Tag Archives: purwodadi

Pantai Ngetun yang Tersembunyi di Gunungkidul, Traveler Pernah Mampir?



Gunungkidul

Kawasan Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memang dikenal memiliki berbagai pantai. Ada yang sudah terkenal, ada pula yang tersembunyi misalnya Pantai Ngetun.

Buat traveler yang suka mencari tempat wisata tersembunyi dan belum banyak dijamah orang, mungkin Pantai Ngetun adalah pilihan yang tepat. Namun sebelum ke sana, simak dulu nih apa saja daya tarik, harga tiket masuk (HTM), serta lokasinya.

Daya Tarik Pantai Ngetun

Dikutip dari situs Pemprov DIY, Pantai Ngetun berlokasi di antara dua tebing, sehingga membuatnya menjadi teluk kecil di selatan Jogja. Berikut beberapa daya tariknya:


1. Masih Sepi

Meski sudah cukup lama dikembangkan dan sudah dikenal, Pantai Ngetun terbilang masih sepi pengunjung. Hal ini lantaran lokasinya yang cukup jauh dari kota dan aksesnya tidak mudah.

Tapi buat yang suka tantangan, tentu tak masalah dengan hal ini. Pantai Ngetun sangat cocok buat traveler yang tidak suka keramaian, sehingga bisa menjadikan pantai ini sebagai tempat healing yang nyaman.

2. Pantai Pasir Putih

Pantai Ngetun termasuk pantai berpasir putih. Airnya yang jernih kebiruan menjadi paduan yang indah untuk dinikmati. Ditambah lagi banyak pepohonan hijau yang membuat pemandangan menjadi lebih segar.

3. Karang dan Tebing-tebing Tinggi

Pantai ini juga memiliki karang-karang, tetapi masih nyaman jika traveler mau berenang di tepinya. Selain itu, Pantai Ngetun dikelilingi tebing tinggi yang membuat pemandangan semakin menarik. Traveler juga bisa menikmati pantai dari atas tebing untuk melihat pemandangan berbeda.

4. Bisa Buat Camping

Hal menarik lainnya adalah Pantai Ngetun bisa digunakan sebagai tempat camping. Namun hati-hati, jangan mendirikan tenda terlalu dekat dengan bibir pantai. Jaga jarak untuk menghindari air pasang di malam hari.

5. Melihat Sunset

Pantai Ngetun memiliki pemandangan laut ke arah barat, sehingga cocok untuk melihat sunset. Sebaiknya berkemah jika ingin melihat sunset, sebab perjalanan pulang di malam hari membutuhkan kewaspadaan tinggi.

6. Fasilitas

Sebagai pantai yang masih sepi, fasilitas dasar Pantai Ngetun bisa dibilang sudah memadai, yakni seperti mushola, warung, dan toilet. Tempat ini juga menyediakan persewaan alat camping bagi traveler yang tidak membawa peralatan sendiri.

Harga Tiket Masuk

Berdasarkan informasi di Google Maps, harga tiket masuk ke Pantai Ngetun dihargai Rp 5 ribu per orang. Selain itu, detikers juga dikenai tarif parkir Rp 3 ribu untuk sepeda motor dan Rp 10 ribu untuk mobil.

Sementara terkait harga makanan, beberapa ulasan menyebut harganya murah. Pengunjung yang ingin menggunakan fasilitas kamar mandi dikenakan biaya Rp 2 ribu dan Rp 3 ribu untuk mandi.

Lokasi Pantai Ngetun

Lokasi Pantai Ngetun adalah di Sureng, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Pantai ini terletak di sebelah barat Pantai Timang.

Jaraknya dari pusat Kabupaten Gunungkidul adalah 32 km atau sekitar satu jam perjalanan. Apabila berkendara dari pusat Kota Yogyakarta, maka jaraknya sekitar 70 km atau bisa ditempuh selama sekitar 2 jam.

Akses jalan menuju Pantai Ngetun cukup susah, karena kecil, berbatu, dan naik turun. Pastikan kendaraan yang dipakai detikers dalam kondisi prima. Sebelum berkunjung jangan lupa update informasi tiket, ketersediaan layanan, dan jalur menuju destinasi wisata.

__________________

Artikel ini telah tayang di detikJogja

(wkn/wkn)



Sumber : travel.detik.com

Menyelami Dunia Kopi di Pasar Santa



Jakarta

Pecinta kopi pasti sudah tidak asing dengan Kedai Dunia Kopi di Pasar Santa. Kedai kopi ini sederhana tapi istimewa.

Wangi kopi menyeruak dari lantai basement Pasar Santa, Jakarta Selatan. Plang kedai ‘Dunia Kopi’ tampak di tengah bangunan. Jajaran toples kopi dengan kapasitas 5 kg tertata rapi di etalase.

Pak Suradi (53), pemilik Dunia Kopi tampak sibuk menghitung pesanan. Ia pindah dari satu gerai ke gerai lain. Mungkin bagi yang tidak biasa akan bingung, karena ternyata Pak Suradi memiliki banyak gerai dalam satu lantai.


“Sekitar 40an gerai, termasuk untuk gudang,” ucap pria asal Purwodadi itu.

Dunia Kopi ada sejak tahun 2000, saat itu baru satu kios yang ia miliki. Lambat laun, usahanya menapaki tangga kepopuleran, terlihat dari banyaknya wisatawan internasional yang datang ke sana.

Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

“Malahan awal-awal itu yang datang bule-bule,” katanya.

Usahanya ini memang sudah lama ia cita-citakan dengan tujuan mengenalkan nama Indonesia lewat kopi.

“Di sini (Indonesia) banyak kopi, masa nggak bisa aku kelola dengan baik,” katanya pada detikTravel, Rabu (30/4).

Saat pertama kali berjualan, hanya dua jenis kopi yang dijual yaitu Arabika dan Robusta. Kopi arabika cenderung dengan citarasa yang kompleks, sementara robusta lebih ke rasa pahit. Kalau pohon arabika tumbuh di ketinggian 1.000-2.000 mdpl, pohon kopi robusta tumbuh di ketinggian lebih rendah, di bawah 700 mdpl.

“Dulu hanya 6 toples saja, sekarang kita buat ekosistemnya, langsung dari petani dari seluruh Indonesia. Jenisnya kita tambah jenisnya, ada robusta, arabika, liberika dan escelsa,” jawabnya.

Dunia Kopi Pasar SantaPak Suradi pemilik Dunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

Varietas kopi yang ditawarkan juga beragam, mulai dari yellow honey, black honey, sigararutang, sampai yellow bourbon. Bisa dibilang hampir lengkap, tak ayal banyak pelanggan yang hilir mudik di sana.

Di tiap kios, pegawai Dunia Kopi sibuk menimbang kopi. Pelanggan mencatat pesanan mereka dan memilih jenis kopi. Kalau ragu, mereka bisa langsung mencicip kopi di sudut basement, Pak Suradi menyiapkan kios khusus untuk mencicipi kopi. Maklum, kebanyakan pembeli adalah reseller kelas kakap.

“Semua boleh minum kopi, gratis. Ajang promosi lah begitu, bagi-bagi gratis, tidak dibatasi,” ungkap pria kelahiran Blora itu.

Untuk kopi gratis ini saja, ia bisa habis 5-10 kg per hari. Kedai kopi itu beroperasi dari pukul 06.00 WIB sampai 18.00 WIB dengan total karyawan 25 orang, penjualan sehari tak kurang dari satu ton.

Modal yang kuat sudah harus disiapkan. Selidik punya selidik, ternyata Pak Suradi menyuntik usahanya dengan dana pinjaman dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) sampai 4 kali.

Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

“Pinjaman pertama itu Rp 100 juta, pinjaman kedua Rp 200 juta, pinjaman ketiga Rp 300 juta dan terakhir lunas tahun ini Rp 500 juta,” ucapnya.

Selain dukungan modal, Pak Suradi juga merasa sangat terbantu dengan syarat-syarat KUR. Saking sibuknya, berkas-berkas it ditandatangani di kedainya, suatu kemudahan bagi UMKM.

Pak Suradi berkata bahwa turis yang paling banyak datang belakangan ini adalah orang Korea dan Jepang. Mereka sengaja memilih kopi sebagai oleh-oleh. Turis China, Malaysia dan Singapura juga masih daftar 5 turis yang paling banyak singgah.

“Kemarin dari Jepang beli sampai dua koper penuh. Mereka suka kopi Toraja, luwak dan gayo. Tapi paling favorit luwak,” ungkapnya.

Sepanjang usahanya, ia ingat akan satu turis asal Rusia. Turis ini beli kopi sampai dua karung, jenis kopi Bali. Satu hari beli satu karung, semua untuk oleh-oleh. Mereka datang saat weekday.

Beda lagi dengan wisatawan domestik, sukanya kopi robusta dan arabika, datangnya saat weekend. Dunia kopi terasa seperti tempat wisata di Sabtu pagi.

Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

“Mereka datang naik sepeda, ke sini ngopi gratis. Di sini tempatnya nyaman untuk ngumpul dan nggak dibatasi,” jawabnya.

Per 100 gram, kopi ini dijual dengan harga paling murah Rp 13 ribu dan yang paling mahal Rp 20 ribu yaitu excelsa ijen dan liberika Jambi.

Sukses dan tidak pelit ilmu, Pak Suradi membuka kelas barista untuk anak-anak yatim dan pesantren secara gratis. Ada pula kelas umum untuk mereka yang baru mau belajar, biayanya Rp 500 ribu sampai mahir.

Jay (35) adalah trainer dan mekanik mesin kopi di Dunia Kopi. Sejak berkarir sebagai barista di sana pada tahun 2019, ia telah melatih sekitar 300 orang, termasuk peserta disabilitas netra dan rungu.

“Bangga sih sebenarnya, apa yang selama ini diinginkan anak-anak barista tercapai, banyak bule uang suka kopi datang ke Indonesia,” jawabnya.

Pak Suradi tak merasa rugi dengan itu semua. Ia malah senang bisa menjadi perpanjangan tangan dan bermanfaat bagi sekitar. Ia berterima kasih juga pada BRI yang telah mendukungnya selama ini.

“Maju terus untuk pelayanannya, sukses untuk BRI,” katanya.

Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

Pariwisata Lewat Kopi

Perkembangan pariwisata kopi tak lepas dari perhatian Pengamat Ahli Pariwisata Profesor Azril Azhari. Sebagai pecinta kopi, ia bangga nama kopi Indonesia mulai dilirik oleh dunia.

“Ini sangat bagus, tapi sekali lagi sayang karena kita hanya fokus pada kopinya saja,” ungkap mantan dosen Universitas Indonesia itu.

Sejatinya, proses alami yang terjadi pada kopilah yang membuat rasanya mewah. Sebut saja kopi luwak, proses fermentasi yang terjadi di lambung luwak lah yang membuat cita rasa kopi itu jadi berbeda.

“Kopi yang bagus itu sudah difermentasi, kalau di luar negeri itu dibuat jadi tidak alami,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Prof Azril mengatakan bahwa sejak dipetik memang kopi Indonesia mengalami proses alami. Kopi dijemur di panas matahari sehingga kering dengan perlahan.

“Di luar negeri itu keringnya dipaksa lewat oven, di sini dijemur di jalanan,” katanya sambil tertawa.

Pada tahun 2018, Prof Azril mematenkan batik dari ampas kopi. Saat dipakai, batik akan mengeluarkan wangi semerbak layaknya kopi yang dihidangkan.

Dunia Kopi Pasar SantaPak Suradi bersama reseller Dunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

“Harusnya bukan cuma kopinya tapi semua aspek kopi, ampasnya dijadikan bahan untuk spa, sementara sejarah kopi di Maluku dan Sumatera dijadikan paket wisata ‘Spicy Road’, melihat kembali bagaimana VOC menguasai kita di zaman itu,” jawab Prof Azril.

Wisata jalur rempah Indonesia, itulah yang menjadi impian dari Prof Azril. Pendiri ilmu pariwisata Indonesia itu ingin agar kopi Indonesia terus maju dan mengharumkan nama bangsa.

“Indonesia itu sudah terkenal rempah-rempahnya dari dulu, ini tinggal pemerintah saja bagaimana mendukungnya,” tutupnya.

(bnl/bnl)



Sumber : travel.detik.com