Tag Archives: peresmian

Dulu Bekas Tambang, Kini Jadi Destinasi Wisata Alam di Sumedang



Sumedang

Dulu tempat di Sumedang ini adalah bekas tambang galian C. Namun sekarang, destinasi itu berhasil disulap menjadi tempat wisata alam yang menawan.

Kabupaten Sumedang kini memiliki tempat wisata ekosistem. Menariknya, wisata ini merupakan hasil reklamasi dari bekas galian C.

Lokasinya berada di kaki gunung Tampomas, tepatnya di Dusun Ciseureuh, Desa Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.


Hadirnya wisata ekosistem di Sumedang ini ditandai dengan peresmian oleh Penjabat (Pj) Bupati Sumedang Yudia Ramli, pada Kamis (30/1). Menurut Yudia, kehadiran Tampomas ECO Park sendiri menjadi satu-satunya wisata di Sumedang yang berbasis pelestarian lingkungan.

“Hari ini saya meresmikan Tampomas ECO Park di Kabupaten Sumedang. Ini adalah yang pertama satu-satunya yang ada di Sumedang karena ini merupakan basis pelestarian lingkungan,” ujar Yudia.

“Kabupaten Sumedang tentunya merasa bangga dan terima kasih kepada pengagas Tampomas ECO Park,” sambungnya.

Wisata Agrowisata Tampomas ECO Park merupakan hasil dari reklamasi yang dulunya wilayah galian C. Destinasi ini menjadi salah satu daya tarik wisata baru di Sumedang khususnya.

“Yang menarik adalah ini dari reklamasi, kalau yang tidak reklamasi mah mudah tapi ini yang reklamasi yang luar biasa tadi disebutkan, dan ini bagi kita mudah-mudahan menjadi lingkungan menjadi baik, bisa menjadi destinasi wisata, masyarakat sekitar ekonominya bisa meningkat,” katanya.

Tampomas ECO Park yang berdiri di lahan bekas galian C di SumedangTampomas ECO Park Foto: Dwiky Maulana Vellayati/detikJabar

Yudia berharap, dengan kehadiran wisata Tampomas ECO Park bisa menjadi salah satu contoh wisata yang menjadi penggagas wisata dengan konsep reklamasi.

“Yang bagus ini bisa menjadi percontohan kalau secara nasional mudah-mudahan ini bisa menjadi laboratorium nanti misalnya kalau ada yang mana ECO park tuh contohnya di Sumedang ada reklamasi. Tapi bukan hanya lingkungan yang indah tapi juga bermanfaat,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Utama pengelola Tampomas ECO Park, Gilar Sabilah menyampaikan nantinya konsep wisata Tampomas ECO Park akan punya berbagai wahana, termasuk penginapan dengan pemandangan yang indah.

“Jadi konsep tempat ini tuh sebenarnya kita punya tagline di sini one stage hiling, jadi satu tempat banyak fasilitas. Jadi orang-orang yang datang kesini itu diharapkan tidak bingung karena apapun di sini ada, fasilitas dari mulai penginapan rumah kayu, terus ada vila, ada caffe, ada restoran makan Sunda, terus ada go car, ada camper van, ada camping ground, ada karaoke dan masih ada fasilitas penunjang lainnya,” kata Gilar.

Untuk menjadi sampai dengan sekarang, kata Gilar, proses reklamasi tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Hingga saat ini pembangunan sendiri baru mencapai 45 persen dan akan ditargetkan pada tahun 2026 sudah beroperasi sepenuhnya.

“Betul ini dulunya bekas galian C. Proses reklamasi kita hampir 4 tahun setengah, jadi dulu dari masih galian pasir sampai sekarang ini kita butuh waktu 4 tahun setengah,” kata dia.

“Kalau kita pembangunan sekarang hampir 45 persen target kita di tahun depan sudah 100 persen. Cuman di pertengahan tahun ini kita buka untuk umum,” pungkasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Begini Wajah Terkini Kampung Pelangi di Bandung, Penuh Warna-warni



Bandung

Kampung Pelangi di Bandung kini punya wajah baru. Warna-warni cerah kampung yang kini berubah nama menjadi Lembur Katumbiri itu telah kembali.

Pemandangan penuh warna yang unik dan semarak kini sudah siap menyambut siapa saja wisatawan yang menyambangi kawasan Lembur Katumbiri di Kota Bandung.

Perkampungan dengan topografi berundak-undak ini menjadi rumah bagi ratusan warga yang menghuni bangunan dengan aneka mural berwarna-warni cerah.


Rumah-rumah berwana tersebut berdiri di lereng Sungai Cikapundung, tepatnya terletak di Jalan Siliwangi, RT 03 RW 12 Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong. Jalan masuknya dapat diakses melalui Gang Bapa Ehom yang berada di samping area Teras Cikapundung.

Tim detikJabar menyambangi Lembur Katumbiri yang baru diresmikan hari Selasa (6/5/2025) ini. Di pagi hari, suasana jalan Gang Bapa Ehom menuju Lembur Katumbiri terasa segar dan sejuk, dengan gemercik suara sungai dan sinar matahari menerobos pepohonan.

Lembur Katumbiri di Kota BandungLembur Katumbiri di Kota Bandung Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

Tak heran, banyak pejalan kaki maupun pelari yang terpantau mengunjungi kawasan ini untuk berolahraga. Terlebih, jalan setapak yang telah dipugar ini juga terlihat bersih dan asri.

Untuk mencapai Lembur Katumbiri, traveler perlu berjalan sekitar 600-an meter dari bibir gang, dengan jalan yang relatif datar dan aman untuk dilalui siapa saja. Namun, ada beberapa titik yang licin dan perlu diwaspadai terutama bila hujan turun.

Warna-warni cerah dinding rumah mulai terlihat setelah berjalan kaki santai selama kurang lebih 10 menit. Ada spot foto yang bisa digunakan pengunjung untuk mengabadikan momen dengan latar rumah warna-warni. Namun, untuk mengakses kampung ini, pengunjung harus melalui turunan dan tanjakan yang cukup curam.

Lembur Katumbiri di Kota BandungLembur Katumbiri di Kota Bandung Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

Lembur atau kampung yang sebelumnya dinamai Kampung Pelangi 200 ini telah cukup lama menjadi salah satu spot wisata ‘Instagramable’ Kota Bandung, yakni sejak 2018-an. Namun, seiring waktu, warna-warni kampung ini perlahan pudar.

Oleh karena itu, pemerintah Kota Bandung bersama seniman mural John Martono dan warga setempat kembali mengecat sebanyak hampir 200 rumah di kawasan ini agar kembali menarik.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan pengecatan kembali rumah-rumah di Lembur Katumbiri bertujuan untuk menjadikan kawasan ini sebagai tempat wisata tersembunyi atau ‘hidden gem’ yang menarik bagi wisatawan.

“Tujuannya adalah untuk memberikan alternatif ‘hidden gem’, sebuah konsep yang bisa dibuat sebenarnya. Tempat tersendiri, jauh dari keramaian, sangat menyenagkan untuk didatangi wisatawan,” ungkap Farhan di sela peresmian Lembur Katumbiri.

Nama katumbiri alias “pelangi” dalam Bahasa Sunda dipilih karena merepresentasikan suasana rumah dengan mural warna-warni di kawasan ini. Ia berharap warga setempat dapat memanfaatkan hal ini dengan membuka tempat usaha yang bisa dimanfaatkan untuk bersantai.

“Wisatawan bisa bikin konten di sini. Warga silakan buat tempat jajan, tempat duduk-duduk dan foto2-foto. Asalkan tetap jaga kebersihan dan keselamatan,” terangnya.

Pengecetan Lembur Katumbiri Melibatkan Warga

Sementara itu, seniman mural John Martono mengatakan ia memerlukan waktu sekitar 17 hari untuk mengecat 200-an rumah di Lembur Katumbiri. Pengecatan dilakukan bekerja sama dengan sejumlah pihak, tak terkecuali warga setempat.

“Ada teman-teman dan pegawai yang ngecat, juga warga sekitar. Ini adalah kerja sama kami. Kita usahakan agar setiap rumah warnanya berbeda-beda,” ungkap John.

Ia mengatakan proses awal pengecetan dimulai dengan membuat sketsa kasar di smartphone tentang mural yang akan diaplikasikan di dinding-dinding rumah. Setelah berembuk dengan para pengecat, mereka kemudian mulai bahu-membahu melakukan pengecatan.

“Tapi memang ada beberapa spot yang sulit dijangkau, jadi kita maksimalkan di dinding-dinding lain,” terangnya.

Ia mengatakan tidak ada konsep spesifik yang diterapkan di karya mural Lembur Katumbiri. Tujuannya adalah membuat suasana lebih semarak dan berwarna, dan adaptif dengan keinginan warga setempat yang ingin mewarnai kampung mereka dengan gambar-gambar tertentu.

“Jadi keseluruhan mural ini memiliki alur yang menggambarkan bahwa hidup adalah hal yang situasional, kita harus fleksibel menghadapi berbagai situasi. Saya menamainya ‘the journey of happiness'”, papar John.

Warga Berharap Roda Ekonomi Berputar

Sementara itu, Ketua RT 10 RW 12 Kelurahan Dago, Rasimun mengatakan warga setempat mendukung pengecatan kembali tempat tinggal mereka menjadi warna-warni. Ia berharap, peresmian kampung mereka menjadi Lembur Katumbiri dapat mendorong bergeraknya perekonomian warga setempat.

“Perekonomian warga minimal ya harus ada peningkatan lah ke depannya. Untuk saat ini mungkin belum, karena masih baru. Mudah-mudahan ke depannya akan ada pedagang baru bermunculan setelah peresmian ini,” ungkap Rasimun.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Jejak Pahlawan Maluku di Ruang Literasi Blok M



Jakarta

Dari kisah heroik pejuang Maluku hingga semangat literasi anak muda, sebuah ruang baca di Blok M menghadirkan pertemuan sejarah dan modernitas dalam satu napas. Taman Literasi Martha Christina Tiahahu.

taman itu terletak di Jl. Sisingamangaraja No. 2, Selong, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan. Lokasinya strategis di kawasan Blok M yang dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum.

Taman itu dirancang sebagai ruang publik yang menggabungkan nuansa hijau dengan kegiatan literasi. Ada juga fasilitas keren seperti perpustakaan terbuka, sampai kafe yang bikin taman ini hidup dengan berbagai aktivitas kreatif dan edukatif.


Kalau kamu sedang jalan-jalan ke kawasan Blok M, jangan sampai melewatkan satu spot keren ini: Taman Literasi Christina Martha Tiahahu.Kalau kamu sedang jalan-jalan ke kawasan Blok M, jangan sampai melewatkan satu spot keren ini: Taman Literasi Christina Martha Tiahahu. (Grandyos Zafna)

“Di taman ini sering diselenggarakan acara, mulai dari workshop, ngobrolin buku, sampai pertunjukan seni atau konser ada di sini, biasanya ada di tengah taman pengunjung bisa duduk untuk menonton pertunjukan,” kata Muti, pemandu wisata dari Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Selatan pada Kamis (25/9/2025).

Sejarah Penamaan Taman Literasi Martha Christina Tiahahu

Berdasarkan penjelasan dari Muti, pemandu wisata Sudin Parekraf Jakarta Selatan, nama taman ini diambil dari sosok pahlawan nasional asal Maluku, Martha Christina Tiahahu. Dia adalah pahlawan yang berani melawan penjajahan Belanda.

Martha ditawan Belanda pada 1818. Saat ditawan Martha memilih tidak makan hingga akhirnya meninggal, dan jenazahnya bahkan dibuang ke laut.

Atas keberaniannya, pemerintah menetapkan Martha Christina Tiahahu sebagai pahlawan nasional pada 1969. Semangat juang Marta Tiahahu menjadi filosofi taman ini, diharapkan dengan adanya taman ini, generasi muda berani berkarya dan belajar lewat literasi.

Peresmian Taman Literasi Martha Christina Tiahahu

Dulu, taman ini bernama Taman Martha Tiahahu. Kemudian, saat kawasan Blok M direvitalisasi bersamaan dengan pembangunan Cakra Selaras Wahana (CSW), taman ini ikut direnovasi dan diresmikan pada 2021 oleh Gubernur Jakarta Anis Baswedan dengan nama barunya ‘Taman Literasi Martha Christina Tiahahu’.

Gubernur terpilih Jakarta Pramono Anung berencana membuka sejumlah taman di Jakarta 24 jam. Warga berharap taman nantinya tidak dijadikan tempat tidur tunawisma seperti di luar negeri.Taman Literasi Blok M (Andhika Prasetia)

“Taman ini sempat berganti nama, awalnya bernama Taman Martha Tiahahu terus diganti sama bapak Gubernur jadi Taman Literasi Martha Christina Tiahahu dengan harapan warga Jakarta bisa mengakses literasi walau sedang di Taman dan pembangunan taman ini berbarengan dengan CSW,” kata Muti.

Di taman ini mayoritas ada kafe kopi. Kopi yang paling mahal adalah kopi gajah dari hasil fermentasi gajah. Harga satu cangkir kopi mencapai Rp 50 ribu.

“Asal mula kopi itu berasal dari kambing yang menari-nari, awal mulanya ada pengembala kambing asal Ethiopia yang melihat kambingnya begitu semangat setelah memakan buah beri merah dari pohon kopi,” kata Muti.

Rute Menuju Taman Literasi

Berkunjung ke Taman Literasi, traveler bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Berikut rute transportasi umum dan kendaraan pribadi yang berhasil detik travel dapatkan untuk detikers gunakan menuju Taman Literasi.

TransJakarta:

Jika traveler berangkat dari pusat kota Jakarta, traveler bisa menggunakan TransJakarta koridor 1, lalu turun di Halte Blok M, dan bisa berjalan kaki 450 meter menuju Taman Literasi. Jika traveler berangkat dari arah Tangerang Selatan, traveler bisa menggunakan TransJakarta koridor s21, lalu turun di Bus Stop Hotel Melawai dan berjalan 450 meter menuju Taman Literasi.

MRT:

Traveler bisa menggunakan MRT menuju Taman Literasi, lalu turun di Stasiun Blok M BCA, dan berjalan 350 meter menuju Taman Literasi.

Kalau detikers dari Jakarta Pusat menuju Taman Literasi menggunakan kendaraan pribadi, detikers dapat menempuh perjalanan sepanjang 8,9 km melalui jalur arteri dengan melintasi Jalan Jenderal Sudirman.

Taman Literasi Martha Christina Tiahahu bukan hanya ruang hijau untuk bersantai, tetapi juga wadah bagi generasi muda untuk belajar dan berkarya. Dengan perpaduan sejarah, literasi, dan aktivitas kreatif, taman ini menjadi destinasi publik yang patut dikunjungi di Jakarta Selatan.

(fem/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
image : unsplash.com / Thomas Tucker

Mengagumi Patung Yesus di Tana Toraja, Destinasi Spiritual yang Memukau



Makale

Bukan cuma Brasil saja yang punya patung tinggi Yesus (Christ the Redeemer) yang menjulang tinggi. Indonesia juga punya, Patung Yesus Buntu Burake atau dikenal Patung Yesus Kristus Memberkati yang ada di Sulawesi Selatan, tepatnya di Kota Makale, Tana Toraja.

Patung ini menjulang megah di Bukit Buntu Burake, yang terletak di atas Kota Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, dan kini telah menjadi simbol destinasi wisata religi yang menawan. Dibuat dari material perunggu dan proses pembangunannya dimulai pada tahun 2013 melalui sebuah sayembara terbuka, dan rampung pada tahun 2015.

Patung Yesus Kristus Memberkati di Tana Toraja dirancang oleh seniman asal Yogyakarta, Supriadi, dengan dukungan dari Hardo Wardoyo Suwarto. Dengan tinggi sekitar 45 meter, patung itu menjadi salah satu yang tertinggi di dunia.


Terletak di ketinggian kurang lebih 1.700 meter di atas permukaan laut, patung ini tampak menjulang megah dan menawarkan pemandangan menakjubkan Kota Makale serta hamparan pegunungan hijau di sekelilingnya. Lokasi pembangunannya dipilih karena memiliki makna simbolis yang kuat.

Patung itu menggambarkan sosok Yesus dengan kedua tangan terbuka lebar, seakan memberkati seluruh wilayah Toraja. Detail pahatannya yang halus memancarkan ekspresi damai dan kasih sayang, mencerminkan nilai-nilai spiritual yang hidup dalam masyarakat Toraja, yang sebagian besar memeluk agama Kristen.

Selain menonjolkan keindahan arsitekturnya, tempat ini juga menawarkan pengalaman rohani yang menyentuh. Para pengunjung, baik peziarah maupun wisatawan, dapat berdoa, bermeditasi, atau sekadar menikmati ketenangan di pelataran patung, ditemani suasana alam yang hening dan udara pegunungan yang sejuk. Bagi banyak orang, ini menjadi tempat ideal untuk mencari kedamaian dan melakukan perenungan batin.

Salah satu daya tarik utama lainnya adalah jembatan kaca yang terletak di dasar patung, dengan panjang sekitar 100 meter. Dibangun pada awal tahun 2018, jembatan ini disebut sebagai yang terluas di Indonesia. Dibuat dari kaca tempered berstandar SNI, jembatan ini dirancang tahan terhadap tekanan angin dan beban berat, menawarkan sensasi menegangkan sekaligus panorama luar biasa Kota Makale dari ketinggian.

Bendera merah putih 77 meter di patung Yesus Tana TorajaBendera merah putih 77 meter di patung Yesus Tana Toraja. (Rachmat Ariadi/detikSulsel)

Untuk mencapai lokasi patung, pengunjung perlu menapaki tangga berjumlah antara 500 hingga 7.777 anak tangga, tergantung jalur yang diambil. Sepanjang perjalanan, pengunjung akan disuguhi pemandangan alam yang indah-mulai dari lereng hingga puncak bukit-yang menghadirkan pengalaman tak terlupakan dengan udara segar khas pegunungan Toraja.

Popularitas destinasi ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Saat libur Lebaran 2025, tercatat sebanyak 18.278 orang mengunjungi kawasan ini. Bahkan pada musim liburan sebelumnya, jumlah pengunjung sempat menembus 2.500 orang dalam satu hari.

Hal tersebut menunjukkan betapa besar daya tarik wisata spiritual sekaligus keindahan alam yang ditawarkan tempat ini. Harga tiket masuk pun sangat terjangkau, hanya Rp10.000 per orang dewasa, dan kawasan ini dibuka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 21.00 WITA.

Lebih dari sekadar monumen, Patung Yesus Buntu Burake menjadi simbol baru dalam pengembangan wisata rohani di Indonesia. Peresmian yang dilakukan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada akhir tahun 2018 mengukuhkan posisinya sebagai destinasi nasional yang menggabungkan keindahan alam dan kekuatan spiritualitas secara harmonis.

Menariknya, tempat itu tidak hanya ramai dikunjungi oleh umat Kristen. Wisatawan dari berbagai latar belakang juga datang untuk menikmati keindahan alam dan suasana religius yang menyelimuti kawasan ini. Pada perayaan HUT RI ke-77, bendera merah putih sepanjang 77 meter dibentangkan di pelataran patung sebagai simbol harapan dan persatuan, mencerminkan nilai-nilai kebangsaan dan inklusivitas yang dijunjung tinggi di tempat ini.

(upd/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Resmi Dibuka, Enchanting Valley Jadi Magnet Baru Wisata Keluarga di Puncak


Bogor

Taman Safari Indonesia resmi membuka destinasi wisata terbaru Enchanting Valley, sebuah kawasan Recreation, Dining, and Entertainment (RDE) yang berlokasi di Megamendung, Puncak – Bogor.

Dulu tempat wisata ini dikenal sebagai Taman Wisata Matahari. Namun kini destinasi andalan di Puncak itu hadir lebih segar dengan lebih banyak wahana dan tenant-tenant modern.

Peresmian Enchanting Valley ditandai dengan prosesi pemotongan pita oleh perwakilan Pemerintah Kabupaten Bogor bersama jajaran Board of Director Taman Safari Indonesia, Rabu (17/9/2025).


“Grand Opening Enchanting Valley di kawasan Megamendung – Puncak Bogor diharapkan menjadi magnet baru wisata keluarga yang memperkuat posisi Puncak sebagai destinasi utama pariwisata Jawa Barat,” ujar Presiden Direktur Taman Safari Indonesia Group Aswin Sumampau.

Dengan luas 22 hektar, kombinasi hiburan, kuliner, dan rekreasi modern ini diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, sekaligus mendorong geliat ekonomi masyarakat sekitar melalui kolaborasi dengan UMKM lokal di sektor kuliner, kerajinan, dan jasa pendukung pariwisata.

“Enchanting Valley ini berbeda dengan konsep Taman Safari Indonesia pada umurnya. Fokus kami berubah yang di Enchanting Valley ini yang biasanya Taman Safari Group itu berfokus kepada konservasi satwa liar, Enchanting Valley hadir sebagai ruang interaktif. Enchanting Valley ini berfokus kepada keluarga muda untuk memiliki aktivitas keluarga bersama dengan anak-anak. Sehingga jangan main gadget terus gitu intinya ya, tapi bisa keluar untuk bersama-sama main bareng orang tua seperti itu konsepnya. Oleh karena itu, pasti kalau Bapak-Ibu membawa anak-anak ke sini pasti capek, tapi puas memiliki waktu bersama dengan anak-anak kita sendiri,” ujarnya.

Wahana di Enchanting Valley

Dalam grand opening ini, Enchanting Valley juga memperkenalkan wahana terbaru Bumble Boat, sebuah atraksi air seru yang dirancang khusus untuk memberikan pengalaman bertualang tak terlupakan bagi keluarga.

Selain itu, pengunjung juga akan disuguhkan dengan tambahan pertunjukan di area Plaza Carnival, tentunya semakin memperkaya ragam hiburan di kawasan ini. Enchanting Valley by Taman Safari merupakan destinasi wisata terbaru di Cisarua, Puncak Bogor, yang memadukan alam, petualangan, musik, dan kuliner dalam kawasan seluas 22 hektar.

Tempat ini menghadirkan tiga kafe, dua area kuliner, tiga pertunjukan, dan lima wahana permainan yang menjanjikan pengalaman liburan seru dan berkesan. Daya tarik utamanya meliputi LILA & The Magical Forest Show, teater musikal outdoor berstandar internasional dengan visual dan musik spektakuler, Angklung Show, di mana pengunjung dapat belajar dan bermain angklung dengan latar air terjun, serta Lila’s Magical World, petting zoo interaktif yang juga menghadirkan Animal Education edukatif.

Untuk pecinta petualangan, tersedia wahana seperti Super Wheels (mobil klasik sepanjang 1,5 km), Nets Play trampolin jaring, Plaza Carnival dengan tujuh permainan seru, The Playground bertema satwa, hingga The Pavilion area santai dengan tenant snack.

Aneka tenant kuliner

Dari sisi kuliner, pengunjung dapat menikmati berbagai pilihan di Amarta Restoran dengan hidangan Nusantara, District Dining dengan menu Asia hingga Western, serta Kembang Nona yang menyajikan kopi dan camilan dalam suasana hijau yang menenangkan.

(ddn/row)



Sumber : travel.detik.com

Menengok Sejarah Kelam PKI di Monumen Kresek Madiun



Madiun

Monumen Kresek, sering disebut Monumen Keganasan PKI 1948, bukan sekadar objek wisata. Monumen itu dibangun untuk mengenang korban pemberontakan PKI di Madiun.

Di sebuah lapangan hijau seluas beberapa hektare di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, berdiri sebuah patung dan relief bisu berdiri sebagai pengingat peristiwa berdarah yang pernah mengguncang kota tersebut.

Dari arsip pemberitaan detikcom, peristiwa berdarah itu terjadi pada 18 September 1948, ketika PKI di bawah pimpinan Musso berhasil menguasai kota Madiun selama 13 hari.


Selama periode itu, terjadi kekerasan terhadap tokoh masyarakat, ulama, dan prajurit TNI. PKI berusaha menggulingkan pemerintahan Presiden Soekarno dan mendirikan negara berdasarkan ideologi komunis.

Pemberontakan ini dipicu ketegangan politik dan ekonomi pasca-kemerdekaan, serta ketidakpuasan PKI terhadap kebijakan pemerintah, termasuk hasil Perjanjian Renville yang dianggap merugikan Indonesia.

Musso kembali dari pengasingan di Uni Soviet untuk memimpin pemberontakan, dengan tujuan mengganti dasar negara Pancasila dengan ideologi komunis dan mendirikan Republik Soviet Indonesia.

Pada dini hari 18 September, PKI mulai merebut gedung-gedung penting di Madiun, termasuk kantor pos, telekomunikasi, markas TNI, dan Radio Republik Indonesia (RRI) untuk menyebarkan propaganda.

Namun, perlawanan dari pasukan TNI yang dipimpin Kolonel A H Nasution berhasil membendung gerakan ini. Pada 30 September 1948, Madiun berhasil kembali direbut pemerintah.

Peristiwa ini menelan banyak korban jiwa. Sekitar 1.920 orang tewas, termasuk 17 tokoh masyarakat yang namanya diabadikan di Monumen Kresek. Salah satu korban adalah Kiai Husen, seorang ulama dan anggota DPRD Madiun, yang dibunuh secara kejam oleh Musso.

Saksi Bisu Kekejaman PKI di Madiun

Menurut jurnal Universitas PGRI Madiun berjudul Monumen Kresek Tempat Wisata Penuh Sejarah yang ditulis Salimah Yuniasih dkk, untuk memastikan tragedi ini tidak terlupakan, dibangunlah Monumen Kresek sebagai saksi bisu kekejaman PKI dan pengingat sejarah bagi publik.

Monumen ini mulai dibangun pada 1987. Peresmian dilakukan pada 10 Juni 1991 oleh Gubernur Jawa Timur kala itu, Soelarso. Berjarak sekitar 40 menit dari Kota Madiun, monumen ini berdiri di atas lahan seluas 3,3 hektare.

Pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar 40 menit dari Kota Madiun untuk mencapai Monumen Kresek. Begitu memasuki kawasan monumen, mata langsung tertuju pada patung dramatis yang menampilkan dua sosok.

Satu dalam posisi seolah siap memenggal, dan yang satunya duduk, menunggu nasibnya. Patung ini menggambarkan Musso, pemimpin pemberontakan PKI, yang sedang menyiksa Kiai Husen, salah satu tokoh agama lokal yang menjadi korban.

Pengunjung harus menaiki tangga menuju patung ini, jumlahnya disusun secara simbolis, yaitu 17-8-45, yang merujuk pada tanggal 17 Agustus 1945, hari kemerdekaan Indonesia.

Di bagian atas monumen, terdapat relief yang menggambarkan kekejaman PKI selama pemberontakan. Adegan-adegan yang terukir memperlihatkan dengan jelas bagaimana para anggota PKI melakukan kekerasan terhadap warga sipil, tokoh masyarakat, dan prajurit TNI.

monumen kresek di madiunMonumen Kresek di Madiun Foto: Sugeng Harianto

Sementara di sisi kanan bagian bawah monumen, terdapat prasasti batu yang mengabadikan nama-nama prajurit TNI dan tokoh masyarakat yang gugur dalam pertempuran di Desa Kresek.

Salah satunya adalah Kolonel Inf Marhadi, prajurit berpangkat tertinggi yang gugur dalam pertempuran tersebut. Sebagai penghormatan, namanya diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Kota Madiun, dan patungnya juga dibangun di alun-alun kota.

Monumen ini bukan sekadar patung dan relief, setiap elemen menyimpan kisah heroik dan tragis yang menjadi pengingat akan keberingasan PKI, sekaligus menghormati pengorbanan mereka yang gugur dalam mempertahankan kedaulatan dan keamanan masyarakat Madiun.

Kini Jadi Destinasi Wisata Sejarah

Monumen Kresek bukan hanya situs sejarah, tetapi menjelma destinasi wisata yang menyajikan keindahan alam dan fasilitas publik yang memadai. Terletak sekitar 8 km dari pusat Kota Madiun, monumen ini dapat dicapai dalam waktu sekitar 40 menit perjalanan.

Setibanya di lokasi, pengunjung akan disambut patung besar yang menggambarkan sosok Musso yang sedang memenggal Kiai Husen, simbol dari kekejaman yang terjadi pada peristiwa Madiun 1948.

Monumen Kresek buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB. Harga tiket masuk sangat terjangkau, sekitar Rp 5.000 per orang, tergantung pada kebijakan yang berlaku.

Tersedia juga fasilitas seperti pendopo, taman bermain, balai pertemuan, kios kuliner, dan area parkir yang membuatnya cocok sebagai tujuan rekreasi keluarga dan acara komunitas.

Dengan kombinasi antara nilai sejarah, keindahan alam, dan fasilitas yang memadai, Monumen Kresek menjadi destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi, terutama bagi mereka yang ingin belajar tentang sejarah Indonesia sambil menikmati suasana yang tenang dan asri.

Monumen Kresek bukan sekedar patung atau area taman, ia adalah fragmen sejarah yang memaksa pengunjung untuk mengingat bahwa pembangunan ruang publik dan pendidikan sejarah bisa berjalan bersamaan.

Dengan pengelolaan yang tepat, peningkatan interpretasi sejarah, dan keterlibatan masyarakat lokal, monumen Kresek berpotensi menjadi contoh bagaimana situs trauma dapat bertransformasi menjadi ruang belajar, penghormatan, dan rekreasi bermakna.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com