Tag Archives: prof

Bisa Bikin Gatal-gatal, Ini Penyebab dan Cara Basmi Kamitetep


Jakarta

Kamitetep adalah hewan yang berukuran kecil dengan bentuk yang unik. Badannya berwarna abu abu dengan kantong tipis dari tengah ke bawah dan kepalanya seperti cacing.

Hewan dengan nama ilmiah Phereoeca uterella ini merupakan serangga sejenis ngengat. Penghuni biasanya tidak menyadari keberadaannya karena ukuran yang kecil dan jarang mengganggu manusia.

Meskipun begitu, kamitetep bisa menggigit manusia. Dilansir detikHealth, Prof Edhi meragukan anggapan bahwa kamitetep mengandung racun yang memicu gatal-gatal. Menurutnya, gatal-gatal muncul karena kotoran yang membungkus serangga tersebut. Ciri-ciri kulit sudah digigit kamitetep menurut seorang mahasiswi Denpasar Dwi Kukuh Wandari yang pernah digigit, gejalanya mirip dengan digigit semut, yakni muncul bentol kemerahan dengan titik di tengahnya.


Penyebab Kamitetep Muncul di Rumah

Setiap hewan yang muncul di rumah pasti ada penyebabnya. Lantas, kamitetep sendiri kenapa bisa muncul di rumah? Dilansir Bugwiz ini alasannya.

1. Rumah Jarang Dibersihkan

Kamitetep senang hidup di tempat yang kotor. Hewan ini juga mudah ditemukan di tembok-tembok, kolong meja atau lemari, hingga dekat cucian kotor.

2. Banyak Sumber Makanan

Kamitetep merupakan hewan pemakan debu, sarang laba-laba, rambut, hingga serangga mati. Mereka senang tinggal di tempat yang banyak sumber makanan.

3. Lingkungan Memadai

Kemudian, mereka juga membutuhkan lingkungan yang memudahkan untuk berkembang biak seperti tempat yang cukup lembap. Tempat yang panas juga mereka bisa hidup asalkan terlindungi dan minim gangguan.

Cara Basmi Kamitetep

1. Bersihkan Rumah

Melihat dari faktor-faktor yang disukai oleh kamitetep, hewan satu ini bisa dibasmi atau diusir dengan sering membersihkan rumah. Jangan sampai ada sarang laba-laba di rumah apalagi tumpukan debu.

2. Jaga Kelembapan Ruangan

Lalu, usahakan rumah tidak terlalu lembap atau kering. Atur suhu agar tetap normal dengan begitu kamitetep tidak datang dan berkembang biak di rumah. Pastikan pula setiap ruangan memiliki sirkulasi yang baik.

3. Gunakan Sabun Cuci Piring

Jika menemukan kamitetep, penghuni dapat membasminya menggunakan sabun cuci piring. Campurkan 2 sendok makan sabun cuci piring cair ke dalam 3-4 liter air. Pastikan cairan tersebut tidak sampai banyak busa.

Tusuk kepompong hewan agar tidak bergerak sekaligus membuat lubang kecil. Lalu, semprotkan cairan yang baru dibuat pada kamitetep.

Itulah penyebab dan cara mengatasi kamitetep yang masuk rumah. Semoga membantu!

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(aqi/zlf)



Sumber : www.detik.com

Pantai Lembeng, Tempat Bersemayam Abu Papa Dali



Jakarta

Dali Wassink atau dikenal dengan Papa Dali, suami dari artis Jennifer Coppen, meninggal pada Jumat (19/7/2024) dan abunya disemayamkan di Pantai Lembeng, Gianyar. Pantai yang menjadi pelabuhan terakhir Papa Dali ini dikenal sebagai salah satu spot surfing di Bali.

Pada hari Minggu (21/7) Jennifer Coppen dan keluarga melepas kepergian Papa Dali dengan prosesi larung abu di Pantai Lembeng, Gianyar. Prosesi ini juga dihadiri oleh ratusan fans dan warga sekitar.

Pantai Lembeng berada di Jl Prof. Dr. Ida Bagus Mantra No.52, Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Pantai berpasir hitam itu jaraknya sekitar 25 km dari Bandara I Gusti Ngurah Rai.


Jennifer Coppen bersama keluarga hingga fans melaksanakan prosesi melarung abu Yitta Dali Wassink di Pantai Lembeng, Desa Lembeng, Gianyar, Bali, Minggu (21/7/2024). (Ni Made Lastri Karsiani Putri/detikBali)Jennifer Coppen bersama keluarga hingga fans melaksanakan prosesi melarung abu Yitta Dali Wassink di Pantai Lembeng, Desa Lembeng, Gianyar, Bali, Minggu (21/7/2024). (Ni Made Lastri Karsiani Putri/detikBali)

Tidak seperti pantai Bali yang terkenal dengan pasir putihnya, Pantai Lembeng justru berpasir hitam legam. Walau begitu, lkeindahannya tak perlu diragukan.

Traveler yang suka berselancar, bisa nih mencoba ombak Pantai Lembeng. Memang, salah satu daya tariknya ini adalah ombaknya. Serta pantai ini belum terlalu ramai wisatawan, jadi masih terasa asrinya.

Tempat terapi pasir warga lokal

Dikutip dari detikBali, setiap akhir pekan ramai warga sekitar yang melakukan terapi pasir di depan Pura Hyang Sangkur, Pantai Lembeng, Desa Adat Ketewel, Gianyar. Warga kerap duduk meluruskan kaki dan menimbunnya dengan pasir pantai.

Konon, warga percaya terapi tradisional ini mampu menyembuhkan penyakit tertentu, salah satunya diabetes.

“Ini terapi tradisional untuk orang-orang yang menderita penyakit tertentu, contohnya saya,” kata Wayan Warna, warga Ketewel saat ditemui di depan Pura Hyang Sangkur pada tahun 2022 lalu.

Warga di sekitar Pantai Lembeng, Desa Adat Ketewel, Gianyar melakukan terapi tradisional dengan menimbun kakinya dengan pasir pantai, Minggu (29/5/2022).Warga di sekitar Pantai Lembeng, Desa Adat Ketewel, Gianyar melakukan terapi tradisional dengan menimbun kakinya dengan pasir pantai, Minggu (29/5/2022). Foto: Miechell Octovy Koagouw

Ia mengaku sudah menderita diabetes selama lima tahun, dan kerap merasa tidak enak pada kedua kakinya saat berjalan, sehingga sebulan belakangan ini melakukan terapi pasir pantai.

Wayan menambahkan warga setempat meyakini bahwa kaki yang dikubur dengan pasir pantai yang hangat dapat menjadi terapi yang meredakan penyakit di tubuh mereka.

Sebelumnya, ia merasa ada keanehan dengan kedua kakinya saat berjalan, yang diistilahkannya dengan ‘terasa gelisah’. “Lalu setelah rajin tutupi kaki dengan pasir begini, saya merasa agak mendingan,” kata dia.

(sym/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Jejak Manusia Purba di Gua Braholo, Dipercaya Peradaban Tertua



Gunungkidul

Gua Braholo menyimpan jejak prasejarah yang cukup penting. Goa ini dipercaya menjadi bukti peradaban tertua di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Gua Braholo terletak di Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul. Lokasinya berada di atas sebuah bukit karst di seberang jalan dekat dengan pemukiman warga.

Untuk menuju ke sini, traveler harus melewati puluhan undakan tangga dari jalan masuk. Setelah menaiki puluhan anak tangga, kita akan disambut dengan bagian depan Gua Braholo seluas kurang lebih 30 meter dengan tinggi sekitar 15 meter.


Pemandangan puluhan stalaktit meruncing ke bawah di dinding atas gua pun terpampang jelas. Di permukaan gua tampak setidaknya empat lubang bekas ekskavasi dengan ukuran bervariatif.

Tanah di permukaan gua tersebut terasa gembur. Terdapat kotoran kelelawar tercecer di atas tanah. Gua Braholo tidak begitu dalam, hanya sekitar 20 meter.

Dari muka gua pun tampak tembok alami berupa bebatuan karst berwarna putih. Sebagian lainnya sudah dipenuhi lumut sehingga tampak menghitam.

Juru pelihara Gua Braholo, Marsono mengungkapkan, gua itu sudah diteliti sejak 1995. Dia mengatakan masyarakat sekitar sudah mengetahui keberadaan goa tersebut sejak lama dan dulunya sering digunakan untuk bertapa.

“Penelitian pertama (Goa Braholo) di (tahun) 95,” jelas Marsono saat ditemui di rumahnya seberang Gua Braholo.

Marsono menjelaskan GUa Braholo menjadi tempat persinggahan karena luas dan memiliki sirkulasi udara yang bagus. Selain itu, goa tersebut memiliki penerangan yang mumpuni.

“Dari Balai Pelestari Cagar Budaya menganalisa bisa menjadi tempat tinggal karena Goa Braholo luas, sirkulasi udaranya bagus,” katanya.

Proses ekskavasi di Goa Braholo dilakukan hampir setiap tahun hingga pandemi COVID-19 merebak pada tahun 2020 dan masih belum dilanjutkan hingga kini. Saat dilakukan ekskavasi pertama, pada penggalian beberapa meter ditemukan tulang hewan sisa makanan manusia prasejarah.

“Dari beberapa meter ditemukan tulang (hewan) sisa makanan (manusia prasejarah),” sebutnya.

Lebih lanjut, Marsono mengatakan kerangka manusia ditemukan pada penggalian selanjutnya. Sayangnya, Marsono tidak paham betul kerangka manusia yang ditemukan itu dari zaman apa. Dia hanya menjelaskan kerangka yang ditemukan merupakan sisa manusia yang hidup di zaman prasejarah.

“Semacam alat dan semuanya terbuat dari batu dan tulang,” sebutnya.

Pada ekskavasi terakhir sebelum pandemi COVDI-19, lanjut Marsono, ditemukan sisa kerang dan tulang makanan manusia prasejarah. Dia mengatakan letak ditemukannya sisa makanan itu terpisah dengan tulang manusia.

“Sisa makanan itu ditemukan di tengah. Kalau tulang manusia ditemukan di pinggir,” terangnya.

Disebut Peradaban Tertua

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Gunungkidul, Andi Riana, menerangkan Goa Braholo merupakan tempat persinggahan manusia masa prasejarah. Dia mengatakan manusia di goa tersebut belum mengenal konsep penguburan. Andi menyebutkan goa Braholo peradaban tertua di DIY.

“Itu memang tertua untuk wilayah se-DIY,” katanya.

Lebih lanjut, Andi menerangkan jenis goa yang bisa dihuni secara temporal merupakan tempat yang terbuka seperti Goa Braholo. Goa tersebut merupakan jenis goa yang tidak menjorok ke dalam, hanya di permukaan.

“Kalau di goa-goa bisa dihuni tentunya goanya terbuka di muka,” jelasnya.

Adapun alasan lain goa Braholo dijadikan tempat persinggahan karena bisa untuk berlindung. Selain itu Goa Braholo yang terbuka itu dimungkinkan untuk mendapatkan pencahayaan matahari yang cukup.

“Yang utama fungsinya itu untuk berlindung,” tuturnya.

Temuan di Goa Braholo berlapis-lapis dari permukaan tanah hingga beberapa kedalaman. Dia mengungkapkan temuan di goa tersebut merupakan sampah atau sisa dari masa prasejarah.

“Temuan itu merupakan sampah atau buangan dari kehidupan masa itu. Jadi berlapis-lapis temuannya dan kebetulan banyak sekali di setiap lapisan tanah,” ungkapnya.

Andi menjelaskan temuan spesifik di Goa Braholo adalah jarum dari tulang masa prasejarah. Selain itu ditemukan pula kapak, sudip dan lain sebagainya. Selain dari tulang, dia mengungkapkan alat manusia prasejarah berbahan batu.

Adapun ukuran alat yang ditemukan tidak lebih besar dari telapak tangan manusia dewasa. Andi menerangkan peralatan tersebut tajam. Tujuannya untuk menguliti hewan.

“Peralatan mereka amat sangat sederhana, yang penting tajam bisa untuk menguliti binatang untuk bekal makan mereka,” jelasnya.

Andi mengatakan pihak yang pernah meneliti goa Braholo yakni Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) kini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Balai Arkeologi Jogja, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jogja. Dia mengatakan Prof Truman Simanjuntak merupakan orang Puslit Arkenas yang mengekskavasi goa Braholo pertama kalinya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Balai Kota, Otopet, dan Parkir Rp 150 Ribu



Brisbane

Bayangkan Balai Kota Jakarta atau Surabaya atau balai kota di kota lain di Indonesia bukan hanya tempat rapat dan sidang, tapi juga ruang bermain ide, tempat belajar sejarah, bahkan spot wisata keluarga. Itulah yang disuguhkan di Brisbane, Australia, balai kota menjadi rumah bersama yang benar-benar terbuka untuk warganya.

Saya adalah Adjunct Professor Griffith University Australia. Sesudah melaksanakan pernikahan putri saya di New York pada awal Mei, sekarang ini saya sedang berada di Brisbane, kota pusat kegiatan Griffith University sekaligus ibu kota negara bagian Queensland.

Kota ini mempunyai sejarah panjang. Kemarin, saya lihat pembangunan bibir sungai Brisbane yang tercatat sejak 1800-an. Saya sempat juga ke City Hall atau Balai Kota Brisbane dan ada dua kegiatan menarik yang bisa juga dipertimbangkan dilakukan di Jakarta atau kota lain di negara kita.


Prof Tjandra Yoga Aditama, dari Brisbane AustraliaProf Tjandra Yoga Aditama, dari Brisbane Australia (koleksi pribadi)

Pertama, di lantai 3 Brisbane City Hall sekarang sedang berlangsung pameran budaya dengan berbagai koleksi setempat, dan gratis. Lalu, karena di City Hall Brisbane ada jam besar di atas bangunannya maka ada kegiatan “Tower Clock Tour” beberapa kali dalam sehari, juga gratis.

Dengan cara itu maka anggota masyarakat jadi makin menyatu dengan Balai Kotanya, tidak datang hanya untuk urusan-urusan resmi formal belaka. Balai Kota jadi makin ramah dengan warganya. Akan bagus kalau kegiatan seperti ini dilakukan juga di kota-kota besar di Tanah Air.

Di sini ada banyak sepeda yang bisa disewa warga. Bisa dipakai dengan aplikasi tertentu selama beberapa jam lalu dikembalikan lagi.

Yang menarik, di Brisbane disediakan juga otopet listrik sebagaimana di foto saya ini. Saya tadinya mau coba, tapi “takut jatuh”, maklum lansia 70 tahun. Di tengah kota juga disediakan bis gratis, baik yang “City Loop” maupun yang “Spring Hill Loop”.

Fasilitas transportasi umum lainnya juga amat memadai, baik bus, kereta maupun feri sepanjang sungai.

Saya sempat naik Feri dari ujung kota ke ujung di kota lainnya, pulang pergi selama dua jam, dan bayarnya hanya 50 sen dolar Australia atau Rp 5.000. Pemandangan dari dalam Feri amat memukau, baik siang atau malam hari, dengan jembatan yang indah dan lampu-lampu kota yang menawan, seperti di foto ke dua saya ini.

Kalau mau naik mobil pribadi maka tarif parkir mahal sekali. Saya lihat di sekitar Queen Street Mall masuk gedung parkir bayarnya sudah langsung 17,9 dolar Australia, sekitar Rp 190 ribu, tentu akan diprotes orang kalau diberlakukan di kota negara kita ya.

Kemarin saya jalan kaki dari South Bank ke tempat menginap dan melewati “Brisbane Convention and Exhibition Center”, ternyata tarif parkir di Convention Center ini adalah 15 dolar Australia (Rp. 157.500) untuk 2 jam pertama. Gawat banget kalau untuk kantong kita ya.

Tentang hal yang gratis, kemarin saya ke QAGOMA, Queensland Art Galery and Gallery of Modern Art, yang ternyata terbuka tanpa bayar. Kita tahu kalau di New York ada MOMA, Museum of Modern Art, yang tidak terlalu jauh dari 5th Avenue yang terkenal, dan MOMA ini selalu dipenuhi turis dan bayarannya cukup lumayan.

Nah, untuk Modern Art ini di Brisbane ada QAGOMA yang gratis ini. di akhir pekan juga ada beberapa “week end market” di Brisbane, yang tentu juga gratis, dan amat menarik karena tiga hal. Jual makanan-makanan enak, jual variasi produk lokal dan lihat penduduk Brisbane berjemur di lapangan terbuka di bawah sinar matahari terik di pinggir sungai Brisbane.

***

Prof Tjandra Yoga Aditama, dari Brisbane Australia, direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Adjunct Professor Griffith University Brisbane

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Berkenalan dengan Endang Sumitra, Orang Bogor yang Melayani 6 Presiden



Jakarta

Endang Sumitra mungkin bukan nama yang akrab di panggung politik nasional, tetapi pria asal Bogor itu mempunyai rekam jejak luar biasa, yakni melayani enam presiden Indonesia. Selama 36 tahun, ia menjadi saksi bisu dinamika kekuasaan, dari era Soeharto hingga Joko Widodo.

detiktravel berjumpa dengan Endang saat napak tilas untuk menandai ulang tahun Bogor ke-543 pada Sabtu (7/6/2025). Agenda itu tergolong istimewa.

Acara yang diikuti lebih dari 30 peserta tersebut menyuguhkan kisah dan akar sejarah Bogor, sejak masa Kerajaan Salakanagara, pusat budaya Pajajaran, hingga dikenal dunia sebagai Buitenzorg.


Riwayat nan panjang itu disampaikan dalam narasi hangat oleh pendiri Komunitas Japas (Jalan Pagi Sejarah) Jhonny Pinot dan Abdullah Abubakar Batarfie. Namun, yang paling menarik dan membuat peserta antusias adalah tuturan Endang. Dia pernah mengabdi di lingkungan Istana Bogor sejak 1982 hingga 2018.

Endang Sumitra, mantan Kasubag Rumah Tangga dan Protokol Istana BogorKomunitas Jalan Pagi Sejarah (Japas) menyimak paparan tentang riwayat Bogor dari Endang Sumitra, mantan Kasubag Rumah Tangga dan Protokol Istana Bogor (Sudrajat / detikcom)

Lelaki kelahiran April 1960 itu cukup fasih memaparkan riwayat Istana dan jejak-jejak peradaban yang membentuk wajah Bogor. Juga kisah-kisah humanis saat dia berinteraksi langsung dengan para presiden, mulai Soeharto, BJ Habibie, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Joko Widodo.

“Begitu lulus SMA di Bogor pada 1982 saya bekerja di Istana mengikuti jejak Bapak, Kakek, dan Buyut,” kata Endang yang jabatan terakhirnya Kepala Sub Bagian Rumah Tangga dan Protokol Istana Bogor saat berbincang dengan detiktravel di sela-sela acara napak tilas.

Buyutnya, ia melanjutkan, pernah menjadi Mandor Taman Kebun Raya dan Istana di era Gubernur Jenderal Alidius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh-Stachouwer yang berkuasa di Bogor pada 1936 – 1942. “Kalau Bapak saya pernah jadi sopir pribadi Ibu Fatmawati,” kata Endang.

Hal itu berlangsung sejak Fatmawati keluar dari Istana sebagai bentuk protes atas keputusan Presiden Sukarno yang menikahi Hartini pada Juli 1953. Fatmawati tinggal di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan.

Meski cuma berijazah SMA, Endang mengaku rutin mengikuti pelatihan, pembekalan dan penyegaran terkait keprotokoleran tingkat nasional yang digelar oleh Rumah Tangga Istana dan Departemen Luar Negeri. Pesertanya, selain para pegawai Istana Negara dan Merdeka di Jakarta, juga pegawai Istana Bogor, Cipanas, Yogyakarta, dan Bali. Dari lingkungan pemerintahan ada perwakilan dari segenap departemen dan lembaga negara, serta pemerintah provinsi.

“Saya ikut terus sejak Kepala Rumah Tangga Istana dijabat Brigjen Sampurno, Pak Joop Ave, dan Pak Maftuh Basyuni,” ujarnya.

Endang Sumitra mengisahkan riwayat pembangunan Istana Bogor hingga kisah-kisah humanis para presiden yang pernah dilayaninya.Endang Sumitra mengisahkan riwayat pembangunan Istana Bogor hingga kisah-kisah humanis para presiden yang pernah dilayaninya. (Sudrajat / detikcom)

Pada 1992/93, atas perintah Ii Atikah Sumantri (Kepala Istana Bogor), Endang melanjutkan kuliah ke Fakultas Hukum Universitas Pakuan. Ia mengambil jurusan Hukum Tata Negara dengan pengajar antara lain Prof Paulus Effendi Lotulung.

“Karena kuliah sambil kerja, saya baru wisuda pada 1998 setelah Pak Harto lengser,” ujarnya.

Terkait interaksinya dengan Presiden Soeharto, Endang mengklaim dirinya sebagai orang yang kerap diminta ajudan dan anggota paspampres agar tak jauh-jauh dari lingkaran penguasa Orde Baru itu setiap ke Istana atau ke peternakan di Tapos. Kenapa?

“Karena saya yang bertugas menjinjing wireless TOA. Kalau berjarak lima meter saja suara Pak Harto pasti tak terdengar oleh hadirin,” kata Endang disambut tawa.

Kalau dengan Gus Dur, ia melanjutkan, dirinya yang mengatur prosesi pemotongan dan pengolahan daging rusa menjadi sate. Kalau pelayan menyiapkan lima tusuk sate rusa untuk Gus Dur, Endang dipastikan akan menguranginya atas perintah Ibu Sinta Nuriyah menjadi dua tusuk saja. Hal itu dilakukan untuk menjaga kesehatan Gus Dur.

Dari enam presiden yang pernah dilayaninya, Endang mengaku paling intens berinteraksi dengan Jokowi. Sebab Presiden ketujuh RI itu sejak 2015 sehari-harinya tinggal di pavilion Dyah Bayurini di kompleks Istana Bogor. Jokowi yang menugaskannya menanam aneka bunga warna-warni dan pohon merambat agar lingkungan Istana terkesan menyatu dengan Kebun Raya.

“Sejak era Pak Harto, entah kenapa kami dilarang menanam perdu atau tanaman merambat. Juga dilarang menanam pohon yang berduri, seperti bunga mawar. Sekalipun harum dan warnanya indah, karena berduri kami tak menanamnya,” ungkap Endang.

Ia juga yang diminta mendatangkan para pedagang angkringan ke halaman Istana setiap kali Presiden Jokowi menggelar sidang kabinet.

“Bapak bilang lebih murah dan lebih enak ketimbang menu katering,” ujar Endang.

(fem/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Ketika Sofi Menentramkan Berahi Sandalwood



Cianjur

Bila di Istana Bogor selama ini dikenal dengan koleksi ratusan rusa, plus domba-domba milik Presiden Jokowi, lain lagi dengan di Istana Cipanas. Di sana ada 24 ekor kuda yang menempati beberapa istal di bagian belakang istana yang dirimbuni koloni pepohonan bambu.

Dari peta silsilah keluarga kuda yang terpasang di sekitar istal, pejantan pertama bernama Obos kelahiran 2007. Dia sudah tak menghuni Istana Cipanas karena dihibahkan ke Yayasan Rumah Perubahan pimpinan pakar manajemen Prof Rhenald Kasali.

Semua kuda di sana memiliki nama seperti nama manusia. Ada Sari yang lahir pada 2005, Euis (2006), Poppy (2014), Moris dan Steven (2010 dan 2005, sudah mati karena sakit), Boyke (2012), Clado (2018), dan lainnya. Kuda tertua bernama Lisa yang lahir pada 1997, dan termuda dinamai Danov (Kuda November) yang lahir pada November 2021.


Di Istana Cipanas ada 24 ekor kuda yang menempati beberapa istal di bagian belakang istana yang dirimbuni koloni pepohonan bambu.Silsilah kuda di di Istana Cipanas. Ada 24 ekor kuda yang menempati beberapa istal di bagian belakang istana yang dirimbuni koloni pepohonan bambu. Foto: Sudrajat

Di Istana Bogor, menurut Kepala Subbagian Protokol dan Layanan Istana Cipanas, Cecep Koswara, sebetulnya juga ada kuda. Cikal bakalnya adalah dua kuda Sandelwood pemberian masyarakat Nusa Tenggara Timur kepada Presiden Jokowi pada Juli 2017. Kedua kuda itu harganya ditaksir senilai Rp 70 juta.

“Pak Jokowi kemudian melaporkan hadiah tersebut ke KPK. Oleh KPK kemudian dititipkan di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat dan kemudian ditetapkan sebagai aset negara,” kata Cecep kepada rombongan Komunitas Jalan Pagi Sejarah (Japas) Bogor, Rabu (20/8/2025). Komunitas ini dipimpin ‘Kuncen Bogor’ Johnny Pinot dan Abdullah Abubakar Batarfie.

Di Istana Cipanas ada 24 ekor kuda yang menempati beberapa istal di bagian belakang istana yang dirimbuni koloni pepohonan bambu.Kuda November (Danov) Foto: Sudrajat

Suatu hari, Cecep melanjutkan, salah satu kuda Sandelwood mengamuk. Istal yang terbuat dari kayu nan kokoh pun jebol dibuatnya. Tak lama setelah itu dia tiba-tiba ambruk. Selama tiga hari tak dapat berdiri, dan harus ditopang dengan penyangga.

Tim dokter hewan dari IPB didatangkan. Mereka memberikan cairan infus, dan selama tiga hari menemani kuda tersebut untuk mempelajari apa gerangan yang membuat kondisi si Sandelwood seperti itu.

“Tim dokter menyimpulkan bahwa kuda tersebut ternyata ingin kawin. Libidonya meningkat drastis nyaris tak terkendali sehingga dia bertingkah liar,” tutur Cecep disambut tawa hadirin.

Beberapa dari mereka ada yang nyeletuk kecewa. Mereka semula menduga ada unsur mistis atau horor dari cerita Cecep. Ternyata soal berahi.

Akhirnya, kata Cecep melanjutkan, didatangkanlah Sofi dari Istana Cipanas. Temperamen si Sandalwood pun praktis terkendali. Setelah beberapa waktu Sofi pun menunjukkan tanda-tanda kehamilan.

Untuk perawatan, sejak 2019 Istana Cipanas melibatkan para mahasiswa kedokteran hewan IPB. Untuk mengendalikan populasi, para mahasiswa kedokteran hewan IPB melakukan katrasi (pengangkatan testis) kepada beberapa kuda jantan, antara lain Birma (6 tahun) dan Junior (3). Pejantan yang menjalani kastrasi biasanya akan kehilangan kemampuan reproduksi.

(jat/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Butuh Tempat Ngerjain Tugas Nyaman? Bisa di Perpustakaan Jusuf Kalla UIII


Depok

Depok punya tempat yang cozy dan asyik banget buat mengerjakan tugas, baca buku, atau sekadar me time ke tempat hening. Tempatnya ada di Perpustakaan Jusuf Kalla kompleks Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok.

Bangunan perpustakaan nggak cuma megah dan luas, tapi juga menyediakan fasilitas sesuai kebutuhan pengunjung. Misal AC yang dingin, Wi-Fi cepat, mushola, dan berbagai koleksi buku yang tersedia dengan tiket masuk Rp 10 ribu.

“Di sini enak dan fasilitasnya lengkap. Kalau mau baca buku tersedia isu nasional bahkan luar negeri yang bikin pengetahuan kita makin luas,” kata Dafa salah seorang pengunjung yang sedang Work From Anywhere (WFA) kepada detikTravel.


Perpustakaan Jusuf Kalla UIIIPerpustakaan Jusuf Kalla UIII (dok. Qonita Hamidah/detik travel)

detikTravel sempat mengunjungi perpustakaan yang disebut salah satu terbesar di Jabodetabek pada Rabu (8/10/2025) siang selepas azan Salat Zuhur. Suasana tenang dan hening langsung terasa, sangat kontras dengan kondisi Depok saat itu yang sangat panas.

Dalam kunjungan ini, detikTravel sempat menelusuri perpustakaan berlantai 8 yang ketika hari kerja tidak banyak menerima tamu. Perpustakaan Jusuf Kalla memiliki ruang baca anak yang terletak di lantai 2 dengan berbagai jenis koleksi.

“Alhamdulillah, sekarang bukunya udah semakin banyak, pas aku pertama kali ke sini bukunya baru sedikit. Di sini bisa bikin anak-anak suka baca buku,” kata pengunjung asal Depok ini.

Perpustakaan Jusuf Kalla UIIIPerpustakaan Jusuf Kalla UIII (dok. Qonita Hamidah/detikTravel)

Untuk anak usia 6-8 tahun tersedia aneka komik, sementara bagi umur 9-12 tahun beragam buku petualangan bisa diakses. Bagi remaja, ada banyak jenis buku fiksi yang cocok bagi pembaca di usia 13-18 tahun.

Jalan-jalan di Perpustakaan Jusuf Kalla UIII

Pengunjung bebas berlama-lama di perpustakaan ini asal masih dalam jadwal operasional pukul 09.00-21.00 WIB pada Senin-Jumat. Perpustakaan juga buka pada hari Sabtu pukul 09.00-16.00 WIB.

Perpustakaan Jusuf Kalla UIIIPerpustakaan Jusuf Kalla UIII (dok. Qonita Hamidah/detikTravel)

Ketika detikTravel datang ke perpustakaan ini, tiap pojoknya menyediakan buku yang bisa dibaca siapa saja. Buku dan bahan bacaan lain tersedia di lantai 1 yang diperuntukkan sebagai lobi dan area loker untuk pengunjung. Di lantai 2 tersedia studio siniar, CSIS Corener, koleksi Jusuf Kalla, referensi, dan buku langka.

Naik ke lantai 3 ada aula baca besar, meja sirkulasi, ruang kerja, koleksi bahasa Inggris, kompilasi milik Prof MC Ricklefs. Di lantai selanjutnya, kita akan menemukan koleksi buku dalam bahasa Indonesia lengkap dengan area membaca. Koleksi dalam bahasa Arab serta ruang bacanya tersedia juga di perpustakaan tepatnya lantai 5.

Suasana di lantai 3 cukup ramai, dengan sebagian besar pengunjung terlihat sibuk beraktivitas di depan laptop. Kondisi ini berbeda dengan lantai 4 yang suasananya lebih tenang dan hanya sedikit pengunjung.

Bagi pengunjung yang sudah lelah menjelajahi perpustakaan, bisa istirahat di lantai 6 yang menyediakan mushola. Selain itu ada area membaca kasual dan koleksi buku lainnya. Perpustakaan masih punya lantai 7 yang berisi ruang meeting dan lantai Sedangkan di lantai 8 ada area teater yang bisa digunakan pengunjung.

Fasilitas lift di perpustakaan ini hanya beroperasi dari lantai 3 hingga lantai 6. Jika ingin naik dari lantai 1 ke lantai 3, kita bisa menggunakan eskalator. Sementara untuk menuju lantai 7 dan 8, kita dapat menggunakan tangga darurat.

Dengan semua fasilitas dan koleksi bukunya, Perpustakaan Jusuf Kalla di kompleks UIII bisa jadi pilihan tepat bagi yang ingin menyelesaikan pekerjaan, tugas, atau sekadar meningkatkan pengetahuan. Di setiap rak buku dan lembarannya, selalu ada inspirasi baru yang menanti untuk ditemukan.

(row/ddn)



Sumber : travel.detik.com