Tag Archives: pemerintah

7 Spot Tercantik di Raja Ampat yang Wajib Kamu Lihat Sebelum Terlambat


Jakarta

Raja Ampat belakangan ramai diperbincangkan karena menjadi lokasi tambang nikel. Eksploitasi ini berdampak buruk pada kebersihan lingkungan, keanekaragaman hayati, keberlangsungan pulau, dan kehidupan masyarakat Raja Ampat.

Bahkan, bukan tidak mungkin pulau-pulau di Raja Ampat menghilang akibat abrasi karena penggalian nikel terus menerus. Nah, sebelum kondisi Raja Ampat berubah karena penggalian tambang ada baiknya detikers segera menikmati pesona kepulauan ini.

7 Spot Tercantik di Raja Ampat

Dikutip dari arsip detiktravel, berikut destinasi wisata yang bisa dikunjungi secepatnya sebelum keindahan Raja Ampat berubah


1. Pulau Wayag

Gugusan pulau karst di Raja AmpatGugusan pulau karst di Raja Ampat Foto: (Anton Chandra/d’Traveler)

Di antara banyak pulau di Raja Ampat, Pulau Wayag bisa dikatakan menjadi yang paling ikonik. Pulau Wayag terkenal dengan puncak karang lancip di tengah laut biru hijau yang mempesona. Pemandangan indah Pulau Wayag makin sempurna jika disaksikan dari atas bukit.

2. Pulau Piaynemo

bukit karst piaynemoBukit karst Piaynemo Foto: Kata Waktu

Nama Pulau Piaynemo makin dikenal setelah kerap disebut nama kasus tambang nikel Raja Ampat. Piaynemo mirip Wayag sehingga kerap disebut Wayag Mini karena memang berukuran lebih kecil. Bukit karang dan laut hijau-biru bikin turis berdecak kagum serta tidak bosan.

3. Pulau Misool

MisoolPulau Misool (Ryan Febrian/d’Traveler)

Misool adalah bagian dari kawasan Segitiga Terumbu Dunia (Coral Triangle) dengan biodiversity flora dan fauna. Tak heran jika Misool menjadi destinasi wisata paling populer untuk diving dan snorkeling. Menyelam di laut Pulau Misool akan jadi pengalaman tak terlupakan seumur hidup.

4. Telaga Bintang

Piaynemo dan Telaga Bintang Raja AmpatTelaga Bintang (star lagoon) Raja Ampat Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom

Lanskap alam ini adalah danau air laut yang tidak terlalu besar (lagoon) berbentuk bintang. Danau dikelilingi karang dengan air laut sangat jernih. Spot ini cocok untuk wisatawan yang ingin merasakan sejuknya air laut dengan berenang, atau menikmati kekayaan hewan dan tumbuhan bawah laut.

5. Batu Pensil

Batu Pensil di Teluk Kabui Raja AmpatBatu Pensil di Teluk Kabui Raja Ampat (Wahyu Setyo Widodo)

Seperti namanya, karang ini menjulang tinggi dengan ujung agak lancip mirip ujung pensil. Dengan bentuk yang khas ini, Batu Pensil menjadi ikon Raja Ampat dan sangat populer sebagai spot foto. Spot Batu Pensil ini makin menonjol karena dikelilingi laut biru jernih.

6. Pasir Timbul

Pasir timbul Raja AmpatPasir Timbul Raja Ampat (Gema Bayu Samudra/d’Traveler)

Di Raja Ampat, pasir pantai bisa ditemukan muncul di tengah lautan. Pasir Timbul ini bisa terlihat saat air laut surut menjadi daratan sendiri, seperti fenomena Tanah Lot di Bali. Seperti Batu Pensil, Pasir Timbul menjadi spot ikonik Kepulauan Raja Ampat di Papua Barat Daya.

7. Desa Wisata Arborek

Desa Wisata ArborekDesa Wisata Arborek (Kampung Wisata Arborek/Instagram)

Kawasan ini menyimpan informasi budaya asli masyrakat Raja Ampat. Wisatawan bisa nginep di homestay yang dikelola warga setempat, sambil melihat dari dekat aktivitas mereka sehari-hari. Tentunya Dewa Wisata Arborek dikelilingi pantai indah dengan laut jernih dan pasir putih.

Pemerintah belakangan telah mencabut Izin Usaha Pertambangan (IUP) perusahaan di Raja Ampat. Namun IUP satu perusahaan belum dicabut, meski pemerintah mengatakan akan mengawasi ketat. Dengan kondisi ini, tak ada salahnya kamu menempatkan Raja Ampat dalam wish list liburan kamu.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

Berkenalan dengan Endang Sumitra, Orang Bogor yang Melayani 6 Presiden



Jakarta

Endang Sumitra mungkin bukan nama yang akrab di panggung politik nasional, tetapi pria asal Bogor itu mempunyai rekam jejak luar biasa, yakni melayani enam presiden Indonesia. Selama 36 tahun, ia menjadi saksi bisu dinamika kekuasaan, dari era Soeharto hingga Joko Widodo.

detiktravel berjumpa dengan Endang saat napak tilas untuk menandai ulang tahun Bogor ke-543 pada Sabtu (7/6/2025). Agenda itu tergolong istimewa.

Acara yang diikuti lebih dari 30 peserta tersebut menyuguhkan kisah dan akar sejarah Bogor, sejak masa Kerajaan Salakanagara, pusat budaya Pajajaran, hingga dikenal dunia sebagai Buitenzorg.


Riwayat nan panjang itu disampaikan dalam narasi hangat oleh pendiri Komunitas Japas (Jalan Pagi Sejarah) Jhonny Pinot dan Abdullah Abubakar Batarfie. Namun, yang paling menarik dan membuat peserta antusias adalah tuturan Endang. Dia pernah mengabdi di lingkungan Istana Bogor sejak 1982 hingga 2018.

Endang Sumitra, mantan Kasubag Rumah Tangga dan Protokol Istana BogorKomunitas Jalan Pagi Sejarah (Japas) menyimak paparan tentang riwayat Bogor dari Endang Sumitra, mantan Kasubag Rumah Tangga dan Protokol Istana Bogor (Sudrajat / detikcom)

Lelaki kelahiran April 1960 itu cukup fasih memaparkan riwayat Istana dan jejak-jejak peradaban yang membentuk wajah Bogor. Juga kisah-kisah humanis saat dia berinteraksi langsung dengan para presiden, mulai Soeharto, BJ Habibie, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Joko Widodo.

“Begitu lulus SMA di Bogor pada 1982 saya bekerja di Istana mengikuti jejak Bapak, Kakek, dan Buyut,” kata Endang yang jabatan terakhirnya Kepala Sub Bagian Rumah Tangga dan Protokol Istana Bogor saat berbincang dengan detiktravel di sela-sela acara napak tilas.

Buyutnya, ia melanjutkan, pernah menjadi Mandor Taman Kebun Raya dan Istana di era Gubernur Jenderal Alidius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh-Stachouwer yang berkuasa di Bogor pada 1936 – 1942. “Kalau Bapak saya pernah jadi sopir pribadi Ibu Fatmawati,” kata Endang.

Hal itu berlangsung sejak Fatmawati keluar dari Istana sebagai bentuk protes atas keputusan Presiden Sukarno yang menikahi Hartini pada Juli 1953. Fatmawati tinggal di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan.

Meski cuma berijazah SMA, Endang mengaku rutin mengikuti pelatihan, pembekalan dan penyegaran terkait keprotokoleran tingkat nasional yang digelar oleh Rumah Tangga Istana dan Departemen Luar Negeri. Pesertanya, selain para pegawai Istana Negara dan Merdeka di Jakarta, juga pegawai Istana Bogor, Cipanas, Yogyakarta, dan Bali. Dari lingkungan pemerintahan ada perwakilan dari segenap departemen dan lembaga negara, serta pemerintah provinsi.

“Saya ikut terus sejak Kepala Rumah Tangga Istana dijabat Brigjen Sampurno, Pak Joop Ave, dan Pak Maftuh Basyuni,” ujarnya.

Endang Sumitra mengisahkan riwayat pembangunan Istana Bogor hingga kisah-kisah humanis para presiden yang pernah dilayaninya.Endang Sumitra mengisahkan riwayat pembangunan Istana Bogor hingga kisah-kisah humanis para presiden yang pernah dilayaninya. (Sudrajat / detikcom)

Pada 1992/93, atas perintah Ii Atikah Sumantri (Kepala Istana Bogor), Endang melanjutkan kuliah ke Fakultas Hukum Universitas Pakuan. Ia mengambil jurusan Hukum Tata Negara dengan pengajar antara lain Prof Paulus Effendi Lotulung.

“Karena kuliah sambil kerja, saya baru wisuda pada 1998 setelah Pak Harto lengser,” ujarnya.

Terkait interaksinya dengan Presiden Soeharto, Endang mengklaim dirinya sebagai orang yang kerap diminta ajudan dan anggota paspampres agar tak jauh-jauh dari lingkaran penguasa Orde Baru itu setiap ke Istana atau ke peternakan di Tapos. Kenapa?

“Karena saya yang bertugas menjinjing wireless TOA. Kalau berjarak lima meter saja suara Pak Harto pasti tak terdengar oleh hadirin,” kata Endang disambut tawa.

Kalau dengan Gus Dur, ia melanjutkan, dirinya yang mengatur prosesi pemotongan dan pengolahan daging rusa menjadi sate. Kalau pelayan menyiapkan lima tusuk sate rusa untuk Gus Dur, Endang dipastikan akan menguranginya atas perintah Ibu Sinta Nuriyah menjadi dua tusuk saja. Hal itu dilakukan untuk menjaga kesehatan Gus Dur.

Dari enam presiden yang pernah dilayaninya, Endang mengaku paling intens berinteraksi dengan Jokowi. Sebab Presiden ketujuh RI itu sejak 2015 sehari-harinya tinggal di pavilion Dyah Bayurini di kompleks Istana Bogor. Jokowi yang menugaskannya menanam aneka bunga warna-warni dan pohon merambat agar lingkungan Istana terkesan menyatu dengan Kebun Raya.

“Sejak era Pak Harto, entah kenapa kami dilarang menanam perdu atau tanaman merambat. Juga dilarang menanam pohon yang berduri, seperti bunga mawar. Sekalipun harum dan warnanya indah, karena berduri kami tak menanamnya,” ungkap Endang.

Ia juga yang diminta mendatangkan para pedagang angkringan ke halaman Istana setiap kali Presiden Jokowi menggelar sidang kabinet.

“Bapak bilang lebih murah dan lebih enak ketimbang menu katering,” ujar Endang.

(fem/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Yuk, Ziarah ke Rumah Legenda Si Pitung, Sang Jawara Betawi



Jakarta

Si Pitung, jawara legendaris Betawi, bukan sekadar kisah masa lalu, namanya masih menggema hingga kini. Jejak hidupnya bisa disusuri langsung di Rumah Si Pitung di Marunda, saksi bisu perjuangan sang Robin Hood-nya Jakarta.

Konon, Si Pitung disebut sebagai jawara asal Jakarta yang banyak membela masyarakat dan berani menentang Belanda. Selain itu, jejak peninggalan Pitung juga bisa ditelusuri di Rumah Si Pitung yang berada di Jakarta Utara.

Objek wisata itu kerap dikunjungi oleh para pelajar hingga mahasiswa yang ingin melihat bangunan rumah panggung tersebut. Dengan sejarah yang melekat pada bangunan ini, jadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang berkunjung ke Rumah Si Pitung.


Fakta-fakta Rumah Si Pitung:

1. Bukan Rumah Si Pitung Asli

Kendati namanya Rumah Si Pitung, ternyata bangunan itu bukan rumah yang ditinggali oleh si Pitung. Rumah Si Pitung dulu adalah rumah milik Haji Marsani. Dulu rumah itu disinggahi Pitung untuk menghindar dari kejaran Belanda.

2. Siapakah Sebenarnya si Pitung

Banyak versi berkembang tentang legenda si Pitung. Ada yang menyebut Pitung merupakan nama atau julukan dari seseorang, tetapi ada juga yang menyebut bahwa si Pitung ini merupakan nama sebuah kelompok.

Nah jika penasaran dengan versi-versi cerita si Pitung ini bisa langsung datang ke Rumah Si Pitung dan minta untuk dijelaskan oleh guide di sana tentang cerita-cerita legenda si Pitung ini.

3. Rumah Si Pitung Bukan Rumah Adat Betawi

Karena si Pitung merupakan legenda asal Betawi dan nama objek wisata ini Rumah Si Pitung, bukan berarti rumah tersebut bergaya arsitektur rumah khas orang Betawi. Rumah itu merupakan rumah khas orang-orang Kalimantan.

4. Sering Terkena Banjir, Rumah Si Pitung Ditinggikan

Berada di wilayah yang kerap langganan banjir, Rumah Si Pitung pun beberapa kali ditinggikan untuk dasar rumahnya. Bukan tinggi tiang panggungnya yang semakin tinggi, namun ada penambahan beton di bawah rumah tersebut agar tidak dimakan oleh banjir.

5. Dipelopori Ali Sadikin

Rumah itu diberi nama Rumah Si Pitung dan menjadi cagar budaya pada saat Ali Sadikin menjabat sebagai Gubernur Jakarta. Pada 1970-an, Ali mencari bangunan-bangunan tua untuk dijadikan cagar budaya dan ditemukan rumah itu. Saat perwakilan Pemprov DKI melakukan survey didapatilah rumah itu dan dinilai memenuhi syarat untuk jadi cagar budaya dan kebetulan juga pernah punya cerita sempat disinggahi si Pitung.

Rumah itu pun kemudian dibeli oleh pemerintah dan diberi nama Rumah Si Pitung itu untuk daya tarik pengunjung.

6. Alamat

Rumah Si Pitung berada di Jalan Kampung Marunda Pulo, RT.2/RW.7, Marunda, Kecamatan Cilincing, Kota Jakarta Utara. Lokasinya berada di kawasan wisata Marunda, Jakarta Utara, dan merupakan salah satu dari sedikit rumah panggung Betawi yang tersisa.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Wisata Gresik Wajib Dikunjungi, Mulai Keindahan Alam hingga Sejarah Kota



Gresik

Gresik di Jawa Timur merupakan salah satu daerah yang memiliki kekayaan wisata yang patut dikunjungi. Mulai dari keindahan alam, jejak sejarah, wisata religi, hingga sajian kuliner khas semuanya berpadu menjadikan Gresik sebagai tempat liburan yang menarik.

Dari catatan detikcom, Gresik memiliki lebih dari 130 titik wisata yang telah dikembangkan. Pemerintah daerah juga membaginya dalam beberapa kategori seperti wisata alam, religi, sejarah, belanja, kuliner, hingga wisata edukatif.

1. Setigi (Selo Tirto Giri)

Setigi adalah singkatan dari Selo (batu), Tirto (air), dan Giri (bukit), menggambarkan kondisi geografis kawasan ini yang dikelilingi oleh batuan kapur, bukit, dan danau. Lokasinya berada di Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah.


Sebelumnya, kawasan ini merupakan area bekas tambang dan tempat pembuangan sampah. Namun, melalui inisiatif masyarakat setempat, lahan ini disulap menjadi destinasi wisata yang edukatif dan Instagramable.

Berwisata ke gunung atau pantai mungkin sudah biasa dilakukan. Pernahkah detikers main ke wisata bekas tambang?Objek wisata Setigi di Gresik. (Instagram/@wisatasetigi)

Objek wisata ini menawarkan berbagai daya tarik, seperti telaga warna, Goa Pancawarna, patung Semar, jembatan peradaban, miniatur masjid Persia, air terjun buatan, hingga Candi Topeng Nusantara. Selain itu, tersedia juga kios kuliner dengan harga terjangkau.

Jam Operasional: Setiap hari, pukul 08.00-17.00 WIB

Harga Tiket: Dewasa Rp15.000, anak-anak Rp10.000

2. Lontar Sewu

Lontar Sewu merupakan kawasan eduwisata yang ramah keluarga. Terletak di Desa Hendrosari, Kecamatan Menganti, tempat ini menyediakan beragam wahana permainan untuk anak-anak dan dewasa, seperti bianglala, rumah balon, taman kelinci, flying fox, hingga carousel.

Wahana-wahana tersebut dapat dinikmati dengan tarif tambahan mulai dari Rp5.000-Rp25.000.

Jam Operasional: Setiap hari, pukul 08.00-21.00 WIB

Harga Tiket Masuk: Hari biasa Rp8.000, akhir pekan dan hari libur Rp10.000

3. Pantai Delegan

Pantai Delegan menyajikan pemandangan Laut Jawa dengan ombak yang relatif tenang. Meskipun tidak terlalu luas, pantai ini memiliki berbagai aktivitas menarik, seperti bermain pasir putih, berenang, menyewa banana boat atau perahu bebek, hingga bermain layang-layang.

Lokasi: Desa Dalegan, Kecamatan Panceng

pantai delegan gresikPantai Delegan Gresik. (Jemmi Purwodianto/detikJateng).

Jam Operasional: Setiap hari, pukul 07.00-17.00 WIB

Harga Tiket Masuk: Rp10.000

4. Makam Sunan Gresik

Sebagai salah satu kota dengan julukan Kota Santri Gresik dikenal melalui destinasi wisata religi. Salah satunya adalah Makam Sunan Maulana Malik Ibrahim, atau lebih dikenal sebagai Sunan Gresik, tokoh penyebar Islam pertama di Tanah Jawa.

Lokasi makam ini berada di pusat kota dan dikelilingi oleh pemakaman keluarga. Para peziarah juga kerap melanjutkan ibadah salat di Masjid kompleks makam.

Alamat: Jalan Malik Ibrahim, Desa Gapuro Sukolilo, Kota Gresik

Jam Operasional: 24 jam

Harga Tiket Masuk: Gratis

5. Pulau Bawean

Pulau Bawean merupakan salah satu destinasi unggulan yang berada sekitar 135 km di utara Gresik. Akses menuju pulau ini bisa ditempuh lewat Pelabuhan Gresik atau Pelabuhan Paciran, Lamongan.

Di Pulau Bawean, pengunjung dapat menjelajahi Pantai Gili, Pantai Mayangkara, Danau Kastoba, Air Terjun Laccar, dan banyak lagi. Suasana alami dan pesona pantainya menjadikan Bawean destinasi sempurna bagi pencinta alam.

Jam Operasional: 24 jam

Harga Tiket Masuk: Gratis

6. Telaga Ngipik

Berada di tengah kawasan industri Gresik, Telaga Ngipik menawarkan suasana hijau yang menenangkan. Luasnya sekitar 20 hektare, dengan pepohonan rindang dan danau yang cocok untuk piknik atau bersantai.

Saat sore hari, tempat ini kerap dipadati pengunjung yang ingin berburu spot foto terbaik.

Alamat: Jalan Siti Fatimah binti Maimun, dekat Kawasan Industri Gresik (KIG)

Berburu senja di Telaga Ngipik, GresikBerburu senja di Telaga Ngipik, Gresik. (Jemmy Purwodianto/detikJatim)

Jam Operasional: 24 jam

Tiket Masuk: Gratis (biaya parkir sekitar Rp2.500)

7. Giri Kedaton

Giri Kedaton merupakan peninggalan sejarah dari Sunan Giri, salah satu Walisongo, yang mendirikan pesantren dan pusat dakwah Islam pada tahun 1487. Berada di atas bukit dengan jalan cukup menanjak, tempat ini menyimpan nilai sejarah dan spiritualitas yang kuat.

Kini, Giri Kedaton menjadi tujuan wisata religi sekaligus pembelajaran sejarah.

Alamat: Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kebomas

Tiket Masuk: Gratis (hanya biaya parkir)

8. Banyuurip Mangrove Center

Wisata Banyuurip Mangrove Center menawarkan wisata edukatif berbasis ekologi. Hutan mangrove yang terletak di pesisir Ujungpangkah ini juga berfungsi sebagai kawasan konservasi dan sarana rekreasi.

Alamat: Desa Banyuurip, Kecamatan Ujungpangkah

Jam Operasional:

– Senin-Kamis: 08.00-16.00 WIB

– Jumat: 08.00-11.00 WIB & 13.00-16.00 WIB

– Akhir pekan: 08.00-16.00 WIB.

Harga tiket: bervariasi sesuai tiket wisata

9. Wisata Bajak Laut

Waterpark ini cocok untuk liburan keluarga. Terletak di Desa Masangan, Kecamatan Bungah, destinasi ini menawarkan wahana air dengan seluncuran berbentuk gurita raksasa.

Jam Operasional: Setiap hari, 08.00-17.00 WIB

Harga Tiket: Weekday Rp10.000, weekend Rp15.000

10. Pulau Gili Noko

Gili Noko adalah bagian dari Pulau Bawean, dengan pantai berpasir putih dan air laut jernih. Tempat ini sangat cocok untuk snorkeling atau sekadar bermain air karena kejernihannya memungkinkan wisatawan melihat langsung biota laut dari permukaan.

Pulau Gili-NokoPulau Gili-Noko. (Fariz Ilham Rosyidi/d’Traveler)

Alamat: Desa Sidogedungbatu, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean

Jam Operasional: 24 jam

Harga Tiket Masuk: Gratis

(upd/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Pesona Patung Rp 53 Miliar di Baubau, Sulawesi Tenggara Ini Faktanya!


Jakarta

Media sosial TikTok belakangan ramai dengan unggahan patung seharga Rp 53 miliar di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra). Sosok berkharisma yang diabadikan dalam patung ini ternyata adalah Sultan Himayatuddin Muhammad Saydi seorang Pahlawan Nasional. Pemberian gelar secara resmi tercantum dalam Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 120/TK/2019.

Dikutip dari Antara, bangunan ini disebut Patung Oputa Yii Koo yang merupakan gelar bagi Sulton Buton ke-20 dan ke-23. Total biaya ini memang sangat fantastis, bahkan situs Badan Penghubung Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara menyebut ongkos pembangunan mencapai Rp 60 miliar. Pembangunan dimulai sejak 2022 dengan APBD Provinsi Sultra.

Fakta Patung Oputa Yii Koo Rp 53 Miliar

Patung yang digadang-gadang menjadi ikon wisata terbaru di Baubau ini sudah selesai dibangun dan bisa dilihat secara utuh. Berikut beberapa fakta patung yang terlihat gagah ini


1. Apakah Rp 53 miliar terlalu mahal?

Pembangunan Patung Oputa Yii Koo di Baubau, Sulawesi TenggaraPembangunan Patung Oputa Yii Koo di Baubau, Sulawesi Tenggara (dok google maps September 2022)

Anggaran Rp 53 miliar memang sangat besar, namun patung ini diharapkan bisa memberi dampak positif bagi masyarakat Sultra. Area terbuka sekitar patung dapat digunakan untuk kegiatan sosial, menambah ruang publik baru bagi masyarakat, sekaligus menarik kunjungan wisata ke Baubau.

2. Lokasi patung di tepi pantai

Patung Oputa Yii Koo berlokasi di Kotamara, Kelurahan Kaobula, Kecamatan Batupoaro, Kota Baubau. Bangunan patung berada di tepi pantai menjorok ke laut berpadu dengan warna air laut biru hijau. Hasilnya, patung terlihat sangat indah dan sangat eyecatching serta Instagramable.

3. Patung terbuat dari perunggu dan tembaga

Penampakan Patung Oputa Yii Koo di Baubau, Sualwesi TenggaraPenampakan Patung Oputa Yii Koo di Baubau, Sualwesi Tenggara Foto: google maps Juli 2024

Bahan penyusun Patung Oputa Yii Koo adalah perunggu dan tembaga, sehingga menghasilkan warna merah orange yang khas. Patung dibangun setinggi 22-23 meter dengan pose jari telunjuk kanan menunjuk ke arah matahari terbenam di sebelah barat. Saat sunset, patung terlihat sangat indah dan epik sebagai latar foto.

4. Area patung nyaris mencapai satu hektare

Patung Oputa Yii Koo berdiri di layan seluas 8.897 m² atau 0,89 hektare. Pembangunan patung dilakukan dalam dua tahap dengan total dana Rp 17 miliar dan Rp 36 miliar. Tahap pertama fokus pada pembangunan pondasi di dalam laut, pemasangan plat, sekalian dengan dudukan patungnya. Selanjutnya adalah pembangunan patung hingga selesai.

5. Patung belum diresmikan

Bangunan Patung Oputa Yii Koo sudah selesai dibangun, namun belum diresmikan pemerintah setempat. Patung rencananya diresmikan pada 2024, namun belum dilaksanakan hingga kini. Selain menjadi ikon wisata, komplek Patung Oputa Yii Koo direncanakan punya museum dan ruang kantor.

(row/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Hati-hati di Tanjakan Cisarakan



Sukabumi

Traveler harap hati-hati jika melintas di tanjakan Cisarakan, Sukabumi. Bukan soal mistis, tapi ada banyak monyet-monyet yang bikin kaget.

Suara rem yang ditarik mendadak memecah keheningan siang. Ban berdecit, helm pengendara motor di depan kami sedikit terhuyung. Di depan motor, ada seekor monyet duduk tepat di garis putih tengah jalan.

Ekornya melingkar di aspal, matanya menatap tajam kendaraan yang mendekat tatapan yang entah menantang atau sekadar penasaran. Dari pagar besi di sisi kiri jalan, beberapa ekor monyet lain mengamati.


Ada monyet ekor panjang yang menguap, ada yang sibuk memeriksa bulu kawannya, ada juga yang tampak siap melompat ke badan jalan kapan saja.

Seperti itulah kira-kira situasi di Tanjakan Cisarakan yang berada di desa Buniwangi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Hutan tropis di kiri dan tebing batu berlumut di kanan menjadi latar alami yang kontras dengan aspal hitam yang panas tersorot matahari.

Dari pantauan di lokasi, kawanan monyet tersebut tidak terburu-buru. Mereka menyeberang jalan dengan santai. Bahkan kadang berhenti di tengah tanjakan atau turunan, seolah paham bahwa manusia akan mengalah.

Ada yang duduk diam sambil memegang potongan ranting, ada yang mengais sisa makanan dari plastik yang terbuang di pinggir jalan.

“Kalau sore lebih ramai lagi, suka tiba-tiba nyebrang. Makanya kalau lewat sini, gas jangan terlalu dalam,” kata I Supendi, seorang pengendara motor yang kami temui.

Ia mengaku sudah hafal kebiasaan kawanan ini, sehingga selalu menurunkan kecepatan saat melintas.

“Kalau yang saya takutin monyet ini tiba-tiba melompat. Kadang suka takut juga ya karena kondisi jalan raya langsung berdekatan dengan kawanan hewan liar itu. Namun sejauh ini hal itu belum terjadi,” ujarnya.

Warga menyebut perilaku berani monyet Cisarakan makin sering terjadi. Sebagian percaya, kebiasaan pengendara dan wisatawan memberi makan membuat mereka betah di jalur lalu lintas.

Serupa dengan kawasan Gunung Tangkil, di mana monyet liar sering terlihat di tepian hutan hingga bergelantungan di kabel listrik, di Cisarakan kawanan ini juga seolah menguasai jalur, menjadikan jalanan aspal seperti panggung harian untuk bertemu manusia.

Jalur yang Berbahaya

Jalan ini sendiri bukan sembarang jalan, tanjakan dan turunan curamnya adalah penghubung Cikidang – Palabuhanratu, kerap dilalui mobil wisata, truk barang, dan motor yang melaju kencang.

Kombinasi kelokan tajam dan satwa liar yang menyeberang tiba-tiba adalah resep berbahaya jika pengendara tidak waspada.

Dari balik kaca mobil, pemandangan ini memang mengundang rasa kagum seperti potongan film dokumenter yang diambil di hutan liar. Namun bedanya, ini adalah ruang yang dibagi antara mesin dan alam. Dan di sini, batas antara keduanya tipis sekali.

Peringatan untuk pengendara, kurangi kecepatan, jaga jarak, dan jangan memberi makan monyet di lokasi ini. Selain demi keselamatan di jalan, langkah itu juga penting untuk menjaga perilaku alami mereka di habitatnya.

Warga setempat berharap pemerintah atau pihak terkait memasang papan peringatan khusus di titik-titik rawan kemunculan monyet.

Dengan begitu, pengendara dari luar daerah akan siap mengantisipasi sejak awal, bukan kaget lalu mengerem mendadak di tengah tanjakan atau turunan.

“Kalau ada papan peringatan, kan pengendara dari luar daerah juga bisa siap-siap. Jangan sampai ngerem mendadak karena kaget,” tutur seorang warga.

Dengan sedikit kewaspadaan dan tanda peringatan yang jelas, pertemuan antara manusia dan satwa liar di jalur ini bisa tetap aman tanpa harus mengorbankan keselamatan ataupun merusak kebiasaan alami para monyet penghuni hutan Cisarakan.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Berproduksi Selama 140 Tahun, Cap Meong Jadi Legenda Tauco Cianjur



Jakarta

Kelezatan tauco Cap Meong bertahan sejak 1880 hingga sekarang. Dirintis suami – istri asal Tionghoa, usaha ini dikelola generasi kelima.

Saat traveler pelesiran ke Cianjur, Jawa Barat tak afdol kiranya bila tak menjadikan tauco sebagai oleh-oleh. Sebab, di kota inilah bumbu masak berbahan dasar fermentasi kacang kedelai ini pertama kali diproduksi, yakni sejak 1880.

Tak heran bila pemerintah daerah setempat sampai membuatkan tugu khusus berupa empat botol tauco berukuran jumbo di persimpangan Jalan Dr Muwardi dan Jalan HOS Cokroaminoto.

Orang yang pertama kali memperkenalkan tauco adalah pasangan imigran asal tionghoa, Tan Kei Hian (Babah Tasma) dan Tjoa Kim Nio. Suami istri itu memulai usaha tauconya dari industri rumahan.


Nah, setelah masyarakat mulai menggemari, barulah produksi diperbanyak. Uniknya, Tan dan Tjoa membuat tauco dengan rasa berbeda. Kalau Babah Tasma rasa tauconya cenderung manis, Ny. Tasma lebih menyerap selera lokal, menyuguhkan rasa asin.

Cap Meong, legenda Tauco CianjuCap Meong, legenda Tauco Cianjur (Sudrajat/detikcom)

“Saat mereka bercerai, Babah Tasma memberi label produksi tauconya Cap Gedong, sedangkan Nyonya Tasma menggunakan Cap Meong,” tutur Rachmat Fajar saat memandu 50 anggota Komunitas Japas (Jalan Pagi Sejarah) Bogor yang berkunjung ke toko tauco Cap Meong di Jalan HOS Cokroaminoto No 160 Cianjur, Rabu (20/8/2025).

Sejak bertahun lalu, Cap Gedong sudah jarang ditemui di pasaran. Mungkin sudah tak diproduksi lagi. Begitu juga dengan tauco merek lain seperti Biruang, Badak, dan Harimau. yang meredup sejak beroperasinya jalan tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang) pada 2005.

Bentuk bangunan toko Cap Meong tampak sederhana, khas rumah toko milik orang Tionghoa tempo dulu. Di depannya terpampang papan nama bertuliskan ‘Tauco No. 1 buatan Nyonya Tasma Cap Meong’. Penggunaan kata dan gambar Meong menurut cerita turun-temurun warga sekitar, kata Fajar, karena pada suatu hari di kediaman Babah dan Nyonya Tasma terdapat bekas tapak hewan tersebut.

“Meong itu sebetulnya bukan kucing, dia ukurannya lebih besar tapi juga tidak sebesar macan atau harimau,” kata Fajar yang merupakan cucu buyut Bupati Cianjur ke-10, RA Aria Prawiradiredja.

Cap Meong, legenda Tauco CianjuCap Meong, legenda Tauco Cianjur (Sudrajat/detikcom)

Terkait asal usul tauco di Nusantara, Darma Ismayanto menuliskannya dalam Majalah Historia No. 11 Tahun I yang terbit pada 2013. Ia antara lain merujuk ‘History of Miso and Soybean Chiang’ karya William Shurtleff and Akiko Aoyagi. Di Nusantara, referensi pertama mengenai tauco dapat dirunut dari tulisan seorang ilmuwan Belanda, Prinsen Geerligs pada 1895-1896. Geerligs menyebutnya tao tsioe dalam artikel Belanda pada 1895 dan tao tjiung dalam artikel Jermannya pada 1896.

Dalam tulisannya, Shurtleff and Aoyagi juga mengatakan kalau tauco masih berhubungan dengan jiang, bumbu masak asal Tiongkok. Diperkirakan berasal sebelum Dinasti Chou (722-481 SM), jiang diklaim sebagai bumbu tertua yang diketahui manusia. Awalnya dikembangkan sebagai cara melestarikan makanan kaya protein hewani untuk digunakan sebagai bumbu.

Dari situ, bangsa-bangsa Asia Timur juga menemukan bahwa ketika seafoods dan daging (kemudian kedelai) yang asin atau direndam dalam campuran garam dan anggur beras (atau air), protein mereka dipecah oleh enzim menjadi asam amino, yang pada gilirannya dapat merangsang selera makan manusia, serta dapat digunakan sebagai penambah rasa makanan lain.

Cap Meong, legenda Tauco CianjuCap Meong, legenda Tauco Cianjur (Sudrajat/detikcom)

Saat ini manajemen pengelolaan tauco Cap Meong sudah oleh generasi kelima. Namanya Stefany Tasma, putri Harun Tasma (generasi keempat) yang lebih banyak tinggal di Tangerang. “Tapi dia lebih sering tinggal di Tangerang,” kata Abdul Raup, yang mengaku telah 35 tahun bekerja di Nyonya Tasma.

Sebagai generasi penerus berlatar pendidikan manajemen perguruan tinggi, Stefany disebut memberikan sentuhan kekinian dalam pemasaran, seperti kemasan yang berwarna, desain label yang lebih modern, diversifikasi produk olahan berbahan tauco, membuka outlet baru yang lebih luas dan strategis di Gn Lanjung Km 5, Cugenang, memperkenalkan sistem penjualan online, hingga mempromosikan seluk belum tauco lewat media sosial seperti Instagram.

(jat/fem)



Sumber : travel.detik.com

Bandung Great Sale, 2 Tiket Trans Studio Bandung Cuma Rp 215 Ribu!



Bandung

Bandung kembali memanjakan wisatawan dan warga lokal dengan pesta diskon terbesar tahun ini.

Bandung Great Sale (BGS) 2025 resmi digelar mulai 29 Agustus hingga 9 September 2025 untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Bandung ke-215.

Selama 11 hari penuh, pengunjung bisa menikmati promo menarik dari pusat perbelanjaan, hotel, restoran, hingga destinasi wisata ikonik.


Dengan mengusung tagline “Discover Bandung, Enjoy The Sale”, BGS 2025 tidak hanya menjadi ajang berburu diskon, tetapi juga bukti kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menggerakkan ekonomi kreatif Kota Kembang.

Promo Spesial Trans Studio Bandung: Diskon Hingga 64 Persen

Sebagai salah satu ikon wisata terbesar di Indonesia, Trans Studio Bandung ikut memeriahkan Bandung Great Sale 2025 dengan tiket hemat spesial HUT Kota Bandung.

Selama periode BGS 2025, pengunjung bisa menikmati seluruh wahana hanya dengan Rp215.000 untuk dua orang.

Harga normal tiket Trans Studio Bandung biasanya:

  • Rp200.000 untuk Weekday
  • Rp300.000 untuk Weekend dan Hari Libur

Kini, pengunjung bisa bermain sepuasnya setiap hari hanya Rp107.500 per orang, dengan diskon mencapai 64 persen.

Tiket hemat ini mencakup akses ke lebih dari 20 wahana spektakuler, mulai dari wahana pemacu adrenalin, wahana keluarga dan anak, pertunjukan berskala internasional, hingga area edukasi untuk anak-anak.

“Partisipasi kami di Bandung Great Sale merupakan bentuk apresiasi kepada masyarakat sekaligus kontribusi untuk memeriahkan ulang tahun Kota Bandung. Kami ingin memberikan kesempatan bagi lebih banyak keluarga untuk merasakan pengalaman seru di Trans Studio Bandung dengan harga yang sangat terjangkau,” ujar Triya Filia Santi, Marcomm Manager Transentertainment.

Staycation dan Belanja Hemat dalam Satu Kawasan

Selain menawarkan wahana indoor yang seru, Trans Studio Bandung berada di kawasan terpadu yang memudahkan wisatawan menikmati liburan lengkap.

Pengunjung dapat menginap di Ibis Bandung Trans Studio atau The Trans Luxury Hotel, sekaligus berbelanja hemat di Trans Studio Mall Bandung yang juga menghadirkan berbagai promo menarik selama BGS 2025.

Sejak awal penyelenggaraannya, Bandung Great Sale selalu menjadi magnet wisata dan belanja yang ditunggu-tunggu masyarakat.

Event ini memperkuat citra Bandung sebagai kota kreatif sekaligus destinasi wisata favorit. Tahun ini, BGS 2025 hadir bertepatan dengan long weekend, sehingga menjadi momen tepat untuk merencanakan liburan hemat sekaligus seru bersama keluarga atau sahabat.

Nikmati pengalaman lengkap yang mencakup:

  • Staycation nyaman
  • Belanja hemat
  • Hiburan spektakuler

Catat tanggalnya: 29 Agustus – 9 September 2025.

Pesan tiket Trans Studio Bandung sekarang di www.transentertainment.com!.

(ddn/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Hilangnya Si Penjaga Keselamatan, Ketika Museum Dirusak dan Dijarah



Jakarta

Aksi massa pada Sabtu (30/8/2025) malam tidak hanya terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Lokasi aksi ini meluas hingga Kediri, Jawa Timur dengan sejumlah insiden perampokan dan perusakan. Aksi pencurian tidak hanya menyasar barang yang saat ini dinilai berharga.

Barang peninggalan sejarah ikut hilang dalam aksi perusakan yang terjadi di Museum Bhagawanta Bhari, Kediri. Museum di belakang DPRD Kabupaten Kediri ini kehilangan fragmen Arca Ganesha peninggalan kebudayaan Hindu, yang sempat blooming di sejarah Indonesia.

Fragmen arca Ganesha di Museum Bhagawanta BhariFragmen arca Ganesha di Museum Bhagawanta Bhari Foto: Museum Bhagawanta Bhari

Sosok Ganesha dalam kepercayaan Hindu adalah dewa berkepala gajah yang sangat dihormati. Dia adalah putra Dewa Siwa dengan sosok bertangan empat yang memegang berbagai simbol biasanya kapak, jerat, dan mangkuk. Kendati berkepala gajah, sosok Ganesha tidak punya gading yang utuh.


“Ganesha adalah lambang dewa ilmu pengetahuan dan sang penjaga keselamatan dalam kehidupan manusia. Atribut yang dipegangnya antara lain paracu (kapak kerap ditulis parasu), aksamala (tasbih), dan mangkuk,” tulis Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Profil kebudayaan Kabupaten kediri, Kantor Parsenibud Kabupaten Kediri tahun 2006.

Sebagai sebuah fragmen, arca Ganesha di Museum Bhagawanta Bhari tidak terlihat utuh. Bagian kepala lebih kecil menyisakan bagian belalai, dengan ornamen di belakang arca seperti ada yang hilang. Fragmen arca Ganesha kemungkinan adalah peninggalan zaman Kerajaan Mataram Kuno di abad ke-11 Masehi.

Meski begitu, arca ini tetap berharga sebagai bagian perkembangan kebudayaan Indonesia. Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana (Mas Dhito) mengimbau masyarakat yang tahu keberadaan artefak ini segera melapor pada pemerintah. Khususnya bagi oknum yang mengambil dan menyimpan sendiri fragmen arca Ganesha.

“Kami benar-benar berharap benda-benda bersejarah ini bisa kembali, karena peninggalan budaya memiliki nilai historis jadi sangat tidak pantas untuk menjadi sasaran,” kata Mas Dhito dalam keterangan tertulis pada Minggu (31/8/2025).

Sejumlah benda bersejarah lain tercatat ikut hilang dalam aksi ini. Benda tersebut adalah arca bodhisatva, miniatur lumbung, plakat HVA Sidomulyo dua buah, bata berinskripsi, dan arca Sumbercangkring. Pemerintah berharap semua benda bersejarah tersebut kembali, supaya bisa jadi bahan belajar seluruh masyarakat.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

Geopark di Kaltim Bakal Menarik Wisatawan Lokal-Mancanegara



Samarinda

Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) resmi mendeklarasikan taman bumi (geopark) pertama. Geopark yang diajukan Kaltim ini merupakan kawasan bukit karst yang mencakup dua wilayah administratif, yaitu Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud mengatakan penetapan geopark bertujuan menyejahterakan masyarakat, karena selain untuk melindungi sumber daya alam juga menjadi destinasi wisata yang diyakini mampu menarik perhatian wisatawan baik lokal hingga internasional.

Hal ini dikatakan gubernur karena tak lama lagi Kaltim akan memiliki geopark, karena Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2024 lalu mengeluarkan keputusan yakni menetapkan 26 area di Kaltim sebagai situs warisan geologi (geosite), cikal bakal geopark.


“Meski statusnya masih geosite, namun wisatawan Nusantara dan mancanegara sudah banyak yang berkunjung, sehingga ketika ke depan menjadi geopark, tentu akan makin banyak lagi yang berwisata, sehingga warga sekitar merasakan tingginya kunjungan,” kata Rudy Mas’ud di Samarinda, melansir Antara.

Tingginya kunjungan yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat, menurut dia, antara lain, penginapan berupa pondok wisata (homestay), makan minum, toko berbagai kebutuhan sehari-hari, hingga oleh-oleh khas warga di sekitar destinasi wisata geosite atau geopark yang bisa dibawa pulang wisatawan, sehingga terjadi perputaran ekonomi di tengah masyarakat.

Sedangkan 26 geosite yang telah ditetapkan menteri pada 2024 lalu merupakan ekosistem karst terbesar di Kalimantan dengan luas mencapai sekitar 1.867.676 hektare.

Area seluas ini dikenal dengan nama kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat yang tersebar di dua kabupaten yakni Kutai Timur dan Berau, dengan rincian di Kabupaten Berau terdapat 15 geosite dan Kabupaten Kutai Timur ada 11 geosite.

Sebelumnya, saat mengunjungi Kampung Merabu, Kabupaten Berau, Gubernur Kaltim menandatangani Deklarasi Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, menggambarkan komitmen untuk mewujudkan geosite menjadi geopark, terlebih usulan mewujudkan geopark telah diajukan ke UNESCO Global Geopark pada 31 Agustus 2025.

Sementara Manajer Senior Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Niel Makinuddin yang merupakan inisiator usulan geopark mengatakan penetapan status taman bumi (geopark) memberikan banyak implikasi, mulai dari pengakuan atas budaya, penyelamatan kawasan karst, destinasi wisata, hingga tempat penelitian.

“Penetapan geopark juga untuk menjawab tujuan pembangunan berkelanjutan, yakni berbagai pembangunan baik terkait pariwisata, perkebunan, dan lainnya, tentu harus berorientasi pada kelestarian lingkungan,” ujar Niel.

Niel mengatakan penetapan status Taman Bumi memberikan dampak positif yang cukup besar, salah satunya pengakuan atas budaya.

“Ada banyak implikasinya, mulai dari pengakuan atas budaya, penyelamatan kawasan karst, destinasi wisata, hingga (menjadi) tempat penelitian,” ujar Niel seperti dilansir detikKalimantan.

Selain itu, jika sudah berstatus Taman Bumi Nasional, Karst Sangkulirang-Mangkalihat berpeluang diajukan sebagai UNESCO Global Geopark, menyusul 12 kawasan lain di Indonesia. Maka itu dukungan dan kolabarasi dari berbagai pemangku kepentingan sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut.

“Nanti setelah menjadi Taman Bumi Nasional dan memenuhi standar internasional, kita dapat mengusulkan kawasan ini menjadi UNESCO Global Geopark,” tutupnya.

Wilayah Berau dan Kutim terkenal dengan banyak warisan alam dan budaya. Warisan itu semua dijaga oleh masyarakat adat Dayak setempat, salah satunya Dayak Lebo di Perkampungan Merabu, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau.

Kepala Kampung Merabu, Asrani, menuturkan bahwa di kampung ini bahkan terdapat dua situs warisan geologi yaitu Gua Beloyot dan Kerucut Karst Merabu. Ia menambahkan, dengan adanya kerjasama bersama pemerintah, diharapkan bisa lebih mengangkat hal-hal positif dari Kampung Merabu dan situs warisan geologi yang ada.

“Karena dari hutan desa yang dimiliki Kampung seluas 8.245 hektare masih banyak ratusan gua yang perlu diekspos, demikian kebudayaan Dayak Lebo, hingga destinasi wisata Danau Nyadeng dan Puncak Ketepu. Dari Puncak Ketepu ini bisa dilihat lanskap gugusan kerucut karst Merabu,” pungkasnya.

@detiktravel

East Kalimantan is ready to have the first geopark named SangKulirang-Mangkalihat. The area is almost two million hectares, contains hundreds of caves, unique karst cones, to destinations hits like Lake Nyadeng and Ketepu Peak. Creator: Tri Aljumanto #kalimantantimur #geopark #sangkulirang #mangkalihat

♬ original sound – detikTravel

(ddn/ddn)





Sumber : travel.detik.com