Tag Archives: ramadan

5 Restoran Halal di PIK yang Cocok untuk Tempat Bukber


Jakarta

Sejumlah restoran di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) bisa dijadikan tempat acara buka bersama (bukber) bareng teman maupun keluarga. Tempat-tempat ini menyuguhkan menu halal yang lezat dan cocok untuk berbuka.

Mulai dari Chinese food, nusantara, hingga seafood dapat dicicipi di sini. Harganya bersahabat dan vibes restorannya nyaman sehingga pas untuk berkumpul saat bukber. Penasaran di mana saja tempatnya? Simak di bawah ini.

Tempat Bukber Halal di PIK

Sejumlah restoran di PIK menyediakan berbagai menu lezat yang cocok untuk sajian buka puasa. Mengutip Google, berikut rekomendasi tempat bukber di kawasan PIK:


1. Sulaiman Resto

Sulaiman Resto PIKSulaiman Resto PIK (dok. Instagram @sulaimanresto.pik)

Chinese food halal bisa ditemukan di Sulaiman Resto PIK. Seperti liang pi atau menu mi dingin dengan saus dan taburan kacang serta ding ding chao mian atau sajian mi berbentuk kotak kecil yang gurih.

Ada sajian berkuah seperti mala yu dan sup ikan asam pedas. Juga sate kambingnya yang punya potongan daging besar-besar.

  • Lokasi: Rukan Cordoba, Jl. Marina Raya No. 15 Blok D, Kapuk Muara, Jakarta Utara.

2. Bandar Djakarta

Kalau ingin makan seafood segar di PIK, datangi Bandar Djakarta. Pesan paket Ramadan di sini, kamu akan dapat takjil gratis dan cepat saji restonya.

Menu seafood di Bandar Djakarta diolah dengan berbagai saus. Seperti cumi telur asin, kerang lada hitam, udang bakar madu, ataupun dijadikan ikan steam. Di sini juga tersedia menu sayuran seperti cah kangkung dan tumis buncis.

  • Lokasi: PIK 2, Jl. MH Thamrin No. 7 AB, Kosambi, Kabupaten Tangerang.

3. Kampung Kecil

Restoran Kampung KecilRestoran Kampung Kecil (dok. Instagram @kampungkecil_official)

Datangi Kampung Kecil PIK kalau ingin menggelar bukber di restoran Sunda dengan area duduk lesehan di saung-saung. Ditambah lagi, konsep tempat makannya yang full bambu sangat estetik.

Tersedia nasi liwet dan tumpeng untuk disantap bersama. Ada banyak masakan Sunda dari olahan ikan gurame, lele, patin, ayam, sapi, bebek, dan seafood seperti cumi, udang, serta kerang. Terdapat juga menu sayur dan makanan ringannya.

  • Lokasi: PIK 2, Jl. Rasuna Said Blok BB No. 8, Kosambi, Kabupaten Tangerang.

4. Rumah Makan Medan Baru

Meski namanya Rumah Makan Medan Baru, restoran ini menyuguhkan masakan Minang klasik. Menu andalannya yaitu gulai kepala ikan kakap dan burung punai goreng. Daging burungnya tidak alot dan mirip daging ayam.

Untuk gulainya punya kuah santan yang kental dan berasa rempah. Menu ini paling nikmat disantap dengan sambal ganjanya. Nama ‘ganja’ diambil untuk sambal khas Aceh ini karena rasanya yang bisa bikin ketagihan.

  • Lokasi: PIK 2, Jl. MH Thamrin, Kosambi, Kabupaten Tangerang.

5. Gerobak Betawi

Gerobak Betawi PIKGerobak Betawi PIK (dok. Instagram @gerobakbetawi)

Aneka makanan dan jajanan nusantara lezat dapat dicicipi di restoran Gerobak Betawi. Nasi uduk komplet, nasi jeruk, ketoprak, gado-gado, hingga toge goreng tersedia di sini.

Kalau ingin masakan berkuah, bisa coba mi tektek, rawon, soto, sop iga, hingga sayur asem. Ada juga bubur dan jajanan seperti pempek, tahu gejrot, tahu petis, sampai asinan Betawi.

  • Lokasi: Rukan Cordoba, Jl Bukit Golf Mediterania, Kapuk Muara, Jakarta Utara.

Jika memungkinkan, pengunjung bisa pesan tempat lebih dulu di restoran pilihan untuk buka bersama. Apalagi bila jumlah pengunjung yang datang cukup banyak dan berombongan. Reservasi tempat mencegah pengunjung antri dan berisiko tidak bisa bukber di restoran PIK pilihan.

(azn/row)



Sumber : travel.detik.com

Sejuk dan Asrinya Masjid Bambu di Cirebon, Bikin Jemaah Betah



Cirebon

Ada sebuah masjid unik di Cirebon. Masjid itu terbuat dari bambu. Suasananya asri dan sejuk sehingga membuat para jemaah betah.

Masjid tersebut dibuat dengan menggunakan bambu berwarna kuning sebagai bahan baku utama bangunan. Dilihat dari depan, tampak ratusan bambu dengan berbagai macam ukuran disusun hingga membentuk bangunan masjid.

Tak hanya bambu, bagian atap masjid juga tidak menggunakan atap genteng, melainkan serat ijuk berwarna hitam. Di sekitar masjid, terdapat pepohonan dengan daun yang rindang membuat suasana masjid terasa adem, meski letaknya di tengah kota.


Masuk lagi ke dalam, suasana nyaman dan sejuk yang berasal dari udara yang berhembus dari celah dinding bambu langsung terasa di badan.

Ragam ornamen hiasan kaligrafi dan lampu gantung bermotif bebatuan juga menambah indah suasana masjid yang dikenal dengan nama Masjid Bambu tersebut.

Terpisah dari bangunan masjid, terdapat sebuah menara berwarna hijau dengan lafadz Allah di atasnya. Menara tersebut, berfungsi sebagai tempat pengeras suara waktu salat.

Fauzi, takmir Masjid Bambu memaparkan, Masjid Bambu mulai dibangun sejak tahun 2014, kala itu, menara masjid masih belum dibangun, sehingga untuk pengeras suaranya sendiri di taruh di atas pohon yang banyak tumbuh di area masjid.

Menurut Fauzi, berbeda dengan masjid pada umumnya, masjid yang memiliki nama asli Masjid Ash-Shomad tersebut memang sengaja dibangun menggunakan bambu sebagai bahan utama.

“Nama asli Masjidnya Ash-Shomad yang artinya tempat bergantung segala sesuatu, itu diambil dari nama Asmaul Husna,” tutur Fauzi, Senin (3/3/2025).

Masjid Bambu  atau Masjid Ash-Shomad Cirebon.Masjid Bambu atau Masjid Ash-Shomad Cirebon. Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar

Fauzi memperkirakan, 70 persen bangunan masjid adalah bambu, dengan atap menggunakan ijuk. Menurutnya, bambu dan ijuk tersebut didatangkan langsung dari Majalengka dan juga Ciamis.

“Sudah 11 tahun, memang suasana dibikin seperti Masjid Kuno, hampir 70 dari bambu, tapi bambunya itu kokoh, atapnya pakai ijuk. Wakafnya dari Pak Haji Watid, ” tutur Fauzi.

Untuk kapasitasnya sendiri, Masjid Bambu menampung sekitar 150 jemaah dengan rincian 60 orang di bagian dalam masjid dan 90 orang sisanya di area serambi masjid.

Bahkan, ketika momen salat Jumat tiba, jamaah masjid akan tumpah membludak sampai ke area halaman masjid.

“Alhamdulillah ramai terus, adem masjidnya meskipun lokasinya di tengah kota, malah tadinya lebih adem dari ini, kayak hutan banyak pepohonan besar, cuman karena kapasitas jemaah bertambah, ditambah akar pohonya semakin besar, jadi ditebang,” tutur Fauzi.

Khusus di bulan Ramadan, Masjid Bambu melaksanakan berbagai macam kegiatan keagamaan seperti buka puasa bersama, kajian rutin dan salat tarawih berjamaah. Masjid Bambu sendiri berlokasi di Kebon Baru, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

5 Wisata Religi di Jakarta, Ada Masjid Istiqlal hingga Makam Habib


Jakarta

Ada sejumlah tempat wisata religi di Jakarta yang menarik dikunjungi. Selain berkunjung ke sejumlah masjid, travelers juga bisa berziarah ke makam para habib.

Bulan Ramadan menjadi salah satu momen yang paling dinantikan umat muslim. Selain menjalankan ibadah puasa, beberapa orang juga menyempatkan diri untuk melakukan wisata religi.

Nah, ada sejumlah wisata religi di Jakarta yang wajib dikunjungi. Apa saja tempatnya? Simak ulasan singkatnya dalam artikel ini.


Rekomendasi Wisata Religi di Jakarta

Apabila bosan berkunjung ke tempat yang itu-itu saja, kamu bisa melakukan wisata religi di Jakarta bersama keluarga atau teman-teman. Simak rekomendasi tempat wisata religi yang dikutip dari catatan detikcom.

1. Masjid Istiqlal

Imam Besar Masjid Nabawi Syekh Ahmad menunaikan salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta. Syekh Ahmad juga mengisi khotbah dan memimpin salat di hadapan ribuan jemaah.Masjid Istiqlal. (Andhika Prasetia)

Destinasi wisata religi yang pertama adalah Masjid Istiqlal. Kurang lengkap rasanya jika berwisata religi di Jakarta, tapi tidak berkunjung ke masjid yang satu ini.

Masjid Istiqlal diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978. Memiliki luas bangunan 2,5 hektare di atas tanah 9,8 hektare, Masjid Istiqlal dapat menampung hingga 100.000 orang. Maka dari itu, Masjid Istiqlal termasuk salah satu masjid terbesar se-Asia Tenggara.

Selama Ramadan, Masjid Istiqlal menggelar berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari salat tarawih, ceramah dari para ustadz, hingga mengadakan buka puasa bersama gratis bersama jamaah lain.

Masjid Istiqlal berlokasi di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Bagi detikers yang ingin berkunjung bisa menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum, yakni KRL Commuter Line dan TransJakarta.

2. Masjid Ramlie Musofa

Warga melakukan amalan ibadah puasa dengan melaksanakan salat wajib dan memperbanyak salat sunah di Masjid Ramlie Musofa, Sunter, Jakarta Utara. Bulan puasa sebagai bulan penuh ampunan mendorong umat Muslim memperbanyak amalan ibadah untuk mempererat hubungan langsung kepada Allah (hablu minallah) maupun menjaga hubungan baik kepada manusia (hablu minannas).Masjid Ramlie Musofa. (Ari Saputra)

Masjid Ramlie Musofa memiliki keunikan tersendiri dibandingkan masjid lainnya yang ada di Jakarta. Sebab, bangunan masjidnya mirip seperti Taj Mahal di India.

Berlokasi di Sunter, Jakarta Utara, masjid ini didominasi oleh warna putih bersih dan corak warna emas di beberapa ornamen tulisan. Selain itu, dinding masjidnya juga dibalut marmer yang diimpor dari Italia. Hal tersebut semakin menunjukkan kemegahan dari Masjid Ramlie Musofa.

Keunikan lain dari Masjid Ramlie Musofa adalah terdapat ukiran surat Al-Fatihah dalam tiga bahasa, yakni bahasa Arab, Indonesia, dan Mandarin. Sebab, masjid itu dibangun oleh seorang mualaf beretnis Tionghoa, maka dari itu terdapat corak bangunan yang memiliki unsur Tionghoa.

3. Masjid Al Alam Marunda

Masjid Al Alam terletak di Jalan Marunda No. 1 atau tepat berada di pinggiran Pantai Marunda, Jakarta Utara.Masjid Al Alam. (Pradita Utama)

Rekomendasi wisata religi berikutnya adalah berkunjung ke Masjid Al Alam Marunda. Disebut juga sebagai Masjid Si Pitung, masjid ini termasuk salah satu yang tertua di Jakarta karena telah berdiri sejak 1527.

Masjid Al Alam Marunda terdiri atas bangunan utama, bangunan baru untuk salat perempuan, pendopo, dan halaman. Uniknya, terdapat sebuah sumur yang bisa digunakan untuk berwudhu.

Terletak di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, masjid ini memiliki sejarah panjang yang menarik. Masjid Al Alam seolah menjadi saksi bisu atas rentetan peristiwa dan perkembangan Islam yang terjadi di sekitar Marunda.

Masjid ini menggabungkan empat kebudayaan dalam arsitekturnya, yakni bagian kubah berbentuk joglo merupakan arsitektur Jawa, lalu bentuk lengkung naga terinspirasi dari budaya Tionghoa, kemudian ornamen jendela dan pintu yang berkaitan dengan budaya Betawi, serta bentuk tiang dan bidang catur masjid yang kental budaya Eropa.

Ada beberapa versi mengenai pendirian Masjid Al Alam. Versi pertama adalah masjid yang dibangun dalam waktu singkat oleh para aulia. Versi kedua menyebut bahwa masjid ini dibangun oleh pasukan Fatahillah sebelum menyerang Sunda Kelapa pada 1527. Versi ketiga menyebut masjid ini dibangun oleh pasukan Mataram pada abad ke-17.

4. Masjid Agung Al Azhar

Masjid Agung Al-AzharMasjid Agung Al Azhar. (Yusuf Alfiansyah Kasdini)

Masjid yang satu ini terletak di tengah kota, tepatnya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Masjid Agung Al Azhar sempat dinobatkan sebagai masjid terbesar di Indonesia selama 10 tahun, sebelum akhirnya tergantikan oleh Masjid Istiqlal.

Didirikan pada 19 November 1953 dan selesai dibangun pada 1958, Masjid Agung Al Azhar diprakarsai oleh 14 tokoh besar Partai Masyumi, termasuk Buya Hamka. Dapat menampung hingga 10.000 jamaah, Masjid Agung Al-Azhar menjadi salah satu masjid tertua dan terbesar di Jakarta.

Awalnya, masjid ini bernama Masjid Agung Kebayoran Baru karena sesuai dengan lokasinya. Lalu, namanya diubah setelah seorang rektor Universitas Al-Azhar Kairo, Dr Mahmoud Syaltout mendatangi masjid ini dan memberikan nama “Al-Azhar” untuk masjid ini.

5. Masjid Al Riyadh dan Makam Habib Ali Kwitang

Masjid Al Riyadh KwitangMasjid Al Riyadh Kwitang. (detikcom)

Destinasi wisata religi berikutnya adalah Masjid Al Riyadh. Meski berlokasi di dalam gang dan permukiman penduduk, tetapi masjid ini memiliki nilai sejarah dan patut dikunjungi.

Berdiri sejak 1938, Masjid Al Riyadh didominasi oleh warna putih yang memanjakan mata. Masjid yang dapat menampung sekitar 50-100 jamaah ini juga terdapat makam Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi atau yang akrab dikenal sebagai Habib Ali Kwitang.

Sebagai informasi, Habib Ali Kwitang merupakan salah satu tokoh ulama yang berpengaruh pada abad ke-20. Tidak hanya dalam perkembangan Islam di daerah Jakarta, tapi juga berperan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Habib Ali Kwitang lahir pada 20 April 1870 di Kampung Kwitang, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Beliau adalah putra dari pasangan Al-Habib Abdurrahman Alhabsyi dengan Nyai Salmah.

Di sisi kiri masjid terdapat empat makam. Di dalam makam tersebut bersemayam Habib Ali Kwitang dan keluarga. Tempat ini selalu ramai oleh pengunjung yang berziarah dan wisata religi, terutama saat hari Minggu dan menjelang Ramadan.

Itu dia lima rekomendasi wisata religi di Jakarta. So, ingin berkunjung ke tempat yang mana dulu nih?

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

Keunikan Masjid Berarsitektur Eropa-Jawa di Pati



Pati

Menikmati bangunan berarsitektur Eropa tidak perlu ke luar negeri. Di Pati, Jawa Tengah ada masjid yang memadukan arsitektur Eropa dan Jawa yang bisa dikunjungi.

Masjid yang berada di jalan Kaborongan Kelurahan Pati Lor Kecamatan Pati, Kabupaten Pati itu diketahui memiliki gaya unik. Masjid yang berdiri sejak tahun 2011 silam ini memiliki perpaduan gaya arsitektur Eropa dan Jawa.

Masjid itu bernama Djauharotul Imamah. Lokasinya tepat di pinggir jalan Kaborongan, yakni di utara seberang jalan.


Sekilas masjid ini tampak mewah dengan dua lantai. Bangunan masjid dari luar berwarna cokelat dan mirip seperti kastil yang ada di Eropa.

Bangunan bawah merupakan aula dan tempat untuk wudu. Sedangkan bagian atas tempat untuk melaksanakan ibadah salat.

Masjid Djauharotul Imamah yang ada di jalan Kaborongan Kelurahan Pati Kidul Kecamatan Pati, Kamis (6/3/2025).Masjid Djauharotul Imamah Pati Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Saat naik ke atas, bangunan masjid ini begitu apik. Gaya bangunan masjid ini tidak seperti umumnya, karena memiliki jendela berukuran besar dan lebar. Hal ini seperti bangunan khas Eropa.

Kemudian masuk di dalam ruangan lantai atas terdapat tempat pengimanan yang berbentuk gebyok kayu berukir. Gebyok ini perpaduan budaya dari Jawa sehingga masjid ini bergaya Eropa dan Jawa.

“Masjid ini berdiri sejak tahun 2011. Memang arsitektur masjid ini bergaya campuran, Jawa dan Eropa,” kata Wakil Ketua Takmir Masjid Djauharotul Imamah, Hamzah saat berbincang dengan detikJateng, Kamis (6/3/2025).

Dia mengatakan masjid ini dibangun oleh pasangan suami istri. Mereka mewakafkan masjid ini kepada masyarakat setempat. Pasangan suami istri itu adalah Mbah Johar Malikan dan Imam Sulaini warga Pati Lor. Dari nama keduanya kemudian diabadikan menjadi nama masjid.

“Dari dua nama inilah kemudian dipakai nama masjid Djauharotul Imamah,” jelas Hamzah.

Dia menjelaskan bangunan ini memiliki arsitektur gaya Eropa dan Jawa. Arsitektur Eropa ini bisa dilihat dari bentuk masjid seperti kastil, sedangkan Jawa dilihat dari tempat imam yang terbuat dari gebyok khas Jawa. Masjid ini menghabiskan anggaran mencapai Rp 1 miliar.

“Kalau gaya Eropa ini dilihat bangunan masjid yang mirip seperti kastil jarang ditemui di Pati. Sedangkan yang Jawa itu gebyok yang ada di lantai atas, tempat pengimanan,” ujarnya.

Dia mengatakan bangunan masjid lantai bawah digunakan tempat aula dan wudu. Sedangkan lantai atas digunakan untuk tempat ibadah. Masjid ini mampu menampung 100 lebih jemaah.

“Kalau lantai atas tidak muat maka kita juga gunakan umat dalam kondisi darurat,” jelasnya.

Selain itu di belakang masjid juga terdapat taman yang luas. Fasilitas taman ini digunakan jemaah untuk beristirahat atau sekadar berfoto.

“Kemudian ada taman di belakang merupakan fasilitas masjid area hijau yang kita siapkan bagi jemaah yang pengin nyantai, bagi jemaah yang pengin duduk, sehingga ada spot tanam yang bisa dikunjungi,” ungkap dia.

Ada Banyak Kegiatan Selama Bulan Ramadan

Lebih lanjut Hamzah mengatakan, masjidnya ini rutin menggelar buka bersama setiap hari selama bulan Ramadan. Panitia masjid menyediakan 300 porsi sampai 500 porsi makanan berbuka puasa setiap harinya.

“Dan ini sudah berlangsung sejak lama. Setiap Ramadan kita adakan acara buka bersama. Tahun lalu hanya 250 porsi dan tahun ini mencapai 300 porsi setiap hari. Dan memang target kita bisa sampai 500 porsi setiap hari,” kata Hamzah.

Menurutnya, buka bersama ini tidak hanya untuk jemaah atau warga setempat, akan tetapi warga umum yang melintas di Pati Kota. Tak jarang tukang ojek maupun tukang sapu juga mampir ke masjid tersebut untuk mengikuti kegiatan berbuka puasa bersama.

“Mungkin banyak tukang ojek online sore ikut berbuka ke sini. Free ke sini,” jelasnya.

Dia menjelaskan untuk menyediakan menu berbuka puasa, panitia setiap hari merogoh uang mencapai Rp 7,5 juta. Jika dihitung selama satu bulan puasa mencapai Rp 200-an juta. Anggaran ini pun didapatkan dari para donatur.

“Semua murni kesadaran jemaah menitipkan donasi di masjid ini. Mereka percaya pengelolaan masjid di sini,” ungkap dia.

Salah satu warga, Erik Setiawan, mengaku rutin ke masjid tersebut saat Ramadan ini. Selain mengikuti acara berbuka puasa, dia juga mengikuti acara pengajian rutin sebelum berbuka puasa.

“Rutin ke sini, karena di sini sebelum berbuka puasa ada acara pengajian, terus berbuka puasa dilanjutkan salat tarawih berjamaah di sini,” ujar Erik.

——–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

5 Spot Ngabuburit Cantik di Pangandaran, Menunggu Buka Sambil Lihat Sunset



Pangandaran

Ngabuburit di Pangandaran, traveler bisa sambil berburu pemandangan sunset yang cantik. Berikut 5 tempat yang direkomendasikan:

Pangandaran menawarkan beragam pilihan tempat seru untuk mengisi waktu ngabuburit selama bulan Ramadan. Selain berburu takjil, pengunjung juga bisa menikmati pemandangan indah dan berburu spot foto menarik di berbagai lokasi.

Berikut 5 Rekomendasi Spot Ngabuburit Terbaik di Pangandaran:

1. Taman Suarsih

Taman Suarsih menjadi salah satu destinasi favorit warga Pangandaran saat ngabuburit. Berlokasi di Desa Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran, taman ini hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari Pantai Pangandaran.


Daya tarik utama Taman Suarsih adalah pemandangan langsung menghadap laut dan menjadi salah satu tempat terbaik menikmati sunset. Taman ini juga dilengkapi fasilitas lengkap, seperti tempat duduk nyaman, spot foto kekinian, sky walk, hingga jogging track.

Menariknya, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk karena Taman Suarsih masih termasuk kawasan wisata Pantai Pangandaran. Selain bersantai, pengunjung bisa berburu foto instagramable dengan latar pantai yang memukau.

2. Cikembulan Pass

Cikembulan Pass yang berlokasi di Desa Cikembulan, Kecamatan Sidamulih, menjadi spot ngabuburit baru yang kian populer. Pengunjung bisa menikmati suasana pantai, bermain pasir, hingga berswafoto sembari menanti adzan Magrib.

Lokasi ini semakin menarik karena panorama sunset yang memukau bisa disaksikan langsung dari area ini. Ditambah lagi, deretan pedagang takjil mulai buka sejak sore hari, memudahkan pengunjung berburu hidangan berbuka.

“Paling ikonik di tempat ini yaitu patung bundaran Marlin dan tulisan Cikembulan Pass untuk swafoto,” kata seorang pengunjung. Menariknya, lokasi ini juga kerap digunakan untuk aktivitas senam atau zumba sore hari.

3. Alun-alun Paamprokan

Alun-alun Paamprokan yang terletak di Jalan Pamugaran, Desa Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran, menjadi pusat aktivitas warga, khususnya saat Ramadan. Taman ini diresmikan langsung oleh Gubernur Jawa Barat saat itu, Ridwan Kamil.

Area alun-alun yang luas memungkinkan warga melakukan beragam aktivitas, mulai dari berfoto di menara, bermain di taman anak, menggunakan fasilitas gym outdoor, hingga bermain skateboard di area yang tersedia.

Bagi pengunjung yang ingin berburu takjil, di sekitar alun-alun sudah tersedia banyak penjual makanan yang mulai buka sejak sore hari. Waktu terbaik berkunjung ke Alun-alun Paamprokan biasanya antara pukul 16.00 WIB hingga 17.00 WIB.

4. Jembatan Wiradinata Rangga Jipang

Jembatan Wiradinata Rangga Jipang di jalur lintas pesisir Pantai Pangandaran kini menjadi salah satu pusat keramaian baru. Lokasinya sangat cocok dijadikan tempat ngabuburit sambil menikmati pemandangan sekitar.

Di sekitar jembatan terdapat Danau Tanjung Cemara yang menghadirkan panorama indah saat sore hari. Bias cahaya matahari yang memantul di permukaan danau menciptakan pemandangan yang sangat instagramable dan cocok untuk berswafoto.

Jembatan ini juga dekat dengan pusat jajanan takjil di sekitar Masjid Cikembulan, tepat di perempatan Jalan Raya Cijulang-Pangandaran, di samping Cafe Amora. Berbagai pilihan hidangan pembuka puasa tersedia dengan harga terjangkau.

5. Taman Pesona Pangandaran (TPP)

Taman Pesona Pangandaran atau TPP menjadi pilihan ngabuburit ramah keluarga, khususnya bagi ibu-ibu muda yang membawa anak-anak. Taman ini menawarkan beragam wahana permainan anak yang bisa dicoba selama menunggu waktu berbuka.

Selain area bermain, TPP juga dikenal sebagai pusat kuliner dengan foodcourt yang menyediakan aneka makanan dan takjil. Pengunjung tidak perlu repot mencari makanan berbuka karena semua tersedia di satu tempat.

Lokasi TPP berada di samping Pasar Pananjung, hanya sekitar 1 kilometer dari Pantai Pangandaran. Foodcourt di TPP mulai beroperasi sekitar pukul 16.30 WIB hingga 01.00 WIB dini hari, sehingga cocok untuk ngabuburit hingga kulineran malam.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Menelusuri Jejak Sejarah dalam Destinasi Kuliner & Budaya di Batavia PIK



Jakarta

Pantai Indah Kapuk (PIK) menjadi salah satu daerah yang menghadirkan magnet tersendiri bagi wisatawan lokal dan mancanegara. Pasalnya, Kawasan tersebut memiliki perpaduan sejarah, budaya, kuliner, dan destinasi wisata yang cukup menarik.

“Bagi pencinta kuliner, sejarah, dan budaya, Batavia PIK merupakan destinasi yang tak boleh dilewatkan. Terinspirasi dari kota pelabuhan Batavia tempo dulu di abad ke-18, kawasan ini menawarkan pengalaman unik yang memadukan keindahan arsitektur khas kolonial, atmosfer kota pelabuhan, serta sajian kuliner dan hiburan khas Nusantara,” tulis PIK dalam keterangan resmi, Sabtu (15/3/2025).

Lebih dari sekedar destinasi wisata, Batavia PIK menghidupkan kembali kejayaan Batavia, yang dahulu dikenal sebagai ‘Queen of the East’ yaitu sebuah pusat perdagangan maritim yang mempertemukan berbagai bangsa dan budaya. Layaknya seperti Batavia di masa lampau, destinasi ini kini menjadi melting pot modern, di mana akulturasi budaya hadir dalam seni, hiburan, kuliner, dan arsitektur autentik.


Tak hanya menawarkan nostalgia, Batavia PIK juga menghadirkan pengalaman imersif yang mengajak pengunjung menjelajahi sejarah melalui konsep interaktif dan inovatif sehingga dapat dinikmati oleh para wisatawan dari berbagai generasi, baik lokal maupun mancanegara.

Menelusuri Jejak Sejarah dalam Destinasi Kuliner & Budaya di Batavia PIKMenelusuri Jejak Sejarah dalam Destinasi Kuliner & Budaya di Batavia PIK (Agung Sedayu)

Alun-Alun Batavia: Pusat Festival dan Hiburan

Sebagai jantung dari Batavia PIK, Alun-alun Batavia menjadi tempat berkumpulnya para pengunjung untuk menikmati berbagai event spesial. Dari bazar kerajinan lokal, kuliner, pertunjukan seni teater, hingga live music bernuansa keroncong.

Lebih dari sekadar tempat hiburan, Alun-Alun Batavia juga menjadi panggung bagi para seniman kreatif Indonesia. Berbagai sanggar seni dan pertunjukan ternama seperti Jember Fashion Carnaval, Sanggar Tari Ayodya Pala, hingga Teater Mhyajo turut berkolaborasi menampilkan karya-karya yang mengangkat budaya lokal dengan sentuhan modern.

Pasar Rakjat: Menikmati Nostalgia Lewat Kuliner dan Kerajinan Tradisional

Batavia PIK juga tetap menjaga semangat lokal dengan menghadirkan Pasar Rakjat. Lebih dari sekadar tempat berbelanja, pasar ini menjadi wadah bagi UMKM Indonesia untuk berkembang dan memamerkan produk terbaik mereka, mulai dari kuliner khas, kerajinan tangan, hingga seni kreatif.

Pada Maret 2025, Batavia PIK akan menyambut Sarinah, department store ikonik yang selama puluhan tahun dikenal sebagai rumah bagi produk-produk lokal unggulan. Kehadirannya akan semakin memperkaya pengalaman belanja di Batavia PIK, menghadirkan beragam karya anak bangsa, mulai dari tekstil, fesyen, hingga kerajinan tradisional.

Jembatan Kota Intan dan Dermaga Taksi Air: Menghubungkan Tradisi dan Modernitas

Salah satu daya tarik utama Batavia PIK adalah jembatan kayu yang menghubungkan fase pertama di Golf Island PIK dengan Batavia Pasar Rakjat di Riverwalk Island. Jembatan ini terinspirasi dari Jembatan Kota Intan yang legendaris, menghadirkan sentuhan arsitektur klasik yang pernah menghiasi Batavia tempo dulu.

Menariknya, pengalaman di Batavia PIK semakin lengkap dengan kehadiran dermaga taksi air. Moda transportasi itu memungkinkan pengunjung menjelajahi kanal menggunakan perahu listrik.

Menyusuri kawasan ini dari jalur air menghadirkan pengalaman baru dalam menikmati keindahan Batavia PIK, menjadikannya pilihan wisata unik bagi mereka yang ingin merasakan pengalaman berbeda.

Menelusuri Jejak Sejarah dalam Destinasi Kuliner & Budaya di Batavia PIKMenelusuri Jejak Sejarah dalam Destinasi Kuliner & Budaya di Batavia PIK (Agung Sedayu)

Kuliner Otentik dari Nusantara hingga Internasional

Tak lengkap rasanya menjelajahi Batavia tanpa mencicipi kelezatan kulinernya. Batavia PIK menyuguhkan pengalaman bersantap yang menggugah selera dengan deretan tenant F&B yang menghidangkan berbagai masakan khas Nusantara dan internasional.

Beberapa tenant ternama yang dapat dinikmati antara lain seperti Dewata by Monsieur Spoon yang menawarkan sentuhan kuliner Bali yang autentik, Sate & Seafood Senayan yang menyajikan sate dan hidangan laut khas Indonesia, Canton 168 yang merupakan pilihan tepat bagi pencinta masakan Kanton, Orasa’s yaitu restoran dengan menu khas Thailand, Saigon Ngon untuk menikmati cita rasa otentik Vietnam, dan Rumah Jajan Bu Nanik yang menyajikan jajanan legendaris khas Indonesia.

Melalui berbagai menu yang beragam, Batavia PIK tentunya juga menjadi destinasi wajib bagi para pencinta kuliner.

Kilau Ramadhan 1001 Malam: Menyambut Bulan Suci dengan Tradisi yang Megah

Memasuki bulan Ramadan, Batavia PIK semakin semarak dengan ‘Kilau Ramadhan 1001 Malam Batavia’, sebuah festival kuliner dan hiburan yang menghadirkan suasana khas Timur Tengah dan Nusantara.

Salah satu atraksi utama adalah buka puasa bersama Chef Muto, yang dikenal dengan atraksi kungfu cooking-nya. Pengunjung dapat menikmati hidangan istimewa sambil menyaksikan keahlian memasak yang menghibur.

Tak hanya itu, rangkaian acara Ramadhan juga dimeriahkan oleh penampilan artis papan atas setiap akhir pekan, pertunjukan seni dari Jember Fashion Carnaval, serta live music dari Mustafa ‘DEBU’ yang membawa suasana syahdu di bulan suci.

Menambah keistimewaan acara ini, kedutaan besar dari negara-negara ASEAN dan Maroko, serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, turut hadir untuk merayakan momen kebersamaan dalam semangat Ramadhan.

Sebagai destinasi yang menggabungkan sejarah, budaya, dan gaya hidup modern, Batavia PIK menghadirkan pengalaman wisata yang tak hanya menghibur tetapi juga memperkaya wawasan. Dengan arsitektur klasik yang memukau, ragam kuliner autentik, serta berbagai acara dan atraksi menarik, kawasan ini menjadi tempat ideal bagi siapa saja yang ingin merasakan pesona Batavia tempo dulu dalam balutan modernitas.

Baik bagi pencinta sejarah, penggemar kuliner, maupun wisatawan yang mencari pengalaman unik, Batavia PIK menawarkan perjalanan waktu yang tak terlupakan menghidupkan kembali kejayaan masa lalu dalam nuansa yang lebih hidup, berwarna, dan penuh cerita. Jangan lewatkan kesempatan untuk menjelajahi keindahan Batavia PIK dan menciptakan kenangan berharga di destinasi wisata yang kaya akan pesona dan budaya ini.

(akd/akd)



Sumber : travel.detik.com

Ngabuburit Beda di Pangandaran Sambil Petik Melon Inthanon



Pangandaran

Ngabuburit menunggu azan Maghrib di Pangandaran bisa diisi dengan kegiatan yang berbeda, yaitu memetik buah melon langsung dari pohonnya.

Aktivitas ini bisa dinikmati di kebun melon milik Tuslam, yang berlokasi di Dusun Sukanegara, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran. Kebun melon ini menggunakan sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT) yang dikembangkan oleh Tuslam di halaman belakang rumahnya.

Saat Ramadan, kebun melon milik Tuslam ramai dikunjungi warga, terutama karena sedang memasuki panen raya. Uniknya, ia sengaja tidak memanen seluruh melon yang sudah matang, sehingga pengunjung bisa merasakan sensasi memetik sendiri langsung dari pohonnya.


Kebun milik Tuslam memiliki luas 130 meter persegi dengan populasi 150 tanaman melon jenis Inthanon. Ia pun berharap kebun ini bisa menjadi destinasi agrowisata baru di kampungnya.

Tuslam, mengungkapkan bahwa kebun melon ini berawal dari hobinya dalam bertani.

“Awalnya hanya hobi, tapi kemudian saya coba menanam melon secara hidroponik. Alhamdulillah hasilnya bagus,” tuturnya.

Sebagai lulusan jurusan pertanian, ia ingin menerapkan ilmu yang telah dipelajarinya sekaligus berbagi pengalaman dengan masyarakat sekitar.

Tuslam juga memiliki visi untuk mengembangkan kebunnya sebagai destinasi agrowisata dan edukasi, di mana pengunjung tidak hanya bisa membeli, tetapi juga memetik melon langsung dari pohonnya.

“Awalnya hanya iseng, tapi saya berpikir bahwa hobi itu harus menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” ungkapnya.

Tuslam menjelaskan bahwa kebun melon miliknya baru berjalan selama satu tahun, tetapi dalam lima bulan pertama sudah dua kali panen.

“Dari awal tanam hingga panen hanya butuh waktu sekitar dua bulan. Dalam satu pohon, hanya dipertahankan satu buah agar kualitasnya terjaga,” jelasnya.

Melon jenis Inthanon yang ia budidayakan tergolong langka di pasaran. Selain memiliki rasa yang sangat manis, melon ini juga dikenal dengan aromanya yang harum dan teksturnya yang renyah.

Kebun melon ini selalu ramai dikunjungi, terutama pada bulan Ramadan. “Setiap hari selalu ada pengunjung, mulai dari pagi, siang, hingga sore hari,” ujar Tuslam.

Pengunjung Tahu dari Media Sosial

Meski luas lahannya terbatas, kebun ini mampu menghasilkan buah melon yang cukup melimpah. Ika Umika, seorang pengunjung asal Kalipucang, mengaku mengetahui kebun ini dari media sosial dan tertarik untuk datang.

“Saya dapat info dari media sosial, katanya bisa memetik melon segar langsung dari pohonnya,” ujar Ika.

Menurutnya, melon merupakan buah favoritnya karena rasanya yang manis dan segar, terutama untuk hidangan berbuka puasa.

Hal serupa juga dirasakan oleh Rifda, yang mengetahui kebun melon ini dari status WhatsApp temannya.

“Saya melihat teman update sedang memetik melon disini, jadi saya langsung datang. Kebetulan lokasinya masih dekat dengan rumah,” kata Rifda.

Kebun Melon Tuslam Menghasilkan Cuan

Dari hasil panen, Tuslam mengaku bisa memperoleh pendapatan yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya operasional.

“Jika dirata-ratakan, penghasilan per hari bisa mencapai Rp 1 juta lebih. Alhamdulillah, cukup untuk memenuhi kebutuhan selama menunggu panen berikutnya,” katanya.

Namun, penghasilan yang lumayan itu dia dapatkan ketika kebun melonnya mengalami musim panen.

“Kebetulan Ramadan ini pun waktunya panen,” ucapnya.

Untuk pengunjung yang ingin menikmati pengalaman memetik sendiri, harga satu buah melon dengan berat 1 kg adalah Rp 35 ribu. Sementara dalam sehari kebun Tuslam mampu menjual sekitar 30 kg melon yang dibeli langsung oleh pelanggan.

“Alhamdulillah, saat ini lebih banyak yang membeli langsung ke kebun,” ucapnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ini Nih Pulau Terpadat di Kepulauan Seribu



Jakarta

Kepulauan Seribu popular sebagai tempat liburan dengan keindahan pantainya. Tapi ternyata ada satu pulau yang bukan tempat liburan dan berpredikat sebagai pulau dengan populasi terpadat.

Adalah Pulau Panggang yang bukan destinasi wisata dan merupakan pulau dengan populasi terpadat di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pulau Panggang berada di Kecamatan Pulau Seribu Utara.

Pulau Panggang memiliki luas 0,09 km persegi dengan jumlah penduduk kepala keluarga 2.003.


detikTravel mendapat kesempatan untuk berkeliling langsung ke pulau itu. Rumah penduduknya cenderung rapat-rapat, menyisakan gang-gang kecil yang hanya bisa dilalui oleh motor dan sepeda sebagai jalur transportasi.

Imelda (25), lulusan perawat dari Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) Yogyakarta, merupakan seorang yang lahir dan besar di pulau itu. Asli putri daerah, anak kesembilan dari sebelas bersaudara itu mengakui bahwa Pulau Panggang memang sangat padat.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuImelda, warga Pulau Panggang di Kepulauan Seribu (bonauli/detikcom)

“Pulau Panggang bukan pulau liburan, cara berpakaian turis tidak bisa diterapkan di sini,” kata Imelda pada Senin (24/3).

Pulau Panggang Saat Ramadan

Bertepatan dengan bulan Ramadan, Imelda menceritakan kebiasaan warga yang tak biasa. Kalau biasanya berburu takjil jadi kegiatan saat ngabuburit, di Pulau Panggang lain lagi. Tidak ada yang berdagang takjil di sana, warganya membuka pesanan menu berbuka dalam grup obrolan Whatsapp.

“Enggak semua orang punya warung, ada yang PO juga. Jadi warga pesan di room chat lalu nanti diantar,” kata dia.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuPemukiman di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu (bonauli/detikcom)

Kondisi itu dikonfirmasi oleh Nining Kurnia (32), seorang ibu rumah tangga dengan empat anak. Sebagai warga pendatang dari Depok, Jawa Barat, dirinya cukup kaget dengan kebiasaan di Pulau Panggang.

“Iya, di sini enggak ada takjil. Kalau mau pesan lewat grup chat,” kata dia.

Nining menikah dengan pria asli Pulau Panggang, bahkan suaminya masih keturunan wali di sini. Setiap lebaran hari pertama, ia dan keluarga akan nyekar dan ziarah ke makan keluarga suami.

“Tapi kalau bukan keturunan wali di sini, biasanya nyekar di (lebaran) hari kedua,” kata dia.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuPulau Karya (bonauli/detikcom)

Tempat Pemakaman Umum (TPU) penduduk berada di seberang pulau, yaitu Pulau Karya. Hanya beberapa wali saja yang dikubur di area timur Pulau Panggang.

Imelda juga berkata hal senada. Dirinya biasanya nyekar di hari kedua. Ia ingat betul, usai salat Ied, warga akan berbondong-bondong naik motor (perahu motor) lalu menyeberang ke Pulau Karya.

“Ramai sekali, motor antre panjang mau masuk pulau,” kata dia.

Budaya lain saat Ramadan adalah petasan. Anak-anak di Pulau Panggang biasanya berkumpul di area pelabuhan untuk bermain petasan bersama. Bunyi petasan bersahut-sahutan, asap mesiu menyeruak mengisi langit-langit.

Sudah jadi budaya, anak-anak itu terlihat sangat piawai menyalakan petasan yang ‘masuk angin’. Mereka bahkan tak segan untuk melemparkan petasan ke sesama. Sesekali, orang tua yang lewat menghardik mereka untuk hati-hati. Namun, anak-anak itu tetap santai melanjutkan perang petasan. Sementara remaja-remaja tanggung sibuk main bola di lapangan.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuAnak-anak bermain petasan di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu (bonauli/detikcom)

Kumandang salat di masjid menggema seisi pulau. Pria dewasa bergegas menunaikan salat dan tarawih di masjid. Mereka berbaris mengambil air wudhu.

“Oiya, air di sini itu asin, bukan payau,” ucap Nining memberitahu satu lagi fakta tentang Pulau Panggang.

Tak semua rumah memiliki tampungan air hujan, beberapa menggali sumur untuk kebutuhan rumah tangga. Namun, kebanyakan warganya membeli air dari daratan untuk kebutuhan masak dan mandi. Untuk air minum, mereka lebih suka membeli air galon.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuPulau Panggang di Kepulauan Seribu (bonauli/detikcom)

Nining mengaku mengalami culture shock saat pertama kali datang ke Panggang. Sekujur tubuhnya melakukan penolakan dengan siraman air asin yang dilakukan tiap hari.

“Awalnya alergi sebadan-badan. Tapi lama-lama sudah biasa. Cuma kalau airnya lagi jelek, ya luka-luka,” ujarnya sambil menunjukkan bekas luka alergi pada tangan dan kaki.

Ada yang datang menetap, sebagian ingin pergi. Imelda adalah salah satu warga yang berkeinginan untuk melanjutkan hidup di luar pulau. Mimpinya, meraih sukses di Kuwait.

“Mungkin karena sudah dari kecil di sini, jadi sudah bosan. Sekarang mau berjuang untuk keluar dari sini,” katanya sambil tersenyum manis.

(bnl/fem)



Sumber : travel.detik.com

Daftar 10 Lokasi Healing Murah Meriah di Bogor, Bisa Sambil Jajan


Jakarta

Healing tidak harus mahal yang penting bisa memperoleh energi baru menjalani kegiatan tiap hari. Buat detikers yang lagi di Bogor, berikut rekomendasi tempat healing mudah diakses dan pastinya tidak butuh biaya mahal.

10 Lokasi Healing Murah Meriah di Bogor

Healing tidak komplit tanpa jajan camilan dan minum yang pastinya murah plus enak. Bisa healing plus jajan bareng teman dan keluarga, di sini tempatnya

1. Alun-alun Kota Bogor


Alun-alun Kota Bogor rame saat libur panjang terkait Paskah (Solihin/detikcom)Alun-alun Kota Bogor (Solihin/detikcom)

Jam buka

Lokasi

  • Jl. Kapten Muslihat Nomor 17A, RT 04/RW 06, Pabaton, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

Open space di alun-alun Kota Bogor pas banget buat detikers yang ingin healing sambil melakukan aktivitas fisik. Kamu bisa joging, jalan santai, atau sekadar duduk di area teduh sambil jajan. Fasilitas di sini antara lain peralatan olahraga, trek jogging, dan toilet dikutip dari laman resminya.

2. Taman Kencana

Destinasi wisata Taman Kencana BogorTaman Kencana Bogor (Fitraya Ramadhanny)

Jam buka

Lokasi

  • Jl. Taman Kencana Nomor 3, RT 03/RW 03, Babakan, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

Dikutip dari laman Pemkot Bogor, taman ini menawarkan ruang hijau yang teduh. Di sini pastinya ada aneka jajanan camilan dan makanan berat yang bisa kamu nikmati. Kamu bisa datang ke sini tiap saat untuk healing bareng temen dan keluarga.

3. Taman Air Mancur

Jam buka

Lokasi

  • Jl. Jenderal Sudirman Nomor 56, RT.05/RW.03, Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

Sesuai namanya, air mancur menjadi daya tarik utama salah satu spot nongkrong ini. Namun daya tarik utama lainnya adalah lokasi yang cukup strategis sehingga tak pernah sepi pengunjung. Di sini kamu bisa sekadar duduk menikmati hari, jajan, atau kumpul bareng teman dan keluarga.

4. Taman dan Lapangan Sempur

taman sempur joging fitness olahraga fit stopAktivitas warga di Taman Sempur, Bogor (Kirei/detikcom)

Jam buka

  • 06.00-19.00 untuk weekday.
  • 06.00-22.00 untuk weekend.

Lokasi

  • Jl. Sempur Nomor 1, Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

Destinasi ini cocok buat detikers yang ingin healing tipis-tipis sambil olahraga atau sekadar kumpul bareng teman dan keluarga. Tentunya kamu bisa jajan aneka kuliner di kafe atau pedagang kaki lima yang berada di sekitar Taman Sempur.

5. Kebun Raya Bogor

Kebun Raya Bogor (KRB) jadi salah satu lokasi wisata favorit warga untuk mengisi liburan Lebaran 2024. Kebun Raya Bogor diramaikan para pengunjung pada Lebaran hari ketiga, Jumat (12/4/2024).Ngadem di Kebun Raya Bogor (Muchamad Sholihin/detikcom)

Jam buka

  • 08.00-16.00 WIB untuk weekday.
  • 07.00-16.00 WIB untuk weekend.

Lokasi

  • Jl. Ir. H. Juanda Nomor 13, Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

Tempat healing yang penuh pohon rindang ini bisa dikatakan paling ikonik di kota Bogor. Pengunjungnya tidak terbatas pada warga lokal tapi juga seluruh Indonesia. Di sini pengunjung bisa melihat aneka koleksi tanaman yang tumbuh subur. Detikers juga bisa menikmati berbagai fasilitas dan layanan yang tersedia.

6. Jalan Surya Kencana

Cap Go Meh di Jalan Surya Kencana, Bogor.Cap Go Meh di Jalan Surya Kencana, Bogor. (Muchamad Sholihin/detikcom)

Jam buka

  • 08.00-22.00 atau sesuai aturan pemilik usaha kuliner.

Lokasi

  • Jl. Surya Kencana, Bogor.

Kawasan Surya Kencana (Surken) sudah lama dikenal sebagai pusat kuliner dan area Pecinan. Healing di sini adalah keputusan yang tepat karena kamu bisa jajan aneka makanan enak sambil jalan-jalan santai. Kamu juga bisa ke Kebun Raya Bogor yang letaknya tidak jauh.

7. Ruko Taman Yasmin

Jam buka

  • 24 jam sesuai operasional pemilik kuliner.

Lokasi

  • Lingkar Utara Nomor 4, RT 05/RW 09, Curugmekar, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.

Lokasi ini menjadi tujuan favorit warga Bogor dan sekitarnya yang ingin wisata kulier. Di sini detikers bisa menikmati jajanan jadul legendaris dan makanan serta minuman kekininian. Tentunya semua dibanderol dengan harga cukup terjangkau.

8. Situ Gede

Situ Gede Bogor.Situ Gede Bogor (disparbud.kotabogor.go.id)

Jam buka

Lokasi

  • Jl. Cilubang Malang No.37, Bogor Barat, Kota Bogor.

Destinasi ini cocok bagi detikers yang ingin healing sambil menikmati keindahan alam. Spot wisata ini bisa dikunjungi tiap saat, namun bagi yang ingin menikmati fasilitas di sekitar danau sebaiknya tidak datang terlalu pagi atau sore.

9. Pusat Jajanan Bangbarung

Jalan Bangbarung BogorJalan Bangbarung Bogor (Sholihin/detikcom)

Buka

  • 24 jam atau sesuai kebijakan pengelola kuliner.

Lokasi

  • Jl Bangbarung Bogor Utara, Kota Bogor.

Di bulan Ramadan, kawasan Bangbarung adalah pusat takjil yang selalu diserbu warga jelang buka puasa. Di hari-hari selain Ramadan, kawasan ini tetap ramai didatangi wisatawan yang ingin liburan dan piknik sambil jajan cantik sendiri atau bersama teman.

10. Taman Budaya Sentul City

Rekomendasi Taman Budaya SentulTaman Budaya Sentul (Instagram)

Jam buka

Lokasi

  • Jl. Siliwangi Nomor 1, Sumur Batu, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

Pengunjung tidak perlu bayar biaya masuk bila ingin liburan di Taman Budaya. Namun, pengunjung wajib bayar fee jika ingin menikmati layanan atau program liburan di sini. Terkait besar fee yang harus dibayar bisa dicek sendiri ke website atau medsos Taman Budaya.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com