. Akan berlangsung di lapangan tembak Mapolres Sumenep.

4. Turnamen Tennis

Turnamen tenis di kota keros ini adalah kompetisi yang mempertemukan pemain untuk menguji keterampilan dan strategi mereka di lapangan. Tujuan utama dari turnamen ini adalah untuk meningkatkan kemampuan pemain, mempromosikan olahraga tenis, serta memberikan hiburan bagi para penonton.

Selain itu, turnamen tenis juga menjadi ajang untuk mencari dan mengembangkan talenta-talenta baru di dunia olahraga, khususnya di Kabupaten Sumenep. Akan berlangsung di Lapangan Sumekar.

5. JJS HKN

JJS HKN 2024 adalah acara jalan-jalan sehat yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional 2024. Acara ini bertujuan untuk mengajak masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan fisik yang menyenangkan, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat.

Melalui JJS HKN 2024, diharapkan peserta dapat lebih termotivasi untuk menjaga kesehatan tubuh dengan rutin berolahraga. Lokasi acara di Taman Adhipura.

Masih ada event lainnya yang sayang untuk dilewatkan, seperti Alongpolong Vespa, Volly, dan Tongtong.

“Dengan berbagai acara menarik, Sumenep siap memberikan pengalaman liburan akhir tahun yang tak terlupakan. Selain menikmati event, jangan lupa untuk menjelajahi destinasi wisata lainnya seperti Pantai Lombang, Gili Labak, dan Bukit Kapur Arosbaya,” pungkas Ahmad Fauzi.

(prf/ega)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Masjid Tua Al Mubarok, Berumur Ratusan Tahun, Tempat Sejuk buat Karyawan Jaksel



Jakarta

Di Jakarta Selatan terdapat salah satu masjid yang berumur ratusan tahun dan menjadi sebuah saksi perkembangan wilayah Kuningan. Masjid Tua Al Mubarok.

Masjid itu berdiri tegak di pinggir Jalan Gatot Subroto yang tak jauh dari Museum Satriamandala. Dari sejarahnya, masjid tersebut merupakan peninggalan dari Syekh Arkanuddin atau Pangeran Adipati Awangga yang memiliki gelar Pangeran Kuningan yang berasal dari Cirebon.

Di masjid itu terdapat sebuah prasasti yang memastikan usia bangunan tersebut. Di sana tertulis masjid tersebut dibangun pada 1527.


Tahun tersebut bukan merujuk kepada bangunan mushola yang didirikan oleh Pangeran Kuningan bersama pasukannya, yang saat itu menempati kawasan tersebut. Tetapi, tahun itu merupakan pembangunan Masjid Tua Al Mubarok oleh warga di sekitar masjid. Lokasinya pas di mushala Pangeran Kuningan.

Musala yang dibangun Pangeran Kuningan dan pasukannya itu

Bendahara Masjid Tua Al Mubarok, Budi Raharjo, menceritakan kepada detikTravel, Jumat (19/7/2024) ada hal menarik dari pembangunan awal masjid tersebut, yakni berasal dari sebuah mimpi.

Konon, masjid yang dibangun oleh Pangeran Kuningan itu hanya terbuat dari kayu dan begitu sederhana.

“Nyi Imeh itu mimpi, dulu masjid ini terkenal dengan nama Masjid Rusak karena ya udah nggak terurus gitu. Di Masjid Rusak itu banyak orang datang pake jubah, pake pakaian putih ini dalam mimpinya, dia ngeliat banyak yang sembahyang di sini, itu akhirnya ngomong sama keluarga atau masyarakat di sini akhirnya dibangun lah masjid lagi,” kata Budi.

Masjid itu dibangun pada 1850 oleh Guru Simin dan Guru Jabir. Seiring berjalannya waktu, masjid itu kembali dimakan oleh zaman, sekiranya tahun 1915. Masjid Rusak kembali mengalami renovasi karena kala itu bangunannya masih terbuat dari kayu.

“Akhirnya di tahun 1925 itu digunakan sholat berjamaah rame-rame, kalau dulu kan mungkin hanya terbatas. Nah di tahun itu bangun untuk orang-orang banyak lah,” sambungnya.

Budi juga menerangkan kala pembangunan masjid pada 1925, bangunan masih kayu meskipun jamaah sudah banyak. Dan, secara terus menerus bangunan ini selalu diperbaiki oleh masyarakat.

Masjid Tua Al Mubarok berdiri tegak di pinggir Jalan Gatot Subroto yang tak jauh dari Museum Satriamandala. Masjid ini telah berumur ratusan tahun dan menjadi sebuah saksi perkembangan wilayah Kuningan.Masjid Tua Al Mubarok berdiri tegak di pinggir Jalan Gatot Subroto yang tak jauh dari Museum Satriamandala. Masjid ini telah berumur ratusan tahun dan menjadi sebuah saksi perkembangan wilayah Kuningan. (Muhammad Lugas Pribady)

Barulah di tahun 1996 bangunan masjid diperbaiki dan menggunakan beton hingga bisa berdiri hingga saat ini. Pembangunan tersebut dikatakan oleh Budi atas inisiasi pengurus masjid kala itu di antaranya adalah Haji Wardi.

“1925 yang dibangun sama guru itu ya masjid dari kayu aja tapi besar, nah dari kayu pun itu udah berubah-ubah kan mulai dari zamannya siapa diperbaiki. Jadilah pengurus terakhir itu zamannya Haji Wardi dibangunlah masjid ini, ya sampai sekarang,” kata dia.

“Dari zaman dulu posisinya di sini zaman dulu nggak berubah titiknya di sini,” ujar Budi.

Kini, peninggalan lawas masjid itu tidak banyak lagi. Budi mengatakan satu barang yang tersisa hanya jam yang berada di dekat mimbar. namun ia juga tak yakin jam tersebut berada di dalam masjid sejak tahun berapa.

Makam Pangeran Kuningan

Selain membahas tentang perjalanan Masjid Tua Al Mubarok, Budi juga menjelaskan kenapa nama wilayah ini Kuningan adalah untuk mengenang Pangeran Kuningan yang berada di kawasan ini dari 1527 hingga meninggal pada 1579. Budi juga menjelaskan letak makam yang letaknya bukan di area masjid.

“Meninggalnya itu 1579 kalau dia datang 1527, dia meninggal dan sekarang makamnya ada di (area perkantoran) Telkom,” sebut dirinya.

detikTravel pun penasaran dengan keberadaan makam sang pangeran yang berada di tengah perkantoran. Merujuk cerita dari Budi dan informasi dar penjaga, Makam Pangeran Kuninganberada di dekat lobi gedung dan dekat dengan sebuah mini market.

Dengan sejarah yang membersamai masjid ini jadi cerita sendiri bagi para jemaah. Selain sebagai tempat beribadah, tempat ini juga kerap dipakai untuk tempat istirahat para karyawan-karyawan di sela pekerjaan mereka.

Suasana yang rindang dan sejuk menjadi idaman di tengah-tengah panas matahari dan bisingnya jalanan Ibu Kota. Masjid Tua Al Mubarok dan makam Pangeran Kuningan oleh pemerintah daerah telah ditetapkan sebagai Monumen Ordonansi No 238 tahun 1931 melalui Lembaran Daerah No 60 tahun 1972 dan juga menjadi situs sejarah.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Jalan Menuju Baduy Dijanjikan Mulus pada 2025



Lebak

Penjabat (Pj) Bupati Lebak Gunawan Rusminto menjanjikan jalan menuju kawasan wisata budaya Baduy pada 2025 kondisinya mulus, sehingga dapat mendongkrak wisatawan domestik dan mancanegara.

“Kami berharap jalan menuju kawasan wisata budaya Baduy mulus 2025,” kata Gunawan pada pembukaan Festival Seni Multatuli (FSM), di Rangkasbitung, Lebak, Banten, seperti dikutip dari Antara, Sabtu (14/9/2024).

Pemerintah Kabupaten Lebak memiliki komitmen untuk pembangunan infrastruktur jalan menuju destinasi wisata kondisinya mulus dengan betonisasi, sehingga dapat mendongkrak wisatawan domestik dan mancanegara.

Selama ini, potensi destinasi wisata di daerah itu cukup luar biasa dari wisata budaya, wisata alam dan wisata buatan.

Karena itu, pemerintah daerah telah merealisasikan pembangunan infrastruktur jalan menuju destinasi wisata alam Gunung Luhur wilayah Lebak tengah, Pesisir Pantai wilayah Lebak Selatan, Arung Jeram, Pemandian Air Panas wilayah Lebak timur dan wisata buatan Lebak utara dalam kondisi jalan mulus.

Sedangkan, jalan menuju destinasi wisata budaya Baduy sekitar tiga kilometer yang masih dalam kondisi rusak.

“Kami minta tahun depan dialokasikan pembangunan jalan menuju destinasi wisata Baduy rampung,” katanya menjelaskan.

Ia mengatakan, Kabupaten Lebak tahun 2024 masuk daftar Festival Karisma Event Nusantara (KEN), sehingga membanggakan destinasi wisata budaya.

Ketiga wisata budaya yang masuk KEN di Provinsi Banten hanya Kabupaten Lebak, antara lain wisata Budaya Seba Baduy, Wisata Budaya Seren Taun, dan Wisata Budaya Festival Seni Multatuli (FSM).

“Kami yakin dari tiga wisata berbasis budaya itu dapat mengundang wisatawan domestik dan mancanegara, sehingga mampu meningkatkan perekonomian, lapangan pekerjaan dan menumbuhkan pelaku UMKM,” katanya pula.

(ddn/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Monumen Rawagede di Karawang, Dark Heritage Simpan Luka Sejarah



Jakarta

Monumen Rawagede, destinasi dark heritage di Karawang, mengenang tragedi pembantaian 1947. Pengunjung dapat belajar sejarah dan berziarah di makam korban.

Monumen ini berlokasi di Dusun Rawagede, Desa Rawagede, Kecamatan Rawamerta, Karawang, Jawa Barat. Monumen tersebut didirikan untuk mengenang tragedi pembantaian yang terjadi pada tahun 1947.

Dalam insiden tragis itu sekitar 431 warga sipil laki-laki, yang usianya berkisar mulai dari 15 tahun, tewas.


Di dalam kompleks monumen, para pengunjung dapat menyaksikan patung-patung, diorama yang menggambarkan suasana pembantaian, serta foto-foto dokumentasi kunjungan pemerintah dan sosok penting Kapten Lukas, yang memainkan peran besar dalam peristiwa tersebut.

Monumen Rawagede beroperasi mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Untuk masuk ke area monumen, pengunjung dikenakan biaya tiket sebesar Rp 2.500, belum termasuk biaya parkir.

Meski harga tiketnya relatif terjangkau, namun pengalaman yang didapatkan dari kunjungan ke monumen itu sangat mendalam. Terutama, bagi mereka yang ingin mengetahui lebih dalam tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah.

Sejarah Monumen Rawagede

Monumen Rawagede merupakan salah satu destinasi yang dikategorikan sebagai wisata dark heritage di Indonesia yang menyimpan kisah tragis dari masa lalu. (Asti Azhari/detikcom)

Dark heritage ini menjadi destinasi wisata sejarah berkat usulan masyarakat setempat dan dipelopori oleh Bapak K. Sukarman HD, yang kala itu menjabat sebagai lurah. Dengan dukungan dari pemerintah daerah, monumen ini resmi dibuka pada 9 Desember 1996. Selain berfungsi sebagai tempat peringatan, monumen ini juga berperan sebagai sarana edukasi mengenai tragedi Rawagede, mencakup peristiwa sebelum dan setelah tragedi tersebut terjadi.

Menurut Sukarman, mantan lurah yang kini berusia 75 tahun, Monumen Rawagede awalnya dibangun sebagai tempat pemakaman bagi para korban pembantaian.

“Awalnya dibuat pemakaman dulu, jasad para korban yang dikebumikan di depan rumahnya masing-masing dipindahkan agar anak cucu generasi bangsa tahu bahwa ada peristiwa ini, sekaligus menghormati jasad para korban pembantaian,” kata Sukarman kepada tim detikTravel dalam perbincangan dengan detikTravel pada 4 Oktober 2024.

Peristiwa tragis itu bermula ketika Belanda mencari keberadaan Kapten Lukas, seorang pejuang yang melarikan diri ke Rawagede. Sayangnya, tidak ada satu pun warga yang memberikan informasi kepada serdadu Belanda.

“Salah satu penyebab pembantaian adalah, tak ada satu pun warga yang menjawab pertanyaan serdadu Belanda yang bertanya di mana Kapten Lukas berada dan para pejuang lainnya. Masyarakat memilih bungkam, meski mengetahui keberadaan Kapten Lukas dan para pejuang,” ujar Sukarman.

Akibat keheningan warga, tentara Belanda langsung menembaki warga yang telah dikumpulkan. Tragedi ini membuat sungai di sekitar Rawagede berubah menjadi merah darah, karena beberapa jasad korban dibuang ke sungai. Sukarman juga menggambarkan bagaimana para istri korban terpaksa mengubur jasad suami dan anak mereka dengan kain seadanya.

“Jasad dikubur di lubang yang tidak lebih dari 50 cm, hingga sore hari bau busuk mulai tercium,” ujar Sukarman.

Di dalam kompleks Monumen Rawagede, terdapat sekitar 181 makam korban pembantaian. Para pengunjung, termasuk traveler yang tertarik pada wisata sejarah, dapat berziarah dan mendoakan para korban di makam-makam tersebut. Setiap makam telah mendapatkan izin dari keluarga korban, sebagai bentuk penghormatan terhadap mereka yang gugur dalam peristiwa tersebut.

Salah satu pengunjung dari Karawang Barat, Fajar, mengungkapkan bahwa rasa penasaran terhadap sejarah pembantaian Rawagede membuatnya tertarik kembali mengunjungi Monumen Rawagede. Menurutnya, kunjungan sebelumnya hanya singkat dan ia belum sempat mengeksplorasi monumen secara menyeluruh.

“Penasaran sih, karena sebelumnya pernah ke sini tapi cuma sebentar, hanya sampai ke area makam, belum masuk ke monumennya,” ujar Fajar.

Saat berkunjung ke monumen tersebut, Fajar merasakan kesan yang cukup unik. “Kesan saya sih agak mistis, karena banyak makam korban pembantaian di sini, jadi sedikit merinding. Tapi, suasana terasa adem juga karena banyak pepohonan,” ujar dia.

Menurut Sukarman, monumen ini sering dikunjungi oleh pelajar dari berbagai jenjang, mulai dari TK hingga mahasiswa, serta para peneliti yang tertarik mempelajari lebih lanjut mengenai sejarah perjuangan bangsa.

Pendanaan untuk operasional dan perawatan monumen didukung oleh Yayasan Rawagede, dengan anggaran dari pemerintah Kabupaten Karawang serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karawang, yang bekerja sama dengan pemerintah daerah. Perbaikan dan pelestarian fasilitas di monumen ini juga melibatkan peran aktif masyarakat lokal.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Yang Liburan ke Jambi, Buang Sampah Sembarangan Didenda Rp 50 Juta



Jakarta

Jambi punya Gunung Kerinci sebagai destinasi alam yang ikonik. Tak banyak yang tahu, kalau Jambi punya peraturan khusus soal buang sampah.

Pada tahun 2019, Kota Jambi pernah geger dengan berita tentang seorang warga bernama Ali Johan Slamet. Pria itu didenda sebanyak Rp 20 juta karena kepergok membuang sampah sembarangan dengan mobil pikap.

Aksinya kepergok oleh Satpol PP. Kemudian memilih untuk membayar denda sebanyak Rp 20 juta dari pada dipenjara selama 45 hari.


Peraturan Daerah (Perda) Kota Jambi mengatur tentang larangan membuang sampah sembarangan lewat Perda Kota Jambi Nomor 8 Tahun 2013 dan Perda Kota Jambi Nomor 5 Tahun 2020. Perda ini mengatur jadwal pembuangan sampah, tempat pembuangan sampah, serta sanksi bagi pelanggar.

Perda ini mengatur jadwal pembuangan sampah, yakni pukul 18.00 hingga 08.00 WIB. Siapa pun yang melanggar akan dikenakan denda hingga Rp 50 juta, termasuk wisatawan.

Wisatawan yang ingin liburan ke Jambi harus tahu bahwa ada lokasi atau tempat yang tidak diperuntukkan sebagai tempat pembuangan sampah. Buanglah sampah pada tempat yang telah ditetapkan.

“Perda ini mengatur Pengelolaan Sampah, yang meliputi: Maksud dan Tujuan; Ruang Lingkup; Kebijakan, Strategi dan Perencanaan; Tugas. Wewenang dan Tanggungjawab Pemerintah Daerah; Perizinan; Penyelenggaraan Pengelolaan Sampah; Pengelolaan Sampah Spesifik; Perbuatan yang Dilarang; Lembaga Pengelola; Pembiayaan dan Kompensasi; Kerja Sama dan Kemitraan; Insentif; Sistem Informasi ; Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan; Peran Masyarakat; Pembinaan dan Pengawasan; Penyelesaian Sengketa; Penyidikan; Sanksi Administratif; Ketentuan Pidana,” tulis Badan Pemeriksa Keuangan RI dalam situs resminya.

Lewat perda ini, Jambi ingin menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan kota. Wajar saja, Jambi punya banyak tempat wisata alam yang indah dan perlu dijaga.

Beberapa tempat wisata yang bisa traveler kunjungi di Jambi adalah Danau Tujuh Gunung, Geopark Merangin, Air Terjun Arai Indah, Candi Muaro Jambi, Danau Kaco, dan Air Terjun Kolam Jodoh. Saat liburan ke sini, jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan, ya.

(bnl/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Di Kampung Ini Jalak Bali Dikonservasi dengan Adat dan Gotong-royong Warga



Tabanan

Jalak bali nyaris punah. Di kampung ini, satwa itu dilindungi lewat adat.

Adalah di Banjar Tingkihkerep, Desa Tengkudak, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, jalak bali mempunyai rumah. Di kampung itu dilakukan konservasi jalak bali berbasis kekuatan hukum adat yang ditaati masyarakat setempat.

Bendesa Adat Tengkudak, I Nyoman Oka Tridadi, menyebutkan bahwa Banjar Tingkihkerep memiliki awig-awig (aturan adat) khusus yang melindungi lingkungan dan habitat jalak Bali. Salah satu aturan pentingnya adalah larangan menebang pohon tanpa izin. Jika dilanggar, pelakunya diwajibkan menanam dua pohon pengganti, terutama pohon buah-buahan yang bisa menjadi sumber pakan bagi burung jalak Bali.


“Kalau ada warga, bahkan dari luar banjar, yang nebang pohon, dia harus tanam dua pohon. Terutama yang bisa jadi makanan jalak Bali,” ujar Oka Tridadi, Minggu (8/6/2025), dikutip dari detikbali.

Menariknya, aturan pelestarian itu hanya berlaku di Banjar Tingkihkerep dan tidak diberlakukan di banjar adat lain di desa tersebut.

“Masyarakat di sini memang memiliki semangat tinggi dalam menjaga satwa dan lingkungan sekitarnya,” Oka menambahkan.

Banjar Tingkihkerep bukan dipilih secara sembarangan sebagai lokasi konservasi. Project Manager dari Yayasan FNPF I Made Sugiarta mengatakan bahwa pemilihan lokasi dilakukan setelah observasi mendalam, mempertimbangkan faktor geografis, kekuatan hukum adat, dan karakter masyarakatnya.

burung jalak Bali di Kampung Jalak Bali, Banjar Tingkihkerep, Desa Tengkudak, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Minggu (8/6/2025). (I Dewa Made Krisna Pradipta)burung jalak Bali di Kampung Jalak Bali, Banjar Tingkihkerep, Desa Tengkudak, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Minggu (8/6/2025). (I Dewa Made Krisna Pradipta)

“Kampung Jalak Bali ini bukan sekadar tempat wisata, tapi kawasan konservasi berbasis edukasi. Hanya saja, yang masih kurang itu ruang informasi. Jadi wisatawan belum terlalu paham soal karakter atau perkembangan jalak Bali di sini,” ujarnya.

Yayasan FNPF bekerja sama dengan Balai KSDA dan sejumlah akademisi Universitas Udayana dalam program ini, yang kini menjadi salah satu contoh konservasi berbasis masyarakat yang berhasil.

Camat Penebel, I Putu Agus Hendra Manik Mastawa, menilai keberadaan Kampung Jalak Bali sangat potensial untuk menjadi destinasi pendukung pariwisata Jatiluwih yang telah mendunia sebagai warisan budaya UNESCO.

“Desa Jatiluwih itu ikonnya Penebel. Nah, desa-desa di sekitarnya, seperti Tengkudak, bisa jadi penyangga. Apalagi Kampung Jalak Bali ini punya konsep yang sangat menarik dan ramah lingkungan,” kata dia.

Kecamatan juga terus menggali potensi lokal lainnya, mulai dari pertanian, budidaya kopi, durian, lebah madu, hingga wisata religi untuk memperkuat daya tarik kawasan Penebel secara keseluruhan.

Saat ini, tantangan utama yang dihadapi Kampung Jalak Bali adalah minimnya fasilitas dasar untuk wisatawan, seperti ruang informasi dan toilet. Manik Mastawa akan mengusulkan kebutuhan ini kepada Dinas Pariwisata Tabanan agar bisa segera direalisasikan.

“Saya rasa ini wajib ada, dan akan kami sampaikan ke pemerintah daerah,” kata dia.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Jelajahi Gresik, Temukan Keindahan Wisata Religi dan Industri yang Menarik



Gresik

Gresik merupakan sebuah kota di Jawa Timur, dikenal luas sebagai Kota Santri sekaligus Kota Industri yang berkembang. Dua identitas ini menjadikan Gresik sebagai destinasi yang menarik, karena mampu memadukan kekayaan spiritual dengan kemajuan modern.

Keunikan inilah yang membuat Gresik banyak dikunjungi oleh wisatawan, terutama mereka yang ingin mendapatkan pengalaman baru dalam hal religi dan perkembangan daerahnya.

Wisata Religi yang Sarat Makna Sejarah

Sebagai salah satu gerbang awal penyebaran Islam di Pulau Jawa, Gresik memiliki berbagai situs religi yang tidak hanya bersejarah, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang mendalam.


Makam Sunan Maulana Malik Ibrahim

Sunan Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh penting dalam penyebaran agama Islam di Jawa pada abad ke-14. Makam beliau terletak di pusat kota Gresik dan dikenal karena batu nisannya yang menyerupai lunas kapal dan terbuat dari marmer Gujarat. Lokasinya mudah diakses dan terbuka untuk umum selama 24 jam tanpa dipungut biaya.

Bacapres Anies Baswedan ziarah ke makam Sunan Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Ziarah tersebut bertepatan dengan Haul Sunan Gresik.Makam Sunan Maulana Malik Ibrahim. (Jemmi Purwodianto/detikJatim)

Makam Sunan Giri dan Masjid Giri Kedaton

Tempat ini menjadi salah satu tujuan ziarah utama, sekaligus pusat dakwah Islam yang telah berdiri sejak tahun 1487. Berada di Bukit Giri, pengunjung dapat menikmati panorama kota Gresik hingga kawasan pesisir dari ketinggian.

Bangunan masjidnya pun masih mempertahankan ukiran kayu asli yang telah berusia lebih dari lima abad.

Makam Nyai Ageng Pinatih dan Siti Fatimah binti Maimun

Kedua makam ini merupakan situs ziarah tertua di kawasan Asia Tenggara. Terutama Makam Siti Fatimah, yang memiliki kubah bergaya arsitektur Hindu-Buddha, menjadi bukti awal masuknya Islam ke Nusantara sejak abad ke-11.

Makam Nyai Pinatih GresikMakam Nyai Pinatih Gresik. (SIDITA JATIM)

Selain kegiatan ziarah, wisatawan juga dapat mencicipi kuliner khas Gresik seperti nasi krawu dan otak-otak bandeng, yang memperkaya pengalaman spiritual dengan cita rasa lokal yang autentik.

Industri Modern yang Mendorong Pertumbuhan

Di balik sisi spiritualnya, Gresik juga merupakan salah satu pusat industri terbesar di Indonesia. Salah satu kawasan unggulan adalah JIIPE (Java Integrated Industrial and Ports Estate), kawasan industri terpadu yang menggabungkan zona industri, pelabuhan laut, dan pemukiman modern.

Sejak diresmikan pada tahun 2018, JIIPE menjadi rumah bagi ratusan industri, serta memiliki akses langsung ke jalur tol, Bandara Internasional Juanda, dan Pelabuhan Tanjung Perak. Kawasan ini menjadi salah satu penggerak utama roda ekonomi di wilayah Jawa Timur.

Selain itu, industri besar seperti Semen Gresik dan Petrokimia Gresik memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri. Semen Gresik menyumbang sekitar 41% dari total pasokan semen nasional, sementara Petrokimia Gresik memasok sekitar 50% pupuk bersubsidi di Indonesia.

Gresik menunjukkan bahwa kemajuan industri dan kekuatan spiritual dapat berjalan beriringan, menjadikannya kota yang terus berkembang tanpa melupakan akar budayanya.

Integrasi Religi dan Industri dalam Pembangunan Daerah

Identitas Gresik sebagai kota yang religius dan sekaligus industrial telah terbangun sejak lama. Pemerintah daerah terus mengembangkan konsep wisata religi terintegrasi, yang tidak hanya menghubungkan tempat-tempat ziarah, tetapi juga melibatkan pelaku UMKM lokal dan kawasan industri dalam satu jalur wisata yang tertata dengan baik.

Salah satu gagasan andalan Pemkab Gresik adalah membentuk konsep jalur sutra lokal, yang mengintegrasikan budaya, ekonomi kreatif, dan nilai religius sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.

Dengan keunikan ini, Gresik menjadi pilihan ideal bagi wisatawan yang ingin memahami jejak sejarah dan nilai-nilai keagamaan, sambil melihat langsung dinamika industri modern yang berkembang di tanah Jawa Timur.

(upd/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Prosesi Jejak Banon Keraton Yogya, saat Sri Sultan Menjadi Lambang Hijrah



Jakarta

Sri Sultan Hamengku Buwono X melakukan Jejak Banon yang sakral dan sangat langka pada Kamis (4/9/2025) malam. Prosesi yang dilaksanakan 8 tahun sekali ini adalah bagian dari tradisi Sekaten memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Jejak Banon punya makna sangat dalam.

“Prosesi Jejak Banon atau Jejak Beteng adalah tradisi sarat makna yang diwariskan turun-temurun. Tradisi ini melambangkan keberanian menapaki perubahan hidup berlandaskan ajaran Islam dan lahirnya tatanan masyarakat baru,” tulis Portal Pemerintah Daerah DI Yogyakarta dalam situsnya.


Jejak Banon artinya adalah menjejak atau menghancurkan tumpukan bata dalam bahasa Indonesia. Prosesi ini dilakukan di sisi selatan Masjid Gedhe, yang berada di kompleks Alun-alun utara Kasultanan Yogyakarta. Sri Sultan melangkahkan kaki di atas tumpukan batu batu ketika sudah dihancurkan.

Prosesi Jejak Banon saat Hajad Dalem Sekaten, Kamis (4/9/2025) malam. Prosesi ini dilakukan setiap delapan tahun atau sewindu sekali.Prosesi Jejak Banon pada Kamis (4/9/2025) malam Foto: dok. Humas Pemda DIY

Menurut Koordinator Rangkaian Prosesi Garebeg Mulud Dal 1959, KRT Kusumonegoro, Jejak Banon atau Jejak Beteng adalah simbol keberanian dan spiritualisme. Ketika itu, para leluhur berani menghadapi perubahan tanpa meninggalkan akar budaya yang dilanjutkan Sri Sultan sebagai pemimpin keraton saat ini.

Jejak Banon juga memiliki arti penting sebagai pengingat sejarah panjang dakwah Islam di Tanah Jawa. Penyebaran Islam dilakukan dengan cara damai dan bijaksana, sehingga ajaran bisa diterima seluruh lapisan masyarakat. Tidak heran ajaran Islam dan prosesi Jejak Banon masih lestari di Yogya.

Seluruh prosesi Jejak Banon dilakukan dalam suasana khidmat, tanpa mengurangi rasa penasaran masyarakat yang menyaksikan. Sri Sultan hadir dengan balutan baju takwa biru bermotif bunga di Kompleks Masjid Gedhe tepat saat Jejak Banon hendak dimulai. Sri Sultan yang juga Gubernur DI Yogyakarta ini hadir bersama para kerabat keraton.

Jejak Banon diawali dengan pembagian udhik-udhik berisi bunga, uang koin, dan biji-bijian. Masyarakat tampak antusias menerima bingkisan yang dipercaya membawa keberuntungan dan berkah ini. Setelah itu, Sri Sultan memasuki teras masjid untuk mengikuti tradisi pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW.

Riwayat yang dibacakan dalam bahasa Jawa ini dipimpin Kiai Penghulu Keraton. Tentunya, proses yang diyakini bertepatan dengan momen kelahiran Nabi Muhammad SAW ini dilakukan dengan khidmat dan hening penuh penghayatan.

Setelah Jejak Banon, gamelan Sekati Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga yang mengiringi proses dikembalikan ke keraton melalui prosesi Kondur Gangsa. Tahapan ini menandai berakhirnya perayaan Sekaten, sekaligus pengantar menuju puncak Garebeg Mulud Tahun Dal.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com