Tag Archives: penggalian

Sama-sama Sumber Air, Ini Perbedaan Sumur Bor dan Sumur Gali


Jakarta

Setiap rumah wajib memiliki sumber air bersih untuk menunjang kebersihan penghuni dan seisi rumah. Sumber air bersih bisa didapat dari sumur yang terbagi menjadi dua jenis, yakni sumur bor dan sumur gali.

Seperti namanya, sumur bor dibuat dengan cara dibor menggunakan mesin. Sedangkan sumur gali dibuat dengan teknik menggali secara manual.

Sumur bor pun menjadi sumber air andalan, terutama ketika musim kemarau tiba. Menurut Hasan seorang tukang sumur bor di kawasan Bogor, sumur bor lebih banyak keuntungannya dibanding sumur gali.


“Lebih baik bikin sumur bor apalagi kalau musim kemarau karena debit lebih kencang dan air lebih bersih,” kata Hasan kepada detikProperti beberapa waktu lalu.

Lalu, apa saja perbedaan antara sumur bor dan sumur gali? Simak penjelasan berikut ini ya.

Perbedaan Sumur Bor dan Sumur Gali

1. Dimensi Lubang

Sumur bor dibuat menggunakan mesin bor membuat proses pembuatan lebih mudah menentukan kedalaman tanah yang sampai menemukan sumber air. Sementara sumur gali yang mengandalkan tenaga manual memiliki keterbatasan, sehingga sumur tidak bisa terlalu dalam.

“Kita kalau bikin sumur bor itu punya diameter sekitar 2 inci sampai 6 inci terus kedalaman bisa sampai 60 meter nggak masalah,” ujar Hasan.

“Kalau sumur gali kita butuh buat diameter 50 cm sampai 1 meter dan buat kedalaman juga terbatas kalau di daerah Bogor atau Jakarta paling kuat maksimal gali sampai kedalaman 20 meter,” tambahnya.

2. Debit Air

Sumur gali dibuat membentuk diameter sumur yang besar, sehingga membuat debit air semakin besar agar bisa memenuhi kebutuhan. Sedangkan debit air dari sumur bor mengandalkan pompa untuk menyalurkan air.

“Kalau sumur bor itu debit airnya lebih kencang dan kualitas airnya lebih bersih karena itu tergantung kedalaman tanahnya,” jelasnya.

3. Waktu Pengerjaan

Memang biaya pembuatan sumur gali terhitung lebih murah karena dapat dilakukan secara manual dengan menggali sendiri. Akan tetapi, pengerjaan dengan kedalaman dua puluh meter dapat membutuhkan berhari-hari untuk menyelesaikannya.

Di sisi lain, penggalian sumur bor relatif lebih cepat karena menggunakan mesin bor. Kedalamannya pun tidak masalah selama menemukan sumber air bersih yang dibutuhkan.

Itulah perbedaan sumur bor dan sumur gali. Semoga bermanfaat!

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(dhw/das)



Sumber : www.detik.com

Sumur Bor vs Sumur Gali, Mana yang Lebih Baik buat Rumah?


Jakarta

Rumah membutuhkan pasokan air bersih untuk kebutuhan penghuninya. Air tersebut bisa didapatkan dari berbagai sumber, salah satunya dengan membuat sumur air di rumah.

Untuk membuat sumur air, pemilik rumah bisa memilih antara dua jenis, yaitu sumur bor dan sumur gali. Pembuatan sumur boro menggunakan mesin bor, sedangkan sumur gali dengan teknik gali secara manual.

Menurut Hasan, tukang sumur bor di kawasan Bogor, sumur bor punya banyak keunggulan daripada sumur gali. Jenis sumur tersebut menjadi sumber air yang diandalkan ketika musim kemarau.


“Lebih baik bikin sumur bor apalagi kalau musim kemarau karena debit lebih kencang dan air lebih bersih,” kata Hasan kepada detikProperti beberapa waktu lalu.

Memang apa saja perbedaan antara sumur bor dan sumur gali? Berikut ini penjelasannya.

Perbedaan Sumur Bor dan Sumur Gali

Inilah beberapa hal yang membedakan sumur bor dengan sumur gali.

1. Dimensi Lubang

Pembuatan sumur bor dengan mesin memudahkan tukang untuk menentukan kedalaman buat menemukan sumber air. Berbeda halnya dengan sumur gali yang tidak bisa dibuat terlalu dalam karena pembuatannya menggunakan tenaga manual.

“Kita kalau bikin sumur bor itu punya diameter sekitar 2 inci sampai 6 inci terus kedalaman bisa sampai 60 meter nggak masalah,” katanya.

“Kalau sumur gali kita butuh buat diameter 50 cm sampai 1 meter dan buat kedalaman juga terbatas kalau di daerah Bogor atau Jakarta paling kuat maksimal gali sampai kedalaman 20 meter,” Sambung Hasan.

2. Waktu Pengerjaan

Membuat sumur gali memang lebih murah ketimbang sumur bor karena pakai cara manual. Namun, pengerjaannya cukup lama, bisa berhari-hari untuk menggali sumur sedalam dua puluh meter.

Sementara itu, penggalian sumur bor lebih cepat dengan bantuan mesin. Dengan begitu, proses penggalian lebih cepat. Kedalaman lubang pun tidak menjadi kendala selama sumber air bersih ditemukan.

3. Debit Air

Sumur gali dibuat dengan diameter yang besar sehingga memungkinkan debit air juga besar. Sementara itu, besarnya debit air sumur bor mengandalkan pompa air.

“Kalau sumur bor itu debit airnya lebih kencang dan kualitas airnya lebih bersih karena itu tergantung kedalaman tanahnya,” tuturnya.

Itulah perbedaan antara sumur bor dan sumur gali. Semoga bermanfaat!

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(dhw/das)



Sumber : www.detik.com

Jejak Manusia Purba di Gua Braholo, Dipercaya Peradaban Tertua



Gunungkidul

Gua Braholo menyimpan jejak prasejarah yang cukup penting. Goa ini dipercaya menjadi bukti peradaban tertua di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Gua Braholo terletak di Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul. Lokasinya berada di atas sebuah bukit karst di seberang jalan dekat dengan pemukiman warga.

Untuk menuju ke sini, traveler harus melewati puluhan undakan tangga dari jalan masuk. Setelah menaiki puluhan anak tangga, kita akan disambut dengan bagian depan Gua Braholo seluas kurang lebih 30 meter dengan tinggi sekitar 15 meter.


Pemandangan puluhan stalaktit meruncing ke bawah di dinding atas gua pun terpampang jelas. Di permukaan gua tampak setidaknya empat lubang bekas ekskavasi dengan ukuran bervariatif.

Tanah di permukaan gua tersebut terasa gembur. Terdapat kotoran kelelawar tercecer di atas tanah. Gua Braholo tidak begitu dalam, hanya sekitar 20 meter.

Dari muka gua pun tampak tembok alami berupa bebatuan karst berwarna putih. Sebagian lainnya sudah dipenuhi lumut sehingga tampak menghitam.

Juru pelihara Gua Braholo, Marsono mengungkapkan, gua itu sudah diteliti sejak 1995. Dia mengatakan masyarakat sekitar sudah mengetahui keberadaan goa tersebut sejak lama dan dulunya sering digunakan untuk bertapa.

“Penelitian pertama (Goa Braholo) di (tahun) 95,” jelas Marsono saat ditemui di rumahnya seberang Gua Braholo.

Marsono menjelaskan GUa Braholo menjadi tempat persinggahan karena luas dan memiliki sirkulasi udara yang bagus. Selain itu, goa tersebut memiliki penerangan yang mumpuni.

“Dari Balai Pelestari Cagar Budaya menganalisa bisa menjadi tempat tinggal karena Goa Braholo luas, sirkulasi udaranya bagus,” katanya.

Proses ekskavasi di Goa Braholo dilakukan hampir setiap tahun hingga pandemi COVID-19 merebak pada tahun 2020 dan masih belum dilanjutkan hingga kini. Saat dilakukan ekskavasi pertama, pada penggalian beberapa meter ditemukan tulang hewan sisa makanan manusia prasejarah.

“Dari beberapa meter ditemukan tulang (hewan) sisa makanan (manusia prasejarah),” sebutnya.

Lebih lanjut, Marsono mengatakan kerangka manusia ditemukan pada penggalian selanjutnya. Sayangnya, Marsono tidak paham betul kerangka manusia yang ditemukan itu dari zaman apa. Dia hanya menjelaskan kerangka yang ditemukan merupakan sisa manusia yang hidup di zaman prasejarah.

“Semacam alat dan semuanya terbuat dari batu dan tulang,” sebutnya.

Pada ekskavasi terakhir sebelum pandemi COVDI-19, lanjut Marsono, ditemukan sisa kerang dan tulang makanan manusia prasejarah. Dia mengatakan letak ditemukannya sisa makanan itu terpisah dengan tulang manusia.

“Sisa makanan itu ditemukan di tengah. Kalau tulang manusia ditemukan di pinggir,” terangnya.

Disebut Peradaban Tertua

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Gunungkidul, Andi Riana, menerangkan Goa Braholo merupakan tempat persinggahan manusia masa prasejarah. Dia mengatakan manusia di goa tersebut belum mengenal konsep penguburan. Andi menyebutkan goa Braholo peradaban tertua di DIY.

“Itu memang tertua untuk wilayah se-DIY,” katanya.

Lebih lanjut, Andi menerangkan jenis goa yang bisa dihuni secara temporal merupakan tempat yang terbuka seperti Goa Braholo. Goa tersebut merupakan jenis goa yang tidak menjorok ke dalam, hanya di permukaan.

“Kalau di goa-goa bisa dihuni tentunya goanya terbuka di muka,” jelasnya.

Adapun alasan lain goa Braholo dijadikan tempat persinggahan karena bisa untuk berlindung. Selain itu Goa Braholo yang terbuka itu dimungkinkan untuk mendapatkan pencahayaan matahari yang cukup.

“Yang utama fungsinya itu untuk berlindung,” tuturnya.

Temuan di Goa Braholo berlapis-lapis dari permukaan tanah hingga beberapa kedalaman. Dia mengungkapkan temuan di goa tersebut merupakan sampah atau sisa dari masa prasejarah.

“Temuan itu merupakan sampah atau buangan dari kehidupan masa itu. Jadi berlapis-lapis temuannya dan kebetulan banyak sekali di setiap lapisan tanah,” ungkapnya.

Andi menjelaskan temuan spesifik di Goa Braholo adalah jarum dari tulang masa prasejarah. Selain itu ditemukan pula kapak, sudip dan lain sebagainya. Selain dari tulang, dia mengungkapkan alat manusia prasejarah berbahan batu.

Adapun ukuran alat yang ditemukan tidak lebih besar dari telapak tangan manusia dewasa. Andi menerangkan peralatan tersebut tajam. Tujuannya untuk menguliti hewan.

“Peralatan mereka amat sangat sederhana, yang penting tajam bisa untuk menguliti binatang untuk bekal makan mereka,” jelasnya.

Andi mengatakan pihak yang pernah meneliti goa Braholo yakni Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) kini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Balai Arkeologi Jogja, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jogja. Dia mengatakan Prof Truman Simanjuntak merupakan orang Puslit Arkenas yang mengekskavasi goa Braholo pertama kalinya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com