Tag Archives: penggorengan

5 Hal yang Bikin Dapur Selalu Terlihat Berantakan


Jakarta

Dapur berisi beberapa objek paling berguna dan bermanfaat di rumah, tetapi itu tidak berarti kamu perlu mengorbankan bentuk demi fungsi.

Meskipun menyingkirkan peralatan, makanan, dan perkakas tertentu dapat membantu demi kenyamanan, beberapa barang harus dijauhkan dari pandangan dan pikiran kamu. Jika tidak, dapur kamu akan terlihat berantakan dan tidak memiliki ruang.

Melansir The Spruce, Senin (14/10/2024), berikut yang membuat dapur selalu menjadi berantakan dan tidak memiliki ruang.


Peralatan Dapur

Sekalipun kamu sudah mencari penggorengan atau pemanggang yang paling estetik, bukan berarti benda itu mendapat tempat permanen di meja dapur kamu. Simpan barang atau peralatan yang tidak terpakai.

“Jika kamu tidak menggunakan peralatan setiap hari, simpanlah di lemari, dapur, atau garasi peralatan kamu. Hanya simpan peralatan penting, seperti pembuat kopi atau pemanggang roti di atas meja,” kata Julie Peak, organisator rumah profesional.

Dekorasi

Terlalu banyak dekorasi di dapur juga merupakan hal yang tidak baik. Terutama dekorasi musiman yang menumpuk, sehingga membuat dapur berantakan.

Pilih satu atau dua item dekorasi yang melengkapi gaya dapur kamu dan batasi jumlah papan nama di atas meja dapur. Pertimbangkan menggantung papan nama dapur di dinding sehingga tidak menghabiskan ruang meja dapur.

Peralatan dan Pisau di Meja Dapur

Kesalahpahaman umum adalah bahwa peralatan harus selalu berada dalam jangkauan tangan saat kamu memasak. Namun, peralatan ini juga mudah diakses di dalam laci seperti meja dapur.

Jika kamu tidak memiliki banyak ruang di laci, tidak ada alasan untuk menyimpan pisau di rak atas meja. Begitu pula dengan peralatan memasak lainnya. Peralatan akan berdebu dan akan menghabiskan banyak ruang apabila di luar.

Barang Lain yang Tidak Digunakan

Dapur sebagai tempat untuk menyimpan perlengkapan kerajinan, peralatan, dan obat-obatan. Namun, dengan catatan bahwa penting diingat fungsi utama dapur adalah menyediakan ruang untuk memasak.

Dokumen

Banyak dari kamu melihat banyak tumpukan dokumen berserakan di dapur. Resep, buku panduan, dan lain sebagainya.

Jangan terlalu membuat dapur menjadi seperti kantor, simpan beberapa barang dan jangan sampai membuatnya terlihat menumpuk di dapur.

(dna/dna)



Sumber : www.detik.com

Sensasi Menikmati Kopi Luwak dan Teh Aneka Aroma di Kintamani



Jakarta

Anda pernah nonton ‘The Bucket List’? Film yang pertama kali tayang pada 2007 itu dibintangi dua aktor gaek Hollywood Jack Nicholson dan Morgan Freeman.

Isinya menceritakan kehidupan kedua pria beda kasta yang bertemu di rumah sakit karena penyakit mematikan. Dari situ mereka membuat sebuah catatan kecil untuk dilakukan sebelum kematian menjemput.

Saya menduga adegan yang paling menarik bagi penonton di tanah air adalah ketika keduanya membahas cita rasa Kopi Luwak. Jack dan Morgan terpingkal-pingkal hingga mengeluarkan air mata saat tahu bahwa kopi yang disebut memiliki aroma dan cita rasa terunik di dunia itu berasal dari kotoran kucing pohon liar alias luwak.


Saya pribadi baru mencobanya pada akhir pekan lalu saat melintasi Jalan Raya Kintamani – Gianyar, Bali. Di sepanjang jalan itu berjejer perkebunan kopi menawarkan sensasi minum kopi luwak orisinal.

Menjelang jam makan siang kami singgah di ‘Cantik Agriculture Luwak Coffee’ yang memiliki kebun kopi seluas dua hektare. Tempat ini tidak memungut biaya masuk alias gratis. Area parkirnya luas. Setiap rombongan akan didampingi oleh seorang pemandu.

Selain pohon kopi Robusta dan Arabica, di area seluas itu kita juga bisa mengenali pohon salak, vanilla, cokelat, dan lainnya. Hal menarik lainnya, di tengah kebun beberapa ekor luwak tengah meringkuk di atas dahan pohon kopi. Juga ada beberapa sapi terikat di dalam kandang.

“Itu sengaja untuk kami manfaatkan kotorannya sebagai pupuk organik,” kata Ni Luh Putu Juni Fira Dewi yang menjadi pemandu. Alumnus SMKN 1 Tampak Siring itu telah dua tahun bekerja di ‘Cantik Agriculture Luwak Coffee’.

Sebelumnya dia pernah bekerja di villa Tegal Alang, Ubud.

Sejumlah turis asal Australia menikmati kopi luwak di Cantik Agriculture Luwak Coffee, KintamaniSejumlah turis asal Australia menikmati kopi luwak di Cantik Agriculture Luwak Coffee, Kintamani (Sudrajat / detikcom)

Di ujung kebun kami mulai mencium aroma biji kopi terpanggang. Dua perempuan paruh baya terlihat khusuk menyangrai biji kopi di atas penggorengan baja. Suluh-suluh kayu di bawahnya merah menyala menyeburkan bara. Tak jauh dari dapur, Fira menunjukkan kepada kami gumpalan kotoran Luwak. Warnanya cokelat kehitaman.

“Kotoran ini biasanya kami bersihkan, dikupas kulitnya lalu dijemur selama beberapa hari. Setelah itu disangrai selama 45 menit baru ditumbuk hingga menjadi semacam tepung. Untuk satu kilogram kopi sangrai butuh sekitar dua jam untuk menghaluskannya,” kata Fira.

Tak sampai setengah jam di kebun, pengunjung tersu berdatangan secara berkelompok. Kebanyakan para turis dari Australia dan Eropa. Semua disambut ramah dan diberi penjelasan serupa.

Tak cuma tentang kopi dan kopi luwak, para pengunjung juga diperkenalkan kepada rempah-rempah berikut khasiatnya seperti kunyit, jahe, rosela, sereh, ginseng, dan lainnya.

Di tepi kebun yang berbatasan dengan bebukitan hijau berderet kursi kayu. Para pengunjung bebas memilih tempat duduk. Para pemandu lalu menghidangkan selusin cangkir gelas mungil berisi kopi dan teh beragam aroma. Kripik singkong dan pisang goreng menjadi pelengkapnya. Semua gratis!

“Ini sudah menjadi tradisi kami untuk menghormati tamu. Kalau mau mau kopi luwak baru kena charged Rp 50 ribi per cup,” kata Fira.

Sejumlah turis asing membeli aneka oleh-oleh di Cantik Agriculture Luwak Coffee, Kintamani - BaliSejumlah turis asing membeli aneka oleh-oleh di Cantik Agriculture Luwak Coffee, Kintamani – Bali (Sudrajat / detikcom)

Sejumlah turis riuh berdecak kagum dan memberi applause. Penasaran, kami pun coba memesan secangkir kopi luwak.

“Kalau biasanya kita menyeruput capucino, kali ini di Kintamani Bali kita lebih suka menikmati CatPooCino alias Kopi Luwak,” seloroh seorang turis asal Australia disambut tawa rekan-rekannya.

Kami sepakat, cita rasa kopi luwak memang beda dari kopi lainnya. “Lebih lembut, asemnya juga lebih rendah dari kopi biasa,” ujar Meliyanti Setyorini, teman seperjalanan penulis.

Untuk teh, dia suka yang aroma coconut. “Campurannya pas buat lidah gue,” dia menambahkan.

Wartawati detik.com Meliyanti Setyorini menikmati secangkir kopi luwak dan teh aneka aroma di Cantik Agriculture Luwak CoffeeWartawati detik.com Meliyanti Setyorini menikmati secangkir kopi luwak dan teh aneka aroma di Cantik Agriculture Luwak Coffee Foto: Sudrajat / detikcom

Cantik Agriculture Luwak Coffee’ juga menyediakan toko yang menjual berbagai produk hasil olahan kopi dan minuman yang telah dicicipi selama tur. Selain kopi aneka rasa, toko ini juga menawarkan berbagai produk lain seperti sabun buah, dupa, dan arak Bali.

(jat/wsw)



Sumber : travel.detik.com