Tag Archives: peninggalan

Gedung Candra Naya Bertahan Dipeluk Gedung-gedung Modern nan Menjulang



Jakarta

Jakarta Barat memiliki kawasan Pecinan terluas di Indonesia. Salah satunya ditandai dengan bangunan-bangunan bernuansa Tionghoa, salah satunya Gedung Candra Naya.

Gedung Candra Naya berada di Jalan Gajah Mada Nomor 188, Jakarta Barat. Gedung itu dulu merupakan rumah tinggal milik Mayor Khouw Kim An dan didirikan pada abad ke-19.

Gedung Candra Naya tak terlihat dari jalan raya. Gedung itu diapit oleh bangunan-bangunan tinggi seperti hotel, perkantoran, dan apartemen.


Gedung Candra Naya memiliki tiga bangunan asli. Satu bangunan utama dekat lobi hotel sedangkan dua lainnya berada di kedua sisi bangunan utama tersebut. Sebetulnya dulu ada empat bangunan namun kini sudah berubah menjadi apartemen.

Petugas keamanan yang berjaga di Gedung Candra Naya, Lutfi mengatakan bangunan tersebut merupakan ruangan selir dan bangunan itu memiliki dua tingkat.

Jakarta Barat memang terkenal dengan Pecinan Glodoknya, di area tersebut berjejal berbagai makanan hingga bangunan-bangunan bernuansa Tionghoa. Namun beranjak sedikit dari kawasan tersebut ada bangunan lama berarsitektur Tionghoa yang telah melegenda. Bangunan itu adalah Gedung Candra Naya.Gedung Candra Naya di Glodok, bangunan lama berarsitektur Tionghoa yang melegenda. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Saat detikTravel berkunjung Gedung Candra Naya, Rabu (17/7/2024) Lutfi menceritakan beberapa hal tentang gedung yang telah menjadi cagar budaya itu.

“Ini bangunan ada tiga bangunan, sisi selatan sama sisi utara, nah ini bangunan induknya. Ini rumah Khouw Kim An, dulu dibelakang ada (bangunan) dua lantai nah itu tempatnya para selir, sekarang udah dibongkar dimakan sama apartemen,” kata Lutfi.

Dari catatan sejarah yang berada di gedung tersebut, belum ada tahun pasti kapan bangunan ini resmi didirikan, yang pasti bangunan ini sudah ada sebelum Khouw Kim An lahir. Jadi entah sang kakek Khouw Kim An (Khouw Tjeng Tjoan) atau sang ayah (Khouw Tian Sek), anggapannya bangunan ini dibangun tahun 1807 oleh Khow Tjeng Tjoan untuk merayakan kelahiran anaknya yakni ayah dari Khouw Kim An di tahun 1808.

“Yang dari sejarah itu kemungkinan sekitar 1800-an ini bangunan dibangun, sekarang yang orang tahu tuh rumahnya Mayor Khouw Kim An. Nah itu Khouw Kim An sendiri adalah penerus, dia sebagai cucu bukannya sebagai yang punya (pendiri) bangunan ini jadi ini peninggalan rumah kakeknya,” ujar Lutfi.

Jakarta Barat memang terkenal dengan Pecinan Glodoknya, di area tersebut berjejal berbagai makanan hingga bangunan-bangunan bernuansa Tionghoa. Namun beranjak sedikit dari kawasan tersebut ada bangunan lama berarsitektur Tionghoa yang telah melegenda. Bangunan itu adalah Gedung Candra Naya.Gedung Candra Naya, bangunan lama berarsitektur Tionghoa yang melegenda. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Khouw Kim An sendiri lahir pada 5 Juni 1879, berjalannya waktu rumah peninggalan keluarganya itu ditempati olehnya. Melanjut dari catatan di Gedung Candra Naya, Khouw Kim An menempati bangunan ini pada tahun 1934.

Khouw Kim An diberikan jabatan oleh Pemerintah Belanda kala itu untuk mewakili etnis Tionghoa di Batavia, tahun 1905 karena karirnya dianggap mumpuni alhasil pangkat letnan disematkan kepadanya. Dan kurang dari sepuluh tahun Khouw Kim An sudah dua kali naik jabatan, di tahun 1908 menjadi kapten dan 1910 menjadi mayor.

Ketika Bangsa Jepang masuk ke Indonesia di tahun 1942, dalam catatan Khouw Kim An ditahan oleh Jepang dan meninggal dalam tahanan pada 13 Februari 1945. Sepeninggal Khouw Kim An bangunan ini pun beberapa kali beralih fungsi.

Alih Fungsi dari Pusat Perkumpulan Warga Tionghoa hingga Pusat Pendidikan Candra Naya

Setelah Perang Dunia Kedua berakhir di tahun 1946, bangunan ini dipakai menjadi tempat bagi Asosiasi Xin Ming (perkumpulan sosial) yang memiliki tujuan sebagai pusat informasi bagi etnis Tionghoa kala itu. Berbagai kegiatan banyak asosiasi ini lakukan di antaranya membuat klinik diagnostik yang menjadi awalan dari Rumah Sakit Sumber Waras.

Selain itu juga beberapa kegiatan olahraga seperti biliar, bulu tangkis hingga kungfu. Dan gedung tersebut juga sempat jadi pusat pendidikan SD, SMP, SMA yang bernama Candra Naya, di tahun 1965 atas permintaan Organisasi Persatuan Etnis untuk mengganti nama gedung menjadi Gedung Candra Naya.

Kini di area belakang bangunan utama Gedung Candra Naya terdapat sebuah kolam ikan yang indah. Menurut Lutfi kolam tersebut bukan bawaan dari bangunan lama.

Ia mengetahui setelah bertanya kepada salah satu pengunjung yang ternyata sempat mengenyam pendidikan di SD Candra Naya.

“Kolam ikan itu baru, dulu lapangan tempat latihan kungfu. Soalnya saya dapat informasi ini semuanya itu memang dari alumni SD dulu yang di sini, saya tanya umurnya udah berapa? Udah 60 tahunan,” kata dia.

Gedung Candra Naya saat ini seperti tak lekang dimakan zaman, walaupun sudah ratusan tahun berdiri daya tarik bangunannya masih terus terjaga. Arsitektur China klasik terlihat dari berbagai ukiran yang ada di setiap bangunan tersebut, Lutfi juga menyebut juga kerap datang arsitek yang ingin melihat bangunan Candra Naya.

“Ada beberapa arsitek yang datang ke sini, liat-liat bangunan ini katanya buat referensi dia gitu,” ujar Lutfi.

Bangunan yang statusnya sudah menjadi cagar budaya ini tetap bertahan di tengah gempuran gedung tinggi di sekelilingnya. Jika ingin langsung melihat keindahan bangunan ratusan tahun ini, kamu bisa datang setiap harinya mulai pukul 08.00 hingga 20.00 WIB.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

15 Tempat Wisata Kota Tua Jakarta dengan Sejarahnya Lengkap


Jakarta

Kota Tua adalah salah satu tempat wisata favorit di Jakarta. Kota Tua menyimpan banyak jejak sejarah peninggalan Belanda yang masih berdiri hingga sekarang.

Simak artikel ini untuk mengenal sejarah Kota Tua. Simak juga 15 tempat wisata unggulan yang wajib dikunjungi di Kota Tua, lengkap dengan daya tarik, harga tiket masuk, lokasi dan jam buka.

Rekomendasi 15 Tempat Wisata Kota Tua

Karena sejarahnya yang kental, Kota Tua kini memiliki pesona tersendiri bagi wisatawan. Jika mau datang ke sini, simak dulu rekomendasi 15 tempat wisata Kota Tua Jakarta yang wajib dikunjungi.


1. Stasiun KA Jakarta Kota

Kawasan depan Stasiun Jakarta Kota kerap dipenuhi driver ojol yang menunggu penumpang. Mereka biasanya mangkal di trotoar depan stasiun.Stasiun Jakarta Kota. (Pradita Utama)

Lokasi: Jalan Lada, Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, DKI Jakarta

Jika kalian naik commuter line untuk menuju Kota Tua, maka akan turun di Stasiun Jakarta Kota. Stasiun ini dulu dikenal dengan sebutan Stasiun Beos. Stasiun ini berdiri sejak 1870.

Dikutip dari situs KAI, Beos sendiri diambil dari nama maskapai kereta api Belanda bernama Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur). Di masa Belanda, stasiun ini pernah dipakai sebagai untuk menghubungkan Batavia-Buitenzorg (Jakarta-Bogor).

Bangunan Stasiun Jakarta Kota merupakan hasil desain dari arsitek Belanda kelahiran Tulungagung, 8 September 1882, Frans Johan Louwrens Ghijsels. Kini stasiun ini masih aktif digunakan untuk jalur commuter line Jabodetabek mulai pukul 03.00-24.00 WIB.

2. Pelabuhan Sunda Kelapa

Pelabuhan Sunda Kelapa. (Brigitta/detikcom)Pelabuhan Sunda Kelapa. (Brigitta/detikcom)

Lokasi: Jl. Maritim No 8 Sunda Kelapa, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara

Jam buka: 24 jam.

Di sisi utara terdapat Pelabuhan Sunda Kelapa yang sangat bersejarah, bahkan sejak masa kerajaan. Pelabuhan ini sejak dulu sudah menjadi persinggahan utama kapal-kapal dari berbagai negara.

Kini Pelabuhan Sunda Kelapa difungsikan untuk kapal-kapal berukuran lebih kecil dan melayani lalu lintas perdagangan antarpulau dalam negeri. Wisatawan bisa menjumpai kapal-kapal kayu dan kapal phinisi yang cantik digunakan sebagai latar belakang foto.

3. Museum Fatahillah

Museum Sejarah Jakarta dikenal juga dengan nama Museum Fatahillah. Museum Sejarah Jakarta terletak di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.Museum Fatahillah. (Tiara Rosana/detikcom)

Lokasi: Jl. Taman Fatahillah No 1 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.

Jam buka: 09.00-15.00 WIB (Senin tutup)

Harga tiket masuk:

  • Dewasa: Rp 5.000 per orang
  • Mahasiswa: Rp 3.000 per orang
  • Anak-anak/Pelajar: Rp 2.000 per orang.

Fatahillah adalah sosok yang bersejarah bagi Jakarta. Namanya kemudian digunakan sebagai nama Museum Sejarah Jakarta yang juga disebut Museum Fatahillah. Di dalam museum ini terdapat berbagai koleksi bersejarah dari masa lalu.

Koleksi tersebut antara berwujud perabot rumah tangga, mebel, senjata, keramik, peta, dan buku-buku. Koleksinya kini diperbanyak untuk menambah wawasan para pengunjung.

4. Taman Fatahillah

Taman FatahillahTaman Fatahillah. (Shutterstock)

Lokasi: Jl. Taman Fatahillah No 1 Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.

Jam buka: 06.00-22.00 WIB

Harga tiket masuk: gratis

Museum Fatahillah mungkin tutup sampai sore, tetapi Taman Fatahillah bisa dinikmati sampai malam. Dari taman ini, traveler bisa berfoto dengan latar belakang gedung bergaya neo klasik tersebut.

Taman ini disusun dari bahan konblok. Terdapat sebuah kolam berdesain kubah yang unik di halaman depan. Detikers bisa melihat ke bagian atap utama Museum Fatahillah yang terdapat penunjuk arah mata angin yang ikonik.

Di malam hari, area ini masih ramai pengunjung. Bahkan sering kali ada hiburan musik.

5. Toko Merah

Toko Merah: Menikmati Kopi dan Pisang Goreng di Bangunan 293 TahunToko Merah di kawasan Kota Tua. (Tim detikfood)

Lokasi: Jalan Kali Besar Barat No 11, Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat.

Jam buka: 08.00-22.00 WIB

Toko Merah mungkin tampak paling mencolok daripada bangunan di sekitarnya. Bangunan bergaya klasik Eropa ini memiliki ornamen khas China. Pada dindingnya tercantum informasi bahwa Toko Merah dibangun Gubernur VOC Gustaaf Willem Baron Van Imhoff pada 1730.

Dilansir e-jurnal milik binus.ac.id, terdapat perbedaan pendapat mengenai pemberian nama ‘Toko Merah’. Sebagian berpendapat gedung ini dulunya adalah toko yang dimiliki warga Tionghoa, Oey Liauw Kong pada pertengahan abad ke-19.

Pendapat lain mengatakan nama ‘Toko Merah’ diambil setelah peristiwa Geger Pacinan. Banyak warga Tionghoa yang mati dibunuh dan hanyut di Kali Besar saat itu. Warna air sungai pun sampai berubah menjadi merah karena darah.

Dahulu, wisatawan tidak diperbolehkan masuk ke Toko Merah, sehingga hanya bisa berfoto-foto dari luar. Sejak 1 November 2023, Toko Merah digunakan sebagai kafe RODE Winkel yang bisa menjadi tempat nongkrong sambil ngopi.

6. Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia merupakan objek wisata di kawasan Kota Tua. Tak hanya menyimpan kisah perjalanan Bank Indonesia, museum ini juga mengoleksi uang kuno.Museum Bank Indonesia. (Ni Made Nami Krisnayanti)

Lokasi: Jalan Pintu Besar Utara No 3, Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat.

Jam buka: 08.00-15.00 WIB (Senin tutup)

Harga tiket masuk:

  • Umum: Rp 5 ribu
  • Pelajar/mahasiswa: gratis

Ada juga Museum Bank Indonesia (BI) yang menyimpan sejarah perbankan Indonesia. Di sini, traveler bisa melihat mata uang dari zaman Nusantara sampai sekarang. Museum ini sering dijadikan tempat wisata edukatif oleh para pelajar.

7. Museum Bank Mandiri

museum bank mandiri kota tuamuseum bank mandiri kota tua. (Tommy Bernadus/d’Traveler)

Lokasi: Jalan Lapangan Stasiun No 1, Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat.

Jam buka: 09.00-15.00 WIB (Senin tutup)

Harga tiket masuk:

  • Dewasa: Rp 5.000 per orang
  • Pelajar/Anak-anak: Rp 3.000 per orang
  • Pelajar (Wisatawan Asing): Rp 10.000 per orang
  • Dewasa (Wisatawan Asing): Rp 15.000 per orang

Selain Museum Bank Indonesia, ada juga Museum Mandiri. Di sini, traveler bisa mengenal sejarah perbankan masa lalu melalui perangkat jadul, diorama, papan informasi.

Dilansir dari situs Museum Mandiri, gedung ini awalnya adalah kantor Nederlandsch Handel-Maatschappij (NHM) atau Netherlands Trading Corporation alias Maskapai Dagang Belanda.

Usai Indonesia merdeka, gedung ini beralih menjadi Bank Exim (Bank Export Import). Baru pada 2 Oktober 1998, gedung NHM resmi difungsikan sebagai Museum Mandiri.

8. Museum Seni Rupa dan Keramik

museum keramik kota tuamuseum keramik kota tua. (Nfadils/d’Traveler)

Lokasi: Jalan Pos Kota No 2, Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat.

Jam buka: 09.00-15.00 WIB (Senin tutup)

Harga tiket masuk:

  • Dewasa: Rp 5.000 per orang
  • Mahasiswa: Rp 3.000 per orang
  • Anak-anak/Pelajar: Rp 2.000 per orang

Di sebelah Museum Fatahillah, terdapat bangunan cagar budaya yang juga menarik, yaitu Museum Seni Rupa dan Keramik. Traveler bisa melihat berbagai koleksi keramik dan seni rupa dari Indonesia maupun mancanegara di dalam museum ini.

Detikers juga bisa mengikuti workshop membuat gerabah atau keramik di Museum Seni Rupa dan Keramik. Biaya mengikuti workshop ini adalah sebesar Rp 50.000 per orang.

9. Museum Bahari

Museum Bahari di Penjaringan, Jakarta UtaraMuseum Bahari di Penjaringan, Jakarta Utara. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Lokasi: Jalan Pasar Ikan No 1, Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.

Jam buka: 08.00-15.00 WIB (Senin tutup)

Harga tiket masuk:

  • Dewasa: Rp 10.000 per orang (weekend Rp 15.000 per orang)
  • Mahasiswa/pelajar: Rp 5.000 per orang
  • Wisatawan mancanegara: Rp 50.000.

Jakarta juga terkenal dengan lautnya. Wisatawan bisa mengenal lautan di Museum Bahari. Di museum ini, detikers bisa melihat berbagai benda-benda kelautan dari masa kolonial.

Dikutip dari situs Dinas Kebudayaan Jakarta, bangunan ini awalnya berfungsi sebagai gudang penyimpanan rempah-rempah. Setelah Jepang masuk, gedung ini berfungsi untuk menyimpan logistik oleh tentara Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, gedung ini dipakai untuk menyimpan alat navigasi hingga replika perahu tradisional dari berbagai daerah. Pemerintah menetapkan bangunan tersebut menjadi Museum Bahari pada 7 Juli 1977.

10. Magic Art 3D Museum Jakarta

Magic Art 3D MuseumMagic Art 3D Museum. Foto: Tiara Rosana/detikcom

Lokasi: Jalan Kali Besar Timur, Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat.

Jam buka: 10.00-18.00 WIB

Harga tiket masuk:

  • Dewasa: Rp 60.000 (weekend Rp 80.000)
  • Anak usia 3-17 tahun: Rp 40.000 (weekend Rp 50.000)

Ada wisata museum lain yang menarik perhatian, yaitu Magic Art 3D Museum. Dilansir dari situs resminya, museum ini menyuguhkan berbagai lukisan dan seni tiga dimensi.

Di dalamnya terdapat 17 zona dan 104 spot foto. Zona di museum ini antara lain zona lukisan, satwa, laut, rutinitas, dinosaurus, horor, dan petualangan. Selain itu, terdapat wahana menarik di dalamnya, yakni seperti labirin rumah kaca, ruang laser, ruang ames, ruang miring, kursi ilusi, ruang penjara, dan ruang ajaib.

11. Museum Wayang

Museum WayangMuseum Wayang. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Lokasi: Jalan Pintu Besar Utara No 27 Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat

Jam buka: 09.00-15.00 WIB (Senin tutup)

Harga tiket masuk:

  • Dewasa: Rp 5.000 per orang
  • Mahasiswa: Rp 3.000 per orang
  • Anak-anak/Pelajar: Rp 2.000 per orang

Satu lagi tempat wisata museum di Kota Tua, yaitu Museum Wayang. Di dalamnya terdapat aneka koleksi wayang, seperti wayang kulit, wayang golek, dan wayang beber. Selain wayang, ada koleksi berupa topeng, lukisan, patung kayu, dan gamelan.

Museum Wayang menggunakan bangunan kuno yang didirikan VOC pada 1640 dengan nama ‘de oude Hollandsche Kerk’. Dulu gedung ini sempat hancur karena gempa bumi, tetapi dibangun kembali dan diserahkan kepada Stichting Oud Batavia untuk dijadikan museum dengan nama ‘de Oude Bataviasche Museum’ atau Museum Batavia Lama.

Dikutip dari situs Asosiasi Museum Indonesia (AMI), pada masa Indonesia merdeka, pemerintah menyerahkan gedung ini kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia dan namanya diubah menjadi Museum Jakarta.

Pada 1968, bangunin ini diserahkan kepada Pemprov DKI Jakarta dan diubah fungsinya menjadi Museum Wayang pada 13 Agustus 1975.

12. Kawasan Kali Besar

Kawasan Kali Besar Kota Tua sudah hampir selesai direvitalisasi. Proyek revitalisasi yang dikerjakan selama hampir dua tahun itu mulai tampak bentuknya.Kawasan Kali Besar Kota Tua. (Agung Pambudhy/detikcom)

Jika traveler sudah melihat Toko Merah dan Museum Wayang, maka kalian pasti melihat Kali Besar. Kawasan sungai ini telah ditata rapi dan modern.

Banyak orang menyebut kawasan Kali Besar mirip dengan Sungai Cheonggyecheon yang ada di Seoul, Korea Selatan. Saat sore menjelang malam, suasana di sini semakin terlihat gemerlap oleh lampu Kota Tua.

13. Jembatan Kota Intan

Pekerja menyelesaikan proyek rehabilitasi Jembatan Kota Intan di kawasan Kota Tua, Tamansari, Jakarta Barat, Kamis (16/11/2023). Jembatan Kota Intan merupakan jembatan gantung kayu tertua di Indonesia yang dibangun pada tahun 1628 pada era pemerintah VOC Belanda.Jembatan Kota Intan. (Ari Saputra/detikcom)

Lokasi: ujung utara Jalan Kali Besar, Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat.

Di sepanjang Kali Besar terdapat beberapa penghubung antara Jalan Kali Besar Barat dan Jalan Kali Besar Timur, salah satunya adalah Jembatan Kota Intan. Jembatan ini unik karena bergaya kolonial.

Jembatan dibangun pada 1628 dan merupakan salah satu jembatan tertua di Indonesia. Sebelumnya, nama jembatan Engelse Burg (Jembatan Inggris), Hoenderpasarburg (Jembatan Pasar Ayam), dan Het Middelpunt Burg (Jembatan Pusat).

Dikutip dari situs Kemdikbud, Jembatan Kota Intan memiliki struktur unik karena dapat diangkat untuk lalu lintas perahu dan untuk mencegah banjir.

14. Pasar Petak Sembilan Glodok

Warga berjalan melintasi lapak pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Petak Sembilan, Glodok, Jakarta, Selasa (5/4/2022). Sebanyak 160 PKL di kawasan Petak Sembilan rencananya akan direlokasi ke Pasar Glodok agar jalan tersebut bisa dilalui kendaraan mobil dan motor, sejalan dengan penataan kawasan Kota dalam menyambut Stasiun MRT Taman Sari. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa.Pasar Petak Sembilan. (Hafidz Mubarak A/Antara)

Lokasi: Jalan Kemenangan Raya No 40, Kelurahan Glodok, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat

Jam buka: 06.00-15.30 WIB

Harga tiket masuk: gratis

Dari Kota Tua, detikers bisa mampir ke selatan, yakni di kawasan Glodok. Glodok merupakan kawasan pecinan terbesar sejak masa pemerintahan Hindia-Belanda. Hingga kini, mayoritas warga Glodok merupakan keturunan Tionghoa.

Di Glodok terdapat beberapa pasar, salah satunya Pasar Petak Sembilan. Di pasar ini dijual aneka barang, seperti baju, lampion, alat peribadatan untuk umat Buddha dan Konghucu, hingga berbagai perlengkapan rumah tangga.

Selain itu, banyak penjual makanan khas seperti mipan, kue keranjang, siomay, dan aneka chinese food.

15. Vihara Jin De Yuan

Lokasi: Petak Sembilan, Jalan Kemenangan III No 19 Glodok, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.

Jam buka: 06.00-16.00 WIB

Harga tiket masuk: gratis

Masih di Glodok, terdapat Vihara Jin De Yuan atau Vihara Dharma Bhakti berdiri sejak sekitar 400 tahun silam dan merupakan vihara terbesar di Jakarta. Tempat ibadah ini menjadi bukti kompleksitas kehidupan masyarakat etnis Tionghoa di Indonesia.

Pemandu dari Jakarta Good Guide, Huans Sholehan, menjelaskan kelompok Tionghoa pernah menjadi korban pembantaian pada 1740, yang membuat vihara ini ikut terbakar.

Kebakaran pernah terjadi di vihara ini pada 2015. Lalu, pada 2019 tempat ini pun ditata ulang agar menjadi tempat ibadah yang nyaman bagi umat Konghucu maupun Buddha.

Sejarah Kota Tua Jakarta

Dikutip dari situs Pemprov DKI Jakarta, Kota Tua Jakarta dulunya disebut Oud Batavia atau yang berarti Batavia Lama. Oleh Belanda, kawasan ini digunakan sebagai pusat pemerintahan Hindia-Belanda yang memiliki luas 1,3 km persegi.

Peristiwa penting banyak terjadi di tempat ini. Pada 1528, Fatahillah dikirim Kesultanan Demak untuk menyerang Pelabuhan Sunda Kalapa pada zaman Kerajaan Hindu, Pajajaran.

Fatahillah yang berhasil merebut Pelabuhan Sunda Kalapa, mengganti namanya menjadi Jayakarta yang dalam bahasa Sanskerta berarti ‘kemenangan penuh’ atau ‘kemenangan mutlak’.

Kemudian pada 1819, Belanda (VOC) di bawah Komando Gubernur Jenderal Jaan Pieterszoon Coen (JP Coen) merebut wilayah Jayakarta dari Fatahillah. Nama Jayakarta lalu diubah menjadi Batavia untuk menghormati leluhur mereka bernama Batavieren. Dari kata Batavia inilah masyarakat di sini disebut sebagai Betawi.

VOC mendirikan pusat pemerintah Hindia Belanda di Kali Besar (Groote River). Pada 1635, VOC memperluas Batavia hingga ke tepi barat Sungai Ciliwung di reruntuhan pusat pemerintahan Jayakarta.

Pada 1942, Belanda pergi dari Indonesia dan berganti dengan kependudukan Jepang. Nama Batavia kemudian diubah menjadi Jakarta. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, nama Jakarta masih terus dipakai.

Pada 1972, Gubernur Provinsi DKI Jakarta Ali Sadikin menjadikan Kota Tua sebagai situs cagar budaya melalui dekrit. Terdapat 12 gedung tua yang terancam ambruk, sehingga dilakukan revitalisasi dan hingga kini masih beroperasi dan digunakan untuk berbagai kegiatan.

Demikian tadi informasi lengkap mengenai Kota Tua Jakarta, mulai dari sejarah dan 15 tempat wisata di Kota Tua yang menarik dikunjungi. Sebelum berkunjung, jangan lupa pastikan destinasi wisata pilihan kamu dapat dikunjungi publik.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

10 Tempat Bersejarah di Surabaya Selatan dan Sekitarnya, Cocok untuk Edukasi!


Jakarta

Surabaya dijuluki sebagai Kota Pahlawan bukan tanpa alasan. Selain menjadi lokasi Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945 silam, traveler dapat menemukan sejumlah historical site dengan bangunan lama berdiri kokoh hingga sekarang yang tersebar di kota ini.

Sederet situs tersebut kini menjadi destinasi wisata menarik bagi pengunjung yang ingin mempelajari sejarah. Lantas, di mana saja tempat bersejarah di Surabaya dan sekitarnya?

Situs Bersejarah di Surabaya Selatan dan Sekitarnya

Berikut deretan historical site yang tersebar di Surabaya Selatan, Utara, hingga Pusat yang cocok untuk untuk wisata edukasi sejarah:


1. Gedung Setan Surabaya

gedung setan surabayaGedung Setan Surabaya. (Esti Widiyana)

  • Lokasi: Jl. Banyu Urip Wetan IA No.107, Kecamatan Sawahan, Surabaya.

Mendengar namanya mungkin terkesan agak seram. Padahal, gedung ini ditinggali oleh warga sebanyak 40 KK lho, mengutip pemberitaan detikcom. Dulunya, Gedung Setan sendiri bekas kantor gubernur VOC di Jawa Timur yang telah berdiri sejak 1809.

Setelah VOC bangkrut dan hengkang dari Indonesia, bangunan ini menjadi milik Dokter Teng Sioe Hie namun tidak dijadikan tempat tinggalnya. Lahan kosong di sekitar gedung dijadikan tempat pemakaman Tionghoa dan tidak ada lampu yang menyinari sekelilingnya. Oleh sebab itu, warga menyebut bangunan ini sebagai Gedung Setan.

2. Monumen Tugu Pahlawan

Sejarah Tugu Pahlawan adalah sebuah bangunan untuk memperingati peristiwa pertempuran 10 November. Tugu Pahlawan terletak di Surabaya, Jawa Timur.Monumen Tugu Pahlawan. (Bappeko Surabaya)
  • Lokasi: Jl. Pahlawan, Alun-Alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya.

Monumen Tugu Pahlawan dibangun sebagai penghormatan bagi perjuangan para pahlawan Indonesia yang gugur dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Tugu ini didirikan pada 10 November 1951 dan selang satu tahun kemudian barulah monumen diresmikan oleh Presiden Soekarno, dilansir situs Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya.

3. Museum Sepuluh Nopember

Museum 10 November SurabayaMuseum 10 November Surabaya (Tedi Permana/d’Traveler)
  • Lokasi: Jl. Pahlawan, Alun-Alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya.

Museum Sepuluh Nopember berada di Kompleks Tugu Pahlawan. Museum ini mulai didirikan pada 10 November 1991 dan diresmikan pada 19 Februari 2000 oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid.

Pembangunan museum seluas 1366 m2 itu dilakukan pada kedalaman 7 meter di bawah permukaan tanah, sehingga hanya atap bangunan yang terlihat. Penempatan ini dilakukan agar gedung museum tidak mengganggu view Tugu Pahlawan.

4. Monumen Kapal Selam

Pengunjung mengunjungi Monumen Kapal Selam KRI Pasopati 410 di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (13/5/2023). Monumen yang terbuat dari kapal selam buatan Rusia tahun 1952 dengan panjang 76 meter itu merupakan destinasi wisata edukatif di kota pahlawan tersebut yang sering dikunjungi wisatawan terutama saat akhir pekan. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/aww.Monumen Kapal Selam. (Iggoy el Fitra/Antara)
  • Lokasi: Jl. Pemuda No. 39, Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Surabaya.

Monumen Kapal Selam, yang disebut juga Monkasel, adalah bentuk asli kapal KRI Pasopati 410 dari Satuan Kapal Selam Armada RI Kawasan Timur (Satselamartim). Kapal ini dibuat di Rusia pada 1952.

Mengutip situs resmi Monkasel, KRI Pasopati 410 memainkan peran penting selama masa-masa kemerdekaan Indonesia, di antaranya pernah terlibat dalam operasi pembebasan Irian Barat dari Belanda di masa lampau.

Monkasel dibangun sebagai simbol penghargaan atas jasa KRI Pasopati dan awaknya yang berani melawan penjajah. Di dalam monumen yang dibuka pada 2 Oktober 1988, traveler dapat melihat berbagai eksibisi yang menunjukkan kehidupan di kapal selam, peralatan yang dipakai, hingga sejarah KRI Pasopati.

5. Museum Surabaya (Gedung Siola)

Lokasi: Jl. Tunjungan No. 1, Kecamatan Genteng, Surabaya

Di Museum Surabaya, kamu dapat mengetahui kesejarahan Kota Surabaya. Museum ini disebutkan memiliki lebih dari 1.000 koleksi yang mendukung informasi sejarah Kota Pahlawan itu. Koleksi berupa arsip, furnitur kuno, piano, hingga trofi.

Museum Surabaya menempati Gedung Siola yang awalnya dibangun sebagai toserba pada 1877. Di masa pemerintahan Jepang, bangunan tersebut dijadikan toko tas oleh pengusaha mereka. Usai Jepang menyerah pada Sekutu, gedung digunakan sebagai tempat pertahanan pahlawan Indonesia.

Setelahnya, Gedung Siola berganti-ganti fungsi dan pemilik. Salah satunya sempat dianggap sebagai pusat perbelanjaan terbesar pertama di Surabaya yang menyediakan berbagai kebutuhan. Hingga akhirnya diresmikan sebagai Museum Surabaya pada 3 Mei 2015.

6. Museum Dr. Soetomo

Museum Dr. SoetomoMuseum Dr. Soetomo. (Tiket Wisata Surabaya)
  • Lokasi: Jl. Bubutan No. 85-87, Kecamatan Bubutan, Surabaya

Sesuai namanya, museum ini menampilkan riwayat hidup Dr. Soetomo yang merupakan tokoh pergerakan Indonesia sekaligus pendiri organisasi Boedi Oetomo. Di museum ini bisa dijumpai lebih dari 300 koleksi berupa alat kesehatan, foto-foto, dan terdapat makam Dr. Soetomo. Museum Dr. Soetomo diresmikan pada November 2017 oleh Walikota Surabaya Tri Risma Harini.

7. Monumen Jalesveva Jayamahe

monumen jalesveva jayamahe.monumen jalesveva jayamahe. (Deny Prastyo Utomo detikcom)
  • Lokasi: Armada Timur Ujung, Kecamatan Semampir, Surabaya

Monumen Jalesveva Jayamahe atau Monjaya merupakan tempat wisata edukasi maritim. Mengutip pemberitaan detikcom, monumen ini terdiri dari dua bagian: patung dan bangunan. Patung Jalesveva Jayamahe memiliki ketinggian 31 meter dan gedung yang menopangnya sekaligus dijadikan sebagai museum setinggi 29 meter.

Monjaya dibangun pada 5 Desember 1990 dan rampung kurang lebih enam tahun setelahnya. Pembangunan monumen ini menunjukkan kesiapan dan optimisme tinggi Angkatan Laut Indonesia dalam menjaga keamanan dan kedaulatan NKRI.

8. Museum H.O.S Tjokroaminoto

Museum HOS Tjokroaminoto, rumah masa muda Soekarno di Surabaya ramai dikunjungi di Hari Lahir Pancasila.Museum HOS Tjokroaminoto. (Esti Widiyana/detikcom)
  • Lokasi: Jl. Peneleh Gg. VII No. 29-31, Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya

Museum H.O.S Tjokroaminoto dulunya adalah tempat tinggal pahlawan nasional H.O.S Tjokroaminoto semasa hidup. Kediamannya juga merupakan tempat para tokoh pergerakan nasional bertemu dan berdialog.

Oleh karena itu, rumah sang pahlawan diresmikan sebagai museum sekaligus menjadi destinasi wisata sejarah pada 27 Desember 2017. Di sini dapat ditemukan lebih dari 140 koleksi peninggalan H.O.S Tjokroaminoto.

9. Museum W.R. Soepratman

Melihat Museum WR Soepratman, Pencipta Lagu Ibu Kita KartiniMelihat Museum WR Soepratman. (Rifki Afifan Pridiasto)
  • Lokasi: Jl. Mangga No. 21, Gedang Sewu, Kecamatan Tambaksari, Surabaya

Museum W.R. Soepratman termasuk destinasi wisata sejarah di Surabaya. Dulunya, museum ini merupakan rumah kakak W.R. Soepratman yang juga tempat sang pahlawan pencipta lagu Indonesia Raya itu wafat.

Terpampang foto-foto W.R. Soepratman bersama keluarga dan kerabat dekatnya di dalam museum ini. Di samping itu terdapat dua kamar tidur yang salah satunya adalah kamar tidur W.R. Soepratman.

Uniknya, kamar beliau tidak mempunyai akses pintu dan hanya ada jendela depan. Dibuat demikian untuk mengelabui aparat Hindia Belanda pada masa itu.

10. Museum Pendidikan Surabaya

Museum Pendidikan di Surabaya Wajib DikunjungiMuseum Pendidikan di Surabaya. (Dok tiketwisata.surabaya.go.id)
  • Lokasi: Jl. Genteng Kali No. 10, Kecamatan Genteng, Surabaya

Museum Pendidikan Surabaya didirikan sebagai museum tematik yang menyimpan bukti materiil pendidikan pada masa pra aksara, klasik, kolonial, dan masa kemerdekaan. Tempat museum ini berdiri dulunya merupakan Sekolah Taman Siswa cabang Surabaya milik Ki Hajar Dewantara.

Diresmikan pada 25 November 2019, Museum Pendidikan dibangun untuk mendukung kegiatan edukasi, riset, sekaligus rekreasi di Surabaya.

Nah, itu tadi sederet historical site atau tempat bersejarah di Surabaya Selatan dan sekitarnya. Jadi, traveler tertarik mendatangi tempat yang mana nih?

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

Ulasan Destinasi Bersejarah di Jogja, dari Benteng Vredeburg-Monjali



Yogyakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), seperti namanya kota ini begitu istimewa dan selalu punya cerita. Yogyakarta juga punya andil besar dalam kemerdekaan RI dengan bukti tinggalan sejarahnya.

Berbagai situs bersejarah terkait perjuangan rakyat Indonesia mengusir penjajah masih terawat. Bahkan, kini ada museum untuk mengenang perjuangan itu.

Bangunan atau tempat bersejarah bahkan dibuka sebagai tempat wisata. Mulai dari peninggalan keraton sampai penjajahan Belanda, wisata sejarah Jogja punya banyak pilihan.


5 Wisata Sejarah Jogja

1. Museum Benteng Vredeburg

Museum Benteng Vredeburg, Jogja. Foto diunggah pada Selasa (10/10/2023).Museum Benteng Vredeburg, Jogja. (Anandio Januar-Novi Vianita/detikJogja)

Lokasi: Jl. Margo Mulyo No.6, Ngupasan, Kec. Gondomanan, Kota Yogyakarta

Buka: Setiap hari Selasa – Minggu (08.00 WIB – 15.00 WIB)

Harga tiket masuk: Rp 2.000 (anak), Rp 3.000 (dewasa), dan Rp 10.000 (turis asing)

Museum Benteng Vredeburg dibangun pada 1765 oleh pemerintah Belanda. Museum ini awalnya adalah benteng pertahanan dari serangan Kraton Yogyakarta.

Di dalam museum ini, kamu akan menemukan sejumlah koleksi, seperti diorama yang menceritakan perjuangan rakyat pra-proklamasi, bangunan-bangunan peninggalan Belanda, serta benda-benda bersejarah lainnya yang sangat khas dengan budaya masa lalu.

2. Situs Warungboto

Situs Warungboto Jogja. Foto diambil Senin (3/9/2023).Situs Warungboto Jogja. (Anandio Januar/detikJogja)

Lokasi: Jalan Veteran No. 77, Kalurahan Warungboto, Kêmantrèn Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

Buka: Setiap hari (08.00 WIB – 17.00 WIB)

Harga tiket masuk: Gratis

Situs Warungboto merupakan wisata sejarah yang memiliki banyak nama lain, yakni Umbul Warungboto, Pesanggrahan Warungboto, dan Pesanggrahan Rejowinangun. Banyaknya nama ini bisa jadi karena situs ini berada di dua kalurahan yang berbeda.

Dikutip dari website resmi Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, situs bersejarah ini dulunya dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono II ketika beliau sedang menjadi putra mahkota pada periode 1765-1792. Selain menjadi tempat beristirahat, Pesanggrahan Rejowinangun juga merupakan sebuah benteng pertahanan dari sisi timur Keraton Ngayogyakarta.

Pesanggrahan ini juga dilengkapi dengan taman, segaran, kolam, dan kebun di sisi timur. Sementara, di sisi barat merupakan kompleks bangunan berkamar dan dua kolam pemandian.

3. Keraton Yogyakarta

Keraton YogyakartaKeraton Yogyakarta (Pradita Utama/detikTravel)

Lokasi: Jl. Rotowijayan Blok No. 1, Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta

Buka: Setiap hari (08.30 WIB – 14.00 WIB)

Harga tiket masuk: mulai dari Rp 5.000 – Rp 15.000 per orang.

Salah satu wisata sejarah di Jogja yang wajib kamu kunjungi tentu saja Keraton Yogyakarta. Tempat wisata sekaligus salah satu ikon kota ini memiliki nama asli Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Hingga kini, istana ini masih dihuni oleh para keturunan raja-raja Yogyakarta.

Tidak hanya melihat bangunan bersejarah saja, kamu juga bisa menyaksikan berbagai pertunjukan atau upacara adat yang masih sering dilakukan oleh pihak keraton. Jika masuk ke dalam, kamu juga akan menemukan barang-barang pusaka peninggalan zaman dulu.

Barang-barang pusaka tersebut misalnya seperti kereta kencana, keris, tombak, ampilan, panji-panji, pelana kuda, dan regalia. Tak heran, lokasi ini juga sudah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia.

4. Taman Sari Keraton Yogyakarta

Wisatawan berfoto di halaman Tamansari Yogyakarta, Sabtu (26/6/2021). Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan HB X menutup sementara wisata milik Keraton Yogyakarta antara lain Museum Kereta Keraton, Kompleks Pagelaran, Keben/Kompleks Kedhaton (Museum Keraton), Tamansari, serta Puralaya Imogiri dan Kotagede selama satu pekan mulai Sabtu (26/6) hingga Jumat (2/7) untuk menekan penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/rwa.Wisatawan berfoto di halaman Tamansari Yogyakarta, Sabtu (26/6/2021). (Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko)

Lokasi: Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta

Buka: Setiap hari (09.00 WIB – 15.00 WIB)

Harga tiket masuk: Rp 5.000 per orang.

Wisata sejarah di Jogja lainnya yang wajib kamu kunjungi adalah Kampung Wisata Taman Sari. Bangunan yang sudah ada sejak abad ke-17 ini dibangun pada masa kesultanan Hamengkubuwono I dengan lama waktu pengerjaan sekitar 9 tahun (1758 hingga 1765).

Dulunya, bangunan ini memiliki luas awal 10 hektar dengan 57 bangunan, yang terdiri dari kompleks kolam pemandian, pulau buatan, danau buatan, jembatan gantung, taman, lorong bawah tanah, kanal air, serta beberapa gedung dengan beragam arsitektur.

Kini, salah satu bangunan yang masih tersisa dan bisa kamu nikmati adalah masjid bawah tanah. Masjid yang sangat populer di kalangan wisatawan ini sukses menjadi spot favorit untuk mengabadikan momen liburan yang menyenangkan.

5. Monumen Yogya Kembali

Pemasangan bendera raksasa di Monumen Yogya Kembali (Monjali), Rabu 29 Juni 2016Pemasangan bendera raksasa di Monumen Yogya Kembali (Monjali), Rabu 29 Juni 2016 (Sukma Indah P/detikcom)

Lokasi: Jl. Ring Road Utara, Jongkang, Sariharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman

Buka: Setiap hari Selasa – Minggu pukul 08.00 – 16.00 WIB.

Harga tiket masuk: mulai dari Rp 10.000 – Rp 15.000 per orang.

Museum ini mulai dibangun pada 29 Juni 1985 dan diresmikan pada 6 Juli 1989 oleh Presiden Soeharto.

Museum ini didirikan dengan tujuan untuk memperingati peristiwa sejarah ditariknya tentara kolonial Belanda dari Ibu Kota Yogyakarta pada 29 Juni 1949, yang sekaligus juga menjadi penanda berfungsinya kembali Kota Yogyakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia yang direbut dari penjajah Belanda.

Gagasan awal pendirian Museum Monjali disampaikan oleh Kolonel Sugiarto dalam peringatan Yogya Kembali yang diselenggarakan pada 29 Juni 1983.

Keunikan Museum Monjali terletak pada struktur bangunannya. Bangunan Monjali berbentuk kerucut yang terdiri dari 3 lantai. Bentuk bangunan yang unik ini sangat ikonik dan telah menjadi ciri khas dari Museum Monjali.

Selain itu, keunikan lain dari Museum Monjali adalah bangunan induk museum yang dikelilingi oleh kolam ikan.

(bnl/fem)



Sumber : travel.detik.com