Tag Archives: perpustakaan di jakarta

Melepas Penat dengan ‘Baca Di Tebet’, Perpustakaan Hidden Gem di Jaksel



Jakarta

Melepas penat dengan me time memang jadi jalan terbaik. Buat traveler yang suka membaca, kalian bisa banget datang ke ‘Baca Di Tebet’.

Butuh tempat yang bisa memfasilitasi pikiran dan hati saat suasana galau, Baca Di Tebet bisa jadi piliham. Baca Di Tebet merupakan sebuah konsep perpustakaan yang beda dari perpustakaan yang lain.

Di sini kamu bisa baca buku sambil makan di area baca. Selain itu, Baca Di Tebet juga punya space yang cukup luas yang dibagi ke beberapa ruangan.


Semua ruangan baca ini telah dilengkapi dengan AC dan Wifi, tentunya ini semakin bikin nyaman ketika berada di perpustakaan ini. Ada sekitar 26.000 koleksi buku bahasa Indonesia dan juga Bahasa Inggris.

Tempat berkumpul plus perpustakaan ini dimiliki oleh dua orang yakni Wien Muldian dan Kanti W. Janis. Pertemuan mereka pertama kali terjadi pada tahun 2018.

Perpustakaan di TebetPerpustakaan Baca di Tebet Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

Buku-buku di sini merupakan koleksi pribadi dari sosok Wien dan tempat ini pun asalnya merupakan rumah pribadi milik keluarga Kanti.

Inisiasi tempat ini sebetulnya sudah terpikiran oleh Kanti sedari lama, ia menuturkan selama ini tak banyak perpustakaan yang memberikan suasana yang nyaman sesuai kebutuhan pengunjung.

“Di Indonesia kan perpustakaan saat itu ya belum ada perpustakaan yang nyaman yang sesuai dengan kebutuhan. Perpustakaan yang koleksinya lengkap, AC-nya dingin, terus bisa makan ya bisa ngopi tapi ya di luar negeri juga sebenarnya perpustakaan yang boleh makan, boleh ngopi di dalam ruang koleksi tuh juga jarang sih,” kata Kanti kepada detikTravel, Rabu (22/5/2024).

“Jadi menggabungkan antara keinginan pribadi terus boleh dibilang riset pribadi kalau ke luar negeri gitu ya kalau ada kesempatan ke luar negeri pasti ke perpustakaan ‘oh yang nyaman tuh kaya gini, yang saya suka tuh kaya gini’ tinggal ditambah ini-ini dan semuanya diwujudkan di Baca Di Tebet,” dia menambahkan.

Kanti juga merupakan seorang penulis novel dan pertemuannya dengan Wien saat berada di organisasi penulis. Dan Wien merupakan seorang yang telah menekuni bidang ini cukup lama, ia pun pernah mengenyam pendidikan terkait keperpustakaan.

Perpustakaan di TebetPerpustakaan Baca di Tebet Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

Menyoal buku-buku di Baca Di Tebet, Wien pun menyebut kalau buku-buku yang ada di sini merupakan buku yang sedianya berasal dari koleksi pribadi di rumahnya.

“Jadi semua buku saya yang ada di rumah di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, semua buku dari rumah diangkut semua ke sini. Kecuali yang arsip-arsip atau berkas-berkas ya di rumah tapi kalau buku-buku semua di sini,” ujar dia.

Baca Di Tebet berada di Jalan Tebet Barat Dalam Raya No. 29, Jakarta Selatan. Tempat ini sangat cocok untuk kamu yang memang butuh ketenangan sejenak untuk merefresh pikiran dengan suasana yang nyaman dengan membaca buku sambil makan atau ngopi.

Untuk bisa masuk ke perpustakaan ini kamu akan dikenakan tarif masuk harian sebesar Rp 35.000 per orang, jika kamu mulai nyaman dengan tempat ini atau perlu buku yang hanya ada di tempat ini bisa langsung mendaftar sebagai member bulanan dengan harga Rp 100.000 atau tahunan dengan harga Rp 600.000 bagi kalangan pelajar atau mahasiswa dan Rp 800.000 untuk umum.

Di tempat ini, pengunjung harian atau bulanan tidak bisa meminjam buku untuk dibawa pulang. Peminjaman buku untuk dibawa pulang hanya diperkenankan hanya untuk anggota tahunan saja.

Perpustakaan di TebetPerpustakaan di Tebet Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

Karena pengelolaan perpustakaan ini oleh pribadi jadi semua tarif pengunjung akan disalurkan untuk operasional Baca Di Tebet.

Jam operasional tempat ini pun dimulai pada hari Selasa-Minggu, untuk Selasa hingga Kamis jam buka berada pada pukul 10.00-18.00 WIB dan Jumat-Sabtu pukul 12.30-20.30 WIB.

Baca Di Tebet tak hanya menjadi tempat membaca dan makan-ngopi saja, tempat ini juga kerap mengadakan berbagai kegiatan seperti kelas menulis, teater hingga gelaran live musik untuk mengiringi para pembaca.

Untuk kamu yang penasaran dan ingin mencoba Baca Di Tebet tinggal daftar terlebih dahulu melalui link yang tersedia di Instagram @bacaditebet atau mendaftar langsung di tempat.

(wsw/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Hidden Gems di Ciputat, Perpustakaan Kerucut Seperti Rumah Adat Wae Rebo



Ciputat

Bagi traveler yang sudah bosan dengan wisata sekitar Jakarta yang begitu-begitu saja, perpustakaan ini bisa jadi pilihan. Bukan perpustakaan biasa, perpustakaan ini mempunyai fasad bangunan yang unik dan koleksi bukunya beragam.

Perpustakaan itu bernama Pustaka Pahala. Dirancang langsung oleh sang pemilik yang merupakan pensiunan guru besar Arsitektur UI, Prof. Gunawan Tjahjono.

Perpustakaan itu memiliki bangunan berbentuk kerucut seperti rumah masyarakat adat di Wae Rebo di Nusa Tenggara Timur (NTT). Gunawan menyebut memang rumah adat itu yang menjadi inspirasinya untuk membangun perpustakaan tersebut.


Awalnya perpustakaan itu untuk menampung buku-buku yang dibacanya. Gunawan dan keluarga memang hobi membaca buku dan mengoleksi buku.

Hingga kemudian, pada 3 September 2023 diputuskan perpustakaan itu dibuka untuk umum dengan waktu operasional setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 10.00 – 17.00 WIB.

Gunawan menjelaskan bahwa waktu operasional itu dipilih agar anak-anak, yang menjadi salah satu target utama perpustakaan itu, dapat memanfaatkan waktu libur untuk diisi dengan kegiatan bermanfaat seperti membaca buku.

“Diputuskan bukanya hanya pada hari Sabtu dan Minggu pertimbangannya adalah bahwa anak-anak yang sebagai sasaran utama itu kan sudah banyak PR di sekolah (saat hari kerja) jadi biar mereka pada hari Sabtu dan Minggu bisa mengisi waktu dengan baca buku dan masih bisa diantar orang tuanya,” kata Gunawan.

Tak perlu khawatir, terdapat lebih dari 5000 koleksi buku yang bervariasi baik fiksi dan non-fiksi sehingga semua kalangan dapat membaca buku di sini. Lantai 1 untuk menyimpan koleksi buku fiksi, buku anak-anak, dan novel. Kemudian, lantai 2 merupakan tempat koleksi buku non-fiksi, seperti buku filsafat, arsitektur, psikologi, seni, dan ekonomi.

Setelah mengisi buku kunjungan, pengunjung akan disambut ramah oleh pustakawan yang sedang bertugas. Masing-masing pengunjung akan dijelaskan terkait tata letak koleksi buku dan tata cara mengembalikan buku yang selesai dibaca.

Pengunjung juga diminta untuk mengganti alas kakinya dengan sandal khusus yang telah disediakan. Menurut Prof. Gunawan ini merupakan bagian dari pendidikan kedisiplinan dan keselamatan para pengunjung.

“Itu ada tangga (menuju lantai 2) yang pakai kawat, kalau nggak pakai sandal kakinya bisa terluka kalau tidak terbiasa. Ganti sepatu juga ada unsur pendidikannya, kalau anak-anak diajarin cuci tangan, ganti sepatu, dia akan mulai menjadi kebiasaan baik,” kata dia.

Satu kali dalam sebulan, Pustaka Pahala juga mengadakan kegiatan mendongeng bersama khusus anak-anak. Tempatnya yang unik membuat perpustakaan ini tak pernah sepi diburu pengunjung. Tak hanya pecinta buku, beberapa kreator konten juga terlihat mampir sambil mengabadikan sudut-sudut perpustakaan yang estetik ini.

Ilmi, salah satu pengunjung asal Sulawesi Selatan, sembari mendatangi acara di Jakarta ia sempatkan untuk mampir ke Pustaka Pahala. Ia merasa kagum dengan arsitektur perpustakaan yang tak seperti perpustakaan umumnya,

“Kebetulan lagi ada acara di Jakarta terus sekalian mau cari-cari perpus dan kebetulan saya lihat perpus ini desainnya unik kan, suka banget sih sama arsitekturnya, koleksinya juga lumayan lengkap,” kata Ilmi.

Pengunjung dapat datang ke Pustaka Pahala secara gratis tanpa perlu registrasi terlebih dahulu. Lokasinya berada Villa Gunung Lestari, Blok E3, Jl, Merbabu VI No.13, Ciputat, Tangsel. Untuk informasi terkini traveler bisa pantau Instagram resminya @pustakapahala.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Fakta Perpustakaan Kerucut Mirip Rumah Adat Wae Rebo di Tangsel



Ciputat

Di balik riuhnya kehidupan perkotaan Tangerang Selatan, terselip sebuah perpustakaan unik berbentuk kerucut yang bikin kepincut banyak orang. Perpustakaan itu Pustaka Pahala.

Perpustakaan Pahala ternyata bukan sekadar perpustakaan biasa namun menyimpan banyak fakta menarik mulai dari sejarah sampai filosofi arsitekturnya.

Berikut fakta-fakta menarik tentang Pustaka Pahala:

1. Dibangun oleh seorang arsitek perancang Gedung Rektorat Universitas Indonesia

Prof. Gunawan Tjahjono merupakan salah satu arsitektur pendidik Indonesia. Ia sempat menjadi guru besar Jurusan Arsitektur Universitas Indonesia ke-2 pada tahun 2002. Ia juga merupakan Rektor Universitas Pembangunan Jaya yang pertama.


Karirnya dalam arsitektur yang sudah berjalan sangat panjang tentu melahirkan banyak karya besar. Salah satu karya rancangannya adalah Gedung Rektorat Universitas Indonesia yang menjadi ikon dari Universitas Indonesia.

2. Awalnya dirancang berbentuk seperti telur

Tak langsung berbentuk kerucut, Pustaka Pahala awalnya dirancang Prof. Gunawan dengan bentuk telur dengan maksud melambangkan “kelahiran”.

“Jadi tadinya saya mau membuat seperti telor dengan pikiran bahwa telor itu kan nanti melahirkan sesuatu gitu ya,” kata Gunawan.

Namun, ide tersebut tidak jadi ia realisasikan karena ternyata ia menemukan bentuk bangunan serupa di majalah yang dimilikinya.

“Tapi saat saya buka majalah sudah ada majalah yang memuat bentuk telur di suatu bangunan. Walaupun bukan perpustakaan tapi saya gak mau mengulangi lah. Jadi lebih baik saya ambil inspirasi dari bangunan yang ada di Indonesia (Wae Rebo),” kata dia.

Argumen itu juga diperkuat dengan pernyataan rekan arsiteknya, Yori Antar, yang mengatakan bahwa bangunan Pustaka Pahala ini sangat mirip dengan Wae Rebo di Nusa Tenggara Timur.

3. Dibangun atas dasar kegemaran keluarganya dalam membaca buku

Saat ditemui oleh detikTravel pada Kamis (2/5/24), Gunawan menceritakan bahwa awalnya perpustakaan ini dibangun guna menyimpan koleksi pribadi keluarganya yang gemar membaca buku. Selama kuliah di luar negeri ia senang sekali membeli berbagai jenis buku di bazar perpustakaan untuk ia simpan sebagai bacaan dan koleksi.

“Saya sejak mahasiswa sudah mulai kumpulkan buku senang membaca, lalu saat diberi kesempatan belajar ke luar bukunya makin banyak,” kata Gunawan.

“Karena di sana ada library sale, biasanya kami datang pada hari ke empat karena pada hari keempat satu box (bebas pilih) itu harganya 1 dollar. Jadi buku saya makin banyak dan bidangnya macam-macam dari filsafat sampai masakan tapi yang paling banyak tentu bidang saya Arsitektur dan Kota dia menambahkan.

Kegemarannya membaca buku ternyata juga turun kepada anaknya, Puspa. Bahkan 500 buku yang ada di Pustaka Pahala ternyata milik pribadi Puspa. Bahkan semasa sekolah di luar negeri Puspa berhasil mendapat penghargaan ‘Young Writer Award’ dari sekolahnya.

4. Nama Pustaka Pahala punya makna khusus

Terdapat makna dibalik nama Pustaka Pahala. Pahala ini diambil dari bahasa Sansekerta yang bermakna buah. Harapannya pustaka sebagai bibit ini dapat menghasilkan buah-buah yang berkualitas.

Selain itu, ia juga memilih nama pahala sebagai salah satu bentuk dari latar belakangnya membentuk perpustakaan ini sebagai wadah berbagi pengetahuan yang dimilikinya kepada masyarakat luas. Sehingga, dapat menjadi ladang pahala baginya saat sudah tiada.

Jika mengambil akronim dari Pustaka Pahala akan ditemukan PusPa, yang merupakan nama anak Gunawan.

5. Ada filosofi khusus di bangunannya

Sebagai seorang arsitek kondang, Gunawan memang senang membuat bangunan dengan makna khusus. Salah satunya tangga di rumahnya yang menghadap ke timur, ini mengisyaratkan menyambut matahari.

Jika diperhatikan secara detail, pengunjung akan menemukan bagian berwarna kuning yang mengarahkan bagian timur sebagai tempat matahari terbit sekaligus lambang harapan.

Bagian koleksi buku anak di lantai 1 melambangkan pendidikan dasar untuk anak anak, ketika menaiki tangga pengunjung akan menemukan berbagai buku yang dianggap lebih berat dan membutuhkan pemahaman mendalam. Ini mengisyaratkan perjalanan pertumbuhan manusia dari anak anak menuju dewasa.

6. Menanamkan aspek pendidikan perilaku bagi anak-anak

Gunawan pemilik sekaligus perancang Pustaka Pahala menganggap bahwa anak-anak masih sangat lentur untuk dibina agar dapat memiliki kepribadian dan kebiasaan yang baik. Oleh karena itu, ia sangat tertarik dengan pendidikan perilaku anak-anak di Pustaka Pahala.

Selain menanamkan sifat gemar membaca, Gunawan juga ingin tanamkan sifat ramah kepada anak-anak melalui contoh langsung dari pustakawan yang selalu menyambut ramah para pengunjung.

Kemudian, ditanamkan juga sifat disiplin dalam berperilaku melalui kebiasaan mencopot sepatu saat memasuki ruangan dan menggantinya dengan sanda khusus.

Menurut Gunawan, upaya itu merupakan kelanjutan dari kebiasaan orang zaman dahulu yang menyimpan kendi sebagai tempat cuci tangan dan kaki sebelum masuk ke rumah.

Bangunan Pustaka Pahala tidak menggunakan AC dan menggunakan cahaya matahari sebagai penerangannya saat siang hari. Ini sebagai wujud pembelajaran agar anak-anak dapat mencintai lingkungan dengan menghemat penggunaan listrik.

7. Dibangun menggunakan dana pribadi

Sebagai wujud sumbang ilmu yang dimilikinya, Gunawan juga ternyata merancang dan membangun Pustaka Pahala dengan dana pribadi yang dimilikinya.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com